Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
193. Salah Paham



Ucapan Yang Xingyuan terngiang di kepala Gu Yuena.


"Sebenarnya, bukannya mustahil jika ingin mengalahkan Ratu. Gunakan inti phoenix saat memasuki kondisi nirvana, itu memiliki kekuatan murni yang menjadi kelemahan inti sihir Ratu."


Inti sihir ... inti phoenix ....


Itu sama seperti inti api yang dikeluarkan Ratu Phoenix di Istana Phoenix. Gu Yuena bisa mengeluarkan inti api, tapi kalau inti phoenix ....


Mimpi saja.


Li Hua telah membentuk inti sihir yang menandakan bahwa kultivasinya telah mencapai tahap akhir dari tingkat 9. Gu Yuena jarang mendengar tentang inti sihir, karena sangat jarang orang yang memiliki inti sihir di dunia ini.


Biasanya, hanya para dewa yang memilikinya.


Yang Xinyuan benar. Hampir mustahil mengalahkan Li Hua yang kekuatannya setara dengan dewa. Meski Gu Yuena tidak melihat kekuatannya secara langsung, dia masih merasa ngeri ketika Li Hua mengorbankan ribuan kultivasinya yang kuat untuk membangkitkan Gu Ying. Jangankan membangkitkan orang mati, Gu Yuena bahkan tidak percaya diri mengendalikan tulang iblis sepenuhnya kalau tidak ingin menjadi gila.


Pada saat ini, tidak ada seorangpun yang dapat melampaui Li Hua. Tidak tahu bagaimana dengan Bai Youzhe. Namun, Bai Youzhe masih harus menangani Yang Xinyuan, tidak bisa melawan dua orang sekaligus.


Gu Yuena bertekad untuk maju ke medan perang dan bertempur sampai titik darah penghabisan. Kalau ia beruntung dapat memasuki kondisi nirvana dan membentuk inti phoenix, ia bisa mengalahkan Li Hua.


Saat ini, nyawanya ada di medan perang. Apa pun hasilnya, Gu Yuena masih harus mempertaruhkan nyawa dan rela kehilangan.


Gu Yuena menghela napas. "Yah, setidaknya aku mati terhormat di medan perang."


Gu Yuena sudah siap mati.


Ia berjalan ke arah kamar dan bertemu Vale di tengah jalan. Vale dengan antusias tinggi menariknya ke ruang belajar dan meminta petunjuk Gu Yuena mengenai lingkaran sihir. Gu Yuena menemani sampai malam karena harinya sedang santai.


Ia pun lupa kalau masih harus menjenguk Yun Qiao yang masih sakit.


Karena sudah terlalu malam, Vale pun pamit pergi. Dia menutup pintu setelah melambaikan tangan pada Gu Yuena yang sedang memeriksa beberapa dokumen lama.


Karena ruang belajar sudah kosong, Gu Yuena tidak memiliki alasan untuk berada di sini. Dia menutup semua dokumen di tangannya, lalu pergi ke kamar untuk istirahat.


Atau ... lebih baik menyempatkan diri berkultivasi?


Gu Yuena pikir itu lebih baik daripada tidur. Ia pun segera masuk ke kamar sambil memikirkan cara agar dapat membentuk inti phoenix lebih cepat. Meski peluangnya sangat kecil, dia tidak boleh berkecil hati.


Begitu ia memasuki kamar yang terasa sangat sunyi ini, tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya dengan enteng dan mendekapnya begitu saja.


Gu Yuena tersentak untuk sesaat dan tidak dapat bereaksi ketika bibirnya dibungkam dengan ciuman yang dalam dan ganas.


Apa-apaan ini!


Saat sadar siapa yang begitu kurang ajar dan nyaris membuatnya jantungan, Gu Yuena memendam rasa kesalnya. Ia tidak jadi menikam orang itu dengan belati yang muncul dari tangannya karena terkejut.


Bagaimana ia bisa menikam suaminya sendiri?


Bai Youzhe sepertinya sudah lama berada di sini, sedangkan Gu Yuena menghabiskan waktu belajar bersama Vale tentang penyihir. Masuk akal jika dia kesal.


Tapi ... bisakah tidak terlalu brutal!


Gu Yuena jatuh ke atas tempat tidur tanpa melepas ******* yang semakin dalam. Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa melepasnya. Dia merasa bahwa bibirnya digigit dan akan berdarah. Ada sesuatu yang tidak beres.


Seharusnya ini bukanlah sekadar ditinggal menunggu terlalu lama. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya!


Gu Yuena mencengkram bahu Bai Youzhe, memberinya peringatan. Pada saat itulah, Bai Youzhe mendapatkan kesadarannya kembali dan berhenti. Dia melepas lumatannya, lalu menatap Gu Yuena dengan agak terkejut.


Gu Yuena mengerutkan kening. "Apa terjadi sesuatu?"


Bai Youzhe diam untuk beberapa saat, lalu mengusap bibir Gu Yuena yang terluka karenanya. Ia pun merasa bersalah dan menunduk di bahu Gu Yuena dengan lemas.


"...." Gu Yuena terdiam. Dia semakin bingung.


"Aku pikir aku akan kehilanganmu," gumam Bai Youzhe. Nada suaranya terdengar lemah.


Gu Yuena tidak tahu apa yang membuat Bai Youzhe kehilangan ketenangannya. Dia mengusap rambut Bai Youzhe dengan lembut, lalu berkata, "Aku tidak akan pergi."


"Ya, aku tidak akan membiarkanmu pergi." Bai Youzhe memeluk Gu Yuena dengan erat seperti memeluk boneka.


Gu Yuena semakin bingung. Ia kembali mengingat-ingat, lalu terpikirkan pertemuannya dengan Yang Xinyuan. Apa Bai Youzhe melihatnya? Apa dia tahu apa yang mereka bicarakan? Namun, tidak seharusnya Bai Youzhe seperti ini saat mengetahui isi percakapan mereka. Apa Bai Youzhe telah salah paham ketika melihat Yang Xinyuan memeluknya?


Kalau seperti itu, wajar jika Bai Youzhe seperti ini. Hanya saja, tindakannya terlalu tiba-tiba dan sangat mengejutkannya.


"Maaf." Bai Youzhe kembali melihat Gu Yuena dengan perasaan bersalah sambil melihat bibir Gu Yuena yang terluka. "Aku keterlaluan. Apa aku membuatmu takut?"


Gu Yuena menggeleng pelan.


Bai Youzhe menghela napas, terlihat semakin merasa bersalah. "Tidak seharusnya aku meragukanmu. Maafkan aku ...."


Gu Yuena membawa Bai Youzhe ke pelukannya dengan lembut. "Kamu percaya padaku, kan?"


Bai Youzhe mengangguk. Dia bahkan tidak berani mengatakan sepatah katapun.


Gu Yuena tersenyum. "Kalau begitu, tetaplah seperti itu. Youzhe, hanya kamu yang dapat aku andalkan. Kamu hanya perlu memastikan bahwa aku tidak akan pergi dari satu-satunya orang yang paling aku andalkan."


Bai Youzhe merasa terhibur mendengarnya. Ia sedikit tersenyum. "Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu."


Gu Yuena tidak tahu apa yang dipikirkan Bai Youzhe saat itu. Lebih baik tidak bertanya agar tidak memukul kepalanya yang berisi kiloan cuka.


Yang Xinyuan pasti memprovokasi Bai Youzhe saat itu, mengetahui bahwa Bai Youzhe ada di sana lalu memeluknya dengan intim. Apalagi, Gu Yuena tidak menunjukkan perlawanan karena sibuk mendengarkan ucapannya yang berbisik, membuat Bai Youzhe yang tidak mendengar percakapan mereka salah paham.


Kali ini, Yang Xinyuan berhasil memprovokasi Bai Youzhe.


Jika ini waktu biasa, Gu Yuena sudah pastikan akan memukul gentong cuka di pelukannya. Sayangnya, situasi ini membuat hatinya luluh dan tidak jadi memukul. Bai Youzhe juga langsung mengakui kesalahannya yang pada awalnya membuat Gu Yuena bingung.


Untuk saat ini, Gu Yuena hanya bisa menenangkan Bai Youzhe. Ia cukup bersyukur karena Bai Youzhe tidak mengetahui pembicaraannya dengan Yang Xinyuan.


Seperti katanya, kecuali kematian, Gu Yuena tidak akan meninggalkan orang yang paling ia cintai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan pasutri melepas kesalahpahaman dan mengungkapkan rasa rindu mereka, Su Churan pergi ke tempat di mana Yun Qiao dirawat. Sejak pagi, dia sangat sibuk menangani urusan istana.


Belum lagi melihat Bai Youzhe yang bersuasana hati buruk setelah tidak menemukan Gu Yuena ....


Su Churan sebenarnya lelah. Tapi dia menyempatkan diri untuk menjenguk Yun Qiao. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Su Churan selalu sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk menjenguk.


Masuk ke dalam ruangan, dia melihat Yun Qiao yang tengah membaca buku di atas tempat tidur. Yun Qiao sudah bangun tiga hari yang lalu dan penyembuhannya berjalan dengan baik. Diperkirakan, Yun Qiao dapat beraktivitas lagi lusa.


"Harimu sangat menyenangkan." Su Churan tersenyum kecut. Ia meletakkan keranjang berisi buah yang ia bawa ke atas meja, lalu duduk di kursi menghadap Yun Qiao.


Yun Qiao menutup bukunya, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maaf tidak bisa membantu."


"Setidaknya, kau menjaga dirimu lebih baik sudah merupakan bantuan terbesar. Tidak seperti seseorang yang sudah berkeliaran lagi setelah diobati sebentar."


Yun Qiao langsung tahu siapa yang dinaksud Su Churan. "Xiao Yuena terluka?"


"Hanya luka ringan. Dia terlalu banyak menggunakan tenaga untuk memukul mundur pasukan Istana Linghun." Ia pun menghela napas. "Aku tidak tahu dia sudah meminum obatnya atau belum. Seharusnya aku memberitahu Yang Mulia tadi."


"Akan ada waktu bagimu untuk mengingatkannya."


"Kamu juga harus memperhatikan kondisimu dibandingkan orang lain. Apa kamu sudah minum obat?"


Yun Qiao diam, tampak ragu-ragu. Su Churan pun menghela napas. "Apa semua orang di Istana Yuansu sangat mirip?"


"Aku sebenarnya sedang menunggumu," sahut Yun Qiao.


Su Churan terkejut. "Menungguku? Kau tahu aku akan datang malam ini?"


"Hanya firasat." Yun Qiao tersenyum.


"Kalau begitu, apa kamu sudah makan? Aku sudah membawakan buah-buahan kering. Setelah memakannya, minumlah obat agar cepat sembuh."


Su Churan mengambilkan makanan untuk diberikan pada Yun Qiao. Sekalian membawakan obat untuk disediakan di atas meja, agar Yun Qiao meminumnya sendiri.


"Ini sudah terlalu malam. Kamu harus memakannya dan ingat untuk minum obat. Aku pergi dulu." Su Churan segera beranjak.


Namun, seseorang menahan lengannya yang membuat Su Churan menghentikan langkah. Su Churan menoleh, memandang dengan heran.


"Apa?"


Yun Qiao tanpa melepas pegangan beranjak dari tempat tidur. Dia berdiri di hadapan Su Churan dengan wajah serius.


"Perang kali ini akan menjadi penentuan, tidak tahu siapa yang akan memenangkannya dan siapa yang akan hidup atau mati. Aku tahu masalahmu dan apa yang akan kau katakan setelah aku mengatakannya, jadi aku tidak akan memaksamu bicara."


Yun Qiao sangat misterius sampai Su Churan tidak tahu harus berkata apa. Su Churan hanya menatapnya dengan heran dan penuh pertanyaan.


Yun Qiao berkata, "Churan, jika kita memenangkan perang ini dan aku masih hidup, aku akan meminta Raja Bai melepaskanmu, lalu aku akan melamarmu."


"...."


Su Churan tidak dapat berkata-kata. Matanya dipenuhi kejutan. Entah bagaimana, dia tidak ingin mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Yun Qiao.


"Jika kita kalah, aku akan menggunakan hidupku untuk melindungimu dari mereka, membawamu ke tempat aman." Meski pada akhirnya, akan sulit bagi mereka untuk tetap hidup. Dia akan membawa Su Churan pergi ke tempat aman tidak peduli apa Su Churan akan sangat membencinya. Dia juga tidak segan merelakan nyawanya demi membawa Su Churan pergi.


Ucapan Yun Qiao terlalu berani. Su Churan bahkan tidak berani memikirkannya. Dia akan tetap berada di medan perang apa pun yang terjadi. Karena Yun Qiao tahu betapa keras kepala Su Churan terhadap pembalasan dendamnya, bahkan sampai rela menyerah akan hatinya sendiri dan membatalkan pernikahan dengan orang lain, Yun Qiao tidak berharap banyak.


"Jika kau melakukannya, aku pasti akan membunuhmu." Su Churan berkata dengan serak.


Ia menganggap Yun Qiao sebagai temannya dan tidak memiliki keberanian berharap lebih. Dia tahu kondisinya tidak akan memungkinkan bagi mereka di dalam medan perang. Dia hanya bisa berjuang mempertaruhkan nyawa demi membalaskan dendam. Jika tidak, dia sama sekali tidak memiliki wajah untuk bertemu ayah dan ibunya di langit.


Ucapan Yun Qiao membuat perasaannya menjadi rumit. Su Churan telah memantapkan hati agar tetap menjadi netral dan fokus pada balas dendam. Dia telah jatuh cinta dan patah hati berkali-kali, dia sudah kebal terhadap perasaan itu dan tidak ingin memiliki impian lain selain balas dendam.


"Oleh karena itu, kita harus menang agar aku dapat melamarmu." Yun Qiao tersenyum. "Churan, aku mencintaimu."


Su Churan masih terdiam. Matanya menatap Yun Qiao dengan tidak percaya. Untuk sesaat, ia merasa sesak dan gelisah. Di saat normal, ia seharusnya senang. Tapi ... bagaimana ia bisa senang di saat seperti ini?


Untuk saat ini, perasaan Su Churan terhadap Yun Qiao benar-benar murni. Meskipun Su Churan pernah berpikir untuk menyukainya, dia tidak bisa menyukainya secara lebih. Dia benar-benar tidak bisa, meski menginginkannya.


Dia adalah Tetua dari Istana Tianshuang. Meski Bai Youzhe tidak membatasinya, dia dibatasi oleh janjinya terhadap keluarganya. Ia menurunkan posisi ayahnya, lalu berjanji pada gurunya untuk pergi ke puncak dan membalaskan dendam Klan Su. Su Churan benar-benar terikat.


Sedangkan Yun Qiao adalah Raja Istana Yuansu. Mereka memiliki musuh yang sama, tapi Su Churan memiliki tanggungjawabnya sendiri. Kalaupun ingin menikah, Su Churan hanya bisa menikah dengan orang Istana Tianshuang agar posisinya sebagai Tetua tidak goyah. Itu adalah aturan istana.


Apa Su Churan dapat merelakan posisi yang dipercayakan keluarganya padanya? Jawabannya tidak. Seumur hidup ini, Su Churan tidak bisa pergi dari Istana Tianshuang.


Oleh karena itu, Su Churan sama sekali tidak berani memiliki perasaan yang dalam pada orang lain. Ia pernah melakukan kesalahan sekali, dan itu benar-benar mempengaruhi posisinya di istana. Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


"Yun Qiao, aku akan menganggap bahwa ucapanmu sebelumnya tidak ada. Aku pergi." Suasana hati Su Churan jatuh ke dasar. Ia pergi tanpa memandang ke belakang, tidak memiliki wajah untuk memandang Yun Qiao.


Seharusnya ia tidak datang ke sini.


Berpikir bahwa Yun Qiao kecewa padanya, itu benar-benar membuat Su Churan tertekan. Takutnya, mereka tidak akan bisa seperti dulu lagi.


Sayangnya, Su Churan salah. Ketika melihat kepergiannya, Yun Qiao justru tersenyum dan merasa lega sambil mengutuk diri sendiri bahwa ia sangat bodoh.


Ia kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, lalu bergumam, "Seharusnya aku mengatakannya dengan lebih baik agar tidak membuatnya terkejut."


Ia masih harus belajar dari Bai Youzhe.


Yun Qiao tahu kebimbangan Su Churan. Namun, itu bukannya tidak memiliki solusi. Setelah perang berakhir, akan ada penentuan. Jika menang, dia akan mendekati Su Churan perlahan dan melamarnya.


Tapi jika kalah ....


Senyum Yun Qiao meluntur. Ia pasti akan menggunakan nyawanya untuk menyekamatkan Su Churan dari bencana. Sampai saat itu, dia masih harus tetap hidup.