
"Reputasimu di mata orang-orang sepertinya sangat berbeda dari yang biasa kamu perlihatkan padaku." Gu Yuena memandang jendela yang terbuka di belakang bangku yang didudukinya sambil melihat suasana istana yang sepi. Meski ada beberapa orang yang berlalu-lalang, mereka hanya berjumlah hitungan jari.
Saat ini Bai Youzhe tengah tiduran di atas bangku panjang, sambil menjadikan paha Gu Yuena sebagai bantalan. Sambil memandang wajah Gu Yuena, ia bertanya, "Memangnya bagaimana reputasiku di luar?"
"Gunung es, kawat, duri, patung hidup, dinding berjalan, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya nama lain darimu, aku sampai tidak bisa menyebutkannya satu per satu." Gu Yuena terkekeh sambil berkata demikian.
"Selain sindiran patung hidup dan membosankan dari seseorang, aku tidak mendengar hal lain lagi."
"...."
Gu Yuena merasa tersindir. Terakhir ia menyebut Bai Youzhe sebagai patung hidup saat bersama Zhou bersaudara dan Zhou Tao. Seharusnya Bai Youzhe tidak menjadi anak-anak aktif dan lucu seperti Zhou bersaudara.
"Apa selain menjadi Xiao Lin, kau juga menjadi orang lain?"
"Apa kamu merindukan Luo Youzhe?"
"Kau menjadi Zhou Tao saat di pertemuan antar-istana?" Gu Yuena menebak.
"Hanya mengendalikannya sementara, tidak termasuk menjadi dia."
"Pantas saja," gumam Gu Yuena. Itu berarti julukannya terhadap Bai Youzhe telah tersampaikan. Tidak hanya itu, fakta bahwa ia bertanya tentang Bai Youzhe juga terdengar oleh orangnya langsung.
Ah, kebetulan sekali setelah ia bertanya tentang Bai Youzhe, Xiao Lin muncul di kehidupannya. Sepertinya Bai Youzhe sangat senang ketika Gu Yuena menanyakan keberadaannya sampai mendekati Gu Yuena secara langsung dalam wujud naga kecil.
"Aku lebih suka kamu dalam wujud naga kecil." Gu Yuena sebenarnya cukup merindukan naga kecil itu.
"Kamu suka anak kecil?" Bai Youzhe malah bertanya.
"Tidak. Jangan katakan kau suka anak kecil sampai menjadi naga kecil."
"Aku tidak suka, merepotkan." Bai Youzhe bicara seadanya sambil menutup kedua mata dengan tenang.
"Lalu, kamu menjadi naga kecil karena ingin menguntitku?"
Bai Youzhe menatapnya tidak setuju. "Itu sebuah ketidaksengajaan."
Sebenarnya, ia benar-benar sedang terluka dan mencari tempat untuk bersembunyi ketika sedang memantau Gu Yuena dari jauh. Siapa sangka Gu Yuena akan menemukannya. Mungkin karena auranya yang membuat Gu Yuena sensitif.
Bai Youzhe tidak bisa mengatakan jelasnya, karena Gu Yuena akan menanyakan banyak hal sampai ke pertanyaan bagaimana ia bisa terluka.
"Aku tidak berpikir kau orang yang bisa melukai diri sendiri secara sengaja. Jika ketidaksengajaan itu benar, berarti luka yang kau dapatkan adalah saat kau diserang. Siapa yang menyerangmu?" tanya Gu Yuena.
Benar, 'kan? Baru saja Bai Youzhe mengkhawatirkan pertanyaan yang akan dikeluarkan.
"Hanya luka lama yang kambuh. Lagi pula masalahnya sudah selesai."
"Apa akan kambuh lagi?"
"Tidak, karena kamu menyembuhkanku." Bai Youzhe menarik sudut bibirnya dan menggenggam tangan Gu Yuena di dadanya.
"Luka utamamu adalah luka internal. Aku hanya mengobati luka luarnya saja yang tidak seberapa." Seingat Gu Yuena, ia hanya menggunakan sedikit kekuatan spiritualnya dan beberapa obat luka luar untuk menghilangkan bekas.
"Sejak kamu menerima lamaranku, lukaku sudah sembuh." Bai Youzhe tersenyum penuh arti.
Tapi Gu Yuena malah tambah bingung. Perasaan ia tidak bisa menggunakan kekuatan spiritualnya karena terluka. Kapan ia menyembuhkan Bai Youzhe?
Sepertinya ada sesuatu yang Gu Yuena lupakan.
Ketika Gu Yuena ingin menanyakan jelasnya, tiba-tiba saja pintu kamar diketuk seseorang.
"Yang Mulia, pertemuan dengan para Tetua akan dilaksanakan."
Suara Hei Changge terdengar dari luar. Sedangkan yang dipanggil malah bermalas-malasan di pangkuan Gu Yuena.
"Setidaknya beri jawaban." Gu Yuena mengingatkan.
"Biarkan saja," sahut Bai Youzhe tak acuh.
"Para Tetua juga ingin Nona Gu datang untuk mengenalkan diri dan mendapat posisi tamu secara resmi." Berita yang diberikan Hei Changge membuat Gu Yuena bertanya-tanya, apa perlu seribet itu?
"Apa Istana Tianshuang begitu tertinggal?" Gu Yuena merasa, seharusnya ia sudah datang sebagai tamu dan mereka sudah paham akan hal itu. Apa lagi yang harus dilakukan untuk menjadi tamu resmi?
"Mereka tidak biasa menerima tamu, jadi memiliki cara yang kuno dan aneh. Sebetulnya, kamu tidak harus mengenalkan diri secara resmi."
"Aku sudah tinggal bersamamu beberapa hari, apa mereka tidak percaya bahwa hubungan kita sangat baik? Dengan temperamenmu, seharusnya mereka sudah paham."
"Ada beberapa Tetua yang menganggap merekalah yang lebih tua harus dihormati, bahkan oleh Raja sekalipun. Karena Raja sebelumnya jauh lebih tua dari mereka semua, mereka tidak berani mengganggu."
"Kehidupan politikmu menyedihkan."
"Tidak juga. Aku hanya perlu datang, mereka akan diam dengan sendirinya." Bai Youzhe tiba-tiba merencanakan sesuatu secara dadakan. Ia melihat Gu Yuena dengan pertimbangan. "Aku pikir tidak salah jika kamu mengenalkan dirimu lebih lengkap."
"Aku?"
"Aku akan mengenalkanmu sebagai calon istirku."
Gu Yuena terkejut sampai matanya melebar. "Sekarang?"
"Setidaknya, aku melakukan ini agar tidak ada yang meremehkanmu dan mendekatkanku dengan wanita lain."
Gu Yuena mengerti. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya. "Apa aku juga harus mengenalkan diri sebagai penyihir?"
Bai Youzhe berpikir sejenak. "Akan ada konsekuensi dari itu. Kenapa tiba-tiba ingin mengungkap diri?"
"Aku terlalu lelah menyamar sebagai mage selama bertahun-tahun. Setidaknya, aku ingin pandangan orang-orang terhadap penyihir berubah."
Bai Youzhe tersenyum tipis. "Jika itu kemauanmu, aku akan mendukung."
Baiklah, ini adalah saatnya menunjukkan kekuatan yang sebenarnya terhadap dunia. Kali ini, Gu Yuena tidak akan sembunyi lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aula Istana Tianshuang dipenuhi oleh para Tetua yang telah menunggu lama. Su Churan ada di antara mereka, duduk dengan riang sambil minum arak di tangannya, tampak sangat nikmat. Suasana hatinya sangat baik seperti sedang melayang di udara.
Meski bukan pertama kali Su Churan terlihat di aula bersama para Tetua, perempuan itu tetap jarang terlihat sehingga membuat banyak Tetua heran. Apalagi melihat sikap riangnya sejak memasuki aula, seolah habis mengalami masa berkesan dan menyenangkan seumur hidupnya.
Bukannya membuat orang lain ikutan senang, perempuan itu justru terlihat sangat aneh.
Jelas-jelas aula ini penuh rasa tegang dan aura dingin yang kuat, terutama untuk kursi besar di ujung sana.
"Su Churan, sepertinya suasana hatimu sangat baik." Salah seorang Tetua menegur. Tampangnya cukup tua—berusia 50an mungkin—dengan tubuh tegap dan sepasang bola mata hitam yang dalam.
"Tetua Han, hal apa yang akan membuatmu bahagia?" Su Churan mengajukan pertanyaan.
"Istana Tianshuang berdiri dengan baik dan semua orang hidup tanpa perang, saat itulah yang tua ini merasa bahagia."
"Kamu terlalu kolot." Su Churan menyeletuk begitu saja tanpa tahu sopan santun. Toh, tidak akan ada yang peduli. "Kamu akan bahagia jika harapan kecilmu terpenuhi, seperti contohnya menjadikan putramu yang pemalu itu perwira di medan perang, menikah dan memberimu cucu. Kamu pasti akan sangat senang, melihat bocah yang kamu rawat dengan baik hidup sesuai keinginanmu."
"Lalu, apa kamu memiliki seseorang yang melakukan apa yang kamu inginkan?"
Su Churan tersenyum penuh arti, lalu berkata, "Setelah pasang surut gelombang air laut dan api yang berkobar, aku akhirnya membesarkan bocah yang sangat kaku dan bodoh. Ketika bocah itu memenuhi ekspektasiku, membuat semua usahaku bertahun-tahun berhasil, siapa yang tidak akan senang?"
"Apa yang kamu maksud adalah Zhou Ying?"
"Zhou Ying?" Su Churan tertawa terbahak-bahak. Hal tersebut membuat semua orang bingung. "Kalian tidak perlu berpikir siapa yang aku rawat sejak kecil dan ceramahi seharian penuh. Aku mengajarinya cara hidup menjadi manusia normal dan menjadi bodoh untuk beberapa waktu."
Kening para tetua berkerut seketika. Apa yang Su Churan maksud adalah Bai Youzhe?
"Su Churan, seharusnya kau tahu apa yang kau katakan." Salah seorang tetua merasa kesal karena Su Churan terlalu blak-blakan.
Su Churan tidak menanggapi lagi. Ah, sepertinya ia terlalu banyak minum arak sampai lepas kendali. Tidak seharusnya ia menyebut Bai Youzhe si bodoh.
"Maaf." Su Churan bersikap seperti anak pendiam sambil menggoyang-goyangkan cangkir di tangan.
Tetua Ming di sisi lain hanya diam menyimak. Ia hanya melirik Su Churan dengan tidak suka, lalu membuang wajah sambil menunggu sang Raja tiba.
"Omong-omong, kalian meminta Gu Yuena datang, tidak hanya untuk memperkenalkan diri sebagai murid Istana Yuansu, 'kan?" Pertanyaan Su Churan membuat banyak tetua menatapnya. Ia menjadi sorotan semua orang.
"Ada terlalu banyak rumor yang beredar tentang Gu Yuena, kami hanya ingin meluruskannya di sini. Istana Tianshuang juga baru kembali seperti semula setelah sekian lama, tidak baik jika terus membiarkan istana lain di sini terlalu lama." Tetua berjubah hijau berkata demikian. Dia adalah Tetua Huo yang menangani keseluruhan murid istana.
Su Churan menyipitkan mata. "Kalian ingin mengusirnya atau ...."
Tetua Ming akhirnya buka mulut, "Ada baiknya jika kau tidak ikut campur masalah ini. Raja terdahulu memberimu posisi untuk menangani urusan eksternal istana menggantikan kakekmu, ini adalah urusan internal yang sudah berada di luar kekuasaanmu."
"Karena kalian berpikir temanku adalah orang luar apalagi dari istana lain, maka itu juga menjadi urusan eksternal istana." Su Churan menanggapinya dengan enteng.
Ah, Tetua Ming tersayang ini pasti sedang membantu putrinya untuk menyingkirkan Gu Yuena. Ia harus siap akan badai yang menerjang dari dalam istana. Apalagi identitas Gu Yuena tidak biasa. Itu bisa menjadi boomerang untuk Gu Yuena sendiri.
Su Churan sendiri, meski memiliki gelar Tetua termuda yang mengurusi masalah eksternal seperti mengatasi hubungan luar istana dan mengintai dunia luar, tetap saja memiliki banyak batasan. Apalagi Tetua Ming adalah tetua yang paling berpengaruh dalam hal militer istana, dia juga alkemis. Sulit jika ingin melawannya.
"Yang Mulia Raja Bai bersama Nona Gu dari Istana Yuansu telah tiba!"
Pandangan para tetua dan Su Churan teralih ke arah pintu aula yang terbuka. Dua sosok mencolok berdampingan memasuki ruangan. Mereka tidak terlihat nyata atau seperti manusia. Dua sosok rupawan yang berbeda dengan aura yang berbeda, membuat siapa pun tidak bisa mengalihkan pandangan kagum.
Sosok perempuan beriris merah darah serta rambut bergelombang berwarna unik itu menarik semua pusat perhatian. Wajah cantiknya yang bagaikan dewi jatuh benar-benar membuat banyak orang terpesona, apalagi ketika membawa aura tenang dan halus bersamaan. Berbeda dari pria di sisinya yang tampak sangat dingin seperti kutub utara.
Senyum Su Churan mengembang. Andai ia tidak sedang berada di posisi tetua, sudah pasti ia akan berteriak dan berhambur ke arah mereka sambil mengucapkan selamat dan mengajak berpesta. Omong-omong, ia telah menyiapkan pesta di suatu tempat.
"Terima hormat kami, Yang Mulia Raja Bai."
Mereka semua membungkuk tanpa kecuali untuk memberi penghormatan.
Tetua Ming melihat ke arah perempuan beriris merah yang berdiri di sisi Bai Youzhe. Perempuan itu pasti Gu Yuena. Tidak disangka akan memiliki penampilan seperti itu. Pantas saja putrinya tertekan.
Pada umumnya, semua orang di sini tidak mengenal Gu Yuena. Mereka hanya tahu Gu Yuena melalui rumor-rumor yang beredar yang mengatakan betapa kejam ia ketika masih di akademi.
Selain dijuluki sebagai wanita jahat di akademi, dia memiliki keberuntungan bagus dapat memasuki Istana Yuansu lebih cepat dari seharusnya dan mendapatkan guru seorang tetua agung. Dia bahkan menjadi jenius di Istana Yuansu yang sangat diperhatikan Raja Istana Yuansu.
Ada kabar Gu Yuena sangat dekat dengan Yun Qiao—murid Raja Istana Yuansu—dan akan menjadi pasangannya di masa depan. Tentu saja itu hanya rumor, karena pada kenyataannya mereka hanya menganggap sebagai saudara satu sama lain.
Jelas akan sulit dipercaya banyak orang, terutama yang mempercayai rumor mengenai kehidupan Gu Yuena selama 6 tahun terakhir.
Gu Yuena telah menciptakan skandal di mana-mana tanpa disadari.
Gu Yuena sadar akan semua rumor aneh itu, tapi ia tidak peduli. Karena semua rumor tak berdasar itu, ia merasakan banyak tatapan berbahaya dari para tetua.
Menyebalkan.
Bai Youzhe sadar akan ketidaknyamanan Gu Yuena dan langsung menggenggam tangannya. Pria itu sedikit tersenyum, lalu melihat para tetua yang tampaknya terpaku pada Gu Yuena.
"Di sini, aku datang untuk mengumumkan suatu hal." Bai Youzhe langsung pada inti pembicaraan, membuat semua orang penasaran apa yang ingin dikatakannya. Pria itu menoleh ke arah Gu Yuena dengan tatapan hangat. "Aku akan menikah dengannya."
Satu ruangan dibuat terkejut oleh satu kalimat yang telontar dari Bai Youzhe. Nadanya tidak dingin, bahkan tatapan terhadap perempuan itu sangat berbeda yang menunjukkan bahwa kalimat itu benar adanya.
"Gu Yuena adalah calon istriku. Segala ucapannya adalah perintah dan mewakiliku. Tidak ada dari kalian yang bisa meragukannya." Bai Youzhe memandang semua orang dengan sorot dingin, seolah berkata jika melanggar maka harus siap dengan hukuman yang ada.
Semua orang terdiam, nyaris tidak mampu berkata-kata. Jika Bai Youzhe sudah bicara, mereka tidak berani membantahnya. Bahkan Tetua Ming yang siap mencurahkan ketidaksukaannya harus diam akibat ucapan Bai Youzhe.
Pria itu benar-benar serius kali ini.
Sedangkan Su Churan di antara para tetua yang berkeringat dingin tidak bisa mengangkat rahangnya yang jatuh.
Mereka sudah sejauh itu!
"Anak ini benar-benar sesuatu," gumamnya. Ia hampir saja melompat bahagia jika tidak sadar akan atmosfer tegang dan sengit di ruangan ini.
Buru-buru Su Churan mencairkan susana dengan memberi selamat terlebih dahulu. "Selamat atas pernikahan Yang Mulia. Selamat untuk Nona Gu."
Yang lainnya pun mengikuti sambil menunduk. "Selamat atas pernikahan Yang Mulia. Selamat untuk Nona Gu."
Omong-omong, mereka belum menikah, lho. Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis. Sepertinya Su Churan terlalu semangat.
"Ada beberapa hal yang ingin disampaikan Gu Yuena." Bai Youzhe melirik Gu Yuena, mempersilahkannya berbicara dan meyakinkannya agar tidak terlalu tegang.
Gu Yuena membalasnya dengan senyuman. Segala kemungkinan yang terjadi, ia telah menyiapkan solusinya.
"Terima kasih atas ucapan sebelumnya, aku menghargainya. Tapi ... sampai pada akhirnya aku mengenalkan diriku lebih lanjut." Gu Yuena tampak sangat serius sehingga ruangan menjadi sunyi dan tegang.
Bahkan Su Churan penasaran apa yang akan dikatakan Gu Yuena. Ia mendengarkan baik-baik dalam diam.
"Kalian sudah mendengar banyak hal tentangku, sehingga bukan rahasia lagi kalau aku adalah putri dari Adipati Gu yang telah menurun di kekaisaran karena serangan Aula Linghun. Serta murid Tetua Agung Istana Yuansu yang saat ini telah meninggal karena alasan yang sama. Aku di sini, untuk meluruskan beberapa kesalahpahaman."
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, melihat semua orang dengan pandangan tanpa emosi dan siap akan konsekuensi yang terjadi.
"Aku adalah penyihir, serta putri dari Ratu Istana Linghun." Ini adalah tindakan bunuh diri, tapi Gu Yuena sudah yakin akan keputusannya sendiri sehingga mengatakannya dengan tenang.
Ungkapan itu membuat seluruh orang dalam ruangan terkejut bukan main. Bahkan Su Churan yang biasanya selalu heboh, kini terdiam akan kenyataan yang diberikan Gu Yuena.
Penyihir?
Putri Istana Linghun!