
Paviliun Anggur berdiri di titik tersaingi sebelah barat Akademi Yuansu. Wilayah sekitarnya selalu tercium aroma anggur yang kuat. Selalu sepi karena beberapa alasan.
Ketika Gu Yuena menginjakkan kaki di depan Paviliun Anggur, perasaan sunyi dan sepi selalu menyertainya. Tidak ada murid yang berlalu lalang, begitu tenang dan terasingi, seolah tidak ada kehidupan lain selain tanaman yang bergoyang.
Pantas saja pak tua itu mengirimnya ke sini.
Huh, ia harap orang yang ditemuinya tidak segila yang ia pikirkan. Gu Yuena harus siap mental.
Kakinya melangkah masuk ke dalam paviliun. Halaman yang luas namun suram menyambutnya. Ada banyak semak belukar serta dedaunan kering, sangat tidak terurus.
Jika tidak ada aroma anggur yang kuat dari dalam, Gu Yuena pikir tempat ini benar-benar ditinggalkan. Pemilik paviliun ini sangat malas.
"Nona, apa sebaiknya kita tidak berada di sini?" Xiao Hei ragu. Sejak tadi, dia selalu berada di lengan Gu Yuena tanpa mau dilepas.
Gu Yuena menggeleng. "Aku akan memutuskannya nanti."
Ia melanjutkan langkah kakinya ke dalam paviliun. Tapi baru saja sampai tengah jalan, sebuah tekanan kuat keluar dari dalam sana membuat Gu Yuena termundur beberapa langkah. Bahkan Xiao Hei sampai nyaris melompat karena terkejut.
Tekanan yang sangat kuat. Setidaknya, persis seperti ketika Luo Youzhe datang kemarin.
"Gu Yue, datang untuk menjadi murid Tanah Tersembunyi. Mohon Tuan mengizinkannya." Gu Yuena berkata dengan sopan sambil membungkuk di depan pintu yang tertutup. Ia tidak tahu ada apa di dalam sana, tapi tekanannya sangat kuat.
"Apa orang-orang itu tidak memberitahumu? Tanah Tersembunyi tidak menerima murid!"
Suara itu bergetar dan terdengar sangat berat. Seperti lelaki tua, tapi terasa aneh bersamaan. Tekanannya kembali muncul disertai aroma anggur yang merebak.
"Seseorang berkata aku harus datang ke sini. Setidaknya, Anda bisa melihatnya terlebih dahulu." Gu Yuena mengeluarkan sebuah surat dari ruang spiritual. Itu adalah surat yang dititipkan oleh Dekan Yu untuknya ketika berada di Paviliun Anggur.
Suara itu tidak lagi terdengar. Melainkan sebuah jaring-jaring tipis seperti benang bermunculan dari celah pintu, menarik surat di tangan Gu Yuena begitu saja dan membawanya ke dalam.
Gu Yuena terdiam. Orang ini benar-benar anti-sosial.
Setelah beberapa saat menunggu—sepertinya orang itu sedang membaca—barulah suaranya kembali terdengar.
"Masuklah."
Pintu kayu itu terbuka lebar, memberi Gu Yuena jalan untuk masuk. Tapi ketika pintu terbuka, aroma anggur yang jauh lebih pekat membuat hidung Gu Yuena nyaris bersin. Ditambah debu yang bertebaran, ia takut tak lama lagi akan terkena alergi.
Yah, meski bau anggur itu cukup enak, tapi tetap saja akan membuat kepala pusing jika sepekat itu. Tubuh Gu Yuena yang tidak terbiasa dengan anggur merasakan efeknya.
Setelah menetralkan tubuhnya sendiri, Gu Yuena melangkah masuk ke dalam. Aroma anggur semakin pekat ketika ia melangkah dan memasuki ruangan gelap tersebut sebelum akhirnya pintu kembali ditutup.
Satu hal yang ditemukan Gu Yuena adalah seorang pria 30an yang duduk dengan malas sambil memeluk guci anggur di tangannya. Pipinya merah, terlihat mabuk.
"Kamu Gu Yue? Peringkat 1 ujian halaman luar?" Ia berkata dengan nada aneh, mungkin karena mabuk. Suaranya yang berat juga terasa jadi aneh.
"Ya." Gu Yuena sedikit membungkuk untuk memberi salam. Pantas saja orang-orang berkata bahwa dia gila, orang ini pemabuk gila.
"Orang itu memintaku menjadikanmu murid. Menurutmu, apa yang harus membuatku menerimamu sebagai murid? Kenapa kamu?" Dia berkata dengan serius sambil melihat Gu Yuena dengan teliti.
Mata merah itu ....
Gu Yuena tersenyum, lalu menjawab dengan enteng. "Karena kita sama-sama perempuan, mungkin."
Sang pemabuk menarik sebelah alisnya, lalu ekspresinya menjadi sebuah kejutan.
Bagaimana dia bisa tahu?
Apa ia telah melakukan kesalahan? Apa posturnya tidak benar? Apa suaranya kurang berat? Apa karena wajahnya?
Ia berdeham, lalu berkata dengan tegas. "Murid Gu Yue, berhenti omong kosong!"
"Sebagai sesama perempuan yang pernah menyamar sebagai laki-laki, saya tentu tahu perbedaannya. Apa surat itu tidak memberitahu Anda bahwa saya dulunya menyamar menjadi laki-laki?"
Orang itu terdiam seribu kata. Ia melihat Gu Yuena dengan curiga, sebelum akhirnya mendengus kesal. Ia meletakkan guci anggur ke atas meja di depannya, lalu berdiri dengan tangan yang diletakkan di punggung.
"Kau tahu siapa yang sedang berdiri di depanmu?" Iris hitam legamnya melihat iris merah itu dengan tajam.
"Tetua Tanah Tersembunyi."
Orang itu mendengus dan membuang wajah. Ia berdeham, lalu bicara dengan suara aslinya, yakni suara wanita.
Memang benar ia adalah wanita, tapi tidak disangka akan ketahuan di depan seorang amatir. Benar-benar menyebalkan. Untung saja orang-orang itu tidak menyadarinya.
"Tetua Tanah Tersembunyi adalah seorang wanita tua yang berada di dalam sana, kamu telah salah mengenali."
"Lalu ...."
"Aku tanyakan padamu sekali lagi, kenapa aku harus menerimamu sebagai murid?" Wanita berpenampilan pria itu melirik Gu Yuena dengan sinis.
"Karena aku membutuhkanmu. Aku memiliki kenalan dengan kekuatan yang hampir sama sepertimu, aku membutuhkan perlindungan. Di akademi ini, tidak ada yang sebaik dirimu. Bahkan tetua yang berebut untuk mendapatkanku kemungkinan tidak bisa mengalahkan kenalanku yang datang dan pergi seperti hantu dan membawa bahaya."
"Jadi kamu datang ke sini hanya untuk meminta perlindungan?"
"Tidak hanya itu. Aku pikir, dengan belajar dengan seorang master yang hebat, aku bisa berkembang lebih cepat. Kenalanku itu sangat jahat, dia memburuku seperti hewan buas dan aku selalu mimpi buruk dibuatnya."
"Aku dengar kau memiliki seseorang yang kuat di belakangmu. Minta saja berguru dengannya." Wanita itu mengerutkan kening.
Gu Yuena tersenyum kecut. Berguru dengannya? Yang ada ia bisa mati berkali-kali karena emosi. "Kenalan yang kumaksud adalah orang itu—orang di belakangku. Jika aku bisa berada di tempat aman seperti Tanah Tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun, dia tidak akan bisa mengejarku."
Wanita itu memasang ekspresi aneh, seolah melihat makhkuk dunia lain yang tidak dikenal ketika melihat Gu Yuena. Yang benar saja.
"Apa yang dia lakukan padamu?" Wanita itu bertanya.
"Dia ... menindasku, mengatakan tidak ada yang bisa menindasku selain dirinya. Tentu saja aku ketakutan. Bagaimana jika dia menjatuhkanku ke dalam jurang bahaya dan tidak dapat diselamatkan?"
"Jadi kau ingin aku menjadi tameng, begitu?" Wanita itu terlihat kesal.
"Bukan begitu. Jika Anda bisa menciptakan murid yang bisa mengalahkan orang seperti itu, bukankah itu adalah sebuah kehormatan? Dekan Yu bahkan tidak berdaya di depannya sampai harus menundukkan kepala."
"Apa seperti itu?" Wanita itu semakin mengerutkan keningnya. "Jika seperti itu, bukankah dia adalah ancaman? Seharusnya kau pergi ke Istana Yuansu menjelaskannya."
"Apa aku bisa?" Gu Yuena menghela napas. "Aku bahkan tidak pantas memasuki Istana Yuansu saat ini, oleh karena itu aku datang. Anda tenang saja, aku akan belajar dengan giat dan tidak akan menyusahkan. Aku sangat pandai melakukan berbagai hal dan 'mudah diatur'."
"Apa sikapmu seperti ini menunjukkan bahwa kau mudah diatur?" Wanita itu berkata dengan wajah datar.
Gu Yuena menyengir. "Tentu saja aku akan belajar mengendalikan diri. Aku tidak akan menyusahkan siapa pun."
Wanita itu menyipitkan matanya, lalu berjalan mendekati Gu Yuena. Gu Yuena jadi was-was, tapi ia tetap diam di tempatnya melihat kedua iris hitam legam yang berkilauan itu.
Tangan wanita itu diangkat, lalu meletakkan dua jarinya di dahi Gu Yuena disertai aura spiritual yang menerobos masuk.
Gu Yuena terkejut, tapi tidak bisa melakukan apa pun. Ia dapat melihat bahwa kekuatan spiritual itu melacak segala sesuatu tentang dirinya sehingga seluruh tubuhnya membeku. Ia tidak bisa bergerak.
"Jika seseorang mengincarmu, maka seharusnya kau memiliki sesuatu untuk menguntungkannya." Wanita itu berkata dengan serius. Lalu menarik kembali tangannya. "Jangan mudah percaya pada pria."
Gu Yuena akhirnya bebas dari aura spiritual yang begitu aneh. Ia tidak tahu apa kekuatan wanita itu, tapi rasanya sangat aneh bagi tubuhnya.
"Apa itu?" Gu Yuena bertanya.
"Jika ingin menjadi muridku, aku harus mengetahui segala sesuatu tentangmu." Ia tiba-tiba sedikit menarik sudut bibirnya. "Orang di belakangmu itu sangat sensitif, ya. Bahkan memblokir aura spiritual yang masuk untuk menyelidikimu."
Gu Yuena menyentuh dahinya dengan perasaan linglung.
Memblokir? Gu Yuena baru tahu akan hal itu. Kapan Luo Youzhe melakukannya? Apa benar Luo Youzhe yang melakukannya? Bagaimana?
"Kau memang tidak tahu apa pun." Wanita itu mendengus. "Sebenarnya tidak buruk, itu bisa melindungimu dari lacakan orang jahat."
"Jadi ... apa aku sudah diterima?"
Wanita itu melihat Gu Yuena dengan teliti. Ia memandangi iris merah Gu Yuena dengan penuh rasa penasaran.
"Katakan padaku, dari mana kau mendapatkan warna merah itu?"
Pertanyaan yang sangat aneh. Itu berhasil membuat Gu Yuena waspada. Apa wanita ini mengetahui sesuatu tentang dirinya?
"Tidak perlu waspada, aku tidak ada niat membunuhmu. Meski orang itu memblokir aura spiritualku untuk melacakmu, aku tetap dapat melihatnya sebagian."
Wanita ini berbahaya.
"Apa saja yang kau ketahui?" Gu Yuena bersikap cukup tenang, meski ia merasa waspada. Jika wanita ini mengetahui bahwa ia adalah penyihir, atau pemilik darah phoenix, ini akan merepotkan.
"Dari mana mata merah itu?" Wanita itu tetap pada pertanyaannya.
"Ibuku." Gu Yuena tidak perlu mengarang. Toh, semua orang mengetahuinya.
"Ibu?" Wanita itu tiba-tiba tersenyum.
Ia mundur beberapa langkah untuk mengambil guci anggur, lalu menenggaknya dengan menyenangkan.
"Kau mengenal ibuku?"
"Ah, sama sekali tidak." Wanita itu menggedikkan bahu acuh tak acuh. Hal itu berhasil membuat Gu Yuena benar-benar bingung.
Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan wanita itu?
"Mata merah ... seharusnya kamu memiliki seorang kakak."
"Bocah sepertimu tidak mungkin tidak memiliki sandaran. Yah, terlepas dari orang di belakangmu itu. Jadi berapa lama kau akan di sini? Setahun? Dua tahun? Atau selamanya?"
"Entahlah, mungkin sampai cukup kuat?" Gu Yuena berkata dengan asal.
"Aku pikir itu akan sulit." Wanita itu menghela napas, lalu menenggak anggurnya lagi. Ia mendekati Gu Yuena, lalu menyentuh kedua bahunya.
"Ada sesuatu?" tanya Gu Yuena.
Wanita itu terlihat sudah teler. "Biar kukatakan sesuatu, kau harus menemukan naga-mu untuk tetap hidup."
Wanita ini mengetahui darah phoenixnya?
Gu Yuena diam-diam mengeluarkan helaian api di tangan, untuk siap dengan keadaan yang akan berubah.
"Jangan takut seperti itu. Di masa lalu, aku pernah menemukan darah naga, tapi dia sudah mati. Untuk menemukan darah naga selanjutnya, nyaris tidak mungkin."
"Siapa yang kau temui?"
Wanita itu melihat Gu Yuena dengan serius, sebelum akhirnya menajwab, "Raja Istana Linghun."
Raja Istana Linghun?
Gu Yuena jelas terkejut. Ia pikir darah naga tidak pernah ditemukan selama ini. Tapi rupanya orang itu.
Tapi sayangnya, Istana Linghun terlalu jauh untuk digapai. Wajar jika Raja Istana Linghun mati karena darah naga.
"Darah naga tidak memiliki masa hidup seperti darah phoenix. Tapi dia akan mengalami rasa sakit sepanjang waktu sampai ingin mati. Semakin kuat kekuatannya, semakin sakit rasanya. Itu sebabnya, Raja Istana Linghun mati. Antara bunuh diri atau dibunuh seseorang ketika periode lemahnya."
"Lalu ... bagaimana dengan darah phoenix?" tanya Gu Yuena.
"Entahlah, apa yang kamu rasakan?" Ia menunjukkan senyum kecut. "Anak malang. Sangat disayangkan, cantik dan berbakat tapi berumur pendek. Apa motivasimu untuk bertahan? Jika aku menjadi dirimu, aku lebih memilih bersenang-senang selama sisa hidup sampai hari itu tiba."
Gu Yuena tidak menjawab apa pun. Motivasi? Ia pikir mengetahui bagaimana ia bisa hidup lagi adalah pertanyaan terbesar yang harus dijawab sebelum kematiannya. Seharusnya dia sudah mati sejak awal.
Melihat Gu Yuena yang hanya diam, wanita itu terkekeh. "Tidak mau menjawab rupanya. Apa pun motivasimu, kau tidak bisa melepas julukan anak malang."
"Berapa banyak yang kau ketahui?"
"Menurutmu, apa yang akan dilakukan orang itu jika tahu kau akan mati dalam waktu 2 tahun?"
Gu Yuena diam untuk beberapa saat. Itulah yang ia pikirkan tiap kali melihat orang itu. "Akan lebih baik tidak tahu."
"Dia akan tahu, sama seperti aku yang mengetahui tentangmu. Omong-omong, aku juga seorang penyihir. Itu sebabnya aku bisa menerobos batasnya."
Gu Yuena tertegun.
Penyihir?
Manusia aneh di depannya ternyata penyihir!
Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini?
Wanita itu tersenyum lebar. "Gu Yuena, kau berada di tempat yang tepat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi bagaimana kau bisa berpikir untuk menjadi penyihir ketika tahu lingkunganmu begitu membenci penyihir?"
Wanita itu bernama Yan Shuiyin. Ia tidak memperkenalkan diri terlalu banyak, tapi yang jelas dia adalah penyihir. Posisinya di Akademi Yuansu adalah sebagai mentor. Tapi posisi mentor adalah posisi sampingannya sebagai 'pria pemabuk' yang dibenci banyak orang.
Yan Shuiyin adalah Tetua Agung Istana Yuansu. Umurnya sudah sekitar 100an tahun, tapi wajahnya masih terlihat seperti berumur 30an berkat kekuatannya yang tinggi.
Wanita itu berada di Akademi Yuansu hanya untuk bersenang-senang. Anggap saja dia kurang kerjaan. Sebagai penyihir, ia harus menutup diri sebaik mungkin dari publik sehingga tidak sering terlihat di istana—bahkan orang istana meragukan keberadaannya. Sampai akhirnya ia menemukan hobi baru, yakni anggur.
Melihat betapa antusias tatapan Yan Shuiyin terhadap Gu Yuena, gadis itu jadi heran sendiri sampai tidak bisa berkata-kata.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Tunggu dulu, sebelumnya ia datang ke tempat ini untuk mencoba peruntungan diri, berharap yang ia temui bukan pria gila sungguhan. Tapi ketika masuk, ternyata penjaga Paviliun Anggur adalah seorang wanita yang menyamar.
Ia masih bisa menerimanya. Tapi tiba-tiba wanita itu menjadi agresif melacak masa lalunya. Bertanya mengenai kakaknya dan ibunya. Ia nyaris melakukan pemberontakan jika wanita itu tidak terang-terangan menjelaskannya mengenai darah phoenix dan naga tanpa beban.
Menyadari wanita itu tahu banyak tentang darah phoenix sudah cukup membuat Gu Yuena terkejut. Tapi tiba-tiba saja wanita itu mengaku sebagai penyihir?
Sebenarnya, apa saja yang diketahui wanita itu!
"Gu Yuena, apa kau mendengarku? Aku tidak suka pada seseorang yang mengabaikanku." Yan Shuiyin melipat kedua tangannya di depan dada, melihat Gu Yuena dengan datar.
"Aku hanya ... cukup terkejut." Gu Yuena tersenyum kecut.
"Meskipun kau adalah penyihir, aku belum menerimamu sebagai murid, lho." Yan Shuiyin berkata dengan angkuh.
Wajah pria bersuara wanita, Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis.
"Jawab aku, kenapa memilih penyihir? Kau bisa menjadi mage dengan bakatmu. Adanya darah phoenix bersama penyihir, akan membuat hidupmu penuh kesulitan. Seharusnya kau menikmati hari selagi masih hidup." Yan Shuiyin berkata dengan serius.
"Sepertinya Tetua Agung Yan tidak melihat masa laluku seluruhnya. Karena kau sudah tahu identitasku, aku akan mengatakannya. Alasannya adalah karena aku berada di Kediaman Adipati Gu. Aku merasa Kediaman Adipati memiliki banyak rahasia. Awalnya aku tidak berpikir untuk menjadi mage, tapi setelah mengetahui bahwa aku memiliki darah phoenix tepat ketika menemukan teori mengenai darah phoenix dan penyihir, aku pikir itu menarik."
"Itu adalah rahasia Istana Linghun."
Gu Yuena menyipitkan matanya. "Bagaimana kau tahu?"
"Menurutmu, bagaimana aku bisa menjadi penyihir di tengah kebencian masyarakat terhadap penyihir?"
Gu Yuena lagi-lagi dibuat terdiam. Jangan-jangan ....
"Dulunya aku adalah murid Istana Linghun."
Betapa sempit dunia ini. Gu Yuena sampai tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan apa yang terlontar dari mulut Yan Shuiyin. Pertanyaannya, bagaimana murid Istana Linghun bisa menjadi Tetua Agung Istana Yuansu?
"Tidak perlu banyak berpikir. Meski dulunya aku adalah murid Istana Linghun, itu sudah puluhan tahun yang lalu." Yan Shuiyin tampak terganggu akan sesuatu, tapi memilih tidak mengatakannya.
Gu Yuena tidak bertanya lebih jauh, karena mungkin saja ada sesuatu yang sedang dihindari Yan Shuiyin. Mungkin tentang Istana Linghun.
"Lalu, kau tahu bagaimana caranya pergi ke sana?" Gu Yuena lebih fokus menanyakan perihal Istana Linghun.
Yan Shuiyin melihat Gu Yuena tidak percaya. "Kau tidak berpikir untuk ke sana, 'kan?"
"Ada beberapa hal yang sulit dijelaskan. Aku pikir Istana Linghun adalah jawabannya."
"Tidak segala pertanyaan bisa terjawab di sana. Aku sarankan padamu, jangan pergi."
"Apa ada sesuatu?"
"Meski kau adalah penyihir, identitasmu terlalu terlihat, kau tetap tidak aman jika berada di sana. Tetap tidak boleh pergi."
Gu Yuena diam memikirkannya. Tak lama kemudian, ia mengangguk pelan. Ia tidak berjanji, tapi ia tidak akan pergi ke sana jika memang benar pertanyaannya dapat terjawab tanpa pergi. Ia masih memikirkan mengenai sosok kabut yang mengikutinya di dua dunia.
"Karena interview telah selesai, kamu ikutlah denganku." Yan Shuiyin berdiri dari tempatnya, berjalan ke kedalaman paviliun sambil memeluk guci anggur.
Gu Yuena tidak banyak tanya lagi. Ia mengikuti Yan Shuiyin dengan penuh rasa penasaran.
Sepanjang jalan, hanya ada rak guci anggur yang berjajar seolah mereka adalah buku. Yan Shuiyin sangat mencintai semua anggurnya, bahkan sampai dibawa kemana-mana. Apa itu tidak merusak kesehatannya?
Cahaya hijau muncul di tangan Yan Shuiyin. Ia mengayunkan tangannya dengan halus ke sebuah dinding, sampai akhirnya dinding tersebut mengedarkan cahaya hijau ke seluruh permukaan.
Tampak seperti ruang rahasia.
Atau mungkin dimensi lain.
Cahaya hijau itu bersinar sempurna membuat Yan Shuiyin menyunggingkan senyum. Tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah ke arah cahaya itu.
Tubuhnya menembus cahaya, seperti memasuki ruangan penuh dengan cahaya hijau. Gu Yuena pertama kali melihat hal seperti ini sepanjang hidupnya sampai tidak bisa berkata-kata.
Terlalu banyak sihir.
Karena tujuannya mengikuti wanita eksentrik itu, Gu Yuena melangkahkan kakinya ke arah cahaya hijau. Tangannya menembus cahaya tersebut ketika menyentuhnya. Ia menembus dinding!
Kakinya melangkah lebih jauh secara perlahan untuk merasakan bagaimana rasanya 'memasuki dinding' dengan cara yang tidak biasa. Ini lebih seperti portal.
Apa suatu hari ia bisa memiliki kemampuan seperti itu?
Tak terasa, tiba-tiba saja Gu Yuena telah melewati cahaya hijau itu dan menginjakkan kaki di atas sebuah jalan batu. Segalanya penuh dengan cahaya, membuat Gu Yuena merasa silau setelah berlama-lama di tempat gelap.
Setelah beradaptasi dengan cahaya yang masuk, barulah Gu Yuena membuka matanya lebar-lebar. Matanya menjadi cerah saat itu juga ketika melihat tempatnya berada.
Langit biru di atasnya terlihat begitu indah dan luas seperti lautan. Ia dapat melihat banyak tebing curam di sekitarnya. Serta bukit-bukit tajam yang disambungkan oleh jembatan kayu yang terlihat unik. Ia merasa seperti berada di dunia fantasi.
Bukit-bukit yang begitu tinggi, dengan ketinggian tidak rata, namun tidak mengurangi keindahannya. Ada sangat banyak pepohonan dan tanaman unik, serta beberapa paviliun yang tampak menarik di atas beberapa bukit.
Sedangkan lokasinya saat ini berada di jalan utama salah satu bukit. Ada jembatan kayu di depannya, yang menggabungkan lokasinya berada ke bukit lain.
Ini benar ... fantasi!