Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
36. Tiga Besar



"Jangan senang dahulu. Kekuatanku memang tidak sebanding denganmu, tapi jangan menjadi angkuh ketika saatnya melawan tiga besar. Aku saat ini berada di tingkat 5 bintang 2, tapi peringkat 3 besar berada di tingkat 5 bintang 4." Perempuan yang baru saja dikalahkan Gu Yuena memperingati.


Gu Yuena hanya memasang wajah senyum, menanggapi. "Terima kasih informasinya."


Mereka sudah ada di bawah arena dan terlepas dari pertandingan. Perempuan es itu pergi begitu saja bersama teman-temannya setelah memberi peringatan.


Sebenarnya, Gu Yuena malas memasuki 3 besar. Tapi seseorang berkata bahwa 10 besar hanya awal dari segala pertandingan. Jika tujuannya adalah memasuki Istana Yuansu dengan cepat dan dilirik para tetua untuk dijadikan murid langsung, ia harus memecahkan rekor dengan segala prestasi. Dimulai dari 3 besar, diikuti dengan pencapaian peringkat pertama halaman luar.


Sekarang, sudah dipastikan Gu Yuena akan mendapat kuota hak khusus dalam ujian akhir. Meski tidak tahu hak khusus apa saja, ia akan mengetahuinya nanti.


Gu Yuena berniat kembali ke kamar asrama. Ia berjalan sendiri, berpisah dengan Mu Xinhuan dan Shen Jialin yang sedang dilanda tugas dari mentor.


Di tengah perjalanan sunyi sambil memandangi para murid yang berlalu-lalang, seorang gadis cantik mendatanginya dengan kipas yang terbuka lebar menutupi sebagian wajahnya.


Perasaan Gu Yuena tidak enak.


"Kamu Gu Yue, 'kan? Aku melihat pertandinganmu tadi, lalu berniat belajar banyak hal darimu. Namaku Lin Susu, dari divisi Fengyuan dan profesi summoner. Meski berada di kelas yang berbeda, aku harap kita bisa berteman dan saling membantu di akademi."


"Tapi aku bukan Summoner, aku tidak bisa mengajarimu apa pun." Gu Yuena menolak dengan halus.


Ia ingat siapa perempuan ini. Lin Susu dikenal sebagai murid tercantik dan dewi halaman luar. Sifatnya periang dan bersahabat pada semua orang, membuat siapa pun enggan memusuhinya karena terlalu manis. Banyak perempuan yang cemburu padanya. Selain itu, Lin Susu juga berada di peringkat 5 besar, lebih tepatnya berada di peringkat 4.


Ia adalah satu-satunya perempuan yang memiliki kekuatan tertinggi di halaman luar setelah mengalahkan perempuan es itu.


Alasan Gu Yuena mengetahuinya, karena ia telah berusaha mengenali musuh—terutama 5 besar—dari berbagai informan. Ada tiga lelaki dan dua perempuan, dua di antaranya Xue Bing—perempuan es—itu dan Lin Susu yang tertinggi. Itu sebabnya, tidak ada yang berani menolak ataupun meremehkan Lin Susu.


"Gu Yue, kita sama-sama berada di 5 besar. Di kesempatan ujian kedua memang mendapatkan hak khusus, tapi aku masih harus meminta bantuan padamu untuk ujian pertama. Lupakan ujian kedua, aku sulit mengerti ketika berusaha memahami seorang mage."


"Kau sudah mengalahkan mage terkuat, apa itu disebut sulit mengerti?" Gu Yuena justru berpikir perempuan ini mendatanginya agar tidak ditunjuk untuk bertarung. Lagipula siapa yang ingin bertarung dengannya.


"Hari itu ... aku hanya beruntung." Lin Susu merendahkan dirinya serendah mungkin. Ia tidak boleh gagal menarik perhatian Gu Yue. "Gu Yue, apa kau akan menolakku lagi?" Ia memasang wajah cemberut yang sangat imut.


Sayangnya, wajah imut perempuan apalagi sebaya, sama sekali tidak membuat Gu Yuena luluh. Gu Yuena justru merasa merinding.


Perasaan Su Churan yang juga summoner tidak eksentrik sampai seperti ini.


"Aku akan memikirkannya." Gu Yuena buru-buru pergi dengan tubuh merinding. Ia harus menjauhi perempuan aneh itu.


Lin Susu berseru, "Gu Yue, jika setuju jangan lupa untuk menemuiku di asrama lantai delapan!"


Gu Yuena menoleh, lalu melemparkan senyum paksa sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Dasar perempuan aneh.


Di sisi lain, beberapa penggemar fanatik Lin Susu yang mengintai mulai merasa sangat kesal. Bisa-bisanya murid baru itu mendekati Dewi Lin mereka dan diundang ke asrama.


Lebih buruknya, beraninya Gu Yue menolak Dewi Lin mereka!


"Hmph! Dia akan menyesal nanti."


"Kita beri pelajaran saja supaya tidak meremehkan Dewi Lin."


"Benar. Gu Yue itu hanya beruntung bisa mengalahkan Xue Bing di peringkat lima."


"Hanya Senior Huang Jingtian dan Senior Yun Qiao yang pantas untuk Dewi Lin."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gu Yuena sampai si kamar asrama dan menghela napas. Bisa-bisanya ia ditaksir perempuan hanya dalam hitungan menit. Benar-benar merepotkan.


Untuk mengalahkan tiga besar, ia harus meningkatkan kekuatannya sekali lagi. Tapi kultivasi tingkat 5 tidak hanya bisa dilakukan dengan menyerap qi. Untuk menyempurnakan qi yang sudah menyatu dengan tubuh, dibutuhkan esensi sihir untuk seorang pengguna sihir agar peningkatan dapat meningkat lebih cepat.


Tapi masalahnya, esensi sihir sangat mahal di pasaran. Mereka hanya menjualnya di pelelangan, sama seperti batu roh yang digunakan oleh kultivator seperti assassin, hunter, dan archer, kemudian roh monster untuk summoner.


Untuk membuat esensi sihir, ia membutuhkan kenalan Su Churan atau orang lain yang tahu cara membuatnya. Di halaman luar ini tidak mungkin ada yang bisa.


"Esensi sihir ... siapa yang bisa membuatnya?"


"Kau butuh esensi sihir? Kebetulan aku punya banyak."


Gu Yuena berbalik melihat Luo Youzhe yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ia meletakkan beberapa botol kaca yang berisikan sihir warna-warni di atas meja. Itu adalah esensi sihir dengan kualitas bagus.


"Banyak sekali. Bagaimana kau mendapatkannya?" Gu Yuena sepenuhnya fokus pada esensi sihir.


Gu Yuena menghela napas. "Lebih baik memberitahuku cara membuatnya daripada memberiku langsung. Pasti ada bayarannya."


Luo Youzhe terkekeh. "Untuk membuat esensi sihir, kau harus mencapai tingkat 6 agar berhasil. Itu pun tingkat keberhasilan sangat minim. Tidak ada gunanya mempelajari sekarang."


"Jadi kau yang membuat semua ini?" Gu Yuena ragu.


"Tebaklah."


Apa itu berarti dugaannya benar, Luo Youzhe sudah berada di atas tingkat 6? Untuk membuat esensi sihir sebanyak ini dalam waktu singkat, setidaknya Luo Youzhe harus berada di tingkat 7. Akan sangat merugikan jika memprovokasinya.


"Butuh bayar berapa?" Gu Yuena melihat-lihat botol berisikan esensi sihir itu dengan seksama. Ia tidak paham mengenai kemurnian esensi sihir, tapi energi yang dikeluarkan esensi sihir cukup menenangkan sarafnya.


"Tukarkan dengan benda yang beberapa waktu lalu kau temukan."


Gu Yuena melihat Luo Youzhe untuk beberapa saat. Benda yang ia temukan? Tiba-tiba saja ia teringat akan batu hitam yang ia temukan di atap kamar asrama. Tapi itu sudah lewat 6 bulan, kenapa baru menanyakannya? Apa Luo Youzhe yang meletakkannya dan baru sadar bahwa benda itu menghilang?


Gu Yuena mengeluarkannya dengan enteng. Batu hitam legam itu masih utuh di tangannya, sama sekali tidak memancarkan kekuatan apa pun baginya. Justru lebih terlihat seperti batu tua.


"Kau tahu apa ini? Kau yang meletakkannya?" Gu Yuena bertanya sebelum menyerahkannya.


Luo Youzhe tidak menjawab. Ia mengambil batu itu begitu saja membuat Gu Yuena kesal sendiri. "Kau boleh ambil semua esensi sihir sesukamu. Ingat, gunakan secara perlahan dan tidak berlebihan. Mereka bisa melahapmu."


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


Luo Youzhe hanya melihat sepasang iris merah Gu Yuena, lalu berkata, "Ini adalah sesuatu yang jahat."


Belum sempat Gu Yuena menyahut, Luo Youzhe sudah menghilang dalam kegelapan, menyisakan berbagai pertanyaan yang mengganjal pikiran Gu Yuena.


Sudahlah. Toh, tidak berhubungan dengannya. Gu Yuena menyimpan semua esensi sihir yang ditinggalkan di atas meja itu, menyisakan salah satu di antara mereka.


Esensi sihir dari tiap monster akan memberikan kekuatan tersendiri pada penyerapnya. Esensi sihir berwarna merah gelap di tangan Gu Yuena menunjukkan bahwa itu adalah jenis kekuatan api yang besar berdasarkan kepekatan warna. Semakin pekat warna, semakin besar kekuatannya.


Kemungkinan besar, ini adalah esensi sihir monster tingkat 7 yang hanya bisa dibunuh oleh beberapa kuktivator tingkat 8 dan 9. Kekuatannya setara dengan seorang kultivator tingkat 9.


Gu Yuena makin penasaran. Seperti apa kekuatan Luo Youzhe yang sebenarnya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari setelahnya, Gu Yuena kembali bertanding di pertandingan 3 besar. Meski belum menerobos tingkat, berkat esensi sihir, Gu Yuena merasa kekuatannya meningkat melebihi sebelumnya.


Ia sudah terbiasa bertanding dengan murid-murid berbasis kultivasi yang sama, tapi kali ini ia bertanding dengan yang jauh berbeda. Ia penasaran bagaimana kekuatan tingkat 5 bintang 4, sebelum menerobos ke bintang 5 sebagai puncaknya.


Di tribun, Gu Yuena dapat melihat kedua temannya yang berteriak memberi semangat dengan antusias. Di sisi lain, ia juga melihat Lin Susu duduk diam sambil tersenyum ke arahnya. Hal itu membuatnya dijadikan bahan hujatan para fans fanatik Lin Susu. Lin Susu juga sama sekali tidak mendengarkan mereka, fokus pada arena.


Lawannya kali ini adalah seorang archer. Archer menitik beratkan kecepatan serangan pada senjatanya dan memberi jarak sejauh mungkin terhadap lawan. Mereka akan melemah jika berada dalam pertempuran jarak dekat.


Lawannya kali ini menggunakan senjata panah perak yang tampak mewah dan berat. Tidak hanya itu, kekuatan dalam panah tersebut juga memiliki tekanan yang cukup kuat dan memberi kekuatan pada pemiliknya untuk digunakan.


Terakhir yang Gu Yuena dengar, pria di depannya itu membelah monster menggunakan beberapa panahnya di hutan dalam satu serangan. Kekuatan seperti itu memang luar biasa.


Karena keduanya menggunakan serangan jarak jauh sebagai pertempuran utama, Gu Yuena tidak akan merasa dirugikan.


Pertandingan dimulai begitu wasit memberi aba-aba.


Beberapa panah melayang di udara dalam garis lurus dengan kecepatan tinggi. Gu Yuena mengelak, lalu melihat pria yang terus melancarkan anak panahnya terus menerus seolah tidak pernah habis. Pria itu juga sebisa mungkin menjaga jarak dari serangan Gu Yuena.


Serpihan qi terbentuk dan menyerbu anak panah yang melesat di udara bagaikan hujan. Gu Yuena berlari cepat ke tiap sisi sambil melemparkan serangan jarak jauh. Gerakan Gu Yuena yang sangat cepat membuat archer itu kesulitan.


Pria itu melesatkan beberapa panah yang berkumpul secara melingkar membawa angin bersamanya. Tornado panah terbentuk, desingan panah terdenar begitu mengerikan di antara pusaran angin di tengah arena. Untuk seorang pengendali angin, bukan hal rumit menyatukan senjata dengan angin yang dikendalikan untuk membentuk badai.


Bersamaan dengan itu, armor berwarna putih bening muncul di sekitar tubuh pria itu. Armor qi yang terbentuk ketika memasuki tingkat 5, Gu Yuena juga bisa mengeluarkannya.


Tapi Gu Yuena tidak berniat menggunakan teknik itu, karena tidak berguna padanya. Armor qi hanya bisa digunakan oleh seseorang bersenjata secara maksimal, sedangkan Gu Yuena adalah penyihir yang tidak menggunakan senjata, sama seperti mage.


Sebenarnya mage menggunakan tongkat sihir sebagai senjata, tapi beberapa mage jenius tidak perlu menggunakannya. Bisa menggunakan sihir tanpa tongkat sudah sangat menakjubkan bagi mage. Di mata semua orang, Gu Yue adalah mage jenius seperti itu.


Pertandingan semakin sengit dari waktu ke waktu, membuat tribin penuh akan penonton. Panah-panah terus melesat dari tornado dan menyapu arena begitu saja. Angin yang berhembus bukannya meredupkan api Gu Yuena, melainkan memperbesarnya. Ketuka tornado melahap api yang diciptakan Gu Yuena, api Gu Yuena memenuhi tornado membuatnya berubah warna menjadi merah.


Tornado semakin kacau ketika pria itu menarik Gu Yuena ke dalamnya untuk bertarung. Semua orang tidak lagi dapat melihat apa yang terjadi di dalam sana. Mereka hanya melihat kedua peserta telah terhisap ke dalam tornado panah berapi.