Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
105. Badai Baru (2)



Pusat Kota Tianlong dijadikan sebagai pertahanan terakhir setelah kota diterobos oleh makhluk kematian dan penyihir. Warga telah dievakuasi ke luar kota yang masih terbilang aman selama mereka berperang. Sedangkan murid yang telah dilatih khusus sebagai pasukan elit, kini harus berdiri di luar benteng untuk melawan musuh secara langsung.


Makhluk kematian tidak bisa mati dengan mudah. Tiap dibunuh, mereka akan hidup kembali dari gumpalan kabut berkat sihir penyihir di belakang mereka. Sedangkan para penyihir itu tidak terluka parah meski sudah berada dalam pertarungan dalam waktu lama.


Hal tersebut menurunkan semangat tempur pasukan istana. Meski helaer sudah memberi dukungan di belakang, tenaga alami mereka tidak sanggup menahan banyaknya makhluk kematian dan penyihir sekaligus di saat mereka harus kehilangan banyak rekan.


Keberadaan kupu-kupu yang bertebaran bagai serangga indah yang hinggap di atas bunga menyebabkan fokus para prajurit teralih. Makhluk kematian tidak memiliki darah, tapi penyihir memilikinya. Itu akan menjadi makanan kupu-kupu darah yang langka dan jelas membuat kelompok penghisap darah itu bersemangat.


Hanya dalam sekejap, kupu-kupu yang tersebar itu memulai penyerangan, meluncurkan tubuh kecil mereka dan menghindari halangan dari makhluk kematian. Ketika salah satu kupu-kupu hinggap di tubuh salah satu penyihir, kupu-kupu lainnya menyerubungi dan menghisap darahnya sampai kering.


Penyihir itu berteriak kesakitan tanpa bisa melawan. Ia melingkupi tubunnya dengan sihir, menyebabkan kupu-kupu itu hilang menjadi butiran sihir begitu saja. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kupu-kupu lain akan menyerah. Penyihir itu dikerubungi lebih ganas sampai membentuk kepompong dan mati mengering.


Hal tersebut dilihat oleh penyihir lainnya, membuat mereka waspada akan satu makhluk yang hinggap di tubuh mereka. Sihir mereka yang sebelumnya hanya digunakan untuk mengendalikan hidup-mati makhluk kematian, kini digunakan untuk menghancurkan ribuan kupu-kupu yang menyerang tanpa ampun. Mereka mudah dibunuh, namun sulit dibidik karena terlalu cepat.


Dalam sekejap, medan tempur diselimuti badai kupu-kupu penghisap darah disertai monster lainnya yang dipanggil oleh summoner. Pada saat itulah para assassin mendapat kesempatan menyelinap dan menyerang penyihir dari dalam kabut yang diciptakan monster.


Selagi pasukan istana menangani makhluk kematian, sedangkan guardian menggunakan formasi untuk mengendalikan situasi medan dan healer bergantian memberi dukungan, assassin, mage, serta hunter elit menyerbu penyihir yang diganggu kupu-kupu.


Ini adalah kekuatan kombinasi antara 7 profesi di mana alkemis di dalam istana menyediakan obat-obatan dan mengobati murid yang dibawa kembali oleh guardian dan healer.


Setidaknya, mereka masih memiliki harapan untuk menang.


Namun, sepertinya harapan itu tersendat oleh kedatangan kabut hitam yang menyeruak memenuhi medan perang. Semua kupu-kupu darah hancur berkeping-keping, serta monster lainnya yang dipukul mundur hingga menyebabkan medan perang yang sebelumnya kondusif menjadi sangat kacau.


Para penyihir dengan ganas menggunakan sihirnya untuk membunuh lebih dari dua murid. Sihir yang diayunkan secara bebas dan mengerikan, menciptakan badai besar di medan perang sampai berakibat fatal bagi healer yang mendukung.


"Strategi yang bagus. Sayangnya, sebagus apa pun suatu strategi, tetap harus tunduk pada kekuatan absolut." Salah seorang penyihir berkata dengan nada angkuh. Senyumnya tampak sangat liar dan jahat ketika lututnya akan ditekuk untuk memberi hormat pada sesosok kabut hitam yang datang.


Kabut hitam itu berhenti di udara, menampilkan sosok pria bertopeng hitam dengan jubah hitam polos yang tampak misterius. Tatapannya tidak memiliki emosi, sehingga sulit bagi seseorang untuk menebak apa yang ada di pikirannya.


Dia telah memulihkan diri selama 5 bulan penuh. Sudah saatnya untuk tidak membuang terlalu banyak waktu. Karena Bai Youzhe tidak ada, lebih baik ia mengambil kesempatan setelah mengamati cukup lama.


"Dia ...." Gu Yuena yang mengamati dari kejauhan istana mengepalkan tinjunya.


Bayang-bayang kematian gurunya kembali terngiang, membuat emosinya tercampur aduk. Meski yang membunuh gurunya dan menghancurkan Istana Yuansu adalah sebuah kloning, tetap saja orang itu adalah dalang penyebab kehancuran Istana Yuansu.


Seharusnya orang itu mati saja ketika ia nekat mengorbankan diri.


Bayangan kemarahan meliputi Gu Yuena. Iris merahnya menjadi sangat dingin melebihi biasanya. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya ada kemarahan.


"Aku akan membunuhmu."


Gu Yuena telah diliputi oleh kemarahan. Kekuatan jiwa di tubuhnya merebak, bahkan mengejutkan Su Churan yang sejak tadi menjaganya agar tidak bertindak gegabah.


"Xiao Yuena." Su Churan menghampiri, lalu melihat kehadiran pria bertopeng di medan perang yang menyebabkan banyak pasukan ditekan oleh musuh. Bahkan kupu-kupunya diusir begitu saja.


"Sudah kuduga," gumamnya, lalu menghela napas. Melihat ke arah Gu Yuena, lalu meraih lengannya. "Ingatlah satu hal, jangan gegabah. Kamu sedang tidak hanya membawa dirimu sendiri."


Tatapan dingin Gu Yuena berubah seketika. Ia membalas tatapan Su Churan. "Ada beberapa hal yang di luar kendaliku." Seperti yang dikatakan Xiao Hei, kekuatan jiwa melahap pikirannya secara perlahan. Ia tidak tahu kapan akan melakukan hal nekat atau tidak.


Sebelum Su Churan sempat mengatakan sesuatu untuk mengungkap kekhawatirannya, salah seorang murid istana datang tergesa-gesa memanggil Gu Yuena.


"Nona Gu ... dia sudah datang." Murid itu berkata terengah-engah dan panik. Ada beberapa luka di sekujur tubuhnya ketika terbang langsung mencari Gu Yuena. Para tetua sedang sibuk saat ini.


Gu Yuena mengangguk sebagai jawaban dan akan pergi. Su Churan buru-buru berjalan di sisinya.


"Aku akan membantumu," katanya.


Gu Yuena melihat sekilas, lalu mengangguk seraya tersenyum. Mereka pun mengeluarkan sayap di punggung, terbang ke udara tepatnya ke arah di mana pertempuran berada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Munculnya Gu Yuena dan Su Churan di tengah pertempuran menambah semangat juang pasukan istana yang sebelumnya sempat goyah. Dua siluet merah darah dan merah muda melintas di udara, berhadapan langsung dengan sosok hitam yang mengerikan.


Begitu sihir merah membara di udara seperti bunga bermekaran, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak takjub. Namun, karena situasi sedang dalam peperangan, mereka harus kembali fokus pada musuh untuk membuktikan diri bahwa mereka tidak akan kalah dari makhluk buatan.


Secara bergantian, Gu Yuena dan Su Churan meluncurkan serangan ke arah pria bertopeng. Serangan demi serangan diblokir dengan mudah. Ketika pria itu mengeluarkan beberapa sihir memanjang berupa kekuatan jiwa yang memadat, Su Churan tidak memiliki cara menangkisnya hingga Gu Yuena harus memblokirnya secara langsung.


Pisau terbang di tangannya memblokir serangan tepat waktu. Pisau lainnya terbang membentuk pola sihir yang cukup besar, menyerang pria itu dari segala arah dan menciptakan jaring besar dan tipis seperti pisau.


Pria itu dengan mudah melaluinya tanpa cedera. Pandangannya tertuju pada pisau terbang di tangan Gu Yuena dengan saksama.


Itu adalah pisau terbang milik Istana Linghun yang hilang. Sejak kapan Gu Yuena memilikinya?


Kekuatan yang terintegrasi dengan phoenix di dalamnya sangat cocok dengan Gu Yuena. Jika keduanya beesatu, akan menciptakan kekuatan besar yang melebihi kekuatannya dan sabit bulan.


Pria itu memilih mengatasi Su Churan terlebih dahulu dengan memberinya serangan. Menghindari Gu Yuena, dan menargetkan Su Churan hingga membuat wanita itu kewalahan setengah mati.


Kekuatan pria bertopeng sangat kuat. Hanya dnegan beberapa kabut hitam yang keluar dari tangannya, Su Churan termundur dan menjadi kumpulan kupu-kupu sebagai pertahanan diri.


Gu Yuena tidak melewatkan sekecil apa pun kesempatan yang ada. Ia menggunakan bilah pisaunya dengan cepat, membentuk sihir besar di udara dan memanggil phoenix yang memancarkan api dahsyat.


Phoenix berapi-api muncul, mengepakkan sayapnya dengan indah. Itu menyerang dengan ganas ke arah pria bertopeng yang sibuk menarget Su Churan. Pria bertopeng segera sadar, lalu menghilang dari tempatnya untuk meloloskan diri dari serangan phoenix.


Su Churan kembali ke bentuk aslinya, lalu pergi menghampiri Gu Yuena. Namun, itu tidak berhasil dilakukan dengan baik ketika beberapa penyihir menyerbunya atas perintah pria bertopeng.


Su Churan menghindari serangan mereka sambil mengepakkan sayap kupu-kupunya yang menyala. Ia tidak bisa menghampiri Gu Yuena, karena akan membuat Gu Yuena terlibat dalam pertempuran melawan penyihir. Ia harus menyelesaikan penyihir-penyihir ini terlebih dahulu.


"Jangan pikir aku terlalu baik untuk membunuh orang." Su Churan yang kesal, langsung mengeluarkan pedangnya saat itu juga dan menangani penyihir itu dengan cepat.


Gu Yuena di sisi lain fokus mengendalikan phoenix. Kedua irisnya menyala akan warna merah yang pekat, sedangkan kedua tangannya penuh akan sihir merah bagaikan darah. Melihat pria bertopeng yang terus menghindar, Gu Yuena semakin kesal.


Kenapa orang itu tidak menunjukkan serangannya sejak tadi. Apa dia berniat menghabiskan seluruh tenaga Gu Yuena?


Tiba-tiba saja pria bertopeng itu meluncur ke arahnya. Tiba di dekatnya, lalu mengatakan sesuatu.


"Apa kamu masih bisa tenang setelah kematian gurumu? Lakukan dengan baik."


Ucapannya membuat Gu Yuena marah. Sekilas, iris Gu Yuena yang berwarna merah berubah menjadi hitam pekat akan sesuatu yang melintas di depan matanya. Sesuatu yang tak dilihatnya, namun mengubah tampilan matanya ketika merasuki.


"Kau tidak mengerti." Gu Yuena mengayunkan pisau di tangannya. Pisau yang penuh kekuatan api sampai mengeluarkan sinar merah menyala, berbenturan langsung dengan pedang sabit milik pria itu.


Jubahnya telah robek akan sayatan sabit pria bertopeng, namun itu tidak membuatnya terluka. Gu Yuena justru semakin tenggelam dalam pertempurannya sendiri hingga serangannya semakin ganas dan kuat.


Semakin sering Gu Yuena melakukan serangan, semakin kuat serangan yang ia berikan. Meski senjatanya hanya berupa pisau kecil, itu cukup kuat untuk menangani sabit pria bertopeng yang besar dan berbahaya.


Gu Yuena menghentakkan pisaunya disertai sihir yang merebak seperti benang runcing yang menyebar. Itu membuat pria bertopeng harus mundur dan menghindari sihir tersebut.


Gu Yuena berkata, "Kau tahu cara membawaku ke istana adalah salah. Kenapa kau melakukan ini?"


"Karena aku ingin." Pria bertopeng itu menjawab seenaknya sambil meluncurkan serangan. Ketika jaraknya dengan Gu Yuena sudah dekat, ia melanjutkan kalimatnya, "Dengan menghapus semua dukungan di luar, maka kau hanya akan memiliki Istana Linghun sebagai rumah."


"Omong kosong." Gu Yuena menghilang dari tempatnya, lalu mengutus phoenix untuk membuat kobaran api di udara yang meledak seperti bom.


Pria bertopeng menghilang untuk menghindar, lalu muncul dengan sabit yang dilemparkan seperti boomerang. Gerakan sabit itu sangat cepat diarahkan pada Gu Yuena.


Gu Yuena menghindar ke samping sambil melihat bagaimana sabit itu berbalik ke tangan pria bertopeng sebelum akhirnya kembali diluncurkan seperti boomerang. Gu Yuena menghindarinya sekali lagi, tapi kali ini ia melakukannya sambil menggunakan sihir sebagai serangan.


"Sudah cukup bermain-mainnya." Pria bertopeng itu mulai serius, dirasanya waktu mulai menyempit.


Gu Yuena mengeluarkan semua pisau terbang yang ia punya. Kedua tangannya memegang pisau terbang, sedangkan sisa pisau terbang berbaris membentuk lingkaran di belakangnya. Ujung pisau itu terarah langsung pada pria bertopeng.


Pertempuran sengit pun terjadi. Dua sinar yang melesat di udara dan saling beradu menciptakan tekanan dahsyat bagi orang-orang di bawah sana. Tiap kali keduanya bertukar pukulan, ledakan muncul di beberapa tempat akibat melesetnya serangan serta beberapa serpihan eksplosif yang berasal dari phoenix. Bahkan, bulu-bulu phoenix yang terbuat dari api bertebaran di tempat itu seperti hujan.


Gerakan pria bertopeng sangat cepat membuat Gu Yuena kewalahan untuk beberapa saat. Ia membawa pisau terbangnya lebih tinggi ke langit, lalu membuat banyak kloning dari pisau terbang yang meluncur seperti pusaran angin topan.


Pria bertopeng itu menyipitkan matanya. Sihir merah di sekitar pisau sangat kuat dan begitu korosif. Jika mengentuhnya, sudah pasti akan mengalami luka berat.


Maka dari itu, pria bertopeng tidak lagi peduli pada persembunyaiannya. Tubuhnya dilingkupi kabut hitam yang pekat, sebelum akhirnya menerima serangan pusaran sihir dengan salah satu tangannya.


Sosok bayangan naga muncul, mengaum keras menciptakan gelombang suara yang memekakkan telinga. Gelombang suara itu menyebabkan sihir Gu Yuena hancur berkeping-keping. Pisau terbang terlempar langsung ke arah Gu Yuena, segera ditangkap sebelum menghilang di udara.


Gu Yuena menyipitkan matanya. Itu adalah naga. Orang itu ... memiliki darah naga!


Pemilik darah naga tingkat 9, sama sekali bukan seseorang yang dapat Gu Yuena kalahkan dengan mudah. Kekuatan Gu Yuena hanya tingkat 8. Jika Gu Yuena saat ini adalah Gu Yuena saat pertemuan antar-istana, ia pasti sudah terluka parah akan serangan balik itu.


"Sialan!" Seharusnya Gu Yuena tidak meragukan rumor tentang darah naga itu. Benar-benar ada tiga darah naga, sedangkan darah phoenix hanya satu? Apa dunia ini sudah gila!


Kemunculan naga yang merupakan pemimpin Aula Linghun begitu mengguncang dunia. Aura yang dikeluarkan menekan seluruh pasukan istana dan membangkitkan semangat penyihir. Dalam sekejap, kondisi medan tempur semakin terpuruk untuk pihak Istana Tianshuang.


Kekuatan jiwa pria itu menyebar, membuat makhkuk kematian semakin kuat dan membunuh lebih banyak murid. Para healer kelelahan dan mulai berjatuhan karena serangan balik. Hal tersebut memberi dampak yang besar bagi pasukan.


Gu Yuena tidak tinggal diam. Dia langsung terbang ke arah naga tersebut, lalu menyatukan tiga pisau terbang untuk membentuk bilah pedang panjang disertai sihir merah yang melekat.


Tangannya diayunkan dengan cepat untuk melukai seekor naga yang menyerang di depannya. Sosoknya berkedip beriringan dengan sihir yang dikeluarkan.


Sihir merah di tangan Gu Yuena menyebar, menahan medan naga yang menyebabkan pasukan istana tertahan di bawah sana. Karena kekuatan pihak lain terlalu kuat untuk ditahan, Gu Yuena hanya bisa mengeluarkan seluruh kekuatan jiwa di tubuhnya untuk memutuskan semua kendali terhadap makhluk kematian.


Di saat sang naga sedang dalam wujud non-manusia, dia tidak bisa menggunakan kekuatan jiwa secara penuh sehingga Gu Yuena dapat memanfaatkannya.


Salah satu tangan Gu Yuena mengeluarkan kabut hitam berupa kekuatan jiwa, diarahkan ke pasukan kematian sedangkan tangan satunya lagi menahan sihir naga. Dalam sekejap, pasukan kematian meronta akan paparan kabut hitam milik Gu Yuena. Mereka menjadi sangat kacau dan tak terkendali, menyebabkannya mudah untuk dibunuh.


Di sisi lain, para penyihir mulai kebingungan. Kekuatan jiwa mereka tidak sebesar Gu Yuena, sehingga tidak lagi dapat mengendalikan pasukan kematian.


Tidak ada yang tahu, berapa banyak kekuatan yang telah dikerahkan Gu Yuena. Wanita itu tetap di tempatnya untuk beberapa saat tanpa bisa bergerak. Kondisinya sangat rentan.


Dua kekuatan yang dikeluarkan secara bersamaan. Sedangkan ia telah melapisi tubuhnya dengan sihir keabadian agar tidak melukai bayinya. Namun, itu saja tidak cukup. Energinya terkuras begitu cepat hanya untuk menghancurkan pasukan kematian dan menahan pemimpin Aula Linghun bersamaan.


Ketika makhluk kematian tersisa setengah dari total ribuan, Gu Yuena memutus kendalinya begitu saja dan fokus mengalihkan serangan naga. Hanya saja, kekuatannya yang tersisa tidak cukup sampai membuatnya harus menyingkir cukup jauh untuk menghindari serangan.


Naga tersebut kembali ke bentuk aslinya berupa manusia. Pria itu terlihat ragu sejenak, sebelum akhirnya mengeluarkan bilah sabit di tangannya.


Kemampuan Gu Yuena mengendalikan pasukan sudah sangat mengerikan. Dulu dia hanya bisa mengendalikan mereka sebagai coba-coba dan masih memiliki celah untuk direbut olehnya. Namun kali ini, seperti Gu Yuena telah melatih kekuatan jiwa secara khusus.


Wanita itu berhasil menyebabkan banyak makhluk kematian hancur berkeping-keping. Konsentrasi penyihir-penyihir itu pasti terganggu.


Ia harus menyelesaikannya dengan cepat.


Gu Yuena menutupi rasa lelahnya dengan sikap normal dan dingin seolah tidak terjadi apa pun. Perutnya terasa tidak nyaman, tapi ia tidak bisa pergi di saat seperti ini.


"Nona!" Chu Xin berteriak dari bawah, begitu khawatir.


Gu Yuena melihat ke arahnya sekilas, lalu melihat ke arah pria bertopeng kembali. "Sebaiknya selesaikan lebih cepat apa yang kau inginkan." Dia sudah lelah. Dia tidak peduli pada Istana Tianshuang, tapi bayinya harus selamat.


Chu Xin di bawah sana kelabakan. Ia melihat ke arah Su Churan yang sibuk mengatasi tiga penyihir sekaligus. Dengan cepat ia mengepakkan sayap, hendak melindungi Gu Yuena dari serangan pria bertopeng yang meluncur sangat cepat.


Ia dapat melihat Gu Yuena tidak lagi mampu mengeluarkan sihir. Ia harus menyelamatkan Gu Yuena!


Gu Yuena sudah menyiapkan sihir keabadian untuk melakukan pertahanan terakhir sebelum mengakhiri pertempuran. Ini mungkin akan menyebabkan lebih banyak korban, tapi Aula Linghun harus dihentikan.


Ia mengangkat tangannya yang mengeluarkan cahaya merah pekat seperti aliran darah. Sihir itu membesar ketika pria bertopeng meluncur ke arahnya.


Begitu jarak antara dirinya dengan pria bertopeng sudah dekat, sihirnya segera aktif dan menciptakan ledakan besar dari udara tepat dengan benturan serangan pria bertopeng.


Chu Xin yang hendak membawa Gu Yuena pergi tidak bisa melanjutkan terbang dan terhempas akibat ledakan.


"Nona!" teriaknya seraya terhempas begitu jauh terbawa oleh pusaran angin besar.


Su Churan sadar akan bahaya yang mendekat. Ia melihat ke asal ledakan, matanya terbelalak sempurna.


"Xiao Yuena!" Dia baru saja akan melepaskan ketiga penyihir itu, tapi pusaran yang begitu besar menghempaskannya hingga seluruh aliran kekuatannya terhenti saat itu juga. Ia terhempas layaknya manusia biasa tanpa sihir, jatuh ke tanah disertai luka dalam yang membuatnya memuntahkan seteguk darah.


Bahkan seorang Su Churan yang memiliki kultivasi puncak 7 tidak bisa menahan pusaran energi serta cahaya merah yang begitu mengerikan sampai terluka parah. Pasukan istana yang sebelumnya bersusah-payah membunuh penyihir serta makhluk kematian juga ikut terhempas dan jatuh. Sebagian mati menjadi mayat yang mengering.


Itu adalah mimpi buruk bagi manusia. Suasana panas dan mematikan membuat kedua belah pihak mengalami kekacauan tiada akhir seolah telah kehilangan akal. Teriakan di mana-mana, ketakutan di mana-mana.


Bahkan penyihir yang kuat sekalipun tidak bisa menahannya sampai memilih mundur setelah sadar tidak melihat keberadaan pemimpin mereka.


Baik Gu Yuena maupun pria bertopeng, menghilang di saat bersamaan, meninggalkan kekacauan medan perang yang penuh aura kematian.