
"Dia di sini."
Tepat setelah Luo Yi mengatakannya, para penari menyelesaikan tarian dan undur diri. Setelah penampilan mereka yang indah diperlihatkan, kini tampak seorang wanita bertopeng dengan balutan pakaian merah gelap berjalan di atas panggung.
Pakaiannya tidak terlalu mewah, tapi cukup menampilkan sosoknya yang elegan dan cantik layaknya seorang bangsawan. Topeng phoenix menempel di wajah cantiknya sehingga hanya menambilkan bibir merah yang tampak tipis dan cantik. Mata yang tampak juga merupakan mata merah yang penuh dengan rasa percaya diri.
Musik guzheng dikumandangkan. Sosok itu bergerak dengan halus mencuri banyak perhatian dengan penampilannya. Rok merahnya berkibar seperti sayap ketika gadis itu melakukan tarian rumit yang hanya dapat ditemukan di Negara Wyvernia. Kilau sihir merah memberi jejak di tiap gerakannya sehingga menciptakan keindahan luar biasa.
Gerakan yang semula halus dan lambat, kini mempercepat temponya sehingga tampak lebih rumit. Musik yang dialunkan juga semakin cepat, menambah daya semangat yang tampak di atas panggung.
Sosok itu berputar dan melompat dengan indah. Ia tampak seperti angsa yang menari, juga seekor phoenix yang berapi-api dan menunjukkan keindahannya. Hal itu berhasil memacu banyak orang untuk mengenal sosok puncak keindahan.
"Bukankah sangat berbakat?" Luo Yi tersenyum lebar melihatnya.
Gu Yuan mengerjap mata, kemudian berfokus pada sosok di balik topeng itu dengan baik. Ketika melihat mata kemerahan yang mirip dengannya itu, ia tampak terkejut.
"Dia ...."
Luo Yi tertawa. "Sudah kukatakan dia ada di sini."
"Kakak ipar, apa kau mengenalnya?" Gu Yesha tiba-tiba muncul menanyakan hal tersebut. Pandangannya terpacu pada penari tersebut seolah akan menteskan liur.
"Kita semua mengenalnya." Luo Yi menjawab, namun tetap menumbuhkan pertanyaan di benak Gu Yesha. Sedangkan Gu Yuan hanya diam di tempatnya.
Sepertinya Gu Yuan terpikirkan sesuatu. Ia beegumam, "Gawat ...."
Di sisi lain, Gu Yueli yang telah mengenal siapa penari itu mencengkram roknya dengan erat. Ia melirik Ye Suanwu yang tampak terpana. Ia jadi kesal. Tidak hanya Ye Suanwu, bahkan Gu Yihan sampai ketua klan dan para tetua juga terpana. Ayahnya juga sama!
Ia menggeram dalam diam. "Gu Yuena, beraninya kamu ...." Beraninya sampah sialan itu tampil lebih baik dan mencuri semua perhatian! Ia adalah pemeran utama, kenapa Gu Yuena merebutnya? Ia tidak akan mengampuninya!
Tarian itu terus berlangsung dengan musik indah. Tubuh sosok itu seolah adalah karet yang bergerak secara lentur dan dapat meluruskan kedua kakinya di arah yang berbeda. Ia menampilkan ballet yang dipadukan bersama tarian tradisional tiongkok dengan sempurna.
Ia melompat ke udara dan menahan kakinya dengan kekuatan spiritual untuk sementara. Dengan begini, penampilannya membuat semua orang lebih terpana. Bahkan Ketua Klan Ye siap membawa wanita itu untuk menjadi selirnya!
Gu Yueli tidak mau Gu Yuena menguasai acara menggunakan penampilannya sampai dipuji. Ia mengeluarkan sebuah api di jarinya, kemudian membacakan matra diam-diam untuk membuat api itu memberi serangan sembunyi pada Gu Yuena selagi semua perhatian teralih.
Gu Yuena melihatnya. Ia menghindari serangan sembunyi itu dengan tarian indah dan lompatan yang sempurna. Hanya saja, ada satu hal yang lolos dari perhatiannya.
"Gawat!" Ia bergumam pada diri sendiri setelah merasakan qi dalam tubuh mulai menipis sehingga tidak bisa berpijak di udara.
Rupanya yang digunakan Gu Yueli bukan mantra serangan, namun mantra untuk mematikan qi seseorang dalam waktu 2 detik. Itu cukup membuat Gu Yuena jatuh!
Tubuh Gu Yuena lepas kendali ke bawah. Ia sudah mempersiapkan diri untuk jatuh dengan cara yang lebih baik agar tidak terlihat memalukan dan menyelesaikan tarian. Setidaknya, ia dapat mempertahankan wajahnya terlebih dahulu.
Tapi ternyata rencana berubah begitu saja ketika sosok hitam tiba-tiba muncul melingkarkan tangan di pinggang Gu Yuena yang jatuh lepas. Gu Yuena merasa tubuh terombang-ambing dan berputar sangat cepat. Namun pikirannya tidak terpengaruh oleh guncangan tersebut, melainkan pada mata seseorang di balik topeng hitam di depannya.
iris biru malam yang nyaris tak dikenali, tampak dalam sedalam lautan. Entah bagaimana, tiba-tiba pikiran Gu Yuena terarah pada mata biru yang sama di bawah bulan beberapa waktu lalu. Tapi Gu Yuena langsung melepas pemikiran itu dan sadar dengan cepat.
Pria bertopeng itu tampaknya tidak berniat mempermalukan Gu Yuena sebagai penari. Ia mengikuti alunan musik dengan caranya sendiri, serta mendukung tarian ballet Gu Yuena sebagai pasangan tari.
Gu Yuena sebenarnya agak terkejut, tapi ia melakukan pekerjaannya dengan profesional tanpa banyak pertanyaan. Ia melirik pemain guzheng di sudut, memberi isyarat mata padanya untuk segera menyelesaikan penampilan.
Pemain guzheng yang rupanya Chu Xin mengangguk dengan cepat. Ia tampak terpana sebelumnya, tapi ia memaksakan diri bersikap profesional mengikuti arahan Gu Yuena. Nonanya ini memang luar biasa.
Gu Yuena melirik pria itu dengan perasaan aneh. Ia seperti mengenal pria itu, tapi tidak ingat di mana pernah bertemu. Apalagi ketika mereka harus saling berdekatan, napas dingin pria itu membuat otak Gu Yuena macat.
"Fokus."
Suara dingin pria itu mengejutkan Gu Yuena. Sangat dingin seperti es. Kalau seperti itu, Gu Yuena semakin tidak yakin kalau mereka pernah bertemu.
Chu Xin mengakhiri permainan musiknya dengan sempurna, sedangkan Gu Yuena dan pria itu mengakhiri penampilan dengan penampilan akhir yang memukau.
Gu Yuena masih tidak bisa mengatakan apa pun selama pria itu masih ada di depannya. Sampai akhirnya suara tepuk tangan meriah terdengar, barulah Gu Yuena tersadar.
Gu Yuena menunjukkan senyum manis melihat para penggemarnya yang bertepuk tangan. Ketika ia melihat ke arah pria itu lagi untuk mengucapkan terima kasih, pria itu sudah menghilang entah kemana. Ia jadi bingung sendiri.
"Bagus ... penampilan yang sangat bagus!" Ketua Klan Ye memuji dengan suara keras dan penuh semangat. Penari itu harus menjadi miliknya sebelum direbut orang lain!
Gu Yuena membungkuk memberi penghormatan, kemudian berkata, "Ketua Klan terlalu memuji. Aku Putri Keempat Kediaman Adipati Gu, Gu Yuena, masih harus banyak belajar. Ini adalah penampilan pertamaku sebagai hadiah pernikahan Adik Kelima dan Tuan Muda Ye, terima kasih atas perhatiannya."
Mereka semua terdiam saat Gu Yuena mengenalkan diri. Seolah petir menyambar di langit, Ye Jin nyaris tidak percaya dengan ucapan Gu Yuena. Yang ia sukai adalah penari yang menampilkan kecantikan indah dan memukau, bukan Gu Yuena yang mempermalukan putranya dengan api kecil itu!
"Gu Yuena?" Ye Jin langsung kehilangan harapan menikmati kecantikan itu. Ia tersenyum kecut. Jika Gu Yuena bukan putri Adipati Gu, tentu ia tidak akan peduli dan langsung memungutnya sebagai selir. Tapi ini ....
"Sepertinya, Ketua Klan Ye harus menahan diri untuk kali ini." Luo Yi di ujung sana tertawa kecil melihat reaksi Ye Jin. Pria itu benar-benar mempermalukan diri sendiri.
Wajah Gu Yihan dan Gu Yesha juga menjadi jelek. Jika itu bukan saudara mereka, merska tidak akan menjadi seperti ini. Andai mereka tahu lebih awal.
Gu Shan lebih parah. Ia nyaris pingsan memikirkan bagaimana putrinya bisa menari di depannya tanpa sepengetahuannya. Ditambah ... siapa pria yang menyentuh putrinya tadi! Meski awalnya ia tidak begitu memperhatikan Gu Yuena, tapi sekarang Gu Yuena adalah satu-satunya putri di Kediaman Adipati!
Suasana menjadi canggung seketika. Gu Yuena puas melihat ekspresi semua orang, terutama Gu Yueli dan Ye Suanwu. Tatapan pasangan itu seolah akan mencabik-cabiknya dari sana. Sangat menyenangkan ....
"Tuan Muda Ye, Adik Kelima, selamat atas kebahagiaan kalian." Gu Yuena berkata dengan 'tulus' serta dengan nada halus yang membuat hati semua orang menghangat.
Ia pun membungkuk, kemudian undur diri untuk menghampiri kakaknya. Chu Xin juga berdiri dan mengikuti nonanya dengan semangat membara.
Setelah penampilan memukau Gu Yuena, pertunjukkan selanjutnya kini terasa sangat hambar. Semua orang jadi merindukan tarian Gu Yuena.
Gu Yuena tanpa melepas topengnya berjalan menghampiri kakaknya dengan cengiran khas. Ia mengambil camilan kering, kemudian memakannya.
"Bagaimana penampilanku? Bukankah sangat bagus? Kakak Ketiga, kau sampai mengeluarkan liur dan sangat terkejut." Gu Yuena mengejek.
"Sudah kukatakan, aku hanya ingin memberi hadiah." Gu Yuena berkata dengan enteng tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian melihat Luo Yi. "Kakak ... ipar ... kau di sini." Ia tiba-tiba teringat seseorang.
"Ketua Klan memintaku datang sebagai perwakilan klan. Omong-omong, penampilanmu sangat bagus. Apa itu tarian dari Wyvernia?"
Gu Yuena mengangguk pelan. Matanya tampak mencari seseorang. Hal itu sangat terlihat jelas oleh Luo Yi hingga wanita itu tidak bisa menahan untuk tidak mengejek.
"Luo Youzhe tidak ikut bersamaku, dia ada urusan." Luo Youzhe berkata dengan nada mengejek.
Gu Yuena mengubah wajahnya menjadi datar. "Aku tidak bertanya tentangnya." Sebenarnya, ia hanya ingin memastikan bahwa pria bertopeng itu bukan Luo Youzhe.
"Siapa orang itu?" Gu Yuan tiba-tiba bertanya. Kedua tangannya dilipat di dada dengan pandangan menyelidik.
"Siapa?" Gu Yuena tidak mengerti.
"Rekan tarimu." Gu Yuan berkata dengan datar tanpa ekspresi. Itu membuat Gu Yuena sangat ingin mengejeknya.
"Kak, apa kamu cemburu?" Gu Yuena tersenyum lebar, kemudian menghela napas. "Kemarin kau mengejekku karena cemburu, akhirnya aku bisa melihatmu cemburu sekarang."
"Bukan seperti itu. Klan Ye memiliki banyak musuh. Aku hanya takut seseorang melukaimu dengan menyamar sebagai rekan tari. Lagi pula, kenapa harus menari? Kau tidak lihat berapa banyak pria yang ingin mendekatimu dengan pemikiran buruk?" Gu Yuan memarahi.
Gu Yuena cemberut. "Bukankah sekarang mereka tidak berani? Aku hanya ingin sedikit mempermalukan Ye Suanwu karena telah mencampakkan wanita yang salah. Itu saja."
Gu Yuan mendengus kesal. "Ada sangat banyak cara untuk mempermalukannya. Sekarang, orang-orang mulai mendekatimu untuk memanfaatkanmu. Kau lupa kenapa aku memintamu memakai cadar? Sekarang kau bahkan melepasnya."
"Kak, aku sudah memakai topeng. Lagipula, tidak selamanya aku hidup dengan menutup wajah. Aku harus bersyukur pada penampilanku dan memanfaatkannya dengan baik." Gu Yuena merasa hal itu bukan sesuatu yang harus diperhatikan.
Ia telah menjalin banyak hubungan di dunia sebelumnya dan mencampakkan banyak pria lalu membunuhnya. Ciuman dengan Luo Youzhe juga bukan ciuman pertamanya di dua kehidupan. Tidak perlu khawatir. Ia tahu persis bagaimana cara pria berpikir dan tidak akan repot pada mereka.
"Sudahlah, jangan berdebat lagi. Lebih baik kita berkeliling untuk menikmati angin. Di sini cukup pengap." Luo Yi bermaksud menengahi.
"Kakak ipar, apa kau akrab dengan Klan Ye?" Gu Yesha yang sejak tadi menonton perdebatan mulai aktif.
"Sudah dua kali aku ke tempat ini, tentu aku akrab." Luo Yi menjawab dengan santai, berharap dua adik kakak ini tertarik
Ia akan mengajak Gu Yuan yang ngambek, sayangnya Gu Yuan semakin ngambek dan pergi ke arah lain. Gu Yuena tidak terima diperlakukan seperti itu. Karena kesal, ia pun pergi ke sisi berlawanan bersama Chu Xin.
Luo Yi dan Gu Yesha hanya memasang senyum 'ramah' selagi ditinggalkan dua orang itu. Pada akhirnya, Luo Yi hanya bisa mengajak Gu Yesha yang seperti bocah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena perjalanan cukup jauh dan perjamuan keluarga belum dilaksanakan, Keluarga Adipati dianjurkan menginap di dalam klan untuk beberapa waktu sampai perjamuan berakhir. Mereka mendapat tempat yang cukup baik untuk beristirahat, menunjukkan niat Klan Ye yang bersedia mendukung Kediaman Adipati.
Gu Yuena bersandar di kursi depan kamarnya sambil melihat langit. Ia masih memikirkan pria bertopeng itu dan mencoba mencari kesamaan dengan orang-orang yang ia temui. Selain pertanyaan identitas pria itu, pertanyaan paling utama adalah, kenapa pria itu membantunya? Apalagi, pria itu juga terlihat pandai memadukan gerakan dengan musik dan bisa melakukan tari ballet yang rumit.
Apa pun jawabannya, pria itu haruslah pria yang pernah ditemui Gu Yuena.
Awan di langit perlahan berubah menjadi pekat dan gelap. Perubahan itu membuat ekspresi Gu Yuena menjadi redup.
Ia menghela napas panjang dan menutup mata. "Aku benci badai. Aku benci hujan ...."
"Nona, bukankah hujan sangat menenangkan? Aku justru berpikir, saat-saat hujan adalah saat yang paling menenangkan dalam hidup."
Gu Yuena membuka mata untuk melihat Chu Xin. Ia tersenyum kecut. "Aku juga ingin berpikir seperti itu, tapi pengalaman tiap orang berbeda."
"Nona, apa ada sesuatu?" Chu Xin penasaran.
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, seperti sedang mengenang sesuatu. "Ketika badai terjadi, saat itulah kehidupanku yang sebenarnya dimulai."
Dan benar saja, hujan telah tiba sepanjang hari. Puncak hujan disertai petir mulai ketika malam tiba dan semua orang diharuskan tidur untuk perjamuan besok pagi.
Hanya saja, Gu Yuena sama sekali tidak bisa tidur. Begitu guntur menyambar tepat di atas kediaman, Gu Yuena berteriak sambil menutup kedua telinga dan mengurung diri dalam selimut.
Teriakan Gu Yuena terdengar oleh Chu Xin. Chu Xin masuk ke dalam kamar, terkejut melihat Gu Yuena memojok dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia langsung menghampiri dengan cemas.
"Nona, apa Nona baik-baik saja? Apa Nona mimpi buruk?" Chu Xin sangat khawatir. Apalagi ketika melihat wajah pucat Gu Yuena.
Gu Yuena melihat Chu Xin, kemudian berkata, "Aku ... lupa membawa penutup telinga."
"Penutup telinga?" Jelas Chu Xin tidak mengerti. Selama ini Gu Yuena tidak pernah bersikap demikian, karena badai baru terjadi malam ini.
Gu Yuan muncul dengan terburu-buru memasuki kamar Gu Yuena. Ia juga tampak khawatir, kemudian menghampiri Gu Yuena yang berbalut selimut dan duduk di sebelahnya.
Chu Xin segera menyingkir, sedangkan Gu Yuan mengeluarkan sebuah benda dari ruang spiritual dan meletakkannya ke lubang telinga Gu Yuena. Ia pun memeluk adik kecilnya dengan kasih sayang.
"Jangan takut, tidak ada yang menyakitimu."
Gu Yuena memeluk lengan kakaknya dengan erat. "Maaf membangunkanmu."
Gu Yuan mengusap kepala Gu Yuena dengan lembut. "Tak apa, aku belum tidur. Aku tahu ... kau akan ketakutan." Ia jadi terpikirkan bagaimana Gu Yuena melewati malam penuh badai sebelumnya.
"Terima kasih." Gu Yuena menutup matanya ketika mulai tenang. Selama kakaknya tidak ada, baik di kehidupan sebelumnya maupun pemilik tubuh asli ini, sepertinya memiliki pengalaman dan ketakutan yang sama terhadap badai guntur di malam hari.
Bayang-bayang kematian itu terus menghantuinya tiap kali guntur menggelegar. Itu membuat Gu Yuena takut sampai tidak rela melepas kakaknya.
Pada akhirnya, Gu Yuan harus tidur di sana tanpa bisa mengubah posisi. Tak apa, asal adiknya baik-baik saja.
Chu Xin yang melihatnya tidak bisa mengatakan apa pun. Ia pikir Gu Yuena mengalami kejadian traumatis yang dalam sampai mengalami ketakutan seperti itu. Ia jadi mengasihani gadis itu.