Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
157. Persiapan Debutante



Batu jiwa menyala, mengambang di atas telapak tangan Gu Yuena yang sedang mengerahkan kekuatannya.


Kekuatan jiwa milik Gu Yuena sudah cukup untuk mengendalikan batu jiwa sepenuhnya. Dia tidak membutuhkan batu jiwa untuk kultivasi seperti orang lain di Istana Linghun, tapi ia bisa memanfaatkannya untuk tujuan lain.


Menipu Alfonso dan Kaisar misalnya.


Alfonso menginginkan tiga batu jiwa untuk disatukan dan membentuk kekuatan besar. Batu jiwa milik Klan Ye adalah batu jiwa pertama, menghilang di tangannya oleh pencuri tertentu.


Batu jiwa kedua ada di tangan Gu Yuan, Alfonso menginginkannya. Itu sebabnya Gu Yuan menitipkan batu jiwa pada Duke Elberg agar aman dari pencarian Alfonso. Alhasil, Alfonso tidak mendapat satupun batu jiwa untuk meningkatkan kekuatannya.


Sekarang batu jiwa milik Gu Yuan ada di tangan Gu Yuena. Gu Yuan meninggalkan ini sebagai senjata untuk melawan Alfonso dan Kaisar. Pria itu telah mempertimbangkannya sejak lama.


Belakangan ini, berita kematian para pangeran terus bermunculan dan menyebabkan keresahan. Gu Yuena muncul sebagai Valentina, mengambil alih beberapa tugas yang seharusnya diserahkan pada beberapa pangeran yang tersingkirkan dan membantu Kaisar.


Alih-alih sebagai seorang putri kekaisaran, ia berperan sebagai Nona Elberg untuk mengambil simpati Kaisar dan mengadu domba dengan Alfonso. Kaisar akan berpikir bahwa Valentina ada di pihak Kaisar.


Gu Yuena selalu berpenampilan seperti seorang nona muda yang tidak berbahaya. Bahkan saat tangannya dipenuhi dengan kabut hitam dari batu jiwa, dia masih terlihat murni.


"Nyonya Valentina, Nona Vale datang untuk menemui Nyonya." Pelayan di depan ruangan memanggil setelah mengetuk pintu.


Gu Yuena menarik kekuatan jiwanya, lalu beranjak dan membuka pintu. Di depannya terdapat seorang wanita bersurai hitam dengan sepasang iris senada yang terlihat suram. Dia sudah tinggal di Duchy dalam waktu lama, tapi auranya tetap terasa seperti gadis muda yang diasingkan.


"Vale? Apa ada sesuatu?" Gu Yuena tersenyum manis padanya.


Vale terlihat gelagapan untuk sesaat dan berkata takut-takut, "Nyonya, apa ada pesan dari keluargaku?"


"Tidak."


Pandangan Vale semakin meredup dan menjadi sedih. Hal itu membuat Gu Yuena merasa sulit untuk memanfaatkan bocah lemah lembut yang kikuk ini. Bagaimana bisa ia mengirim Vale pada Alfonso? Ia masih harus menyamar sebagai Vale sampai sekarang.


"Viscount sudah kutangani dengan baik. Posisimu di rumahmu sudah cukup stabil berkat Alfonso. Sepertinya Alfonso tertarik padamu, membuat Viscount tidak bisa mengabaikanmu."


Vale tersenyum kecut. "Nyonya, jangan bercanda. Vale yang Nyonya maksud adalah Nyonya sendiri."


"Aku hanya menggantikanmu." Pandangan Gu Yuena penuh perhitungan. "Karena aku telah membantumu mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan, kau harus membantuku sebagai imbalan. Apa kau lupa?"


Vale menunduk. "Aku mana bisa melupakannya. Nyonya tenang saja. Ak-aku ...aku akan bekerja dengan baik."


Gu Yuena menghela napas, lalu melihat ke arah pelayan yang menunggu. "Bantu dia bersiap-siap. Kita akan pergi menemui Norweight."


Vale terlihat semakin gugup. Tapi dia tidak dapat mengatakan apa pun ketika pelayan mengantarmya untuk bersiap. Ia tidak mengerti mengapa Gu Yuena membawanya kembali ke rumah itu lagi.


Setelah kepergian Vale, Xiao Hei muncul untuk berkomentar mengenai cara Gu Yuena yang terlalu keras.


"Nona, bukankah kamu terlalu keras pada seorang gadis 17 tahun?"


"Aku pernah berada di posisinya, tapi aku tidak akan selembek itu," cibir Gu Yuena sembari masuk ke dalam kamar.


"Vale adalah gadis normal yang kekurangan kasih sayang. Dia berbeda darimu, jadi jangan memperlakukannya seperti memperlakukan dirimu sendiri. Dia bisa mati ketakutan!"


"...." Gu Yuena terdiam untuk sesaat, lalu merasa tidak terima dan membalas dengan ketus, "Memangnya kau tahu apa? Aku membawanya kembali ke Norweight untuk mengenali kerluarga dan belajar. Dia bahkan tidak tahu wajah orang tuanya sendiri. Semakin keras tekanan, kepribadiannya semakin bisa diperbaiki. Waktuku tidak banyak, jadi harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin."


Gu Yuena tidak bisa terus menyamar sebagai Vale dan berada di sisi Alfonso sambil berakting. Dia masih harus menarik kepercayaan Kaisar. Vale telah belajar cukup banyak di tempat ini, tinggal memperbaiki kepribadiannya.


Hingga saatnya tiba, ia akan kembali bertukar dengan Vale. Vale akan menjadi mata-mata di sisi Alfonso, sedangkan Gu Yuena hanya perlu mengambil semua kepercayaan Kaisar dan mengadu domba. Pada saat itulah, perang perebutan tahta akan terjadi.


"Aku jadi takut jika kau mengajari anakmu menjadi mengerikan seperti ini. Seorang bocah yang baru melihat dunia, harus menyadari betapa kotor dunia ini." Xiao Bai bergumam di pojokan sambil mendesah. Gu Yuena benar-benar mengajari Vale untuk menjadi seperti dirinya sendiri.


Gu Yuena meliriknya sekilas, lalu membuang wajah. "Bukankah itu bagus?"


"Ya, sangat bagus." Xiao Bai tidak tahu harus berkata apa lagi. Terserah pada nonanya saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam beberapa waktu, jumlah Pasukan Kematian semakin meningkat. Mereka berkeliaran di Dataran Mitian dan menguasai berbagai wilayah, memberi tekanan pada dua kekaisaran sekaligus.


Perbatasan dua kekaisaran dilanda gelombang monster tingkat tinggi. Banyak korban berjatuhan. Selain itu, korban-korban yang berjatuhan tidak meninggalkan jejak sedikitpun seolah menghilang dari dunia.


Bai Youzhe tiba di tempat terakhir terjadi pembunuhan besar-besaran di perbatasan Kekaisaran Yi. Huang Jingtian di belakangnya terlihat sangat frustrasi seperti akan pingsan melihat kota mati yang menyisakan kekosongan.


Sebelumnya, langit di atas kota menjadi merah darah. Itu adalah reaksi tulang iblis. Bai Youzhe telah menebak, bahwa Yang Xinyuan sudah mendapatkan lebih banyak darah manusia. Pergerakannya sangat cepat dan tersembunyi dengan baik.


"Istana Linghun benar-benar sudah keterlaluan. Mereka bahkan tidak menyisakan anak kecil satupun!" Huang Jingtian terlalu geram. Sebagai calon kaisar, ia gagal melindungi rakyatnya dari ancaman. Ini sudah kota ke-5 yang telah dihabisi.


Beberpa bulan yang lalu, dia bertemu dengan Yang Xinyuan yang memberi peringatan. Keesokannya, kota pertama sudah dibasmi. Bai Youzhe datang sebelum Huang Jingtian tiba dan mengatakan bahwa Istana Linghun tidak akan menyisakan satupun.


Huang Jingtian telah mengevakuasi rakyatnya ke Ibu Kota dan kota besar lainnya agar mendapat perlindungan. Tapi menurut Bai Youzhe, itu masih tidak cukup. Nyatanya, sudah 5 kota menjadi kota mati kurang dari setahun.


Yang Xinyuan selalu dapat menghindari pertempuran tidak perlu. Dia menghabisi salah satu kota secara acak sebelum Bai Youzhe datang. Satupun tidak ada yang selamat.


Bai Youzhe saja kesulitan menemukannya, apalagi Huang Jingtian yang ingin melindungi rakyatnya? Jika terus seperti ini, Kekaisaran Yi akan hancur!


"Apa Wyvernia juga mengalami masalah yang sama?" tanya Huang Jingtian.


Bai Youzhe menjawab, "Tidak."


Huang Jingtian semakin frustrasi. Jika seperti ini, Wyvernia akan mendapat kesempatan menyerang Kekaisaran Yi. Kekaisaran Yi benar-benar sudah tamat.


"Setidaknya masih belum," lanjut Bai Youzhe. Ia pikir nasib Wyvernia akan lebih buruk dari Kekaisaran Yi. Seperti yang dikatakan Gu Yuena, Li Hua telah menarget Wyvernia secara langsung.


Ia jadi merindukan Gu Yuena. Apa yang sedang dia lakukan saat ini?


"Raja Bai, aku dengar Yang Xinyuan adalah Raja Neraka di Dunia Bawah."


Sepertinya Bai Youzhe paham maksud dari ucapan Huang Jingtian. "Dia hanya berniat membunuh di Dataran Mitian. Dia tidak bisa menyentuh Dunia Bawah."


Jika Yang Xinyuan menyentuh Dunia Bawah, Bai Youzhe akan selalu tahu keberadaannya dan bertarung dengannya sampai sekarang. Yang Xinyuan benar-benar menghindari pertempuran dan menyelesaikan tugas dari Ratu secepatnya. Benar-benar tidak terlihat seperti Yang Xinyuan yang Bai Youzhe ketahui.


"Baguslah." Huang Jingtian menghela napas dan memandang Bai Youzhe dengan tundukan hornat. "Raja Bai, Istana Tianshuang telah membantu Kekaisaran Yi sampai seperti ini, pangeran ini mengucapkan banyak terima kasih."


Bai Youzhe tidak berniat membantu mereka. Ia hanya ingin tulang iblis. Dia tidak mungkin memberitahu itu pada Huang Jingtian sehingga memilih tidak menanggapinya.


Tulang iblis adalah sesuatu yang berbahaya. Ia tidak boleh membiarkan barang seperti itu tetap ada. Jika tulang iblis terus diberi makan, Raja Iblis akan bangkit. Bukan Gu Ying yang bangkit.


Seharusnya ia mengambil tulang iblis saat ada di tangan Gu Yuena, tapi dia tidak bisa melakukannya. Saat itu Gu Yuena ingin ayahnya hidup kembali, dia tidak ingin harapan Gu Yuena putus begitu saja.


Karena tulang iblis telah jatuh ke tangan naga tertentu, ia harus meluangkan banyak waktu untuk mencari sebagai imbalan kelemahan hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini adalah rumahmu." Gu Yuena berdiri bersisian dengan Vale yang sudah dirias sedemikian rupa. Di depan Viscounty Norweight, ia membawa Vale yang asli.


Penampilan Vale saat ini lebih terlihat seperti Gu Yuena saat bertemu Alfonso. Wajahnya sedikit diubah menggunakan sihir transformasi Gu Yuena. Sedangkan Gu Yuena akan bertindak sebagai dirinya sendiri di tempat ini, Valentina.


Ini memang merepotkan. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain membawa Vale langsung ke lapangan untuk belajar lebih lanjut. Vale sudah belajar darinya mengenai beberapa trik sihir dan pengetahuan umum serta politik, tapi Vale masih tidak memiliki perilaku yang 'normal'.


Vale sangat kikuk dan mudah dibohongi. Sebenarnya ia pintar, tapi hanya pintar dalam pelajaran. Sosial? Hasilnya nol.


Gu Yuena sebagai guru yang baik, akan mendampinginya mempraktekkan apa yang telah dipelajari.


Sebuah kehormatan dapat diakui oleh kandidat pewaris tahta. Vale menjadi bahan perbincangan di tiap sudut kediaman saat kedatangannya. Hal itu membuat Vale semakin gugup ketika melangkahkan kaki ke dalam.


"N-nyonya, Pangeran tidak menyukaiku, tapi menyukaimu. Apa ... apa aku harus seperti ini?" Vale sangat takut. Jantungnya terasa ingin meledak karena berdetak terlalu cepat. Dia bahkan gemetar saat memasuki halaman mansion.


Ini belum termasuk bertemu dengan Viscount.


Gu Yuena jarang bisa sesabar ini menghadapi bocah sepolos dan sebodoh Vale. Ia hanya memasang wajah yang penuh kesabaran meski sangat ingin menendang bocah kikuk ini sangat jauh ke ujung gunung.


Sabar, ia masih membutuhkan Vale sebagai salah satu pion. Jika diasah dengan baik, semua rencananya akan berjalan lancar.


"Aku memiliki suami, bagaimana aku bisa menerima lamaran Pangeran? Jika suamiku mengetahuinya, Pangeran mungkin sudah tinggal nama tanpa sepengetahuanku."


Vale mengerti maksudnya dan langsung menunduk. "Ma-maaf."


"Jangan bersikap seperti itu jika tidak ingin jiwamu kukendalikan agar tidak gemetar."


Vale justru merasa lebih baik jiwanya dikendalikan layaknya boneka. Ia benar-benar tidak bisa mebghentikan tubuhnya yang bergetar!


Ia takut pada Viscount. Ia takut berada di Viscounty. Sebelum bertemu Gu Yuena, ia hanyalah momok yang diasingkan keluarganya sendiri dan dikurung di tempat gelap.


Saat itu ia sakit-sakitan dan sangat kotor, tidak ada bedanya dengan tikus kecil yang kurus. Ketika melihat Gu Yuena datang seperti malaikat pencabut nyawa, ia pikir bahwa ia akan mati. Tapi ternyata Gu Yuena membawanya ke Duchy dan memberinya perawatan serta makanan.


Vale sangat berterimakasih sehingga bersedia melakukan apa pun. Ia tidak akan marah jika jiwanya dikendalikan seperti yang dikatakan Gu Yuena.


Melihat gadis yang sudah pasrah akan hidup itu, Gu Yuena hanya bisa menghela napas. "Bekerjalah dengan baik sebagai bayaran. Aku bukan orang baik yang memperlakukanmu dengan baik secara gratis."


Vale mengangguk. Gu Yuena menyentuh dahinya, sebelum akhirnya seluruh sarafnya yang tegang mulai tenang. Ia tidak lagi gemetar, hanya terasa kosong seperti biasa.


"Terima kasih." Vale tersenyum.


Gu Yuena mengabaikan ucapan terimakasihnya dan melanjutkan langkah. Tidak ada yang menyambut mereka di tempat ini, semua orang hanya bergosip. Sampai akhirnya seseorang mengenali siapa Gu Yuena sebenarnya, barulah mereka memanggil Tuan Viscount.


Gu Yuena dipinta untuk menunggu di ruang tamu. Pria tinggi dengan pakaian mewah muncul dari balik pintu, menyambutnya dengan hormat. Melihat sepasang iris merah itu, dia benar-benar dibuat tunduk.


Apalagi kabarnya Valentina telah mendapatkan sangat banyak berkah dari Kaisar atas kontribusinya dalam beberapa bulan ini. Dia harus menghormati wanita itu agar dapat melihat masa depan cerah.


Tapi ketika pandangannya terarah pada Vale yang tampak sangat diam di sisi Gu Yuena, pandangannya menjadi gelap. Kenapa pula perempuan itu harus di sini?


"Putri Valentina, ada apa jauh-jauh datang kemari? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Viscount Norweight dengan sopan.


Gu Yuena tersenyum dan meletakkan secangkir teh yang ia minum ke atas meja. "Kunjunganku ke sini tidak lain adalah untuk Nona Norweight. Aku dengar Pangeran Alfonso akan melamar Nona Norweight setelah debutantenya. Tapi sayangnya, Nona Norweight belum melakukan debutante yang dilakukan wajib bagi bangsawan saat menempuh usia dewasa. Nona yang melakukan debutante harus didampingi bangsawan wanita dengan posisi yang lebih tinggi. Ibunya sudah tidak ada, jadi aku datang untuk menjadi pendampingnya."


Debutante adalah upacara kedewasaan yang dilaksanakan tiap tahunnya bagi nona bangsawan yang belum debut di kalangan sosialita. Gu Yuena telah memilih waktu yang tepat mengunjungi Vicounty untuk mengajukan diri sebagai penamping debutante yang akan diadakan tepat pada pesta dansa musim dingin.


Butuh banyak waktu untuk mencari pendamping yang tepat. Semakin tinggi posisi pendamping, maka nona tersebut akan semakin terkenal dan terhormat. Kalaupun Viscount tidak setuju dan ingin menggantinya, itu tidak bisa dilakukan. Karena posisi Gu Yuena adalah yang tertinggi selain ratu di antara para bangsawan.


Dengan kata lain, jika Vale berhasil debut bersama Gu Yuena, dia akan menjadi pusat perhatian dan harus diterima secara resmi sebagai Norweight. Itu adalah keputusan sulit bagi Viscount yang telah membuang putrinya sendiri. Vale adalah anak di luar nikah bersama seorang pelayan, tentu saja seluruh anggota keluarga tidak akan setuju.


"Kami tidak bisa menerima kehormatan yang berlebihan seperti ini. Putri, bagaimana jika Anda menarik keputusan? Posisi Anda tidak cocok untuk seorang penamping debutante." Viscount keberatan sehingga tidak memiliki pilihan lain untuk membujuk Gu Yuena.


"Aku telah memperhatikan Vale cukup lama. Aku juga menganggur, jadi bukan masalah besar." Gu Yuena kemudian menyipitkan matanya. "Apa kau meragukanku karena aku baru datang ke Wyvernia?"


"Bukan ... bukan seperti itu, Putri."


"Kalau begitu sudah sepakat. Mulai hari ini, putrimu akan tinggal di Duchy untuk mempersiapkan debutante." Gu Yuena merasa lega karena tidak perlu bolak-balik ke tempat ini lagi.


Pandangannya terarah pada Vale yang tidak mengatakan apa pun sejak tadi. Atau lebih tepatnya, gadis itu tengah menunduk tanpa ada keberanian menatap ayahnya.


Gu Yuena hanya bisa menghela napas.


Saat Viscount memberi akomodasi untuk menginap sehari, Gu Yuena membiarkan Vale sendirian menghadapi kediaman seperti anak hilang. Ini adalah ujian pertamanya.


Dan benar saja, Vale menjadi patung seharian dan dipenuhi kegelisahan. Ketika anak-anak sah Viscount datang, gadis itu menunduk takut dan mengurangi kehadiran. Bahkan dia tidak bekutik saat ditertawakan.


Ini menghancurkan citra Gu Yuena yang pernah menyamar sebagai Vale.


Saat Gu Yuena menjadi Vale, tidak ada yang berani merundrungnya. Gu Yuena selalu menjadi sosok yang ketus dan menyendiri, tidak banyak muncul apalagi bicara. Ada saatnya Viscountess menggertaknya, Gu Yuena membalasnya menggunakan tangan orang lain.


Saat ini, Vale benar-benar sangat lemah. Ini membuat Gu Yuena sering menghela napas.


"Jika ada yang membicarakanmu, potong lidahnya. Jika ada yang memukulmu, patahkan tangannya. Jika tidak ingin membuat musuh lebih banyak, bunuh semuanya." Gu Yuena sudah terlalu kesal dan mengatakan hal kejam pada Vale.


Vale hanya menunduk di depan, duduk seperti anak patuh dan ciut. "Nyonya ... maaf." Dia merasa tidak cocok dengan semua ini.


"Kau ingin hidup dengan baik, kan? Maka dengarkan aku. Darahmu dialiri darah bangsawan. Meski kau bukan putri sah, setidaknya kau tidak harus menyia-nyiakan hidupmu dan menjadi pengecut seperti ini. Kau masih memiliki hak atas pengakuan sebagai putri Viscount. Kau harus memikirkan dirimu sendiri dan orang-orang yang berguna untukmu."


Vale semakin gelisah. "Tapi—"


"Kau lemah, sangat lemah. Bahkan hanya dengan satu jari, kau bisa mati di tanganku. Pikirkan kenapa aku memberimu kemampuan mengelola sihir. Pikirkan kenapa aku memberi trik sihir. Pikirkan juga untuk apa kau belajar mati-matian di Duchy. Kau ingin berkata kalau tidak menginginkan itu semua? Baiklah, kalau begitu mati saja. Bukankah aku terlalu memanjakanmu?"


Gu Yuena yang marah-marah seperti itu semakin membuat Vale tidak dapat berkutik. Sebenarnya, dia lebih takut pada Gu Yuena yang marah daripada mereka. Dia hanya tidak tahu cara menghadapinya.


"Debutantemu akan segera tiba. Pada saat itu, kau harus sudah siap dan bergaul dengan bangsawan lainnya. Persiapkan mentalmu, jadilah percaya diri. Setidaknya, jangan buat aku merasa malu dan membuat Alfonso curiga. Jika tidak, maka aku tidak masalah jika kau mengakhiri hidupmu sendiri." Gu Yuena menghela napas untuk kesekian kalinya, lalu pergi dengan langkah kesal.


Vale mengepalkan telapak tangannya, menahan gejolak emosi dalam hatinya. Perasaannya tercampur aduk. Ini baru hari pertama tinggal di Viscounty.


Gu Yuena benar, ia tidak boleh bersikap seperti ini. Tapi ia sendiri tidak bisa mengendalikan rasa takutnya. Jika takut, ia tidak dapat melakukan apa pun dan hanya bisa diam dengan kepala tertunduk.


Vale mendongakkan kepalanya, melihat ke arah kepergian Gu Yuena. Tatapannya menjadi rumit. Ini memang salahnya.


Di saat Vale melakukan introspeksi diri setelah ditinggal, Gu Yuena kembali ke kamar untuk menenangkan pikiran yang kacau seperti benang kusut. Mengurus anak orang ternyata tidak mudah.


"Nona, kamu telah menorehkan tinta hitam pada sebuah kertas putih." Xiao Bai tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Apa maksudmu?" Gu Yuena memandangnya dengan bingung.


Xiao Bai tertawa tiba-tiba. "Nona, apa yang kau lakukan pada bocah yang tidak pernah melihat dunia? Aku semakin takut jika kau benar-benar memiliki seorang anak di masa depan."


"Apa Vale mulai introspeksi diri?" tanya Gu Yuena.


"Ucapanmu terlalu kejam untuknya. Dia kembali ke kamar dan menangis," jawab Xiao Hei.


"Tapi setidaknya, aku dapat merasakan emosinya yang membaik. Seseorang memang harus diberi tekanan maksimal untuk bisa mencapai potensinya. Vale sama seperti bayi yang baru lahir, belum mengerti tentang dunia. Kamu datang kepadanya dan mengubahnya."


"Bisa dibilang, didikanmu akan membuatnya menjadi tidak berperasaan. Andai kau membuatnya memegang pisau dan membunuh seseorang, dia pasti akan melakukannya dan menyukainya meski harus menangis di awal."


"Ah, ini benar-benar mengerikan."


"...." Gu Yuena terdiam.


Apa ia sekeras dan sekejam itu? Gu Yuena hanya mengatakan apa yang pernah ia dengar saat kecil. Ditambah dengan semua prinsip dan pengetahuannya, hanya itu.


Xiao Hei berkata, "Keinginan Vale untuk hidup sangat kuat. Kau menyuruhnya mati jika gagal, maka dia akan berusaha untuk tidak gagal. Selama ini kau memanjakannya, jadi kertas putih itu tetap putih."


Gu Yuena mengerutan kening dan menggigit kukunya gelisah, "Sepertinya aku harus membuat banyak batasan agar tidak menciptakan monster."