
Energi unsur dalam jumlah banyak telah terkumpul dalam token. Sejauh ini, dia hanya bertemu dengan monster tingkat 4 kebawah dan mengalahkan mereka sepanjang hari.
Sudah hari ketiga, Gu Yuena mengumpulkan qi yang berlimpah dalam hutan dan mengelolanya untuk naik tingkat. Ketika mencapai tingkat 5, qi yang masuk dan dicerna dalam dantian berevolusi dan menyatu dengan api dalam tubuhnya untuk menjadi kekuatan yang nyata.
Evolusi itu akan memberinya banyak peningkatan dan bentuk qi yang dapat dikontrol menggunakan kekuatan pikiran. Tapi sebelum itu, ia harus melengkapi tahap tingkat 4 dan mencapai kesuksesan sihir pada bintang ke-4.
Pengontrolan api dan qi dalam tubuhnya semakin baik sepanjang waktu. Dalam kesadaran spiritual, api itu mulai menyatu dengan qi yang masuk ke dalam tubuh dan menjadi kekuatan sendiri.
Kesuksesan sihir ditunjukkan dengan pengontrolan elemen yang baik, elemen akan benar-benar menyatu dengan qi dan tubuh yang dapat meningkatkan daya serangan dasar. Itu adalah situasi normal di mana peningkatan kekuatan tingkat 4 yang sebenarnya benar-benar terwujud secara alami.
Api kecil dan halus yang berkobar di tubuh Gu Yuena perlahan mengecil seolah menjadi dirinya sendiri. Simbol phoenix menyala di antara alisnya, kekuatan di dalamnya disalurkan mengubah api normal menjadi api yang berbeda dari kebanyakan.
Darah phoenix telah mendorong Gu Yuena sampai batasnya untuk naik tingkat dengan lancar. Biasanya orang akan mengalami rasa sakit bagai terpotong-potong tiap kali akan naik tingkat atau sekadar bertambah bintang, tapi darah phoenix dapat menyingkirkannya menjadi perasaan hangat dan tenang seperti danau.
Namun, semakin tinggi kekuatan Gu Yuena, perasaan peningkatan itu akan semakin buruk. Kemungkinan besar, ia akan mendapat rasa sakit luar biasa suatu saat nanti ketika hendak naik tingkat ke tingkat tertinggi. Dalam kondisi itu, darah phoenix tidak akan berguna demi menempa pisau untuk menjadi lebih tajam.
Gu Yuena membuka mata setelah merasakan tubuhnya mengalami banyak perubahan. Mata merahnya yang penuh dengan kobaran api menjadi padam, disertai seluruh auranya yang kembali menyusut mengembalikannya ke wujud semula.
"Tingkat 4 bintang 4 ... tidak buruk." Padahal Gu Yuena berharap dapat langsung naik ke tingkat 5. Hanya butuh satu kali peningkatan lagi, ia akan mencapai tingkat 5. Pada dasarnya untuk mencapai peringkat tertinggi di akademi, ia harus mencapai tingkat 5 sekurang-kurangnya.
Gu Yuena menghela napas. Banyak sekali yang harus ia lakukan. Sedangkan umurnya sudah akan 18 tahun, tersisa 2 tahun masa hidupnya untuk menemukan semua jawaban.
Di saat-saat memikirkan masalah yang memusingkan, suara gemerisik daun membuat perhatiannya teralih. Xiao Hei keluar dari balik semak-semak dengan langkah cepat dan kekhawatiran di matanya.
"Nona! Ada monster tingkat 6 mendekat, kemungkinan karena merasakan aura darah phoenix, kita harus pergi dari sini!"
Tingkat 6!
Gu Yuena terkejut. Meski ia ada di wilayah monster, tapi ia sangat yakin telah menjauhi wilayah berbahaya di mana terdapat banyak monster tingkat tinggi. Jika hanya tingkat 5, Gu Yuena tidak akan terkejut. Tapi bagaimana dengan tingkat 6?
Monster tingkat 6 hanya berdiam di satu tempat dan berupaya meluaskan wilayah dengan bertarung dengan monster tingkat tinggi lain. Mereka tidak tertarik pada manusia dan memiliki gengsi yang tinggi jika ingin memasuki wilayah monster lain kalau bukan untuk membunuh pemilik wilayah.
"Sial!" Gu Yuena beranjak dan pergi secepat mungkin. Pada saat yang sama, tanah berguncang seolah sesuatu yang melata bergerak dengan cepat dari bawah tanah.
Ketika Gu Yuena akan melompat lebih jauh untuk melakukan pelarian, guncangan tanah semakin keras dan timbul keretakkan besar. Tepat di depan Gu Yuena, tanah di depannya terbongkar seperti pecahan kaca mengeluarkan seekor ular sepanjang 30 meter dengan tubuh raksaksanya. Ia terlihat seperti cobra dengan kepala yang lebar.
Gu Yuena mundur beberapa langkah tanpa menurunkan kewaspadaan. Iris merahnya terarah pada ular besar bermata hijau itu. Dari sekian banyak monster yang ia temui, inilah yang terbesar.
"Xiao Hei."
Pada saat itulah Xiao Hei memperbesar tubuhnya, lalu mengaum di depan ular besar itu untuk menghadangnya dari Gu Yuena. Tidak peduli apa ular itu lebih besar dua kali lipat darinya, ia tidak boleh membiarkan nonanya terluka.
"Tidak ada waktu untuk melarikan diri. Kita kalahkan dengan cepat." Gu Yuena meyakinkan diri sendiri.
Bahkan Su Churan bisa membunuh monster tingkat 5. Ia yang sudah berlatih keras dengan beberapa teknik sihir dan darah phoenix harus bisa melampauinya.
Ular itu menyerang begitu saja tanpa alasan. Xiao Hei sebisa mungkin mengalihkan perhatian ular itu dari Gu Yuena agar Gu Yuena dapat memberi serangan dengan bebas. Tapi rupanya ular itu tak bodoh. Ia menyingkirkan Xiao Hei dengan ekor besarnya dan menyerang Gu Yuena bersamaan.
Api di tangan Gu Yuena berkobar, membakar tepat mulut ular yang akan melahapnya itu. Mau tidak mau ular itu menarik kepalanya merasakan rasa panas api phoenix yang telah menyatu dengan api Gu Yuena.
Gu Yuena tidak kehilangan kesempatan. Ia melompat ke tubuh ular itu dan mencari bagian terlemahnya di antara kulit sekeras baja yang sulit diterobos apinya.
Ular itu menggeliat di tanah dan memberontak. Ia menggulung tubuhnya untuk menangkap Gu Yuena dan melilitnya, namun kemunculan Xiao Hei yang bersikeras mencabik-cabiknya terlalu mengganggu.
Ular itu berulang kali meruntuhkan pohon karena tebasan ekornya untuk menyingkirkan Xiao Hei. Tapi Xiao Hei terlalu lincah, sedangkan Gu Yuena masih terus melancarkan serangan dari berbagai arah.
Jika seperti ini, ia akan kalah dari manusia dan monster menyebalkan itu.
Dengan cepat iris ular itu berubah warna. Dari hijau menjadi ungu dan menembakkan sebuah kekuatan dari matanya untuk mendorong Xiao Hei lebih jauh.
Xiao Hei berhasil menghindar beberapa kali, tapi gangguan ekor ular itu mengalihkan segalanya dan membuatnya terkena serangan mata ular itu. Serangan mata ular itu berupa serangan psikis, membuat Xiao Hei bingung seketika dan tersesat dalam kekuatan mental ular tersebut.
Xiao Hei tidak mendapatkan kontrol penuh atas tubuhnya dan tidak bisa bergerak ketika mulut ular itu melebar ke arahnya dengan gigi runcing yang besar.
"Berani menyentuh milikku!" Gu Yuena muncul seperti sambaran petir tepat di depan Xiao Hei yang mematung.
Ia membentuk sebuah pedang api dan meletakkan pedang tersebut di antara mulut ular sehingga tidak bisa menutup mulutnya. Setelahnya, Gu Yuena menarik Xiao Hei ke posisi lain meski sangat kesulitan.
"Xiao Hei, kau baik-baik saja? Apa kau bisa mendengarku?" Gu Yuena khawatir. Xiao Hei sama sekali tidak merespon, sedangkan iris Xiao Hei menjadi ungu seperti ular itu. Gu Yuena geram seketika.
"Tenang saja, aku akan menyelesaikannya. Kamu sudah bekerja keras." Gu Yuena mengusap kepala Xiao Hei dengan lembut, sebelum akhirnya makhluk hitam itu berubah menjadi kucing kecil yang tertidur.
Gu Yuena berbalik melihat ular yang baru saja berhasil melepaskan pedang yang tertancap di mulutnya sampai tidak bisa menutup mulut. Ia melihat Gu Yuena dengan penuh amarah, kemudian menyerang dengan ganas.
Gu Yuena meluncur dengan kecepatan tinggi. Gerakannya seperti bayangan yang muncul di tiap sisi dan melancarkan sihir yang begitu kuat. Ular itu berkali-kali terlalap dalam api phoenix yang sulit dimatikan, tapi berulang kali pula ular itu berganti kulit atau beregenerasi dengan cepat.
Benar-benar merepotkan.
Gu Yuena melepaskan sihir ke satu titik bagian tubuh ular itu, lalu membuat sihir penghubung di titik lain untuk mengikat ular itu. Jika ingin menghancurkan dengan cepat, ia harus membatasi gerakan ular itu.
Sihir yang terhubung membentuk sebuah tali api uang sulit dihancurkan. Gu Yuena melepaskannya di berbagai daerah. Tiap kali ular itu bergerak, api Gu Yuena akan menyayatnya dengan dalam.
Ular itu bingung untuk beberapa saat karena tidak bisa menemukan manan Gu Yuena yang asli di antara beberapa bayangan yang melesat di tiap titik jaring sihir. Sampai akhirnya pergerakan Gu Yuena terdeteksi, ular itu langsung melesat dan menyemburkan racun mematikan tepat ke arah Gu Yuena.
Gu Yuena tepat waktu menjerat ular itu dengan jaring sihir yang ia buat. Kepala ular itu lolos dan berhasil mengeluarkan racun dari mulutnya bagaikan laser yang menembak. Gu Yuena cepat-cepat menghindar, namun gerakan itu membuat kekuatan jaring api tidak seimbang.
Sebisa mungkin Gu Yuena tidak menatap mata ular itu, atau ia akan terjebak dalam jebakan yang sama seperti Xiao Hei. Ia melompat dengan cepat menginjak kepala ular itu, lalu menggunakan sihirnya untuk merobek kulit dan daging ular.
Sayangnya, hal itu tidak membuat ular mati. Ular itu justru semakin ganas berusaha melepaskan diri dari jeratan. Jaring yang dibuat Gu Yuena hancur, sedangkan ular itu melesat dengan kecepatan tinggi dan menubruk Gu Yuena dengan kepalanya sampai terhempas.
Gu Yuena tersungkur. Pandangannya teralih pada ular yang kembali bangkit, menunjukkan tubuh bagian tengah yang robek menjadi dua seperti lubang perlahan menyatu kembali.
Gu Yuena tidak terlihat tidak senang. Ia justru tersenyum, sebelum akhirnya berdiri untuk mempersiapkan perisai besar untuknya dan Xiao Hei.
"Bom."
Tepat setelah mengatakannya, bagian tubuh ular yang beregenerasi mengeluarkan sinar merah yang semakin besar. Ular itu tampak panik menyadarinya. Tapi terlambat, sinar merah itu telah meledak menciptakan hujan bunga merah yang terciprat ke berbagai wilayah dalam jarak tertentu.
Api membeludak membakar tubuh ular itu ketika ledakan terjadi. Ledakan yang besar menyebabkan tubuh ular terbelah menjadi dua. Kepalanya teepental entah kemana, sedangkan ekornya terbakar oleh api disertai bunga merah yang mengguyur.
Gu Yuena melihatnya dengan senyuman yang terlihat tenang. Sangat tenang. Terlihat bahagia melihat bunga merah di atas kepalanya berjatuhan seperti derasan hujan.
Ia merasa telah bernostalgia.
"Ternyata aku tidak berubah." Ia mendengus.
Gu Yuena membalikkan tubuhnya untuk melihat kepala ular yang terlempar. Keningnya berkerut ketika melihat ular itu mulai menyempurnakan tubuhnya kembali. Ia seolah dilahirkan kembali, dengan cara membelah diri.
"Sial! Dasar cacing pita!"
Ia harus menghentikannya!
Sihir merah di tangannya muncul. Gu Yuena melompat ke arah ular yang mulai membentuk tubuh utuhnya dengan cepat.
Ular itu sadar Gu Yuena hendak menghentikannya. Ia baru saja akan lari, tapi Gu Yuena telah berdiri di depannya dan akan melancarkan serangan. Ular itu tidak memiliki pilihan lain selain menyerang dengan gigi tajamnya yang mengerikan.
Gu Yuena melepaskan sihir ke depan, tepat ke arah mulut ular yang terbuka lebar. Sihir api phoenix masuk ke dalam mulut ular itu seperti bilah tombak yang melesat. Sihir merah menembus bagian ujung tubuh ular yang sedang membentuk tubuh baru. Sihir diperbesar, merambat ke seluruh tubuh ular seperti akar merambat untuk menghentikan pembentukan tubuh baru.
Ketika sihir yang menahan ular itu telah merambat sampai kepala, Gu Yuena menambah lilitan sihir sampai terlihat seperti kepompong yang sedang mengurung ulat dalam metamorfosis.
Semakin lama semakin tebal. Gu Yuena memberi tekanan kedua tangannya agar sihirnya menyusut dan membuat ular itu hancur dalam sihirnya tanpa sisa.
Sraaaa
Sihir yang menghancurkan ular itu bertebaran ketika selesai menyusut, menyisakan serpihan tulang yang sudah berbentuk debu disertai energi unsur yang melayang di udara dan aroma hangus yang pekat.
Cara mati seperti ini, tidak akan pernah terpikirkan oleh seorang manusia normal tanpa pengalaman pembunuhan seumur hidupnya.
Gu Yuena sudah lama ingin mencoba cara ini. Cara menghilangkan korbannya dari bumi tanpa meninggalkan jejak, seolah mereka tidak pernah ada.
Ia mengambil energi unsur berwarna ungu pekat yang melayang di udara, lalu menyimpannya dalam token. Toketnya sudah penuh, saatnya untuk kembali ke akademi.
Tepat ketika Gu Yuena akan kembali dan membawa Xiao Hei yang pingsan, ia merasa tubuhnya sakit semua sampai melemas. Ia berlutut di tanah sambil menopang tubuhnya agar tidak tersungkur.
Pertarungan ini sudah melebihi batas yang dapat ditahan tubuhnya. Ia terlalu lelah ....
Gu Yuena bersandar di dahan pohon samping Xiao Hei. Ia melihat pakaiannya yang dilumuri darah, lalu tangannya yang terluka. Rasanya sangat perih ketika pertempuran usai. Jelas-jelas ia tidak merasakan apa pun tadi.
"Aku harus mandi." Gu Yuena memaksakan diri berdiri. Meski awalnya oleng, tapi ia berhasil membawa Xiao Hei ke dalam ruang spiritual dan pergi dengan kaki terpincang-pincang.
Seluruh kekuatannya sudah habis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Asrama menjadi sangat sepi malam ini. Di dalam ruangan gelap salah satu kamar asrama, sosok pria duduk di atas tempat tidur dalam keadaan yang sulit diprediksi. Satu hal yang bisa diketahui, ia tidak baik-baik saja.
Kabut hitam mengelilinginya, seolah tengah menyiksanya sepanjang malam di bawah sinar bulan purnama yang menyelinap masuk dari jendela. Kesadarannya benar-benar gelap. Ia merasa berada dalam belenggu rantai besar dan dicabik-cabik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Sepanjang waktu ia menahan semua rasa sakit itu. Tubuhnya yang dibanjiri keringat dingin bergetar hebat. Penampilannya begitu kacau dengan rambut hitam yang terurai.
Seperti yang dikatakan seseorang, perasaan yang membuat mati lebih baik dari kehidupan. Ia harus merasakan hal yang sama selama bertahun-tahun tanpa merasa terbiasa.
Ini adalah bayaran atas kekuatan yang dimiliki. Semakin besar kekuatannya, semakin menderita ia melewati masa-masa yang tidak terprediksi ini dalam kesendirian.
Ia adalah Luo Youzhe. Wajah tampannya terlihat pucat. Iris birunya yang gelap terbuka begitu penderitaan berakhir untuk sementara. Ia menekan kekuatannya sampai batas tertentu, barulah semua rasa sakit itu berakhir sepenuhnya setelah lama menderita.
"Tuan Muda, apa akan baik-baik saja?" Bawahannya yang berdiri berjaga di depan pintu tampak khawatir. Meski hal seperti ini sudah sering terjadi, tapi hal seperti ini pula yang dapat membunuh tuannya kapan saja. Apalagi musuh sedang mengintai, akan bahaya bila mendapat kesempatan.
"Aku sudah terbiasa." Dia berbohong. Rasa sakit itu memang akrab seolah menempanya sedemikian rupa, tapi ia tetap tidak merasa baik-baik saja. Sudah dua hari ia merasakan rasa sakit itu.
"Biasanya reaksi itu terjadi selama lebih dari tiga hari. Ini adalah hari kedua, sepertinya reaksi itu telah berubah seiring berjalannya waktu."
Luo Youzhe itu hanya diam di tempatnya, tampak memikirkan sesuatu. Tidak mungkin reaksi itu berubah. Kalaupun berubah, seharusnya menjadi lebih lama setelah ia mengontrol seluruh kekuatan dalam tubuhnya. Pasti ada penyebabnya.
Iris biru pria itu terarah ke arah pintu seperti menemukan sesuatu. Ia melihat bawahannya, lalu berkata, "Pergilah."
Bawahannya langsung mengerti. Ia langsung membungkuk. "Baik, Tuan Muda."
Sosoknya menghilang dalam kabut dalam hitungan detik tepat ketika pintu terbuka. Tampak gadis berpakaian laki-laki memasuki ruangan dalam keadaan lesu. Ia berlumuran darah, kakinya pincang dan terluka parah, bahkan matanya sudah sangat sayup.
Luo Youzhe langsung beranjak untuk melihat. Di dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh sinar bulan, ia melihat penampilan kacau Gu Yuena yang penuh luka.
Sepertinya terjadi pertempuran besar di hutan.