Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
51. Hadiah Pertemuan



Hari ini, Paviliun Anggur mengalami perubahan aneh.


Angin berhembus kencang, menebarkan banyak dedaunan kering di halaman disertai debu yang merusak pandangan. Bukan badai, maupun serangan atau latihan, melainkan seorang gadis bersurai hitam kemerahan yang mengendalikan qi untuk menyingkirkan semua debu dan dedaunan kering.


Ia mengumpulkannya ke satu tempat, lalu menggunakan api untuk membakar semua sampah dengan satu jentikan jari. Semua sampah hangus seketika.


Abu yang berasal dari pembakaran terbang ke udara seperti kebakaran. Jika ada yang melihatnya, mereka mungkin akan panik berpikir telah terjadi kebakaran di satu titik akademi.


Selagi membakar sampah, gadis itu menyingkirkan semua barang-barang tidak berguna. Termasuk botol-botol dan guci anggur kosong yang berserakan di paviliun. Cukup mengumpulkan semuanya dan membuangnya ke dalam kobaran api.


Setelah dirasa semua sampah telah dibersihkan, Gu Yuena di depan kobaran api menepuk-nepuk tangannya dari debu. Pekerjaannya sangat cepat selesai. Andai saja ia tidak memiliki sihir, ini akan menjadi pekerjaan yang melelahkan.


"Selesai ...." Gu Yuena melirik Xiao Hei di sampingnya. "Bawakan aku beberapa kain baru untuk wanita itu."


Xiao Hei memiringkan kepala, ingin tahu maksud Gu Yuena menginginkannya. Tapi ia tidak bertanya, melainkan berlari keluar paviliun untuk menyelesaikan tugas.


"Ah, rasanya aku ingin tidur saja ...." Gu Yuena bergumam dengan nada malas.


"Xiao Yuena~"


Gu Yuena terperanjat. Ia buru-buru memadamkan api dan mengubur semua bekas bakaran ke dalam tanah menggunakan kekuatan spiritual. Tapi ketika ia mengeluarkan kekuatan spiritualnya, arang itu menyebar seolah telah meledak ke arahnya.


"Huff ...."


Tidak peduli bagaimana abu itu mengotorinya, Gu Yuena menyelesaikan pembersihan secepat mungkin.


Setelah kegiatan bakar-bakaran itu tertutupi, barulah Gu Yuena berbalik untuk melihat kedatangan Yan Shuiyin.


Tatapan datar wanita itu berubah menjadi kejutan ketika melihat abu bekas pembakaran mengotori Gu Yuena. Kulit seputih salju gadis itu telah tertutupi dengan arang dan tampak acak-acakan. Bahkan sebagian wajahnya memiliki bercak abu.


"Pffft." Yan Shuiyin menahan tawa. Ia buru-buru menetralkan ekspresi untuk menunjukkan kewibawaannya dan berkata, "Jika sudah selesai, kau bisa membersihkan dirimu sendiri. Ingatlah untuk menyediakan semua keperluan Tetua Tanah Tersembunyi."


"Guru, kapan kau akan mengajariku?" Gu Yuena ingin tahu. Kegiatan belajar memang tidak dilakukan secara langsung karena murid membutuhkan adaptasi, tapi tiap mentor memiliki metodenya sendiri.


"Segera, setelah aku yakin." Yan Shuiyin berbalik pergi begitu saja. Ingin belajar darinya? Gadis tertentu harus menunjukkan kelayakan terlebih dahulu untuk meyakinkannya.


Gu Yuena menghela napas pasrah. Pihak tertentu adalah penyihir hebat, tentu saja ia tidak boleh melepaskannya. Ia akan bekerja keras.


Gadis beriris merah itu pergi ke dalam Tanah Tersembunyi untuk membersihkan dirinya sendiri. Karena tidak ada pelayan, ia harus menyiapkan mandi dan mengambil air dari mata air.


Mata air di Tanah Tersembunyi berada di sebelah utara, berupa air terjun yang mengarah ke bawah tebing. Lebih tepatnya, ia akan berada tepat di atas air terjun.


Sambil membawa ember kayu, ia melangkah dan memfokuskan diri untuk membersihkan diri sendiri. Ia tidak ingin memikirkan hal lain yang tidak pasti, setidaknya untuk saat ini.


Sampai di sungai, mencuci wajah yang penuh debu dan mengambil air, ia tidak langsung kembali ke paviliun melainkan melihat apa yang ada di bawah sana.


Meski sungai ini cukup besar, posisi Gu Yuena tengah berada di ujung aliran air yang jatuh ke bawah. Iris merah Gu Yuena hanya melihat kegelapan yang tertutupi kabut air di bawah sana.


Sebenarnya, di mana Tanah Tersembunyi itu?


Entahlah, di mana pun ia berada, tempat ini juga tidak buruk. Malah sangat bagus. Lebih baik ia kembali ke paviliun secepatnya.


Gu Yuena mengangkat ember kayu di atas bebatuan, lalu berbalik. Tepat pada saat itu, ia melihat seorang pria dengan jubah hitamnya yang berdiri di tepi sungai memandangnya.


Pria tampan dengan penampilan dingin dan suram. Dia adalah Yang Xinyuan.


"Ada sesuatu?" Gu Yuena melihat ke sekitar. Ia yakin tidak ada apa pun yang menarik sehingga membuat pria sedingin itu mendatanginya.


"Apa kita pernah bertemu?" Yang Xinyuan bertanya, dengan nada dingin yang ia miliki. Tatapannya yang datar sangat sulit ditebak apa yang ia rasakan saat ini.


"Jadi maksudmu, aku familiar? Entahlah." Sebenarnya, Gu Yuena juga merasa pria di depannya cukup familiar.


Yang Xinyuan tidak mengatakan apa pun lagi. Ia menurunkan pandangannya, terlihat berpikir. Tapi Gu Yuena tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya.


Apa pria itu akan berkata bahwa ia salah orang atau sejenisnya?


"Ada banyak hal tak terduga di dunia ini. Aku kadang menemukan orang yang terlihat akrab, namun sebenarnya tidak." Gu Yuena menghela napas. Itu semua termasuk kakaknya. "Namamu Yang Xinyuan, 'kan? Aku dengar dari Tetua Yan, kau adalah tamu guruku. Sebenarnya, apa ada masalah pada guruku?"


Pertanyaan Gu Yuena memang sedikit kurang ajar, secara tidak langsung mengatakan bahwa gurunya bermasalah. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Yan Shuiyin adalah penyihir, masa lalunya memiliki hubungan dengan Istana Linghun. Tamu yang datang dan menginap di tempatnya tentu bukan orang biasa. Apalagi, Gu Yuena tidak bisa merasakan dengan jelas kekuatan pria di depannya.


Sama seperti ia tidak bisa menebak Luo Youzhe.


Yang Xinyuan akhirnya menyahut, "Bukan masalah besar. Aku hanya datang untuk menemui Tetua Agung Yan sebagai utusan dari Raja Istana Yuansu."


Raja Istana Yuansu? Bukankah itu berarti Yang Xinyuan tidak tahu bahwa Yan Shuiyin adalah penyihir? Akan berbahaya jika membiarkannya tetap di sini. Apa yang wanita itu pikirkan?


"Aku mendengar beberapa hal tentangmu, termasuk ujian akhir di halaman luar." Yang Xinyuan entah kenapa mengungkitnya.


"Yaa, kebanyakan dari itu semua hanyalah rumor yang dibuat-buat." Gu Yuena tidak ingin mengakui apa pun. Ia tidak tahu rumor mana saja yang didengar Yang Xinyuan.


"Aku pikir kau cukup berbakat. Jika bisa masuk ke Istana Yuansu lebih cepat, itu adalah hal bagus."


Apa pria berwajah tembok itu sedang memuji? Agak aneh melihatnya memuji dengan wajah datar dan dengan nada dingin.


"Itu menang tujuanku datang ke sini." Gu Yuena tersenyum canggung. "Jika ada sesuatu, langsung katakan padaku. Aku pastikan akan membantu sebisaku."


Yang Xinyuan hanya mengangguk sedikit. Gu Yuena tidak mengatakan apa pun lagi, dan pergi membawa dua ember kayu di tangannya.


Tapi sebelum Gu Yuena benar-benar pergi, Yang Xinyuan menghentikannya sehingga membuat Gu Yuena berhenti.


"Tunggu dulu!" Yang Xinyuan menghampiri.


Gu Yuena menolehkan kepala melihatnya. Iris hitam itu menatapnya dengan aura dingin yang tidak berubah, namun tindakannya berbeda dari air wajahnya.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari ruang spiritual. Sebuah gulungan yang terbuat dari kulit dan tampak sudah sangat lama. Dia memberikan itu pada Gu Yuena.


"Apa kau memintaku mengirimnya pada seseorang?" Gu Yuena menerimanya sambil melihat-lihat. Ia tidak berani membuka isinya.


"Untukmu, sebagai hadiah kedatanganmu. Yan Shuiyin cukup kesepian di sini, aku harap kau tidak mengecewakannya."


Gu Yuena melihatnya dalam diam untuk beberapa saat. Yang Xinyuan terlihat tidak jauh lebih tua darinya, mungkin lebih tua 5 tahun. Tapi kenapa dia begitu perhatian pada Yan Shuiyin yang sudah ratusan tahun?


Apa mereka memiliki hubungan?


"Jangan salah paham. Aku dan Yan Shuiyin sudah cukup lama kenal, dia sudah seperti keluargaku sendiri."


"Kau seperti telah membaca pikiranku." Gu Yuena terkekeh.


"Sangat telihat di wajahmu." Yang Xinyuan melihat ke arah gulungan di tangan Gu Yuena. "Itu adalah langkah pembuatan esensi sihir untuk pemula."


Gu Yuena melongo. "Bukankah aku baru bisa menggunakannya ketika tingkat 6?"


"Itu tidak akan lama."


Gu Yuena tersenyum, lalu mengangguk. "Terima kasih."


"Kedepannya kita akan sering bertemu," kata Yang Xinyuan, sebelum akhirnya pergi membiarkan Gu Yuena yang asik sendiri dengan gulungan di tangan.


"Yah, tidak buruk," gumam Gu Yuena. Isi gulungan benar-benar metode pembuatan esensi sihir! Inilah yang ia butuhkan.


Tidak dapat dipungkiri, Yang Xinyuan telah membuat kesan baik untuk Gu Yuena di pertemuan pertama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nona, aku kembali—miaw!"


Sebuah benda mengarungi seluruh tubuh Xiao Hei kala ia akan memasuki paviliun. Semua kain yang dibawanya menggunakan gigi jatuh berserakan, sedangkan sosoknya terkunci dalam karung sambil memberontak dan berteriak.


Suara auman yang mengerikan muncul dari dalam karung kecil itu. Dua orang yang memegangi karung langsung menggunakan kekuatan segel untuk menguncinya agar makhluk hitam di dalam tidak keluar.


"Ini bukan kucing biasa."


"Cepat segel dan pergi sebelum tertangkap!"


Pria yang memegang karung dengan susah payah itu langsung menyelesaikan segel khusus milik summoner. Sedangkan pria satunya memberi sedikit pukulan ke arah karung sampai gerakan dalam karung berhenti.


"Ayo, Tuan Muda sudah menunggu!"


"Ya."


Mereka berdua pun pergi dengan kecepatan tinggi dari wilayah Paviliun Anggur, melupakan jejak penculikan yang ditinggalkan di depan gerbang paviliun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar, Gu Yuena duduk dalam posisi meditasi untuk meningkatkan basis kultivasi. Qi di sekitar diserap ke dalam tubuh sehingga memunculkan energi merah di sekitarnya.


Api phoenix di dalam tubuhnya menggelora, melahap semua qi di dalam dantian untuk dijadikan sumber kekuatan dan membentuk kekuatan baru. Esensi sihir yang digunakan Gu Yuena juga menambah kekuatannya secara signifikan.


Sampai akhirnya fluktuasi energi terjadi di tubuhnya, menyebabkan tekanan pada seluruh ruangan dan perubahan suhu seperti api neraka. Gu Yuena telah meningkat ke tingkat 5 bintang 3 dengan cepat.


Kemampuan umum tingkat 5 bintang 3 adalah penambahan kemampuan pengendalian secara kelompok. Ia dapat membuat sebuah serangan baik pasif maupun aktif untuk menurunkan efektifitas lawan di sebuah medan tempur dalam radius tertentu.


Itu adalah kemampuan umum yang sulit diterapkan, sehingga tidak sedikit yang mengabaikannya sampai benar-benar menghilang digantikan kemampuan lain. Namun, dengan esensi sihir yang digunakan Gu Yuena, esensi sihir tingkat 8—dari Luo Youzhe—memiliki kemampuan penambahan kontrol massa yang aktif. Tidak akan sulit baginya untuk mengendalikan kemampuan itu.


Gu Yuena membuka mata. Iris merahnya bersinar sesaat sebelum akhirnya kembali seperti semula.


Ia tersenyum. "Tidak buruk."


Perasaan ini cukup baik. Selain penambahan kemampuan kontrol massa, ia dapat merasakan seluruh tubuhnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tubuh yang terasa ringan dan napas segar tanpa adanya hambatan. Bahkan tulang-tulangnya terasa lebih kuat.


Setelah ini, ia masih harus mengambil beberapa teknik tingkat atas untuk mendukung sihirnya.


Omong-omong, Xiao Hei belum kunjung kembali. Hari sudah gelap sejak ia meminta Xiao Hei mengambil kain tadi siang.


Apa terjadi sesuatu di luar?


Meski kucing itu kadang suka menghilang, Xiao Hei selalu mengatakan padanya untuk tidak mencarinya sebelum menghilang. Gu Yuena jadi cemas sendiri.


Saat itu pula, Gu Yuena lagi-lagi melihat Yan Shuiyin dalam penampilan pria kasar tengah asik minum anggur. Gu Yuena hanya bisa menghela napas.


"Xiao Yuena, kau di sana. Apa tidak ingin minum anggur denganku?" Yan Shuiyin menyengir ke arah Gu Yuena sambil menunjukkan botol anggur di tangannya.


Meski Gu Yuena suka anggur, ia sedang tidak berminat minum. Itu hanya akan mengalihkan fokusnya. Lebih baik diminum ketika frustrasi.


"Guru, apa Anda melihat Xiao Hei?" tanya Gu Yuena.


"Kucing hitam yang selalu bersamamu itu?" Yan Shuiyin berpikir sejenak. "Entahlah, dia belum kembali. Mungkin sedang berjalan-jalan atau menyerap esensi langit dan bumi."


Cara berkultivasi monster secara umum adalah menyerap esensi langit dan bumi di alam liar. Itu dilakukan untuk menyempurnakan proses kultivasinya setelah berburu dan menyerap energi monster lain. Sama seperti manusia yang menyerap qi.


"Aku akan keluar sebentar."


Yan Shuiyin melanjutkan kesenangannya sendiri tanpa melihat Gu Yuena yang keluar dari Paviliun Anggur malam-malam.


Berdiri di depan pintu paviliun sambil memandangi gelapnya langit. Langit gelap yang dipenuhi bintang dan sinar rembulan penuh yang memberi pencahayaan.


Langit gelap itu, seperti warna kedua mata seseorang.


Ingatan hari seusai pertandingan itu terlintas begitu saja. Percakapan yang ia ingat dengan baik. Ia sendiri tidak tahu, bagaimana ia akan memaknai percakapan itu jika dihubungkan dengan perasaannya sendiri.


Segalanya terasa lebih aneh.


Tidak mungkin 'kan Gu Yuena menyukai seseorang? Apalagi orang itu.


Dari sekian banyak 'kekasih' yang bersamanya, ia tidak pernah merasa sebimbang ini ketika ingin meninggalkan seseorang. Profesionalisme itu seolah menghilang.


"Hah, menyebalkan." Gu Yuena mengadahkan kepalanya ke atas, lalu menutup mata, merasakan sejuknya udara yang berhembus ke wajah cantiknya.


Matanya terbuka lebar tiba-tiba, menampilkan iris semerah darah yang cukup tajam.


Ia merasakan kehadiran seseorang.


Siapa yang datang malam-malam begini? Di Paviliun Anggur pula.


Gu Yuena mengedarkan pandangan ke segala arah. Kedua matanya berhenti di gerbang paviliun yang tertutup. Ia dapat merasakan napas seseorang di sana.


Kakinya melangkah lalu sedikit membuka gerbang untuknya keluar.


Tidak ada siapa pun.


Napas itu juga menghilang.


Sepertinya seseorang sedang bermain-main padanya.


Gu Yuena mendengus. Ia berbalik hendak kembali ke dalam. Tapi langkahnya terhenti begitu menyadari apa yang ia pijak di bawah kakinya.


Beberapa kain yang berserakan.


Sebelumnya Gu Yuena meminta Xiao Hei mengambilkan beberapa kain untuk Yan Shuiyin, lebih tepatnya untuk persediaan Paviliun Anggur. Melihat beberapa helai kain yang berserakan di atas tanah, ia sepertinya memahami apa yang terjadi.


Xiao Hei diculik.


Gu Yuena mengepalkan tinjunya dalam-dalam, menahan emosi yang bergejolak. Berani sekali seseorang menantangnya melalui Xiao Hei. Jika terjadi sesuatu pada kucing kecilnya, ia akan membuat orang yang bersangkutan membayarnya lebih buruk.


Ia berjongkok, mengambil semua kain yang berserakan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Ketika mengangkat beberapa kain yang menumpuk, secarik kertas jatuh dari lapisan kain membuat perhatian Gu Yuena teralih.


Mengambil kertas tersebut, lalu membaca isinya.


"Kucing kecilmu ada di selatan akademi. Jika kau datang membawa orang, bersiaplah untuk kehilangan."


Gu Yuena terkekeh kecil setelah membacanya. Awalnya ia berpikir untuk melacak melalui kain yang berserakan ini. Tapi rupanya, orang itu telah memberi undangan.


Meskipun tidak diancam seperti ini, ia sudah pasti akan datang sendiri. Malam ini juga.


***


Wilayah selatan akademi adalah tempat terasingi yang berisikan monster buruan. Monster buruan yang terkumpul itu berada dalam segel seorang summoner dan tidak bisa membahayakan murid-murid.


Namun, ada beberapa kasus monster tingkat tinggi di dalam segel yang melakukan serangan secara tidak langsung, menyebabkan beberapa murid mengalami luka internal dan menggila. Itu sebabnya, tempat itu sangat terasingi.


Hanya summoner dengan posisi istimewa dan para tetua serta dekan saja yang diperkenankan mendekati 'penangkaran' itu. Sedangkan murid lain, akan mengalami sakit kepala dan tidak bisa menahan tekanan monster berbahaya itu.


Bagian selatan akademi berupa hutan, di dalamnya terdapat para monster yang dijinakkan. Meski jinak, mereka sebenarnya tidak sepenuhnya jinak. Andai kata ada seorang murid 'lembek' yang tidak didampingi seseorang dengan kekuatan tinggi, para monster itu pasti akan melahapnya sebagai nutrisi.


Beberapa murid akademi dengan seragam putih bercorak emas kini berkumpul di satu titik hutan penangkaran. Mereka melihat dengan waspada ke arah sebuah sangkar besi yang cukup besar, mengelilinginya sambil melihat sepasang mata menyala milik makhluk hitam yang ditujukan pada mereka semua.


Kekuatan makhluk hitam di depan mereka sudah jelas tidak dapat diremehkan. Mereka dapat menangkapnya saat sedang lengah sudah merupakan keberuntungan.


Makhluk hitam itu menggeram sambil memandang manusia-manusia dengan tajam. Tatapannya yang tajam dan penuh amarah begitu terlihat ingin mencabik-cabik mereka menjadi beberapa bagian.


"Perempuan itu benar akan datang ke sini?" Salah seorang pria berkata dengan keraguan. Pasalnya, ini sudah sangat malam.


"Perempuan itu selalu membawa kucing besar ini setiap saat. Dia pasti sangat memperhatikannya. Mungkin saja, perempuan itu sedang dalam perjalanan."


"Hmph, aku ingin lihat bagaimana triknya untuk mendapatkan kembali monster ini."


"Aku dengar dia adalah wanita tercantik yang bahkan kecantikannya mengalahkan Lin Xi dan Lin Susu. Setelah membuatnya berlutut, jangan menyianyiakan kecantikan seperti itu."


"Huh, isi kepalamu selalu saja seperti itu. Benar-benar memalukan."


"Perempuan itu adalah milik Tuan Muda. Kita serahkan padanya, baru membuat keputusan sesuai situasi."


Sedangkan mereka berbincang mengenai rencana penyergapan, makhluk hitam yang dikurung dalam sangkar melihat mereka dengan geram karena telah berencana menyakiti nonanya.


"Aku harus segera keluar dari sini dan membantu Nona." Xiao Hei menggeram sekali lagi, lalu membenturkan tubuhnya ke jeruji besi yang mengelilinginya.


Tubrukan Xiao Hei membuat semua mata teralih padanya. Pasalnya, tubrukan itu sangat kuat sampai membuat jeruji besi itu bergetar seolah akan hancur.


Sayangnya, jeruji itu terlalu kuat. Xiao Hei sudah menggunakan segenap tenaga untuk menghancurkannya dan melepaskan borgol di leher yang menahan kekuatan spiritualnya. Ia harus keluar dari sini dan membantu nonanya!


"Hei, sepertinya dia marah kita membicarakan nonanya."


"Benar-benar bintangan yang setia."


"Sekuat apa pun dia mencoba, bahkan seekor monster tingkat 7 tidak akan bisa merusak jeruji ini tanpa kekuatan spiritual."


Mereka tertawa melihat betapa frustrasi Xiao Hei yang ingin menghancurkan jeruji. Jeruji itu tetap berdiri kokoh.


Semakin kesal melihat orang-orang itu menertawakannya dan merendahkan nonanya, Xiao Hei semakin marah. Ia mengaum dengan keras menyebabkan murid-murid itu harus menutup telinga dan menahan tekanan yang menerobos keluar secara paksa.


Terlalu kuat.


Sebenarnya, berapa tingkatan monster itu?


"Aku harus cepat!" Xiao Hei meyakinkan dirinya sendiri. Matanya menjadi semerah darah saat itu juga.


Ia terus membentur tubuhnya ke jeruji di berbagai sisi secara berurutan. Benturannya semakin lama semakin kuat, menyebabkan cacat di beberapa bagian jeruji. Hal tersebut membuat Xiao Hei senang.


Tapi salah seorang murid menyadarinya lebih cepat.


"Jeruji ini akan hancur!"


Hanya dalam satu kalimat itu, berhasil membuat semua orang berwaspada. Xiao Hei kembali membenturkan tubuhnya lebih kuat sampai membuat getaran hebat yang mengguncang tanah.


Saat itu pula, salah satu bagian jeruji hancur berkeping-keping dan meloloskan Xiao Hei.


Xiao Hei mengaum dengan ganas. Hal tersebut membuat para murid kelabakan akan lolosnya seekor monster mengerikan yang berhasil menerobos jeruji yang sangat kuat.


Jeruji berharga rusak saja sudah membuat mereka sangat ketakutan, apalagi ketika Xiao Hei keluar dan memandang mereka seolah malaikat pencabut nyawa sudah berada di depan mata.


"Uwaa, bagaimana ini? Bagaimana dia bisa menghancurkannya!"


"Apa yang harus kita lakukan?"


Mereka berenam bergetar hebat. Xiao Hei tanpa aba-aba melompat ke arah mereka dengan ganas, membuat keenamnya bubar saat itu juga.


Getaran di tanah sangat terasa dan membuat mereka berjatuhan ketika Xiao Hei mendaratkan tubuhnya. Xiao Hei melihat mereka dengan aura membunuh yang kuat. Meski lehernya masih diborgol, ia tetap bisa menghancurkan anak-anak ini dengan kekuatan fisiknya.


Keenam orang itu berteriak sejadinya sampai membuat para monster yang tidur terbangun. Tapi entah kenapa, para monster itu tidak berani mendekat dan malah menyembunyikan keberadaan.


Keenam murid itu sangat ketakutan dan berlarian seperti domba yang tersesat di sekitar hutan. Xiao Hei tidak mengampuni mereka begitu saja. Meski mereka berlari terpisah, ia tidak peduli dan mengejar yang paling terjangkau.


Iris merah darah makhkuk hitam menatap murid laki-laki di depannya yang terperosok. Laki-laki itu merangkak ke belakang, sambil menangis dan ketakutan sampai tidak bisa meminta bantuan. Ia terlalu tidak berdaya.


Di mana arogansi yang ia tunjukan tadi? Apalagi, laki-laki itu adalah murid yang sebelumnya berniat kotor pada Gu Yuena. Xiao Hei tentu tidak akan mengampuninya.


"Tolong! Tolong aku! Aku tidak mau mati!" Laki-laki itu berteriak histeris sambil menendang-nendang udara penuh rasa takut. Tatapannya melihat makhkuk besar di depannya dengan horor.


Mati di penangkaran monster adalah hal lumrah yang tidak bisa dikendalikan akademi. Jika ada murid yang mati di sini, mereka tidak mau pusing mempermasalahkannya, karena menganggap bahwa murid itu ceroboh dan membuat diri sendiri menjadi santapan monster.


Maka dari itu, tidak masalah jika membunuhnya.


"Kumohon ... siapa pun tolong aku ...." Laki-laki merasa lemas tak berdaya tanpa ada niatan berhenti meminta tolong. Ia bahkan tidak bisa melarikan diri lagi.


Makhluk hitam itu mendekatinya dengan geraman marah yang menakutkan. Ia merendahkan tubuhnya ke arah belakang, bersiap menerkam laki-laki di depannya.


Ketika tubuhnya melompat disertai raungan ganas, laki-laki itu berteriak sejadinya tanpa mempedulikan bahwa pita suaranya akan rusak.


Tapi tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Sebuah kilatan merah melintas dengan cepat menghantam tubuh besar makhluk hitam itu. Makhluk hitam terhempas cukup jauh, kulitnya terkena goresan pedang, sedangkan tubuhnya terbentur cukup keras sampai tanah mengalami guncangan.


Seseorang mendarat di depan laki-laki malang itu dengan pedangnya yang runcing dan besar, melihat makhluk hitam dengan dingin tanpa ekspresi sebelum akhirnya menyipitkan matanya.


"Makhluk apa itu?"