Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
158. Lelucon di Pagi Hari



Pagi ini Gu Yuena bersiap pergi ke istana untuk menyerahkan laporan pada Kaisar. Tapi tiba-tiba seekor kupu-kupu merah muda menyelinap masuk ke dalam kamarnya, lalu hinggap di sandaran kursi. Gu Yuena mengenalinya.


"Sepertinya kau sangat senggang sampai memiliki waktu menyelinap ke sini." Gu Yuena menyindir.


Kupu-kupu itu terbang ke arahnya, lalu berkata dengan nada riang, "Semua orang sangat sibuk sedangkan aku sangat bosan dan ingin menonton pertunjukkan. Selama beberapa bulan ini, aku telah menjadi kupu-kupu dan melihat segalanya. Lakukan apa yang ingin kau lakukan dan anggap aku tidak ada."


Kupu-kupu mungil itu adalah Su Churan. Saat menjadi kupu-kupu, suaranya terdengar seperti anak kecil dibandingkan seorang wanita. Sihir transformasinya masih belum cukup sempurna untuk menyeimbangkan suara.


"Omong-omong, murid kecilmu itu cukup menarik." Su Churan penasaran dan terbang ke sekeliling ruangan untuk mencari jejak napas Vale. Ketika menemukannya, ia kembali ke hadapan Gu Yuena. "Dia datang!"


Pintu diketuk setelah Su Churan mengatakannya. Gu Yuena membiarkan Vale yang kikuk itu masuk ke dalam. Seperti biasa, gadis itu masih terlihat lugu dan mudah dibodohi. Dia bahkan tidak berani menatap Gu Yuena secara langsung, hanya menunduk dan tunduk.


"Ini yang kau sebut menarik? Omong-omong, dia bukan muridku," bisik Gu Yuena pada Su Churan.


"Kau akan tahu setelah mendengar laporannya."


Vale sedikit bingung ketika melihat kupu-kupu yang bicara. Selain kucing bicara, ada juga kupu-kupu bicara. Semua di sekitar Gu Yuena selalu berbeda.


Dengan kikuk Vale bicara, "Nyonya, sebelumnya Nona ... Kakak Kedua menegurku."


"Lalu?"


Vale menggigit bibirnya, merasa gugup untuk memberitahu. "Dia ingin berkuda dan memintaku membawakan kuda. Aku membawakannya, tapi cambuk yang seharusnya digunakan untuk kuda, dia gunakan untukku."


Wajah Gu Yuena menggelap. Ini memalukan. Orang yang ia didik dicambuk? Jika hanya ada dia di sini, ia tidak akan merasa kesal seperti ini.


"Nyonya, apa aku melakukan kesalahan dengan memotong tangan Kakak Kedua? Dia kesakitan, aku jadi takut dan pergi minta tolong ...."


"...."


"Sudah kukatakan, dia menarik." Su Churan berkata dengan nada miris.


"Apa ada orang yang lihat? Bagaimana kau melakukannya?" tanya Gu Yuena. Bisa-bisanya Vale melakukan hal sefatal itu.


"Nyonya mengajariku sihir pertahanan menengah. Aku hanya menahan cambukan menggunakan sihir, tapi cambuk itu mengenai tangan Kakak Kedua sampai terpotong." Vale berkata dengan wajah polos yang terlihat sangat murni.


Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis.


"Monster didikanmu sangat unggul." Jika Su Churan bisa mengacungkan jari, dia akan mengacungkannya pada Gu Yuena.


"Itu hanya kecelakaan." Gu Yuena tidak berpikir untuk membuat Vale menjadi seperti dirinya. Meski ia senang tangan nona manja itu terpotong, tapi bukan dia sendiri yang memotongnya. Itu adalah Vale! Bagaimana kertas putih itu bisa memiliki banyak noda hitam hanya dalam satu hari?


Vale melanjutkan, "Semalam Kakak Pertama datang ke kamarku."


"Apa yang dia lakukan?" Gu Yuena merasakan firasat buruk.


"Dia berkata aku harus memuaskannya." Vale meremas jari-jarinya dengan gugup dan bingung.


Gu Yuena sepertinya tahu apa yang ingin dikatakan selanjutnya. Ia menghela napas, lalu merasa marah lagi. Dibandingkan Tuan Muda Norweight, Vale sangat lemah dan rapuh. Meski ingin melawan, Vale juga tidak bisa melakukannya. Ia merasa sangat marah!


"Keluarga ini keterlaluan!" Su Churan sendiri geram. Meski Vale hanyalah anak tidak sah dari seorang pelayan, dia tetaplah bagian dari keluarga ini. Bagaimana mereka bisa sangat bejat!


"Jika Alfonso mengetahuinya, rencanaku bisa kacau!" Gu Yuena sangat marah sampai aura di sekitar menjadi panas seolah dipenuhi kobaran api. Tidak hanya marah karena rencananya yang terancam berantakan, ia juga memedulikan nasib Vale. Vale pasti sangat sedih, kan?


Ketika melihat ke arah Vale, bocah itu masih terlihat seperti biasa. Bingung dan bodoh seperti gadis polos dan murni. Dia lebih terlihat seperti anak kecil yang linglung.


Gu Yuena semakin kesal!


Seharusnya dia membawa Vale ke Duchy tanpa perlu menginap. Seharusnya dia tidak membawa Vale ke sini! Gu Yuena menyalahkan diri sendiri karena terlalu meremehkan keluarga sialan ini.


"Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" tanya Gu Yuena.


Vale menggeleng. "Aku tak apa."


Bagaimana bisa baik-baik saja? Gu Yuena merasa sangat kacau dan ingin keluar dan membunuh mereka semua. Berani sekali menyentuh orangnya!


"Kau tahu apa yang baru saja Kakak Pertamamu lakukan?" tanya Gu Yuena sekali lagi.


Vale mengangguk. "Aku membaca dari buku, hubungan s*x yang dilakukan secara paksa di luar nikah adalah pelecehan. Kekaisaran memiliki aturan untuk memberi hukuman pada pelaku pelecehan."


"Eh, dia ternyata tidak polos. Hanya sedikit bodoh saja." Su Churan berkata tanpa rasa bersalah.


"Bagaimana bisa dikatakan tidak polos? Aku yang mengajarinya agar tidak menjadi korban hal seperti ini! Tapi ...." Gu Yuena kehabisan kata-kata. Tahu begitu, ia mengajarkan sihir serangan juga!


Vale buru-buru berkata, "Nyonya jangan khawatir. Bukankah Nyonya berkata harus menghentikan pelaku pelecehan dengan membuatnya tidak bisa melakukan itu lagi? Aku sudah melakukannya dengan baik."


Su Churan, "...."


"Bagaimana?" tanya Gu Yuena. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan, sih?


"Kakak Pertama mabuk, jadi dia memasukkannya ke tempat yang salah. Aku memberinya sihir pelumpuh syaraf sampai dia tidak sadaran diri."


"...."


Keduanya lagi-lagi dibuat terdiam. Amarah Gu Yuena sirna seketika.


Turut berduka cita pada anak-anak Viscount yang terhormat. Yang satu tangannya dipotong, yang satu kehilangan kesempatan bereproduksi.


Sihir pelumpuh syaraf tidak bisa digunakan di sembarang tempat. Akibatnya akan fatal jika diletakkan di organ penting. Vale menggunakan sihir itu saat Tuan Muda sedang dilanda kenikmatan di bagian sensitif, sehingga membuat bagian penting itu lumpuh permanen saat terbangun dari pingsan.


Gu Yuena pikir, Viscount sedang bingung mencari dokter untuk menyembuhkan anak-anaknya.


"Aku semakin takut jika kau memiliki anak." Su Churan tidak tahu harus tertawa atau menangis.


Gu Yuena sendiri tidak tahu akibatnya akan sebesar itu. Vale benar-benar menerapkan apa yang dia katakan. Gu Yuena jadi melihat dirinya sendiri saat masih remaja.


"Dia akan melakukan apa pun tanpa belas kasih jika ada sesuatu yang tidak dia sukai. Kau harus mengajarinya tentang moral." Su Churan memperingati.


Gu Yuena mengangguk dengan serius. "Ya." Kemudian melihat ke arah Su Churan. "Karena kau senggang, maka ajari dia hal-hal kebaikan. Itu bukan sesuatu yang kukuasai."


"...."


Su Churan merasa keputusannya datang terang-terangan adalah salah. Ia hanya ingin menonton, bagaimana bisa jadi ikut andil?


Vale masih terlihat bingung karena interaksi kupu-kupu dengan Gu Yuena, tapi tidak mengatakan apa pun. Sampai saatnya kupu-kupu itu beurbah menjadi manusia, Vale merubah ekspresi menjadi terkejut dan bersembunyi di belakang Gu Yuena.


"Oh, sepertinya dia takut manusia." Su Churan tersenyum kecut.


Vale mengangguk patuh. Karena wanita kupu-kupu itu dipercayakan untuk mengajarinya, Vale tidak merasa takut lagi. Dia hanya dengan kikuk mengikuti instruksi Su Churan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gu Yuena memasuki istana sendirian seperti biasa. Terlepas dari masalahnya dengan Vale, dia terlihat sangat tenang ketika memasuki aula yang dijaga oleh dua penjaga.


Pria berjanggut putih di atas kursi kebesaran itu melihat kehadirannya dengan tatapan mengeras. Sejak awal, ia tidak pernah suka Gu Yuena. Tapi Gu Yuena selalu memberinya kesan yang terlalu baik untuk diwaspadai. Dia sangat mirip dengan Vanya.


"Melihatmu, aku selalu teringat pada Putri Vanya."


Gu Yuena sebenarnya memiliki alasan lain untuk menemui Kaisar, bukan membicarakan Putri Vanya. Ia pun menjawab, "Yang Mulia sepertinya sangat memperhatikan ibuku."


"Yah, dia anak yang baik saat itu. Entah bagaimana kabarnya."


Gu Yuena tersenyum, "Jika Yang Mulia ingin tahu, mungkin harus menunggu sedikit lebih lama."


"Ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan?" Kaisar merasa penasaran.


"Tentu saja. Yang Mulia akan sangat senang. Anggap saja sebagai hadiah yang kuberikan pada Yang Mulia karena telah membiarkanku menjadi pendamping debutante Nona Norweight."


Gu Yuena belum pernah melakukan debutante. Sebuah pelanggaran jika ia menjadi pendamping debutante tanpa pernah melakukan debutante secara resmi di musim debutante. Untung saja, Kaisar mengizinkannya melakukan debut sendiri setelah memasuki istana pertama kali tanpa menggunakan acara yang megah ataupun pesta dansa. Duke Elberg sangat membantunya.


"Aku jadi penasaran apa hadiahmu."


Gu Yuena sedikit tertawa. "Sayangnya, Yang Mulia harus menunggu hingga musim dingin tiba. Ini adalah pesta resmi pertamaku, jadi harus membuat sesuatu yang mengejutkan dan mempersiapkannya dengan baik. Yang Mulia adalah pamanku, tentu saja tidak akan menjadi pengecualian."


"Bagus, bagus. Kamu memang paling bisa membuat suasana hatiku membaik hanya dengan kata-kata." Kaisar ikut tertawa ringan. Ia semakin merasa bahwa Gu Yuena sangat mirip dengan Vanya.


"Selain itu, aku telah menyelesaikan beberapa masalah keuangan negara yang mengalami keganjalan. Untuk selebihnya, Yang Mulia bisa memeriksanya." Gu Yuena menyerahkan laporan yang sudah ia tata dengan rapi.


Alasan pertama mengapa Kaisar kehilangan kepercayaan rakyat adalah masalah keuangan. Keluarga kekaisaran sangat konsumtif dan telah melakukan banyak pencucian uang dari pajak rakyat. Hal itu menyebabkan keuangan negara mengalami krisis dan kenaikan harga barang.


Gu Yuena telah mengidentifikasi dan menyebutkan siapa saja yang dicurigai harus bertanggung jawab atas kekacauan ekonomi negara. Sisanya akan diurus oleh bagian keuangan.


Kaisar menerima laporan itu dan mengangguk. "Kamu melakukannya dengan sangat baik."


"Terima kasih atas pujian Yang Mulia. Kalau begitu, aku pergi karena masih ada hal yang harus dilakukan."


Kaisar hanya mengangguk dan membiarkan Gu Yuena pergi selagi ia membaca laporan di tangannya.


Tidak mudah mengumpulkan semua data keuangan dengan lengkap, apalagi banyak yang memanipulasi buku keuangan negara. Gu Yuena membutuhkan banyak waktu untuk membenahi dan menunjukkan otoritasnya untuk menakut-nakuti. Chu Xin tidak ikut dengannya, sehingga tidak ada bantuan yang ahli dalam hal mencari informasi selain mengandalkan orang-orang Duke.


Untuk mendapatkan kepercayaan Kaisar, ia harus menunjukkan nilainya dengan membantu Kaisar mendapatkan kembali dukungan rakyat. Ini memang sulit. Oleh karena itu, Gu Yuena dengan berani melaporkan pelaku-pelaku pencucian uang baik dari kalangan pejabat maupun keluarga kekaisaran. Sisanya akan diputuskan oleh Kaisar, hukuman apa yang pantas diberikan.


Gu Yuena tidak terlalu berharap Kaisar memberi hukuman berat, sih. Pasalnya, semua orang yang ia laporkan adalah orang-orang yang bekerja untuk Kaisar dan memiliki posisi penting di kalangan faksi kaisar.


Untungnya segala sesuatu berjalan dengan lancar. Gu Yuena keluar dari ruangan dan melihat Alfonso yang sepertinya datang untuk menemui Kaisar.


Alfonso membeku sesaat, melihat kehadiran Gu Yuena yang tidak terduga. Ia sudah mendengar bahwa wanita di depannya adalah Valentina, putri dari Putri Vanya yang menghilang. Kini Valentina tinggal di Duchy Elberg sebagai anggota keluarga mereka.


Alfonso memandangnya dengan waspada. Terakhir mereka bertemu adalah di Kediaman Baron Hills dan terjadi sebuah tragedi bersama Klan Ye. Meski Gu Yuena kali ini banyak berubah dan menjadi lebih dewasa dibandingkan hari itu, ia masih sangat ingat sepasang iris merah yang dipenuhi perasaan misterius.


Gu Yuena melihatnya sekilas dan melewatinya begitu saja. Tepat ketika Gu Yuena sudah melewati Alfonso, pria itu malah berbalik dan menegur Gu Yuena.


"Gu Yuena."


Gu Yuena menghentikan langkah. Ia tersenyum singkat sebelum akhirnya berbalik untuk melihat ke arah Alfonso.


"Ada yang bisa kubantu sampai kau harus memanggilku menggunakan nama kelahiranku?" tanya Gu Yuena.


Alfonso menghampiri dengan raut rumit. Ia selalu memiliki kewaspadaan pada Gu Yuena sejak tragedi itu. Ia berpikir, apa Gu Yuena yang melakukan pembunuhan dan ancaman pada Klan Ye?


"Kenapa kau berada di sini? Seharusnya kau berada di Klan Ye." Alfonso selalu ingin menanyakannya, tapi mereka tidak pernah bertemu. Inilah saatnya. Kehadiran Gu Yuena membuatnya merasa terbebani dengan adanya saingan baru.


"Meski aku memiliki hubungan dengan Klan Ye, bukan berarti aku harus tinggal di tempat itu. Apa Pangeran melupakan sesuatu? Klan Ye sudah tidak ada."


Alfonso baru ingat hal itu dan merasa bahwa ucapannya benar-benar masalah. Ia jadi berpikir bahwa Gu Yuena datang karena Klan Ye telah hancur, dia ingin memiliki latar belakang lain setelah meninggalkan Klan Ye.


Gu Yuena memiliki kemampuan yang sangat baik. Entah bagaimana pikirannya. Jika menjadi saingan perebutan tahta, itu akan sangat merepotkan. Dia harus mewaspadai Gu Yuena setiap saat.


"Pangeran tenang saja. Meski aku memiliki hak atas pewaris tahta, aku tidak menginginkan tahta. Sebaiknya Pangeran lebih mengkhawatirkan orang-orang di sekeliling Pangeran. Manusia sulit ditebak." Gu Yuena bicara dengan serius. Itu adalah peringatan untuk Alfonso, termasuk peringatan untuk dirinya sendiri.


Gu Yuena pun pergi setelah berkata demikian. Tapi sepertinya Alfonso tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja. Pria itu memanggil lagi.


"Tunggu dulu!" Alfonso berdiri di depan Gu Yuena yang berhenti melangkah, lalu berkata, "Bukankah kau datang untuk mencari latar belakang? Kau tidak tertarik pada tahta, bagaimana jika membantuku agar dapat menjadi Kaisar? Aku akan memberimu banyak keuntungan. Kalau perlu, aku bisa menjadikanmu permaisuri."


"...."


"Ini adalah kehormatan untukmu. Kita tidak perlu saling berperang. Aku adalah orang yang menepati janji."


Sudut bibir Gu Yuena berkedut. Ada apa dengan dunia? Apa dia begitu mudah dibujuk sehingga orang lain dengan mudahnya memintanya untuk menikah? Lagi?


Gu Yuena tidak tahu ingin tertawa atau menangis.


Gu Yuena sedikit tertawa. Dia sudah menahannya, tapi tawa itu tetap keluar meski masih berusaha tertahan. Alfonso menatapnya bingung.


"Pangeran, kau tahu aku sudah menikah."


"Apa pria luar lebih penting dibandingkan kekuasaan? Aku bisa memberimu kekaisaran ini." Alfonso berkata dengan percaya diri. Dia meminta Gu Yuena untuk bercerai!


Gu Yuena semakin ingin tertawa keras. "Maaf, Pangeran. Bukannya aku ingin menyinggungmu. Tapi dibandingkan sebuah kekaisaran, aku lebih menyukai dunia."


"Dunia seperti apa yang kau inginkan?"


"Sebuah dunia." Gu Yuena tidak menjelaskannya lebih lanjut. Ia lebih memilih berkata, "Jangan sampai kalimat itu terdengar di depannya, atau mungkin Pangeran hanya tinggal nama."


Alfonso mengerutkan kening. Ia merasa direndahkan. Pria seperti apa yang membuat Gu Yuena merendahkannya seperti itu?


Alfonso selalu percaya pada dirinya sendiri, bahwa tidak ada orang lain yang lebih baik darinya baik dari segi kekuasaan, harta, maupun kekuatan. Dia memiliki koneksi yang sangat baik pada orang-orang berpengaruh di dunia. Dia disebut-sebut akan mewarisi tahta Kaisar, dan merupakan satu-satunya yang pantas menjadi Kaisar di antara banyak pangeran!


Dia juga sangat tampan, tidak diragukan lagi. Bahkan banyak wanita yang berbondong-bondong ingin menjadi istrinya. Saking banyaknya wanita cantik, Alfonso tidak dapat membuang mereka dan membiarkan mereka mondar-mandir di istananya untuk menyenangkannya.


Gu Yuena mengabaikan raut bermasalah Alfonso dan pergi secepat mungkin. Saat posisinya sudah cukup jauh, ia pun tertawa terbahak-bahak sampai lehernya tercekik.


Lelucon macam apa ini? Gu Yuena benar-benar tidak habis pikir kalau Alfonso akan mengatakan hal sekonyol itu. Apa semua wanita yang tidur dengannya tergoda oleh ucapan itu? Benar-benar konyol!