Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
8. Nana dan Imajinasinya



Suasana terasa sangat canggung. Sejak Gu Yuan kembali lebih awal dan mengetahui segala yang terjadi pada Gu Yuena selama bertahun-tahun, ia sangat marah.


Pantas saja selama ini orang-orang kediaman selalu menghentikannya untuk pulang, memintanya fokus pada studi dengan berbagai alasan dan mengatakan bahwa Gu Yuena baik-baik saja. Gu Yuena juga berbohong padanya.


Mereka baru saja kembali dari ruangan Gu Shan. Setelah Gu Yuena ditemukan menangis ketakutan, ia langsung menemui Gu Shan untuk meminta penjelasan lebih lanjut dan menghukum Ting Le. Meski hanya sebagai Putra Pertama, ia tetap memiliki posisi penting yang membuat Gu Shan tidak berani berkutik.


Sekarang, ia berada di halaman tempat tinggal Gu Yuena. Perempuan bersurai hitam kemerahan itu hanya duduk diam sambil menunduk dan meniup-niup secangkir teh tanpa meminumnya.


Sebenarnya, Gu Yuena merasa malu telah menangis dan berperilaku gila seperti tadi. Pasti kakaknya sedang berpikir bahwa ia menjadi gila karena dipukul selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu kalau masalahnya akan sebesar ini.


Gu Yuan yang sejak tadi hanya diam, menghela napas panjang. Melihat adik kandungnya yang menunduk meniup teh sambil merenung seperti memikirkan sesuatu dengan tatapan redup, dia jadi merasa bersalah.


"Maafkan aku. Jika tahu akan seperti ini, seharusnya aku membawamu ikut ke akademi."


Gu Yuena merasa canggung. Ia sama sekali tidak melihat Gu Yuan dan menggeleng. "Bukan masalah."


Gu Yuena tidak ingin melihat wajah itu. Takut kalau ia akan hilang akal dan menganggap Gu Yuan sebagai kakaknya yang dulu. Sangat jelas mereka adalah orang yang berbeda. Ia tidak boleh salah terlalu dalam.


Tapi Gu Yuan justru menjadi semakin merasa bersalah. "Apa pun yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya."


Gu Yuena diam untuk beberapa saat memikirkan sesuatu. "Kau tidak marah padaku karena berbohong?"


"Meski ingin, tapi aku tidak bisa. Nana, selamanya aku tidak bisa marah padamu." Gu Yuan sangat menyayangi adiknya. Meski Gu Yuena melakukan kesalahan apa pun, yang ia salahkan bukanlah Gu Yuena, melainkan orang lain termasuk dirinya sendiri.


"Lalu ... tentang Ibu ...." Gu Yuena mengeratkan pegangannya terhadap cangkir. Ia menggigit bibirnya merasa gelisah.


"Jangan terpengaruh ucapan orang lain. Ayah juga tidak berpikir dengan jernih sehingga disesatkan, tapi aku tidak. Jika harus ada yang disalahkan, maka orang itu adalah Gu Yueli dan monster itu."


"Gu Yueli ...."


"Jangan membelanya. Dia juga merebut tunanganmu, tapi kamu masih membelanya dan menyerahkan pernikahanmu. Jangan pikir aku tidak tahu apa pun setelah kembali. Tapi untungnya, kau membatalkan pernikahan dari orang itu."


"Aku tidak salah pilihan, 'kan?" Gu Yuena ingin mendongak menatapnya dengan percaya diri, namun ia langsung menunduk.


Gu Yuan tersenyum kecut. "Apa aku begitu menyeramkan?"


"Aku hanya merasa ... kau mirip Ibu. Aku jadi sedih." Gu Yuena terpaksa berbohong. Ia sendiri tidak tahu bagaimana wajah ibunya di dunia ini. Tapi satu hal yang ia tahu, mereka berdua memang mirip ibu mereka di dunia lain.


Apa jangan-jangan wajah ibunya di dunia ini mirip dengan ibunya dulu? Kalau seperti itu, ayah mereka ....


"Kak, bagaimana wajah kita sama sekali tidak mirip Ayah?" Gu Yuena tiba-tiba bertanya sambil menatap Gu Yuan. Sepertinya ia lupa mengenai perasaannya dan berfokus pada analisis garis darahnya sendiri.


Gu Yuan menyahut dengan enteng, "Wajah kita mirip Ibu. Kau lebih mirip dengannya, sedangkan aku mirip dengan Kakek yang tinggal di Wyvernia. Sayangnya, dia sudah tidak ada."


"Kakek?" Gu Yuena tidak pernah punya kakek sehingga tidak tahu bagaimana rupanya. Ini membuatnya semakin penasaran. "Apa di dunia ini, ada sangat banyak orang bermarga Gu?"


"Entahlah. Kita hanya berasal dari Keluarga Adipati, tidak ada larangan menggunaan marga yang sama untuk kalangan rakyat biasa dengan seorang pejabat."


Kalau seperti itu, Gu Yuena semakin yakin ayahnya juga bisa jadi ada di sini. "Apa kau tidak curiga ... Ibu memiliki selingkuhan?"


Gu Yuan tertawa tiba-tiba. Ia menoyor dahi Gu Yuena dengan gemas, kemudian menyahut, "Apa menurutmu ibu kita orang seperti itu?"


"Adipati bisa memiliki dua selir, kenapa Ibu tidak?"


"Aku tidak tahu dari mana kau membaca buku seperti itu. Jika ibu mendengar ucapanmu, dia pasti sudah memberi cap anak durhaka di dahimu." Gu Yuan ingin tertawa terbahak-bahak, tapi menahannya. Ia tidak ingin membuat Gu Yuena merasa ditertawakan. Tapi imajinasinya sungguh di luar dugaan.


Gu Yuena berdecak sebal. "Aku bicara bukan tanpa sebab. Selain wajah kita yang tidak mirip Adipati, tidak ada perasaan ayah dan anak di antara kami. Seperti Adipati yang mengasingkanku begitu saja tanpa berpikir panjang, juga hubunganmu dan Adipati yang kaku. Hanya memanggilnya sebagai ayah dan identitas sebagai anak Kediaman Adipati, itu bisa dilakukan oleh semua orang."


Apalagi Gu Yuena yang sekarang bisa dibilang orang luar. Ia melancarkan aksinya terlalu mudah di sini.


Gu Yuan berpikir sejenak. "Tidak salah."


Gu Yuena jadi gelisah. "Kalau ketahuan, apa kita akan diusir?" Gu Yuena jadi membayangkan bagaimana mereka diusir dan diasingkan sebagai anak haram.


"Kalau diusir, bukankah hanya perlu pergi?" Gu Yuan sama sekali tidak menganggap hal itu penting. "Lagi pula, Ibu bukan orang seperti itu." Ia percaya pada ibunya.


"Tapi bisa saja terjadi. Atau mungkin saja sebelum menikah dengan Adipati, Ibu memiliki kekasih satu malam dan melahirkan setelah menikah dengan Adipati." Gu Yuena semakin mengungkapkan imajinasi liarnya.


Memikirkan tentang kekasih satu malam, tiba-tiba ia teringat malam itu. Oh yaampun, bagaimana jika ia mengalami apa yang baru saja ia katakan!


"Gawat!" Gu Yuena semakin kacau. Ini jauh lebih buruk dibandingkan dicap anak haram!


"Kenapa?" Gu Yuan bingung.


Gu Yuena menjadi panik. Masalahnya, ini pertama kali baginya. Ia mulai memikirkan nasibnya jika benar-benar mengalami hal tidak terduga itu. Semua orang akan kecewa dan menertawakannya. Sebenarnya itu tidak penting. Tapi yang ia pikirkan adalah pandangan Gu Yuan terhadapnya.


Apa kakaknya akan tetap di pihaknya? Kakaknya pasti akan sangat kecewa dan meninggalkannya. Membayangkan wajah kecewa itu, hati kecil Gu Yuena menciut.


"Nana?" Gu Yuan semakin bingung. Apa yang dilakukan Ting Le sampai membuat Gu Yuena seperti ini?


Gu Yuena melihat kakaknya, kemudian tersenyum kecut. "Tidak ada. Kau kembalilah dengan urusanmu. Belakangan ini aku menjadi sibuk. Aku juga belum membeli hadiah. Kau kembalilah, jangan mengintip hadiahku!" Gu Yuena langsung kabur ke kamarnya terbirit-birit.


Gu Yuan hanya melihat dengan bingung. Benar terjadi sesuatu.


Gu Yuena menutup pintu dan menghela napas. Ia terus terpikirkan apa yang terjadi malam itu sampai gelisah setengah mati. Bagaimana jika yang dikatakan barusan benar-benar terjadi? Sungguh, ia tidak tahu harus apa.


Jika tahu akibatnya akan fatal, ia tidak akan minum dan memilih merasakan sakit waktu itu! Benar-benar merepotkan!


Awalnya Gu Yuena tidak terlalu ingat karena efek alkohol. Tapi setelah menjalani kultivasi, ingatannya semakin tajam dan ingat saat-saat masih sadar.


Ia minum dan mulai mabuk serta bicara sembarangan. Kemudian, hal yang ia lakukan semakin kacau sebelum akhirnya tidak ingat apa pun. Pria normal mana yang akan menolak seorang wanita mabuk yang melepas pakaiannya dan memulai hubungan intim terlebih dahulu?


Gu Yuena masih sangat mengingat sentuhannya ... itu membuatnya gila!


"Kau gila ... benar-benar gila ... kuharap tidak bertemu dengannya seumur hidup!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kediaman Adipati Gu menjadi lebih ramai dari sebelumnya akan bangsawan dan berbagai klan yang datang menghadiri pesta.


Kereta kuda berjejer rapi dan mengeluarkan banyak bangsawan dari berbagai kalangan. Mereka membawa hadiah yang dibawakan pelayan dan memasuki kediaman setelah menyerahkan undangan.


Pesta ini begitu meriah, karena yang berulang tahun adalah jenius Kekaisaran Yi dan merupakan murid langsung Tetua Istana Yinyang. Siapa yang tidak penasaran dengan orang jenius seperti itu?


Selain untuk melihat Gu Yuan dan mendapat dukungannya, mereka juga membawa putri mereka untuk dicocokkan agar dapat bertunangan dengan orang terhormat seperti itu.


Hal itu dapat mengangkat derajat mereka agar setara dengan pejabat tertinggi. Apalagi Gu Yuan juga merupakan teman Putra Mahkota. Pengaruhnya terlalu luas untuk disebut sebagai Putra Adipati.


Jika Gu Yuan adalah alasan utama mereka datang, alasan kedua adalah untuk melihat Gu Yueli yang kabarnya bertunangan dengan Tuan Muda Klan Ye yang akan menjadi Ketua Klan. Tentu saja, mereka penasaran dan ingin mendekati Gu Yueli menggunakan pesta ini sebagai jembatan. Apalagi Klan Ye kabarnya juga datang merayakan.


Begitu kereta kuda Klan Ye melintas, semua orang langsung menyingkir dan saling bergosip. Pengaruh Klan Ye di Kekaisaran Yi tidak main-main, apalagi dengan kelompok di belakang Klan Ye yang misterius sampai membuat Kaisar Huang bungkam. Tidak ada yang berani memprovokasi mereka.


Mereka berjalan dengan sombong ke dalam kediaman tanpa menurunkan citra mereka sebagai orang berpengaruh. Mereka langsung diarahkan para pelayan ke tempat khusus.


Ye Suanwu juga datang. Ia tersenyum melihat Gu Yueli menghampiri, kemudian pergi mengikuti rombongan. Sebisa mungkin Gu Yueli memberi sikap terbaik untuk menyenangkan Klan Ye.


Begitu pemandangan Klan Ye berakhir, kereta kuda lainnya yang tak kalah mewah datang. Lambang kereta kuda yang terpasang adalah sebuah lambang naga yang indah. Terdapat ukiran karakter 'Luo' di antara naga tersebut.


"Itu Klan Luo!"


Mereka kembali heboh. Rumor mengatakan Dewi Klan Luo sangat cantik dan berbakat. Tuan Muda mereka sangat tampan dan tak terkalahkan, sampai sekarang tidak ada yang tahu berapa tingkat kultivasinya.


Dua orang ini adalah sosok misterius di belakang Klan Luo. Ditambah, latar belakang Klan Luo sangat rumit dan misterius. Pengaruh mereka jauh lebih besar dari Klan Ye.


Rumor mengatakan bahwa mereka didukung oleh sebuah istana tersembunyi yang tak lagi menunjukkan diri dalam urusan dunia—Istana Tianshuang.


Sosok perempuan cantik keluar dari kereta kuda bersama seorang pelayan di belakangnya. Ia tampak anggun dan cantik, tatapannya tegas tanpa memberi emosi, namun tidak menurunkan kadar kecantikannya yang luar biasa. Pemandangan itu membuat semua orang terpana, terutama bagi para pria.


Berkebalikan dengan wanita itu, seorang perempuan mungil keluar dari kereta kuda dengan raut angkuh. Ia sangat cantik dan manis seperti bayi, namun tatapannya sangat sinis terutama ketika melihat perempuan di sampingnya. Ia melewati perempuan itu begitu saja bersama pelayannya yang berjalan menunduk.


Perempuan bergaun ungu itu hanya diam seolah tidak melihatnya. Ia berjalan maju sambil menunggu validasi penjaga gerbang.


Seorang pria tegap dan tampak berwibawa berdiri di depan mereka berdua. Ia sangat tinggi, terlihat bahwa ia juga sangat tampan saat masih muda. Namun kerutan dan kumis yang malas dicukur itu sedikit menutupi wajah tampannya.


"Hanya sebuah rumah kecil, kenapa aku harus menunggu sangat lama?" Perempuan mungil itu menggerutu kesal. Ia melirik perempuan bergaun ungu yang menghampiri di sebelahnya, kemudian mendecih sebal.


Sangat terlihat hubungan mereka berdua sangat tidak baik.


Ketika tengah menunggu, sosok yang ditunggu akhirnya keluar. Gu Shan secara langsung menyambut dengan tangan terbuka.


"Ketua Klan Luo, selamat datang. Maaf telah membuat kalian menunggu lama." Gu Shan langsung memberi salam dengan bahagia. Ia sangat menanti kedatangan mereka sejak awal.


"Tidak lama. Terima kasih sudah menyambut secara langsung. Hari ini aku hanya membawa sedikit barang untuk hadiah ulang tahun Tuan Muda Pertama, mohon maklumnya."


Sedikit? Gu Shan hampir menangis. Satu gerbong itu dianggap sedikit? "Ketua Klan Luo terlalu merendah. Takutnya, kami bahkan tidak sanggup menerima semua hadiah ini. Ayo, masuklah dan istirahat. Pestanya sudah akan dimulai." Ia melihat dua perempuan itu bergantian, kemudian terkekeh. "Sepertinya Tuan Muda sedang sangat sibuk."


"Kalau begitu, kami akan menunggu dan akan sangat menyambutnya." Gu Shan membawa mereka masuk dengan penuh keramahan. Ia tidak akan melepaskan kesempatan ini. Putranya itu memang luar biasa.


Mereka semua masuk ke dalam disertai para pelayan yang membawa hadiah. Gu Yuan ada di dalam, berdiri melihat kedatangan mereka.


Ketika pandangannya bertemu dengan perempuan bergaun ungu, ia sedikit menarik bibirnya untuk memberi sapaan. Perempuan itu membalas dengan sedikit sunggingan sebelum akhirnya pura-pura tidak kenal.


Tidak ada yang memperhatikan momen tersebut.


Di saat semua orang sibuk akan pesta, satu sisi bagian kediaman Adipati terkesan sangat sunyi dan penuh dengan pisau terbang yang tertancap di mana-mana.


Siapa lagi kalau bukan karya manusia yang kerjaannya tidur setiap saat? Bahkan ia masih tidur ketika pesta dilaksanakan.


Xiao Hei melihatnya sesaat, kemudian memutar bola mata. Ia pergi ke langit-langit, kemudian mengeong sambil melompat tepat ke atas kepala Gu Yuena yang tidur.


"Aaaa!"


Gu Yuena melompat begitu saja dari atas tempat tidur sebelum kakinya terkilir. Ia pun jatuh konyol tanpa bisa mengendalikan diri.


Sial sekali harinya.


Xiao Hei yang melihat pun menghela napas.


"Meow~"


"Aku tahu, aku tahu, aku hanya lelah ...." Gu Yuena bangun dengan malas. Ia bersandar di bawah tempat tidur, kemudian menguap. Matanya terlihat seperti panda.


Semalam, ia terlalu frustrasi seharian sampai tidak bisa tidur. Ketika menutup mata, ia akan terbayang kejadian malam itu yang membuatnya seolah mengidap trauma. Oleh karena itu, ia memaksakan diri berlatih.


Karena tubuhnya lemah, ia berlatih fisik dan memaksakan diri berulang kali. Entah sudah keberapa kalinya ia berdiri terbalik seharian, kemudian berusaha mengendalikan pisau terbang dengan benar. Karena terlalu lelah dan qi menjadi tak terkendali, semua pisau terbang itu tak terkendali dan menancap apa pun yang dilaluinya.


Gu Yuena mempersiapkan diri lebih cepat. Ia tidak melihat Jiang Weiwei, entah ke mana manusia itu pergi. Gu Yuena tidak ingin memikirkannya dan memilih bersiap sendiri dengan pakaian serta riasan terbaik.


Gu Yuena sampai lupa, bahwa ia belum membeli hadiah.


Setelah bersiap dan membuka pintu, kedatangannya disambut oleh beragam pisau yang bertebaran di halaman bagai daun di musim gugur. Benar-benar kacau.


"Baiklah, percobaan terakhir." Gu Yuena mengayunkan tangannya untuk mengendalikan pisau terbang.


Qi mulai terbentuk dan meraih pisau terbang. Gu Yuena terus fokus untuk menggerakkan mereka secara perlahan. Berbaur dengan qi sekitar, kemudian menarik mereka sekaligus untuk meletakkannya ke tempat semula.


Ia menutup mata, menggerakkan tangannya dan menggunakan kesadarannya untuk mendeteksi situasi sekitar. Karena hatinya yang sudah tenang berkat pelatihan keras semalam, ia bisa menggunakan qi secara maksimal dan tidak terburu-buru.


Alhasil, ia berhasil menarik semua pisau terbang secara perlahan dan meletakkannya ke atas meja panjang dengan rapi.


Gu Yuena membuka mata, kemudian tersenyum puas. Efek berlatih sambil begadang lebih baik dari sebelumnya.


"Xiao Hei, aku berhasil!" Gu Yuena sangat senang sampai nyaris melompat. Usaha kerasnya membuahkan hasil.


Tapi di tengah kebahagiaan tersebut, tiba-tiba saja jantung Gu Yuena berdegup lebih keras dari sebelumnya hingga menyebabkan nyeri. Ia memegang dadanya yang sakit, kemudian setengah berlutut di atas lantai.


"Apa yang terjadi?" Gu Yuena bingung.


Dadanya terlalu sakit seperti tersengat sesuatu dan diremukkan. Ia menopang tubuhnya yang lemas dengan tangan di atas lantai. Dadanya terlalu sakit sampai terbatuk.


Ia batuk, hasil dari batuknya mencipratkan darah hitam yang membuat kepalanya pusing. Xiao Hei khawatir dan melompat ke depan Gu Yuena, kemudian menggosok kepalanya ke lengan Gu Yuena.


"Tak apa ...." Gu Yuena mencoba menenangkan diri dan menetralkan kondisi tubuh. Kepalanya terasa pusing sampai visinya berbayang.


Gu Yuena menutup mata untuk mengendalikan qi yang kacau dalam tubuh. Ia baru saja menerobos dua tingkat sekaligus ketika pondasinya belum kokoh. Tapi entah kenapa, kekuatan spiritualnya mengalami perubahan signifikan dan membentuk dinding qi yang menyebabkan kekacauan energi dalam tubuh.


Sepertinya ia akan menerobos. Ia harus mengendalikan qi dengan baik agar tidak terjadi kesalahan yang dapat menyebabkan kecacatan permanen.


Pelindung transparan seperti telur tumbuh dengan sendirinya mengurung Gu Yuena. Ia terkunci dalam dunia kesadarannya sendiri dan fokus mengendalikan qi untuk membentuk pondasi spiritual.


Memori pemilik tubuh asli kembali muncul membantunya. Sepertinya Gu Yuena yang dulu pernah menerobos tingkat 3 dan berhasil. Ia akan mencoba mengikuti.


Butuh waktu cukup lama untuk membentuk pondasi spiritual dalam tubuh. Ia mengatur jalannya qi melalui meridian dan memadatkannya berdasarkan tuntunan yang ditunjukkan memori yang datang. Tanpa ia ketahui, kedua tangannya memunculkan cipratan kembang api yang sangat kecil.


Selama beberapa waktu, kekuatan spiritual dalam tubuh meningkat dan menguasai tubuhnya. Ia dipenuhi qi yang berterbangan di udara disertai pondasi spiritual yang mengurungnya.


Gu Yuena membuka mata, kemudian memuntahkan darah hitam kembali. Darah hitam itu adalah kotoran yang membuat kekuatan spiritual terhambat. Siapa sangka, darah hitam yang ia keluarkan terlalu banyak hingga membuat Gu Yuena lemas.


Jiang Weiwei selalu menggunakan opium untuk mempengaruhi pikirannya sehingga menyebabkan 'kotoran' dalam tubuh menumpuk dan menyiksanya ketika dalam proses kenaikan tingkat ke-3.


Sepertinya ia memang harus menyingkirkan Jiang Weiwei sampai selesai agar peningkatan kedepannya tidak terlalu menyakitkan.


Gu Yuena berdiri, lalu berniat mengganti pakaian karena keringat yang bau. Selain darah, 'kotoran' juga keluar melalui keringat sehingga harus mandi kembali.


Tapi sebelum ia masuk ke dalam dan akan mandi, Gu Yuena teringat sesuatu.


"Hadiah Kakak!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gu Yuena berjalan di sekitar kediaman untuk pergi ke ruangan Adipati demi mendapat izin keluar membeli hadiah. Ia tidak mempersiapkan hadiah apa pun. Benar-benar merusak pencitraannya.


Ia berjalan dengan langkah sedikit cepat melalui banyak pelayan dan pengunjung yang berdatangan. Ketika memasuki ruang kerja ayahnya, ia tidak menemukan siapa pun yang hadir di dalam.


"Kosong."


Sedangkan di aula, semua orang telah hadir dan mengucapkan selamat ulang tahun pada pemeran utama pesta. Gu Yuan duduk dengan tenang, namun hatinya gelisah menyadari Gu Yuena belum hadir. Ia takut adiknya yang polos itu diganggu bangsawan lain.


Perjamuan antar-bangsawan dan berbagai perwakilan klan terlalu ramai untuk ditinggalkan. Gu Yuan sama sekali tidak memiliki kesempatan menanyakan kondisi Gu Yuena.


"Aku dengar Tuan Muda Yuan menjadi murid Tetua Istana Yinyang dan menjadi murid terbaik di Akademi Yinyang. Tidak ada yang sebaik Tuan Muda di Divisi Guardian, apalagi memiliki guru yang merupakan guardian terhebat. Benar-benar membuat orang iri."


"Gu Shan, Anda membesarkan putra yang sangat berbakat. Jika saja putraku bisa mengikuti jejaknya, kami tidak akan ada penyesalan."


"Haha, kalian terlalu menyanjung. Aku sebagai Ayah hanya mendukungnya dari belakang, tidak banyak ikut campur. Sebagai Ayah, aku hanya bisa membiarkan Yuan'er memilih jalannya sendiri." Gu Shan sangat senang mendengar semua sanjungan itu.


"Di usianya yang sekarang, aku rasa sudah seharusnya Adipati Gu merencanakan pernikahan untuk Tuan Muda. Kira-kira, wanita seperti apa yang akan menjadi penilaian Adipati Gu?"


Gu Shan diam untuk beberapa saat. Ia terkekeh, sudah menduga pertanyaan ini akan terlontar. Siapa pun tidak akan sabar menggunakan pengaruh Gu Yuan untuk mendapat reputasi dan menjadi terkenal. Ia mendengus dalam hati akan niat orang-orang itu. Untuk Gu Yuan, tentu penilaiannya akan sangat tinggi.


Gu Shan berkata, "Untuk itu ... harus dalam pertimbangan Yuan'er. Orang tua ini sudah terlalu tua untuk memilihkan istri untuknya." Ucapannya berbeda dengan niat hati. Lagi pula, tidak mungkin Gu Yuan akan memilih wanita biasa-biasa saja.


"Karena Adipati Gu lepas tangan terhadap pernikahan Tuan Muda Yuan, maka biar Tuan Muda Yuan yang menentukan." Ketua Klan Luo tiba-tiba bicara dengan tempo pelan sehingga terdengar dengan jelas oleh mereka semua.


Tiba-tiba mereka memiliki spekulasi dan mulai merasa was-was.


"Jika Ketua Klan Luo sudah bicara, maka tidak akan ada yang meragukannya." Salah seorang pejabat tertawa untuk memecah kecanggungan.


"Benar, sepertinya kita harus melakukan sayembara. Aku lihat, para keluarga di sini juga memiliki niat bergabung dengan Kediaman Adipati. Bukankah begitu?"


"Sebenarnya tidak perlu mengadakan sayembara dalam bentuk apa pun. Adipati Gu, jika tidak keberatan, kita bisa membentuk persaudara yang lebih erat lagi dan menjadi kerabat dengan menyatukan putra-putri kita. Tidak tahu, bagaimana pendapat Adipati Gu dan Tuan Muda Yuan." Ketua Klan Luo berkata dengan santai sambil menatap Gu Shan.


Gu Shan semakin bersemangat sampai memukul meja saking senangnya. Semua orang terkejut. "Bagus! Ketua Klan Luo, itu adalah ide bagus. Selama ini keluarga kita terhubung dalam bisnis perdagangan, hubungan ini harus terikat lebih baik. Omong-omong, putri mana yang akan bersama Yuan'er-ku?"


Ia harap Luo Zhiyi. Meski usianya masih remaja, setidaknya hanya butuh dua tahun untuk upacara kedewasaannya. Luo Zhiyi adalah putri bungsu Ketua Klan Luo dan merupakan adik satu-satunya Tuan Muda Luo yang terkenal itu. Bakatnya sudah tidak perlu dibicarakan lagi. Jika Gu Yuan adalah wanita, sudah pasti ia akan memilih Tuan Muda Luo sebagai pengantinnya ....


Pandangan Ketua Klan Luo terarah pada dua gadis yang duduk dengan tenang di belakangnya. Yang satu tampak bosan sedangkan yang satunya serius dan membuatnya tersenyum puas. "Luo Yi, apa kamu tidak keberatan?"


Senyum Gu Shan membeku negitu nama Luo Yi disebut. Luo Yi hanyalah anak dari Klan Luo bagian cabang yang kehilangan kedua orang tuanya. Ia hanya kerabat jauh yang 'menupang' di kediaman utama.


Meski Luo Yi sangat cantik dan berbakat melebihi wanita lain, temperamennya terlalu sulit diraih. Ia tidak selembut Gu Yuena, juga tidak semanis Gu Yueli. Ia adalah besi yang ditempa dengan api dan dapat menghunuskan pedangnya pada siapa pun yang ia mau.


Wanita yang tampak dingin sejak awal menatap pamannya, kemudian melirik Gu Yuan sambil berkata, "Seperti yang dikatakan Paman, masalah ini tentu harus melalui pertimbangan Tuan Muda Yuan."


Orang-orang melihat Luo Yi sebagai dewi dari Klan Luo yang agung dan penuh aura elegan yang dapat membuat semua orang memujanya. Tapi itu hanya bagi orang awam.


Para pejabat yang dekat dengan Klan Luo, serta Klan besar tentu tahu bagaimana Luo Yi membunuh beberapa monster tahun lalu. Ia berhasil menakuti para pemuja pria di akademi.


"Kalau begitu, Tuan Muda Yuan bisa membuat keputusan. Kalian berada di akademi yang sama dan telah saling mengenal dalam jangka waktu lama. Tuan Muda Yuan tentu memiliki pilihan yang tidak rumit. Adipati Gu, bukankah begitu?"


Gu Shan tergagap. Ini di luar dugaannya, tapi ia harus berpura-pura mendukung. "Tentu ... tentu ...." Jika Luo Yi hanya diberikan pada putra kedua atau ketiganya, ia akan sangat senang. Tapi untuk putra pertamanya ... bagaimana bisa dengan putri keluarga cabang?


"Aku—" Gu Yuan baru saja akan memberi tanggapannya, tapi tiba-tiba perhatiannya teralih pada sosok perempuan bercadar yang berdiri di ambang pintu.


Gadis itu tampak memandang semua orang dengan dingin, tapi tiba-tiba berubah menjadi lembut seolah ia adalah bunglon begitu semua orang menyadari kehadirannya.


"Nana?" Gu Yuan nyaris tidak bisa berkata-kata.


Sepertinya kiamat akan terjadi.