
Waktu berlalu begitu cepat. Percakapan mengenai kekuatan jiwa dua bulan lalu seolah tidak pernah diucapkan. Gu Yuena menjalani hari seperti biasa dan berkultivasi tanpa kekhawatiran.
Ia kerap kali bertemu dengan Gu Yihan dan Gu Yesha di halaman dalam Akademi Yinyang. Gu Yihan masih dingin dan jauh seperti dulu, kadang melemparkan tatapan dingin padanya. Sedangkan Gu Yesha, bocah itu menjadi teman main Gu Yuena tatkala Gu Yuan dan Luo Yi tengah sibuk.
Sikap atraktif Gu Yesha memacu semangat Gu Yuena sehingga mereka berdua sudah seperti teman sebaya. Meski mereka memiliki ibu yang berbeda, tidak ada penolakan terhadap diri Gu Yuena terhadap Gu Yesha, berbeda ketika berhadapan dengan Gu Yihan.
Mungkin karena kebencian Gu Yuena terhadap Gu Yueli yang merupakan adik kandung Gu Yihan.
Ah, omong-omong bagaimana kabar Gu Yueli di Klan Ye? Kapan-kapan ia akan menyempatkan diri berkunjung 'meramaikan' pesta.
Karena dua bulan telah berlalu, sudah waktunya bagi Gu Yuena untuk kembali ke Akademi Yuansu.
Gu Yuan menyempatkan diri mengantar Gu Yuena dalam perjalanan ke Akademi Yuansu. Karena hanya mereka berdua, Gu Yuena tidak jadi menggunakan kereta kuda, melainkan menunggangi kuda secara langsung.
Sepanjang jalan perhutanan dipenuhi dengan perbincangan antara kakak-adik yang kadang saling menyindir dan mengejek. Kebanyakan Gu Yuan mengalah, membiarkan Gu Yuena menang debat agar tidak marah.
Gu Yuena bernyanyi sepanjang jalan setelah perdebatan tidak penting itu. Jika ada pemutar musik di dunia ini, sudah lama ia memutarnya. Sayangnya, ia hanya bisa bernyanyi sendiri, sedangkan Gu Yuan hanya menyimak.
Tatkala matahari terik berada di atas kepala, Gu Yuena tiba-tiba menarik kudanya untuk berhenti dan mengangkat salah satu tangannya memberi isyarat berhenti pada Gu Yuan.
Pandangan Gu Yuena menoleh ke arah kakaknya. "Siapa yang lebih cepat ke kota selanjutnya, dia yang menang."
Gu Yuena melakukan perlombaan dadakan.
Belum sempat Gu Yuan menanggapi, Gu Yuena sudah memacu kudanya dengan cepat dan riang. Mau tidak mau Gu Yuan harus setuju dan memacu kuda lebih cepat. Adiknya ini terlalu bersemangat.
Dua kuda berlari dengan cepat di sekitar hutan dalam satu jalur yang sama. Keduanya saling mendahului bergantian dengan kecepatan yang sama, tanpa ada siapa pun yang tertinggal.
Gu Yuena terlalu bersemangat. Baginya, keluar dari wilayah Istana Yinyang sangat menyegarkan sampai seluruh miridiannya lancar. Lepas dari tekanan yang ia rasakan selama dua bulan penuh, membawa banyak perubahan yang mengejutkan. Ia terlalu semangat karena merasa raga dan jiwanya sangat ringan seperti mengalami kebebasan total.
Rasanya luar biasa!
Di tengah kesenangan tersebut, Gu Yuena nyaris tidak sadar, bahwa ada beberapa anak panah melesat ke arahnya dengan kecepatan kilat.
Gu Yuan sadar terlebih dahulu. Ia terkejut dan secara spontan memanggil Gu Yuena.
"Nana, awas!"
Gu Yuena menoleh ke belakang, sebuah anak panah lewat begitu saja tepat di samping wajahnya sampai menembus helai rambut sampingnya.
Gu Yuea terdiam untuk beberapa saat. Nyaris saja panah itu menembus kepalanya.
Dengan sigap Gu Yuena memasang posisi. Ia melihat beberapa anak panah yang datang entah dari mana. Cepat-cepat ia mengangkat tangannya, menyingkirkan semua anak panah itu dengan kekuatan spiritual.
Serangan balik Gu Yuena mengenai tepat ke arah sasaran—meski ada beberapa yang meleset. Beberapa pria berpakaian serba hitam berjatuhan dari atas pohon dalam keadaan tertancap anak panah yang menyerang balik.
Karena posisi Gu Yuena yang ada di paling depan, beberapa anak panah itu menembus kaki dan tubuh kuda yang ia tunggangi sampai meringkik. Gu Yuena mau tidak mau melompat dari kuda, membiarkan kuda itu ambruk dengan anak panah yang menancap.
Gu Yuan sudah mengeluarkan pedangnya dan bersiap akan penyergapan. Ia pergi ke arah Gu Yuena sambil bersiaga akan serangan selanjutnya.
"Kita disergap."
"Apa itu perampok?" Gu Yuena baru pertama kali dirampok semasa hidupnya. Biasanya ia yang merampok orang.
Gu Yuan memperhatikan sekitar untuk beberapa saat. Matanya menyipit dengan tajam. "Bukan."
Pada saat yang sama, beberapa sosok serba hitam muncul dari pepohonan. Mereka semua bertopeng penuh, seolah topeng itu telah melekat di kulit mereka dan menjadi bagian dari wajah mereka. Bahkan kedua tangan mereka dilengkapi dengan dua pedang panjang serta beberapa pemanah yang bersiaga di balik semak-semak.
Gu Yuena tidak tahu siapa mereka. Tapi melihat reaksi Gu Yuan, sepertinya pria itu tahu. Ia tidak banyak bertanya lagi ketika sekelompok penyergap maju menghunuskan senjata secara brutal.
Pergerakan mereka sangat terkoordinasi. Mustahil jika mereka adalah perampok atau pembunuh bayaran biasa. Dalam pengalaman Gu Yuena, kelompok pembunuh yang dapat bergerak secara terorganisir haruslah berasal dari komunitas tetentu yang ahli dan berbahaya. Itu karena ia pernah bergabung dalam komunitas seperti itu.
Gerakan dalam membunuh Gu Yuena sangat cepat. Sihir di tangannya digunakan secara berkala dan menargetkan titik vital di tiap serangan untuk menyelesaikannya dengan cepat. Ketika beberapa pembunuh itu menyerbu bersamaan, Gu Yuena menggunakan dorongan api yang cukup besar untuk membakar mereka secara bersamaan.
Di samping itu, Gu Yuan juga melindunginya menggunakan perisai untuk serangan bagian belakang sambil membunuh banyak dari mereka. Karena rata-rata kekuatan mereka berada di tingkat 4, pertarungan dua melawan sebuah kelompok berlangsung singkat.
Gu Yuan dengan kekuatannya menghapuskan banyak dari mereka menggunakan medan miliknya yang diturunkan oleh Akademi Yinyang. Mereka smeua terhisap dalam pusaran pola yin dan yang dan mati begitu saja.
Begitu kelompok itu mati, hal yang membuat Gu Yuena terkejut adalah cara kematian yang tidak wajar. Mereka semua menghilang begitu saja menjadi abu dan menguap tanpa meninggalkan jejak. Bersih seolah yang terjadi sebelumnya hanya ilusi. Tidak hanya yang dibunuh Gu Yuan, yang dibunuh olehnya juga menghilang.
Gu Yuena mengerutkan kening. Apa-apaan ini?
"Mereka ...."
"Bukan manusia." Gu Yuan melanjutkan dugaan Gu Yuena dengan keyakinan penuh, seolah sudah terbiasa melihatnya.
Gu Yuena masih tidak habis pikir. Bisa-bisanya ada makhluk aneh seperti itu di dunia ini.
Kemudian mereka mendengar suara pertarungan sengit tak jauh dari tempatnya berada. Mereka saling pandang sesaat, kemudian pergi melihat apa yang terjadi.
Dan benar saja, makhluk-makhluk aneh itu juga menyerang sebuah kelompok berbaju besi di tengah hutan dan membunuh mereka dengan mudah.
Kebanyakan dari orang-orang berbaju besi itu memiliki kekuatan tingkat 2 dan 3, sehingga kalah ketika menghadapi kelompok lawan yang lebih kuat. Tanah dibasahi oleh darah saat itu juga.
Satu hal yang dapat Gu Yuena simpulkan, sosok yang bertarung melawannya tadi hanyalah bagian tambahan atau penjaga dari makhluk yang menyerang orang-orang berbaju besi itu. Ia dapat melihat bendera Kekaisaran Yi terpajang di sebuah kereta kuda.
Yang makhluk-makhluk itu incar adalah bangsawan di dalam kereta kuda.
"Tunggu di sini." Gu Yuan tampak terburu-buru bergabung dan membereskan mereka dengan pedangnya.
Gu Yuena dilarang ikut dalam pertempuran. Ia hanya diam di tempat, menonton dan mengamati pertempuran yang tidak adil itu.
Pandangannya teralih pada bagian lain yang sebelumnya ia abaikan. Ia merasakan napas yang familiar dari seorang pria yang tengah menggunakan pedangnya untuk menghabisi musuh secara lihai. Kekuatan cahaya dalam pedangnya begitu mrnyilaukan dan membuat makhluk aneh itu hancur seketika.
Huang Jingtian, itu dia.
"Bisa-bisanya jadi penyelamat Putra Mahkota," gumam Gu Yuena. Ketika ia menoleh ke samping, makhluk aneh itu ternyata telah menyerangnya begitu saja.
Ia mengangkat tangannya untuk menyingkirkan makhluk menjengkelkan itu, tapi tiba-tiba Xiao Hei muncul dalam bentuk makhluk hitam besar dan mencabik-cabik mereka dengan brutal.
"Sepertinya aku tidak diperlukan." Gu Yuena menyimpan tangannya kembali.
Huang Jingtian dan Gu Yuan bekerja sama mengalahkan penyergap yang tiba-tiba menerkam mereka. Cahaya dan api menyala di wilayah serangan dalam hutan hingga penuh dengan ledakan.
Selang beberapa menit, akhirnya pertempuran selesai. Makhkuk misterius itu dihabiskan dan menghilang begitu saja. Tidak hanya makhluk aneh itu, mayat-mayat prajurit yang dibawa Huang Jingtian juga menghilang dalam kegelapan seolah dibawa oleh sesuatu. Hutan ini menjadi begitu sepi seolah tidak ada yang terjadi.
Melihat pemandangan aneh itu, Gu Yuena semakin penasaran. Tidak heran jika makhluk-makhluk aneh itu yang menghilang, tapi kenapa prajurit kekaisaran juga menghilang?
Ada terlalu banyak hal aneh di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan secara logika.
Raut Gu Yuan tampak cukup serius, begitu pula Huang Jingtian ketika melihat bekas pertempuran menghilang terbawa angin gelap. Namun, ketika pandangan mereka mendapati Gu Yuena yang berdiri kokoh di samping Xiao Hei besar yang sedang bingung, raut mereka berubah total.
"Gu Yuena, lama tidak berjumpa." Huang Jingtian menyapa Gu Yuena dengan akrab. Gu Yuan meliriknya sekilas, lalu segera pergi ke sisi adiknya.
"Kau baik-baik saja?" Gu Yuan masih mencemaskan adiknya yang malang.
Gu Yuena jadi cemberut. "Kau menyuruhku diam, jadi aku tidak ikut bertarung. Bahkan Xiao Hei menggantikanku."
Gu Yuan melirik Xiao Hei yang berubah menjadi kecil sekali lagi dan melompat ke pelukan Gu Yuena. Ia tersenyum tipis. "Peliharaanmu cukup membantu."
"Tentu saja, aku yang membesarkannya." Gu Yuena berkata dengan bangga.
Belakangan ini kekuatan Xiao Hei meningkat setelah banyak makan monster dan bertarung di Gunung Huo. Ia tidak tahu, Xiao Hei akan menjadi begitu kuat melawan banyak makhluk aneh hanya dengan makan monster.
"Ternyata kucing kecil yang sering dibawa olehmu adalah makhluk hitam itu. Benar-benar tidak terduga." Huang Jingtian terkekeh.
"Baik, jangan membicarakan Xiao Hei-ku yang imut. Sebagai Putra Mahkota, kau pasti tahu mengapa orang-orang itu menyerangmu." Sebenarnya Gu Yuena ingin bertanya langsung siapa dan mengapa mereka bisa bertindak seperti itu, tapi ia gengsi.
"Mereka bukan orang, tapi jiwa jahat yang dikendalikan ...." Huang Jingtian menghentikan penjelasannya ketika melihat Gu Yuan yang menatapnya dengan datar. Sepertinya kakak tertentu tidak ingin adiknya tahu hal ini.
Gu Yuena peka terhadap situasi ini. Ia langsung menolehkan wajah Gu Yuan ke arah lain secara paksa, lalu mendesak Huang Jingtian. "Jangan lihat dia, lihat aku!"
"Nona Gu, sebelumnya aku belum berterimakasih telah menyelamatkanku dan orang-orangku. Jika tidak ada kalian, akan ada lebih banyak korban berjatuhan. Aku mungkin juga tidak bisa selamat."
"Apa menonton juga disebut menyelamatkan?" Gu Yuena merasa jengkel. "Jangan mengalihkan topik."
"Mereka hanya orang mati yang jiwanya dibangkitkan, tidak ada yang spesial. Pada dasarnya, mereka sudah bukan manusia. Selebihnya, aku kurang tahu." Huang Jingtian menjelaskannya secara singkat.
Gu Yuena akhirnya melepaskan Gu Yuan yang kepalanya sudah pegal dipegangi sejak tadi. Bukannya bertanya, Gu Yuena justru mulai berpikir dan menghubungkan segala maksud Gu Yuan tidak mengizinkannya tahu hal ini.
Sepertinya ini berkaitan dengan kekuatan jiwa Istana Linghun. Tapi kenapa Istana Linghun menyerang Putra Mahkota tanpa sebab dan terbuka seperti ini? Seperti bukan gayanya.
Gu Yuan menebak apa yang dipikirkan adiknya dan menghela napas. "Mereka bukan dari Istana Linghun, tapi Aula Linghun."
"Apa bedanya?" Gu Yuena bertanya-tanya. Omong-omong, bagaimana Gu Yuan bisa tahu apa yang dipikirkannya? Sudahlah.
Gu Yuan menjelaskan dengan pasrah. "Aula Linghun adalah bagian dari Istana Linghun, tapi mereka juga berbeda. Baik dari segi pemimpin maupun cara kerja, keduanya bertindak terpisah. Selama ini Aula Linghun sering menampakkan diri, bahkan sudah ada beberapa markas mereka di beberapa tempat secara terang-terangan. Jelas, ini berbeda lagi dengan Istana Linghun meski keduanya memiliki hubungan secara tidak langsung."
"Ah, satu lagi. Anggota mereka tidak hanya penyihir. Ada sangat banyak anggota mereka, belakangan ini mereka menciptakan jiwa-jiwa yang mati untuk hidup kembali dan dijadikan pasukan garis depan. Mereka berkultivasi menggunakan kekuatan jiwa, dan mengendalikan jiwa-jiwa itu menggunakan kekuatan jiwa. Mereka menamai jiwa-jiwa itu sebagai Pasukan Kematian." Huang Jingtian melanjutkan penjelasan lebih detail.
"Aula Linghun ... apa pemimpinnya bukan penyihir juga?" Gu Yuena memancing Huang Jingtian bicara.
"Tentu saja bukan. Aku dengar pemimpin Aula Linghun adalah murid langsung Ratu Istana Linghun. Dia sangat kuat dan misterius, serta berpotensi menjadi Raja Istana Linghun berikutnya." Huang Jingtian sepertinya berlebihan dalam bercerita membuatnya mendapat tatapan datar dari Gu Yuan. Ia pun menelan saliva, dan terdiam.
Siapa yang akan menyangka seorang Putra Mahkota akan dibuat terdiam oleh putra sulung dari seorang Adipati?
"Jadi, kalian sedang pergi ke Akademi Yuansu? Kita memiliki tujuan yang sama, lebih baik berangkat bersama daripada harus berpencar dan diserang lagi. Kebetulan, kereta kudanya tidak rusak, Nona Gu bisa memakainya." Huang Jingtian langsung mengubah topik dan menawarkan tumpangan.
"Puta Mahkota, maaf sudah merepotkan." Gu Yuan merasa sungkan. Membawa Gu Yuena menggunakan kereta kuda kekaisaran? Meski ia tidak khawatir, tapi apa Putra Mahkota ini tidak berlebihan memperlakukan Gu Yuena?
Huang Jingtian terkekeh dan menepuk bahu Gu Yuan dengan akrab. "Gu Yuan, tidak perlu sungkan. Kita sudah lama berteman, apa salahnya memberi sedikit bantuan? Lagipula, kalian sudah membantuku sebelumnya. Anggap saja membalas budi jika tidak enak."
"Putra Mahkota, membawa wanita lain ke dalam kereta kuda milikmu, takutnya akan menimbulkan kesalahpahaman. Biar aku bersama kakakku saja." Gu Yuena jelas menolak. Meski ia ingin duduk di kereta kuda dengan nyaman, tapi ia tidak mau berada di kereta kuda yang sama dengan Huang Jingtian!
"Nona Gu, kamu adalah juniorku, apa akan ada kesalahpahaman? Meski ada, siapa yang akan berani mempertanyakanmu?" Huang Jingtian menatap Gu Yuena penuh arti.
Gu Yuena melihat Huang Jingtian, merasa agak kesal. Apa-apaan tatapan itu? Apa pria itu sedang berkata bahwa tidak akan ada yang mempertanyakan seorang 'teman pria' yang duduk di kereta kuda yang sama dengan Putra Mahkota? Dia berkata tentang penyamarannya sebagai laki-laki?
Apa ia sedang diancam di depan kakaknya?
Ah, lidah Gu Yuena gatal ingin mengumpat.
"Baka." Akhirnya ia mengumpat dalam bahasa Jepang.
"Apa?" Huang Jingtian tidak mengerti apa yang dikatakan Gu Yuena. Dari cara Gu Yuena bicara, sepertinya tidak memiliki arti yang baik.
Gu Yuena tersenyum paksa. "Tidak, itu tandanya aku berterimakasih karena telah mendapat perhatian. Kalau begitu, aku terima saranmu."
Sedangkan Gu Yuan hanya melihat tingkah adiknya dengan pandangan pasrah. Apa pun yang dikatakan Gu Yuena, lebih baik Huang Jingtian tidak tahu artinya.
"Karena Gu Yuena sudah menerima tawaranku, lalu Gu Yuan, apa kamu ingin ikut atau kembali ke Akademi Yinyang?" Huang Jingtian menatap Gu Yuan, berharap pria itu kembali saja ke Akademi Yinyang agar ia bisa bersama Gu Yuena versi alami.
Gu Yuan melihat Gu Yuena, lalu melihat Huang Jingtian lagi. Andai saja ia tidak terburu-buru mengatasi urusan Akademi yang ditugaskan gurunya, ia tidak akan mau meninggalkan Gu Yuena bersama Putra Mahkota tengik ini.
Tapi karena Huang Jingtian cukup bisa diandalkan, ia lebih baik menyerah. "Aku akan kembali ke Akademi Yinyang untuk mengurus perjalanan ke Istana Yuansu dalam beberapa hari. Awalnya ingin pergi langsung ke Istana Yuansu, tapi aku masih ada beberapa hal yang harus dilaporkan."
"Ah, sayang sekali." Huang Jingtian berpura-pura menyayangkannya. "Kalau begitu, berhati-hatilah di jalan."
"Kak, kau tidak takut makhluk-makhluk itu akan menargetmu?" Gu Yuena tiba-tiba menghentikan Gu Yuan. Ia sejak tadi termenung memikirkan sesuatu, tiba-tiba saja mendengar Gu Yuan akan pergi.
Gu Yuan terkekeh. "Apa beberapa makhluk kematian dapat menggertakku? Kamu tenang saja, aku ini sangat kuat dan dapat diandalkan." Ia mengusap kepala Gu Yuena dengan gemas.
Gu Yuena menghela napas panjang. "Kalau begitu, berhati-hatilah." Ia tidak bisa menahan Gu Yuan.
Sebenarnya ada bagusnya Gu Yuan kembali ke Akademi Yinyang. Ia bisa menyamar sebagai lelaki di tengah jalan tanpa membuat Gu Yuan terkejut.
Gu Yuan pun pergi setelah beberapa kali berbincang dengan Huang Jingtian. Gu Yuena tidak mau mendengarkan pembicaraan lelaki, memilih memasuki kereta kuda lebih cepat dan istirahat bersama Xiao Hei di pelukannya.
Melihat kepergian Gu Yuan, Gu Yuena hanya diam duduk di depan kereta kuda setelah melambaikan tangan cukup lama. Melihat punggung kakaknya yang menjauh, rasanya baru kemarin mereka bertemu setelah sekian lama. Ia sudah merindukan pria itu lagi.
Gu Yuena menghela napas. Sudahlah, mereka akan bertemu lagi nanti.
Untuk saat ini, fokus memperkuat diri terlebih dahulu. Dalam waktu dua tahun, ia akan pulang untuk melihat Gu Yuan untuk yang terakhir kalinya.
Perjalanan pun dilanjutkan tanpa hambatan.