
"Hei, kau Gu Yue yang mencari perhatian dengan Putra Mahkota, 'kan? Aku sarankan padamu untuk menyerah mendapat dukungan. Putra Mahkota tidak akan membantu seorang bocah lemah sepertimu untuk memasuki halaman dalam dengan mudah."
"Benar, hanya Bos Wang saja yang bisa mendapatkan kepercayaan itu."
"Gu Yue oh Gu Yue, aku dengar kau memprovokasi Tuan Muda Xiao dari Kekaisaran Yi ketika ujian terakhir seleksi akademi. Tuan Muda Xiao memiliki saudara sepupu di halaman dalam dan telah meraih peringkat arena akademi, kau tidak akan memiliki hari yang baik."
"Tuan Muda Xiao? Siapa itu?" Gu Yuena terkekeh. Siapa pula si marga Xiao ini? Terasa tidak asing, apa mungkin karena nama Xiao yang pasaran?
"Kamu tidak tahu Tuan Muda Xiao? Tuan Muda Xiao adalah putra perdana menteri. Posisinya sangat penting di Kekaisaran Yi. Kamu hanya rakyat jelata, bukan bangsawan. Lebih baik menyerah dan meminta maaf segera pada Tuan Muda Xiao agar tidak mengecewakan orang tuamu ketika pulang."
"Perdana menteri adalah orang yang pendendam. Aku sarankan agar kau menurut."
Gu Yuena menarik sudut bibirnya, memasang senyum sopan. Ia tidak ingin membuat masalah dan melayani masalah, maka selesaikan dengan cepat tanpa basa-basi.
"Maaf telah membuat Tuan Muda Xiao kalian tersinggung. Aku tidak tahu telah membuat Tuan Muda Xiao marah, jadi aku meminta maaf dengan bersungguh-sungguh. Untuk masalah Putra Mahkota, jika kau berpikir bahwa aku menginginkan manfaat besar menjadi bawahan Putra Mahkota, sayangnya itu salah. Aku tidak tertarik. Kalian yang tertarik berusahalah, aku tidak akan mengganggu."
"Bagus kalau kau sadar." Pria bermarga Wang itu mendengus. Kemudian ia merasa ada yang salah.
Tidak benar, bukankah seharusnya Gu Yue menolak minta maaf sehingga ia memiliki alasan untuk menghajarnya?
"Jika tidak ada hal lain yang bisa dikatakan, aku pergi dahulu." Gu Yuena berbalik hendak pergi, namun pria bermarga Wang itu menghentikannya. Anak buahnya langsung berkerumun mengepung Gu Yuena dalam bentuk lingkaran. Gu Yuena berbalik, dengan senyuman yang sama. "Bukankah masalah kita sudah selesai?"
Pria bermarga Wang itu mendengus. "Kau pikir aku bodoh mempercayai ucapanmu? Bagaimana aku bisa yakin bahwa kau bersungguh-sungguh menyerah?" Ia mendesis sambil mengusap dagunya. "Begini saja. Kau berlutut dan bersujud tiga kali sambil mengucapkan bahwa Kakak Wang Liang yang terbaik, kemudian merekomendasikanku pada Putra Mahkota agar dibawa ke halaman dalam. Dengan begini, hutang kita impas."
Gu Yuena menarik sebelah alisnya. "Hutang? Aku tidak merasa meminjam uang padamu."
Wang Liang menggeram kesal. "Kau berhutang telah mencuri kesempatanku untuk mendekati Putra Mahkota, kau harus melunasinya!"
"Bodoh." Gu Yuena malas berurusan dengan orang bodoh. Ia sudah merendahkan diri dengan meminta maaf karena mungkin ada beberapa tindakannya yang di luar batas bagi mereka.
Tapi ia tidak akan terima jika dipermalukan seperti itu. Hanya meminta maaf tidak sulit, tapi melakukan apa yang dikatakan idiot untuk menjatuhkan diri sendiri tidak dibenarkan.
"Kenapa? Masih saja angkuh?" Wang Liang memelototinya.
Salah satu anteknya menendang lutut Gu Yuena dengan keras sampai nyaris jatuh. "Cepat bersujud, turuti ucapan Boss Wang!"
Gu Yuena tetap berdiri. Ia melihat Wang Liang dengan senyuman yang tidak berubah sejak awal, sedangkan Xiao Hei sudah menggeram di lengannya, merasa ingin menerkam mereka.
"Aku bukan orang yang mencari atau membuat masalah, tapi kalian malah mengirimkan masalah padaku." Gu Yuena tersenyum kecut.
"Huh, itu salahmu sendiri. Lebih baik cepat lakukan dengan benar, atau aku akan menghabisimu!"
"Dilarang ada pertempuran di halaman akademi. Jika ada konflik tertentu yang mengharuskan seseorang untuk bertarung, maka dilakukan di arena peringkat." Gu Yuena berujar dengan maksud tertentu.
"Ck, jadi kau sedang menantangku?" Wang Liang melihat para antek-anteknya. "Hei kalian, siapa yang ingin memukulnya terlebih dahulu di arena?"
Gu Yuena bicara sebelum yang lain menjawab, "Aturan arena adalah hanya peringkat yang lebih rendah yang boleh menantang. Sudah seharusnya aku yang menantang secara resmi, tapi ...."
"Kau akan menantang siapa, itu bukan urusanku, lagipula kau murid baru akan kalah." Wang Liang tertawa terbahak-bahak. Bisa-bisanya murid baru menantang senior.
"Aku bukannya ingin menantang tanpa keuntungan. Aku akan menantangmu, tapi kau lebih kuat dariku. Jadi aku harus memiliki beberapa syarat. Jika tidak, aku akan membiarkan kucing kecilku yang menanganinya."
Pada saat yang sama, Xiao Hei melompat dari lengannya dan membengkak seperti seekor panther hitam yang mengerikan. Cakar tajamnya menekan tanah sampai retak, disertai tubuh hitam pekatnya yang mencolok. Iris merahnya seperti iblis, melihat para senior yang mengepung Gu Yuena dengan bengis.
"Kau ...." Wang Liang terkejut. Siapa sangka ia akan melihat seekor monster dilepaskan begitu saja di halaman. "Ini pelanggaran! Akademi melarang siswa manapun melepaskan hewan kontraknya."
"Dia bukan hewan kontrak, tapi peliharaanku. Apa kau begitu bodoh sampai tidak menyadari bahwa tidak ada tanda kontrak di tubuhnya? Oh, kau tidak akan sadar sampai seseorang memberitahumu kenyataan setelah melaporkanku. Berterima kasihlah, aku menyelamatkan wajahmu kali ini." Gu Yuena menunjukkan seringai.
Wang Liang terdiam. Ia menekan tinjunya, merasa sangat kesal pada situasi ini. Seharusnya ia yang menghajar pemuda kecil tak tahu malu itu, kenapa malah ia yang ditekan oleh seekor kucing besar serta kata-kata Gu Yue yang menyebalkan!
"Katakan syaratmu!"
Gu Yuena tersenyum penuh. Memang, masalah tidak sepenuhnya membawa kesialan. Kali ini ia sangat beruntung menemukan mangsa. "Jika aku menang, kau harus membayar kompensasi sebanyak 10.000 tael emas untuk perawatan aku yang terluka. Seujurnya itu adalah uang kecil untuk bangsawan, tidak masalah, 'kan?"
Para murid yang mengepung Gu Yuena terkejut. Jumlah 10.000 tael emas terlalu banyak! Bahkan bisa digunakan untuk membeli sebuah rumah sederhana di kekaisaran, apa pemuda kecil itu ingin merampok!
Wang Liang mendengus. "Baik!"
"Boss Wang, ini bukankah perampokan?" Salah satu anteknya keberatan.
"Diam! Lagi pula kita akan menang." Wang Liang tersenyum penuh kemenangan melihat Gu Yuena. "Taruhan yang kau ajukan terlalu ringan. Jika aku kalah, aku akan membayar 100.000 tael emas untukmu. Jika aku menang, kau harus menuruti perintahku barusan dan keluar dari akademi ini secara sukarela!"
Jumlah 100.000 tael emas adalah seluruh aset Keluarga Wang selama 8 tahun. Meski sangat banyak, ia yakin dapat menang dari Gu Yuena. Asal bisa masuk ke halaman dalam, ia akan mempertaruhkan segalanya.
Gu Yuena semakin bersemangat. Ia merasa ingin melompat gembira karena mendapat uang banyak, tapi ia berusaha mengendalikan emosinya. "Baik, aku terima taruhannya. Sebagai verifikasi, taruhan ini harus diajukan pada pihak juri arena agar adil."
Juri arena tidak bisa disogok oleh orang seperti Wang Liang ataupun Putra Perdana Menteri, bahkan oleh Putra Mahkota sekalipun. Ini akan menjadi taruhan yang menyenangkan.
"Untuk menghormati lawan, aku akan memberi jeda seminggu untuk persiapan. Kita akan bertemu di arena seminggu lagi. Aku harap kau tidak lari." Wang Liang pun pergi membawa antek-anteknya dengan perasaan riang. Rupanya sangat mudah memprovokasi Gu Yue dibandingkan anak keras kepala yang sok membela diri. Gu Yue cukup bisa diajak bicara.
Gu Yuena melihat kepergian mereka dengan senyuman penuh dan rasa bahagia menemukan lawan yang cocok. Xiao Hei mendekat dengan tubuh besarnya je arah Gu Yuena sebelum akhirnya gadis itu melemaskan lutut yang baru saja ditendang.
"Ah, sakit sekali." Gu Yuena mengeluh sambil memijat lututnya yang sakit. Orang-orang itu keterlaluan menendangnya.
"Nona, apa kamu baik-baik saja?" Xiao Hei khawatir. Jika saja nonanya tidak melarang, ia sudah memakan mereka semua sekarang.
"Tak apa, hanya luka kecil, nanti juga sembuh." Gu Yuena bersandar di tubuh besar Xiao Hei.
"Kekuatan Wang Liang kira-kira tingkat 5 bintang 3, apa Nona sudah mempertimbangkan? Dia sedikit lebih kuat dari Ye Suanwu, tidak bisa diremehkan."
Gu Yuena tersenyum lebar. "Bukankah nonamu ini sangat kuat dan pintar? Hanya tingkat 5, bukan apa-apa."
"Bukannya meremehkan, tapi ... keterampilan sihir Nona masih sangat sedikit!"
Gu Yuena memasang wajah berpikir. "Bukankah hanya perlu mengambil buku sihir dan mempelajarinya? Sihir mage adalah sihir dasar penyihir, aku bisa menggunakannya tanpa mengucap mantra. Ketika menggunakannya, aku hanya perlu berpura-pura membaca mantra."
"Jika sihir dapat dipelajari kurang dari seminggu, semua orang akan memilih menjadi mage."
"Aku dan orang lain berbeda. Ingatlah, aku memiliki ingatan fotografi dan bakat darah phoenix. Sama sekali bukan masalah besar." Gu Yuena percaya diri dapat melewati cobaan ini.
Meski sebenarnya ia gelisah dengan wajah gembira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gu Yuena mengintip dapur kantin yang sepi. Melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang, lalu melangkahkan kaki ke dalam layaknya rumah sendiri.
Hari sudah menjelang malam ketika ia baru saja keluar dari kelas dan merasa lapar untuk kesekian kalinya. Roti saja tidak cukup menampung perutnya. Jadi ia memutuskan untuk memasak sekarang juga.
Bahan-bahan di dapur cukup untuk memenuhi kebutuhan. Gu Yuena mengambil celemek dan mencuci tangannya, kemudian mencari dan mengambil bahan-bahan yang diperlukan sebelum akhirnya mulai memasak.
Tidak butuh waktu lama untuk memasak masakan sederhana. Dalam beberapa menit, aroma lezat mulai berkelana di sekitar dapur. Aroma itu keluar melalui celah ventilasi dan tercium oleh beberapa pelayan yang sedang istirahat. Dalam sekejap, mereka langsung pergi ke dapur untuk melihat.
Hal pertama yang mereka lihat adalah seorang pemuda mungil yang tengah membungkus makanannya untuk dibawa pergi.
"Apa kau juru masak baru?" Salah satu pelayan menghampiri.
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, lalu berbalik secara perlahan. Seharusnya ia lebih cepat menyelesaikan semuanya agar tidak ketahuan. Apa yang harus ia lakukan?
Melihat seragam yang dikenakan pemuda kecil itu, mereka terkejut. "Kau murid akademi? Kenapa ada di sini?"
"Apa yang kau lakukan di sini? Jika ingin sesuatu untuk dimakan, kau bisa mengambilnya di depan." Seorang pria besar yang sepertinya juga juru masak menghampiri untuk membawa Gu Yuena keluar.
Gu Yuena menghindari raihan tangan pria itu, lalu memasang senyum canggung. "Paman, aku di sini untuk memasak. Bagaimana jika kita makan bersama? Aku lihat, kalian juga belum makan karena menunggu giliran."
"Aturan akademi tidak melarang muridnya memasak makanan sendiri, jadi tidak masalah jika aku berada di sini. Sebagai bayaran karena telah 'meminjam' bahan-bahan yang ada, aku akan membaginya pada kalian." Gu Yuena terpaksa mengubah rencana. Ia berbalik membuka tempat makan yang sebelumnya ia bungkus menggunakan kain, lalu mengambil semua mangkuk di dalam tempat makan.
"Tunggu dulu!" Pria itu menghentikan Gu Yuena. "Ada sangat banyak makanan di kantin, kau tidak harus memasak sendiri. Apa kau meragukan kemampuan juru masak akademi?"
"Bukan seperti itu. Sebenarnya ...." Gu Yuena berusaha memikirkan alternatif terbaik. "Paman, bolehkah aku menjadi juru masak kalian juga? Sangat sayang jika bakatku tidak dimanfaatkan dengan baik. Aku juga bisa membantu kalian ketika kelas selesai, tidak akan membuat masalah."
"Tidak bisa, kamu adalah murid akademi."
Gu Yuena cemberut. "Begini saja, jika kalian tidak puas dengan makananku, kalian bisa mengusirku. Aku tidak akan datang ke dapur lagi untuk memasak sendiri."
Mereka melihat Gu Yuena dengan tidak percaya. Itu membuat Gu Yuena sangat kesal.
"Paman, aku tidak akan merepotkan kalian. Aku tidak bisa membayar makanan di lantai atas, hanya bisa memasak sendiri, tapi aku kekurangan bahan. Jika kalian menerimaku bekerja di sini, aku berjanji akan memasakkan kalian juga. Aku tidak akan membuat masalah dan akan mengembangkan makanan gratis lantai dasar menjadi lebih baik."
Dapur di sini adalah dapur yang dikhususkan untuk memasak makanan gratis para murid. Berbeda dengan lantai atas, tempat ini dibuat sederhana dengan juru masak yang biasa saja. Asal dapat mempertahankan energi dalam makanan, tak enak pun tetap disajikan. Berbeda dengan lantai atas yang mendapat anggaran dari hasil penjualan makanan.
Mereka saling pandang kembali, kemudian melihat Gu Yuena dengan ragu.
Pria itu akhirnya setuju setelah beberapa pertimbangan. "Baiklah, aku akan menilainya. Jika lulus, kau bisa berada di sini membantu kami."
Gu Yuena mempersilahkan pria itu untuk mencoba masakannya. Ia percaya diri dan tidak khawatir tidak akan lulus semua kualifikasi. Jika tidak, untuk apa semua piala itu diusahakan?
Selagi Gu Yuena minggir, seorang wanita yang tidak lagi muda bicara padanya dengan nada pasrah.
"Sikapnya memang seperti itu, aku harap kamu tidak memasukkannya ke dalam hati," kata bibi itu.
"Tidak masalah." Gu Yuena tetap tenang. Ia menunggu sampai pria besar itu mencicipi masakannya.
"Bagaimana?" Wanita paruh baya lain bertanya pada pria itu dengan penasaran. Pasalnya setelah mencicipinya sedikit, pria itu hanya diam.
Pria itu menegakkan punggungnya, kemudian melihat Gu Yuena dengan rasa penasaran. Tapi ia menyingkirkan semua rasa penasaran itu dan mendekati Gu Yuena.
Dengan canggung ia berkata, "Mulai sekarang, kau bisa menjadi juru masak di sini."
Gu Yuena tersenyum puas, sedangkan yang lainnya menghela napas berat. Jumlah juru masak di lantai dasar memang sedikit, bagus jika ada yang menawarkan diri.
Tapi untuk bisa mendapat pengakuan juru masak senior mereka terhadap murid akademi, itu memang di luar dugaan. Hampir semua murid akademi memiliki temperamen angkuh dan bangga. Karena diterima di akademi ternama, mereka lupa diri bahwa jalan mereka masih sangat panjang dan meremehkan para pekerja di akademi.
Pada umumnya, pekerja akademi hanya orang biasa yang membutuhkan banyak uang untuk menafkahi keluarga, berbeda dari para murid yang rata-rata merupakan bangsawan dan dari keluarga ternama. Murid yang berasal dari rakyat jelata hanya bisa menjilat mereka dan menjadi antek. Sangat jelas bagaimana diskriminasi sering terjadi.
"Tadi kau mengatakan ingin mengajak kami makan bersama. Kenapa hanya diam sana di sana?" Pria itu berkata dengan sinis, tapi itu justru terlihat lucu di mata Gu Yuena.
"Baik." Gu Yuena langsung membawa mangkuk-mangkuk berisi makanan sederhananya ke meja yang ada di luar dapur.
Yang lain juga membantunya menyiapkan tempat dan meletakkan makanan. Hanya ada para pelayan kantin lantai dasar saja yang berjumlah empat orang termasuk pria besar tadi. Lima ditambah Gu Yuena.
Setelah meletakkan semua makanan ke atas meja, Gu Yuena duduk di kursi yang sudah disediakan bersama yang lain. Ia menghela napas diam-diam. Rencananya berhasil.
"Makannya tidak banyak, karena aku pikir hanya aku yang memakannya. Jika ada yang kurang, katakan saja padaku." Gu Yuena bersikap ramah sambil mengambil sumpit di atas meja. Ia sudah sangat lapar. "Oh iya, panggil aku Gu Yue."
Mereka semua mengambil sumpit dan mencobanya. Ketika daging cincang yang mereka ambil menyentuh lidah, mata mereka langsung berbinar.
"Sangat enak!"
"Bagaimana kau membuatnya menjadi seenak ini? Apa resepnya?" Wanita paruh baya bertanya pada Gu Yuena dengan rasa penasaran.
"Aku hanya menambahkan beberapa bumbu yang ada di dapur. Itu saja." Gu Yuena menjawabnya sambil mengunyah makanan.
"Apa ini makanan Negara Wyvernia? Kenapa roti dicampur dengan daging?" Pria besar yang sebelumnya berkata sarkas melihat makanan di sumpit dengan heran.
"Anggap saja seperti itu. Ibuku dari Negara Wyvernia, jadi aku bisa sedikit masakan mereka. Untuk alasan roti dicampur dengan daging, aku menggunakan alasan cita rasa Negara Wyvernia ketika membuatnya." Gu Yuena hanya bisa menggunakan alasan itu. Ia sendiri tidak tahu persamaan Negara Wyvern dengan negara barat di dunianya dulu. Banyak sekali kesamaannya.
"Kau yakin nutrisi di dalamnya tidak hilang? Ini sangat matang, bagaimana jika hilang?" Wanita lainnya bertanya-tanya.
"Aku pastikan tidak akan, karena aku adalah pengendali api yang baik." Gu Yuena berkata dengan bangga.
Wanita itu terkekeh. "Kamu ini."
Makanan yang mereka makan pada dasarnya sangat baru di mata mereka. Jika Gu Yuena memiliki banyak waktu, ia sudah pasti akan membuat yang lebih spesial dan berbeda—bagi orang kuno.
"Ah, jadi rindu kentucky," gumam Gu Yuena melihat ayam goreng di tangannya.
"Apa?"
"Tidak ada." Gu Yuena pura-pura normal. Ia mengambil potongan ayam dari tempat saji menggunakan sumpit, tapi tiba-tiba saja ayam di sumpit berpindah tempat begitu saja ke sumpit lain.
Cepat sekali. Gu Yuena terdiam untuk beberapa saat. Ia menoleh ke arah ayam tersebut lari, lalu melihat pria yang ia hindari sepanjang hari kini memakan ayam yang baru saja ia ambil.
"Enak." Pria itu menyengir.
"Luo Youzhe ...." Gu Yuena menggeram diam-diam, meski terlihat tidak peduli.
"Eh, siapa kau? Kenapa kau di sini, bukannya kembali ke asrama?" Pria besar yang sarkas itu berkomentar mengenai kehadiran Luo Youzhe.
"Teman asrama dia." Luo Youzhe menjawab dengan singkat sebelum akhirnya duduk di sebelah Gu Yuena sambil merangkulnya.
"Aku tidak memintamu datang." Gu Yuena melepas rangkulan dengan paksa. Kenapa pria ini selalu datang tiba-tiba dan ada di mana-mana?
"Xiao Yue, bukankah kau baru saja mengatakan akan memasak untukku? Apa kau lupa?"
"Aku—"
"Tak apa jika kau lupa. Karena sudah ada di sini, aku akan membantumu menghabiskan." Luo Youzhe hendak mengambil makanan lainnya, namun sumpit Gu Yuena langsung menahan sumpitnya.
"Kau tidak diundang." Gu Yuena memperingati. "Seingatku, aku tidak pernah mengizinkanmu memakan makananku. Masak saja sendiri jika bisa."
"Hei, kau terlalu meremehkanku, bukankah tidak baik?" Luo Youzhe keberatan.
"Dasar berwajah tebal." Gu Yuena ingin sekali mencabik-cabik wajah itu agar tidak dipuji tampan oleh siapa pun. Saking tebalnya wajah sampai bisa menutupi sifat aslinya. Jangan pikir Gu Yuena tidak tahu.
"Karena kalian teman sekamar, tidak baik jika terus bertengkar." Wanita paruh baya menasihati melihat pertengkaran mereka.
"Benar, Gu Yue, temanmu sangat tampan dan terlihat seperti anak baik, kedepannya akan memiliki masa depan cerah. Lebih baik jangan bertengkar lagi seperti anak kecil." Pelayan wanita lainnya berkata demikian.
"Kata siapa berwajah tampan berarti anak baik? Gu Yue, para wanita hanya menilai dari parasnya saja, jangan mudah percaya." Pria besar yang sebelumnya sinis pada Gu Yuena kini menasihatinya.
Gu Yuena langsung membenarkan ucapan pria besar itu. "Benar, Paman ... sangat benar."
"Panggil saja Paman Xu."
"Paman Xu sangat benar." Gu Yuena melengkapi kalimatnya. Detik berikutnya, ia merasa ada yang salah. Bukankah ia juga wanita? Perkataan Paman Xu seharusnya tidak sepenuhnya benar. Tapi ... ya sudahlah.
"Aku pikir Paman Xu ada benarnya. Tidak hanya pria tampan, bahkan wanita cantik lebih tidak bisa dipercaya. Apalagi bangsawan." Luo Youzhe menyindir Gu Yuena sambil meliriknya.
Merasa tersindir, Gu Yuena berdeham untuk menahan diri agar tidak menendang pria itu dan membuat keributan. Ia pun mengambil minum, lalu meminta mereka menghabiskan makanan dengan cepat.
Ia tidak lagi peduli dengan Luo Youzhe yang bergabung. Jika terus dilayani, ia pikir tidak akan ada habisnya.
Omong-omong, bagaimana Luo Youzhe bisa tahu bahwa ia ada di sini? Dapur kantin selalu sepi dan hanya ada pekerja yang keluar masuk. Jika alasannya adalah untuk memasak, dapur kantin tidak hanya ada satu. Apa hanya beruntung? Tapi untuk apa menemuinya?
Selain bersikap aneh sepanjang hari seolah sedang menutupi sesuatu, latar belakangnya selain sebagai Tuan Muda Luo juga mencurigakan. Semakin lama dipikirkan, Gu Yuena semakin tidak mengenali Luo Youzhe.