
"Kau adalah wanita yang menawar perisai batu hitam, apa aku tidak salah?" Pria yang telah memenangkan penawaran barusan menemukan Gu Yuena mendatanginya ketika akan membayar barang.
"Kau bukan guardian, tidak membutuhkan perisai. Aku akan membayarmu dengan harga yang sama atau menggantinya dengan barang yang mungkin kau butuhkan."
Pria itu menarik alisnya. "Oh ya? Lalu, bagaimana kau tahu aku membutuhkan sesuatu?"
Gu Yuena tetap pada senyumnya yang ramah. "Tuan Lu, Kediaman Menteri Keuangan. Ketika kekuatan keluargamu adalah kekuatan hunter, maka tidak etis bila menyimpan barang yang dibuat untuk guardian. Daripada menyimpan barang tidak berguna, aku memiliki penawaran yang lebih baik dan sedikit berguna untukmu."
Pria itu mendengus, kemudian melepas topeng yang dikenakannya. "Aku berhasil membelinya, kenapa aku harus memberikannya padamu? Jika kau mau, seharusnya kau menaikkan harga lebih tinggi."
"Aku tidak yakin kau akan mendapat apresiasi dari ayahmu hanya karena uang yang kau sia-siakan. Pada umunya, 2.000 batu alam adalah pendapatan Menteri Keuangan selama 5 tahun." Ia membacanya dari buku salinan kas tahun lalu yang disimpan ayahnya. Kemungkinan masih berguna meski sudah kadaluarsa.
Pria itu berdecak sebal memikirkan ucapan Gu Yuena. "Lalu kau akan akan memberiku barang yang lebih berguna? Jika lulus kualifikasi, maka akau akan memberimu perisai batu hitam sebagai barter."
Gu Yuena merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah bola kristal yang mengeluarkan cahaya mencolok. Bola itu berwarna biru laut dan sangat jernih seperti air. Di dalamnya mengandung sihir yang menari-nari, menambah kesan menarik dan memanjakan mata.
"Kau menawarkanku sebuah aksesoris yang tidak sebanding dengan 2.000 batu alam? Benar-benar membuang waktu." Pria itu tersenyum meremehkan.
"Kau tidak tahu."
Gu Yuena sedikit memberi kekuatan spiritual ke dalamnya. Bola kristal itu mengeluarkan beberapa bola cahaya yang menampakkan beberapa monster di tiap bola. Ada serigala hantu, beruang iblis, dan kera emas. Semua adalah monster dalam budidaya tingkat ke-4 yang setara dengan kultivator tingkat 6. Sangat jelas sulit didapat.
"Sebuah sangkar kristal dan tiga monster tingkat 4, sangat setara dengan 2.000 batu alam. Hunter mengandalkan aura monster untuk pelatihannya, itu sebabnya mereka selalu berburu di hutan dan mendapat sebutan hunter. Dengan adanya sangkar kristal, kau bisa menampung setidaknya 5 monster ke dalam bola cahaya." Gu Yuena menjelaskan secara singkat.
Pria itu tampak sangat terkejut melihat pemandangan menakjubkan di depannya, bahkan pengikutnya juga memiliki ekspresi yang tidak bisa dikendalikan lagi. Harta di depannya, jauh lebih berharga dari 2.000 batu alam!
"Bagus, aku akan menukarnya dengan perisai batu hitam." Pria itu tampak bersemangat. Ia menyuruh bawahannya untuk membawakan perisai batu hitam, kemudian menyerahkannya pada Gu Yuena. Ia pun menerima sangkar kristal dan memasukkannya ke dalam kotak dengan hati-hati.
"Sekarang urusan kita sudah selesai. Aku pamit." Gu Yuena pergi membawa sekotak perisai yang ia inginkan.
Pria itu berlari ke arahnya, kemudian berkata, "Nona, aku menyinggungmu sebelumnya. Jika perlu bantuan, datang saja ke Kediaman Lu. Namaku adalah Lu Qin!" Ia pikir seseorang di belakang gadis ini sangat besar sehingga memiliki harta berharga ini. Ia harus menjalin hubungan baik dengan gadis itu.
Gu Yuena kembali ke tempat di mana Luo Youzhe menyelesaikan transaksi pembelian pisau pembunuh penyihir. Ia memasukkan senjata itu ke dalam ruang spiritual, kemudian melihat Gu Yuena yang hadir.
Pandangan Gu Yuena sejak tadi terarah pada kotak tersebut sebelum menghilang. Ia langsung mengalihkannya agar tidak terlihat menginginkan barang orang lain. Luo Youzhe telah membantunya untuk saat ini, ia harus berterimakasih.
"Kau sudah mendapatkannya." Luo Youzhe cukup mengagumi keberanian Gu Yuena.
Gu Yuena mengangguk. "Terima kasih."
"Kau menukar barang seharga 800 batu alam dengan perisai seharga 2.000 batu alam. Sangat tidak bermoral."
"Anggap saja, dia membeli sangkar kristal sebanyak 2.000 batu alam, sedangkan perisai ini dibeli dengan harga 800 batu alam. Sesuai dengan harga normal yang ditawarkan pelelangan."
Luo Youzhe mendesis. "Sayangnya, hari ini aku tidak keluar uang begitu banyak. Aku pikir kau akan mencoba mencari cara menaikkan harga agar aku memanggilmu kakak."
"Aku lebih tidak ingin memiliki adik sepertimu." Gu Yuena mencibir.
Luo Youzhe terkekeh. "Karena hari ini mendapat peraihan besar, bagaimana jika merayakannya? Sudah sangat malam, kita belum makan malam. Aku akan menunjukkanmu restoran enak di sini."
Gu Yuena mengangguk setuju. Ia juga sudah lapar, juga mengantuk. Ia harus makan dan kembali ke kediaman untuk tidur lebih cepat.
Mereka pun pergi ke restoran yang ditunjukkan Luo Youzhe di Pasar Gelap. Sama seperti toko lainnya di Pasar Gelap, mata uang di restoran ini hanya bisa memakai batu alam. Semakin lama tinggal di sini, Gu Yuena semakin mudah beradaptasi dengan batu alam warna-warni yang awalnya membuatnya merasa miskin.
Mereka duduk di salah satu tempat. Pelayan pun datang memberi menu makanan dengan hormat.
"Tuan dan Nyonya, di sini kami memiliki menu spesial khusus untuk pasangan. Tuan dan Nyonya terlihat masih muda, pasti belum lama menikah, di bagian ini ada banyak menu pasangan yang cocok untuk pasangan baru menikah. Silahkan dicoba."
Gu Yuena dan Luo Youzhe terdiam bersamaan. Mereka berdua saling melirik, kemudian membuang wajah. Pasangan? Suami-istri? Menikah? Apa mereka terlihat seperti itu? Yang benar saja!
"Maaf, sepertinya kau salah paham." Gu Yuena tidak nyaman dengan situasi ini. Ia ingin segera pulang.
"Tak apa, dia memang sedikit pemalu. Tapi aku lebih baik memesan menu biasa. Beritahu Wen Jun kalau aku di sini, dia tahu apa yang harus dilakukan." Luo Youzhe tidak mengelak mengenai argumen itu, tapi ia mengalihkan menu itu ke tangan pelayan—yang sepertinya masih baru—dan menyebut nama kenalannya. Pelayan itu langsung paham dan pergi.
Gu Yuena hanya bisa melihat Luo Youzhe dengan tidak setuju. "Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja?" Ia sangat terganggu.
Luo Youzhe tersenyuk kecut. "Pria dan wanita di Pasar Gelap yang bebas berdua, apa yang bisa orang pikirkan? Kau mengelak, sama saja memperkuat argumen. Lebih baik abaikan."
"Tapi kau terlihat mencurigakan." Gu Yuena justru melihat Luo Youzhe yang menikmati perannya sendiri.
Luo Youzhe tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya ke Gu Yuena. "Bukankah kita pernah tidur bersama? Apa bedanya dengan suami-istri?"
Gu Yuena kesal. Ia pun mendorong wajah Luo Youzhe begitu saja sampai pria itu nyaris terjengkang.
Beberapa saat setelahnya, dua pelayan datang membawakan makanan enak berupa daging dan ikan ke atas meja. Mereka meletakkannya seolah berada di restoran bintang lima, membuat Gu Yuena terpana. Sebenarnya di tempat kuno ini ada budaya yang sama dengan dunianya dulu?
"Jangan terkejut. Pemilik restoran ini adalah rakyat Wyvernia, jadi menggunakan budaya di sana untuk melayani tamu serta konsep restoran." Luo Youzhe menjelaskannya dengan sabar. Ia tidak tahu, bahwa Gu Yuena terkejut bukan karena sikap asing mereka, melainkan karena merasa sedang nostalgia.
"Aku paham." Gu Yuena melepas rasa terkejutnya. Ia melihat gelas kaca berisikan cairan kemerahan dengan aroma yang membuatnya ingin meminumnya.
Karena tangannya gatal, Gu Yuena pun meraih gelas itu. Tapi Luo Youzhe langsung mengambil gelas itu dan menjauhkannya dari peraihan Gu Yuena.
Gu Yuena cemberut. "Aku mau anggur."
Gu Yuena terdiam. Ia pun duduk dengan manis dan mengambil makanan yang tersedia. Sikap patuhnya membuat Luo Youzhe tenang.
Tapi detik berikutnya, Gu Yuena tiba-tiba merebut gelas anggur yang dijauhkan Luo Youzhe begitu saja sambil tertawa. Luo Youzhe menghela napas pasrah.
"Jika mabuk, aku akan meninggalkanmu." Luo Youzhe mengancam.
"Aku tidak akan mabuk, tenanglah. Saat itu aku terluka dan frustrasi, mangkanya melakukan kesalahan. Sekarang aku sedang senang. Jika bukan bernyanyi di jalan, paling tidak tidur di jalan saat mabuk. Tapi aku pastikan, aku tidak akan minum banyak sampai mabuk."
"Umurmu bahkan belum 18 tahun."
"Sebentar lagi 18 tahun, tak apa minum sedikit." Gu Yuena menenggak segelas anggun di tangannya. Rasa hangat anggur membuatnya tambah senang. Suasana hatinya sangat baik sampai ingin berteriak!
"Makan yang benar," celetuk Luo Youzhe. Ia sebisa mungkin menyembunyikan botol anggur yang kenalannya itu siapkan.
Seharusnya ia beritahu kenalannya itu untuk tidak membawakan anggur. Biasanya ia memang minum anggur untuk menghangatkan diri, tapi tidak pernah sampai mabuk.
Gu Yuena makan dengan gembira sambil minum anggur. Paduan makan malam ini menjadi sangat nikmat dibandingkan hari sebelumnya. Ia harap kakaknya tidak melarangnya minum ketika tembus 18 tahun.
Sampai akhirnya, hal yang ditakutkan Luo Youzhe terjadi. Gadis itu mabuk dan terus cegukan sambil menahan kantuk. Matanya yang sayup kerap kali menutup, tapi ketika kepalanya akan jatuh, ia terkejut dan kembali tegak sambil cegukan.
Luo Youzhe tidak ikut minum agar dapat mengantar Gu Yuena pulang. Ia tidak mau ambil resiko dimarahi Luo Yi karena meninggalkan Gu Yuena di Pasar Gelap yang penuh orang brengsek.
Luo Youzhe berdiri dari kursinya. Ia menarik Gu Yuena yang bermalas-malasan dan bicara sendiri sambil bernyanyi. Tapi bukannya menurut, Gu Yuena malah merajuk.
"Lepas ... aku ingin kakakku~" Gu Yuena tiba-tiba menangis membuat Luo Youzhe terkejut. Spontan Luo Youzhe melepas genggamannya.
"Kita pulang sekarang, kau akan bertemu kakakku."
"Luo Yi merebut kakakku, aku ditinggalkan lagi~ Kakak tidak sayang padaku, huaaa~" Gu Yuena berjongkok sambil memeluk kakinya.
Luo Youzhe heran. Bukankah sebelumnya gadis ini sangat senang? Kenapa sekarang malah menangis karena kakaknya yang akan menikah? Benar-benar sulit dipahami.
"Gu Yuena, berdiri dan ikut aku, atau aku akan meninggalkanmu."
"Tinggalkan saja aku, aku tidak pantas hidup. Ayah, ibu, aku merindukan kalian, aku mau ikut kalian~"
"Ayahmu ada di rumah, kau temui dia saja sekarang." Luo Youzhe mulai jengkel. Meski ia agak bingung kenapa Gu Yuena juga menyebut ibunya yang sudah meninggal, ia tidak perlu terlalu memikirkan ucapan orang mabuk.
"Ayah di rumah?" Gu Yuena menurunkan nadanya. Matanya berkaca-kaca melihat Luo Youzhe.
"Ya. Adipati di rumah."
"Bukan ayah yang itu ...." Gu Yuena kembali sedih. "Dia tidak peduli padaku, hanya peduli pada kemampuanku ... aku ditindas, dia tidak bergerak ... semuanya meninggalkanku ... kakak juga tidak peduli lagi ... aku sendiri di dunia aneh ini ...."
Xiao Hei di dalam tas Gu Yuena menunjukkan kepalanya. Ia keluar dan menggosok kepalanya ke kaki Gu Yuena sambil mengeong, seolah menghiburnya.
Luo Youzhe menatap Gu Yuena dengan teduh. Ia tahu rasanya ditinggalkan, tapi tidak bisa mengungkapkannya. Ia berjongkok di depan Gu Yuena.
Di restoran yang telah sepi ini, hanya ada mereka berdua. Gu Yuena terus terisak dan kadang-kadang menggumamkan sesuatu yang tidak dipahami Luo Youzhe. Seperti bahasa Negara Wyvernia, tapi terdengar berbeda bersamaan.
Luo Youzhe mengulurkan tangannya ke gadis menyedihkan itu. "Percaya padaku, kau tidak sendiri."
Gu Yuena melihat Luo Youzhe untuk beberapa saat, kemudian menggerutu. "Kamu juga akan pergi. Aku tidak percaya."
"Aku tidak pergi." Luo Youzhe mengusap kepala Gu Yuena seperti mengelus kepala kucing. Tidak tahu mengapa, rasa hampa yang selama ini ia rasakan berangsur menghilang. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa memiliki kepedulian terhadap seseorang dan sejak kapan.
"Aku tidak percaya." Kepercayaannya terhadap seseorang sudah mati sejak kakaknya meninggal. Kepercayaan itu kembali muncul untuk temannya, tapi kekecewaan membuatnya berubah.
"Tak apa kau tidak mempercayaiku untuk saat ini." Luo Youzhe meraih lengan Gu Yuena untuk membawanya berdiri. Ia berdiri membelakangi Gu Yuena, kemudian menekuk lututnya untuk menyamarakan tingginya dengan Gu Yuena. "Naiklah, kau tidak bisa berjalan dengan benar."
Gu Yuena menaiki punggung Luo Youzhe secara sukarela. Padahal baru saja dia berkata tidak mempercayai pria itu. Berat badan Gu Yuena terlalu ringan sehingga tidak menyulitkan Luo Youzhe untuk berjalan keluar dari restoran.
Sepanjang jalan, suasana hati Gu Yuena berubah-ubah. Kadang kala ketika melihat bintang, ia mulai bernyanyi bintang kecil seperti anak-anak. Kemudian ia akan mengeluh tentang kultivasi dan pelajaran politik, kemudian menangisi kakaknya yang akan menikah dan melupakannya.
Sampai akhirnya tiba di Kediaman Adipati Gu, Luo Youzhe dapat menyelinap masuk dengan mudah tanpa diketahui penjaga dan pergi ke paviliun Gu Yuena.
Kehadirannya diketahui Jiang Weiwei yang sedang gelisah menunggu di depan kamar. Ia terkejut melihat Gu Yuena yang tertidur di punggung Luo Youzhe setelah serangkaian tingkah mabuk berat yang dialami.
Ketika melihat Jiang Weiwei, Luo Youzhe memasang wajah dingin tanpa ekspresi. Ia melewati gadis itu begitu saja tanpa menanggapinya, kemudian memasuki kamar Gu Yuena.
"Tuan Muda, biar hamba yang mengurusnya. Jika Tuan Muda tetap di sini, takutnya akan muncul rumor tidak berdasar."
"Hamya kau yang melihat. Jika terdapat rumor, hanya bisa menyalahkanmu." Luo Youzhe berkata dengan dingin tanpa menatapnya. Ia menutup pintu, membiarkan Jiang Weiwei di luar dengan ekspresi terkejut.
Luo Youzhe tidak terlalu peduli pada racun besar itu. Ia meletakkan Gu Yuena di atas tempat tidur, kemudian menyelimuti gadis yang terlalu pulas itu dengan selimut. Kadang-kadang Gu Yuena mengigau dengan bahasa yang tidak dipahami. Kadang juga ia mengumpat.
Luo Youzhe tanpa sadar tersenyum. Tapi ketika sadar akan tingkahnya sendiri, ia mulai merasa aneh dan memasang wajah dingin lagi. Mungkin karena Gu Yuena terlalu lucu ketika mabuk, ia jadi tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Ia memperhatikan ruangan sekitar. Terdapat dupa penenang yang dibakar. Dupa itu membuatnya semakin dingin ketika mengenali dupa yang dipakai. Tangannya mengeluarkan sebuah kabut hitam, kemudian menghancurkan dupa tersebut tanpa suara sampai menjadi abu.
Ia tidak tahu alasannya, tapi ia tidak suka bila seseorang berbuat sewenang-wenang terutama di kamar Gu Yuena. Pelayan rendahan itu harus diberitahu bagaimana menjadi manusia dan bawahan yang baik.