
Sosok gadis tertidur dengan nyenyak di pagi yang indah ini. Namun, posisi tidurnya begitu kacau sampai tubuhnya terlilit selimut secara penuh. Ia tidak bergerak, hanya tidur seperti orang mati.
Suara kicauan burung di luar sana mengganggu tidurnya. Sepasang iris merah darah itu menunjukkan warnanya ketika sinar matahari menyelinap masuk. Ia mengeluh sambil menutup masuknya sinar ke matanya dengan cara menutup mata.
Karena posisi tidurnya yang miring, ia pun menggulingkan tubuh untuk telentang. Tapi siapa sangka, hal buruk terjadi ....
Brukkk
Nyawa Gu Yuena kembali ke raganya ketika tubuhnya jatuh begitu saja dari tempat tidur. Ia terkejut, dan sadar seketika dari mimpinya. Ia baru menyadari, bahwa tubuhnya terlilit selimut dengan sempurna sampai tidak bisa bergerak.
Gu Yuena menghela napas dan melemaskan tubuhnya. Bisa-bisanya ia tidur sambil menyusahkan diri.
Tunggu dulu, sejak kapan ia tiba di Kediaman Adipati?
Gu Yuena mengaduh sambil berguling di lantai agar terlepas dari lilitan. Ia sudah seperti gadis tak terurus dengan rambut acak-acakan seperti sarang tawon. Setelah terlepas dari gulungan selimut, ia berdiri sambil merapikan rambutnya.
"Weiwei ...." Ia memanggil pelayan pribadinya itu dengan malas sambil duduk di atas tempat tidur. Pandangannya terarah pada semangkuk sup gingseng di atas meja.
Ia mengambil sup gingseng tersebut, kemudian mencium baunya, berharap tidak ada racun atau semacamnya. Suhunya masih hangat, menunjukkan bahwa sup baru saja dibuat. Selain itu, tidak ada keanehan lain selain bau gingseng. Apa Jiang Weiwei yang membuatkannya?
Kalau begitu ... apa ia ketahuan mabuk? Luo Youzhe membawanya ke sini terang-terangan!
"Mati aku ...."
Gu Yuena mengeluh kembali sambil menangis tanpa air mata. Jika orang kediaman tahu tingkahnya, habis sudah semua penyamarannya sebagai 'anak baik'. Ting Le akan terus mencari kesalahan dan mendorongnya lebih buruk. Tahu sendiri Gu Shan paling tidak suka anak nakal. Ia bisa tinggal di rumah bobrok lagi setelah Gu Yuan kembali ke akademi.
"Weiwei ... Jiang Weiwei!" Gu Yuena memanggil Jiang Weiwei dengan keras, tapi tidak ada sahutan apa pun. Ia meneganggak semua sup gingseng dan beranjak dari tempat tidur.
Memakai cadar dan keluar dari kamar, yang ia lihat adalah seorang gadis pelayan yang terburu-buru menghampirinya. Gadis itu bukan Jiang Weiwei, Gu Yuena juga tidak pernah melihatnya. Sepertinya dia adalah pelayan baru.
Gadis pelayan itu membungkuk untuk memberi salam, kemudian bertanya, "Nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Di mana Jiang Weiwei?" Gu Yuena bersikap tenang untuk menutupi rasa paniknya.
"Bawahan ini dengar, Pelayan Jiang sudah pergi ke kampung halaman, tidak bisa memberitahu Nona Keempat karena terburu-buru."
"Kampung halaman?" Gu Yuena tidak ingat gadis itu memiliki kampung halaman. Bukankah semua pelayan ada di sini sejak kecil? Mereka menikah dan punya anak di tempat ini, tidak mungkin memiliki kampung halaman.
"Bawahan ini hanya mendengar dari gosip pelayan lain, tidak tahu selengkapnya. Adipati Gu sudah mengutus hamba untuk menjadi Pelayan pribadi Nona, menggantikan Pelayan Jiang. Maaf, jika Nona kurang berkenan."
"Tak apa." Lagi pula ia tidak suka Jiang Weiwei yang terus berusaha meracuninya. Jiang Weiwei adalah mata-mata Ting Le, sangat bagus jika dia 'pulang kampung' sebelum ia sendiri yang menyingkirkan orang itu.
Padahal Gu Yuena sudah membuat rencana menyenangkan untuk menjatuhkan mental Jiang Weiwei sekali lagi.
"Siapa namamu?" tanya Gu Yuena.
"Nama bawahan ini adalah Chu Xin."
"Kemarin, apa kau melihat sesuatu yang aneh?" Gu Yuena ingin mengetahui apa pelayan ini melihatnya bersama Luo Youzhe atau tidak.
"Menjawab Nona, tidak ada sesuatu yang aneh."
"Kau tidak lihat orang lain masuk ke paviliun semalam?"
Chu Xin menggeleng tidak tahu. "Nona, bawahan ini baru saja datang menjelang fajar, tidak mengerti apa yang Nona maksud."
Berarti hanya Jiang Weiwei yang tahu. Tapi syukurlah, gadis itu sudah pergi untuk waktu yang lama. Tidak tahu kapan akan kembali.
"Yasudah, aku ingin mandi, siapkan semuanya."
Gu Yuena tidak ingin pusing terlalu lama hanya karena seorang pelayan. Karena yang datang bukanlah pelayan yang diutus Gu Shan untuk memanggilnya, ia pikir Luo Youzhe tidak membawanya pulang secara terang-terangan. Itu bagus.
Tapi tunggu dulu. Jiang Weiwei-mata—mata Ting Le—sudah pergi, bisa saja Chu Xin adalah mata-mata yang diutus Gu Shan untuk memantaunya. Ia tidak boleh melakukan kesalahan yang sama sekali lagi, apalagi menunjukkan hal aneh. Lebih baik ia menghindari pelayan itu sebisanya dan bersikap mandiri, agar pelayan itu tidak menemukan hal aneh apa pun di sekitarnya.
Mengenai Jiang Weiwei. Pasti gadis itu sudah melapor pada Ting Le sebelum pergi, membuat Ting Le mengadu pada Gu Shan dan mengirim Chu Xin untuk pembuktian. Ia harus waspada.
Tapi jika seperti itu kenyataannya, siapa yang membuatkannya sup gingseng? Tidak mungkin si tukang pamer itu, 'kan?
Atau ... Chu Xin sebenarnya memang sudah menemukannya dalam kaadaan mabuk. Ia harus mempersiapkan segalanya sebelum Chu Xin melaporkan tingkahnya pada Gu Shan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mandi dan berias menjadi gadis feminim tak bersalah, Gu Yuena membawa Xiao Hei ke pelukannya untuk pergi memberi hadiah yang ia beli kepada Gu Yuan. Hadiah ini sangat istimewa dan mahal, Gu Yuan pasti menyukainya.
Ia berjalan dengan tenang, meski kenyataannya sangat ingin berlari agar cepat sampai. Tapi tak apa, ia harus tetap menjaga wajahnya agar tidak melenceng dari yang seharusnya. Jika bisa mempertahankan wajah ini, hidupnya akan tentram.
"Miaw!"
Tidak ada ingin ataupun hujan, tiba-tiba saja Xiao Hei mengeong sangat keras dan melompat dari pelukan Gu Yuena. Kucing hitam itu berlari ke arah lain dan memasang sikap waspada. Mau tidak mau Gu Yuena mengikutinya.
"Xiao Hei, aku tidak memiliki banyak waktu untuk menemanimu berbu ... ru." Langkah Gu Yuena berhenti begitu melihat sosok hitam yang melintas begitu cepat. Sosok abstrak yang misterius, seperti kabut hitam yang hidup dan berjalan dalam kegelapan.
Gu Yuena mengambil Xiao Hei ke gendongannya, kemudian mengikuti arah sosok hitam itu pergi. Ia dapat melihat dengan jelas sosok hitam itu bergerak sangat cepat ke paviliun di mana Ting Le tinggal.
Sosok itu mengingatkan Gu Yuena pada sesuatu. Sesuatu yang menjadi mimpi buruknya. Ia mengepalkan tinju. Jantungnya berdegup sangat keras dan mulai bergetar.
"Tidak mungkin ...." Tidak mungkin itu 'dia'. Ia sudah pergi ke dunia lain, tidak mungkin 'dia' mengikutinya sampai sini.
Bayang-bayang kematian di kepalanya terlintas membuatnya gelisah. Berbagai emosi negatif mulai menghantuinya. Kemudian teringat hari di mana ia akan mati di tangan saingannya, ia juga melihat sosok itu yang menyebabkan amarah saingannya berhasil membunuhnya. (Bab 1)
Apa 'dia' yang membawanya kemari? Tapi kenapa 'dia' memasuki tempat tinggal Ting Le? Apa hubungan mereka?
Merasa tidak bisa memendam rasa penasaran, ia pun berjalan mendekati paviliun dan masuk ke dalam. Berjalan mengendap-endap dan bersembunyi tiap langkah. Ia tidak lagi melihat sosok hitam itu, tapi suara Ting Le berbicara mulai terdengar.
Ia pun mengikuti arah suara dan bersembunyi di balik dinding untuk mengintip ruangan di mana Ting Le berada. Wanita itu tampak berlutut di hadapan sosok hitam yang tidak bisa dilihat dengan jelas—karena tertutupi pilar dan gorden.
Ting Le begitu tegang dan takut ketika menyadari bahwa sosok hitam itu datang ke tempatnya. Ia berlutut begitu lama dengan tubuh bergetar. Lidahnya merasa kelu ketika ingin mengatakan sesuatu.
"Tuan, bawahan ini bersalah, tidak bisa menilai situasi dengan baik. Tapi ... putriku sudah bertunangan dengan Tuan Muda Ye, hanya masalah waktu untuk membereskan sisanya." Ting Le ketakutan setengah mati. Ia melihat sosok hitam itu, kemudian buru-buru berkata, "Tidak akan ada kesalahan yang kedua kalinya. Bawahan ini sudah menguasai Kediaman Adipati, hanya perlu menunggu putriku menikah dan menekan Klan Luo agar tidak masuk ke Kediaman Adipati. Setelah itu, Tuan bisa melancarkan rencana."
Gu Yuena di kejauhan sana mengerutkan kening. Rencana? Apa yang sedang mereka rencanakan dengan menggunakan Kediaman Adipati?
"Dia nyaris saja membocorkan segalanya, bukankah begitu, gadis manis?"
Gu Yuena terkejut. Ia berbalik dan melihat kabut hitam itu menatapnya dengan mata merah menakutkan. Ia melihat lagi ke arah Ting Le, lalu sadar bahwa sosok itu telah menghilang dari sana dan berpindah ke hadapannya.
Ia mundur untuk memberi jarak. Ia harus lari, karena kekuatannya saat ini tidak bisa dibandingkan dengan sosok hitam yang terasa sangat kuat sampai menekannya. Bahkan Xiao Hei sudah sangat ketakutan di pelukannya dan tidak bisa lari.
Sampai akhirnya Gu Yuena terpojok, tangannya mendapati sebuah buku besar di atas meja. Ia tanpa sadar mengambilnya karena panik. Tapi siapa sangka, buku itu menjadi tuas pembuka pintu lain berupa dinding di belakangnya hingga terperosok ke dalam.
Gu Yuena jatuh di atas tanah bersama buku yang ia bawa. Rupanya pintu rahasia itu adalah pintu keluar tepat di belakang kediaman. Entah bagaimana jarak sejauh itu bisa ditempuh, padahal paviliun Ting Le ada di tengah-tengah kediaman. Pasti karena sihir lagi.
Ia bangun dan menyibak roknya yang kotor. Ia pun melihat buku tebal yang terbuka di atas tanah. Ada gambar phoenix di dalamnya.
"Meow~" Xiao Hei mengendus-endus di sekitar buku itu. Ketika ia menekan buku terbuka itu, sebuah kilatan merah mendorongnya hingga Xiao Hei terpental disertai pekikan seekor kucing.
"Xiao Hei!" Gu Yuena langsung mengambil Xiao Hei yang terperosok. Untung saja tidak terluka. Ia kembali melihat buku aneh itu, kemudian terpikirkan sesuatu.
Buku itu ia ambil secara spontan di paviliun Ting Le, merupakan kunci dari pintu rahasia yang membuat mereka terpental keluar kediaman. Pasti ada rahasia di balik ini. Apalagi, Gu Yuena ingin tahu makhluk apa di balik kabut hitam itu.
Ia melihatnya di dunianya dulu, tapi sosok itu selalu pergi setelah ditemukan. Tapi sekarang ketika ia terlantar di dunia ini, sosok itu malah menemuinya.
Ia yakin, sosok itu sebenarnya berasal dari dunia ini dan hanya pendatang di dunianya dulu. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia terkoneksi dengan dunia ini sejak kecil?
"Xiao Hei, sepertinya aku akan benar-benar gila." Gu Yuena mengusap wajahnya frustrasi. Ia melihat buku itu dengan mata menyipit. Mungkin ada jawabannya di sana.
Ia pun mengambil buku tersebut dan berniat kembali ke kediaman. Tapi ketika ia melangkahkan kaki untuk memasuki kediaman, sosok hitam itu kembali muncul menghalangi jalannya. Ia muncul seperti hantu.
Gu Yuena mundur secara spontan. Ia mengeluarkan belati yang ia bawa untuk berjaga-jaga, kemudian menggunakan kekuatan spiritual untuk menyerang.
Tapi sayangnya, sosok itu seolah tidak memiliki raga sehingga belati yang dihunuskan Gu Yuena menembus kabut hitam. Gu Yuena terkejut. Kali ini, ia harus menjadikan nyawanya sebagai prioritas selama menghadapi sosok tidak diketahui itu.
Beberapa kabut hitam meluncur melakukan serangan ke arah Gu Yuena. Gu Yuena dengan segera membawa Xiao Hei ke pelukannya dan pergi sambil menghindari serangan.
Belakang Kediaman Adipati adalah hutan. Karena Gu Yuena tidak bisa pergi ke depan Kediaman dan memasuki kota, maka ia hanya bisa menerobos hutan dan menggunakan keuntungan tubuh kecilnya untuk menyelinap ke tiap dahan pohon.
Selain untuk menggunakan pohon sebagai penghalang serangan, ia juga bisa pergi ke celah kecil untuk menghapus jejak dan memutar balik ke kota untuk mencari perlindungan.
Tapi tidak ada yang menyangka, sosok itu akan lebih cepat dari yang diharapkan. Gumpalan kabut hitam tiba-tiba muncul tepat di depan Gu Yuena yang baru saja mendarat dari dahan pohon. Gu Yuena langsung menunduk ke belakang untuk menghindari kabut hitam yang akan menusuknya seperti tombak.
Gu Yuena melompat ke belakang untuk memberi jarak. Kemampuan bertarungnya hanya bisa digunakan untuk manusia, itupun dengan kultivasi tidak lebih dari 4 tingkat. Melawan sosok misterius yang tidak diketahu jenisnya, tentu saja ia kewalahan. Apalagi makhluk itu tidak bisa diserang menggunakan senjata dan tidak bisa merasakan sakit.
Kabut hitam itu terus meluncur selama Gu Yuena melakukan pelarian. Salah satu kabut hitam meluncur dari arah bertolak belakang tepat di depan Gu Yuena. Gu Yuena tidak sempat menghindar dan menghantam kabut hitam itu. Tubuhnya terpelanting cukup jauh, kemudian menabrak batang pohon hingga merasa tubuhnya telah remuk.
Xiao Hei juga terhempas dan jatuh di tanah. Untung saja ia bertulang lunak sehingga dapat berdiri kembali, lalu mencoba menjaga nonanya dari serangan makhluk jahat. Hanya saja, tubuh kecil itu menjadi tenggelam di antara semak-semak dan besarnya sosok hitam itu.
Gu Yuena berdiri. Ia memikirkan cara agar dapat pergi dari situasi ini, namun kekuatan pihak lain terlalu kuat membuat semua rencananya hancur seketika. Ia belum mengerahkan kekuatannya, tapi sosok itu sudah membuatnya runtuh duluan sehingga tidak memiliki kesempatan bertindak.
Makhluk itu kembali mengeluarkan kabut hitam yang tebal untuk membenuk sebuah tombak besar. Ia menggerakkan tangannya dengan cepat, kemudian mengarahkan tombak yang terbentuk ke arah Gu Yuena.
Ia melepaskam tombak besar itu dengan kecepatan tinggi. Gu Yuena bersiap mempertaruhkan segalanya untuk melawan dan mengeluarkan belati terbang sebagai andalan terakhir. Meski ia akan kalah, ia tidak boleh menjadi pengecut yang menyerah akan kematian.
Tepat ketika tombak besar penuh kabut itu semakin dekat ke arahnya, sebuah cahaya biru gelap melintas dengan kecepatan tinggi dan menahan tombak tersebut tepat di depan Gu Yuena.
Gu Yuena tertegun. Ia melihat seseorang di depannya menahan tombak besar dengan cahaya biru gelap yang penuh aura pertempuran. Hanya dengan melihat punggungnya yang tertutupi jubah hitam, ia sudah tahu siapa orang itu.
"Luo Youzhe?"
Duarrr
Kedua energi saling menolak dan menyebabkan ledakan yang dipenuhi tekanan. Tombak itu berhasil memecah pertahanan Luo Youzhe, sedangkan Luo Youzhe yang termundur langsung membawa Gu Yuena ke tempat lain yang lebih aman. Tombak itu menghantam tempat awal Gu Yuena saat itu juga.
Luo Youzhe tiba di tempat aman dan melepaskan pelukannya terhadap Gu Yuena. Sedangkan Gu Yuena masih terdiam tanpa bisa berkata-kata. Xiao Hei di sisi lain masih bergetar sambil memeluk kaki Gu Yuena dengan erat.
"Kau baik-baik saja?" Luo Youzhe bertanya. Entah sampai kapan gadis ini akan berhenti membuat masalah.
Gu Yuena masih dalam keadaan terkejut. Kemudian pandangannya teralih pada sosok itu. "Awas!"
Kabut hitam yang meluncur langsung dihancurkan oleh bilah pedang ganda milik Luo Youzhe. Pedang ramping itu dihunuskan dengan sangat cepat, kemudian membentuk beberapa serangan yang menghujani makhluk misterius itu hingga menciptakan kabut tebal.
Sosok hitam itu sepertinya jengkel begitu melihat kehadiran Luo Youzhe, sedangkan pria itu hanya memasang wajah dingin. Karena tidak bisa melanjutan apa yang dia inginkan, sosok itu pun pergi dengan cepat, menghilang dalam kegelapan.
Luo Youzhe menyimpan kembali kedua pedangnya ke dalam ruang spiritual. Pandangannya tertuju pada arah kepergian sosok misterius itu dengan dingin, tampak mengetahui sesuatu.
Gu Yuena mengakhiri rasa terkejutnya dan melihat Xiao Hei yang masih ketakutan. Ia pun mengangkat kucing mungil itu, kemudian mengusapnya dengan lembut. Ia melihat ke arah Luo Youzhe, merasa tidak enak sendiri.
"Terima kasih." Gu Yuena berkata dengan tulus. Meski hubungan mereka tidak baik, Luo Youzhe mau menolongnya sudah sangat bagus.
"Bagaimana kau bisa di sini?" Luo Youzhe tidak berbalik untuk melihat Gu Yuena. Nada suaranya terdengar sangat dingin.
Entah kenapa, Gu Yuena merasa nada dingin itu membuatnya enggan. Meski seharusnya hal itu adalah normal, ia hanya merasa tidak nyaman dan membuatnya malas menjawab.
Luo Youzhe pun berbalik. Ketika melihat Gu Yuena, tatapan dinginnya berubah menjadi normal seperti biasa. Ia terlihat akan segera pamer sebentar lagi. Gu Yuena tidak jadi merasa tidak enak dan ingin memukulnya.
"Jangan terlalu percaya diri, aku menyelamatkan karena melihatmu ditindas di depan mataku. Di dunia ini, hanya aku yang bisa menindasmu."
"Siapa yang ditindas? Jelas-jelas aku ingin dibunuh." Gu Yuena merasa bahwa yang menyelamatkannya adalah Luo Youzhe yang lain, bukan yang satu ini.
"Siapa yang ingin membunuhmu? Jika dia ingin membunuhmu, dengan kekuatannya, dia tidak akan mengulur terlalu banyak waktu sampai aku datang. Atau bisa saja dia membunuh kita berdua di sini." Luo Youzhe menjelaskan sambil berjalan keluar dari hutan.
"Kau sendiri kenapa tiba-tiba ada di sini?"
"Hanya lewat."
"Kau main di hutan, bukan di Pasar Gelap lagi?"
Luo Youzhe melirik Gu Yuena, tampak berpikir. "Awalnya aku hanya ingin berburu, lalu tanpa sengaja bertemu denganmu yang ditindas orang asing."
"Sudah kukatakan aku tidak ditindas ...." Gu Yuena berkata dengan nada mengeluh.
"Entah siapa yang kau singgung sampai seperti ini. Kali ini, kemungkinan besar orang itu akan kembali. Sebenarnya dia tidak ingin membunuhmu, jadi kau masih bisa memikirkan cara melarikan diri."
Gu Yuena tenggelam dalam pikirannya sambil melangkah mengikuti arah Luo Youzhe. Benar, jika makhluk itu ingin, dia sudah mati sejak di Paviliun Ting Le. Sebenarnya apa tujuan makhkuk itu?
"Kau tahu sesuatu?" Gu Yuena bertanya pada Luo Youzhe. Tatapan Luo Youzhe ketika melihat makhluk tadi, tampak telah mengenalinya.
"Tidak. Mana mungkin kenalanku sejelek itu." Luo Youzhe tidak mau mengakui. Itu membuat Gu Yuena tambah penasaran.
Siapa Luo Youzhe sebenarnya?