Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
94. Masih hidup?



Di pagi yang cerah, Gu Yuena di kediaman utama Ketua Klan duduk menunggu di atas tempat duduk bersama Xiao Hei di lengannya.


Dia datang pagi-pagi sekali setelah sedikit menjahili Bai Youzhe ketika bangun tidur. Lebih tepatnya, ia sedang kabur dari pria itu.


Mengingat bagaimana wajah tampan itu memiliki gambar kura-kura di kepalanya, Gu Yuena nyaris tidak bisa berhenti tertawa.


Sayangnya kesenangan itu harus berubah menjadi serius ketika Gu Yuena melihat seseorang datang kepadanya. Perempuan bergaun hijau itu memandangnya penuh kebencian. Siapa lagi kalau bukan Luo Zhiyi?


"Sudah kukatakan, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan klan melalui topengmu itu. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya?" Luo Zhiyi langsung menyemprotkan serangkaian kalimat tajam untuk menyerang Gu Yuena.


Gu Yuena yang tidak berdiri dari tempatnya justru menyilangkan kaki, lalu melihat Luo Zhiyi dengan pandangan tenang.


"Lalu, apa yang bisa kau lakukan?" tanyanya.


"Yang Mulia sedang tidak ada di sini, jadi keberadaanmu yang tanpa dukungan itu tidak memiliki pengaruh apa pun. Kau pikir para tetua benar-benar tidak tahu mengenai dirimu dan menerimamu begitu saja?" Luo Zhiyi mendengus. "Gu Yuena, kau tidak pernah diterima di tempat ini."


"Hah, jadi begitu." Gu Yuena tampak memasang senyuman. "Sejujurnya, aku tidak memerlukan pengakuan untuk bertahan hidup. Kau berpikir bahwa aku adalah Putri Istana Linghun, tapi kamu masih memiliki keberanian menemuiku sendiri di tempat yang begitu sepi. Tidak tahu keberanian dari mana kau mendapatkannya."


"Ini adalah Klan Luo, bukan Kediaman Adipati atau Istana Linghun."


"Bagiku tidak ada bedanya." Gu Yuena menyipitkan mata.


Ketika ia beranjak dari kursi, Luo Zhiyi mengambil langkah mundur dengan waspada. Hal tersebut membuat Gu Yuena tertawa.


Wajah Luo Zhiyi semakin menggelap.


"Ah, maaf, aku kelepasan." Gu Yuena menghentikan tawannya. Bocah di depannya, meski usia mereka tidak beda jauh, tetap saja terlihat masih sangat kikuk.


Kelihatannya saja keras dan menyebalkan, tapi mentalnya lembek. Padahal Gu Yuena hanya berdiri karena pegal terlalu lama duduk.


"Gu Yuena, jangan berpikir bisa mempermainkanku!" Luo Zhiyi sangat kesal akan sikap Gu Yuena.


"Aku tidak pernah bermain-main." Gu Yuena bersedekap dada. "Andai kamu bukan anggota klan penting, aku sudah membunuhmu, lho."


"Kamu ...."


"Aku tidak berminat bicara dengan anak-anak yang tidak pernah belajar dari kesalahannya sendiri. Apalagi bocah bodoh yang menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya. Kamu adalah putri sah Klan Luo, malah bersikap seperti anjing liar."


Ucapan Gu Yuena menusuk Luo Zhiyi sedalam mungkin. Perempuan itu sangat kesal sampai kehabisan kata-kata.


"Siapa yang anjing siapa. Memangnya kamu tidak sadar atas situasimu sebagai anjing Istana Linghun!"


"Oh? Kalau begitu aku sangat bangga sebagai anjing setia yang tidak menyusahkan, tidak seperti seseorang," balas Gu Yuena lebih sarkas.


Luo Zhiyi yang labil tidak bisa menahan emosinya dan mengangkat tangan hendak menampar Gu Yuena. Namun, tangannya tertahan begitu saja di udara tepat ketika akan menyentuh wajah cantik itu.


Sihir Gu Yuena menahanya secara tak kasat mata.


Gu Yuena memiringkan kepala. "Bersikaplah dengan baik jika tidak ingin mendapat masalah."


Kedatangan para tetua membuat Luo Zhiyi menurunkan tangannya dengan perasaan kesal. Wajahnya cemberut. Bertolak belakang dengan Gu Yuena yang tampak sangat tenang seolah tidak terjadi apa pun.


Gu Yuena melihat kedatangan para tetua serta Bai Youzhe di antara mereka. Alisnya terangkat ke atas. Kenapa Bai Youzhe di sini?


Ah, ia jadi ingat tingkahnya yang menggambar kura-kura di wajah Bai Youzhe.


Omong-omong, tinta hitam bergambar kura-kura itu telah menghilang. Gu Yuena menyesal tidak bisa melihat hal lucu itu lagi. Jarang-jarang bisa menjahili Bai Youzhe secara langsung.


"Nona Gu, maaf membuatmu menunggu lama."


Gu Yuena tersenyum. "Aku memiliki teman mengobrol, jadi bisa sedikit menghabiskan waktu."


Mereka melirik Luo Zhiyi yang tampak berwajah gelap menahan amarah. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang buruk.


Jika dilihat, suasana hati Gu Yuena sangat baik. Pasti Luo Zhiyi habis kalah dalam berdebat. Sangat terbaca.


"Kalau begitu ... kita langsung saja. Nona bisa melihat kondisi Ketua Klan terlebih dahulu."


Para tetua itu langsung mengarahkan Gu Yuena ke dalam kamar Ketua Klan. Berjalan bersisian di samping Bai Youzhe, Gu Yuena diam-diam meliriknya untuk memastikan bekas tinta yang tersisa.


"Katakan padaku jika ingin terus lihat, aku akan membiarkanmu melihat sepuasnya."


Gu Yuena menyengir. "Jadi aku boleh mencoret wajahmu lagi?"


Bai Youzhe menatapnya tidak setuju. "Maksudku melihat wajah yang tanpa coretan. Lain kali, aku tidak akan membiarkanmu mencoret wajah tampanku lagi."


Gu Yuena mendesis sebal diam-diam sambil memalingkan wajah. Tanpa memedulikan Bai Youzhe yang mulai jahil, ia berjalan berdampingan dengan para tetua menghindari Bai Youzhe sambil mengejeknya.


Sampai di kamar Ketua Klan, dokter yang merawat Ketua Klan menjelaskan lebih lanjut mengenai kondisi sang ketua yang memburuk. Secara keseluruhan, dokter itu hanya bisa mendiagnosis kondisi fisik dan kekuatan spiritual Luo Wei. Untuk masalah kerusakam jiwa, hanya Gu Yuena yang memahaminya.


Gu Yuena maju untuk memeriksa secara langsung dan melakukan pengendalian jiwa untuk menetralkan kondisi jiwa Luo Wei. Semua orang melihatnya di dalam ruangan bagaimana proses terjadi.


Iris merah darahnya melihat pria yang beberapa tahun lalu masih bersemangat menjodohkan Luo Yi dan Gu Yuan sampai membuat Gu Shan ketar-ketir. Sudah sangat lama.


Berdasarkan apa kata Luo Zhiyi, semua orang di sini sudah mengetahui identitasnya. Pasti berkat para tetua di Istana Tianshuang. Mungkin mereka memberitahu sebagai peringatan untuk berhati-hati terhadapnya.


Sedangkan menyembuhkan kondisi Luo Wei adalah ujian dari para tetua. Jika Gu Yuena berhasil, maka sudah jelas ada di pihak mana Gu Yuena berada. Tapi jika tidak, maka bersiap untuk resiko yang lebih buruk.


Dia harus bisa memulihkan jiwa Luo Wei.


Di samping itu, Luo Zhiyi yang bersikeras menghentikan Gu Yuena ditahan oleh penjaga di luar kamar. Hal itu membuat Luo Zhiyi dibawa keluar kediaman agar tidak mengganggu ketenangan.


"Tak apa, ini hanya jiwa yang rusak." Entah kenapa Gu Yuena gelisah. Ketika kekuatan jiwa dikeluarkan, iris merahnya bersinar dan membuka visi jiwa yang terlihat secara nyata.


Ada sesuatu yang mengikat jiwa Luo Wei. Itu adalah kekuatan jiwa sifat pengendali yang sangat kuat, hampir sama seperti milik Gu Yuena.


Ketika kekuatan jiwa digunakan, pikiran Gu Yuena berada di alam jiwa yang gelap mengatasi untaian jiwa yang terpisah-pisah. Kekuatan jiwanya mulai bergerak untuk memperbaiki jiwa yang rusak itu, atau bahkan nyaris hancur berkeping-keping akibat lilitan kekuatan jiwa asing.


Gu Yuena tidak menggunakan seluruh kekuatannya hanya untuk memperbaiki jiwa. Dia tidak terburu-buru. Sekiranya, ia harus memastikan kekuatan jiwa asing itu terlepas untuk diambil alih olehnya.


Tapi ketika kekuatan jiwa asing itu dipaksa lepas olehnya, kabut hitam dalam kekuatan jiwa tiba-tiba saja meluncur dan memadat selolah membentuk sesuatu ... atau seseorang?


Mata Gu Yuena terbelalak. Ia menyingkir ke samping, membiarkan sosok itu meleset sebelum akhirnya membentuk sosok pria.


Pria tak asing disertai topeng yang tertera di wajahya. Itu adalah sosok yang memimpin penyerangan Istana Yuansu beberapa waktu lalu!


"Kamu ...."


Masih hidup?


Sosok itu menghilang begitu saja, sedangkan Gu Yuena kembali ke kenyataan dalam keadaan termenung. Hal tersebut membuat banyak orang penasaran.


"Nona, apa ada masalah?" Salah seorang tetua bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Itu ...." Gu Yuena tampak kikuk. Ia melihat ke arah Luo Wei, lalu berkata, "Tolong periksa kondisinya."


Dokter pun langsung memeriksa kondisi Luo Wei secara menyeluruh. Perhatian para tetua langsung terarah pada sang ketua.


Bai Youzhe sadar ada sesuatu yang salah pada Gu Yuena ketika melihat kegelisahan Gu Yuena serta tinjunya yang terlepal sangat erat di balik helai pakaian. Meski Gu Yuena sebisa mungkin menunjukkan sikap tenang, di mata Bai Youzhe, Gu Yuena sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Para tetua yang mendengarnya menghela napas lega dan mulai bersuka cita. Meski Luo Wei masih belum sadar, hanya butuh waktu baginya untuk siuman dalam waktu cepat dan menunjukkan perkembangan.


"Akan lebih baik bagi Ketua Klan untuk tetap istirahat dengan obat penenang. Jiwanya belum stabil, masih akan menyakitinya setelah terbebas dari serangan kekuatan jiwa." Gu Yuena buru-buru memberi saran agar tidak berdampak fatal. Orang-orang ini terlalu bersemangat.


Mereka langsung mengangguk mematuhi apa yang Gu Yuena katakan.


"Karena Nona telah mengatakannya, kami tidak memiliki hak membantah."


"Sebelumnya, terima kasih telah membantu kami menyelesaikan masalah Ketua Klan. Kami berhutang pada Nona Gu."


Para tetua itu langsung berterimakasih sehingga Gu Yuena semakin terbebani. Padahal Gu Yuena hanya coba-coba, lho. Ini kali pertamanya menyembuhkan jiwa.


"Aku tidak bisa menerima terima kasih itu sekarang. Ketua Klan masih dalam penyembuhan. Aku harap bisa merawatnya bersama Tuan dokter sampai masalah kerusakan pada jiwa telah diselesaikan." Gu Yuena berusaha bersikap senormal mungkin.


"Baik, kami akan melakukan yang terbaik agar Nona Gu tidak kekurangan."


Para tetua itu sangat senang karena satu masalah klan telah ditemukan penyelesaiannya. Meski belum sepenuhnya selesai, mereka sudah bisa tenang.


Sepertinya kekhawatiran para tetua istana terhadap Gu Yuena sia-sia saja.


"Menggunakan kekuatan jiwa terlalu menguras tenaga Gu Yuena. Kita sudahi sampai sini." Bai Youzhe tampaknya sangat ingin membawa Gu Yuena pergi. Pria itu langsung menuntun lengan Gu Yuena keluar ruangan tanpa menunggu reaksi para tetua.


Mereka yang ditinggal hanya bisa terdiam.


Ketika keluar, Gu Yuena dan Bai Youzhe berpapasan dengan Luo Zhiyi yang berlari meloloskan diri dari para penjaga. Perempuan itu melihat Gu Yuena dengan sinis, lalu masuk ke dalam kamar terburu-buru.


Wajar jika dia khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" Bai Youzhe mengabaikan Luo Zhiyi, memilih memandang Gu Yuena penuh rasa khawatir.


Gu Yuena terlihat terganggu dan hanya diam. Ia menggigit bibirnya sendiri saking cemasnya, kemudian menatap Bai Youzhe di depannya.


"Kau tahu dia masih hidup? Pemimpin Aula Linghun?" Gu Yuena akhirnya bertanya. Hanya Bai Youzhe yang bisa menjawab pertanyaannya.


Bai Youzhe terkejut akan pertanyaan Gu Yuena. Pasti ada hubungannya dengan penyebuhan Luo Wei barusan.  "Apa yang kamu lihat?"


"Seharusnya aku sudah membunuhnya. Aku melihatnya sendiri dia meledak, phoenix-ku tidak mungkin meleset."


Bai Youzhe menangkup bahu Gu Yuena dan menatapnya dalam-dalam. "Nana, tenangkan dirimu."


"Dia membunuh guruku di depan mataku. Dia membunuh semuanya." Gu Yuena masih sangat geram. Telapak tangannya sampai terluka akibat tekanan kuku ketika mengepalkan tangan begitu erat.


Bai Youzhe memeluk Gu Yuena agar dapat menenangkan perempuan yang sedang kacau itu. Gu Yuena panik dan mengalami trauma akibat serangan itu. Wajar jika dia sangat kacau ketika mengetahui bahwa sang pelaku ternyata masih hidup.


Jika orang itu sudah mati, seharusnya Luo Wei tidak mengalami hal ini. Itulah yang dipikirkan Gu Yuena. Orang itu benar-benar masih hidup setelah pertempuran besar yang nyaris merenggut nyawanya.


Seberapa kuat orang itu? Bahkan masih bisa menyerang Klan Luo begitu mudah.


Gu Yuena merasa bahwa balas dendamnya kali ini telah gagal. Ia tidak pernah merasakan perasaan marah seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah gagal dalam balas dendam!


"Kamu tidak gagal." Bai Youzhe berkata di telinga Gu Yuena dengan nada rendah, "Usahamu tidak sia-sia, dia sudah mati."


"Tapi—"


"Orang yang menghancurkan Istana Yuansu dan menyerang Klan Luo memang orang yang sama, tapi juga berbeda bersamaan. Kamu berhasil membunuh salah satunya untuk balas dendam. Usahamu tidak sia-sia."


"Apa benar?" Meski agak tidak masuk akal, tapi Gu Yuena tidak memiliki pemikiran lain untuk membantahnya.


"Benar."


"Lalu ... dia baru saja menatapku di alam jiwa."


"Itu adalah bagiannya yang lain, bukan yang menghancurkan Istana Yuansu." Bai Youzhe berkata sambil mengusap punggung Gu Yuena untuk memberinya kenyamanan.


"Bagaimana bisa?" Gu Yuena terlalu terkejut.


"Ada beberapa sihir yang dapat membuat seseorang menjadi lebih banyak. Selama ini kamu tidak pernah gagal dan telah membunuh salah satunya."


"Berarti orang itu masih ada, 'kan?"


Bai Youzhe diam untuk beberapa saat. "Ya. Tapi bukan saatnya kamu memikirkan hal itu."


Gu Yuena mengangguk pelan. Meski merasa marah, dia senang mengetahui bahwa balas dendamnya tidak benar-benar gagal. Hanya saja belum selesai secara sempurna.


Pada akhirnya, semua kejadian ini didalangi oleh ibunya sendiri.


Bisakah dia melawan wanita yang melahirkannya? Gu Yuena tidak ingin membayangkannya.


Di samping itu, Bai Youzhe sepertinya memiliki pemikirannya sendiri. Entah apa yang dipikirkan, dia tampak cemas sampai mempererat pelukannya.


"Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu." Bai Youzhe melepas pelukannya untuk mengambil sesuatu.


Sebuah bilah belati hitam legam keluar dari tangannya dan ditunjukkan pada Gu Yuena. Itu adalah belati berbentuk spiral yang sangat runcing dengan aura kuat.


Gu Yuena ingat belati macam apa itu.


"Belati pembunuh penyihir?" Gu Yuena terkejut melihat benda yang lama tak dilihatnya kini muncul kembali.


Ketika di pelelangan pasar gelap, Bai Youzhe sempat membelinya dengan harga tinggi. Saat itu Gu Yuena menginginkannya, tapi gengsi meminta. (Ada di Bab 12 bagi kalian yang lupa)


"Aku mengganti namanya menjadi belati bulan merah." Bai Youzhe berkata seenaknya.


"Seenaknya sekali."


"Namanya jelek dan tidak cocok untuk digunakan oleh penyihir."


"Kenapa kau menunjukkan ini padaku?" Gu Yuena bertanya. Bai Youzhe hanya menatapnya, memberi sebuah isyarat mata. Saat itu pula Gu Yuena sadar melalui kalimat terakhir yang Bai Youzhe lontarkan barusan. "Untukku?"


Bai Youzhe memasang senyum lebar. "Aku selalu melihatmu bertarung tanpa senjata asli. Jadi aku pikir mungkin kau tidak menemukan senjata yang cocok. Kamu menginginkan belati ini ketika melihatnya, jadi aku berpikir untuk memberikannya padamu."


Gu Yuena menerima belati itu sambil melihat di tiap inci. Sangat persis seperti yang ia lihat. Bedanya, Bai Youzhe telah menutupi aura mengerikan dari belati teesebut.


Ia ingat, belati ini seharusnya adalah warisan Istana Linghun yang hilang. Apa ini milik kakeknya?


Tiba-tiba Gu Yuena teringat sesuatu. Iris merahnya melirik Bai Youzhe. "Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jangan munafik, kamu pasti menginginkan sesuatu."


Bai Youzhe terlihat terlalu tenang ketika mengatakannya. "Kalau begitu, bayar dengan jam tidurmu malam ini."


"Hanya itu?" Kalau hanya itu, bahkan tanpa memberi hadiah, pria itu sudah pasti memotong jam tidurnya lagi.


Bai Youzhe mengangguk seperti bocah polos.


Gu Yuena meragukannya, tapi tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya. Pikiran pria itu sulit dibaca sehingga kadang membuatnya sangat penasaran.


Kira-kira apa yang sedang Bai Youzhe rencanakan saat ini?