
Perjalanan utusan penyihir membutuhkan waktu cukup lama. Gu Yuena harus bermalam di penginapan untuk sementara sambil meneruskan kultivasi.
Memahami kekuatan tingkat 9 membutuhkan waktu panjang. Sebelumnya Gu Yuena membuat kesalahan sampai hampir mati di tangan Tuan Iblis. Bukan sepenuhnya salahnya, sih, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia yang melakukannya.
Iblis hati tetaplah Gu Yuena. Ia samar-samar dapat merasakan keluhan Iblis hati di dalam segel. Untuk memadamkan iblis hati, ia harus menjadi lebih kuat dan dapat mengendalikan kekuatannya lebih baik.
Bai Youzhe masuk ke dalam kamar, melihat Gu Yuena yang sedang fokus berkultivasi. Di tangannya, ada beberapa bungkus makanan yang dia letakkan di meja.
Tadinya Bai Youzhe ingin mengajaknya makan di restoran, tapi Gu Yuena memilih berkultivasi karena takut sisa energi iblis hati masih mempengaruhi pikirannya. Apalagi dia baru saja membunuh.
Bai Youzhe duduk di depan wanita itu sambil menyandarkan kepalanya dengan tangan, melihat Gu Yuena yang berwajah datar dan menutup mata.
Tingkat kebucinannya sudah sangat tinggi.
Di dalam kesunyian alam spiritual, Gu Yuena memutuskan kembali ke kenyataan dan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata biru yang mempesona.
Di dunia ini, hanya Keluarga Bai yang memiliki warna mata biru gelap segelap malam. Bahkan jika ada seseorang yang memiliki warna mata biru di Wyvernia, warnanya tidak seperti milik Keluarga Bai yang sangat memukau. Yah, mereka memiliki visual dan bakat yang tidak sebanding dengan orang kebanyakan yang membuat mereka lebih istimewa. Ditambah dengan adanya hubungan dari Dunia Bawah.
Sebenarnya, ketika mengetahui keberadaan Keluarga Bai di Istana Yuansu, Gu Yuena nyaris tidak percaya bahwa ia telah mengenal salah satunya. Meski saat itu hubungan mereka tidak baik dan khawatir bila menjadi musuh akan sangat merepotkan, kini ia tidak lagi mengkhawatirkan hal seperti itu.
Nyatanya, pemilik iris biru itu adalah calon suaminya di masa depan.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Gu Yuena, lalu mencari cermin untuk melihat apa ada yang aneh. Bai Youzhe terus saja menatapnya sampai membuatnya berpikir ada yang salah di wajahnya.
Bai Youzhe sedikit tersenyum. "Memang ada sesuatu."
"Apa?" Gu Yuena langsung melihat wajahnya di cermin. Tidak ada hal aneh, kok.
"Kamu yang terlalu cantik adalah sesuatu."
Gu Yuena meletakkan kembali cerminnya, lalu mencubit pipi Bai Youzhe dengan gemas. Pemiliknya mengaduh kesakitan karena cubitan yang cukup terasa.
"Jangan berpikir untuk menggodaku lagi." Gu Yuena langsung beranjak dari tempatnya.
Bai Youzhe memberitahu, "Aku sudah bawakan makanan. Ada beberapa masakan ayam, lalu tambahan kepiting dan makanan penutup."
"Memang kamu yang paling mengerti." Gu Yuena memujinya, langsung duduk di depan meja dan mengambik sumpit dengan antusias.
Ada banyak sekali makanan enak. Perutnya semakin terasa lapar dan ingin memakan semuanya.
Tanpa tahu malu, Gu Yuena mengambil semuanya seperti orang tidak makan berhari-hari. Tidak salah. Di Tanah Tandus dan Klan Ye, dia tidak makan banyak.
Dia sebisa mungkin mengabaikan pria yang hanya memandangnya makan tanpa bosan. Ia pun duduk menyamping ketika melihat Bai Youzhe sebentar, sambil membawa semua jenis makanan ke dalam mangkuk di tangannya.
Jika ia menjadi Bai Youzhe, ia tidak akan seperti orang bodoh dengan hanya duduk dengan wajah rupawan yang tampak sangat tenang. Tidak sda aura dingin, hanya ada kedamaian.
Lama kelamaan Gu Yuena kesal sendiri.
"Jangan lihat aku seperti itu." Gu Yuena berkata dengan enggan.
Bai Youzhe tidak mengatakan apa pun, hanya memberi senyuman. Gu Yuena melihat pria itu untuk beberapa saat, lalu menjepit makanan dengan sumpit sebelum disodorkan ke arah Bai Youzhe.
"Kau ingin ini?" Gu Yuena menebak. Ia asik makan sendiri sampai melupakan orang yang membelikannya.
Bai Youzhe melihat makanan yang disodorkan di depannya, lalu langsung memakannya begitu saja.
"Enak," katanya.
"Kalau enak ...." Gu Yuena mengetuk mangkuk kosong di depan Bai Youzhe menggunakan sumpit. "Letakkan di sini lalu makan."
"Lebih enak jika disuapi."
"Jangan kekanakan." Gu Yuena berdecak, lalu melanjutkan makan, mengabaikan kekehan Bai Youzhe. Pria itu selalu saja menggodanya.
"Setelah ini, kau akan pergi ke mana?" tanya Gu Yuena. Ia akan pergi ke Istana Linghun, jadi penasaran ke mana Bai Youzhe akan pergi setelah mengantarnya.
"Entahlah, mungkin kembali ke Istana Tianshuang."
"Bagaimana dengan Dunia Bawah?"
"Ada beberapa hal yang harus diselesaikan di Dunia Bawah. Namun, urusan Istana Tianshuang lebih penting." Bai Youzhe tidak mengatakan apa urusannya. Tapi jika Gu Yuena bertanya, ia akan menjawab. Sayangnya, Gu Yuena tidak ingin tahu apalagi bertanya.
Gu Yuena sendiri telah menyerahkan tugas Wilayah Phoenix pada Huang Jiu, jadi dia benar-benar bebas dan bisa fokus pada Istana Linghun. Menjadi seorang penguasa sangat merepotkan. Jika diberi pilihan, Gu Yuena lebih memilih hidup bebas tanpa repot akan tanggung jawab.
Impiannya adalah hidup normal seperti orang kebanyakan, tapi kemungkinannya sangat kecil.
Sampai keesokan paginya, semua beban dan tanggung jawab itu kembali ke tangannya. Utusan penyihir telah datang, dan Bai Youzhe bersembunyi dalam bayang-bayang agar tidak ditemukan.
Gu Yuena menerima kunci Istana Linghun. Perjalanan menuju Istana Linghun akan memakan sangat banyak waktu jika dilakukan secara normal. Namun, para penyihir itu telah mempersiapkan array keberangkatan yang akan membawa Gu Yuena ke kawasan istana.
Sebelum para penyihir itu benar-benar membawa Gu Yuena, Gu Yuena berpisah untuk sementara dari mereka untuk bertemu Bai Youzhe.
Pria itu berdiri kokoh di tempat memperhatikan kedatangan Gu Yuena. Ada pembatas ilusi yang membuatnya tak terlihat oleh dua utusan penyihir, sehingga bebas berkeliaran di mana pun tanpa diwaspadai.
Gu Yuena menghampiri untuk mengucapkan selamat tinggal. "Aku akan kembali setelah semua ini selesai."
Bai Youzhe tetap terlihat sangat tenang seolah tidak memiliki kekhawatiran. Dalam hatinya merasa gelisah, takut terjadi sesuatu pada Gu Yuena. Namun, ia menutupi kegelisahan tersebut dengan sangat baik dan memeluk Gu Yuena dengan erat.
"Aku akan menjemputmu nanti."
Gu Yuena terkekeh, "Memangnya kau tahu kapan aku keluar dari sana?"
"Instingku sangat kuat." Bai Youzhe menjawab asal. Ia akan menunggu Gu Yuena keluar. "Setelah aku menjemputmu, kita akan ke Istana Tianshuang untuk menikah."
"Tapi sebelum itu, aku masih memiliki agenda." Gu Yuena ingin ke Istana Yuansu, mendatangi pemakaman gurunya dan membereskan roh jahat.
"Aku akan mengikuti."
"Sejak kapan kau menjadi sangat penurut?"
"Aku tidak ingin mengecewakan Nana." Maka jadilah penurut. Dibandingkan seseorang yang keras kepala dan tidak ingin dibantah, lebih baik seseorang yang lembut dan menyenangkan. Dengan begini, Nana-nya akan merasa nyaman.
"Aku juga tidak ingin mengecewakanmu." Gu Yuena berkata dengan nada rendah. Namun, masih bisa didengar oleh Bai Youzhe.
"Maka dari itu, jaga dirimu baik-baik." Bai Youzhe menatap iris merah itu dengan dalam sambil mengusap wajahnya.
Gu Yuena mengangguk sambil tersenyum. Ia pun berbalik pergi, tapi sepertinya Bai Youzhe masih enggan berpisah dan menahan lengannya.
"Aku tidak pergi terlalu lama." Gu Yuena meyakinkan.
"Nana, jika kamu tidak kembali dalam waktu lama, aku akan mencarimu." Bai Youzhe pikir tidak mungkin Li Hua akan membiarkan Gu Yuena pergi begitu saja. Jika Li Hua berhasil menahan Gu Yuena di sana, ia akan datang mencari Gu Yuena.
Gu Yuena mengerti kekhawatiran Bai Youzhe. Ia mengangguk, lalu melanjutkan langkah sampai genggaman tangan terlepas. Ia benar-benar pergi bersama utusan penyihir.
Tapi kali ini, ia akan memastikan Gu Yuena baik-baik saja. Firasatnya mengatakan hal buruk.
Ia menuliskan surat melalui kertas sihir dan mengirimnya pada Assassin Guild untuk mempersiapkan Istana Tianshuang menyambut Gu Yuena. Sedangkan ia akan pergi menuju perbatasan Istana Linghun.
Awalnya ia berpikir untuk menyiapkan pernikahan di Istana Tianshuang sendiri, tapi ia berubah pikiran. Biarkan orang-orang itu yang menyiapkannya. Ia ingin memastikan Nana-nya tidak datang dalam keadaan terluka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Istana Linghun masih seperti biasa, gelap dan misterius. Ketika Gu Yuena melewati pembatas, ada banyak penyihir menyambutnya.
Meski mereka terlihat menyambut, Gu Yuena sama sekali tidak merasakan kehangatan. Hanya ada rasa dingin yang dalam. Bahkan wajahnya sejak tadi hanya menampilkan ekspresi dingin, berbanding terbalik dengan Gu Yuena di Ibu Kota.
"Di mana Ratu?" tanya Gu Yuena.
"Menjawab, Putri. Ratu ada di ruang belajar."
Li Hua pasti sudah mengetahui kedatangan Gu Yuena, jadi menunggunya di sana untuk menerima tulang iblis. Gu Yuena langsung pergi tanpa mau didampingi. Kakinya melangkah lebar sampai ke depan pintu suram di mana sang Ratu berada.
Ketika ia akan masuk ke dalam, seseorang membuka pintu dan keluar dari sana. Gu Yuena menghentikan langkah, melihat Yang Xinyuan baru saja dari ruangan Li Hua. Wajahnya tampak pahit. Pasti ada sesuatu yang tidak menyenangkan.
Gu Yuena mengabaikannya, melanjutkan langkah tanpa memandangnya. Yang Xinyuan hanya diam di tempat membiarkan Gu Yuena melewatinya begitu saja.
Sebelumnya, wilayah neraka dikacaukan oleh Gu Yuena untuk mengumpulkan 1000 darah persembahan. Ia tidak menghentikan wanita itu, membiarkan orang-orangnya mati untuk rencana istana. Untungnya, tidak semua makhluk di wilayah neraka mati.
Ia telah mendengar bahwa Gu Yuena terluka ketika melawan Tuan Iblis dan dirawat oleh Bai Youzhe. Ia tidak menceritakan hal itu pada Li Hua, hanya mengunjunginya dari jauh dan pergi melanjutkan rencana istana.
Ia memiliki rencananya sendiri, dunianya sendiri, dan urusannya sendiri. Tidak perlu terlalu terpacu pada Gu Yuena.
Ada sesuatu yang lebih besar menantinya.
Gu Yuena di dalam ruangan melihat kehadiran Li Hua di kursi sambil membaca sebuah buku. Ia menghampiri, lalu meletakkan tulang iblis ke atas meja begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
Li Hua melihatnya, senyum merekah di bibirnya. Ia mengambil tulang iblis dan memeriksa. Ada sangat banyak darah di dalamnya, darah berbagai ras, bahkan ada darah milik naga yang cocok untuk kebangkitan Gu Ying. Putrinya memang tidak mengecewakan.
"Bagus. Aku tahu, tidak sulit untukmu melakukannya. Kamu sudah bekerja keras." Tidak sia-sia ia menempa Gu Yuena selama setahun, ditambah dengan pengalaman membunuh di dunia lain.
"Kapan kau akan membangkitkannya?" tanya Gu Yuena.
"Kamu istirahatlah. Besok adalah waktu yang tepat aku membangkitkan bulan merah dan roh untuk ayahmu. Jangan sampai terlambat datang ke altar. Gu Yuan juga akan datang besok."
Mendengar Gu Yuan akan datang membuat tatapan Gu Yuena dipenuhi kehidupan. Ia sangat ingin bertemu kakaknya setelah sekian lama. Jadi, tanpa banyak bicara, dia pergi dari ruangan dan berjalan ke kamarnya.
Ia akan menyelamatkan kakaknya dari tempat ini. Harus!
Xiao Hei muncul di pelukan Gu Yuena, lalu mengendus-endus di udara seperti menemukan sesuatu. "Nona, ada aroma lain yang familiar."
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, lalu bertanya, "Kau yakin?"
"Ya."
Gu Yuena mengedarkan pandangan. Posisinya berada di bawah tangga besar. Ketika melihat ke atas, ia melihat sosok wanita bergaun ungu melintas di kooridor dekat tangga. Penampilannya tidak asing.
Ia mengerutkan kening. Ia tidak pernah melihat wanita itu di Istana Linghun sebelumnya, hanya saja terasa familiar. Ia pun melangkah ke tangga menuju atas dan berlari mengikuti wanita itu.
Wanita itu membawa mutiara penerang di tangannya yang dapat menerangkan ruangan. Tempat ini memang agak gelap, untungnya Gu Yuena dapat melihat dalam kegelapan.
Sampai di depan sebuah pintu, wanita itu akan mendorong pintu ketika perasaannya terasa janggal. Seperti ada seseorang yang mengikuti. Ia pun menoleh ke arah di mana Gu Yuena terang-terangan berdiri. Matanya tampak terkejut.
Wajah Gu Yuena menunjukkan kejutan luar biasa. Ia buru-buru melangkah ke arah wanita itu untuk melihatnya lebih jelas. Penampilan cantik yang natural dengan gaun ungu sederhana, ada tanda api ungu di antara alisnya. Di dunia ini, hanya ada satu orang pemilik api ungu yang dikenal Gu Yuena.
Mendadak perasaan Gu Yuena menjadi aneh. "Luo Yi?"
Luo Yi terlihat bingung untuk beberapa saat sebelum akhirnya mencoba menenangkan Gu Yuena yang terlalu terkejut. Ia melihat sekitarnya yang kosong, lalu membawa Gu Yuena ke tepi ruangan kooridor yang tidak mencolok.
"Kau di sini bersama kakakku, kan? Di mana dia?" Gu Yuena langsung melontarkan pertanyaan. Selama hampir satu tahun ia berada di sini, tidak pernah bertemu dengan Luo Yi maupun Gu Yuan. Ia pikir mereka ada di tempat lain.
Luo Yi diam melihat Gu Yuena dengan tatapan rumit. Ia pun menghela napas. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku sedang bertanya."
"Besok kita akan bertemu lagi, jadi aku pikir itu tidak perlu," sahut Luo Yi.
"Kau—"
"Ratu Li Hua melarang," selanya.
Gu Yuena tertawa hampa, merasa sangat dibingungkan dan dipermainkan oleh ibunya sendiri. "Sejak kapan kau di sini?"
"Entahlah, mungkin ... enam tahun?"
"Enam tahun ...." Pantas saja Luo Yi terlihat agak berbeda dari terakhir mereka bertemu. Lingkungan yang berbeda membuatnya ikut berbeda. Luo Yi lebih kuat dari sebelunnya, tapi wajahnya sedikit pucat. "Kau baik-baik saja?"
Luo Yi tersenyum. "Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kamu baik-baik saja? Kudengar Ratu mengirimmu ke Dunia Bawah untuk mengumpulkan 1000 darah, di sana sangat berbahaya. Kamu jadi lebih kurus dari sebelumnya."
Gu Yuena tersenyum kecut. "Tidak perlu dikhawatirkan. Aku menerima kekuatan roh phoenix dan telah menjadi phoenix, fisikku sudah berbeda dari manusia."
"Itu bagus." Luo Yi kemudian teringat sesuatu. "Kamu jangan terlalu khawatir, aku dan Gu Yuan baik-baik saja. Gu Yuan sangat merindukanmu."
"Kau tahu alasan Ratu membawa kakak?" tanya Gu Yuena. Ia selalu penasaran akan hal ini.
"Ratu sedang merencanakan sesuatu bersama Pimpinan Yang. Aku pikir, Gu Yuan juga tidak bisa lepas dari rencana ini. Membangkitkan Raja Istana Linghun menggunakanmu adalah langkah awal. Jika berhasil, rencananya akan berjalan saat itu juga. Jika gagal, Aula Linghun akan mengambil alih."
"Rencana apa yang kalian maksud?"
"Aku tidak tahu pasti." Luo Yi pikir Gu Yuena sebagai Putri Istana sudah tahu segalanya, tapi ternyata Li Hua masih tidak memiliki kepercayaan terhadap Gu Yuena.
Luo Yi melanjutkan, "Aku sarankan padamu untuk bersiap apa pun yang terjadi."
Gu Yuena mengangguk. "Terima kasih informasinya."
"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Luo Yi pun pergi ke pintu tadi. Pintu yang ia masuki bukanlah pintu ruangan, melainkan pintu penghubung ke sebuah lorong yang lebih besar.
Gu Yuena tidak lagi mengikuti, tahu Li Hua akan sadar dan merepotkannya.
Ia pun kembali ke kamar untuk berkultivasi, mempersiapkan diri untuk pagi yang penuh kekacauan dan rencana yang dijalankan.
Ia harap segalanya berjalan lancar.
Gu Yuena tidak percaya Li Hua dapat menghidupkan ayahnya dengan mudah. Mungkin dia bisa melakukannya, tapi harus ada bayaran untuk menghidupkan orang yang sudah mati.
Oleh karena itu, ia harus siap.