Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
92. Putri Istana Linghun



"Bagaimana kabarmu, putriku?"


Senyuman di bibir merah sang Ratu menyambut kehadiran Gu Yuena di ruang gelap. Gu Yuena masih tidak tahu tempat macam ini. Hal yang ia tangkap dari dua pertemuan yang lalu, tempat ini adalah satu-satunya sarana keterhubungannya dengan sang ratu.


Hanya ada satu yang dapat menghubungkan mereka, yakni kekuatan jiwa yang berasal dari faktor keturunan dan keterikatan. Ini adalah dimensi jiwa di mana jiwa akan hidup dan menghilang setelah raga mengalami kematian.


Memandang wanita itu dalam diam, Gu Yuena tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Ia ragu apa orang yang hadir di depannya benar-benar ibunya atau tidak.


"Ketika kecil, kamu adalah anak yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Sayang sekali aku hanya bisa merawat putri kecilku sebentar di dua kehidupan. Kamu pasti penasaran dan bingung akan apa yang terjadi."


"Dua kehidupan? Apa artinya?" Gu Yuena akhirnya menatap iris merah wanita itu.


Kenapa wanita itu mengatakan pernah merawatnya di dua kehidupan? Jiwa Gu Yuena yang saat ini adalah orang lain, sang Ratu pasti menyadari hal tersebut.


"Ikutlah denganku. Sudah seharusnya kamu mendapatkan apa yang harus kamu dapatkan." Sang ratu mengulurkan tangannya ke arah Gu Yuena.


Sedangkan Gu Yuena hanya melihat uluran tangan itu dalam diam. "Kenapa aku harus mempercayaimu?"


"Karena aku tidak mungkin menyakiti putriku sendiri."


"Kau ingin membunuhku." Gu Yuena menyangkal. Pertemuan pertama mereka menunjukkannya. Selain itu, kabut hitam yang mengejarnya hari itu sudah pasti adalah bawahan sang Ratu.


"Itu kesalahpahaman, percayalah." Dia berusaha meyakinkan Gu Yuena. "Ikutlah denganku, dan kau akan mendapat jawabannya. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan saat ini. Aku adalah orang yang sama di kenangan masa kecilmu."


Gu Yuena tetap waspada dan penuh kecurigaan. Tidak salah jika Gu Yuena mencurigai wanita yang mengaku ibunya itu.


"Apa kamu tidak ingin tahu mengapa kamu bisa hidup di dua dunia sekaligus?" Sang ratu masih pada pendiriannya untuk mengajak Gu Yuena ikut.


Gu Yuena mengangguk pelan. Ia ingin tahu segala hal tersembunyi yang membuatnya kadang merasa tidak mengenali diri sendiri.


Sang Ratu tetap mengulurkan tangannya, mencoba mendapat kepercayaan Gu Yuena. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Gu Yuena menyambut tangan seputih salju itu dan berjalan ke dalam kegelapan.


Entah kecepatan seperti apa, ketika membuka mata, Gu Yuena sudah berada di sebuah kasil yang begitu besar dan megah. Segalanya berwarna hitam dan memiliki lentera serta lilin sebagai penerangan. Tampak seperti sebuah kastil tua. Kontras dengan Istana Yuansu yang cerah.


Monster-monster terbang berkeliaran di udara secara bebas di sekitar kastil. Ada banyak orang berjubah hitam berkeliaran. Ketika melihat kehadirannya bersama sang Ratu, mereka langsung menundukkan kepala saat itu juga.


"Apa ini Istana Linghun?" Gu Yuena menebak. Penampilan mereka hampir sama seperti makhluk kematian yang ia temui bersama Gu Yuan dan Huang Jingtian. Tapi ia sadar, mereka bukanlah makhkuk kematian.


"Ini hanyalah sebagian kecil dari istana." Sang ratu berjalan ke arah yang berlawanan, mengisyaratkan Gu Yuena untuk mengikuti.


Kondisi Gu Yuena sendiri saat ini berupa jiwa. Tapi entah bagaimana cara sang Ratu memadatkan jiwanya sehingga terlihat seperti tubuh asli dan tidak tembus pandang. Dia bahkan terlihat oleh orang-orang itu.


Sepanjang jalan, ada banyak orang menundukkan kepala ketika melihat mereka melintas. Benar-benar menunduk tanpa mengatakan apa pun atau menampakkan wajah. Terasa sangat asing.


Sampai di depan pintu ganda yang begitu tinggi di ujung tangga, pintu terbuka dengan sendirinya dan disambut oleh barisan berjubah hitam yang berlutut di dalam ruangan. Ruangan dengan satu kursi besar di ujung yang tampak mencolok.


"Kami memberi hormat pada Yang Mulia Ratu, sang penguasa Istana Linghun."


Kata-kata sambutan itu diucapkan serempak dengan nada tanpa emosi. Sang Ratu menoleh ke arah Gu Yuena, lalu kembali mengulurkan tangannya.


"Terimalah posisimu."


Gu Yuena terlalu terkejut sampai tidak bisa bereaksi dengan benar. Secara alami, ia menerima uluran tangan itu dan masuk ke dalam ruangan secara beriringan.


Perasaan Gu Yuena tidak nyaman. Dia begitu gelisah sampai tidak bisa mengatakan apa pun. Begitu memasuki tempat ini, ia merasa ada sesuatu dalam jiwanya yang terbakar.


Tidak ada tatapan pertanyaan atau sebagainya, semua orang benar-benar tertunduk. Gu Yuena perhatikan, ruangan menjadi begitu sunyi dan suram, penuh aura dingin ketika mereka berdua muncul di tempat ini.


Pada akhirnya, seberapa kuat Ratu Istana Linghun?


Sang Ratu duduk di atas kursi kebesarannya, sedangkan Gu Yuena berdiri di samping kursi tersebut dalam keadaan linglung. Apa yang sedang ia lakukan di sini?


"Hari ini, aku memiliki pengumuman penting untuk disampaikan pada kalian semua." Gema suara sang Ratu terdengar di dalam ruangan yang sunyi. Sepasang iris merahnya terlihat sangat dingin. "Setelah penantian selama bertahun-tahun lamanya, putriku Gu Yuena, telah mencapai batas usianya sebagai sang phoenix. Pemilik darah phoenix yang legendaris ada di sini, sebagai bagian dari kita, Putri Istana Linghun yang akan memimpin pembersihan dunia dari 5 istana."


Gu Yuena menatap wanita itu penuh kejutan. Apa katanya? Pembersihan dunia?


"Hidup sang phoenix! Hidup Putri Istana Linghun!"


Orang-orang berjubah hitam bersorak melantunkan pujian secara serempak. Keheningan yang sebelumnya begitu dingin telah hilang digantikan sorakan membakar.


"Apa maksudmu?" Gu Yuena langsung bertanya dengan nada tegas.


Sang Ratu mengangkat salah satu tangannya untuk semua orang, menjadikan ruangan kembali sunyi tanpa ada satu pun suara.


"Kalian bisa pergi."


Para manusia berjubah hitam pergi keluar ruangan secara serempak, menyisakan ibu dan anak untuk bicara berdua di dalam ruangan.


"Kau berkata akan menjawab semuanya. Apa yang kau lakukan sekarang?" Gu Yuena menegaskan kata-katanya sekali lagi. Ia benar-benar tidak ingin terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa pun.


"Aku sudah menjawabnya. Selain karena kamu adalah sang phoenix, kamu adalah Putri Istana Linghun, keturunan terakhir Istana Linghun dengan marga Gu. Menjalankan tugas sebagai sang phoenix adalah kewajibanmu."


"Jadi kau membawaku hanya untuk ini?" Gu Yuena menuruni tangga di mana kursi tahta berada, lalu melihat sekitar dengan senyum miris. "Keberadaanku sebagai sang phoenix, apa hubungannya denganmu?"


"Aku adalah ibumu."


"Ibuku sudah mati. Kau membunuhnya!" Gu Yuena meninggikan nada suaranya dengan berani. "Makhluk itu ... kau mengirimnya. Kau merencanakan pembunuhan seluruh keluargaku. Ibuku, ayahku, lalu kakakku—"


"Kamu masih belum mengerti," selanya.


Wanita itu masih terlihat tenang, menganggap reaksi Gu Yuena adalah hal normal yang akan dialami karena trauma.


Sang Ratu melanjutkan, "Kamu adalah Gu Yuena, putriku. Kehidupanmu di dunia lain adalah kehidupan yang kuciptakan ketika orang-orang itu melakukan kesalahan dengan melanggar perintahku. Kamu adalah putriku."


Gu Yuena terlalu tidak bisa menerima kata-kata wanita itu. "Kau berbohong."


Sang Ratu menghela napas. "Akan sulit bagimu menerimanya dengan ingatan yang tidak lengkap. Intinya, ini adalah kehidupan ketigamu. Kamu bukanlah orang lain, melainkan Gu Yuena itu sendiri. Bukan hanya kamu, Gu Yuan juga mengalaminya."


Gu Yuena terdiam.


Kakaknya?


"Di mana dia?" Gu Yuena pikir lebih baik bertanya padanya. Pasti Gu Yuan ada bersama Ratu berdasarkan apa yang ia ketahui setelah menghilangnya Gu Yuan.


"Kau tidak bisa bertemu dengannya."


"Kau menyembunyikannya?"


"Aku melindunginya dari orang-orang yang hendak memisahkan keluarga kita. Aku pernah berkata bahwa aku akan menghidupkan ayahmu. Itu bukan omong kosong. Semua ini kulakukan untuk itu."


Gu Yuena semakin sakit kepala memikirkannya. Sebenarnya apa yang ingin wanita itu lakukan!


"Aku tahu ini sulit dipercaya." Sang Ratu berdiri dari singgasana, menuruni anak tangga dan pergi ke suatu tempat di belakang singgasana.


Gu Yuena mengerutkan kening melihat gerak-gerik sang ratu. Apa yang ingin wanita itu tunjukkan?


"Kemarilah."


Sang Ratu memanggil, membuat Gu Yuena secara alami menghampirinya. Tidak tahu dorongan dari mana, kaki Gu Yuena melangkah begitu saja meski dipenuhi keraguan yang jelas.


Mereka memasuki ruangan rahasia di dalam sebuah patung penyihir yang berdiri kokoh dan menyatu dengan kursi tahta. Di dalam kegelapan, ada sangat banyak patung penyihir yang terbuat dari batu. Patung-patung itu berjejer rapi di sekitar dinding ruangan tunggal yang cukup besar.


Pandangan Gu Yuena terpaku pada sebuah peti mati tepat di tengah ruangan. Sang Ratu berada di dekat peti mati yang terbuka itu, melihat apa yang ada di dalamnya dengan tatapan teduh.


Kaki Gu Yuena melangkah mendekat, melihat isi dari peti mati hitam dengan perasaan gelisah yang kuat.


Ketika sepasang iris merah itu melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam sana, semua kenangan lama terlintas membuatnya membeku saat itu juga. Pandangannya kosong dalam sekejap.


Ia merasakan dejavu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang kamu lihat?" Bai Youzhe bertanya ketika Gu Yuena menghentikan ceritanya di bagian sang Ratu menunjukkan sebuah peti mati.


Saat ini, mereka sedang menepi untuk beristirahat di depan api unggun untuk menghangatkan diri di malam hari. Sebenarnya, hanya Gu Yuena yang butuh api unggun.


Gu Yuena tampak meremas roknya. "Ayahku ... yang mati kecelakaan itu."


Saat melihat sosok pria yang paling ia cintai selain kakaknya sekali lagi dalam keadaan yang sama, Gu Yuena merasa tidak bisa mengendalikan diri. Ia merasa kembali ke masa-masa di mana ia harus menyaksikan pemakaman ayahnya sendiri.


Siapa yang akan menyangka ia akan menemukan ayahnya pada kondisi yang sama.


Lalu pada intinya, Ratu Istana Linghun berniat membangkitkan kembali ayahnya yang sudah tiada. Gu Yuena tahu alasan sebenarnya ayahnya tiada. Bukan kecelakaan seperti yang ia lihat, tapi karena darah naga.


Hanya saja, dia masih tidak bisa menerimanya meski sudah bertahun-tahun berlalu.


Bai Youzhe memeluk Gu Yuena yang tampak sangat terpuruk mengingat masa lalu. Ia sadar, tidak seharusnya dia bertanya yang pada akhirnya membuat Gu Yuena sedih.


"Tak apa, aku di sini." Bai Youzhe mengusap punggung Gu Yuena dengan penuh kasih sayang.


Gu Yuena di pelukan Bai Youzhe teringat akan sesuatu. Ia ingat ucapan Ratu Istana Linghun ketika menunjukkan jasad ayahnya.


"Kematiannya disebabkan oleh darah naga. Kamu pasti sudah tahu, darah naga memiliki kutukan yang akan membuatnya rentan pada waktu tertentu. Tapi ... ada satu kondisi yang akan membuat darah naga tidak dapat bertahan lebih lama. Saat mencapai puncak kekuatannya di tingkat 9, dia akan menjadi naga sepenuhnya. Hanya saja, luka yang diterimanya akibat darah naga akan memburuk dan mengikis jiwanya."


Ucapan itu menghantui Gu Yuena. Bai Youzhe memiliki darah naga, ia tidak ingin hal yang sama membuatnya kehilangan lagi.


"Apa benar lukamu sudah sembuh?" Gu Yuena bertanya.


"Aku baik-baik saja."


"Darah phoenix benar-benar menyembuhkanmu?" Gu Yuena masih cemas.


"Kamu yang menyembuhkanku."


"Aku takut ... hal yang sama akan terulang padamu."


Paham maksud dari perkataan Gu Yuena, Bai Youzhe tersenyum hangat. Nana-nya sedang mengkhawatirkannya, ia tentu senang. "Tidak akan terjadi."


"Jika terjadi sesuatu, katakan padaku." Gu Yuena masih cemas. Meski hubungan intim dapat memecahkan kutukan mereka, itu hanya berlaku permanen untuk Gu Yuena. Bai Youzhe tetap mengalami periode lemah, meski tidak sering dan tidak separah sebelumnya.


"Baik." Bai Youzhe mempererat pelukannya dengan nyaman.


Gu Yuena tiba-tiba teringat sesuatu dan akan sedikit menjauh, tapi Bai Youzhe tetap mendekapnya.


"Udaranya sangat dingin, kamu masih sakit. Biar aku menghangatkanmu."


Gu Yuena membalas pelukan Bai Youzhe dan bersandar dengan nyaman. "Aku ingat, saat itu kamu kedinginan dan memelukku untuk kehangatan. Padahal aku ingin membunuhmu."


"Tapi pada akhirnya aku menangkapmu."


"Aku sangat kesal waktu itu." Gu Yuena terkekeh. Saat itu ia sangat terang-terangan menunjukkan kebenciannya yang tidak berarti.


Sebenarnya, ia tidak pernah membenci Bai Youzhe. Ia menunjukkan kebencian untuk menutupi perasaannya sebaik mungkin dan membohongi diri sendiri.


"Apa kamu tidak marah?" tanya Gu Yuena.


"Kenapa aku harus marah?"


"Ketuka aku memceritakan pertemuanku dengan Ratu Istana Linghun, aku mengungkit tentang Gu Yuan. Luo Yi bersama Gu Yuan, itu tandanya Luo Yi ada di Istana Linghun."


"Mereka tidak akan menyakiti Luo Yi. Gu Yuan pasti akan menjaganya."


"Apa mereka sangat harmonis?" Gu Yuena sama sekali tidak tahu seberapa dalam hubungan mereka. Ia tidak pernah tertarik saat itu.


"Ketika di akademi, mereka cukup harmonis. Yah, meski Luo Yi kadang keras kepala, aku akui hanya Gu Yuan yang bisa menanganinya. Gu Yuan juga tidak terlihat seperti orang yang buruk."


"Apa karena dia kakakku?"


Bai Youzhe menggeleng. "Meskipun kami tidak ramah satu sama lain, kami masih saling menghormati. Aku mempercayakan Luo Yi padanya, dia juga mempercayakanmu padaku."


Gu Yuena terkekeh. "Jadi ini semacam barter?"


"Tidak, kamu bukan barang." Bai Youzhe tidak setuju dengan candaan Gu Yuena.


"Sayangku ini sepertinya sangat sensitif." Gu Yuena mencubit pipi Bai Youzhe dengan gemas.


"Apa kali ini ada alasan lain mengapa kamu memanggilku 'sayang'?"


"Tidak ada. Hanya ingin." Gu Yuena kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Bai Youzhe. Rasanya sangat nyaman sampai ia mengantuk.


Bai Youzhe tertawa kecil melihat tingkah Gu Yuena yang kadang cepat sekali berubah-ubah. Meski jarang marah-marah seperti dulu, Gu Yuena memiliki karakter tersendiri yang sulit ditebak dan berbeda-beda. Ia lebih senang melihat Gu Yuena yang terus tersenyum tanpa memikirkan masalah.


Bai Youzhe menunduk dan memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Gu Yuena. Perempuan itu sudah tidur rupanya.


"Teruslah berbahagia, aku mencintaimu." Pria itu mengecup kening Gu Yuena sebentar, lalu menutup mata sambil memeluknya.


Tanpa terasa, Klan Luo sudah ada di depan mata. Setelah beberapa hari dihabiskan dalam perjalanan, akhirnya pasangan naga dan phoenix tertentu tiba di tujuan.


Gu Yuena dan Bai Youzhe turun dari kuda masing-masing, berjalan berdampingan ke gerbang klan yang dijaga oleh beberapa murid klan.


Begitu melihat kehadiran Bai Youzhe, salah satunya langsung lari memberi kabar ke orang dalam. Sedangkan sisanya membukakan pintu dengan penuh rasa hormat.


Kedatangan Bai Youzhe saat ini memang agak tiba-tiba sampai mereka semua sangat terkejut. Pasalnya, jika Bai Youzhe ingin datang, sudah pasti akan datang beberapa waktu lalu sejak surat terkirim tanpa mengulur waktu.


Baru saja gerbang klan dibuka, beberapa papan besar berjatuhan akan benturan seseorang yang mengakibatkan keributan. Dentuman besar dan nyaring terdengar saat itu juga.


Gu Yuena terdiam memandangi reruntuhan di depan matanya. Apa Klan Luo begitu kacau sampai barang rongsokan ini jatuh tepat di depan gerbang?


"Cepat bereskan!" Suara perempuan melengking dari dalam. Banyak murid buru-buru merapikan semua reruntuhan itu secepat kilat, apalagi setelah melihat kehadiran Bai Youzhe yang membuat dunia mereka disambar petir berkali-kali.


Mereka pasti telah melakukan hal buruk kemarin sampai mengalami hal seperti ini. Bagaimana mereka bisa mengabaikan Raja Istana Tianshuang yang datang!


Banyak orang kelimpungan. Perempuan yang sebelumnya memerintah dengan nada tinggi terdiam seribu bahasa ketika melihat dua sosok yang berdiri di depan gerbang.


Detik berikutnya, beberapa orang dari dalam klan bergegas keluar secepat kilat sampai terjadi kerusuhan. Salah seorang pria yang tampak sudah sangat tua menarik perempuan itu, lalu membawanya berlutut di depan Bai Youzhe.


"Kami menyambut kedatangan Yang Mulia Raja Bai, Raja Istana Tianshuang. Mohon ampun atas ketidaksopanannya tidak menyambut Yang Mulia lebih baik dan atas kekacauan yang terjadi. Kami berhak dihukum!"


"Kami berhak dihukum!"


Mereka semua bahkan sampai ber-koktow dengan rasa gelisah yang mendalam. Meski Bai Youzhe pernah tinggal di Klan Luo sebagai tuan muda, tetap saja posisinya saat ini adalah sang raja yang agung. Mereka tidak boleh sembarangan.


"Berdiri."


Satu perintah dari nada dingin Bai Youzhe berhasil membuat mereka mematuhinya dan berdiri seketika. Namun, tetap saja mereka menunduk untuk menunjukkan rasa bersalah.


"Sekali lagi, mohon maaf atas kecerobohan kami para tetua yang tidak bisa mengatur klan dengan baik. Sebelumnya ada sebuah acara di dalam klan, saat ini sedang membereskannya. Siapa yang tahu, anak-anak membuat kekacauan."


"Di mana dia?" Bai Youzhe mengabaikan basa-basi tetua itu dan bertanya tentang ketua klan.


"Ketua ...."


"Apa Yang Mulia ingin menemuinya langsung atau ...."


"Aku tidak akan berlama-lama di sini." Bai Youzhe menjawab secara ringkas.


"Baik. Kalau begitu, saya akan menunjukkannya pada Yang Mulia."


Bai Youzhe mengikuti kelima tetua klan yang berbondong-bondong menyambutnya. Wilayah klan sangat besar sampai mereka harus terbang untuk pergi ke kediaman utama.


Gu Yuena mengikut. Tapi sebelum ia mengeluarkan sayapnya, matanya mendapati perempuan muda yang tampak menatapnya dengan penuh permusuhan. Perempuan itu adalah orang yang berteriak tadi.


Dia adalah perempuan cantik dengan gaun hijau yang cerah, membuatnya terlihat seperti peri. Tapi sepasang mata itu jelas tidak menunjukkan keramahan peri.


Apa mereka saling mengenal?


Gu Yuena rasa perempuan itu cukup familiar. Di mana mereka pernah bertemu sampai membuat perempuan itu tidak menyukainya?


Mengabaikan pemikiran itu, Gu Yuena langsung pergi mengikuti yang lainnya.


Ia dengar Ketua Klan Luo sakit akibat serangan Aula Linghun. Beberapa waktu lalu, Aula Linghun sempat datang ke Klan Luo. Untung saja mereka bisa menanganinya, dan Aula Linghun sepertinya tidak berniat menghancurkan. Jadi mereka masih bisa selamat dan berhasil membuat Aula Linghun mundur.


Sekarang Gu Yuena berada di kedalaman Klan Luo yang begitu besar melebihi kediaman Adipati Gu maupun Klan Ye.


Sebagai klan besar, Klan Luo yang dilatar belakangi oleh Istana Tianshuang memiliki reputasi besar dan berpengaruh di kekaisaran. Wilayah yang mereka miliki bahkan lebih besar dari istana kekaisaran.


Inilah Klan Luo. Klan kuno yang ditakuti dua negara sekaligus.