Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
125. Phoenix Yang Tertidur



Teriakan mengerikan menggema di udara terbawa oleh angin. Teriakan yang berasal dari jiwa-jiwa yang terkumpul di udara dan membentuk energi hitam terpusat pada sebuah benda yang memancarkan sinar merah.


Ombak menerjang sangat keras, bersama air laut hitam yang tampak suram dan mengerikan. Di tepi laut gelisah itu, darah bersimbah disertai jiwa-jiwa yang melolong di langit.


Udara yang sebelumnya memiliki aroma laut berganti dengan aroma darah, mengundang banyak monster berkeliaran, terutama monster laut. Ketika para monster itu melihat apa yang terjadi sebenarnya, mereka semua menciut dan kabur. Apalagi setelah beberapa monster laut yang sebelumnya menyerang, kini menjadi mayat tak utuh serta jiwa yang tercabik-cabik.


Jiwa-jiwa dan darah di langit menyusut, terserap ke dalam benda berwarna hitam pekat di tangan seorang wanita. Rambut merah gelapnya terbawa angin ombak lautan, menampakkan wajah cantik yang tiada tanding. Namun, ada sedikit bercak noda merah yang kontras di wajah seputih salju itu.


Iris merahnya melihat benda itu dengan rasa puas. Warna merah pada kedua matanya berbeda dari biasanya. Seharusnya ia memiliki warna mata semerah darah yang indah, tapi kini warna itu memiliki gradasi hitam yang membuatnya semakin terlihat gelap dan bercorak.


Pedang di tangan kanannya meneteskan darah segar, sedangkan gaun indahnya yang berwarna hitam menyamarkan noda darah yang terciprat. Ia mengangkat pedangnya untuk melihat dengan jelas darah yang mengalir di sana.


Tatapannya terlihat senang dan dipenuhi kepuasan. Namun, rasa puas itu hanya sementara. Ia ingin darah lebih banyak.


"Sayang sekali," cibirnya. Tempat ini—selain kaumnya—tidak ada lagi yang hidup. Semua sudah menjadi makanan tulang iblis. Ia juga menyerap jiwa monster iblis yang lebih kuat sebelumnya sampai menyebabkan banyak monster kecil kabur putus asa.


Ada mayat gurita raksasa di pesisir pantai. Namun, wujudnya tak lagi berbentuk. Selain kehilangan tentakel, tubuhnya juga dipenuhi luka sayatan sampai mengeluarkan isinya yang membuat darah terus mengalir dari sana.


Ketika melumuri pedang dengan darah, ada perasaan luar biasa dalam hatinya. Seperti perasaan ketika mendapatkan sesuatu yang spesial dan berkesan. Jantungnya berdebar sampai menciptakan perasaan candu yang kental dan ingin terus melakukannya lagi.


Ia tidak pernah sebahagia ini ketika membunuh. Mungkin ada kalanya ia merasakan euforia sesaat ketika membunuh di masa lalu, tapi itu sudah sangat lama. Perasaan itu menyenangkannya.


( adalah perasaan bahagia/senang/puas berlebihan dan tidak wajar/ekstrim dibandingkan perasan senang pada umumnya.)


Sosok wanita menurunkan sayapnya dari udara. Ia mendarat dalam keadaan berlutut di dekat wanita itu.


"Yang Mulia, sudah saatnya kita kembali." Wanita itu berkata dengan nada yang dalam.


Gu Yuena melihatnya sekilas, lalu mendengus kecewa. "Baik." Iris merahnya melihat ke sisi lain pegunungan. Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Sepertinya aku memang harus pergi agar ada seseorang yang bisa membersihkan tempat ini."


Beberapa utusan Istana penguasa yang bersembunyi di kejauhan bergidik ketika mendengarnya. Memang benar mereka menunggu wanita itu dan kelompoknya pergi sebelum membersihkan tempat penuh mayat ini atas perintah sang raja.


Gu Yuena pergi bersama bawahannya itu. Wujudnya menjadi cahaya merah yang mencolok di langit gelap, melesat dengan kecepatan tinggi. Beberapa phoenix yang berkumpul juga ikut pergi, membiarkan tempat ini kosong sejenak.


Di kejauhan sebelah barat di mana bioma tandus mulai terasa, sebuah pembatas ilusi terlihat ketika Gu Yuena melesat masuk ke dalamnya bersama phoenix lain. Tanpa harus menggunakan kunci, tempat itu terbuka untuknya begitu saja, membiarkan wanita itu masuk tanpa halangan.


Di balik pembatas ilusi di tengah lahan tandus, sebuah istana berdiri di dalamnya. Ada banyak jenis phoenix berterbangan di sekitar, dan melakukan kegiatan dalam wujud manusia.


Seharusnya tempat ini adalah tempat yang indah, dengan langit biru cerah serta udara pegunungan yang sejuk. Ada sangat banyak phoenix yang berkeliaran dan hidup tertutup dari dunia luar. Rumput hijau serta pepohonan segar layaknya hutan tropis.


Namun, kini suasana sudah berbeda. Langit merah menguasai tempat itu. Para phoenix tampak gelisah ketika menyadari seseorang telah kembali membawa aura pembunuhan yang sangat kuat. Buru-buru mereka menyambut di depan istana, membukakan pintu untuk sosok tersebut.


Gu Yuena, sang Ratu Phoenix. Hanya butuh waktu dua hari baginya untuk mengubah seluruh wilayah phoenix dalam genggamannya. Siapa pun yang tidak patuh, maka bunuh. Hanya itu aturan yang tertera.


Kucing Neraka dalam wujud sebesar macan normal, berjalan bersama Gu Yuena memasuki istana. Wanita phoenix masih mendampingi di belakang, sedangkan kelompok phoenix menunggu di luar ketika Gu Yuena masuk ke dalam.


Wanita phoenix itu mendapatkan sesuatu dari surat terbang, lalu membacanya. Matanya menunjukkan kegelisahan yang terbaca dengan jelas.


"Yang Mulia."


Gu Yuena sedikit menoleh. Ia terkekeh. "Sepertinya kabar dari Istana Penguasa."


Wanita itu diam untuk beberapa saat, lalu menjelaskan, "Raja Naga telah memerintahkan agar para phoenix dikembalikan ke tempat semula, tidak ada waktu menyusup."


"Aku tahu. Dia memang akan melakukan hal itu." Jika ia yang menjadi penguasa, ia akan membunuh tikus-tikus itu tanpa memberi kesempatan. Sayangnya, pihak lain sepertinya terlalu memiliki hati yang lapang.


"Lalu ... apa Yang Mulia akan meminta mereka kembali?" tanyanya hati-hati.


"Minimalisir phoenix yang pergi. Sisanya, kirim ke Wilayah Neraka."


Wilayah Neraka ....


"Namun, energi mereka tidak bisa menampung tekanan Wilayah Neraka. Ada terlalu banyak iblis, takutnya ...."


"Mereka hanyalah tawanan phoenix yang tidak ada artinya, tidak masalah jika mati. Masih ada banyak penghuni penjara di istana ini."


Phoenix yang dikirim Gu Yuena hanyalah para tawanan penjara yang telah dijebloskan selama bertahun-tahun sebelum kedatangannya. Para phoenix kotor itu hanyalah hama di wilayah phoenix. Daripada membuat penjara penuh, lebih baik memanfaatkan mereka sebagai bayaran karena telah menghabiskan hidup dengan nyaman di tempat ini.


Gu Yuena tidak suka memenjarakan orang. Ia lebih suka membunuh. Penjara yang penuh hanya merusak matanya. Sedangkan tanah yang berlumuran darah menyenangkan hatiinya.


Wanita itu terdiam, lalu menunduk, "Baik."


"Huang Jiu, atur para pembangkang itu baik-baik sebelum aku turun tangan." Gu Yuena memberi peringatan.


Huang Jiu pun membungkuk, "Baik, Yang Mulia. Huang Jiu akan memastikan kenyamanan Yang Mulia di sini."


"Bagus." Gu Yuena menunjukkan senyum cerahnya yang cantik.


Selama dua hari ia menundukkan wilayah phoenix, itu bukanlah hal mudah dan juga bukan hal rumit. Ketika ia datang, semua orang menyambutnya dan menobatkannya menjadi Ratu Phoenix secara mendadak.


Setelah Gu Yuena melakukan reformasi, wilayah phoenix berubah sepenuhnya. Banyak yang tidak setuju, tapi kebanyakan dari mereka telah mati di tangan Gu Yuena. Sisanya masih bersembunyi, diam-diam membuat ujaran kebencian di antara phoenix dan berusaha keluar dari tempat ini.


Ketika masuk ke kamar, Xiao Hei ditinggalkan di luar. Xiao Hei menghela napas lesu, lalu duduk di lantai dengan pikiran yang berkecamuk. Ia harap, Xiao Bai sudah sampai di sana dengan selamat. Gu Yuena tidak tahu hal ini.


Seperti yang telah diketahui, wanita yang menjadi Ratu Phoenix dan selalu diawasinya kali ini bukanlah Gu Yuena yang asli. Dia adalah orang lain, yang mengendalikan pikiran Gu Yuena.


Di dalam alam spiritual yang dipenuhi sihir merah, wanita pucat dengan iris hitam pekat tertawa puas seperti habis bersenang-senang. Perasaan luar biasa yang ia rindukan ketika membunuh, kini ia merasakannya.


"Gu Yuena oh Gu Yuena, seharusnya kau menyaksikan bagaimana aku membantumu mengumpulkan 1000 darah dan bersenang-senang di Laut Hitam. Tidak disangka, 'kita' akan sesenang ini."


Pandangan wanita itu terarah pada seekor phoenix kecil yang diliputi sihir merah dalam keadaan menutup mata di udara. Jiwanya rusak, tidak dapat memulihkan diri lebih baik.


"Kamu akan sangat berterimakasih padaku. Jika bukan karena aku, kau tidak memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa ras kuno dan berpotensi menguasai seluruh dunia. Gu Yuena hanya akan dicap sebagai phoenix yang koma."


Sejak melakukan serangan habis-habisan pada wanita itu, Gu Yuena sudah mengalami cedera parah yang sulit disembuhkan. Jiwanya semakin memburuk, regenerasinya juga melambat. Akhirnya, jiwanya tertidur akibat kehabisan energi. Kesadarannya pun hilang, digantikan oleh wanita pucat itu.


Wanita itu menyentuh phoenix yang transparan itu, lalu menunjukkan senyum jahat. "Tenang saja, aku akan 'memperbaiki' dirimu seperti seharusnya. Kemanusiaan membuatmu lemah, aku hanya mematikan kemanusiaanmu. Kedepannya, kau akan mudah untuk balas dendam tanpa memikirkan nyawa tidak penting."


Wanita itu tertawa memikirkan bagaimana ia akan memporak-porandakan dunia dan membuat seluruh dunia bersimpuh di kakinya.


"Omong-omong, Bai Youzhe sepertinya akan bertindak padamu. Apa yang harus kulakukan padanya?" Tiba-tiba senyum jahat terpatri di wajah cantiknya. Iris hitamnya semakin pekat, mengubah seluruh mata Gu Yuena di dunia nyata menjadi hitam dipenuhi niat jahat.


Ia akan bersenang-senang lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepasang mata bulat biru cerah mengintip ke atas meja. Ekor putihnya melambai ke atas, sedangkan salah satu telinganya menekuk. Ia telah lama bersembunyi di sini, tapi tidak ada yang menemukan.


Sebenarnya, ia tidak perlu sembunyi seperti pencuri. Namun, ia tidak boleh terlihat secara terang-terangan agar tidak ditangkap sebagai musuh.


Nonanya dalam masalah dan telah melakukan kejahatan yang bukan berdasarkan keinginannya langsung. Itu adalah iblis hati yang menguasai pikiran nonanya. Ia harus mencari cara untuk memulihkan jiwa nonanya dan mengembalikan namanya seperti semula.


Xiao Bai berniat mencari Bai Youzhe. Di dunia ini, orang yang bisa menangani Gu Yuena hanya pria itu. Meski ada Yang Xinyuan, ia lebih percaya pada Bai Youzhe. Siapa yang tahu, jika ia meminta bantuan pada Yang Xinyuan, bukannya membantu malah mempersulitnya dan mengendalikan nonanya. Ia tidak ingin itu terjadi.


Namun, Bai Youzhe terlihat sibuk sepanjang hari. Xiao Bai menunggu di ruang belajar sambil mondar-mandir dan melompat kesana kemari. Bahkan tanpa malu naik ke atas meja dan melihat-lihat berkas yang tersusun rapi. Ketika berjalan, tanpa sengaja ekor panjangnya menggeser tinta sampai jatuh ke lantai.


Xiao Bai terkejut sampai melompat karena suara benda yang dijatuhkan sendiri. Ia pikir itu adalah musuh atau orang iseng, tapi ternyata ulah diri sendiri.


Saking gelisahnya, Xiao Bai sampai tidak fokus dan berpikiran negatif.


Di saat Xiao Bai menghela napas karena suara itu hanya suara tinta jatuh, tiba-tiba ia merasa seseorang mengangkat tubuhnya begitu tinggi sampai pekikan terkejut keluar dari mulutnya.


Siapa yang ingin menculiknya!


"Mati kau!" Xiao Bai menghunuskan cakarnya beberapa kali.


Sayangnya, ia tidak bisa meraih sosok tersebut sehingga terlihat seperti kucing yang menggaruk udara. Saat sadar, ia pun terdiam. Ada sepasang mata yang menatapnya dengan datar dan membosankan, seolah mengatakan bahwa dirinya sangat bodoh.


Xiao Bai menghela napas, mengenali sepasang mata biru gelap itu. Tubuhnya melemas. "Yang Mulia, bisakah tidak mengejutkan seperti itu? Aku nyaris saja berpikir seseorang menemukanku dan ingin memasakku hidup-hidup."


"Jawab dengan benar, kau datang disuruh atau inisiatif sendiri?" Bai Youzhe langsung mengajukan pertanyaan tanpa mempedulikan betapa emosional Xiao Bai.


"Yang Mulia, apa kau sedang mewaspadaiku? Tenang saja, aku tetap berada di pihak nonaku. Aku datang karena ingin memberitahu sesuatu." Xiao Bai bicara jujur. Pada saat itulah tubuhnya didaratkan di atas meja. Xiao Bai baru bisa menghela napas lega.


Berada di tangan Bai Youzhe terasa seperti sedang dicekik.


Xiao Bai pun melanjutkan pembicaraannya, "Sebenarnya, Nona sudah menjadi Ratu Phoenix saat ini. Wilayah phoenix sudah tidak seperti dulu."


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bai Youzhe. Ia tidak menatap Xiao Bai, melainkan lantai di ujung kakinya dengan perasaan tercampur aduk.


Xiao Bai langsung menjawab dengan cepat, "Nona tidak baik-baik saja. Pertempuran saat itu terlalu menguras energi dan menyakiti jiwa Nona. Jiwa Nona sudah rusak karena bertarung dengan phyton pelahap api dan sulit memulihkannya. Aku dan Xiao Hei baru tahu bahwa di dalam alam spiritual Nona memiliki sosok lain."


Bai Youzhe melihat Xiao Bai dengan serius. Ia sudah menduga bahwa ada orang lain yang campur tangan. Namun, bagaimana bisa membuat Gu Yuena seperti itu?


Xiao Bai melanjutkan, "Kekuatan iblis di tubuh Nona tidak dapat dikendalikan, menciptakan sisi lain dari Nona yang terbentuk dari emosi negatif dan masa lalu. Ratu Istana Linghun berencana mengendalikan Nona seutuhnya dengan memanfaatkan sisi gelap itu. Nona sudah menduganya, jadi memintaku berwaspada. Saat itu aku tidak mengerti apa yang harus dilakukan, tapi sekarang aku mengerti bahwa Nona sedang butuh bantuan dan datang memberitahu hal ini padamu. Tapi siapa sangka, Nona terlalu marah dan tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi sampai jiwanya mengalami kerusakan yang lebih parah. Sekarang ... kesadaran Nona tertidur dan tidak tahu apa yang dilakukannya."


Bai Youzhe terdiam ketika mendengarkan dengan cermat. Ternyata seperti itu masalahnya. Ketika Gu Yuena melatih kekuatan iblis, kekuatan jiwanya terpicu dan membentuk sosok lain yang dipenuhi kegelapan dalam pikirannya. Itu adalah sisi gelap seseorang yang tak lagi memiliki kemanusiaan dalam hatinya.


"Yang Mulia, apa kau mengetahui bagaimana cara mengembalikan Nona? Saat ini, aku takut Nona sudah menyadari kepergianku." Xiao Bai semakin terlihat cemas.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Bai Youzhe. Xiao Bai tidak bisa menebaknya. Sampai akhirnya Hei Changge muncul untuk memberi laporan, Xiao Bai buru-buru bersembunyi di bawah meja.


"Yang Mulia." Hei Changge membungkuk, lalu berkata, "Sebagian phoenix mundur ke Wilayah Neraka."


Bai Youzhe memahami rencana apa yang akan dilakukan Gu Yuena. Karena jika ia menjadi Gu Yuena, ia akan melakukan hal yang sama untuk meraih tujuan.


Tujuannya saat ini adalah mengumpulkan 1000 darah. Maka wanita itu pasti akan menyebarkan para phoenix ke seluruh dunia untuk menyebabkan teror dan tragedi berdarah untuk tulang iblis.


Beruntung Hei Changge dan yang lainnya masih sempat mengatasi penyebaran phoenix dan mengumpulkan mereka di satu tempat. Dengan begini, Gu Yuena tidak memiliki kesempatan menyerang.


"Untuk selanjutnya, perhatikan pergerakan mereka baik-baik." Jika itu orang lain, Bai Youzhe tidak akan segan membunuh. Karena yang ia lawan saat ini adalah Gu Yuena, ia tidak bisa salah langkah dan membiarkannya melakukan apa pun yang diinginkan.