Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
23. Gunung Huo



Ujian kedua telah dilaksanakan sejak setengah jam sebelumnya. Tapi Gu Yuena masih menunggu sambil tidur berdiri di antara kerumunan. Saking lamanya ia menunggu dipanggil, sampai harus mengandalkan Xiao Hei untuk membangunkannya jika nomornya disebut.


Arena masih ramai akan peserta yang bertarung bergantian. Sejauh ini peserta yang bertarung hanyalah peserta biasa tanpa sesuatu yang mencolok, pertandingan jadi terkesan membosankan.


Namun untuk peserta dengan popularitas tinggi, pertandingan mereka selalu diminati dan mendapat sorakan semangat dari penonton. Mereka seolah sedang menonton konser.


"Nomor 192 dan nomor 267!" Petugas mengumumkan nomor berikutnya dengan keras. Semua orang langsung bersorak begitu mendengar nomor pertama yang diumukkan.


"Feng Wu! Feng Wu! Feng Wu!"


Para peserta itu bersorak menyebut nama peserta 192 tersebut. Pasalnya Feng Wu adalah putra perdana menteri yang terkenal akan kekuatannya. Sangat wajar jika dia memiliki banyak penggemar.


Pria berbadan besar dan berotot seperti babon itu berjalan ke atas arena. Ia menunjukkan otot tangannya yang besar dan bergerak-gerak dengan bangga. Meski wajahnya tidak terlalu tampan, ia tetap dapat membuat beberapa wanita tergerak.


Xiao Hei yang melihatnya hanya bisa memutar bola mata. "Nona, bangunlah. Sudah saatnya untuk menyelesaikan ujian."


Gu Yuena membuka mata. Ia terlihat linglung untuk sesaat, kemudian mengangguk setelah mencerna ucapan Xiao Hei. Ia sangat mengantuk.


Pandangannya terarah pada pria besar di atas arena yang sedang membanggakan diri. "Aku harap dia tidak mengecewakan."


Di saat semua orang sedang bertanya-tanya siapa itu peserta nomor 267, pemuda dengan fitur halus yang membuatnya terlihat cantik berjalan ke aras arena. Tubuhnya yang kurus dan kecil membuatnya tenggelam akan besarnya lawan di depan.


Para peserta tertawa melihat perbedaan yang nyata itu. Sudah jelas siapa yang akan menang.


"Rupanya seorang bocah, pantas saja sangat lama naik arena. Pasti dia sedang sangat ketakutan melihat Feng Wu!"


"Ah, sayang sekali jika dia harus dikalahkan. Nasibnya tidak beruntung bertemu Feng Wu."


"Ya, Feng Wu selalu mematahkan lawannya dengan mudah. Kebanyakan lawannya selalu berakhir buruk. Lihatlah bocah itu, masih sangat muda dan harus menerima kenyataan tulang yang akan dipatahkan."


"Pasti dia sedang menangis di dalam hati."


Mereka semua mengasihani lelaki mungil di atas arena karena telah mendapat lawan yang salah. Sedangkan Xiao Hei di antara penonton terus mengeong memarahi mereka yang memandang rendah nonanya.


"Miaw, nonaku yang terbaik, nonaku tidak akan kalah! Miaw!"


Feng Wu di atas arena mendengus melihat bocah lelaki di depannya. "Adik kecil, masih tidak terlambat untuk menyerah. Selama kamu menyerah, aku tidak akan memaksa mematahkan tubuh renyahmu itu."


Gu Yuena memasang senyum tipis. "Kakak, mohon arahannya." Kedua tangannya memunculkan api yang berkobar, tanda ia tidak menyerah dan siap bertarung.


Feng Wu mendengus. "Kalau begitu, jangan salahkan aku bertindak kasar!"


Petugas memberi isyarat bahwa pertandingan dimulai. Tepat setelahnya, Feng Wu mengeluarkan palu besar di tangannya, kemudian berlari mendekati Gu Yuena dengan langkah lebar.


Aksinya persis membuat semua orang berpikir bahwa palu besar itu akan membuat seorang pemuda mungil melayang di udara seperti layangan lepas.


Tapi sayangnya, ekspektasi mereka berlebihan.


Pemuda kecil yang mereka anggap akan melayang di udara, mengambil manafaat tubuh kecilnya untuk menghindari palu tersebut, kemudian merosot di antara kakinya begitu saja.


Tangan lelaki kecil itu diangkat ketika sampai di punggung Feng Wu, kemudian mendorong kobaran api di tangannya untuk membakar baju Feng Wu. Feng Wu terkejut dan tidak fokus saat itu juga.


Gerakan Feng Wu yang lambat memberi keuntungan bagi Gu Yuena. Karena kemungkinan membakar baju seseorang tidak akan sepenuhnya berhasil, ia pun menarik apinya dan memilih meluncurkan tinju tepat ke wajah Feng Wu.


Feng Wu tidak sempat bereaksi karena lawan yang terlalu cepat. Wajahnya terkena tinju yang begitu keras begitu saja, membuat palunya diayunkan secara acak.


Serangan palu itu tidak mengganggu Gu Yuena. Gu Yuena menggunakan palu tersebut sebagai batu loncatan untuk mendekat dan memberi pukulan tepat ke tengkuk Feng Wu agar pingsan.


Tanpa banyak usaha, Gu Yuena menang.


"Nomor 267 menang!"


Menang?


Beberapa bersorak disertai kebingungan yang hakiki. Mereka tidak akan menyangka seorang anak yang terlihat lemah dapat memaksimalkan banyak kesempatan untuk mengalahkan lawan yang ukurannya lebih besar.


Selain memanfaatkan lawan yang meremehkannya, hanya mengandalkan sedikit trik pengalihan perhatian dan memberi pukulan fisik dengan kecepatan luar biasa sudah cukup membuat beberapa dari mereka puas melihat jatuhnya Feng Wu yang angkuh itu.


Sayangnya, Gu Yuena turun dari arena dengan perasaan kecewa.


Ia membawa Xiao Hei kembali ke pelukannya, kemudian menghela napas. Lawan yang ia dapat kali ini bukannya tidak kuat, melainkan sangat bodoh. Sama seperti idiot di penginapan hari itu. Tanpa api, ia sudah bisa menjatuhkannya. Pria itu hanya menang ukuran badan dan otot.


Jika saja Feng Wu dapat memaksimalkan kekuatannya dan teknik palu, Gu Yuena pasti tidak akan bisa mengalahkannya dalam waktu singkat. Apalagi mereka memiliki tingkat kekuatan yang sama.


Xiao Hei di pelukan Gu Yuena mengeong dengan gembira. "Nona yang terbaik! Miaw!"


"Aku mengantuk. Kita pulang sekarang, besok baru melihat hasil akhir dan pergi ke Akademi Yuansu." Gu Yuena berkata dengan malas. Ia terlalu bosan dan ingin tidur saja.


"Miaw~"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di hari berikutnya, Gu Yuena telah mempersiapkan semua barang yang diperlukan. Karena menyamar sebagai pria, ia tidak membawa gaun, melainkan beberapa pakaian pria yang baru dibeli dari toko. Tidak lupa juga melilit tubuhnya dengan kain agar terlihat datar seperti laki-laki.


Chu Xin hanya melihat di sudut dalam diam. Nonanya ini benar-benar ingin tampil beda.


Gu Yuena melirik Chu Xin yang sejak tadi hanya diam. "Aku tidak akan membawamu ke akademi, jadi bisakah kamu tinggal sendiri? Tidak ada banyak pelayan di sini, kamu mungkin akan kesepian."


Chu Xin mengangguk cepat. "Nona tenang saja, Chu Xin tidak masalah. Bukankah Nona akan kembali tahun depan saat liburan?"


"Mungkin." Gu Yuena tidak yakin. Tapi untuk saat ini, mungkin saja bisa pulang jika tidak ada masalah.


Setelah menyelesaikan semua persiapan yang dibantu Chu Xin, Gu Yuena pun pergi.


Ketika pergi, ia masih menggunakan gaun sebagai 'Gu Yuena' agar tidak terlalu mengejutkan ayahnya. Gu Yuan sudah pergi ke Akademi Yinyang sejak kemarin, jadi tidak perlu memberitahu bahwa ia menyamar sebagai laki-laki di akademi.


Ia pun berpamitan pada ayahnya, kemudian pergi diantar Chu Xin. Sebelum benar-benar datang ke gedung pendaftaran untuk berkumpul, Gu Yuena pergi ke pemandian umum terlebih dahulu untuk menyamar sebagai laki-laki. Tak lupa juga mengikat rambutnya ke atas dan menyerahkan pakaiannya pada Chu Xin.


"Nona, hati-hati!" Chu Xin melambaikan tangan pada Gu Yuena.


Gu Yuena melambaikan tangan balik, lalu berlari ke tempat berkumpulnya para murid baru. Tidak lupa juga membawa Xiao Hei yang ikut dengannya.


Bagian halaman gedung pendaftaran kini dipenuhi dengan murid baru yang lulus seleksi. Kali ini, tiap divisi tidak lagi dipisah untuk melakukan perjalanan ke Akademi Yuansu.


Karena sibuk mengganti pakaian barusan, Gu Yuena datang bertepatan ketika petugas tengah menginstruksikan aturan untuk menerima identitas murid Akademi Yuansu sepenuhnya serta karakteristik penilaian.


Untuk pergi ke Akademi Yuansu sebagai murid secara resmi, masih ada satu ujian terakhir yang harus dilalui para murid. Yang berhasil akan mendapat hadiah, sedangkan yang kalah tidak mengalami apa pun selain masuk akademi sebagai murid biasa.


Ujian kali ini diadakan di Gunung Huo, sebagai lokasi yang harus dilalui para murid baru untuk pergi ke Akademi Yuansu.


Token yang sebelumnya disimpan para murid akan digunakan untuk mengumpulkan energi unsur di dalam tubuh beberapa monster. Semakin banyak unsur yang didapat, semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan nilai tinggi dalam ujian.


Tidak ada aturan khusus dalam ujian. Asalkan tidak bermain curang dengan cara mendapat bantuan orang luar, semua murid dibebaskan menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan energi unsur. Sudah pasti akan ada banyak pertempuran baik dengan monster maupun sesama murid.


Sedangkan Gunung Huo adalah tempat berkumpulnya monster yang dibudidayakan oleh Akademi Yuansu. Sebenarnya monster yang dibudiayakan Akademi Yuansu hanya ada di lapisan luar. Semakin dalam memasuki gunung, maka semakin berbahaya monster yang dihadapi. Oleh sebab itu, para murid baru dilarang melewati bagian yang ditandai ketika melintasi hutan.


Aturan yang sederhana, namun berbahaya.


Bahkan tidak ada larangan saling membunuh.


Dikatakan ada banyak murid yang mati baik diserang monster maupun terjebak ketika melewati batas yang ditandai Akademi Yuansu. Beritanya tahun lalu juga ada yang mati dibunuh murid lain. Selama ujian, sepenuhnya menerapkan hukum rimba.


Itu bukan hal rumit bagi Gu Yuena. Hanya saja, para murid baru sudah pasti diawasi. Ia masih tidak bisa menggunakan sihir untuk mempermudah urusannya. Maka dari itu, hanya bisa mengandalkan kekuatan yang ia bawa dari masa lalu.


"Tak apa, anggap hanya latihan." Gu Yuena menghela napas panjang.


Serasa kembali ke masa lalu ketika memasuki organisasi.


Array teleportasi aktif tatkala waktunya tiba. Tanah yang mereka pijak menyala, menarik tubuh mereka dengan sinar dan menghilang ke tempat tujuan.


Masing-masing disebar ke wilayah berbeda di sekitar Gunung Huo, baik di tempat aman maupun berbahaya akan serangan monster. Mereka berpencar dan harus bertahan sendiri di dalam hutan, atau sampai mereka menemukan rekan untuk bekerja sama.


Gu Yuena tiba di tempat yang begitu sepi. Pohon-pohon besar menjulang tinggi dan menyatukan daun satu sama lain sehingga sedikit sinar matahari yang masuk. Tanah yang dipijaknya terasa hangat, berbeda dari udara sejuk di sekitar.


Xiao Hei mengendus-endus udara, kemudian mengeong memberitahu sesuatu. "Nona, kamu tidak beruntung berada di tempat yang jauh dari energi unsur."


"Itu juga bagus. Tidak akan ada yang mengganggu jalan-jalan pagiku." Gu Yuena menanggapinya dengan enteng sambil melangkahkan kaki. Ia hanya perlu menemukan petunjuk, kemudian pergi ke akademi lebih cepat.


"Tapi Nona, apa kau tidak menginginkan hadiah?"


"Paling hanya bongkahan kristal, sama sekali tidak berguna untukku."


"Bagaimana jika itu adalah barang berharga lainnya? Apa pun hadiahnya, bukankah sangat bagus bila memilikinya?"


Gu Yuena tetap memasang tampang tidak tertarik. "Aku tidak seambisi itu. Yang terpenting adalah pergi ke Perpustakaan Yuansu untuk menemukan buku tentang  pelatihan penyihir. Sisanya tidak penting."


Lagi pula ia tidak akan hidup lebih dari 20 tahun, sedangkan sisa waktunya hanya 3 tahun. Jangan membuang waktu dan cepat mencari Istana Linghun untuk menemukan jawaban.


Melihat hutan rimbun dan berbeda dari dunianya dulu, ia jadi penasaran bagaimana kekuatan monster dunia ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bayangan hitam melintas di atas gerbang besar bertuliskan 'Klan Luo' seperti hembusan angin tanpa suara yang bergerak. Sosok itu tidak berhenti melesat ke sebuah tempat yang tampak sepi.


Klan Luo tidak selalu sepi, tapi ada salah satu tempat yang selalu sepi setiap saat seolah tidak memiliki penghuni. Jika tidak ada nona tertentu yang bolak-balik untuk mencari perhatian, semua orang akan berpikir bahwa paviliun itu adalah rumah kosong.


Namun saat itu, sosok bayangan memasuki halaman dan menyelinap ke dalam jendela yang sedikit terbuka. Ruangan terang yang dipenuhi dengan buku menjadi pemandangan yang pertama kali dilihat.


Bayangan itu mendarat dan menunjukkan sosok di baliknya begitu kabut menyusut. Tampak seorang gadis berlutut dengan kepala tertunduk serta salah satu tangan yang disandarkan di dada.


"Tuan Muda." Gadis itu memberi salam dengan suara tegap. Ia mendongak, menunjukkan wajah cantiknya.


Pria yang ia panggil 'Tuan Muda' sedikit menoleh ke belakang untuk melihatnya, kemudian menutup buku di tangannya sembari beranjak dari kursi.


"Laporkan semuanya padaku." Pria itu berkata dengan tenang sambil meletakkan buku di tangannya ke rak.


"Lapor Tuan Muda, selama ini Nona Gu telah berkultivasi diam-diam dan menyingkirkan Gu Yueli ke Klan Ye lebih cepat. Ketika ketahuan, Nona Gu mengungkapkan semua yang terjadi dan sedikit melibatkan Tuan Muda secara tidak langsung. Selama ini Nona Gu yang merencanakan penyingkiran Ting Le dan Gu Yueli, menghasilkan hasil memuaskan. Tidak disangka, Nona Gu memiliki kemampuan seperti itu."


"Ada lagi?"


Gadis itu tersenyum sekilas, kemudian kembali bersikap tegas. "Tuan Muda, Nona Gu memiliki phobia terhadap guntur, mungkin ada hubungannya dengan masa lalu. Aku dengar Nyonya Gu terdahulu, Li Hua, mati diserang monster. Monster itu dibawa oleh Ting Le yang kini telah terungkap kebenarannya. Selain itu, berdasarkan hasil interogasi Jiang Weiwei sebelum eksekusi, monster yang dilepaskan adalah Serigala Guntur yang hidup berkelompok di Pegunungan Utara, jauh dari hutan kekaisaran. Takutnya ada hubungannya dengan makhluk berkabut yang Tuan Muda temui."


Pria itu tidak lain adalah Luo Youzhe. Ia mendengarkan mata-matanya dengan seksama, seolah ada yang dipikirkan.


Pegunungan Utara melibatkan banyak hal. Selain lokasi perang ratusan tahun yang lalu, juga menjadi tempat berdirinya sebuah istana yang kini telah menjadi reruntuhan.


Pada dasarnya, seluruh Pegunungan Utara telah menjadi kuburan dan reruntuhan kuno. Tempat itu dijaga oleh hewan kuno, dengan kekuatan yang tidak dapat ditanggung orang biasa.


Ia melirik gadis itu, lalu berkata, "Kau sudah memeriksa hal yang aku pinta? Sebagai pelayan pribadi Nona Gu, seharusnya kamu bisa mendapatkan lebih banyak."


Gadis itu adalah Chu Xin. Ia diam untuk beberapa saat, tampak ragu mengatakannya. "Semenjak Ting Le menyerang Nona Gu, ada hal lain yang berbeda dari Nona. Selain kekuatannya yang mengalami peningkatan ke tingkat 4 dengan cepat, ada aura lain ...."


Luo Youzhe melihat keraguan Chu Xin dengan jelas. "Katakan saja."


"Ada aura yang sama seperti batu jiwa." Chu Xin menjawab dengan ragu. Hal itu membuat raut Luo Youzhe menjadi dingin, yang membuat Chu Xin merinding seketika. Ia melanjutkan, "Hal ini masih dalam penyelidikan. Tuan Muda, apa perlu aku pergi untuk menyelidikinya?"


"Tidak perlu." Raut pria itu menjadi tenang kembali. "Jika kau datang, dia akan curiga. Gu Yuena sulit ditebak, wajar jika kau tidak menemukan hal lain."


"Tuan Muda, mengapa kau mencurigai Nona Gu? Kediaman Adipati tidak mungkin berhubungan dengan ...." Chu Xin tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat Luo Youzhe yang termenung. Ia pun memilih diam, tidak ingin mengungkit orang-orang itu.


Luo Youzhe tampak memikirkan sesuatu. Ia merasa Gu Yuena tahu banyak, tapi di sisi lain ia juga ragu. Gu Yuena pernah mabuk di depannya, tapi tidak pernah mengungkapkan apa pun selain keluh kesah seperti gadis biasa.


Chu Xin berpikir untuk mengalihkan topik. "Hei Changge berpesan ketika di Assassin Guild, saya, dia, dan Bao Jun akan mengikuti Tuan Muda menjalankan rencana."


"Apa itu perintahnya untuk mengawasiku?" Luo Youzhe berkata dengan dingin.


Chu Xin menunduk dalam-dalam. "Kami adalah bawahan Tuan Muda, hanya menuruti perintah Tuan Muda. Yang di atas hanya memberi perintah untuk melindungi Tuan Muda. Bagaimanapun, perjalanan Tuan Muda semakin berbahaya. Tidak tahu musuh mana lagi yang akan datang."


"Aku mengerti. Kau bisa pergi."


Chu Xin pun pergi sesuai perintah. Sosoknya menjadi kabut hitam dan melesat melalui jendela.


Pada saat yang sama setelah kepergian Chu Xin, pintu terbuka menampakkan sosok gadis cantik dengan hiasan kupu-kupu yang indah di kepalanya. Ia melihat Luo Youzhe yang sok sibuk itu, kemudian menghampiri.


Ia duduk begitu saja di kursi sambil menghela napas. "Kau tidak memberitahuku kalau sudah pulang. Tahu begitu, aku tidak akan menonton pertunjukkan sendiri."


"Kau membuat masalah?" Luo Youzhe menyahut acuh tak acuh sambil mencari buku di rak.


"Bukan aku yang membuat masalah, tapi Luo Zhiyi. Sepanjang hari membuat keributan di aula pendaftaran murid baru, benar-benar merepotkan. Bahkan mencoba bersaing denganku dalam hal tempur. Jika aku menyakitinya, takutnya dia akan menangis dan mengadu, membuatku dihukum Ketua Klan atas kesalahannya sendiri." Ia berdecak sebal dan menopang dagunya di atas meja. "Kakak Luo Yi telah pergi, aku sendirian tanpa dukungan. Kau bahkan lebih tidak peduli semenjak tidur dengan seseorang."


Luo Youzhe berbalik melihat gadis itu dengan terkejut. Bagaimana temannya itu bisa tahu?


"Jangan heran seperti itu, mata-mataku sangat banyak." Gadis itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seperti melihat lelucon besar. Itu membuat Luo Youzhe muram ketika menghampirinya.


"Berhenti tertawa." Luo Youzhe melempar buku di tangannya ke arah gadis itu dengan sebal.


"Aku Su Churan, tidak mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dunia. Kupu-kupu mengatakan bahwa kau berada di kamar yang sama dengan seorang gadis ketika sedang menyelidiki Klan Ye. Siapa sangka, bukannya mendapat informasi, malah dilecehkan seorang gadis mabuk. Benar-benar memalukan!"


"Kau berkata seolah tahu kebenarannya." Luo Youzhe memutar bola mata.


"Hei, memangnya kau mendapat hasil apa di sana? Aku sampai terkejut ternyata kau orang yang seperti itu. Benar-benar tidak bisa dipercaya." Su Churan melihat Luo Youzhe seolah sedang melihat orang mesum. Benar-benar menjengkelkan.


"Terserah bagaimana penilaianmu, aku tidak peduli." Luo Youzhe kembali membuka bukunya untuk dibaca, tidak mempedulikan ocehan Su Churan yang berisik.


"Kau tidak mengkonfirmasi juga tidak menyangkal. Luo Youzhe, jika aku mengadukannya pada Ketua Klan, kau mungkin akan mati!"


"Aku akan pergi." Luo Youzhe mengalihkan.


"Hah?"


"Akademi Yuansu," lanjut Luo Youzhe.


"Kau bercanda?" Su Churan terkejut. Luo Youzhe telah belajar di Akademi Yinyang selama beberapa tahun, kenapa sekarang malah pergi ke akademi lain?


"Ini tugas."


Su Churan mendengus. "Pada akhirnya tidak ada yang bisa mengajarimu apa pun. Bahkan jika Raja Istana Yuansu mengambilmu sebagai murid, aku rasa itu juga sia-sia. Kau tidak bisa mempelajari apa pun."


Luo Youzhe diam untuk beberapa saat. Kepalanya terasa sangat penuh dengan berbagai masalah bercabang dan tiada habisnya. Ia pun menghela napas, membuat Su Churan juga harus menghela napas.


Tapi Su Churan langsung merasa ada yang salah. "Kenapa kau menghela napas?"


"Kau sendiri?"


"Aku menghela napas karna lelah melihatmu." Lebih tepatnya merasa kasihan.


"Seharusnya aku yang mengasihanimu. Jangan lihat aku seperti itu." Luo Youzhe tidak suka bila ada seseorang yang memandangnya dengan prihatin. Itu membebaninya.


Su Churan pun mencai topik lain agar tidak membuat Luo Youzhe merasa jatuh. Ia pun memasang senyum misterius, kembali ke topik sebelumnya. "Jadi ... kau akan bertanggung jawab atas gadis itu?"


"Kenapa aku harus bertanggung jawab? Aku tidak melakukan apa pun."


Su Churan mendengus. "Hei, kau tidur dengannya!"


"Hanya tidur. Berbaring dan memasuki alam mimpi, bukan seperti 'tidur' yang kau pikirkan."


Senyum Su Churan membeku. Apa Luo Youzhe sedang bercanda? Jelas-jelas kupu-kupu mengatakan bahwa gadis mabuk itu menanggalan pakaiannya. Bagaimana bisa ....


Apa temannya ini masih normal!


"Jangan lihat aku seperti itu, aku masih normal." Luo Youzhe mencibir dalam hati. Jika Su Churan bukan perempuan, maka ia sudah melempar orang itu dari klan.


"Youzhe, sebenarnya apa yang terjadi? Kupu-kupu berkata—"


"Sampai mana kupu-kupumu melihat?"


"Sampai ... kau dilecehkan." Su Churan berkata dengan ragu. Ia mengangkat kedua tangannya dan menyatukan kelima ujung jari tangan untuk saling ditempelkan di kedua tangannya seperti gambaran seseorang yang berciuman. "Sampai situ."


Luo Youzhe menghela napas. Hal yang tidak dilihat secara keseluruhan memang membuat salah paham.


Saat itu Luo Youzhe merasa ada yang aneh pada Gu Yuena ketika berciuman dengannya. Ia merasa ada sesuatu yang menarik pikirannya, dan membuatnya tergoda untuk melakukan hubungan yang lebih dalam.


Tapi ketika ia melihat lencana identitas di kantung pakaian Gu Yuena yang jatuh, ia langsung tahu siapa gadis yang mengaku sebagai 'Nana' itu.


Nona Keempat Kediaman Adipati, adik Gu Yuan, Gu Yuena, mana mungkin ia bisa menyentuhnya sembarangan. Apalagi Luo Youzhe juga bukan pria brengsek seperti di luar sana, ia pun menekan niat liar tersebut dalam hatinya.


Masalahnya sesuatu yang menarik pikriannya itu terus mengganggu. Jika bukan karena Gu Yuena tak sadarkan diri karena mabuk, ia mungkin tidak bisa berhenti.


Karena demikian, ia hanya bisa mencari ide alternatif agar bisa menyelidiki Gu Yuena lebih jauh. Ketertarikan tidak normal itu adalah misteri, dan itulah alasan ia menipu Gu Yuena dan mengirim Chu Xin padanya. Meski pada akhirnya mereka berdua memang tidur bersama—tapi bukan 'tidur' yang 'itu'.


Biarlah orang lain berfantasi sendirian.


Ia juga tidak mungkin menjelaskannya susah payah pada Su Churan. Karena itu tidak penting dan tidak perlu diluruskan.


"Lain kali, biasakan untuk melihat secara menyeluruh. Jangan setengah-setengah." Luo Youzhe mengingatkan tanpa menjelaskan apa pun.


"Memangnya apa yang terjadi?" Su Churan memasang wajah terkejut. "Kau membunuhnya?" Masalahnya ia tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas karena kemampuan visi kupu-kupu yang rendah.


"Jika tidak ada hal lain, kau bisa pergi." Luo Youzhe tetap acuh tak acuh.


Su Churan menghela napas panjang. "Sudahlah, toh bukan urusanku. Alasanku datang kemari adalah untuk meminta bantuan menangkap Rusa Api di Gunung Huo. Guru berkata aku harus mendapatkannya. Bukankah kau juga harus pergi ke Gunung Huo untuk menyelesaikan ujian Akademi Yuansu? Meski kau masuk menggunakan orang dalam untuk menutupi identitas, tetap tidak boleh melewatkan ujian yang sebenarnya."


Luo Youzhe pikir Su Churan ada benarnya. Alasan ia tidak melalui ujian adalah karena tidak ingin memukul mental anak-anak itu terlalu dalam. Kekuatannya sudah bukan sesuatu yang murid baru tanggung, tapi ia tetap harus menunjukkan kualifikasi melalui ujian akhir.


Pada akhirnya, Luo Youzhe setuju. "Baiklah, kita pergi ke Gunung Huo. Tapi energi unsur Rusa Api harus menjadi milikku."


Su Churan tersenyum gembira. "Sepakat!"