Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
47. Tidakkah Ada Harapan?



Gu Yuena masuk ke dalam kamar dan menguncinya begitu saja sambil bersandar di pintu. Tapi sayangnya, punggungnya terasa sangat perih akibat luka yang begitu dalam. Ia tidak bisa bersandar meski ingin.


Pada akhirnya, Gu Yuena melepas jubah milik Luo Youzhe yang masih ia kenakan dan melemparnya begitu saja ke lantai. Ia melihat pakaian kacaunya, serta beberapa luka yang telah mengering.


Sangat buruk.


Hanya saja, Gu Yuena tidak benar-benar fokus pada lukanya. Ia diam untuk beberapa saat, lalu menyentuh bibir mengingat ciumannya dengan orang itu di depan umum.


Ah, rasanya ingin menghilang saja!


"Nona, kamu terluka, cepat obati! Aku akan menjagamu dengan baik dari si brengsek itu!" Xiao Hei muncul tiba-tiba dengan raut cemas. Ia membawa beberapa botol porselen berisikan obat untuk Gu Yuena dengan susah payah.


Sedangkan Gu Yuena masih tidak habis pikir sambil menyentuh bibirnya. Perasaan itu ... benar-benar berbeda ketika ia berciuman dengan orang lain di masa lalu.


Ada apa ini?


Bagaimana ia bisa menjadi bodoh begini!


"Nona!"


Gu Yuena terkejut akan teriakan Xiao Hei. Ia melihat kucing kecil itu, lalu melihat semua obat yang dibawanya.


"Yaa ... aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." Gu Yuena masih linglung sejenak.


"Nona, kamu terkena racun dan harus mandi obat. Biar aku yang mengurus segalanya." Xiao Hei masih sangat panik sampai ia membawa semua obat-obatan itu ke dalam kamar mandi sendirian.


Gu Yuena berpikir sejenak.


Racun?


Lin Susu sebelumnya telah menaburkan sesuatu dan mengganggu pengelihatannya. Apa itu adalah racun?


Huh, dasar wanita licik. Pantas saja ia jadi kekurangan banyak tenaga dan terluka seperti ini.


"Nona!"


Gu Yuena berbalik melihat Xiao Hei yang marah-marah. Ia mengangguk pelan, lalu berlari kecil ke kamar mandi untuk menyiapkan air dan obat. Ia akan mandi obat untuk penetralan racun sesuai resep Xiao Hei.


Belakangan ini Xiao Hei sering menyusup ke tempat healer untuk mempelajari pengobatan. Kucing kecil itu sangat pintar memikirkannya dan menggunakan kemampuan itu untuk melindungi nonanya.


Berdasarkan resep Xiao Hei, Gu Yuena akhirnya berendam air obat. Air hangat dan aroma obat yang ia gunakan cukup menenangkan. Setelah menanggalkan pakaian, ia pun masuk ke dalam air dan berendam dengan tenang.


Kapan lagi ia merasa tenang seperti ini?


Tapi ketika menutup mata, ingatannya terbesit mengenai ciumannya dengan Luo Youzhe tadi.


Gu Yuena membuka kedua matanya saat itu juga.


"Ah, aku sudah menjadi gila." Ia mengusap wajahnya frustrasi.


Daripada stress sendiri, lebih baik mengobati semua lukanya.


Ia pun mengambil semua botol porselen yang sudah Xiao Hei siapkan. Xiao Hei sendiri berjaga di luar membiarkan Gu Yuena tenang sendirian.


Gu Yuena membuka salah satu tutup botol, lalu menaburkan obat ke tangannya yang tergores. Ini akan memutuhkan waktu untuk sembuh sampai tak berbekas.


Tapi masalahnya, bagaimana ia menabur obat di pagian punggung?


Benar juga ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Luo Youzhe masuk ke dalam asrama lamanya untuk mencari Gu Yuena. Ketika masuk, ia sudah dikejutkan oleh teriakan kucing hitam yang mengusirnya begitu galak.


Kucing itu terus mengeong dengan garang dan memasang sikap waspada tanpa mengalihkan perhatian.


"Meoww~"


Luo Youzhe ingat, kucing hitam itu adalah kucing milik Gu Yuena dan tidak pernah terpisahkan. Itu berarti Gu Yuena ada di sini.


Luo Youzhe akan melangkah lebih jauh, tapi kucing hitam itu menghalangi jalannya sambil melengkungkan punggung dengan tatapan tajam.


Kenapa kucing ini?


Apa sedang menghalangi jalannya?


Luo Youzhe menghela napas. Untung saja itu kucing kesayangan Gu Yuena, atau ia sudah menendangnya keluar sejak awal.


Ia pun mengambil Xiao Hei begitu saja dengan satu tangan membuat kucing itu memberontak hebat.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Dasar b*jingan! Jangan ganggu nonaku lagi!"


Luo Youzhe berkata dengan dingin. "Diamlah, jika tidak ingin mendapat masalah."


"Kau pria jahat! Enyahlah!"


Luo Youzhe melempar begitu saja kucing itu sembarang tempat karena telah menghalangi jalannya. Ia masuk dengan leluasa sambil melihat-lihat.


Tidak banyak berubah.


Hanya saja ....


Iris birunya mendapati tempat tidur lamanya cukup acak-acakan dan memiliki beberapa pakaian pria asing yang berserakan. Ia menyipitkan matanya.


Bisa-bisanya orang-orang itu menempatkan Gu Yuena bersama pria lain!


Aura dingin yang menyeluruh di dalam ruangan membuat Xiao Hei yang awalnya ingin ngereog jadi ketakutan sendiri. Kucing kecil itu hanya bisa mematung di tempat, sembari menjaga pintu kamar mandi di mana Gu Yuena berada.


Luo Youzhe menghela napas. Sudahlah, toh identitas Gu Yuena sebagai perempuan telah terungkap. Dia akan pindah ke asrama perempuan tak lama lagi. Ia sudah bisa tenang.


Luo Youzhe melihat jubahnya yang diletakkan sembarangan di lantai. Ia mengambilnya, lalu hendak menyimpannya.


Tapi tiba-tiba sebuah suara ribut terdengar dari kamar mandi.


Pranggg


Luo Youzhe panik. Sedangkan Xiao Hei melompat ke atas seperti cicak karena terkejut.


Secara spontan, Luo Youzhe masuk ke dalam kamar mandi terlepas dari penjagaan Xiao Hei yang merayap di langit-langit.


"Berhenti!" Xiao Hei saat itu juga melompat hendak menerkam Luo Youzhe, namun aura dingin yang keluar membuat tubuhnya membeku dan jatuh tepat di depan pintu.


Rasanya ingin menangis saja ....


Nona ... berhati-hatilah ....


Sedangkan di dalam kamar mandi, Gu Yuena berdecak sebal karena semua botol porselen itu jatuh dan beberapa telah pecah. Ia pun mengerang.


Kenapa menaburkan obat ke punggung rasanya sulit sekali? Ia sampai merasa nyeri dan menghancurkan semua yang telah disiapkan Xiao Hei. Ia jadi merasa tidak enak.


"Lin Susu, awas saja bila bertemu nanti!" Gu Yuena ribut sendiri.


Gu Yuena berusaha meraih botol-botol porselen itu dari dalam bak. Memang sulit, tapi setidaknya ia mendapatkan beberapa.


Masalahnya, ia tidak bisa menggunakan kekuatan spiritual dalam keadaan seperti ini. Atau lukanya akan memburuk. Apalagi diracuni.


Di balik tirai pembatas, Luo Youzhe hadir dalam keadaan panik, tapi ia terdiam untuk beberapa saat ketika menyadari sesuatu. Gu Yuena yang menyadari kehadirannya juga ikut terdiam.


Pikiran Gu Yuena kembali kacau saat itu juga. Tanpa bisa mengatakan sepatah kata, ia kembali ke posisi semua dan menenggelamkan dirinya sampai leher ke dalam air.


Situasi apa ini?


Untung saja air yang ia gunakan memiliki warna obat. Beruntung juga posisi mereka dibatasi oleh tirai.


"Apa kau baik-baik saja?" Luo Youzhe bertanya untuk melepaskan rasa canggung.


Gu Yuena membalas dengan singkat. "Ya."


Melihat botol-botol porselen yang jatuh dan pecah, sepertinya Luo Youzhe paham akan sesuatu. Apalagi ketika menyadari aroma ruangan yang penuh dengan aroma obat.


Gu Yuena sedang menyembuhkan lukanya sendiri secara manual.


"Kau butuh bantuan?" Luo Youzhe tidak bermaksud apa-apa. Ia hanya menawarkan bantuan, mengingat luka yang dialami Gu Yuena tidak kecil.


Itu adalah luka pedang, hampir sama seperti luka cambukan tempo hari.


Gu Yuena berpikir sejenak. Xiao Hei tidak bisa membantunya, sedangkan teman-temannya tidak mungkin dihubungi dalam keadaan sibuk seperti ini. Hanya ada Luo Youzhe.


Tapi bagaimana jika ia dijebak?


Luo Youzhe sama sekali bukan lawannya.


Sedangkan Luo Youzhe tidak memindahkan posisi sampai Gu Yuena memutuskan. Ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri.


"Bantu aku."


Gu Yuena akhirnya mengambil keputusan setelah beberapa lama terdiam. Ia ingin menolak, tapi tindakannya berkata lain yang membuatnya semakin kaku.


Luo Youzhe melangkahkan kakinya ke balik tirai. Ia mengambil botol porselen yang jatuh, lalu meletakkannya ke atas meja.


Tanpa mengatakan apa pun, Gu Yuena meninggikan posisinya sampai punggung indahnya terlihat. Hanya saja, punggung itu memiliki sebuah luka sayatan  benda tajam yang cukup dalam. Bahkan Gu Yuena harus menahan sakit ketika menggerakkan tubuhnya.


"Apa sangat buruk?" Gu Yuena bertanya.


Luo Youzhe diam untuk beberapa saat, melihat punggung Gu Yuena dengan berbagai pikiran. Ia menutup mata sejenak, lalu mengambil salah satu botol porselen untuk menaburkannya ke luka.


"Tidak seburuk waktu itu. Air obat membuat lukanya kering lebih cepat." Luo Youzhe menjawab dengan nada rendah.


Gu Yuena hanya mengangguk pelan. Ia merasa canggung, dan gugup.


Ayolah, di masa lalu bahkan Gu Yuena berani menggunakan pakaian mini ketika liburan musim panas. Begini saja malah gugup.


Ketika bubuk obat itu menyentuh lukanya, Gu Yuena merasakan perih yang tidak membuatnya nyaman. Ia meringis sesekali akan sakit di kulit dan dagingnya.


Luo Youzhe melihat luka itu untuk beberapa saat. Pasti akan meninggalkan bekas. Gu Yuena tidak akan nyaman, 'kan?


Tanpa berpikir panjang, ia menggunakan kekuatan spiritualnya untuk menyembuhkan luka Gu Yuena. Aliran energi itu mengalir di tiap luka Gu Yuena, memberi kehangatan yang membuat gadis itu nyaman.


Gu Yuena sendiri masih belum sadar, berpikir itu terjadi karena efek air obat. Punggungnya juga tidak lagi terasa sakit. Tapi ketika menyadari luka di tangannya yang menutup dan tidak lagi meninggalkan jejak, ia baru sadar.


Secara spontan Gu Yuena menoleh ke belakang, melihat Luo Youzhe yang masih berdiri seperti patung hidup. Ia ingin berkomentar mengenai penyembuhan menggunakan kekuatan spiritual, tapi merasa tidak berhak.


Pada akhirnya, Gu Yuena melunak dan kembali ke posisinya. Ia berkata dengan nada rendah, "Terima kasih."


"Aku pikir kau akan protes." Luo Youzhe terkekeh.


Gu Yuena sangat ingin menenggelamkan diri saat ini juga. Pasti wajahnya memerah sekarang. Bagaimana ia bisa menjadi seperti ini hanya karena seorang pria?


Gu Yuena pun mencari topik lain. "Aku ingin tahu, kenapa rasanya berbeda seperti luka cambukan waktu itu?"


"Kamu berada di air obat, kekebalannya lebih baik daripada minum anggur. Selain itu, lukamu sudah cukup terobati. Aku hanya menghilangkan sisa luka dan bekasnya."


Suasana kembali sunyi karena Gu Yuena hanya berdeham sebagai tanggapan. Gadis itu menjadi pendiam.


"Sebenarnya, kau tidak harus membantuku sampai seperti ini." Gu Yuena masih sungkan. Ia hanya merasa tidak nyaman, tidak ingin salah paham lebih jauh.


"Itu adalah keinginan, tidak ada yang bisa mengendalikannya."


"Keinginan? Apa keinginanmu?" Gu Yuena bertanya-tanya. Apa ada keinginan seperti itu?


"Sama seperti insting untuk melindungi diri sendiri." Luo Youzhe menekan bak mandi di belakang Gu Yuena, pandangannya terarah pada Gu Yuena di bawahnya yang tampak merenung. "Keinginanku, agar seseorang tetap aman."


"Lalu, kenapa aku?" Gu Yuena menanyakannya tanpa sadar. Pikirannya melayang entah kemana, penuh dengan kekosongan dan kekhawatiran.


Pandangan Luo Youzhe tetap terpikat pada Gu Yuena. Ia tidak menjawab untuk beberapa saat, entah apa yang ada di pikirkannya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


Gu Yuena berbalik untuk melihat kedua iris biru itu. Ia mengulang pertanyaannya lagi, "Kenapa aku?"


Luo Youzhe menatap iris merah itu dengan dalam. Alasan ia memilih Gu Yuena, karena di matanya hanya ada gadis itu. Hanya dia yang dapat membuatnya bersifat secara alami. Dan hanya dia yang dapat membuatnya merasakan hidup normal.


Luo Youzhe menginginkan Gu Yuena sepenuhnya.


"Menginginkanmu ... aku menginginkanmu, segala tentang dirimu."


Ucapan Luo Youzhe membuat Gu Yuena terdiam. Ada rasa sesak di dadanya, tapi tidak tahu mengapa. Apa karena mengingat masa hidupnya yang sebentar? Atau karena ... takdirnya yang tidak bisa seperti orang biasa?


Gu Yuena jelas tidak bisa menerimanya.


Meski ia ingin.


"Luo Youzhe ... itu ...."


Gu Yuena tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika Luo Youzhe menyatukan bibir mereka. Pria itu seolah ingin membungkamnya, tidak membiarkannya mengatakan sepatah kata. Sepertinya Luo Youzhe sudah tahu apa yang ingin dikatakan Gu Yuena.


Sedangkan Gu Yuena sendiri mematung. Pikirannya kosong, sebelum akhirnya menutup mata merasakan gerakan lembut di bibirnya yang membuatnya terbuai sejenak.


Gerakan lembut itu mengganas ketika Gu Yuena menggigit bibir Luo Youzhe, membalasnya dengan ciuman panas. Tangan Luo Youzhe menekan tengkuk Gu Yuena, untuk memperdalam lumatannya.


Tapi itu tidak bisa berlangsung lama. Mereka melepas ciuman dan mengambil napas sebanyak-banyaknya. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, antara merah dan biru yang begitu khas.


Ada perasaan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih dalam, tapi pemikiran itu terputus begitu mengingat beberapa hal yang memang tidak seharusnya mereka lakukan demikian.


Gu Yuena kembali ke posisi semula dan menjadi pendiam kembali. Ia memeluk lututnya di dalam air, tenggelam dalam pikiran.


Luo Youzhe yang melihat kegalauan Gu Yuena pun berkata, "Tidak perlu dipikirkan. Seperti ini juga sudah bagus."


"Benar tidak masalah?" Gu Yuena ragu. Ia tidak bisa membalas perasaan Luo Youzhe karena beberapa hal. Tapi ia merasa tidak nyaman.


Luo Youzhe mengusap rambut Gu Yuena dengan lembut. "Tidak masalah."


Yang terpenting, Luo Youzhe sudah tahu bagaimana pandangan Gu Yuena terhadapnya. Pandangan itu dapat perlahan berkembang. Meski Gu Yuena ragu atau takut, itu bukan masalah besar.


Asalkan Gu Yuena tetap bersamanya dan memastikannya tetap aman, bukan masalah jika Gu Yuena tidak membalas perasaannya.


Luo Youzhe pun keluar dari kamar mandi, membiarkan Gu Yuena menyelesaikan kegiatannya terlebih dahulu.


Sedangkan Gu Yuena, tetap tenggelam dalam pikiran yang kacau dan buntu.


"Tidakkah ada harapan?" Ia meremas telapak tangannya sendiri dengan gelisah, lalu menurunkan tubuhnya ke bawah air sampai ujung rambut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas keluar dari kamar mandi, Luo Youzhe menghela napas panjang dan menenangkan pikiran.


Tadi itu benar-benar berbahaya.


Ia melirik Xiao Hei yang memasang posisi waspada sejak kemunculannya. "Mungkin nonamu membutuhkan bantuan," katanya.


Xiao Hei mendengus. Ia pun masuk ke kamar mandi tanpa melepaskan tatapan waspada terhadap Luo Youzhe. Sampai akhirnya, ia pun benar-benar menghilang dari pandangan.


Tak lama setelah kepergian Xiao Hei, sosok hitam muncul dalam keadaan berlutut satu kaki di dekat Luo Youzhe.


"Tuan Muda."


"Apa ada kabar lain?" Luo Youzhe bertanya.


"Berdasarkan informasi, identitas Nona Gu dan kakaknya tidak memiliki hubungan terhadap Adipati Gu."


Luo Youzhe memicingkan mata. "Apa maksudmu?"


"Mereka ... bukan anak kandung Adipati Gu. Istri pertama Adipati Gu, Li Hua, adalah Putri Kekaisaran Wyvernia bernama Putri Vanya yang hilang beberapa tahun lalu. Secara teknis, Nona Gu dan kakaknya adalah anggota Kekaisaran Wyvernia dan merupakan kandidat pewaris tahta selanjutnya. Hal tersebut bisa dibuktikan melalui karakteristik anggota kekaisaran yang memiliki warna mata merah."


Wajah Luo Youzhe terlihat biasa saja seolah bukan mendengar hal penting, tapi sebenarnya ia sangat terkejut.


Bagaimana dunia ini bisa begitu sempit?


"Ada yang lain?" Luo Youzhe bertanya lagi.


"Mengenai hal ini ... harus dibicarakan oleh Yang Mulia. Tuan Muda, Anda harus kembali ke Istana secepatnya."


"Begitu mendadak." Luo Youzhe mengerutkan kening.


"Ini menyangkut ... Istana Linghun." Pria itu tampak ragu mengatakannya karena tahu apa yang akan terjadi.


Dan benar saja, wajah Luo Youzhe menjadi semakin dingin ketika mendengarnya. Jika terkait Istana Linghun, maka bukan berita baik. Apalagi jika ada hubungannya dengan Gu Yuena.


"Tuan Muda, sebaiknya kita pergi sekarang." Pria itu bicara takut-takut. Seharusnya bukan ia yang melaporkan hal ini, tapi atasannya yang biasa bersama Luo Youzhe sedang memantau sesuatu. Ia harus menyaksikan temperamen seperti ini sekarang.


Luo Youzhe menenangkan dirinya. Pandangannya tidak lagi dingin ketika melihat ke arah pintu di mana Gu Yuena berada.


Apa pun itu, meski harus berurusan dengan Istana Linghun, ia akan menjauhkan semua bahaya dari Gu Yuena.


Pada akhirnya, Luo Youzhe pergi bersama pria berpakaian hitam itu. Sosoknya menghilang di tengah kegelapan tanpa meninggalkan jejak hanya dalam hitungan detik.