Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
50. Tanah Tersembunyi



Tanah Tersembunyi, tempat misterius di balik sebuah Paviliun Anggur yang dijaga oleh 'pria gila' dan pemabuk. Tidak ada murid di dalamnya, karena mentor yang merupakan seorang Tetua Agung yang menutup diri tidak ingin identitasnya diketahui.


Sebelum mengirim surat, Dekan Yu didatangi Luo Youzhe untuk menjanjikan akomodasi terbaik untuk Gu Yuena. Tempat terbaik di akademi dan terhindar dari murid-murid bodoh itu. Tentu saja Gu Yuena harus memiliki guru terbaik dengan syarat guru tersebut adalah seorang wanita.


Dekan Yu pun setuju setelah beberapa pertimbangan, lalu mengirim surat pada Yan Shuiyin dengan penuh hormat, bahwa ia harus menerima murid Gu Yue yang baru lulus ujian ke halaman dalam.


Dengan membawa nama 'orang di belakang Gu Yue' serta kekuatan yang dapat mengguncang Istana Yuansu, wanita yang menyamar sebagai pria itu akhirnya membiarkan Gu Yuena masuk.


Tentu saja dia tidak menerima murid dengan mudah. Tapi siapa sangka, Gu Yuena adalah seorang penyihir yang sama sepertinya, ditambah dengan darah phoenix, membuatnya harus berpikir ulang menerimanya dengan alasan kasihan atau sebagai sesama penyihir.


Itulah yang terjadi saat ini. Yan Shuiyin telah memutuskan untuk membiarkan Gu Yuena masuk ke dalam wilayahnya.


Tanah Tersembunyi, tempat yang sangat jauh dari Gunung Huo dan dilindungi oleh sihir Yan Shuiyin selama bertahun-tahun hanya untuk seseorang.


Kini, seseorang itu telah hadir di hadapan Gu Yuena yang diarahkan pergi ke sebuah paviliun. Seorang wanita tua di atas kursi roda. Rambutnya putih karena uban, serta keriput di mana-mana. Jauh berbeda dari Yan Shuiyin yang awet muda meski berumur kurang lebih 100 tahun.


"Dia adalah ibuku, Tetua Istana Yuansu serta Tetua Tanah Tersembunyi, Yan Mi." Wanita beriris hitam legam tersebut mengenalkan wanita tua itu dengan nada lembut.


Penampilan Yan Shuiyin saat ini telah berubah drastis. Yang awalnya berupa pria kasar pemabuk, kini berganti menjadi wanita cantik dan dewasa seperti seorang dewi yang jatuh dari langit. Kulit seputih susu serta fitur wajah sempurna tanpa kerutan, rambut panjangnya yang sedikit diikat berkibar tertiup angin. Dia tampak tidak seperti seorang wanita ratusan tahun.


Meski Gu Yuena lebih cantik dan lebih muda, Yan Shuiyin lebih terlihat dewasa dan cantik dengan caranya.


"Apa dia adalah muridmu?" Yan Mi melihat Gu Yuena dengan senyuman simpul.


"Xiao Yuena, cepat beri salam pada ibu gurumu." Yan Shuiyin berkata agak lantang.


Gu Yuena langsung membungkuk, memberi salam secara formal. Otaknya masih berputar memikirkan sejak kapan Yan Shuiyin menerimanya sebagai murid dan ia mengakui wanita aneh itu sebagai guru.


Sudahlah, nanti saja.


"Ibunya guru, salam untukmu."


Yan Mi terkekeh melihatnya, lalu berkata dengan lembut. "Kelak, panggil saja aku Nenek. Kamu akan tinggal di sini bersama kami, jadi anggap saja aku adalah nenekmu."


"Apa boleh begitu?" Gu Yuena ragu.


"Tentu saja."


Gu Yuena menunjukkan senyum terbaiknya, lalu mengangguk mengiyakan. "Baik, Nenek."


Meski agak tidak terbiasa karena seumur hidup tidak pernah memiliki nenek, ia hanya perlu membiasakannya sedikit.


"Baiklah, kalau begitu. Xiao Yuena, kau harus menyambut gurumu sebagai murid yang baik. Seperti apa yang kau katakan barusan, bersikap patuhlah."


Gu Yuena mengangguk cepat. Jika seperti ini, apa ia bisa menolak? Lari juga sudah tidak mungkin, karena jalan sudah ditutup.


"Sekarang lakukan tugasmu sebagai murid yang baik. Kau tidak tinggal di sini secara gratis. Setiap hari, kau harus menjaga ibuku dan membersihkan Paviliun Anggur. Pergilah ke tempat tinggalmu dan bekerja, aku ingin kembali minum." Yan Shuiyin berkata dengan malas.


Gu Yuena melihatnya tidak percaya. Membersihkan paviliun? Dia?


Apa ia sedang dijadikan pelayan dengan alasan biaya sewa?


"Yin'er, jangan membuat muridmu repot seperti itu. Kamu juga jangan terlalu banyak minum, tidak baik untuk kesehatan." Yan Mi membela Gu Yuena yang malang, merasa kasihan pada anak itu jika harus membersihkan paviliun sendiri.


"Ibu, ini adalah salah satu 'latihannya', tidak perlu khawatir." Yan Shuiyin berkata dengan manis.


Yan Mi hanya bisa menghela napas akan putrinya yang aneh seperti ini.


Gu Yuena memperhatikan dalam diam. Ia jadi penasaran bagaimana Yan Shuiyin dan ibunya bisa keluar dari Istana Linghun. Tapi yang jelas, ia tidak bisa menanyakannya secara langsung.


Baiklah, sebagai murid yang baik, ia akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.


"Xiao Yuena, jangan mencoba-coba membuat masalah padaku. Jika tidak, aku tidak akan mengajarimu apa pun." Yan Shuiyin memberi peringatan setelah melihat wajah Gu Yuena yang seperti tengah merencanakan sesuatu. Ia menunjuk-nunjuknya dengan mata menyipit, sebelum akhirnya pergi ke Paviliun Anggur.


Gu Yuena hanya melihat kepergiannya dengan wajah datar.


Bisa-bisanya ia diancam.


Sialnya ancaman itu berhasil.


Gu Yuena pun pergi memilih paviliunnya sendiri dengan bebas. Tidak ada murid lain di tempat ini sehingga ia bebas berkeliaran tanpa diperhatikan.


Meski harus bekerja, tempat ini tidak buruk dan memiliki udara yang bagus. Qi yang terkandung juga sangat berlimpah, tidak lebih buruk dari Gunung Biluo. Ia akan betah berlama-lama di sini.


Ah, ia harus memberi hadiah pada pak tua tertentu yang telah mengarahkannya ke tempat indah ini, meski harus mendapat guru gila.


Di tengah berjalan-jalan untuk mencari paviliun yang cocok, sepasang iris merahnya mendapati seseorang berdiri di depan tebing curam sambil melihat pemandangan dalam diam.


Itu adalah seorang pria. Pria tinggi dengan jubah hitam yang berkibar akan tiupan angin. Dia seperti sosok yang tidak nyata, namun cahaya matahari membuat pria itu terlihat lebih nyata.


Menyadari seseorang memperhatikannya, pria itu menoleh ke belakang. Rambutnya terkibat tertiup angin, menunjukkan wajah tampannya yang tanpa celah. Sepasang iris hitam legam seperti elang dan penuh aura dingin, seolah tidak memiliki keinginan dan perasaan.


Jika Luo Youzhe adalah pria tertampan dengan aura dingin dan kharisma yang membuat semua orang tunduk padanya, maka pria itu menunjukkan aura dingin yang penuh dengan kesuraman, serta rasa takut.


Siapa dia?


Gu Yuena tidak ingat Tanah Tersembunyi memiliki murid lain.


Yan Mi muncul dengan kursi roda yang didudukinya ke sisi Gu Yuena, lalu berkata, "Namanya adalah Yang Xinyuan. Dia adalah tamu Yin'er."


"Guru juga menerima tamu?" Gu Yuena terheran-heran. Apa identitas orang itu sampai membuat Yan Shuiyin menerimanya?


"Jika ingin tahu, maka bicaralah. Sepanjang hari anak itu hanya diam di paviliun atau memandangi pemandangan tanpa keluar dari Tanah Tersembunyi. Dia tidak banyak bicara, bahkan hanya bicara beberapa kata pada Yin'er."


Gu Yuena mengangguk paham. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Ia malas bicara pada tembok dan tidak perlu menegur siapa pun. Bicara dengan Luo Youzhe yang kadang menjadi patung saja membuatnya kesal setengah mati.


Melihat kembali ke arah pria itu. Entah kenapa, ia merasa familiar.


Apa mereka pernah bertemu?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berikutnya, Yan Shuiyin telah mengaktifkan kegiatan yang harus dilakukan Gu Yuena.


Membersihkan paviliun adalah salah satunya.


Tiap wilayah memiliki seragam masing-masing yang mewakili tiap wilayah. Tapi untuk Gu Yuena yang memiliki Yan Shuiyin sebagi gurunya, tidak ada seragam yang ia dapat kenakan. Pada dasarnya Tanah Tersembunyi memang tidak menerima murid sehingga tidak membutuhkan seragam.


Tapi kasus Gu Yuena adalah hal berbeda.


Gadis itu berjalan di sekitar akademi bersama Xiao Hei di pelukannya untuk melapor pada pusat administrasi akademi sebelum melakukan kegiatan.


Penampilan Gu Yuena yang cukup mencolok menarik banyak berhatian. Tapi perempuan itu mengabaikan semua tatapan dan pertanyaan, melangkahkan kakinya lebar-lebar ke tempat di mana para murid baru berkumpul.


Kabar mengenai Gu Yuena yang diperebutkan para tetua telah tersebar luar. Mereka tentu penasaran, seperti apa sosok 'Gu Yue' yang begitu istimewa di mata para tetua.


Sampai akhirnya mereka melihat seorang perempuan cantik yang memiliki kesan acuh tak acuh, berjalan dengan gaun merah darah yang berbeda dari seragam murid lainnya. Bahkan para murid baru mengenakan seragam, tapi perempuan itu adalah etinitas yang berbeda.


Aroma anggur yang mengitari tubuh perempuan itu negitu menarik suasana sehingga semua mata tertuju padanya. Seorang wanita cantik dengan aroma anggur yang memabukkan, siapa yang tidak akan terpesona?


"Lihatlah 'murid kesayangan' yang diperebutkan para tetua wilayah, bukankah dia seharusnya tahu diri dan tidak berada di sini setelah menyatakan tidak memasuki keempat wilayah halaman dalam? Apa kau datang untuk memohon kesempatan kedua menggunakan penampilanmu itu?"


Seorang wanita aneh muncul tepat di hadapan Gu Yuena. Tampangnya tidak asing. Ia cantik dan sedikit lebih tua dari Gu Yuena, tatapannya penuh permusuhan dengan aura mendominasi yang menindas. Ada beberapa wanita di belakangnya mengawal.


Gu Yuena memperhatikannya dengan seksama, tidak mengindahkan ucapan merendahkan yang terlontar dari mulut wanita itu.


"Apa kita kenal?" tanyanya.


"Beberapa waktu lalu, kau membuat monster tingkat 6 adikku terbunuh dan melukainya begitu buruk. Kau bahkan mempermalukannya di depan murid halaman luar. Jika bukan karena Dekan Yu berada di pihakmu, aku sudah lama mengutus orang untuk mengusirmu dari akademi, menegaskan bahwa Klan Lin tidak boleh disinggung!"


Ah, kemarin adiknya bermasalah, sekarang kakak perempuannya turun tangan. Sebenarnya bukan hal tidak wajar, mengingat Gu Yuena juga memiliki kakak yang protektif.


Hanya saja, Lin Susu yang membuat masalah padanya terlebih dahulu. Kenapa ia tidak boleh membalas? Tidak membunuhnya sudah merupakan toleransi yang tinggi bagi Gu Yuena.


"Masalah itu sudah dilewatkan. Aku juga sudah tidak ada kontak dengannya." Gu Yuena menyahut acuh tak acuh. Ia tidak mau berurusan dengan Klan Lin atau semacamnya.


"Apa semudah itu melewatkannya? Setidaknya, kau harus mengganti kerugian atas apa yang menimpa Susu. Ingatlah, selama kau masih hidup, Klan Lin tidak akan tinggal diam. Mungkin Klan Lin akan melepaskanmu jika kau meminta maaf dan menghancurkan kultivasimu di depan semua orang." Wanita itu menunjukkan senyum miring yang penuh ejekan.


Pada saat itu, semua mata tertuju pada mereka berdua dengan penuh minat.


Pasalnya, wanita itu adalah putri sulung Klan Lin, Lin Xi, yang merupakan suksesor pemimpin klan di masa depan. Wanita tercantik di Istana Yuansu, yang bahkan telah dijodohkan dengan Yun Qiao. Jika bukan menjadi pemimpin klan besar, ia akan menjadi istri Raja Istana Yuansu di masa depan.


Siapa yang ingin menyinggung wanita sepertinya?


Karena hal tersebut, wanita beriris cokelat dengan surai panjang senada dengan warna matanya itu memiliki banyak kebebasan di dalam akademi. Bisa dibilang, dia adalah penguasa para murid di akademi. Bahkan Dekan tidak bisa menyinggungnya sembarangan.


"Jangan hanya karena seseorang yang asing mendukungmu, Istana Yuansu akan tunduk padamu." Lin Xi melanjutkan ucapannya dengan nada menghina. Ia tidak akan segan-segan mengusir siapa pun yang mengusiknya dan menginjak-injak Klan Lin.


Gu Yuena menyaksikan segalanya dalam diam. Ia memperhatikan sekitar. Banyak yang menunjukkan tatapan kasihan yang membuatnya tidak nyaman. Apa mereka berpikir Gu Yuena akan dihengkangkan begitu saja oleh Lin Xi?


"Lalu apa yang akan akan terjadi jika aku menolak?" Gu Yuena berkata tanpa fluktuasi emosi. Ia begitu tenang sambil mengusap bulu kucing hitam yang menonton di lengannya.


Lin Xi mendengus. "Apa kamu memiliki pilihan itu?" Ia melihat Gu Yuena dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. "Aku pikir, bahkan para tetua sudah tidak menginginkanmu lagi. Kau hanyalah sampah yang dibuang akademi karena arogansimu sendiri."


"Oh ya?" Gu Yuena menarik kedua sudut bibirnya. "Semoga harimu menyenangkan."


Gadis itu melewati Lin Xi begitu saja tanpa mempedulikan ekspresi wajahnya yang merasa terabaikan. Daripada pusing memikirkan masalah Lin Xi yang kekanakan, lebih baik memikirkan bagaimana caranya bisa hidup lebih lama.


Yah, meski itu nyaris mustahil.


Gu Yuena langsung pergi ke meja administrasi tanpa mempedulikan Lin Xi.


"Gu Yuena, Tanah Tersembunyi." Gu Yuena meletakkan token pengenal yang diberikan Yan Shuiyin begitu saja di atas meja administrasi.


Ketika mendengar perkataan Gu Yuena, mereka jelas terkejut dan tidak dapat mempercayainya. Selain merasa dikejutkan dengan pengakuan nama aslinya, kata "Tanah Tersembunyi" membuat mereka semua tidak bisa mempercayainya.


"Tanah Tersembunyi tidak menerima murid selama bertahun-tahun, untuk apa kau mengaku sebagai murid Tanah Tersembunyi?" Pengurus administrasi itu jelas tidak percaya.


"Hmph, sekarang kau sudah berani membual. Kalau pun benar, mana mungkin orang gila itu akan menerimamu sebagai muridnya." Lin Xi mendengus.


Gu Yuena memutar bola mata. Benar kata Yan Shuiyin, keberadaannya mencurigakan.


Pada akhirnya, ia mengeluarkan token kedua ke atas meja. "Apa sudah cukup?"


Itu adalah token Tetua Tanah Tersembunyi milik Yan Mi yang diberikan oleh Yan Shuiyin sebagai tanda pengenal kedua. Itu digunakan untuk mengakui Gu Yuena sebagai murid Tanah Tersembunyi.


Semua orang jelas terkejut. Tapi kejutan itu langsung berubah menjadi sebuah keheranan ketika melihat Gu Yuena.


Pantas saja gadis itu memiliki aroma anggur di tubuhnya.


Lin Xi terkekeh pelan. "Rupanya 'Gu Yue' yang dianggap istimewa, tidak lebih dari seorang jala*g yang melayani seorang pria pemabuk. Para tetua benar-benar sudah buta ketika memperebutkanmu. Untung saja mereka tidak jadi menerimamu sebagai murid pribadi. Citra mereka bisa sangat buruk."


Gu Yuena berbalik untuk melihat Lin Xi. Ia terlihat tidak tersinggung, tetap dengan senyumannya seolah yang dikatakan Lin Xi adalah orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya.


"Aku tidak tahu siapa kamu, tiba-tiba saja datang dan mengatakan hal yang tidak kupahami. Jika Klan Lin ingin 'mengundangku', aku akan melayani. Tapi aku tidak berjanji untuk tetap menjaga sikapku jika kalian tidak menjaga batasan diri."


Hanya setelah berkata demikian, Gu Yuena pun pergi bersama Xiao Hei yang melemparkan tatapan mengancam pada Lin Xi.


Pertengkaran antar wanita sangat merepotkan.


Lin Xi melihat kepergian Gu Yuena dengan perasaan marah yang terpendam. Ia tetap terlihat tenang demi citranya, meski dalam hati ingin mencabik-cabik wajah itu sampai tidak dikenali.


Hanya seseorang yang datang entah dari mana sudah berani menentangnya? Lihat saja nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wanita bersurai cokelat dengan balutan gaun putih berhiaskan merah muda berjalan menelusuri gedung utama akademi ke sebuat tempat. Iris cokelatnya mendapati seorang pria yang tengah mengayunkan pedang ke udara kosong sebagai bentuk pelatihan.


Tebasan pedang di udara terdengar sampai ke telinganya, menandakan bahwa kekuatan pedang yang pria itu bawa cukup kuat sampai mengeluarkan sebuah kilatan qi yang nyata.


"Qin Haotian."


Suara halus yang memanggil namanya membuat pria itu menghentikan kegiatan, menolehkan kepala untuk melihat wanita cantik yang berdiri di kooridor.


"Lin Xi? Kenapa kau di sini?" Qin Haotian menyimpan pedangnya seraya menghampiri wanita itu. Mereka terlihat sudah lama kenal.


"Adikku berada di wilayah yang sama denganmu, tentu saja aku berada di sini. Belakangan ini kesehatannya terganggu, jadi aku harus sering-sering mengunjunginya." Lin Xi berkata sambil melangkahkan kakinya perlahan di sekitar kooridor bersama Qin Haotian.


Qin Haotian mengangguk paham. "Aku dengar dia cedera parah karena pertandingan."


"Ya, karena kalian sama-sama berada di Puncak Terang, aku harus mempercayakannya padamu. Susu terkadang menjadi sangat aktif, aku harap kau memakluminya."


Qin Haotian terkekeh. "Semenjak di Klan Lin, aku sudah menganggap Susu seperti adikku sendiri. Kau tenang saja. Selama ada aku, dia tidak akan merasa kesulitan."


Lin Xi tertawa. "Aku tahu kau akan berkata demikian. Di Puncak Terang, hanya kau yang bisa diandalkan. Andai saja Huang Jingtian memiliki sikap yang sama sepertimu, Klan Lin pasti akan mendukung kenaikan tahtanya lebih cepat."


"Tentu saja aku tidak bisa disamakan dengan Huang Jingtian itu." Qin Haotian mendesah. "Belakangan ini Huang Jingtian sangat aktif keluar-masuk akademi. Entah siapa yang ditemuinya."


"Aku dengar ada seorang murid bernama Gu Yue yang cukup dekat dengan Huang Jingtian. Siapa sangka, dia mengganti namanya menjadi Gu Yuena dan memasuki Tanah Tersembunyi di Paviliun Anggur. Huang Jingtian benar-benar sudah buta mendekatinya."


"Gu Yuena? Belum pernah dengar. Bagaimana dia bisa berada di tempat buruk itu?"


"Seorang yang tidak tertarik pada gosip akademi, tentu saja tidak akan mengetahuinya." Lin Xi terkekeh. "Orang ini sebelumnya bertanding dengan Susu dan telah membuatnya terluka sangat parah. Meski hanya pertandingan dan sudah sepantasnya ada yang terluka, bukankah seharusnya tidak sampai melampaui batas? Aku sebagai kakak, sampai dimarahi para tetua klan karena hal ini. Benar-benar merepotkan."


Wajah Qin Haotian tampak menggelap tidak suka. "Melukai anggota Klan Lin, sama saja menginjak-injak Klan Lin. Anak itu memiliki keberanian yang sangat besar."


"Baru-baru ini aku memperingatinya, tapi dia bersikap arogan dan mengabaikanku. Apa yang dia pikirkan tentangku? Benar-benar tidak tahu diri."


"Kamu tenang saja. Aku akan membereskan anak itu. Bukankah dia hanya murid biasa dari Tanah Tersembunyi?"


"Aku pikir tidak sesederhana itu." Lin Xi menyipitkan matanya. "Bahkan Dekan Yu tidak berani menyinggungnya, dan membuatnya memutuskan untuk tidak meluluskan lebih dari 200 murid ke halaman dalam saat itu. Entah siapa orang yang mendukungnya, kita sebagai murid akademi harus cukup berhati-hati jika ingin membereskannya. Jangan sampai diketahui siapa pun."


Qin Haotian mendengus. "Kalau hanya seperti itu, tidak mungkin aku akan mendapati penghargaan dari Klan Lin. Kamu hanya perlu ingat. Apa pun yang terjadi nanti, tidak akan ada hubungannya dengan kita."


Lin Xi melihat Qin Haotian dengan senyuman percaya. Mereka telah bekerja sama selama bertahun-tahun dan membentuk kepercayaan antar-rekan seperjuangan dan teman. Mereka tahu kemampuan satu sama lain.


Menghadapi Gu Yuena, semudah menghadapi semut. Meski semut itu sedikit lebih besar sekalipun.