
Guntur melegar di langit malam disertai derasan hujan badai. Suara guntur disertai kilat petir di langit membangunkan seorang anak perempuan di dalam kamar gelap. Kedua iris merahnya melihat ke arah jendela, lalu menarik selimut untuk bersembunyi.
Dentuman guntur kembali terdengar. Anak itu melompat dari tempat tidur dan membuka pintu sambil berlari keluar dari kamar. Ia menelusuri kooridor rumah dengan pencahayaan minim. Karena sudah malam, semua orang sudah tidur dan mematikan lampu.
Anak itu sedikit berlari dengan kaki kecilnya menginjak lantai marmer putih. Rumah yang ia tempati cukup besar. Ia membuka pintu sebuah ruangan, melihat kamar gelap yang sepi di dalamnya.
"Ibu?" Anak itu mencari ibunya. Hanya ada ayahnya di dalam kamar tengah tertidur. Pria itu tidak menyadari kehadirannya atau terbangun.
Tanpa menutup pintu kembali, anak itu pergi. Ia menuruni anak tangga sambil mengedarkan pandangan melihat rumah besar yang sepi. Tampak seorang lelaki yang sedikit lebih tua darinya tidur di sofa depan tv yang mati. Lelaki itu pasti main game sampai larut lagi.
Mengabaikan kakaknya yang tidur pulas, anak itu pergi ke belakang tangga di mana bagian rumah lain berada. Kakaknya diselimuti selimut tebal, pasti ibunya yang melakukannya.
Berjalan di tengah minimnya pencahayaan, keadaan sunyi dan senyap membuat anak itu mengalami perasaan bingung dan takut. Tapi ia terus berjalan mencari ibunya, sampai akhirnya sebuah suara pecahan yang begitu keras terdengar.
Prangg!
Anak itu berlari ke arah suara. Sampai di dapur, ia menghentikan langkah ketika melihat serpihan pecahan kaca bertebaran di depannya. Derasnya hujan memasuki rumah disertai guntur yang menyambar. Anak itu melihat ke arah jendela yang pecah sampai membiarkan rintik air terbawa oleh angin memasuki dapur.
Tapi satu hal yang membuat tubuhnya menjadi kaku seketika, tampak sosok kabut hitam di depan ibunya yang menodongkan pisau.
Wanita cantik dengan wajah pucat pasi itu menoleh ke arah putrinya, rautnya menjadi rumit, sebelum akhirnya ujung pisau tersebut berbalik ke arahnya karena kendali kabut hitam dan menembus perutnya.
Anak itu membeku di tempat dalam keadaan bergetar. Tanpa sadar air mata menetes deras. Ketika sosok itu menampilkan mata merah mengerikan ke arahnya, anak itu tidak lagi bisa menahan gejolak emosi dan berteriak keras.
"Aaaaaa!"
Gu Yuena terbangun dari mimpi buruk.
Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata biru gelap seperti langit malam. Sepasang mata yang dimiliki oleh pria yang baru saja meletakkan penutup telinga ke kedua telinga Gu Yuena. Pria itu menarik kedua tangan dengan canggung.
"Kau teriak sangat keras." Luo Youzhe berkata dengan tenang. Ia duduk di atas tempat tidur miliknya sendiri tepat tiga meter dari tempat tidur Gu Yuena.
"Maaf." Gu Yuena menunduk. Ia menarik selimut dan meremasnya dengan gelisah.
Gu Yuena terlihat sangat gelisah. Secara otomatis Luo Youzhe beranjak mengambil air minum, kemudian diberikan pada Gu Yuena. Gu Yuena menerimanya sambil menarik tubuh untuk duduk.
"Terima kasih ... penutup telinganya." Sebelumnya penutup telinga yang dibawa telah hilang. Sepertinya jatuh ketika bertarung melawan monster di hutan. Ia teringat sesuatu dan bertanya, "Kapan kau membeli?"
"Saat aku keluar tadi."
Gu Yuena masih bisa mengetahui apa yang dikatakan Luo Youzhe dari gerakan bibirnya. "Kau keluar hanya untuk membeli penutup telinga?"
Luo Youzhe tidak menjawab. Sedangkan Gu Yuena bertanya-tanya bagaimana Luo Youzhe bisa tahu bahwa ia membutuhkannya. Apa pria itu adalah stalker?
Memikirkan alasan Luo Youzhe keluar, ia jadi teringat dengan ciuman itu. Gu Yuena cepat-cepat meletakkan cangkir di atas nakas, kemudian menarik selimut dan kembali merebahkan tubuh. Ia menutup sebagian wajahnya dengan selimut, tidak ingin disadari kenyataan bahwa wajahnya memerah.
Ketika sudut matanya melihat Luo Youzhe, entah perasaannya saja atau tidak, pria itu seperti sedang mengatakan sesuatu. Sayangnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena Luo Youzhe mengatakannya ketika merebahkan diri di atas tempat tidur.
Tidak ada percakapan lain saat itu. Gu Yuena hanya menutup mata sambil memeluk selimut yang digulung.
Luo Youzhe menoleh ke arah Gu Yuena yang sudah menutup mata. Ia sedikit tersenyum, "Aku tahu kau tidak akan mendengar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit cerah menyambut datangnya pagi hari. Seluruh murid baru akademi berkumpul di aula halaman luar untuk berpartisipasi dalam penyambutan murid baru periode ini. Singkatnya, berbagai sapaan formal dan cara pelajaran dikenalkan dalam bentuk pidato panjang Dekan Halaman Luar Akademi Yuansu.
Sejauh ini, semua yang diperkenalkan sudah diketahui oleh Gu Yuena duluan ketika berkeliling kemarin. Tapi karena dipaksa berkumpul, mau tidak mau ia datang bersama Luo Youzhe yang terus di sisinya seolah takut akan hilang.
Gu Yuena kesal, tapi tidak menunjukkan banyak komentar mengingat Luo Youzhe membantunya semalam. Ia bukan orang yang tidak tahu terima kasih.
Bosan mendengarkan berbagai ceramah sedangkan ia dibiarkan berdiri sambil berbaris selama berjam-jam, Gu Yuena mundur dari barisan ke barisan paling belakang untuk tidur berdiri. Tapi seseorang malah mendatanginya.
"Untuk pertama kali aku melihat seseorang tidur ketika dekan sedang bicara. Tak disangka, keberanianmu cukup besar."
Gu Yuena membuka salah satu matanya untuk mengintip. Huang Jingtian berdiri di depannya dengan senyuman ramah.
Gu Yuena bersikap normal, sebelum akhirnya menyahut, "Kedatangan Yang Mulia tidak hanya untuk mengkritikku, 'kan?"
Huang Jingtian terkekeh. "Gu Yue, kau terlihat jauh lebih serius daripada kemarin."
"Bagaimana kau tahu namaku?" Seingatnya, Gu Yuena tidak memberitahu Huang Jingtian mengenai namanya.
Huang Jingtian menunjuk ke arah dada Gu Yuena. Gu Yuena memelihat je arah yang ditunjuk Huang Jingtian, barulah ia ingat bahwa seragam akademi yang ia kenakan sudah menunjukkan karakter huruf namanya di sana.
Ah, ia sampai lupa saking jenuhnya. Ini memalukan.
"Maaf atas ketidaksopananku, Yang Mulia." Gu Yuena menunjukkan senyum canggung. "Tapi ... ada apa tiba-tiba Yang Mulia mendatangiku?"
"Apa salah seorang senior mengunjungi juniornya? Aku berada di halaman dalam, kita tidak akan banyak bertemu. Jadi aku di sini untuk membangun hubungan baik dengan Junior. Dengar-dengar, kau memiliki kemampuan bahasa Negara Wyvernia yang rumit. Aku sebagai pangeran, juga harus mempelajarinya secara menyeluruh dan meminta bantuan pada Junior."
Gu Yuena termenung untuk beberapa saat. "Bukankah akademi juga menyediakan pelajaran bahasa asing? Lagi pula, aku tidak sebaik itu sampai Yang Mulia sangat mengapresiasiku. Meski ibuku adalah orang Wyvernia, aku tetap tidak sepandai itu." Ia jelas menolak tawaran yang dapat menggiurkan banyak orang itu.
Gu Yuena berpikir bahwa Huang Jingtian sudah pasti mengenalinya, barulah mendekati seperti ini. Jika tidak, mana mungkin pria itu sampai repot-repot memeriksa data miliknya yang ia berikan pada petugas kemarin?
"Kau sangat merendah, memang cocok untuk menjadi rekan belajarku."
"Rekan belajar?"
"Aku pikir kita bisa bertemu di Istana untuk mempelajari banyak hal bersama. Suatu saat nanti, aku pasti akan mengundangmu."
"Tidak perlu." Gu Yuena langsung menolak terang-terangan. Ia tertekan. "Ada sangat banyak orang yang memiliki kemampuan melebihi diriku, Yang Mulia tidak perlu merepotkan diri sendiri."
"Tapi aku suka merepotkan diri sendiri, bagaimana ini?" Huang Jingtian mendesis. Tapi saat ia akan melanjutkan kalimatnya, seseorang tiba-tiba datang menyelanya.
"Putra Mahkota Yi memang pantas dengan gelarnya, bahkan dapat menekan seseorang untuk mengikuti kemauannya. Jika memiliki kesempatan, aku ingin belajar dari Putra Mahkota." Luo Youzhe tiba-tiba datang ke sisi Gu Yuena. Pria itu merangkul Gu Yuena seolah menegaskan bahwa Gu Yuena adalah miliknya.
Huang Jingtian melihat Luo Youzhe dengan aneh, namun tertutupi oleh senyum ramahnya. "Oh? Apa saja yang ingin kau pelajari?"
"Tentu saja, bagaimana cara menjadi mendominasi di depan seseorang. Belakangan ini aku kesulitan menangani seseorang, tapi ternyata Putra Mahkota dapat menanganinya dengan baik. Sebagai imbalan, bagaimana jika aku membantu Putra Mahkota memahami bahasa Wyvernia?"
"Kau juga bisa?" Huang Jingtian menatapnya dengan ragu.
"Aku telah berkeliling selama bertahun-tahun, dan memiliki banyak kenalan di Wyvernia, tentu harus memahami bahasanya." Luo Youzhe menunjukkan senyum bangga yang terlihat lebih tampan. Ia melanjutkan ucapannya, "Omong-omong, Putra Mahkota bisa memanggilku dengan sebutan Bai Zhe."
"Bai? Apa kau orang Istana Tianshuang?" Huang Jingtian menatap Luo Youzhe dengan curiga.
Gu Yuena juga menatapnya dengan heran. Kenapa pria ini malah menggunakan marga 'Bai' yang hanya boleh digunakan oleh keturunan utama Istana Tianshuang?
Luo Youzhe tersenyum misterius. "Kenapa jika aku orang Tianshang atau bukan? Margaku 'Bai', siapa pun bisa menggunakannya. Ah, aku ingat. Paman dari ayahku berkata bahwa ayah dari ibunya menikah dengan saudara Raja Istana Tianshuang yang merupakan paman beda nenek Raja Istana Tianshuang saat itu. Mungkin, dari sanalah kata 'Bai' berasal."
Gu Yuena dan Huang Jingtian tampak berwajah gelap ketika mendengar penjelasan Luo Youzhe yang terbelit. Pria itu malah menyebutkan semua anggota keluarganya! Apa tidak ada yang lebih sederhana?
Gu Yuena tidak bisa banyak ikut campur. Mungkin ini adalah taktik Luo Youzhe untuk membingungkan Huang Jingtian agar tidak ada yang mau memikirkan silsilah keluarga 'Bai' yang kacau bila dikaitkan dengan Istana Tianshuang. Pria itu sangat berani.
"Kau tahu reputasi Keluarga Bai, kehidupanmu di akademi akan sulit bila menggunakan nama itu. Istana Tianshuang sudah lama hilang, sedangkan Istana Yuansu mulai menggantikan posisinya. Seharusnya kau sudah bisa mengerti mengapa hubungan antar istana semakin merenggang. Aku percaya kau bukan dari Keluarga Bai yang itu, tapi orang lain mungkin akan berpikiran lain."
"Aku tidak masalah akan hal itu." Luo Youzhe tetap tenang. Ia melirik Gu Yuena, kemudian berkata, "Karena sudah saatnya makan siang, aku dan Gu Yue tidak bisa menemani Putra Mahkota bicara lagi. Untuk tawaranku sebelumnya, Putra Mahkota bisa memikirkannya perlahan. Gu Yue tidak bersedia menjadi rekan siapa pun, jadi biarlah tetap seperti itu."
"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengecewakan."
Luo Youzhe langsung pergi membawa Gu Yuena menjauh dari pria itu tanpa memberinya sedikit salam. Ia tidak peduli, asal Gu Yuena tidak dekat-dekat dengan pria itu.
Gu Yuena merasa jengkel ditarik seperti boneka sambil dirangkul. Orang yang tidak tahu akan beranggapan bahwa mereka adalah sepasang pria yang tidak normal. Benar-benar mengesalkan.
"Jangan bilang kau tidak tahu bahwa Huang Jingtian mengetahui identitasmu." Luo Youzhe menatap Gu Yuena dengan serius. "Jangan dekat-dekat dengan orang sepertinya."
"Kenapa? Kau cemburu?" Gu Yuena mendecih, kemudian melepas rangkulan Luo Youzhe dengan paksa. "Justru aku harus menjauh dari pria sepertimu."
"Jangan menyindiriku! Lagi pula, aku tidak membutuhkanmu. Kau sendiri yang menawarkan diri untuk direpotkan."
"Sepertinya semua terima kasih yang kau ucapkan tidak tulus."
"Aku jarang berterimakasih. Maaf bila kau keberatan dan menganggap ucapanku tidak tulus, aku tidak berbakat berterimakasih." Gu Yuena bicara dengan nada jengkel.
"Entah bagaimana aku bisa terjebak dengan wanita sepertimu." Luo Youzhe bersikap malas dan pergi sambil menghela napas seolah ia adalah orang yang paling dirugikan. Hal itu membuat Gu Yuena sangat ingin memukulnya sampai nyaris melemparnya dengan sepatu.
Gu Yuena mendecih sebal. "Dasar pria aneh."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah waktu makan siang berakhir, para murid kembali dikumpulkan untuk mengambil jadwal kelas dan memilih mata pelajaran peminatan sebagai sampingan mata pelajaran wajib.
Kelas wajib dibagi menjadi dua bagian dalam waktu enam bulan. Kelas utama adalah kelas yang melatih kekuatan spiritual berdasarkan elemen yang dimiliki serta memahami makna dan sifat elemen tersebut. Kedua adalah kelas profesi yang dikhususkan untuk tiap profesi yang ada.
Gu Yuena ada di kelas mage. Ia akan mempelajari kekuatan magis dan mantra-mantra sampai formasi. Semua hal mengenai sihir akan dipelajarinya di kelas tersebut.
Untuk kelas peminatan, ada sangat banyak jenisnya dimulai dari sastra dan seni sampai politik dan militer. Sebenarnya tidak beda jauh dengan bumi Gu Yuena dulu.
Karena rata-rata Gu Yuena sudah menguasai semuanya, ia tidak terlalu memikirkan kelas peminatan. Ia hanya mengambil kegiatan perpustakaan dalam kelas literasi. Alasannya tidak lain untuk mengetahui banyak informasi mengenai buku penyihir.
Tour akademi dipimpin oleh senior tiap profesi dan divisi. Gu Yuena tidak menemukan siapa pun yang familiar di matanya, itu bagus. Ia bisa memiliki banyak waktu untuk memikirkan dirinya sendiri dan apa yang harus dilakukan kedepannya.
Tujuannya saat ini adalah memasuki peringkat akademi untuk pergi ke Istana Yuansu dan memasuki perpustakaan Istana Yuansu untuk menemukan buku pelatihan penyihir. Meski tingkat keberhasilan menemukan buku tersebut hanya 30%, tidak salah jika mencoba.
Senior memperkenalkan banyak hal dalam akademi dan memberitahu tiap kelas yang akan mereka masuki. Tour itu berlangsung selama beberapa jam kedepan, sampai akhirnya hari berganti untuk memulai kegiatan belajar.
Gu Yuena tiba di kelas mage sebagai jadwal pertama. Ia datang terlalu cepat sehingga kelas bernuansa kayu tersebut masih sangat sepi. Aroma kayu sangat jelas tercium tanpa adanya campuran bau manusia lain.
Sebagai murid yang baik, tentu saja Gu Yuena masuk ke dalam kelas yang sepi itu. Ia memperhatikan sekitar, melihat berbagai lukisan kuno penuh makna terpapar di dinding.
Di atas meja murid, sudah tersedia alat tulis dan peralatan belajar lain. Karena ini adalah kelas mage, maka di atas meja sudah disiapkan tongkat sihir sebagai alat bantu atau senjata. Sebenarnya itu tidak berguna bagi penyihir, tapi penyihir tetap bisa menggunakannya.
Gu Yuena mengambil tongkat sihir di meja yang ia pilih untuk ditempati. Memperhatikan tongkat sihir tersebut, membuatnya teringat akan film penyihir masa kecil yang pernah ia tonton. Apa digunakan dengan cara yang sama?
Ia memperagakannya dengan menggunakan mantra yang ada dalam film. Mantra cahaya, mantra penggerak barang, dan lainnya yang ia hafal. Ia menyebutkannya dengan nada yang sama seperti dalam film.
"Obliviate ...."
"Lumos!"
"Wingardium Levi-o-sa!"
"Alohomora!"
Tapi di tengah aksi konyolnya, seorang murid perempuan berseragam biru aqua berdiri di depan pintu dengan wajah tertegun.
Ketika Gu Yuena menyebutkan mantra selanjutnya, tongkat sihirnya terarah pada perempuan tersebut. Pada saat itulah, Gu Yuena sadar akan kekonyolannya.
Cepat-cepat Gu Yuena mengubah sikap. Ia meletakkan kembali tongkat sihir ke meja, kemudian duduk dengan buku yang menutupi wajahnya seperti kutu buku.
"Sial, kenapa harus datang sekarang?" Ia menggerutu diam-diam, kemudian melirik murid yang menetralkan emosi dan duduk di kursi yang sebaris dengannya.
Gadis itu duduk tepat di barisan depan Gu Yuena. Ia berbalik untuk melihat Gu Yuena yang pura-pura tidak melihat.
"Kemarin aku tidak melihatmu di mana-mana. Kebetulan sekali kita bisa sekelas. Kedepannya, mohon bimbinganmu." Gadis itu tersenyum dengan cantik, melupakan tingkah konyol Gu Yuena barusan.
Perempuan itu adalah Shen Jialin, murid baru yang 'diselamatkan' Gu Yuena ketika di hutan bersama Mu Xinhuan. Ia adalah mage tipe air, seperti yang pernah diperlihatkan di hutan ketika tengah melindungi teman-temannya.
Sepertinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap 'Gu Yue'.
"Omong-omong, aku belum tahu namamu." Shen Jialin berkata dengan malu-malu.
"Gu Yue." Gu Yuena tersenyum sekilas, kemudian kembali pada buku di tangannya.
"Gu Yue, bukumu terbalik." Shen Jialin menahan tawa.
"Oh?" Gu Yuena baru sadar karena ia tidak fokus pada buku, melainkan pikiran dan rutukannya sendiri. Tapi ia berdalih dari kesalahan. "Ini ... gaya membaca terbaru. Aku akan lebih mudah paham jika membacanya terbalik."
Shen Jialin mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat ingin tertawa, tapi ia takut tawanya menjatuhkan harga diri Gu Yue. Jadi hanya bisa menahannya dan mengalihkan topik.
"Kekuatan sihirmu lebih bagus dariku. Kedepannya, akan merepotkanmu untuk membimbingku. Kau tahu kekuatanku tidak sebagus itu."
"Api dan air tidak cocok. Jika aku membantumu, takutnya malah menyakitimu." Gu Yuena menolak dengan halus.
Shen Jialin menghela napas. "Memang benar. Kita berada di divisi yang berbeda, hanya bisa berada dalam satu kelas dan satu kegiatan yang sama. Aku hanya ingin lebih mengenalmu."
"Tidak perlu. Lagi pula, kita tidak akan bertemu lagi." Gu Yuena bersikap cuek. Tapi itu menjadi daya tariknya yang membuat perempuan air itu semakin menjerit.
Selera yang aneh.
"Gu Yue, apa kau hobi menggunakan kata-kata kejam?" Shen Jialin terkekeh.
"Hanya kebiasaan." Gu Yuena melirik Shen Jialin, membuat perempuan itu memerah. Sayangnya, Gu Yuena tidak sadar. "Kau tidak bersama Mu Xinhuan-mu?"
"Ah, dia berada di kelas hunter. Kami juga tidak satu divisi, dia berada di divisi guntur."
"Justru elemen kalian lebih cocok dibanding milikku. Guntur dan air kadang menjadi saling mendukung."
"Tapi dia hanya teman kecilku, itu saja." Shen Jialin tidak ingin Gu Yue salah paham terhadap hubungan mereka.
Sayangnya, Gu Yuena bahkan tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Shen Jialin. "Teman kecil juga tidak buruk. Aku juga memiliki teman kecil, dan kami adalah rekan yang baik." Meski berakhir saling bermusuhan karena satu hal sampai kematiannya.
"Teman kecilmu ... apa tampan atau cantik?"
"Tentu saja dia adalah perempuan, tapi tidak bisa dibilang sangat cantik." Karena yang sangat cantik adalah 'Gu Yuena'. Ia tidak mau mengakui orang lain lebih cantik dari dirinya.
Ucapan Gu Yuena membuat Shen Jialin patah hati. Teman kecil perempuan ... apa Gu Yue menyukainya dan mereka saling suka?
"Lalu, apa dia di sini?" Shen Jialin bertanya lagi.
"Dia ...." Ia berpikir sejenak, kemudian melanjutkan, "dia sudah mati." Baginya, wanita bodoh tukang makan itu sudah mati sejak membunuhnya. Toh, mereka sudah beda alam.
Shen Jialin menghela napas lega. Rupanya begitu. Ia masih memiliki kesempatan mendekati Gu Yue.
"Gu Yue, maaf membuatmu mengingatnya."
"Tidak perlu minta maaf. Toh, aku bisa di sini juga salah dia." Gu Yuena menggerutu hal yang tidak dipahami Shen Jialin.
Shen Jialin mulai berpikir bahwa teman kecil Gu Yue ini meminta Gu Yue sekolah di Akademi Yuansu untuk menjadi lebih kuat sebelum kematiannya. Jangan-jangan mereka memang saling mencintai!
"Wajahmu seperti ingin mengatakan sesuatu." Gu Yuena melihat Shen Jialin dengan aneh. Pada saat itu, kelas mulai ramai akan murid yang berdatangan, namun mereka berdua mengabaikannya.
"Tidak ... aku hanya ... ingin menyemangatimu. Aku harap tujuanmu tercapai." Shen Jialin membalikkan tubuh ke depan sambil menahan malu. Apa begitu terlihat? Ia sangat malu sekarang.
Sedangkan Gu Yuena hanya memandang dengan kosong. Hanya itu? Ia pikir ada hal penting.
Tak lama kemudian, guru pun datang, mereka langsung mengikuti instruksi untuk belajar dan diajarkan pengenalan mage serta mengenal macam-macam sihirnya.
Tidak buruk juga. Ia bisa mempelajari sihir sebelum benar-benar memasuki sihir penyihir. Mage hanyalah dasar dari penyihir. Ia akan belajar dengan giat sampai lulus tanpa adanya masalah.
Ia harap begitu.
Karena bukan ia yang mencari masalah, tapi masalah yang mencarinya.