Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
77. Xiao Lin



"Apa Istana Tianshuang membawa pria beriris biru dan berpenampilan seperti patung hidup? Maksudku ... yah, dia orang yang sedikit membosankan, jadi hanya itu ciri-ciri yang bisa kukatakan." Gu Yuena langsung bertanya begitu saja untuk melepaskan rasa penasarannya.


Zhou bersaudara saling tatap. Pria beriris biru ....


"Setahuku, ciri seperti itu hanya milik Keluarga Bai." Zhou Wei berkata demikian.


"Yah, dia memang dari Keluarga Bai."


"Apa Nona mengenalnya? Siapa namanya?" Perempuan yang asik mengunyah ayam bertanya dengan rasa penasaran. Setahunya, hanya ada dua orang bermarga Bai di Istana.


"Aku bertanya, apa ada orang seperti itu di penginapan kalian?" Gu Yuena menolak memberitahu namanya. Ia hanya ingin memastikan yang dia lihat Bai Youzhe atau hanya ilusinya.


Namun, Zhou bersaudara terdiam sambil saling tatap dengan pandangan aneh.


Orang seperti itu?


Apa Nona tertentu tidak tahu siapa yang sedang dia bicarakan? Mereka sendiri tidak berani membicarakannya.


Zhou Wei mengatakannya dengan berat hati, "Nona, tidak ada orang lain beriris biru selain Keluarga Bai yang berada di Istana. Meski ingin, mereka juga tidak bisa datang."


"Mereka?"


Zhou Ying melanjutkan, "Hanya ada Raja Bai terdahulu dan Raja Bai sekarang."


"Raja?" Gu Yuena terkejut. Meski Yan Shuiyin sudah mengatakan bocorannya, tetap saja ia masih tidak percaya. Sampai akhirnya anak-anak ini yang membocorkan segalanya.


Jika Bai Youzhe ada di Istana, lalu siapa yang ia lihat? Apa itu hanya ilusinya saja? Ada apa dengannya?


"Kakak seperguruan sering bertemu dengan Yang Mulia. Kami hanya ... sekali bertemu sebelum pergi ke sini. Jadi tidak tahu selengkapnya." Zhou Wei melanjutkan dengan takut-takut. Sepertinya Raja tertentu sangat menakutkan sampai menakuti anak-anak ini.


Gu Yuena melirik Zhou Tao yang tampak sangat tenang tanpa mengatakan apa pun. Sikapnya itu mengingatkannya pada seseorang.


Sudahlah, mungkin hanya perasaannya saja.


"Maaf jika aku berlaku tidak sopan. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia adalah Raja kalian." Gu Yuena merasa tidak enak. Ia baru saja menyebutkan bahwa Raja Istana Tianshuang adalah patung hidup dan pria membosankan. Ia merasa ingin menghilang.


"Tak apa, wajar jika banyak yang tidak tahu." Zhou Wei memakluminya.


"Tapi sepertinya Nona mengenali Yang Mulia." Zhou Ying tiba-tiba merasa penasaran. Zhou Wei mengangguki pernyataan adiknya.


Senyum Gu Yuena membeku seketika. Sulit sekali menjelaskannya, apalagi Yun Qiao dan Ru Meng juga terlihat menatapnya dengan penasaran. Bahkan Zhou Tao juga meliriknya, meski wajahnya tetap datar.


Gu Yuena ingin menghilang.


Perempuan itu terbatuk untuk beberapa saat dan segera mengambil minum untuk menutupi kepanikannya yang terpapar jelas. Ia pun melihat ke arah desainer yang pura-pura tidak mendengar, lalu menyerahkan katalognya segera sebagai pengalihan.


"Aku pilih semuanya." Gu Yuena berkata dengan gegabah, membuat Yun Qiao membelalakkan mata saat itu juga. Ini adalah karma.


Sedangkan desainer itu tersenyum sumringah. "Sebuah kehormatan bisa mendapatkan pelanggan seperti Anda."


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada beberapa hal yang harus diurus untuk persiapan minggu depan. Jangan lupa akan penampilanku bersama Istana Luye." Gu Yuena mengalihkan topik dengan cepat dan kabur begitu saja sambil melambaikan tangan.


Kepanikannya terlihat sangat jelas.


Yun Qiao dan Ru Meng yang ditinggalkan langsung merasa canggung. Mereka tersenyum pada ketiga manusia itu, lalu pergi secepatnya setelah mengucapkan salam perpisahan.


Ada apa dengan Gu Yuena?


Zhou bersaudara mengerjap mata, lalu saling bertukar pandang.


"Nona Gu sangat mengenali Yang Mulia." Zhou Wei mengambil kesimpulan.


"Sepertinya hubungan mereka sangat rumit," sahut Zhou Ying. Bahkan sampai mengatakan bahwa Yang Mulia mereka adalah pria membosankan dan patung hidup.


"Entahlah, ini hal langka."


"Tidak tahu bagaimana reaksi Yang Mulia jika mendengar ini."


Sedangkan Zhou Tao yang diam sejak tadi hanya menyimak. Entah apa yang ada di pikirannya, sampai telinganya tampak merah dengan wajah dingin yang khas.


Untuk menghindari pertanyaan tidak perlu, Gu Yuena pergi mencari informasi mengenai Istana Yinyang dan kakaknya. Awalnya Ru Meng ingin ikut, tapi Gu Yuena mengancamnya untuk tetap di penginapan.


Hingga akhirnya, perempuan itu berada di penginapan di mana perwakilan Istana Yinyang berada. Ia harap antara Gu Yesha atau Gu Yihan ada di sana.


Gu Yuena menutup matanya, mencari napas familiar yang merupakan milik Gu bersaudara. Tapi di tengah pencarian itu, ia menemukan napas asing yang berbeda dari manusia biasa.


Gu Yuena membuka mata, menampilkan sepasang iris merah yang penuh rasa penasaran. Ia menemukan jejak napas Gu Yihan, tapi pria itu sedang tidak ada di dalam penginapan.


Ia pikir, ia harus mencari jejak asing yang cukup dekat di sekitar sini. Auranya sangat aneh.


Langkah kaki Gu Yuena mengikuti arah aura yang anehnya hanya ia yang bisa merasakannya.


Sampailah di sebuah tempat. Tempat yang penuh pepohonan, namun ia yakin ini bukan hutan. Ini adalah perkebunan rumah kaca di mana banyak tanaman obat dan tanaman langka tersedia.


Hanya saja, rumah kaca ini sangat besar dengan suasana hutan. Biasanya digunakan oleh dokter tertentu atau alkemis. Istana Yuansu memiliki tempat seperti ini, itu sebabnya ia tahu ketika memasukinya.


Entah pemiliknya ada atau tidak.


Gu Yuena mengikuti aura aneh yang membuat hatinya gelisah. Seperti aura seseorang yang terluka.


Ia semakin memasuki rumah kaca. Aura itu semakin dekat semakin ia melangkah. Sampai akhirnya ia menemukan bau darah yang membuatnya menghentikan langkah.


Itu memang seseorang yang terluka.


Gu Yuena mempercepat langkahnya. Ketika jalannya berkelok ke sisi lain, di balik rak tanaman, ia menemukan seekor monster kecil yang berbaring di atas tanah.


Gu Yuena terdiam untuk beberapa saat.


Seekor monster tingkat rendah?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di jalan kota yang padat, Zhou bersaudara bersama sepupu mereka berjalan menuju arah penginapan. Mereka tiba-tiba saja mendapat perintah kembali secepatnya setelah memesan pakaian.


Tapi di tengah perjalanan itu, secara mendadak, Zhou Tao diam di tempat tanpa melakukan pergerakan. Hal itu membuat Zhou bersaudara bertanya-tanya.


"Kakak seperguruan, kau baik-baik saja?" Zhou Wei bertanya sambil menghampiri.


Zhou Tao tampak menunduk. Sepasang iris hitamnya tiba-tiba berkilat dengan warna biru dan menghilang seketika. Jika Zhou bersaudara melihat ini, mereka pasti akan sangat terkejut.


Ketika warna biru itu menghilang, tubuh Zhou Tao oleng seketika membuat Zhou bersaudara harus memapahnya. Tatapan pria itu linglung sejenak.


"Kakak seperguruan ...." Zhou Ying begitu cemas.


"Ada apa denganmu?" Zhou Wei bertanya sekali lagi.


Zhou Tao menutup mata, lalu memijat kepalanya yang pusing. "Entahlah ...." Ia tiba-tiba teringat sesuatu, tapi segera mengubah ekspresinya menjadi normal, "Lebih baik kita kembali sekarang."


"Sepertinya kau baru saja kerasukan sesuatu." Zhou Wei bicara sembarangan membuat Zhou Tao memukul kepalanya—pelan.


"Ah, sepertinya Kakak seperguruan kami telah kembali." Zhou Wei terkekeh pelan. Sedangkan Zhou Ying tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.


Benar, apa yang terjadi pada Zhou Tao?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seekor ular putih kecil dengan kulit indah bak giok langka. Dia memiliki beberapa warna biru di bagian kepalanya, dengan mata yang tertutup sempurna dan bagian tubuh yang terluka.


"Apa dia mati?" Gu Yuena mengerutkan kening. Ia tidak merasakan napas makhluk ini, tapi auranya begitu pekat. Terasa familiar.


Detik berikutnya, ekor makhluk itu sedikit bergerak membuat ekspresi Gu Yuena berubah. Makhluk itu tidak mati, tapi sekarat.


Beberapa makhluk tingkat rendah memang kemungkinan akan datang ke rumah kaca untuk berlindung. Biasanya itu terjadi ketika mereka sedang dikejar monster lain dan terluka.


Gu Yuena pernah menemukan hal yang serupa di rumah kaca istana, tapi kebanyakan dari mereka mati ketika ditemukan.


Gu Yuena menyentuh monster kecil itu. Tidak ada banyak darah, hanya saja monster itu sepertinya sangat rentan dan mengalami luka dalam.


Xiao Bai tiba-tiba keluar memberi peringatan, membuat Gu Yuena terkejut seketika.


"Tunggu dulu Nona, jangan dekat-dekat! Dia bukan monster biasa!" Xiao Bai langsung memasang sikap waspada saat melihat monster tak berdaya itu.


"Lalu?" tanya Gu Yuena.


Xiao Hei muncul untuk meredakan ledakan Xiao Bai yang sensitif akan makhluk dunia bawah. Kucing hitam itu langsung menjelaskan sambil menutup mulut Xiao Bai menggunakan kakinya.


"Dari bentuk dan auranya, sepertinya dia adalah makhluk dunia bawah. Aku pernah lihat, dia lebih mirip dengan naga."


"Naga? Apa ada naga di sini?" Gu Yuena bertanya-tanya.


"Kau bahkan adalah phoenix." Xiao Bai melihatnya dengan datar.


"Itu beda." Karena ia hanya memiliki darah phoenix.


"Sama." Xiao Bai tidak mau kalah.


"Phoenix itu abadi, lalu aku yang sekarat ini apa?"


Xiao Bai terdiam, tapi Xiao Hei melanjutkan, "Nona, kamu tidak sekarat."


"Aku ini mayat hidup, tahu!" Gu Yuena merasa agak jengkel. "Sudahlah, lalu kenapa jika dia adalah naga? Apa dia bisa membunuhku dengan tubuh kecil dan sekarat itu?"


"Xiao Bai hanya berlebihan." Xiao Hei mencibir Xiao Bai di sampingnya. Betina itu langsung mendengus kesal.


"Tapi siapa yang tahu bahwa dia hanya pura-pura? Nona sangat istimewa, bagaimana jika dia ingin menarik perhatian Nona dan melahap Nona seperti hewan buas. Bagaimana jika Nona terluka?" Xiao Bai tidak setuju bahwa ia berlebihan. Ketakutannya terhadap monster dunia bawah sangat jelas.


Naga itu ... seharusnya tidak ada di dunia ini. Sama seperti keberadaan Xiao Hei, mereka harus diamankan demi keberlangsungan hidup manusia.


"Aku hanya mengkhawatirkan Nona. Jangan membantah seperti hari itu." Xiao Bai meninggikan nada suaranya. Tapi itu justru membuatnya terlihat imut tapi cerewet.


Gu Yuena mengangguk paham. Sudahlah, hanya seekor monster. Ia tidak ingin menambah masalah hanya karena keberadaan yang seharusnya tidak ada.


Perempuan itu pun berlalu pergi mengabaikan monster yang terluka. Hal itu membuat Xiao Bai menghela napas lega.


Tapi belum jauh Gu Yuena pergi, langkahnya terhenti begitu mendengar suara raungan yang menyedihkan. Sungguh, ia tidak bisa melihat makhluk imut menderita.


Ia pun berbalik ke arah naga itu, lalu meraihnya. Hal itu berhasil membuat Xiao Bai shock berat.


"Nona!"


Gu Yuena mengabaikan teriakan Xiao Bai dan mengusap naga kecil itu dengan lembut. Dia sangat imut dengan tubuh yang seperti seekor anak ular. Ular putih yang cantik.


"Beberapa naga dapat mengubah dirinya menjadi ular kecil. Nona jangan tertipu dengan penampilannya." Xiao Bai masih memperingati.


Ia dapat merasakan aura naga yang kuat, membuatnya sangat waspada. Tidak hanya Xiao Bai, Xiao Hei juga merasakannya.


"Nona, apa sebaiknya kita laporkan untuk diamankan?" Xiao Hei memiliki perasaan seperti Xiao Bai. Ular ini jelas mencurigakan.


"Ya, aku akan melaporkannya." Gu Yuena mengangguk setuju. Ia melihat ular kecil yang sangat imut, lalu berpikir sejenak. "Apa aku juga harus melaporkan kalian?"


"...."


Kedua kucing itu tertegun.


"Nona, kamu sangat suka bercanda." Xiao Bai berkomentar lebih dahulu.


"Kalau begitu, kalian sedang bercanda mengatakan bahwa aku harus melaporkannya." Gu Yuena melihat ular kecil itu dengan tatapan misterius. "Aku pikir dia akan berguna. Jika tidak, aku akan melakukan apa yang kalian katakan."


Gu Yuena membawa ular kecil itu untuk mempergunakannya sebagai senjata tersembunyi. Sama seperti Xiao Hei dan Xiao Bai.


Di penginapan, Gu Yuena menyembuhkan ular kecil itu menggunakan obat-obatan yang ada. Ia harap obat yang ia miliki dapat meredakan rasa sakit ular imut ini.


Omong-omong, apa ular ini bisa bicara?


Setelah menaburkan obat dan menggunakan kekuatan spiritual untuk mempercepat proses regenerasi, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.


Gu Yuena menoleh, lalu beranjak dari kursi. Ia tidak tahu bahwa ular kecil yang ia pungut itu sedikit membuka mata birunya yang indah. Ia terlihat nyaman akan kekuatan spiritual Gu Yuena.


Gu Yuena membuka pintu, melihat Yun Qiao berdiri di luar sambil membawakan beberapa bungkusan. Pria itu tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar Gu Yuena begitu saja.


"Lama-kelamaan aku melihat Ru Meng dalam dirimu." Gu Yuena agak keberatan.


"Aku membawakan camilan kering yang terbuat dari ayam untukmu," ucap Yun Qiao sambil meletakkan bungkusan ke atas meja dan menyusunnya.


Pandangannya tanpa sengaja terarah pada seekor ular putih yang terbaring di atas meja belajar Gu Yuena.


Gu Yuena buru-buru menghadang pandangan Yun Qiao, "Terima kasih camilannya. Urusanmu sudah selesai?"


"Ya ... tapi—" Yun Qiao ingin bertanya tentang ular putih itu dan ingin melihatnya, tapi Gu Yuena terus menghalangi dan menyela.


"Kakak seperguruan, aku memiliki beberapa hal pribadi yang harus diselesaikan. Jika urusanmu sudah selesai, kamu bisa kembali untuk melanjutkan urusanmu sendiri."


"Xiao Yuena—"


"Intinya kamu harus pergi." Gu Yuena menarik sudut bibir untuk menutupi rasa gugupnya.


Yun Qiao melihat Gu Yuena untuk beberapa saat, lalu terkekeh. "Baiklah." Ia pun mengacak-acak ujung rembut Gu Yuena dengan gemas, lalu berbalik pergi.


Tapi sebelum ia menutup pintu, kepalanya menoleh ke arah Gu Yuena. "Jangan lupa makan malam nanti. Ingat, jangan sampai ketiduran."


Gu Yuena mengibaskan tangannya mengusir. "Aku sudah ingat, sana pergi."


Yun Qiao pun keluar dan menutup pintu. Ruangan menjadi sunyi seketika, sampai akhirnya suara helaan napas terdengar.


"Hah, membuat takut saja." Gu Yuena berkacak pinggang, lalu melihat ular kecil di atas meja.


Ia harus membuatkan tempat untuk ular kecil itu. Karena makhluk tertentu adalah naga, ia tidak bisa meletakkannya di ruang spiritual sembarangan.


Menunduk melihat ular kecil lebih dekat, ia berkata sambil mengusapnya pelan, "Xiao Lin, tidurlah dengan tenang. Aku akan membuatkan tempat tinggal khusus untukmu."


Ia telah menamai naga itu dengan nama Xiao Lin yang berartikan 'ular kecil'. Ah, ia tidak pandai memberi nama.


(Kata 'Lin' di sini berbeda dengan Klan Lin maupun Shen Jialin, yaa. Karena china memiliki 3 intonasi nada dalam satu kata, artinya jadi berbeda. Jangan heran kalau ada kata yang mirip-mirip. Sebenarnya karena nggak ada ide nama lagi, sih wkwk.)


Sepanjang hari itu, Gu Yuena pergi keluar untuk mencari referensi 'rumah ular' dari berbagai tempat termasuk sang summoner. Tak lupa membawa bahan pembuatan 'rumah ular' yang ia pungut barusan.


Tanpa ia sadari, dua kucing yang berdiam diri di ruang spiritual merasa cemburu setengah mati.


Nona sudah tidak sayang kucing lagi, malah memilih seekor anak ular yang lebih berbahaya!