Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
118. Pemburu Roh Phoenix



Sudah 3 bulan sejak Bai Youzhe mengirim Gu Yuena ke Pegunungan Iblis. Seharusnya ada pergerakan dari wanita itu. Sayangnya, Bai Youzhe masih belum melihatnya.


Di puncak gunung yang curam, Bai Youzhe melihat gelapnya hutan di bawah langit malam. Dalam radius beberapa mil jauhnya, ia dapat merasakan kehadiran beberapa siluman yang berkumpul di satu tempat. Mereka pasti utusan iblis.


Bai Youzhe tidak tahu, bahwa di antara kelompok siluman, terdapat Gu Yuena yang sibuk membakar ayam di atas bara api penuh kehati-hatian. Auranya tidak dapat dirasakan, sehingga tidak akan ada yang tahu keberadaannya, termasuk Bai Youzhe. Jadi Gu Yuena tenang-tenang saja.


Di tangannya adalah ayam kedua yang ia panggang dan habiskan. Kelompok siluman yang ia ikuti saat ini tengah beristirahat di sekitar gunung sebelum melanjutkan perjalanan. Siluman biasanya begerak di malam hari, mereka baru saja akan memulai perjalanan kembali setelah menempuh perjalanan seharian penuh.


"Benar-benar tidak memberi belas kasihan. Aku bahkan belum makan dan tidur dengan benar," gerutu Gu Yuena sambil mengoyak daging ayam dengan giginya. Ia melihat beberapa iblis yang memimpin dengan pandangan datar.


Dua iblis itu merasa diperhatikan, lalu melihat Gu Yuena dengan alis terangkat. Siluman burung api itu memiliki keberanian menatap mereka dengan datar.


"Hei, kau." Salah satunya memanggil Gu Yuena.


Gu Yuena mendesah, lalu melihatnya dengan benar tanpa ada jejak rasa dingin di matanya. "Ya?"


"Buatkan aku daging panggang juga. Harus daging beruang iblis."


Gu Yuena mencibir dalam hati. "Hanya ada daging ayam dan babi di sini."


"Apa kau sedang menolak?" Iblis itu menatap Gu Yuena dengan arogansi yang kuat.


Gu Yuena menggerutu dalam hatinya sambil berdiri membawa daging ayam di tangan. Padahal ada banyak siluman cantik di sini, kenapa harus ia yang menjadi tumbal?


"Nona, apa aku boleh memakannya?" Xiao Hei yang lapar melahap iblis berbisik dari ruang spiritual. Ia tidak suka bila ada orang lain memerintah nonanya sesuka hati.


Gu Yuena mendengus, lalu berbisik, "Nanti saja."


Beruang iblis ... di mana ia harus mendapatkannya? Ada sangat banyak monster iblis di hutan, bagaimana ia bisa pilih-pilih seperti itu? Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.


Gu Yuena memiliki kekuatan burung api yang ia lahap di tubuhnya. Jadi ketika membunuh monster iblis tingkat rendah begitu mudah, tidak ada rasa terkejut di mata iblis-iblis itu. Mungkin, mereka bisa cukup mengakui kekuatan Gu Yuena yang hanya dikeluarkan 10% itu.


Tapi tetap saja, Tuan mereka yang lebih kuat.


Beruang iblis telah didapatkan setelah lama berkeliaran di hutan sampai nyaris tertinggal kelompok. Ia melepas begitu saja beruang utuh yang sudah matang terpanggang api di depan dua iblis itu. Mereka sepertinya cukup terkejut karena Gu Yuena membawa makhluk besar itu dengan satu tangan.


Sebenarnya Gu Yuena tidak kuat, tapi ia bisa menggunakan kekuatan spiritual untuk membantu pekerjaannya dan melempar beruang ke wajah idiot itu.


"Selesai." Gu Yuena mengklaim penyelesaian tugas begitu saja.


"...."


Dua iblis itu terdiam, sedangkan para siluman hanya bisa mengapresiasi diam-diam keberanian Gu Yuena dalam membungkam dua iblis menyebalkan itu.


Di peristirahatan selanjutnya, dua iblis itu memakan beruang bakar dengan tak tahu malu. Rupanya beruang bakar enak juga. Seharusnya beruang itu mati karena terpanggang oleh api Gu Yuena, lalu menyeret tubuh besarnya begitu saja seperti menyeret karung ke depan dua iblis. Itu dimakan begitu saja, membuat Gu Yuena jijik.


Meski enak, itu tidak higienis. Gu Yuena mana mau memakannya meski memiliki kandungan spiritual yang besar. Lebih baik ia melahap jiwa monster iblis.


Pada akhirnya, Gu Yuena mengabaikan dua iblis tak tahu malu itu.


Salah satu iblis yang sebelumnya ingin mempersulit Gu Yuena tiba-tiba menghampiri. Dengan wajah arogan yang menyebalkan, dia dengan percaya diri mendekati Gu Yuena. Berpikir bahwa Gu Yuena adalah wanita patuh dengan sampul tsundere, iblis itu merasa bahwa burung api itu menarik.


Hanya seekor burung api kecil, tidak akan berani melanggar perintahnya.


"Burung api kecil." Iblis itu memanggil sambil menyentuh bahu Gu Yuena.


Gu Yuena menoleh ke arahnya. Tidak ada ekspresi di wajah cantik itu. Namun, itulah daya tariknya. Apalagi jika tersenyum. Sayangnya, suasana hati Gu Yuena sedang buruk sehingga tidak herniat menunjukkan senyum.


"Ingin beruang iblis lagi?" Gu Yuena melirik tangan iblis yang menyentuh salah sahu bahunya dengan intens. Tapi sepertinya iblis itu tidak sadar bahwa Gu Yuena terlihat akan menghancurkan tangan itu.


Iblis itu malah terkekeh. "Kenapa begitu sensitif? Yang sebelumnya hanya salah paham. Aku hanya sedang lapar sehingga sedikit memarahimu."


"Oh?" Gu Yuena cuek. Ia hanya menunjukkan wajah tidak tertarik, meski tidak bisa mengatakan bahwa ia sangat ingin menendang iblis menjengkelkan itu.


Tatapan iblis itu memanas ketika melihat sepasang iris merah Gu Yuena yang indah. "Burung api kecil, aku adalah orang yang sangat terang-terangan dan ingin kamu melayaniku hari ini. Merupakan sebuah kehormatan dapat melayani perwakilan dari Tuan. Kamu akan mendapat berkat besar."


Jika ini siluman perempuan lain, mungkin akan mengangguk patuh dan mengikuti iblis cabul itu. Tapi Gu Yuena jelas tidak. Ia hanya memandang iblis itu dengan datar tanpa bicara, seolah tidak mendengar ucapan sang iblis.


"Hei, apa kamu tidak mendengarkanku?" Iblis itu merasa kesal dan menekan pegangannya di bahu Gu Yuena. Siluman kecil yang keras kepala harus sedikit ditindas agar mau patuh.


Iblis itu bicara lagi, "Dengarkan aku baik-baik. Jika kamu bersikap patuh, aku tidak akan menyakitimu dan bersikap lembut padamu. Jadi, jangan menjadi seekor burung keras kepala."


"Aku mengikut untuk berburu roh phoenix, bukan untuk bersenang-senang melayanimu." Ucapan Gu Yuena membuat wajah iblis itu menjadi hitam.


Berani sekali seekor siluman kecil menentang perintah!


"Kamu!" Iblis itu sangat geram. Ia semakin menekan bahu Gu Yuena, lalu memojokkannya di dahan pohon.


Gu Yuena menutup mata sesaat, merasa kesal punggungnya terbentur batang pohon yang sangat tebal. Kepala belakangnya nyaris saja terbentur.


Iblis itu menatap Gu Yuena dengan marah. "Kamu berani menentangku? Lihat, bagaimana aku akan menghukum—"


Belum sempat iblis itu menyelesaikan ucapan, kaki Gu Yuena sudah melayang duluan menendang sesuatu di bawah perutnya yang berharga. Sangat keras sampai membuat iblis itu tidak dapat berkata-kata selain merasakan kaki yang lemas dan rasa sakit tak terduga.


"Jal*ng sialan!" Iblis itu berlutut di tanah saat itu juga memegangi alat berharganya yang malang.


"Bersikaplah sesuai aturan, atau aku tidak akan berbelas kasihan dan mengebirimu saat itu juga." Gu Yuena dalam suasana hati yang buruk. Ia pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa pun, mengabaikan teriakan iblis tertentu yang memakinya secara langsung.


Padahal ia sudah sangat panas dan akan menerkam wanita itu, tapi siapa sangka akan dipermalukan seperti ini.


Rekannya di kejauhan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sudah tahu yang dihadapi adalah siluman burung api yang temperamental tanpa pandang bulu. Rasakan akibatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Untuk beberapa waktu, Gu Yuena berpisah dengan rombongan untuk mengumpulkan lebih banyak aura iblis. Wanita itu menelusuri tiap inci hutan, lalu menyerap monster iblis hidup yang menurutnya memiliki atribut sesuai.


Pegunungan Iblis memiliki sangat banyak monster iblis tingkat tinggi. Menaklukannya tidak mudah, tapi juga tidak terlalu sulit bagi Gu Yuena. Tanpa takut auranya dirasakan, ia menaklukan beberapa monster pilihannya dan menyerap jiwa mereka.


Hingga akhirnya sampai pada monster terakhir yang diserap. Simbol phoenix di antara alis Gu Yuena mengalami sedikit perubahan, tanda bahwa kekuatannya meningkat sangat cepat. Hanya masalah waktu untuk mencapai tingkat 9.


Gu Yuena bangkit dari duduknya, melihat wilayah sekitar yang masih sangat sepi. Pepohonannya sangat rimbun sampai menutupi sinar matahari. Namun, suasananya jelas sangat berbeda. Seolah ada sepasang mata merah yang sedang memperhatikan dari kegelapan.


"Itu adalah monster iblis yang lebih kuat dibanding monster iblis tingkat tinggi. Nona, hati-hati." Xiao Bai merasa cemas, apalagi ketika melihat raut Xiao Hei yang rumit. Pasti ada masalah.


Gu Yuena sedikit tersenyum. Tanpa menyahuti ucapan kedua kucing itu, ia pergi ke asal aura gelap yang tiba-tiba muncul itu. Aura yang sangat kuat.


Sampai di pinggir sungai yang deras, Gu Yuena menghentikan langkah. Aura yang ia ikuti tiba-tiba berubah arah dan menghilang dari perhatiannya. Ketika merasakannya kembali, aura itu sudah di belakang Gu Yuena, jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Hembusan angin meniup punggung Gu Yuena, memberinya peringatan. Secara spontan, Gu Yuena membungkuk ke belakang dan melihat seekor macan kumbang hitam yang meluncur hendak menerkamnya dari belakang.


Macan kumbang telah kehilangan target sejak Gu Yuena menghindar. Ia mendarat beberapa meter di depan Gu Yuena, lalu melihatnya dengan sepasang mata merah yang mengerikan. Ukuran tubuhnya sangat besar sampai Gu Yuena sendiri harus mendongak melihatnya.


Xiao Hei di dalam sana tidak dapat berkata-kata lagi.


"Ada apa denganmu?" Gu Yuena sadar akan keanehan Xiao Hei.


"Tunggangan Iblis!" Xiao Bai memekik di dalam ruang spiritual sampai menyadarkan Xiao Hei yang terkejut. Gu Yuena sendiri terganggu.


Xiao Hei keluar dalam bentuk makhluk hitam dengan mata merah yang penuh amarah. Ia mengaum, melindungi nonanya dari makhluk sialan itu.


"Dia adalah monster penjaga, tunggangan Tuan ras iblis yang melemparku ke Dataran Mitian. Nona, kamu harus berhati-hati, aku akan melindungimu!" Xiao Hei memperingati.


Macan kumbang itu ingat pada Xiao Hei. Kucing penjaga menyebalkan yang mengganggu tuannya menghancurkan phoenix yang tertidur, tidak disangka akan bertemu kembali. Ia tidak sabar mencabik-cabiknya untuk kedua kali.


Tingkatan Xiao Hei umumnya lebih tinggi dari macan kumbang tersebut yang bahkan tidak bisa bicara. Namun, dikarenakan cedera internal yang berlebihan, Xiao Hei kalah dari pertempuran dan melarikan diri ke Dataran Mitian.


"Tunggangan Tuan Iblis?" Gu Yuena merasa hal ini sangat menarik. Jika ada tunggangannya di sini, maka Tuan Iblis ada di tempat ini. Pasti menunggu informasi dari dua iblis idiot itu.


Itu mengartikan bahwa ia semakin dekat dengan roh phoenix.


Macan kumbang bersiap menyerang kembali. Ia melompat ke arah Gu Yuena, tapi Xiao Hei langsung menghantamnya dengan cakar runcing yang mengerikan.


Dua monster iblis itu bertarung secara brutal dan saling mencakar. Kekuatan sihir keduanya juga tak kalah kuat sehingga menciptakan ledakan besar yang menerbangkan burung-burung di udara.


Mereka akan menarik perhatian banyak iblis. Gu Yuena tidak boleh membiarkan hal itu terjadi karena terlalu merepotkan.


Tangannya mengeluarkan sinar merah yang terbang ke udara, membentuk sebuah ilusi yang menutup wilayah pertarungan dari dunia luar. Dengan ini, pertempuran yang sedang terjadi tidak akan menarik perhatian siapa pun.


Namun, Macan kumbang sepertinya ingin memanfaatkan posisi Gu Yuena yang sedang menciptakam barrier ilusi. Ia pun mengabaikan Xiao Hei dan melompat ke arah Gu Yuena dengan gigi runcing yang siap menggigit.


Xiao Hei kelimpungan, sedangkan Gu Yuena hanya melihatnya dan membuat perisai tak terlihat di sekitar tubuhnya sehingga macan kumbang tidak dapat menyerangnya secara langsung. Makhluk itu seolah menabrak dinding tak terlihat, dan jatuh begitu saja.


Xiao Hei tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menerkamnya. Macan kumbang segera menghindar, lalu menggunakan serangan sihir untuk menekan Xiao Hei yang baru sembuh.


Tubuh Xiao Hei lebih kecil dari macan kumbang yang sudah sebesar sebuah rumah. Sebenarnya, ukuran Xiao Hei lebih besar dari yang biasa diperlihatkan. Tapi ia hanya akan menggunakan ukuran aslinya bila memang benar-benar dibutuhkan. Seekor macan kumbang jelas bukan apa-apa di matanya.


"Jarang-jarang melihat Xiao Hei begitu serius." Xiao Bai sedikit terpana. "Nona, kamu tidak perlu melakukan apa pun. Biar bocah itu yang menangani."


Gu Yuena yang sudah menyelesaikan pembuatan barrier ilusi hanya menggedikkan bahu. Ia juga baru tahu, bahwa Xiao Hei sebenarnya sangat kuat. Kucing itu telah memulihkan diri dalam waktu lama bersamaan dengan tumbuhnya Gu Yuena. Sejak memasuki Dunia Bawah, Xiao Hei tampaknya melanjutkan kultivasi untuk menjadi lebih kuat.


Biarkan kucing kecil itu menguji kekuatannya sendiri.


Xiao Hei tidak berhenti memberi serangan meski kulitnya telah terkelupas akibat cakaran macan kumbang. Ia menggigit leher macam kumbang sampai mengeluarkan daging dan darah, sedangkan macan kumbang meraung sekeras mungkin.


Andai tuannya ada di sini, pasti sudah membunuh kucing merepotkan ini!


Macan kumbang membentuk medan kegelapan di sekitarnya untuk membatasi Xiao Hei. Xiao Hei tidak mau kalah, menggunakan sihirnya untuk melindunginya diri dari medan kegelapan yang menyebabkan sinar matahari tertutup oleh awan.


"Xiao Bai, lindungi Nona!" teriak Xiao Hei. Medan ini adalah bencana!


Xiao Bai keluar dalam wujud kucing besar berwarna putih dengan iris biru yang cantik. Ia memasang sikap waspada, sebelum akhirnya sihir kegelapan menembak dari langit bertubi-tubi.


Sebenarnya Gu Yuena tidak perlu dilindungi. Tapi Xiao Bai tidak bisa mengambil resiko karena Gu Yuena akan naik tingkat tak lama lagi. Wanita itu tidak boleh terluka sedikitpun, atau akibatnya akan fatal.


Xiao Bai menangkis dan membuat barrier untuk melindungi nonanya dari serangan. Ia melompat ke udara, memukul semua sihir kegelapan yang menembak menggunakan kekuatan saljunya. Dalam sekejap, hutan pinus berubah menjadi hutan bersalju.


Xiao Hei di sisi lain menghindari tembakan sihir kegelapan sambil menangani macan kumbang. Medan kegelapan ini lah yang menyebabkannya terluka sangat parah dan terlempar ke Dataran Mitian untuk bertahan hidup. Masalah menangani medan merepotkan ini, ia sudah memikirkannya sejak kekalahan memalukan itu.


Macan kumbang merasakan dengan jelas perubahan pada Xiao Hei. Kucing itu memperbesar tubuhnya sampai sepadan dengan macan kumbang, terlihat sebaya. Macan kumbang mendengus. Jadi bagaimana jika kucing itu memiliki tubuh sebesar dirinya? Pada akhirnya, kucing itu tetap kalah di masa lalu dan akan kalah untuk kedua kalinya.


Macan kumbang memperbesar area medan sampai nyaris merusak barrier ilusi buatan Gu Yuena. Medannya terlalu kuat, serta memiliki efek pelambatan pada lawan sehingga memberinya banyak kesempatan untuk menyerang.


Xiao Hei membuka kekuatan spiritualnya secara penuh. Kabut hitam mengelilingi tubuhnya, sebelum akhirnya melesat ke arah macan kumbang tanpa mendapat mengaruh pelambatan.


Macan kumbang segera menghindar, lalu menggunakan serangan fisik terhadap Xiao Hei yang tiba di dekatnya. Xiao Hei tidak mau kalah ataupun menghindar, ia justru menerima serangan membiarkan cakar macan kumbang menyentuh barrier yang menyertai tubuhnya—agar terhindar dari efek medan.


Setelah menerima cakar yang geli tersebut, Xiao Hei menendang bokong macan kumbang dengan gerakan cepat. Tiba-tiba saja kucing itu sudah di belakang, memberi tendangan maut yang menyebabkan macan kumbang tersungkur ke depan begitu saja.


Bukan berarti macan kumbang kalah. Ia semakin mempergila kerja medan menyebabkan Xiao Bai kelelahan akibat menangkis serangan.


"Xiao Hei, lakukan dengan cepat!" Xiao Bai gelagapan. Tidak disangka, ia sebagai monster suci sebenarnya ditekan oleh sebuah medan dari monster iblis.


Xiao Hei melompat ke asal tembakan sihir kegelapan. Ketika sampai, sihir di kepalanya bercahaya dan menembus batas barrier agar dapat menembus medan. Tanpa perlu merusak barrier, ia mengumpulkan kekuatan medan dan meluncurkannya ke arah macan kumbang.


Macan kumbang terkena senjata makan tuan. Ia menghindari tembakan sihir kegelapan yang diberi Xiao Hei sampai makhluk itu lari terbirit-birit. Namun, Xiao Hei tidak bermaksud melepaskannya. Ia akan membunuh!


Macan kumbang sangat marah sampai ingin muntah darah. Ia menghilangkan medannya sendiri, memberi keuntungan pada Xiao Hei untuk menyerangnya lebih leluasa. Dalam sekejap, makhluk hitam itu dipukul dan diinjak-injak secara menyedihkan oleh Xiao Hei.


Medan miliknya adalah medan yang diberikan oleh Tuan Iblis. Sayangnya, medan itu tidak sepenuhnya dikuasai hingga memunculkan celah untuk diserap Xiao Hei dan ditumpahkan ke pemiliknya. Serangan balik jelas terasa, tapi tidak sesakit perasaan senjata makan tuan yang mengejar dan menyerangnya bertubi-tubi.


Xiao Hei menginjak macan kumbang dari udara ke tanah dengan keras sampai terjadi retakan dan gempa. Macan kumbang berusaha melepaskan diri, namun injakan Xiao Hei di kepalanya benar-benar menyakitkan.


"Aku akan memecahkan kepalamu yang keras ini." Xiao Hei berkata dengan dingin. Terlihat mirip dengan seseorang.


Namun, seseorang yang dimaksud justru menghentikan aksi pembunuhan tersebut, "Jangan dibunuh!"