Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
137. Anak Kasihan



Gu Yueli membawa dua anaknya melarikan diri dari klan. Ada sangat banyak orang berlarian di sekitarnya, lari tanpa arah dan penuh ketakutan. Gu Yuena benar-benar tidak melepaskan satu pun orang di tempat ini.


Sinar merah turun dari langit, membunuh banyak orang yang berlarian. Gu Yueli sangat ketakutan, memeluk putra dan putrinya sambil mencari jalan keluar.


Hanya dengan keluar dari tempat ini, ia bisa melindungi anak-anaknya.


Melihat Ting Le yang berlari ke arahnya, Gu Yueli hendak menghampiri untuk membawanya pergi bersama-sama. Tapi sinar merah dari langit menghancurkan harapan tersebut. Itu menembus tubuh Ting Le begitu saja dan menarik jiwanya.


Gu Yueli tidak dapat bereaksi dengan benar. Ia diam di tempat, melihat ibunya jatuh dalam keadaan menyedihkan. Menahan tangis, ia memeluk Ye Mi di belakangnya agar tidak melihat hal mengerikan itu.


Sampai akhirnya sebuah suara memanggil.


"Yueli!" Ye Suanwu yang sekarat memanggilnya, meminta pertolongan. Ia belum terbunuh oleh tulang iblis dan berusaha melarikan diri dengan kaki terpincang-pincang mengabaikan luka yang diderita.


Melihat Gu Yueli bersama dua anaknya, ia berpikir mungkin saja bersama mereka akan membantu. Gu Yuena adalah saudara Gu Yueli, wanita itu tidak akan begitu kejam terhadap saudaranya. Hubungan mereka juga baik. Mungkin dengan ini, ia bisa mendapat pengampunan dari Gu Yuena.


Gu Yueli menatap pria itu dengan penuh kebencian. Ia hanya diam di tempat, menahan Ye Mi yang bersembunyi di belakangnya.


Andai saja orang itu tidak membuat masalah, segalanya tidak akan berakhir seperti ini. Andai saja pria itu mau mendengarkan peringatannya, Gu Yuena tidak akan begitu brutal karena amarah. Malapetaka tulang iblis tidak bisa dihindari kecuali jika Gu Yuena sendiri yang menginginkannya.


"Kau adalah adik Gu Yuena, kau bisa menghentikannya! Yueli, ayo kita kembali dan membujuk kakakmu." Ye Suanwu masih berharap bencana ini berakhir.


Tapi sudah terlambat.


"Apa yang bisa diharapkan?" Gu Yueli menatapnya kosong, lalu mundur menjauhi pria itu bersama anaknya. Ia berkata dengan nada rendah, "Sudah terlambat."


Ia paling tahu betapa kejam Gu Yuena. Wanita itu tidak akan melepaskan siapa pun di tempat celaka ini.


Klan Ye adalah klan besar yang ditakuti dan mendominasi. Isinya hanyalah bajingan yang suka mempermainkan orang, tidak beda jauh dengan Ye Suanwu. Gu Yueli sendiri sudah muak.


Lebih baik tinggalkan orang seperti itu.


"Yueli, aku suamimu! Seharusnya kau menuruti ucapanku!" Ye Suanwu berkata dengan nada tinggi dan memerintah.


Namun, Gu Yueli sudah dipenuhi amarah dan putus asa. Bahkan di saat seperti ini pria itu masih bertindak tanpa rasa bersalah. Orang itu sangat pantas menjadi bagian dari 1000 darah.


"Gu Yueli!" Ye Suanwu meneriakinya. Ia merasa telah menjadi gila!


Gu Yueli yang ketakutan tidak bisa melakukan apa pun selain pergi. Namun, ketika ia berbalik, langkahnya terhenti melihat siapa yang berdiri di depannya.


"Gu Yuena ...." Gu Yueli mundur beberapa langkah, lalu merasakan kakinya yang menjadi lemah sampai runtuh.


Ye Suanwu di belakang sana terdiam. Ia sangat marah dan takut. Apa yang bisa dia lakukan?


Pandangan Gu Yuena teratah pada Ye Suanwu. "Sepertinya akan seru jika aku memberi beberapa cambukan untukmu. Sebelum berkontribusi untuk Istana, bukankah kau harus dibersihkan?"


Ye Suanwu mundur beberapa langkah. Ia ingat beberapa tahun lalu membawakan orang-orang klan untuk mencambuk Gu Yuena sampai mati. Tidak disangka Gu Yuena masih mengingatnya.


Gu Yuena yang tampak menikmati aksi pembunuhan itu menggerakkan tangannya. Sinar merah dari langit jatuh pada Ye Suanwu yang hendak lari, membuat pria itu terperosok ke tanah diiringi suara dentuman keras.


Sinar itu tidak membunuhnya, hanya membuatnya jatuh. Kemudian, Gu Yuena mengendalikan sinar itu untuk menjadi sebuah cambuk yang menyiksa Ye Suanwu.


Itu adalah hukuman pertama. Hukuman untuk orang yang membunuh Gu Yuena di kehidupan pertama.


Setelah beberapa cambukan yang membuat Ye Suanwu tak berbentuk lagi, Gu Yuena membentuk sinar merah itu menjadi sebilah pedang. Ye Suanwu yang melihatnya hanya bisa berteriak ketakutan.


Itu belum seberapa. Pedang itu memotong bagian bawah perutnya, lebih tepatnya mengebirinya. Suara teriakan Ye Suanwu kini lebih keras sampai pria itu berguling-guling kesakitan.


"Aku sudah lama ingin melakukannya." Gu Yuena menarik sudut bibirnya. Itu adalah balasan untuk pria bermata keranjang yang suka mempermainkan wanita dan tidak bertanggung-jawab.


Pria itu memiliki beberapa anak dan istri, tapi tidak mempertanggungjawabkannya dengan baik sebagaimana seharusnya. Gu Yuena membenci orang seperti itu.


Gu Yuena melemparkan jarum pencari jiwa ke arah pria itu, lalu didukung oleh sinar merah yang menambah kekuatan jarum. Ye Suanwu semakin tak karuan ketika menerima rasa sakit dan ketidakberdayaan.


"Aku berubah pikiran. Jiwamu tidak pantas mendapat penghormatan dalam tulang iblis untuk membangkitkan ayahku. Itu adalah noda." Ia berniat menghancurkan jiwa Ye Suanwu berkeping-keping.


Gu Yueli yang melihatnya semakin lemas. Gu Yuena membalaskan semua yang dilakukan Ye Suanwu, bagaimana dengan dirinya? Gu Yueli tidak memperlakukan Gu Yuena dengan baik dan merebut segala yang dimilikinya. Ia pasti tidak akan dilepaskan.


Namun, bukan berarti ia akan menyerah melindungi anaknya. Meski harus mati, ia tetap harus melindungi anaknya. Hanya mereka satu-satunya harapan.


"Bukankah sangat menyedihkan?" Gu Yuena menoleh ke arah Gu Yueli. "Kamu kehilangan segalanya. Usahamu selama bertahun-tahun telah sia-sia."


Gu Yueli menatapnya dengan rasa takut yang ditekan. Ia memberanikan diri menatap iris merah yang sudah seperti iblis itu, lalu berkata, "Permintaanku masih sama."


"Apa menurutmu aku akan mengabulkan?" Gu Yuena menolak menyisakan seseorang, demi tidak ada dendam yang tersisa. Ia membunuh banyak orang hari ini, jika menyisakan satu orang, sama saja menambah musuh.


"Kau tidak akan sekejam itu." Gu Yueli berusaha meyakinkan Gu Yuena. "Kau bisa memperlakukanku sesukamu atau membunuhku, tapi lepaskan mereka."


Gu Yuena mendekat ke arah Gu Yueli, lalu mendengus, "Kau memohon pada seseorang yang membunuh anaknya sendiri? Lelucon macam apa itu?"


"Kau tidak melakukannya. Kau tidak memiliki keberanian itu. Aku melihatnya dari matamu."


Gu Yuena terdiam. Apa begitu terlihat? Ia sudah sebisa mungkin untuk terlihat kejam dan tak berperasaan, bagaimana Gu Yueli bisa berkata seperti itu?


Jelas-jelas Gu Yuena sangat yakin tidak akan menyisakan satu pun.


Gu Yueli terkekeh, merasa sudah sangat putus asa. "Jangan bohongi dirimu sendiri. Ketika melihat Ye Junwu, ada penyesalan di matamu. Gu Yuena, kamu tetap hanya manusia biasa yang penuh ketakutan."


"Sangat lucu mendengarnya dari mulutmu sendiri."


"Aku memang bukan orang baik dan telah melakukan hal bodoh sepanjang hidup, kau bisa membunuhku. Aku hanya ingin kau melepaskan Ye Mi dan Ye Junwu, apa pun bayarannya. Gu Yuena, ada saatnya kau akan tahu mengapa aku sangat melindungi mereka."


Gu Yuena memandangnya cukup lama. Pandangannya terarah pada Ye Mi yang ketakutan.


Apa itu ... tatapannya saat ia dihadapkan oleh kabut hitam yang membunuh keluarganya? Sangat menyedihkan.


Pikiran Gu Yuena kosong untuk beberapa waktu. Iblis hati dalam segel membisikinya untuk membunuh dengan mengatakan kata 'bunuh' berkali-kali. Ia merasa terganggu.


Melihat lagi ke arah Gu Yueli yang memeluk Ye Junwu bayi di pelukannya, ada perasaan aneh dalam hati Gu Yuena. Perasaan itu menyebalkan. Mengingatkannya tentang bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang ia jaga sepenuh hati dalam dirinya.


Gu Yuena menjauh, membelakangi mereka untuk kembali ke tempat di mana tulang iblis ia tinggalkan. Mempercepat proses penyerapan tulang iblis, lalu mengakhiri malapetaka.


Awan di langit kini kembali menjadi biru setelah energi tulang iblis ditarik. Ada banyak bau darah di sekitar, beserta mayat yang berserakan. Namun, mayat-mayat itu berubah menjadi abu dan menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.


Mereka telah mengikat kontrak kesetiaan pada Aula Linghun. Ketika mati, akan menjadi makhluk kematian. Terlepas dari tragedi Dunia Bawah, semakin banyak kematian, semakin banyak makhluk kematian terlahir. Tapi Gu Yuena tidak peduli akan hal itu.


Gu Yueli yang sebelumnya merasa putus harapan dan bersiap untuk mati, menjadi bingung sejenak. Ia melihat Gu Yuena yang menyimpan kembali tulang iblis.


Gu Yuena melihatnya, lalu berkata dengan tegas, "Mungkin kau benar. Tapi, ada beberapa hal yang salah, kau tidak mengenalku dengan baik. Gu Yueli, aku tetap akan membencimu, membiarkanmu hidup dalam keputus asaan."


Gu Yueli sedikit tersenyum, lalu membungkuk di depan Gu Yuena. "Terima kasih."


Gu Yuena memalingkan wajah. "Pergilah, jangan sampai aku melihatmu, atau aku akan langsung membunuhmu."


Gu Yueli mengucapkan banyak terima kasih dalam hatinya. Ia pun bergegas pergi bersama putra dan putrinya, keluar dari Klan Ye untuk menempuh hidup baru.


Gu Yuena melihat ke arah pergi Gu Yueli. Masih ada perasaan aneh di hatinya, tapi ia menekannya dengan baik dan menutup mata. Ketika membuka mata, ia sudah berada di pelukan seseorang. Terasa sangat hangat dan menenangkan.


"Kamu bisa melampiaskan emosimu padaku." Bai Youzhe berbisik. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Gu Yuena, tapi ia tahu wanita itu masih sangat sedih dan merasa bersalah. Bai Youzhe sendiri merasa bersalah.


Meski tidak pernah mengatakannya secara langsung, mereka saling paham bahwa ada rasa bersalah yang tersisa akan kehilangan. Waktu memang sudah berlalu, tapi hari itu tetaplah menjadi mimpi buruk. Itu sebabnya, tidak ada yang mengungkitnya.


"Youzhe, boleh aku bertanya sesuatu?" Gu Yuena tiba-tiba bertanya.


Gu Yuena diam memikirkannya lagi. Ia ragu. Lebih baik tidak menanyakannya. Ia pun mengganti pertanyaannya dengan yang lebih santai, "Kau akan pergi setelah ini?"


Bai Youzhe menarik sudut bibirnya. "Jika kamu berkata aku harus tetap bersamamu, aku tidak akan pergi."


"Lebih baik kau kembali ke istana, aku baik-baik saja."


Di luar harapan Bai Youzhe, Gu Yuena malah memintanya pergi. Padahal ia mengharapkan Gu Yuena tetap ingin bersamanya sampai tiba di Istana Linghun. Kalaupun Gu Yuena tidak ingin berpisah meski telah memasuki Istana Linghun, Bai Youzhe dengan senang hati mengikutinya.


"Apa kamu tidak merindukanku?" Bai Youzhe bicara dengan nada menyedihkan.


Gu Yuena melepas pelukan, menatap mata kasihan itu. Ada rasa kesal di hatinya, tapi akting Bai Youzhe sangat mendalami sampai Gu Yuena tidak tega menggertaknya.


Wanita itu pun menghela napas, "Bukan seperti yang kau pikirkan." Apa yang sedang aku katakan? Gu Yuena merasa otaknya sudah rusak melayani akting Bai Youzhe. Tapi ia tidak bisa berhenti berkata, "Aku hanya berpikir perjalanannya sudah tidak terlalu jauh. Ibu Kota sudah di depan mata, aku juga harus bertemu orang Istana Linghun untuk mengantarku."


"Kalau begitu, aku akan mengantarmu. Aku tidak bisa menjamin kau tidak akan jatuh ke posisi seperti sebelumnya." Bai Youzhe tersenyum penuh kemenangan.


Gu Yuena termenung melihatnya, merasa ada yang salah. Pria tertentu ternyata memang sudah berencana mengikutinya sejak awal. Percuma saja Gu Yuena mengusir. Dia hanya sedang menggoda Gu Yuena.


Memikirkan itu membuatnya kesal.


Ia diperdaya berkali-kali.


Orang licik ini ....


Gu Yuena tidak ingin berdebat lama yang pada akhirnya akan dipermalukan. Ia langsung pergi ke Ibu Kota melalui jalur udara. Bai Youzhe mengikuti di sisinya.


Melihat pria yang terbang tanpa sayap itu terlihat sangat fokus pada perjalanan, Gu Yuena merasa itu lebih baik. Setidaknya ada saat di mana Bai Youzhe akan bersikap serius dan menyebalkan. Dia selalu tahu waktu.


Sampai di Ibu Kota Yi di mana Istana Kekaisaran berada. Gu Yuena telah menghubungi orang Istana Linghun sebelumnya. Mereka baru akan datang besok karena perjalanan panjang. Gu Yuena tidak bisa langsung datang ke Istana Linghun karena memiliki pembatas khusus. Ia bahkan tidak memiliki akses keluar masuk sembarangan.


Ada sebuah kunci untuk membuka pembatas tersebut yang sedang dibawakan para penyihir. Kunci itu hanya satu, yang membuat Istana Linghun semakin tertutup setiap saatnya.


Andai kata kunci itu hilang, itu bukanlah masalah besar. Li Hua bisa membuatnya lagi, karena pembatas itu adalah buatannya sendiri. Ia bisa keluar-masuk dengan bebas.


Gu Yuena jadi harus memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari tempat itu setelah memutuskan hubungan nanti. Li Hua tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.


Bai Youzhe menemukan penjual topeng lucu yang digunakan untuk meramaikan festival. Topeng yang lucu untuk Gu Yuena yang imut, pikirnya. Ia pun membeli satu, lalu memakaikannya langsung pada Gu Yuena yang sedang melamun.


Gu Yuena terkejut sesuatu ditempelkan ke wajahnya. Ia menyentuh topeng itu, seperti bentuk kucing. Ada saja yang dilakukan Bai Youzhe.


Bai Youzhe berkata, "Kucing-ku terlihat imut menggunakannya."


Gu Yuena cemberut. "Siapa yang kucing?" Aku phoenix!


Bai Youzhe terkekeh. Dia juga membeli satu untuk dirinya sendiri. Topeng berbentuk serigala hitam. Dia tersenyum mengejek ke arah Gu Yuena.


Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia hanya menunjukkan tawa singkat serta memberi tatapan seolah berkata "kau bodoh" sebelum akhirnya pergi bersama topeng kucing di wajahnya.


Ibu Kota sedang merayakan imlek, ada banyak pameran dan bazar di sekitar yang membuat Gu Yuena tertarik. Sudah lama tidak ke Ibu Kota sejak kehancuran Adipati Gu. Ibu Kota jauh lebih baik dari 6 tahun yang lalu.


Ada banyak bangsawan yang ikut merayakan. Bai Youzhe memberitahu beberapa dari mereka yang ia kenal, sedangkan Gu Yuena hanya mengangguk-angguk sambil makan keripik. Pria itu membelikan beberapa barang dan camilan untuk Gu Yuena yang suka bersenang-senang.


Kebetulan Gu Yuena bertemu Jin Xiao lagi setelah berpisah beberapa waktu lalu. Wanita itu langsung mengenali Gu Yuena, lalu memperhatikan dengan teliti saat baru bertemu.


Topeng kucing yang sudah seperti anak-anak itu membuat Gu Yuena terlihat imut. Ia tidak akan percaya kalau itu Gu Yuena jika tidak melihatnya secara langsung. Satu hal lagi yang membuatnya terkejut; kehadiran Bai Youzhe yang mengikuti Gu Yuena menjadi sorotan.


Jika bukan karena topeng serigala hitam itu, dikhawatirkan akan ada banyak wanita pemburu pria yang mengerumuninya. Jin Xiao tidak bisa tidak bertindak sopan dan memberi salam ketika melihat pria itu.


Sangat berbeda ketika memperlakukan Gu Yuena.


Gu Yuena yang sejak tadi memperhatikan pun mendengus, "Jin Xiao, kau sangat menghormati Bai Youzhe, tapi begitu kasar padaku." Gu Yuena memasang wajah keberatan. Bagaimanapun ia juga seorang Ratu di Dunia Bawah.


"Gu Yuena, bukankah kita sangat dekat? Bersama teman, tidak perlu ada rasa sungkan." Jin Xiao tersenyum. Tapi matanya menunjukkan rasa jengkel. Ia sepertinya mimpi sial semalam sampai harus bertemu Gu Yuena lagi.


Gu Yuena tertawa singkat, tawa yang tidak ikhlas sampai tidak ada yang melihatnya tersenyum dengan benar. Dia sedang kesal. Bai Youzhe yang melihat tingkah kekanakan wanita itu merasa gemas dan ingin menerkamnya. Nana-nya sangat imut.


"Aku ingat beberapa waktu lalu ada yang berkata aku tidak dibutuhkan. Sekarang, siapa yang membutuhkan siapa sampai membujukku untuk ikut dalam perjalanan." Gu Yuena menyindir ajakan Jin Xiao saat itu.


Jin Xiao dibuat terdiam. Kenapa harus mengungkitnya di depan Bai Youzhe? Itu membuatnya malu!


"Gu Yuena, aku hanya bercanda saat itu. Kita sudah lama tidak bertemu, melihatmu sendirian di tanah tandus, aku merasa kasihan." Ia harus menjaga wajah di depan Bai Youzhe, jangan mempermalukan istana dan menjadi bahan tertawaan istana lain.


"Aku memang kasihan, sih." Gu Yuena berdecak, lalu merangkul Jin Xiao begitu saja sebelum berkata, "Tapi kau lebih kasihan. Berapa banyak sumber daya yang kau buang di Klan Ye? Lebih baik berikan padaku, aku akan menjaganya dengan baik."


Jin Xiao menatapnya tajam, lalu tersenyum paksa. "Gu Yuena, kau sangat baik hati memikirkan Istana Luye."


"Sepertinya kau tidak tahu. Beberapa waktu lalu, Klan Ye sudah tinggal nama."


Senyum Jin Xiao membeku. Ia menatap Gu Yuena dengan serius. "Jangan bicara sembarangan."


"Aku sudah memperingati." Gu Yuena menghela napas. "Orang yang bekerja untuk Aula Linghun tidak memiliki akhir baik. Aku tahu lebih dari siapa pun."


Jin Xiao jadi berpikir yang tidak-tidak terhadap Gu Yuena. Tidak mungkin Gu Yuena menghancurkan mereka, kan? Aula Linghun dan Istana Linghun sama, tapi juga berbeda. Gu Yuena terlihat tidak menyukai Aula Linghun. Jika benar, Klan Ye pasti dihancurkan oleh Istana Linghun.


Hanya saja, dia tidak habis pikir. Klan Ye ternyata adalah antek Aula Linghun. "Kenapa aku harus mempercayaimu?"


"Karena aku adalah Putri Istana Linghun." Gu Yuena tidak menunjukkan secara langsung kalau ia telah membuat Klan Ye menghilang dalam waktu singkat. Bisa-bisa Jin Xiao pingsan sekarang.


Jin Xiao terlihat kalang kabut. Ia melihat Gu Yuena dengan waspada, lalu melepas rangkulan wanita itu. Ia membisikkan sesuatu pada pelayannya untuk menangani masalah Klan Ye.


Setelah membiarkan pelayannya pergi, Jin Xiao melihat ke arah Gu Yuena, "Aku tidak tahu apa tujuanmu memberitahuku, tapi Ratu ini mengucapkan terima kasih." Pandangannya terarah pada Bai Youzhe yang sejak tadi hanya diam. "Yang Mulia Raja Bai, kau mungkin sudah tahu lebih awal. Namun, aku penasaran apa yang akan kalian lakukan. Pengaruh Klan Ye sangat besar. Kehancuran mereka akan membuat banyak perubahan di Dataran Mitian. Itu mengartikan bahwa Aula Linghun telah memasuki berbagai faksi di dunia."


Bai Youzhe melirik Gu Yuena. Perubahan apanya? Gu Yuena menghancurkannya, bahkan Aula Linghun tidak bisa melakukan apa pun terhadapnya. Meskipun pengaruh Klan Ye telah mendunia, itu tidak ada hubungan dengannya.


Gu Yuena menghilangkan semuanya, maka masalah hilang. Klan Ye benar-benar hilang. Paling-paling hanya membawa masalah bagi mereka yang memiliki hubungan dengan Klan Ye. Istana Tianshuang tidak terpengaruh.


"Apa aku harus memperhatikan beberapa tikus kecil?" Bai Youzhe menyahut dengan cuek.


Jin Xiao mempertahankan wajahnya meski hatinya jatuh dan hanyut. Istana Tianshuang tidak memiliki hubungan dengan Klan Ye, mereka tidak peduli apa Klan Ye merajalela atau menghilang sekalipun. Ia salah bertanya.


Sebenarnya, pasangan itu sedang menekannya saat ini. Jin Xiao tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Harga dirinya tinggi, jelas tidak akan merendah terlalu rendah apalagi mengakui kesalahan. Toh, dia tidak bersalah. Dia hanya salah mengajak bicara orang-orang menyebalkan ini. Seharusnya dia pergi dibandingkan memastikan apa itu Gu Yuena atau tidak.


Hubungannya dengan Istana Tianshuang tidak boleh semakin canggung. Jin Xiao hanya bisa mengakhiri pertemuan tidak menyenangkan ini.


"Karena sepertinya Raja Bai dan Nona Gu sedang sibuk, Ratu ini tidak mengganggu lebih lama." Jin Xiao tetap pada penampilan terbaik dan buru-buru pergi.


Gu Yuena justru menegurnya. "Hei, apa kau akan pergi begitu saja tanpa bicara sebentar?"


Bicara sebentar? Jin Xiao merasa akan muntah darah dan mati lebih cepat. Mereka sudah bicara cukup lama, bahkan menekannya sampai tidak bisa menunjukan wajah. Jin Xiao hanya melemparkan senyum terbaik sebelum akhirnya berkata, "Nona Gu, Ratu ini tidak ingin mengganggu dan masih ada hal yang harus dilakukan." Ia pun pergi terburu-buru.


Citranya sebagai ratu hancur!


Gu Yuea yang melihat kepergiannya menunjukkan senyum mengejek. Matanya bertemu dengan Bai Youzhe. Pria ini sangat cuek dan dingin pada orang lain, bahkan tidak memberi wajah pada Jin Xiao. Jika bukan karena sahutan Bai Youzhe barusan, Jin Xiao mungkin masih beradu argumen dengan Gu Yuena. Jin Xiao benar-benar tertekan kali ini.


"Hah, kasihan sekali bocah itu." Gu Yuena tertawa, merasa sangat senang. Jin Xiao sangat mudah terprovokasi, dia jadi sangat suka menjahilinya.


"Lain kali harus membuatnya lebih kasihan." Bai Youzhe mencibir. Berani sekali mengatai calon istrinya adalah orang yang tidak diinginkan. Buktinya, ia sangat menginginkan Gu Yuena dan sangat membutuhkannya.


Gu Yuena melihat Bai Youzhe yang sepertinya memiliki pemikiran buruk. Pupil merahnya menjadi waspada.


"Jangan macam-macam." Meski hubungan Gu Yuena dan Jin Xiao seperti anjing dan kucing, tetap saja keduanya tidak ada niat membunuh atau kebencian yang nyata. Mereka hanya saling tidak suka, itu saja.