Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
43. Didesak ke Tepi Jurang



Beberapa hari dilalui dengan cepat. Gu Yuena menghabiskan waktu seminggu dengan berkultivasi penuh guna mempersiapkan diri akan petempuran yang akan datang.


Pikirnya, pertempuran kali ini tidak akan mudah.


Gu Yuena pergi ke arena untuk melihat pertempuran memperbutkan posisi 100 besar di antara murid-murid berkekuatan tingkat 5 yang beragam.


Shen Jialin yang berhasil menyentuh ranah penyisihan akhir kini berada di atas arena. Berkat semangat yang diberikan Mu Xinhuan—dan tentunya Gu Yuena pun ikut menyemangati—ia menjadi lebih percaya diri, menekan rasa gugupnya.


Gadis bertubuh mungil serta surai hitam itu berdiri di depan lawan. Lawannya merupakan seorang wanita dengan cambuk yang menyala di tangannya, menunjukkan kekuatan cahaya yang dimiliki.


"Senior, mohon arahannya." Shen Jialin mengeluarkan tongkat sihir yang terbuat dari aliran air yang mengalir lembut di tangan. Sedangkan lawannya adalah guardian dengan pedang runcing dan bercahaya serta tameng berat di tangannya.


"Mohon arahannya juga." Wanita cahaya itu bersikap serius.


Kelemahan terbesar mage adalah fisiknya. Andai seorang guardian dengan fisik kuat berhasil memblokir medan serangan mage, maka mereka akan mendapat banyak kesempatan untuk menjatuhkannya dengan sekali pukulan.


Itu adalah tantangan, mengingat seorang guardian memiliki serangan yang tidak sebesar profesi lain. Tapi pertahanan mereka yang tertinggi.


Tongkat biru aqua Shen Jialin berayun mengikuti gerakan halusnya, mengeluarkan percikan air dan aliran halus yang mengambang di udara. Ia mentransfer qi dari tubuhnya ke tongkat, lalu mengucapkan mantra untuk memulai serangan pertama.


Bagai ombak yang menerjang, sihir air yang dikeluarkan Shen Jialin berhasil membuat guardian itu menggunakan teknik pertahanannya yang terkuat untuk memblokir serangan.


Detik berikutnya, guardian itu berpindah tempat. Tebasan cahaya muncul di balik gelombang air, membuat Shen Jialin harus menarik tubuhnya menjauh dan menggunakan air yang mengalir untuk membuat tubuhnya mengambang di udara.


Lantai arena dipenuhi percikan air dan gelombang yang mengembang. Bola-bola air bermunculan dari lantai yang basah, menembak seperti meriam ke arah lawan ke mana pun lawan pergi.


Shen Jialin sebisa mungkin menjaga jarak serangan. Berdasarkan perhitungannya, selama ia menjauh, guardian itu tidak ada kesempatan memukulnya. Ia bisa terus memberi serangan dan menyelesaikan pertandingan dengan cepat seperti sebelumnya.


Dia telah menggunakan cara yang sama untuk beberapa pertandingan sebelumnya. Cara menghindar dan menyerang dari jarak jauh. Tapi dengan tekniknya itu, celah yang terbuka lebar sangat terlihat. Pertahanannya sangat tipis ketika melakukan serangan, sehingga baik assassin maupun archer pasti akan mengambil celah itu dengan baik untuk memberi pukulan keras padanya.


Tapi sejauh ini, ia tidak menemukan lawan dengan dua jenis itu. Shen Jialin percaya diri, selama lawannya tidak memiliki kecepatan mengerikan, ia tidak akan kalah.


Sayangnya, tekniknya itu hanya berlaku sampai pertandingan akhir. Guardian yang ia lawan memiliki pertahanan yang lebih kuat. Wanita cahaya itu memiliki kemampuan cahaya yang dapat membuat serangan balik akan sihir. Sehingga ketika Shen Jialin melakukan serangan sampai batas tertentu, tameng wanita itu akan memberi efek pembalikan yang menyebabkan sihir Shen Jialin menyerang balik ke pemiliknya.


Shen Jialin langsung peka akan bahaya. Ia menarik sihirnya dan melompat dengan ringan sambil menciptakan gelembung yang menghadang serangannya sendiri yang menyerang balik. Gelembung itu pecah begitu serangan balik tiba, Shen Jialin mendarat dengan aman.


"Tidak disangka kau memiliki kemampuan seperti itu." Shen Jialin berpikir dengan cepat. Ia tidak bisa menggunakan cara sebelumnya untuk menggertak lawan.


Karena lawan tidak bisa diserang dengan kekuatan sihir dalam batas tertentu, Shen Jialin hanya bisa melakukan serangan secara dicicil dan beruntun dengan serangan standar.


Pedang cahaya guardian itu menebas cepat untuk menyerang, namun Shen Jialin lagi-lagi menghindarinya dengan cekatan berulang kali. Lekuk tubuh Shen Jialin terlihat lentur ketika menghindari sambaran wanita cahaya itu, bahkan Shen Jialin tidak segan-segan menggunakan tameng wanita cahaya itu untuk tumpuan kakinya dan melompat jauh.


Laser air ditembakkan di punggung guardian itu. Guardian itu berbalik, lalu menahan laser air Shen Jialin dengan pedangnya yang berkilau.


Ini saatnya melakukan serangan balik.


Guardian itu mengerahkan cahaya dalam tubuhnya dan memperkuat pedang di tangannya. Pedang itu bercahaya sangat cerah, cahayanya sampai melampaui silau laser air Shen Jialin dan membelah laser air seperti membelah roti.


Shen Jialin langsung melepas sihirnya, lalu merapalkan mantra teleportasi untuk berpindah tempat secepatnya. Tongkatnya diayunkan kembali, membentuk ombak besar yang menerjang wanita cahaya itu ke dalam pusaran.


Ombak yang muncul di tengah arena menyebabkan banyak reaksi antusias dari semua penonton. Kekuatan air terkuat adalah ombak. Meski ombak ciptaan Shen Jialin masih belum seberapa dibandingkan ombak yang diciptakan murid halaman dalam, tetap saja menyenangkan dilihat. Percikan-percikan dan suara arus derasnya ombak menjadi daya tarik utama.


Arena menjadi banjir seketika. Guardian itu kehilangan medannya, sedangkan Shen Jialin mengambil alih medan air dengan kontrol tinggi. Berdiri di atas air, Shen Jialin menggerakkan tongkatnya dengan halus dan memusatkan air banjir dalam arena ke arah lawannya agar tenggelam.


Hanya dalam beberapa menit, lawannya gelagapan ditenggelamkan tanpa bisa meraih udara dan menyerah saat itu juga.


Mantra yang Shen Jialin rapalkan menyebabkan air tersebut memiliki efek penghisap yang cukup kuat. Selain menghambat aliran qi seseorang, siapa pun yang tenggelam di dalamnya tidak akan bisa meraih udara sehebat apa pun caranya berenang.


Apalagi untuk seorang guardian yang membawa tameng berat. Jika tidak bisa mengimbangi tarikan pusaran air atau melepas semua senjatanya, maka ia hanya bisa berpasrah ditenggelamkan.


Pada akhirnya, pertandingan dimenangkan oleh Shen Jialin.


"Xiao Lin, selamat!" Mu Xinhuan bersorak sangat keras sampai Gu Yuena harus menutup telinganya dan menatap pria itu intens.


Berisik sekali.


Shen Jialin pergi dari arena. Begitu ia melangkah keluar arena setelah mendapat kemenangan, ia menjatuhkan lutut dan bahunya merasa kehilangan banyak tenaga.


"Xiao Lin!"


Mu Xinhuan langsung panik. Ia buru-buru menghampiri Shen Jialin, lalu memapahnya untuk duduk di kursi terdekat. Gu Yuena hanya memperhatikan.


"Mantra tadi adalah batasmu, 'kan?" Gu Yuena menebak. Jika tidak, Shen Jialin tidak akan keram dan lemas seperti itu.


Shen Jialin mengangguk lemah. "Siapa sangka dia dapat menggunakan teknik seperti itu. Aku sangat panik tadi."


"Kau sudah bekerja keras." Mu Xinhuan menepuk-nepuk bahunya sambil menyemangati.


"Lawan kedepannya akan jauh lebih kuat, kau harus menyimpan banyak tenagamu," ujar Gu Yuena.


Shen Jialin tersenyum lebar. "Xiao Yue, kau juga jangan sampai kalah di pertandingan final besok. Aku menantikan penampilanmu dan mengalahkan teratai putih itu."


"Kau terlihat sangat tidak menyukai perempuan itu." Mu Xinhuan terkekeh, membuat Shen Jialin mendengus kesal. Lelaki itu lalu melirik Gu Yuena. "Aku dengar perempuan itu akan bertanding di semi-final hari ini."


"Aku tahu." Gu Yuena sangat tahu lebih dari apa pun. Itu sebabnya ia ada di sini, untuk melihat pertandingan macam apa yang akan dibawakan Lin Susu.


Setelah beberapa jam menunggu sampai ketiduran, akhirnya giliran Lin Susu yang maju. Gadis itu dikenal sebagai summoner terkuat di halaman luar. Elemennya adalah angin, sehingga kemungkinan besar monster yang dikeluarkan adalah jenis monster terbang.


Dengan pakaian bertarung seputih susu serta renda yang menyertai di lengan, membuatnya terlihat seperti seorang putri yang elegan dan pemberani. Ia tetap menampilkan senyum terbaiknya ketika berada di atas arena, menyambut berbagai sorakan pria yang mendukungnya secara terbuka dan fanatik.


Bahkan ada yang sampai menyatakan kecintaannya begitu keras untuk Lin Susu.


Lawannya kali ini adalah pria assassin. Kecepatan dan kekuatan assassin tidak perlu diragukan lagi, sehingga Lin Susu sendiri harus mewaspadainya. Tapi kelihatannya Lin Susu sangat tenang, dan memandang lawannya dengan senyum menyenangkan sampai matanya menyipit.


Tidak ada yang tahu apa yang gadis itu pikirkan.


Daripada lawan dengan emosi bergebu-gebu, lawan dengan sikap setenang air dan senyum ceria justru lebih terkesan misterius serta berbahaya. Hal itu membuat siapa pun ragu bertarung dengannya.


Jangan lupakan kekuatan yang Lin Susu perlihatkan di akhir pertandingan tahun lalu. Dia juga merupakan top 5 rangking—hampir 3 besar—arena halaman luar dengan sikap bersahabat dan tidak berbahaya itu.


"Summoner memiliki kondisi fisik yang tidak beda jauh dari mage dan archer, tapi kekuatannya sangat besar karena mengandalkan monster yang dipanggil. Aku pikir, Lin Susu akan memenangkannya dengan mudah meski lawannya adalah assassin." Mu Xinhuan sama sekali tidak dapat meremehkan Lin Susu meski penampilannya seperti loli. Jangan lupakan fakta bahwa mereka seumuran.


Gu Yuena hanya berdeham, lalu melihat dengan fokus apa saja yang bisa dilakukan Lin Susu.


Ketika pertandingan dimulai, assassin itu memulai serangan lebih cepat dari dugaan. Semua orang terkejut sosoknya menghilang begitu saja seperti hantu, meninggalkan Lin Susu yang berdiri tanpa mengubah posisinya dalam diam.


Assassin itu melintas di depan Lin Susu, lalu memulai penggunaan belatinya dengan kecepatan tinggi.


Lin Susu tampak tersenyum seperti biasa. Ia melihat assassin itu dengan lekat, menunduk ke belakang menghindari bilah belati tanpa memindahkan posisi. Selanjutnya, ia menangkap bahu assassin itu tanpa diduga dan menaiki bahunya serta sedikit memberi tiupan pusaran angin dari tangannya ke kaki pria itu.


"Kakak, aku tidak ingin melukaimu. Jadi kamu tidak bisa bergerak lagi sampai aku melepaskannya." Lin Susu berkata dengan nada menyenangkan.


Pria yang bahunya ia pijak itu tidak bisa mempertahankan kakinya lagi sampai nyaris tersungkur. Entah apa yang terjadi, ia merasa mengalami kelumpuhan di bagian kakinya.


"Aku ... menyerah!" Pria itu berkata dengan susah bayah sambil melemaskan bahu. Ia tidak beruntung bertemu Lin Susu di pertandingan ini.


"Pemenangnya adalah Lin Susu!"


Kurang dari satu menit.


Pertandingan berakhir begitu saja.


Kekuatan macam apa itu?


Jika dilihat, Lin Susu hanya sedikit menghindari serangan dan melakukan sedikit serangan sihir pada kaki assassin itu. Tapi tidak ada yang tahu, serangan apa yang ia gunakan. Bahkan Lin Susu tidak memanggil monsternya untuk membantu.


Bagaimanapun, yang ia hadapi adalah assassin dengan kemampuan tinggi!


Sedangkan semua orang heboh dan semakin menganggumi Lin Susu, Shen Jialin mendengus kesal dan memakinya dalam hati. Mu Xinhuan hanya bisa menghela napas.


Dia melihat Gu Yuena di sampingnya. 'Lelaki' beriris merah gelap yang unik itu tampak menarik sudut bibirnya, membuat Mu Xinhuan kebingungan.


Apa Gu Yue senang akan kemenangan Lin Susu?


Tidak salah lagi sih. Gu Yue juga memiliki taruhan dengan Lin Susu dan harus bertanding dengannya.


Tapi bagaimana ia bisa tersenyum seperti itu ketika melihat kekuatan lawan yang semakin misterius?


Benar-benar sulit dimengerti.


"Sebenarnya, triknya tidak buruk." Gu Yuena terkekeh, lalu pergi dari tribun meninggalkan segenap pertanyaan pada Mu Xinhuan dan Shen Jialin yang melihat kepergiannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tersisa pertandingan final.


Karena Shen Jialin kalah di pertempuran selanjutnya karena kehabisan energi, serta Mu Xinhuan yang tidak beruntung berhadapan dengan top 5 lainnya, alhasil mereka tersingkirkan. Beruntung mereka tetap berada di jajaran top 100 dari ribuan murid berkat poin kemenangan mereka di pertandingan sebelumnya.


Keesokan harinya, pertandingan final dan penentuan siapa yang akan berada di peringkat 1 diadakan.


Peserta yang tersisa terdiri dari murid top 3 seperti Gu Yuena dan dua pria lainnya bernama Han Jie dan Fang Shu. Sedangkan dua lainnya adalah Lin Susu dan Jun Mo. Lin Susu diketahui merupakan 'perempuan satu-satunya' di ujian kali ini yang berhasil menempuh top 5 setelah lama tidak bertanding.


Gadis itu semakin dipuja-puja dan semakin melambung ke langit akan prestasinya.


Di area tunggu, Lin Susu tampak tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Gu Yuena. Kali ini ia akan mengalahkan 'lelaki' angkuh itu.


Aturan dalam permainan ini cukup sederhana. Siapa pun yang berhasil berdiri paling lama di arena, dialah pemenangnya. Pada saat itu, kelima peserta akan saling bertarung. Peserta yang jatuh pertama kali akan tereliminasi dan mendapat peringkat ke-5.


Sebelumnya, dekan mengiming-imingi hak khusus untuk peserta peringkat pertama untuk memasuki Istana Yuansu, mengingat bakat murid halaman luar tahun ini sangat bagus. Hal itu pas sekali membuat mereka semua antusias, tak terkecuali Gu Yuena yang matanya mulai berkilat cerah.


Memasuki perpustakaan Istana Yuansu, itu adalah tujuannya 'singgah' di Akademi Yuansu.


Tepat setelah Dekan Halaman Luar mengumumkan demikian dengan suaranya yang keras—meski tidak tampak wajahnya, para peserta top 5 itu bergegas melompat ke arena secara bersamaan.


Gu Yuena lebih semangat lagi. Ia bertukar pandang pada Lin Susu yang juga melihatnya, sebelum akhirnya melompat ke arena.


Semua trik, senjata, dan teknik dibebaskan. Mereka bebas melakukan apa pun untuk bertahan paling akhir, karena mereka semua adalah rival di arena.


"Yoo, aku dengar Susu diganggu oleh anak bernama Gu Yue. Benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghormati wanita. Kali ini, berada di arena yang sama, aku ingin lihat seberapa lancang dia mengganggu Susu-ku yang luar biasa." Seorang pria yang tampak berumur 20 tahun, dengan postur tinggi dan kekar seperti pegulat, Fang Shu, berkata dengan nada menyindir.


Fang Shu sebelumnya berada di peringkat 1 halaman luar, jelas sekali ia sangat bangga akan peraihan itu dan menjadi angkuh. Katanya, pria kasar itu menyukai Lin Susu dan telah lama berusaha menyenangkan hatinya.


Lin Susu yang baru datang ke arena langsung berkata sambil cemberut. "Fang Shu, kamu jangan menyindirnya. Gu Yue tidak bermaksud seperti itu."


"Susu, kenapa kamu masih saja membelanya? Lihat penampilannya, apa terlihat seperti dari keluarga terhormat? Dia jelas lebih terlihat seperti dari keluarga petani dari desa miskin." Pria kurus dengan iris hijau lumut berkata dengan jijik sambil melihat Gu Yuena. Dia adalah Jun Mo, murid yang baru merintis di top 5.


"Orang yang mengganggu Susu kita, apa lebih baik singkirkan dulu dari top 5?" Pria dengan manik hazel berkata dengan nada malas. Ia adalah Han Jie, murid yang sebelumnya berada di peringkat 2. Kebetulan ia rival sekaligus berteman dengan sang peringat 1—Fang Shu.


"Kalian ... apa boleh seperti itu? Bagaimana jika Gu Yue terluka?" Lin Susu memasang bada membela dengan wajah sebal. Ia justru terlihat lucu dengan wajah sebal itu.


Di tribun, Shen Jialin nyaris melompat ingin meninju wajah menyebalkan itu! Andai Mu Xinhuang tidak memegangi bahunya sejak tadi agar tidak berdiri.


"Perempuan munafik itu ...." Shen Jialin sangat geram sampai Mu Xinhuan jadi pelampiasan rasa kesalnya.


Apa salah Mu Xinhuan sampai terkena pukul?


Dasar wanita.


Sedangkan para penggemar Lin Susu semakin meracau dan meminta para top 5 itu untuk segera membantai Gu Yue di tempat. Mereka tidak bisa, tapi top 5 itu jelas bisa.


"Lin Susu, jika kamu tidak ingin ikut, lebih baik menonton saja pertunjukan ini." Han Jie mendengus.


"Benar, biar kakak-kakak ini yang mengajarinya untukmu!" Jun Mo berucap dengan semangat sambil membusungkan dadanya.


Lin Susu sedikit melirik Gu Yue di belakangnya. Ada sedikit senyum di bibirnya, tapi tertutupi dengan raut cemberut.


Pada akhirnya, bukankah ialah pemenangnya? Sudah terlihat sangat jelas, bukan?


"Baik, tiga lawan satu atau empat lawan satu, aku tidak masalah. Tapi agar lebih memuaskan, lebih baik empat lawan satu." Gu Yuena menjawab dengan enteng.


Jadi bagaimana jika mereka bersekongkol? Pada akhirnya, mereka hanya batu loncatan. Jika menang, ia akan berada di peringkat teratas dan memasuki Istana Yuansu. Ini adalah rencananya yang telah ia siapkan. Siapa sangka Lin Susu akan 'bekerja sama' dengan sangat baik.


"Cih, kau terlalu angkuh!" Jun Mo mendecih. Jika bisa, ia ingin sekali meludahi wajah sombong itu.


"Pedang tidak memiliki mata. Jika kau mati, maka jangan salahkan kami." Fang Shu tertawa setelah mengatakannya, diikuti oleh Han Jie dan Jun Mo.


Lin Susu pada akhirnya berbalik, memasang wajah merasa bersalah pada Gu Yuena. Tapi sayangnya, Gu Yuena hanya memandangnya dengan tenang, lalu menarik sudut bibirnya. Lin Susu jengkel seketika.


Ada apa dengan senyuman itu?


Ah, sebenarnya itu adalah senyuman terima kasih ....


Mereka berempat langsung memasang posisi untuk menyerang Gu Yuena.


Pertandingan ini memang tidak mudah, tapi tidak akan sesulit melawan kabut hitam di Kediaman Gu waktu itu.


Ini baru pemanasan.