Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
32. Merampok Anak Orang



Tidak disangka, ia akan semakin kesal dengan sikap keras Luo Youzhe yang melebihi harapannya. Dibandingkan sikap konyol dan menyebalkan yang mengganggu itu, ia lebih kesal pada sikap dingin dan mendominasi itu!


Seumur hidup, Gu Yuena tidak pernah gagal mengorek informasi dari tawanannya. Ia memiliki 1001 trik dan cara menyiksa seseorang untuk mendapatkan informasi.


Boro-boro disiksa, digoda saja tidak mempan. Pria itu sudah tidak bisa ditipu lagi. Terbuat dari apa manusia itu? Jika manusia terbuat dari tanah, apa berarti Luo Youzhe terbuat dari tanah yang mengeras menjadi batu?


Pantas saja Luo Youzhe berkata bahwa ia tidak akan tahan. Pria itu tahu diri juga.


"Aaaaargh!" Gu Yuena berteriak sendiri di dalam kelas sampai semua murid menoleh ke arahnya. Ia memberi tatapan tajam pada mereka yang melihatnya.


Gu Yuena mendengus kesal. Ia memendam wajah di atas meja tanpa mempedulikan siapa pun yang menganggapnya aneh.


Kelas dilalui dengan lancar sampai ke kelas berikutnya. Saat makan siang tiba, Gu Yuena pergi ke dapur untuk bekerja sambilan sebagai koki.


Harinya yang monoton pun berlangsung.


Tapi ketika kembali ke asrama, Gu Yuena tidak lagi melihat keberadaan Luo Youzhe.


Sampai hari berikutnya, dan berikutnya, ia tidak menemukan batang hidung pria itu di mana pun. Apa pertengkaran mereka begitu hebat sampai pria itu tidak menampakkan diri di depannya?


Entah bagaimana, Gu Yuena merasa ada yang kurang tiap kali melihat kamarnya yang kosong seperti ini. Ia tahu Luo Youzhe kerap kembali ke asrama—dilihat dari barang-barangnya yang berpindah tempat—tapi mereka sama sekali tidak bertemu sampai hari pertandingan tiba.


Apa Gu Yuena terlalu kasar saat itu?


Tapi apa salahnya menjawab pertanyaan dengan jujur? Wajar jika Gu Yuena tak senang melihat Luo Youzhe yang berbohong terang-terangan di depannya, apalagi mengatakan tidak ingin mengungkit apa pun dengan nada dingin.


Jika dipikirkan lagi, ia semakin kesal.


Karena satu minggu telah berlalu, dan Gu Yuena memiliki janji duel dengan Wang Liang, ia tidak akan membuang waktu. Ia ingin lihat kemampuannya saat ini setelah berlatih keras bagai kuda.


Sepanjang hari berkultivasi tanpa lelah dan menyerap banyak ilmu sihir dalam semalam, bahkan sampai ia merasa bahwa tubuhnya semakin kurus karena terlalu keras pada diri sendiri. Pertandingan kali ini tidak boleh mengkhianati usahanya.


Arena peringkat halaman luar memiliki tribun besar yang ramai akan penonton bersorak. Arena yang dilingkari oleh tribun dipenuhi suara pertempuran sengit yang memicu sorakan penonton.


Ini kali pertama Gu Yuena memasuki arena peringkat. Ia merasa berada di stadium bola yang penuh dengan sorakan antusias pendukung di tiap penjuru. Lampu-lampu menyala di tiap penjuru, menyorot arena dengan jelas dan merekam pertempuran dalam kolam sihir.


Kolam sihir adalah sebuah sihir tingkat dasar yang berfungsi untuk menampilkan suatu kejadian dari jarak jauh. Seperti kamera, namun dengan campuran antara sihir dan sains.


Beberapa petugas berdiri di sekitar arena, berjaga bila pertempuran di atas arena mengakibatkan perisai transparan yang berfungsi mencegah efek serangan hancur karena serangan yang terlalu kuat. Terutama untuk sumoner yang membawa monster di sisinya.


Gu Yuena pergi ke petugas yang mendaftarkan peserta ke dalam daftar peringkat. Sebagai murid baru, Gu Yuena masih belum memiliki peringkat apa pun.


Ia mendekati petugas pria dengan penampilan membosankan yang duduk sambil menghisap cerutu. Pria itu meliriknya dengan malas, lalu memberi Gu Yuena sebuah token tanpa aba-aba.


"Gu Yue yang menantang Wang Liang, 'kan?"


Gu Yuena mengangguk. Ia akan mengambil token guna pengenalan diri sebagai peserta pertandingan, tapi pria itu menariknya kembali.


"Eh, kau benar akan menantang Wang Liang? Apa otakmu kemasukan air?" Pria itu tampak ingin memberi nasihat.


Gu Yuena menggedikkan bahu cuek. "Mungkin."


"Kau ini .... Jangan meremehkannya. Meski tampangnya terlihat menyebalkan dan banyak yang ingin menampar kepalanya yang bodoh serta angkuh itu, tetap saja dia sudah lama di akademi. Wang Liang adalah murid tahun ketiga. Jangan lihat dari berapa kali ia ditolak memasuki halaman dalam tiap 6 bulan sekali, sejauh ini hanya dia yang bisa bertahan selama itu di halaman luar. Jika bukan kalah dengan murid peringkat teratas, dia tidak akan kalah sebelum ujian halaman dalam tiba. Kau menantangnya, sama saja cari mati."


Gu Yuena memaksakan tersenyum sekilas. "Aku memang bosan hidup, kok. Tidak perlu khawatir."


Pria itu mendengus. "Jangan salahkan karena tidak mengingatkanmu yang terbaik. Jika kau bukan murid baru, aku tentu tidak akan menasihati seperti ini."


"Paman, aku dan Wang Liang mengajukan taruhan. Jika aku mengajukan taruhan materi untuk pribadi, apa akan melanggar aturan?" Gu Yuena tiba-tiba terpikirkan sesuatu yang membuatnya bersemangat.


"Ya, asal tidak mempengaruhi taruhan awal kalian. Satu lagi, aku tidak setua itu untuk dipanggil 'paman'."


"Kalau begitu, harus merepotkanmu untuk menyebarkan pertandingan ini. Katakan bahwa aku adalah murid baru yang bosan hidup dan sangat ingin mati. Anggap sebagai permintaan terakhir sebelum jatuh ke jurang putus asa."


Pria itu terdiam seribu kata. Apa bocah ini gila!


Mengatakan hal sesial itu sambil tersenyum!


Pria itu hanya bisa tersenyum kecut. "Aku terima wasiatnya. Jangan menyesal, ya."


"Jika mati, apa memiliki waktu menyesal?" Gu Yuena terkekeh sambil berjalan ke tribun.


Pria itu melihat kepergiannya dengan tatapan aneh. Rupanya ada jenis manusia seperti ini. Apa otaknya tertinggal di rumah atau rusak karena ditindas Wang Liang?


Pengumuman mengenai anak baru yang menantang senior halaman luar pun tersebar begitu cepat.


Siapa yang tak kenal dengan Wang Liang? Murid yang tinggal kelas berkali-kali, atau halusnya disebut sebagai senior tetap halaman luar yang seenaknya bertindak. Pria tiran dengan banyak pengikut serta berada di peringkat teratas halaman luar itu sering menjadi sorotan. Baik latar belakang maupun kekuatan, murid baru jelas tiaak berani padangan.


Tapi sekarang, pria populer itu ditantang seorang bocah yang baru masuk akademi selama seminggu?


Jika yang menantang adalah murid berbakat yang memecahkan rekor membawa energi unsur  terbanyak, mereka tentu memiliki reaksi bagus dan bersemangat melihat kejatuhan Wang Liang yang angkuh.


Tapi bagaimana jika yang menantangnya adalah seorang pemuda kurus dan berfitur halus, terlihat lemah lembut dan cantik seperti wanita? Bahkan aura pertempurannya sama sekali tidak terasa seperti tidak bisa berkultivasi!


Harapan murid baru pudar seketika oleh penampilang mungil pemuda bernama Gu Yue.


Mereka yang berada di tribun melihat pemuda yang mengusap bulu kucing hitam di pangkuannya, terlihat sangat pendiam dan lembut. Tulangnya yang kurus membuat mereka berpikir bahwa pemuda cantik itu akan remuk saat itu juga karena tubuh besar Wang Liang.


Sedangkan Wang Liang di sisi lain duduk dengan santai sambil menunjukkan senyum miring. Bahkan orang lain tahu kemapuannya tidak sebanding dengan bocah kurus itu.


"Pertandingan selanjutnya, peserta Wang Liang dari divisi Huoyuan dan Gu Yue dari divisi Huoyuan!"


Pendukung Wang Liang bersorak dengan riang disertai seruan keras penuh semangat. Mereka menantikan kemenangan Wang Liang, sebagai fans setia dan mengejek Gu Yue yang berani menantang idola mereka.


Sebuah meja panjang diletakkan di pojok tribun serta diletakannya dua kertas nama bertuliskan "Wang Liang" dan "Gu Yue" masing-masing kertas.


Pria yang membuat itu berteriak keras. "Ayo, ayo, sisihkan uang kalian dan bertaruhlah untuk keuntungan besar yang akan datang! Wang Liang atau Gu Yue? Kalian tebaklah dan gandakan uang kalian untuk taruhan menjanjikan!"


Banyak penonton berbondong-bondong 'mencari uang' dengan meletakkan banyak uang mereka, bertaruh untuk Wang Liang. Siapa suruh bocah itu menantang Wang Liang yang jelas setingkat lebih kuat darinya? Perbedaan tiap tingkat bagai jurang yang memisahkan.


Hanya dalam beberapa detik, sisi meja bagian Wang Liang penuh dengan berbagai macam koin dari dua negara. Baik perugu, silver, maupun emas, mereka 'menyumbangkannya' begitu saja.


Sedangkan sisi Gu Yue, sama sekali tidak ada yang bertaruh. Hanya ada seekor kucing hitam yang lewat dan meletakkan beberapa tael emas ke atas tulisan "Gu Yue". Saking terasingi bagian itu, sampai tidak ada yang memperhatikan.


"Fufu~ Nona akan menjadi kaya~"


"Eh, siapa yang bertaruh untuk Gu Yue?" Penjaga meja taruhan bingung. Pasalnya, uang yang diletakkan di atas nama Gu Yue sangat banyak!


"Benar-benar tidak tahu cara menilai. Dia berani menghilangkan banyak uang hanya untuk dukungan orang tidak penting. Sepertinya yang bertaruh adalah teman Gu Yue."


"Haha, siap-siap saja kehilangan. Semua uang itu akan menjadi milik kami!"


Mereka yang meletakkan taruhan untuk Wang Liang tertawa bahagia, berpikir betapa bodoh orang yang mendukung Gu Yue itu. Mereka semua akan membagi beberapa tael emas yang dapat berjumlah jutaan koin emas!


Dengan begini, semakin banyak yang ikut taruhan dalam jumlah banyak.


Kucing hitam di sudut tidak bisa menahan tawa. Ia penasaran bagaimana reaksi Gu Yuena mengetahui bahwa rencananya sukses besar. Nonanya memang sangat pintar mencari uang!


Ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengetahui batas kemampuan diri sendiri. Dengan begini, ia akan tahu kelemahannya dan memperbaikinya untuk menutupi semua celah.


Siapa pun lawannya, ia harap tidak mengecewakan.


Wang Liang yang tiba beberapa meter di depannya memasang senyum angkuh. "Gu Yue, lebih baik kau menyerah sekarang sebelum menyesal. Arena peringkat memang melarang murid yang saling membunuh, tapi tidak masalah jika tidak sengaja. Paling tidak, aku hanya akan terkena sedikit hukuman. Tapi tenang saja, aku masih tidak berminat membunuhmu. Taruhan kita, harus dijalankan dengan baik."


Gu Yuena tetap terlihat tenang. Ia tidak mengatakan apa pun, sampai akhirnya wasit mengumumkan dimulainya pertandingan.


"Mulai!"


Wang Liang mengeluarkan sebuah pedang besar di tangannya yang diacungkan. Ia menyerang lebih dahulu, membawa pedang besar dan terlihat berat tersebut untuk ditebaskan ke arah Gu Yuena.


Tiap gerakannya menciptakan jejak nyala api yang berkobar. Kemampuan yang didapat dari perburuan sebagai hunter, dengan menyerap kekuatan monster dan mengekstraknya menjadi kekuatan pribadi, membuatnya benar-benar terlihat seperti monster.


Gu Yuena menggeser tubuhnya, membiarkan pedang besar itu lewat tepat di depannya. Gerakan Wang Liang diubah dengan cepat ke arah Gu Yuena yang menyingkir, membuat Gu Yuena harus menunduk ke belakang, lalu mengeluarkan lasso api untuk mengikat kaki Wang Liang.


Gu Yuena merosot di lantai arena sambil menarik lasso. Alhasil, kaki Wang Liang yang dililit lasso mau tidak mau tertarik dengan bodohnya.


Untuk menutupi rasa malu, Wang Liang menebaskan pedangnya ke arah tali dengan cepat dan memutus lasso sebelum jatuh. Ia menembak tubuhnya dengan qi yang terkumpul di seluruh tubuh, membentuk sebuah armor.


Kultivator tingkat 5 dapat membentuk armor yang berasal dari padatan qi untuk melindungi tubuh. Semakin padat qi dan kuat pondasinya, maka semakin keras armor. Armor qi hanya bisa dihancurkan oleh kultivator tingkat 6 ke atas. Gu Yuena yang masih tingkat 4 tidak mungkin bisa menghancurkannya.


Oleh karena itu, Gu Yuena mengambil strategi lain. Ia pikir Wang Liang akan membentuk armor di tengah pertandingan, tapi siapa sangka pria itu akan membentuk armor di awal pertandingan setelah menerima lasso-nya.


Apa mental pria itu begitu tersakiti hanya karena sutas tali?


Dengan kekuatan penuh, Wang Liang berlari ke arah Gu Yuena dan melompat untuk memberikan tekanan pedang yang ia hentakkan.  Pedang besar itu membelah udara hingga menciptakan hembusan angin, menghentakkan pedangnya ke bawah tepat di depan Gu Yuena.


Gu Yuena melompat ke sisi lain, lalu mengeluarkan sebuah cambuk api yang menari-nari di udara. Ia mengayunkannya dengan halus, namun tekanan yang diberikan cambuk api tersebut begitu terasa sampai arena terasa panas.


Arena yang sebelumnya bersuhu normal kini menjadi sangat panas. Kobaran api yang diciptakan Gu Yuena muncul melingkari arena membuatnya terlihat seperti arena api.


"Cukup menguras energi, tapi aku masih bisa mengalahkanmu dengan singkat." Gu Yuena tersenyum. Ia tampak cantik, tapi juga menyeramkan. Jika ia mengenalkan diri sebagai perempuan, sudah pasti banyak yang jatuh cinta padanya.


Bahkan saat ini, penampilan mendominasi Gu Yuena berhasil membuat kaum perempuan menjerit!


"Gu Yue, jangan terlalu sombong! Kalau berani, lawan secara langsung di depanku!" Wang Liang kesal serangannya selalu gagal. Bahkan ia ditekan oleh api Gu Yuena sampai api miliknya tidak ingin keluar.


Phoenix adalah penguasa api. Bagi Gu Yuena, api milik Wang Liang tidak ada artinya selain digunakan sebagai batu loncatan.


Dengan kekuatan penyihirnya, ia bisa mengendalikan kekuatan api Wang Liang untuk membakarnya sekarang juga.


Hanya saja, ia harus tahu batasan untuk tidak membunuh.


Wang Liang terus menyerang dengan penuh amarah. Tidak mudah untuk menyentuh sehelai rambut Gu Yuena. Andai saja Gu Yuena tidak segesit itu menghindar dan membuatnya bingung, Wang Liang sudah lama menghabisinya!


Sayangnya Gu Yuena tidak berniat berhenti. Ia memang akan kalah jika terkena serangan Wang Liang karena perbedaan kekuatan. Tapi jika ia mengambil celah yang ditunjukkan Wang Liang, ia bisa membunuh pria itu dengan sekali serangan.


Selama menghindari dan menerima tekanan terus menerus, Gu Yuena dapat merasakan kekuatan dalam tubuhnya lebih jelas. Api yang membara melapisi bagian dalam tubuhnya dan aliran darah phoenix yang kental. Ditambah dengan lingkaran sihir yang mengelola kekuatan sihirnya, ia merasa seperti berada dalam puncak kekuatannya.


Namun ia masih merasa belum cukup. Tekanan Wang Liang tidak cukup untuk memancing seluruh kekuatannya untuk keluar. Jika bisa, ia butuh lawan yang lebih kuat lagi untuk memicu kekuatan darah phoenix dan mengetahui batasannya.


Gu Yuena tidak ingin terlalu banyak membuang waktu lagi. Karena sepuluh menit sudah berakhir, lebih baik akhiri pertandingan ini.


Cambuk di tangan Gu Yuena semakin berkibar ketika diayunkan. Sosok Gu Yuena bergerak terlalu cepat di mata Wang Liang. Yang ia lihat hanyalah kilatan api dari cambuk yang dipegang Gu Yuena, sedangkan sosoknya terlihat berbayang.


Ia seperti sedang bertarung dengan assassin!


Wang Liang menggerakkan pedangnya untuk menyerang secara acak, beharap pedangnya menebas bocah nakal itu dan mengakhiri pertandingan.


Tapis sejauh ini, yang ia tebas hanyalah ruang kosong. Sedangkan kilatan merah itu semakin cepat dan muncul dalam bentuk cambuk api yang melilit seluruh tubuhnya.


Wang Liang tidak sempat bereaksi. Cambuk itu berubah menjadi tali berapi-api dan melilit Wang Liang dengan api menyala yang dapat membakar tubuh Wang Liang.


Perisai qi di tubuh Wang Liang tidak bisa menahan kobaran api terlalu lama, apalagi kekuatan Wang Liang tidak memungkinkan baginya untuk mempertahankan periasi qi yang goyah. Qi dalam tubuhnya semakin menipis, seolah api itu telah menyerapnya.


"Gu Yue! Kau pikir aku akan takut padamu hanya dengan trik semacam ini? Aku akan membunuhmu!" Wang Liang meraung marah. Semua orang masih melihatnya, ia tidak boleh kehilangan muka dikalahkan oleh seorang murid baru!


"Oh? Aku akan sangat senang bila kau membunuhku." Gu Yuena yang tiba tepat di belakang Wang Liang, menarik tali api di tangannya. Wang Liang terhuyung ke belakang, tapi bokongnya justru ditendang dengan keras sampai mental di lantai arena yang panas.


Gu Yuena berjalan ke arah Wang Liang yang jatuh telungkup dalam keadaan terikat. Tubuh pria itu sudah merah semua karena panasnya arena.


Dengan senyuman yang sama dan tanpa aura, Gu Yuena merentangkan kedua tangannya. Tatapannya berubah menjadi mengejek. "Bunuh aku, aku akan berterimakasih."


"Kau ...." Wang Liang berusaha bangun dengan tubuh yang terikat. Ia sudah seperti ulat yang sedang berjalan, membuat orang-orang di tribun menertawainya.


Wasit segera turun ke arena dan berdiri di sisi Gu Yuena. Ia mengangkat salah satu yangan Gu Yuena ke atas, tanda ia telah memenangkan pertandingan.


"Gu Yue, divisi Huoyuan, menang!"


Sorakan demi sorakan yang berasal dari murid baru terdengar sangat meriah. Mereka menyebutkan nama Gu Yue berkali-kali dengan semangat membara.


Gu Yuena melihat Wang Liang yang berwajah masam. "Jangan lupakan taruhan kita." Ia melambai, lalu mengedipkan salah satu matanya, selanjutnya pergi turun arena tanpa melepas tali yang mengikat Wang Liang.


Omong-omong ia sama sekali tidak menggunakan mantra sihir. Selain mengendalikan api di tubuhnya seperti kebanyakan pemula, ia tidak menggunakan sihir atau mantra yang dipelajari.


Percuma saja ia belajar seminggu penuh kalau tidak dipakai. Ia hanya memakai teknik keterampilan yang merupakan teknik kecepatan assassin. Itu saja Wang Liang sudah bonyok.


Mengecewakan.


Gu Yuena pergi ke meja taruhan di mana banyak murid yang mencoba mengambil uang mereka kembali. Tapi Gu Yuena langsung melapisi itu semua dengan api, membuat para murid yang taruhan itu terkejut setengah mati.


"Aku sudah bekerja keras untuk ini, kalian jangan belajar menjadi pengkhianat." Gu Yuena langsung 'merampok' semua uang di atas meja ke dalam ruang spiritual.


Para murid itu memasang wajah masam. Ternyata yang bertaruh untuk Gu Yue adalah Gu Yue sendiri. Bisa-bisanya bocah itu bertaruh untuk diri sendiri.


"Gu Yue, kau sudah cukup kaya, apa tidak bisa sedikit berwelas asih?"


"Lain kali aku akan bertaruh untukmu. Jadi jangan marah dan sisakan untuk kami."


"Gu Yue, kau tidak boleh begitu serakah."


Gu Yuena melihat mereka memohon dan memelas seperti penjilat. Ia memutar bola mata, lalu mendecih. "Ketika aku mati, bukankah kalian menikmati uangku? Jika ada yang perlu disalahkan, maka salahkan orang yang membuat kalian kehilangan uang."


Gu Yuena pergi dengan langkah riang bersama Xiao Hei yang melompat ke pelukannya dengan bangga. Diam-diam, Xiao Hei melirik anak-anak itu dan menjulurkan lidah.


Mereka semua semakin kesal!


Mereka melihat Wang Liang yang diseret keluar arena tanpa dilepaskan ikatannya. Pria itu tampak malang, tapi murid-murid itu melihat Wang Liang dengan penuh tuntutan.


Semua salah Wang Liang!


"Wang Liang, kembalikan uang kami!"