Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
11. Pasar Gelap



Tok tok tok


Pintu dibuka oleh Gu Yuan dari dalam ruangan. Iris merahnya melihat Gu Yuena berdiri di depan pintu dengan tampilan cemberut serta mata berkaca-kaca. Gu Yuan mengerutkan kening.


"Nana? Ada apa denganmu?" Gu Yuan langsung menyentuh kedua bahu adiknya dengan cemas. Siapa yang membuat adiknya bersedih?


Gu Yuena tampak menahan tangis untuk beberapa saat. Tapi ia tidak menahannya lagi ketika melihat wajah Gu Yuan yang khawatir. Pada akhirnya, ia menangis seperti anak kecil yang ditindas.


Xiao Hei di dekat kaki Gu Yuena mengeong seolah memberitahu sesuatu. Itu membuat Gu Yuan semakin cemas. Berani sekali seseorang menindas adiknya di saat ia sudah ada di sini.


Gu Yuan menyuruh Gu Yuena masuk ke dalam. Gu Yuena yang terisak mengikut tanpa menghentikan tangisnya yang menyedihkan. Ia mengusap air mata berkali-kali, namun air mata terus mengucur deras.


Ketika ia masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya ketika melihat Luo Yi dan Luo Yuzhe tengah duduk seperti sedang membicarakan sesuatu. Mata Gu Yuena berkedut.


Ini adalah paviliun kakaknya, apa yang mereka lakukan di sini!


Melihat dua orang itu, Gu Yuena mengeraskan tangisan sambil memeluk lengan kakaknya. Pakaian Gu Yuan basah karena air mata.


Luo Yi terkejut melihatnya. Bagaimana Gu Yuena bisa menangis sekeras itu? Sedangkan Luo Youzhe tampak cuek seolah melihat hal biasa. Ia telah menebak apa yang Gu Yuena rencanakan setelah pertemuan mereka semalam.


"Aku pergi menenangkannya terlebih dahulu." Gu Yuan membawa Gu Yuena ke tempat lain. Jika terus melihat mereka, ia takut Gu Yuena akan menangis lebih keras dari ini.


Tapi Gu Yuena sama sekali tidak begerak dari tempatnya. Ia justru menunjuk Luo Youzhe menuduhnya. "Kak, dia menindasku!"


Gu Yuan melihat ke arah Luo Youzhe. Sangat wajar mengetahui Luo Youzhe menindas seseorang. Tapi ia terkejut Luo Youzhe juga menindas seorang perempuan remaja, apalagi perempuan itu adalah adiknya.


"Youzhe, apa yang kamu lakukan?" Gu Yuan bertanya dengan nada dingin.


Luo Yi melirik adik sepupunya yang hanya diam itu. Ia pun memberinya cubitan hingga Luo Youzhe menatapnya.


"Katakan, apa yang kamu lakukan padanya?" Luo Yi menanyai pria itu dengan tajam. Ia sudah mengingatkan Luo Youzhe untuk tidak membuat masalah. Tapi anak ini malah menindas seseorang yang akan menjadi adik iparnya.


Luo Youzhe ingin menjawab, tapi Gu Yuena terlebih dahulu bicara dengan nada serak dan menyedihkan membuatnya terdiam.


"Dia mendorongku ke dinding sampai punggungku sakit. Kemudian dia mengejek kakak bahwa Kakak bukan apa-apa di matanya. Aku marah dan mendorongnya, tapi dia malah memarahiku. Aku sangat takut dan lari, tapi malah jatuh terkilir. Dia bukannya membantu, malah membawaku ke rumah lama dan meninggalkanku yang sakit di sana sendirian. Kakak, beri aku keadilan!"


Luo Youzhe melihat Gu Yuena dengan serba salah. Gadis itu benar-benar pintar memadukan karangan dan kenyataan. Ia hanya bermain-main ketika membawa Gu Yuena ke rumah belakang, tidak tahu bocah itu itu akan balas dendam dengan cara menyebalkan seperti ini.


Gu Yuena sengaja bicara di sini agar Luo Yi dengar dan menghukumnya. Dia tahu Luo Youzhe tidak bisa apa-apa di depan Luo Yi.


"Kak, bukan seperti itu ceritanya. Aku hanya menemuinya untuk bertanya, tapi siapa sangka Gu Yuena akan salah paham dan mengancamku menggunakan nama Gu Yuan dan Istana Yinyang. Dia jatuh dan terkilir, aku hanya menolongnya. Lagi pula, memangnya aku tahu di mana paviliunnya? Aku hanya mendengar bahwa Gu Yuena tinggal di rumah belakang, jadi aku meninggalkannya di sana. Itu sama sekali bukan salahku." Luo Youzhe melakukan pembelaan diri.


Tapi sayangnya, Gu Yuena tidak mau kalah. Balas dendamnya harus berhasil! "Aku mana tahu isi hatimu. Aku hanya tahu kau menindasku. Ketika di perjamuan, rokku terinjak Nyonya dan robek. Aku hanya ingin mengganti pakaianku, tapi siapa sangka dia akan mengikutiku seperti orang mesum. Dia bahkan melihat kakiku dengan jelas. Kakak, aku dilecehkan, huaaa ...."


Pandangan Gu Yuan dan Luo Yi kembali terarah pada Luo Youzhe dengan tajam. Luo Youzhe langsung gelagapan.


"Itu ... aku hanya ingin bertanya, tidak ada niat lain. Kakak, kau harus percaya padaku." Luo Youzhe bersikeras mendapat kepercayaan Luo Yi. Namun tatapan Luo Yi terhadapnya tetap setajam pisau. Luo Youzhe tersenyum kecut. "Kak—"


"Diam! Bukankah kau keterlaluan? Gu Yuena adalah seorang remaja belum menikah, kau pria dewasa menemuinya secara rahasia, siapa yang tidak akan salah paham? Dari awal memang kau yang salah." Luo Yi sedikit meninggikan nada suaranya.


Luo Youzhe terdiam. Ia pun menghela napas dan melirik Gu Yuena yang mengejeknya melalui pandangan mata. Apa pun alasan yang ia berikan, ia sudah salah menemui Gu Yuena. Ditambah dengan aduan Gu Yuena. Seharusnya ia tidak perlu menyangkal dari awal.


"Youzhe, aku memberimu wajah karena kau adalah sepupu Yi'er. Jika hal ini terulang, aku tidak akan sungkan padamu." Gu Yuan menegaskan kata-katanya. Ia sangat marah, tapi ia tahu posisinya akan rumit bila dibandingkan dengan Luo Youzhe. Ia hanya bisa memberinya sedikit wajah.


Gu Yuena terkejut dan menatap kakaknya. "Kakak melepaskannya?"


"Tentu saja tidak." Gu Yuan tersenyum, kemudian melirik Luo Yi.


Luo Yi berkata. "Kamu tenang saja. Anak nakal ini akan diberi hukuman klan. Aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu lagi."


Gu Yuena mengangguk lemah. "Terima kasih, Kakak ... Kakak Ipar(?)"


Panggilan Gu Yuena yang berubah membuat Luo Yi senang. Ia memberi senyuman penuh, kemudian menyeret Luo Youzhe pergi.


Luo Youzhe mengikut dengan setengah hati. Ia melihat Gu Yuena yang berdiri di belakang Gu Yuan sambil memeluk lengannya. Diam-diam, Gu Yuena menjulurkan lidah mengejek Luo Youzhe yang kalah telak.


Luo Youzhe mendengus kesal. Berhadapan dengan perempuan konyol memang sangat membuang waktu.


Tapi bukan berarti ia akan kalah begitu saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena hari ulang tahun Gu Yuan sudah lewat, Gu Yuena menyesal tidak memberinya hadiah karena amarah sesaat. Setelah dipikir kembali, tidak salah jika Gu Yuan memiliki Luo Yi di sisinya. Gu Yuena sebagai adik yang paling disayangi akan mendapat tambahan lapisan tameng dari si pengganggu Luo itu.


Oleh karena itu, ia melepaskan rasa cemburunya dan pergi membeli hadiah susulan. Ia telah meminta izin pada Gu Shan dan membawa Jiang Weiwei bersamanya.


Sebenarnya Gu Yuens tidak ingin membawa Jiang Weiwei, namun Gu Shan menggunakan Jiang Weiwei sebagai syarat sehingga Gu Yuena harus menurut setengah hati. Ia akan mencoba melepaskan diri dari Jiang Weiwei nanti.


"Nona, apa yang akan Nona beli untuk Tuan Muda?" Jiang Weiwei bertanya. Mereka berjalan di tengah kota yang ramai akan orang-orang berkeliling dan menjual barang.


"Entahlah."


Gu Yuena masih memikirkannya. Ia pikir jika masuk ke dalam kota dan sedikit melihat-lihat, akan menemukan barang bagus untuk kakaknya. Tapi ternyata salah. Semua ini adalah barang umum yang biasa ada di kediaman.


"Nona, lihat ini. Sangat cantik." Jiang Weiwei pergi ke toko aksesoris dan menunjukkan gelang-gelang cantik apda Gu Yuena.


"Weiwei, kita mencari hadiah ulang tahun untuk Kakak Pertama, bukan hadiah pertunangan untuk Kakak Ipar." Gu Yuena melanjutkan jalan tanpa peduli apa yang Jiang Weiwei lihat.


Jiang Weiwei mau tidak mau harus mengikuti Gu Yuena di belakangnya. Ia pikir Gu Yuena akan membelikannya gelang-gelang itu, ternyata ia berpikir terlalu jauh. Seharusnya ia tahu, pikiran Gu Yuena saat ini dipenuhi oleh Gu Yuan.


Tapi sayangnya, Jiang Weiwei salah besar. Gu Yuena tidak sepenuhnya berpikir tentang Gu Yuan, melainkan Luo Youzhe yang menerornya. Tatapan Luo Youzhe ketika pergi barusan membuatnya berpikir bahwa pria itu akan membalasnya suatu hari. Ini akan menjadi perang dingin yang merepotkan.


Sepanjang jalan, Jiang Weiwei menunjukkan beberapa barang untuk dijadikan hadiah, tapi Gu Yuena selalu menolaknya. Sikap Jiang Weiwei yang cerewet membuat Gu Yuena agak kesal. Ia pun mulai berpikir untuk berpisah sekarang juga.


Waktu yang tepat pun tiba. Beberapa anak-anak berlarian membawa mainan dan melintas di sekitar mereka. Gu Yuena melirik salah satunya, kemudian menarik bebatuan kecil dan melesatkannya ke kaki salah satu anak sampai jatuh.


Satu anak jatuh, semuanya jatuh. Tepat pada anak paling depan tertimpa anak lainnya di belakang, Jiang Weiwei hadir di depannya hingga saling tertabrak.


Gu Yuena mengambil kesempatan ini untuk berbaur dengan kerumunan dan membuka cadarnya agar tidak dikenali. Ia juga tidak lupa mengenakan jubah hitam yang sudah disiapkan dalam tas. Tak lupa juga, Xiao Hei yang diam-diam mengikut di dalam tas.


Jiang Weiwei yang jatuh tertimpa anak-anak pun kehilangan nonanya.


Gu Yuena berjalan dengan cepat menjauhi area di mana Jiang Weiwei berada. Ia mengenakan tudung jubah, kemudian pergi ke sisi lain kota untuk mencari barang yang lebih bagus.


Dalam memori yang tersisa di tubuh ini, terdapat sebuah pasar gelap yang menjual barang-barang langka bahkan terlarang. Apa pun mereka jual dan memiliki lokasi yang tersembunyi. Ini adalah rahasia umum bagi para bangsawan.


Memikirkan tentang assassin, Gu Yuena jadi teringat pada 'teman lama' yang membunuhnya itu.


Gu Yuena pergi ke salah satu penginapan. Penginapan di mana ia memergoki Ye Suanwu dan Gu Yueli, serta penginapan tempat ia melakukan pembantaian berdarah dan menghabiskan malam bersama pria menyebalkan itu.


Mengabaikan semua kenangan aneh itu, Gu Yuena masuk ke dalam. Ketika pasar gelap terlintas di kepalanya, tiba-tiba saja ia mengingat tentang penginapan ini. Itu pasti karena memori yang datang secara beruntun.


Untuk membuka wilayah pasar gelap, ia harus menunggu malam tiba dan memberi kode pada penjaga penginapan. Karena hari sudah sore, ia tidak perlu khawatir menunggu terlalu lama. Salah satu alternatif menunggu agar terasa lebih cepat adalah tidur.


Gu Yuena duduk di ruang tunggu dan memejamkan mata sambil duduk tanpa perlu khwatir jika dikenali karena penampilannya yang tertutupi jubah. Ia juga tidak mengenakan cadar yang merupakan identitasnya. Ia hanya seorang Gu Yuena—atau Nana—bukan Nona Keempat Gu.


Setelah berjam-jam dilalui, akhirnya matahari terbenam dan penginapan mulai sepi. Hanya ada beberapa orang mabuk dan berpesta, serta pengunjung yang lelah di luar dan ingin beristirahat.


Gu Yuena bangun tepat waktu. Ia meregangkan tubuh, kemudian pergi menemui penjaga penginapan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Penjaga penginapan itu melayani dengan sopan dan hormat.


Gu Yuena berpikir sejenak, kemudian mulai bicara sesuai ingatannya. Bayang-bayang seorang wanita yang mengatakan sebuah kalimat terngiang di kepalanya. "Rembulan di malam hari ... kapan berakhir?"


"Tidak akan berakhir. Nona, tunggu sebentar." Penjaga itu berbalik untuk mengambil sesuatu. Sebuah kunci yang tampak berbeda dari kunci lainnya. "Nona, saya akan menunjukkan ruangannya."


Gu Yuena mengikuti arah pergi penjaga itu. Ia mengingat-ingat kalimat yang baru saja ia katakan secara alami, namun penuh keraguan. Kalimat itu seolah mengandung arti yang kelam. Apa benar pemilik pasar gelap ini adalah seorang assassin? Jika dibandingkan dengan kalimat itu, bisa dibayangkan betapa kelam hidupnya.


Penjaga itu mengarahkannya ke sebuah pintu yang tidak ada bedanya dengan pintu kamar lain. Dia membuka pintu, kemudian mempersilahkan Gu Yuena masuk dengan sopan.


Gu Yuena mengikuti instruksi dengan ragu. Ia merasa familiar dengan kondisi ini; kondisi mengikuti seseorang di depannya ke dalam sebuah wilayah penuh dengan kegelapan dan kebebasan.


Dan benar saja yang ia pikirkan. Situasi di balik pintu terasa sangat dingin. Terasa berada di dimensi lain meski tahu bahwa tempat ini adalah ruang bawah tanah, atau bisa disebut sebagai kota bawah tanah.


"Nona, selamat bersenang-senang." Penjaga di belakangnya menutup pintu, membiarkan Gu Yuena di dalam sendirian. Ia dapat keluar dari tempat ini melalui seorang pria tua penjaga pintu.


Gu Yuena menelusuri jalan. Pasar gelap memang seperti namanya, tidak ada cahaya lain selain cahaya bulan. Rata-rata dari mereka bisa melihat dalam kegelapan setelah menempuh kultivasi tertentu sehingga tidak memerlukan bantuan cahaya.


Oleh karena itu, Gu Yuena bisa menebak bahwa hampir para penjual di sini memiliki basis kultivasi yang tidak rendah. Ia juga melihat ada beberapa pejabat yang berkunjung untuk membeli barang, serta beberapa nona dan tuan muda dari kalangan tertentu yang membeli barang secara ilegal dari penjual bertopeng.


Ia mencari-cari di sekitar. Mungkin saja ada barang unik yang berguna untuk kakaknya. Entah barang apa itu, ia akan mengetahuinya segera.


Ada sangat banyak barang berharga di sini. Namun, kebanyakan dari mereka tidak menarik perhatian Gu Yuena yang memiliki selera tinggi.


Di tengah pencarian tiada batas, Xiao Hei keluar dari tas dan melompat ke tanah. Ia mengeong, mengibaskan ekornya seolah memberitahu sesuatu.


"Ada yang menarik?" Gu Yuena tersenyum. Xiao Hei mengangguk dan pergi ke arah utara diikuti oleh Gu Yuena.


Mereka sampai di persimpangan jalan yang tidak terlalu ramai. Xiao Hei terus berjalan dan berbelok ke sebuah toko yang sepi. Kucing hitam itu melompat ke atas meja, kemudian mengeong memanggil Gu Yuena.


"Apa yang kau temui?" Gu Yuena melihat-lihat buku di atas meja dengan linglung. Semua buku itu sangat kusam dan kemungkinan besar sudah terlalu sering dibaca sampai banyak yang terkoyak. Ia yakin isinya tidak begitu lengkap.


"Meow~" Xiao Hei berjalan di sekitar meja dan menarik salah satu buku menggunakan giginya untuk ditunjukkan pada Gu Yuena.


Gu Yuena melihat sampul buku kecokelatan yang sudah kusam dengan tulisan yang mulai pudar. Sangat tidak terawat. Jika bukan karena Xiao Hei, ia tidak akan meliriknya.


"Kau serius menginginkan ini? Kita bahkan tidak tahu isinya." Gu Yuena agak ragu membeli buku yang penuh sobekan seperti buku sekolah anak-anak.


"Meow~" Xiao Hei memohon dengan mata hazel yang berkaca-kaca. Itu membuat Gu Yuena luluh hanya karena kucing kecil ini.


Gu Yuena melirik penjaga toko bertopeng yang acuh tak acuh sambil membaca buku kusam lain. Baru saja ia ingin bertanya mengenai harga, beberapa orang datang dan merebut buku di tangan Gu Yuena begitu saja.


"Buku ini dikhususkan untuk summoner. Aku adalah summoner terbaik di masa depan, tentu harus memilikinya. Nona kecil, tidak masalah bila aku merebutnya darimu?" Seorang pria dengan penampilan cungkring dan jakung berdiri dengan wajah angkuh. Ia memiliki gigi kelinci serta mata sipit yang tampak menyebalkan bagi Gu Yuena. Merusak pandangan.


"Aku menemukannya terlebih dahulu." Gu Yuena ingin mengambilnya, namun pria itu justru melempar buku tersebut ke pria di belakangnya. Itu persis membuat Gu Yuena kesal.


Ia melihat Xiao Hei yang memasang sikap waspada, lalu menghela napas. "Tidak beli. Kita cari yang lain." Ia malas terlibat dalam masalah.


Tapi Xiao Hei memasang wajah sedih dan mulai bersikap menyedihkan. Entah darimana ia belajar. Itu membuat Gu Yuena—si pecinta kucing—tertekan.


"Baiklah, terakhir kali." Gu Yuena menyerah.


"Eh? Apa itu monster kontrakmu? Dia terlihat lemah." Pria gigi kelinci itu tertawa melihat Xiao Hei yang kecil.


Bawahannya pun melanjutkan. "Nona ini juga tidak terasa memiliki basis kultivasi dan aura pertempuran. Jangan-jangan kucing itu hanya peliharaan kecilnya. Masih berani ingin berebut dengan Tuan Muda?"


"Karena kamu terlihat cantik, aku tidak akan perhitungan. Bagaimana jika kamu ikut denganku, aku akan memberimu buku ini secara gratis." Pria gigi kelinci itu menyeringai. "Jika tidak, maka akuilah kekalahanmu!"


Gu Yuena hanya melihatnya tanpa minat. Karena ia telah berjanji pada Xiao Hei, maka ia harus mendapatkanna. Insting hewan cukup kuat, kemungkinan besar buku itu adalah harta.


Gu Yuena berbalik melihat penjual, kemudian berkata. "Aku membeli buku itu. Berapa harganya?"


Penjual yang acuh tak acuh itu melirik Gu Yuena sekilas. "Karena buku itu tidak lagi berguna, beri saja 2 batu alam."


"Batu alam?" Mata Gu Yuena berkedut. Kenapa sangat mahal!


Ia hanya membawa 2 tael emas dari kediaman, itupun ia memaksa ayahnya sendiri dengan berbagai dalih. Sedangkan si penjual meminta 2 batu alam yang setara dengan 2.000.000 tael emas. Bukankah sama saja ingin merampok!


Pria bergigi kelinci tertawa melihat wajah terkejut Gu Yuena. "Sepertinya selain tidak memiliki kekuatan spiritual, juga hanya seorang gadis miskin yang ingin sok. Kalau begitu, biar tuan muda ini yang membeli." Pria itu melemparkan dua batu alam berwarna biru begitu saja ke arah penjual.


Mereka pergi setelah menertawai Gu Yuena, sedangkan yang ditertawai masih pusing dengan dua batu alam yang melayang begitu saja.


Betapa gila tempat ini. Dari mana ia bisa mendapatkan batu alam untuk membeli barang!


"Baiklah, kurasa aku tidak cocok berada di sini." Meski Gu Yuena pikir bahwa ia cukup kaya, tapi di sini ia hanyalah seorang anak ingusan yang sedang berlaku norak. Sudah cukup wajahnya tercoreng.


"Meow~" Xiao Hei masih merengek membuat Gu Yuena ingin menangis.


"Akan kupertimbangkan." Gu Yuena memijat keningnya yang berkedut. Benar-benar merepotkan.


Buku itu digunakan khusus untuk summoner. Pasti berhubungan dengan monster. Jika Xiao Hei membutuhkannya, kemungkinan besar untuk kultivasinya menjadi monster.


Kalau seperti itu, ia akan mendapat tambahan kekuatan selama kultivasinya belum sempurna.


"Aku akan mencari cara." Ia sudah bertekad untuk mendapatkannya dengan cara apa pun.


Pasar gelap tidak memiliki aturan, dibebaskan mencuri atau melakukan perbuatan ilegal kecuali membunuh. Pergerakannya di sini tidak akan dibatasi.