Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
19. Arena Api



Ye Suanwu menggertakkan giginya marah. Gu Yuena berani bersikap seperti itu padanya, ia tidak akan menunjukkan belas kasihan!


Ia berlari ke arah Gu Yuena dengan pedang petir yang siap menghantam. Langit di atas berubah menjadi mendung dipenuhi gentur yang menyambar. Ia menarik semua guntur tersebut dan memfokuskannya ke pedang untuk memberi serangan fatal. Selama kekuatan Gu Yuena masih di bawahnya, gadis itu tidak akan bertahan lebih lama di bawah serangan guntur.


Sayangnya, gerakan Gu Yuena cukup cepat untuk menghindari serangan. Cambuk berapi-api itu bergerak dengan lincah dan menebas Ye Suanwu dari jarak jauh. Gu Yuena sebisa mungkin menjaga jarak selama serangan apinya meluncur tanpa harus menunjukkan kekuatan penyihir. Ini akan menjadi tantangan rumit untuknya.


Guntur terus menyambar, berulang kali menyerang Gu Yuena dan membentuk garis-garis petir di udara. Gu Yuena menghindari garis-garis petir tersebut, kemudian mengayunkan cambuknya ke pedang Ye Suanwu.


Ye Suanwu berhasil menghancurkan tekanan cambuk api dengan mudah. Gerakannya tak kalah cepat, atau bahkan lebih cepat dari Gu Yuena berkat kekuatan petirnya. Asal ia mendekati Gu Yuena, gadis itu tidak akan memiliki kesempatan melakukan serangan.


Pedangnya membelah diri menjadi beberapa bagian dan meluncur cepat untuk menyibukkan Gu Yuena. Hal itu membuat Gu Yuena terdesak. Ia tahu bahwa Ye Suanwu sedang mempersiapkan serangan lanjutan, tapi ia tidak bisa terlepas dari jeratan beberapa pedang yang menekannya.


Ketika Ye Suanwu melesat dengan pedangnya yang dihunuskan, Gu Yuena secara paksa menghentakkan cambuk ke semua pedang itu agar dapat terhenti meski cambuknya harus hancur. Gu Yuena bergerak ke arah di mana beberapa pedang itu berada, kemudian menggunakan apinya untuk menghambat pergerakan pedang, sedangkan tangan satunya menahan serangan Ye Suanwu yang telah tiba.


Dua tekanan sekaligus membuat Gu Yuena kewalahan. Pedang-pedang itu melambat karena cambuk yang hancur dan memanipulasi energi untuk memberi efek pelambatan, tapi ia juga tidak bisa terus menahan pedang-pedang itu dalam waktu lama.


"Gu Yuena, kau sudah kalah!" Ye Suanwu tersenyum penuh kemenangan sambil menambah tekanan agar dapat menekan Gu Yuena sepenuhnya. Efek pelambatan pedang-pedang itu juga akan lepas.


"Tidak, aku belum kalah." Gu Yuena menutup matanya untuk mempersiapkan rencana lain.


Tepat ketika pedang-pedang itu terlepas dari efek pelambatan dan memecah pertahanan Gu Yuena, Gu Yuena membuka mata. Ia menarik kekuatan spiritualnya dan memusatkan pada kaki, membiarkan pedang-pedang itu bebas menyerangnya.


Karena kekuatan spiritual telah terfokus pada kaki, kecepatan Gu Yuena meningkat. Ia beralih pada Ye Suanwu yang meluncur ke arahnya lebih dekat. Ketika pedang di tangan Ye Suanwu nyaris mengenai tubuhnya, Gu Yuena langsung menarik ujung pedang dengan tangan kosong, kemudian melompat ke bahu Ye Suanwu sebelum akhirnya pedang-pedang itu menghantam.


Ketika pedang-pedang itu menghantam tanah dan menciptakan ledakan, Gu Yuena memelintir bahu Ye Suanwu yang ia pijak kemudian membantingnya ke arah ledakan.


Ye Suawnu tidak dapat menahan bantingan Gu Yuena, ia hanya bisa merosot melewati ledakan sambil melindungi tubuhnya untuk menjauh dari Gu Yuena. Tidak disangka, serangan dekat Gu Yuena lebih ekstrim dan langsung. Pasalnya, gadis itu memegang pedangnya langsung ketika tengah dipenuhi petir.


Pertempuran itu menarik banyak perhatian. Para pelayan sangat terkejut mengetahui siapa yang bertarung di siang hari ini. Mereka terburu-buru memanggil Adipati dan yang lainnya untuk meminimalisir terjadinya hal tidak diinginkan.


Masalahnya, pelaku pertarungan adalah Ye Suawnu dan Gu Yuena!


Gu Yuena tidak peduli pada fakta tangannya yang mengeluarkan derasan cairan merah dan aliran listrik. Ia tampak tidak terganggu akan hal itu, melainkan mengeluarkan bola api dari tangan lainnya. Beberapa bola api itu melayang di udara. Ia memperbesarnya, kemudian memperbanyak bola-bola api itu untuk menyerang Ye Suanwu berturut-turut.


Elemen petir atau guntur memiliki kecepatan sebaik assassin. Meski Ye Suanwu adalah hunter, ia tetap sangat cepat sehingga membuat serangan Gu Yuena meleset berturut-turut. Tapi Gu Yuena tidak tergesa-gesa. Ia tetap sabar mencari celah setelah keluar dari kondisi krisis.


Pedang Ye Suanwu ditancapkan ke tanah, sehingga menyebabkan aliran petir yang merambat di tanah dan menyerang Gu Yuena. Gu Yuena kembali memusatkan kekuatan spiritual ke kakinya dan berlari dengan cepat menghindari guntur yang merambat.


Kecepatan guntur lebih cepat darinya. Ia sudah merasa kakinya tersengat berkali-kali dan mengalami luka. Jika terus seperti ini, ia akan dikalahkan.


"Tidak bisa, sepertinya harus menggunakan darah phoenix." Gu Yuena tidak memiliki pilihan lain karena keterbatasan ilmu sihir.


Ia menutup mata, menggunakan qi yang cukup untuk menarik paksa darah phoenix dan terintegrasi dengan api dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak sangat cepat, namun detakan itu memicu keluarnya darah phoenix dan memunculkan simbol phoenix yang menyala di dahinya.


Api di permukaan berubah menjadi merah darah dalam sekejap. Kekuatan spiritual yang difokuskan ke kakinya ditarik ke punggung, membentuk sebuah sayap merah dan berapi-api yang mengibas udara.


Ye Suawnu terkejut. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Gu Yuena, tapi ia dapat merasakan bahwa kekuatan Gu Yuena meningkat secara drastis.


"Sepertinya dia memaksakan diri meningkatkan kekuatan." Ia mendengus. "Pemaksaan peningkatan hanya berlangsung sementara. Aku ingin lihat, berapa lama kau akan bertahan."


Ye Suanwu dengan percaya diri mendekati Gu Yuena. Tidak peduli dengan sayap indah yang mengepak di antara api semerah darah yang mengerikan itu, ia meningkatkan kecepatan kakinya dan melompat dengan pedang yang diangkat.


Tatapan Gu Yuena menajam. Ia mengelak serangan Ye Suanwu dan mengepakkan sayapnya ke langit agar dapat menjauh. Tapi siapa sangka, Ye Suanwu mengikut terbang ke udara menggunakan kekuatan petirnya, terus melakukan serangan brutal untuk menyelesaikan pertempuran dengan cepat.


Gu Yuena terus terbang selama Ye Suanwu mengejar. Meski agak sulit mengendalikan sayap yang baru ia pakai, tapi hasilnya tidak buruk. Hanya saja, kecepatannya masih kalah.


Sebuah api semerah darah keluar dari tangannya, dilemparkan ke arah Ye Suanwu dan membentur guntur yang menyambar. Pedang Ye Suanwu beberapa kali menyerang, sedangkan Gu Yuena berhasil menahannya dan pergi ke darat dengan rencana baru.


Ia meluncur dengan kecepatan tinggi seolah jatuh dari langit. Ketika ia akan sampai di tengah-tengah lingkaran api yang ia buat, ia langsung membakar seluruh lingkaran api, menciptakan lautan api yang berbahaya. Tidak lupa juga, memberikan lingkaran sihir secara sembunyi-sembunyi untuk membuat apinya menyebar secara efektif.


Ye Suanwu tiba lebih cepat dari dugaan. Gu Yuena belum sempat mendarat, tapi guntur dari pedang Ye Suawu menghantamnya dengan keras sehingga Gu Yuena harus melindungi diri dengan sayap api sebelum akhirnya meluncur lepas ke tanah berapi. Ia sebisa mungkin menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Sayap api dihilangkan, sedangkan arena di mana Gu Yuena berada telah diselimuti api membuat Ye Suanwu harus memikirkan cara agar tidak terjebak dalam api Gu Yuena. Ia tidak menyangka Gu Yuena akan sekuat itu. Api yang melahap tempat ini bukan api biasa.


Ye Suawnu tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu. Ia membentuk banyak guntur dan meluncurkannya ke arena api yang dibuat Gu Yuena. Gu Yuena menghindari dengan cepat hujan guntur tersebut. Ia menarik semua api dalam arena, kemudian mengumpulkannya ke satu titik target, yakni Ye Suanwu.


Lingkaran sihir di bawah kakinya aktif berkala dan menciptakan gelombang api besar yang meluncur. Lingkaran sihir itu tidak disadari oleh siapa pun, termasuk Ye Suanwu karena aura yang tersamarkan api phoenix. Gu Yuena bebas menggunakannya.


Api dan guntur saling bertolak dan memberi tekanan luar biasa. Gu Yuena terus mencoba mempertahankannya, tapi kekuatan Ye Suanwu jelas lebih tinggi sehingga ia merasa kesulitan. Tingkat lima dan empat memiliki perbedaan bagai jurang curam. Apalagi Gu Yuena baru beberapa hari naik tingkat.


"Ye Suanwu, aku tidak akan kalah darimu," gumam Gu Yuena.


Ia melepas serangannya, membiarkan guntur Ye Suanwu menghantam seluruh arena dan menciptakan ledakan besar. Hal tersebut menyebabkan banyak kehebohan, seolah seluruh kediaman Gu Yuena telah meledak oleh satu guntur.


Ye Suanwu tersenyum miring. Ia mendarat ke kumpulan kabut bekas ledakan, kemudian berkata, "Sudah kukatakan, aku tidak akan berbelas kasihan. Gu Yuena, kau menyinggung orang yang salah."


Kabut menghilang perlahan, namun Ye Suanwu sama sekali tidak menemukan Gu Yuena. Tidak mungkin Gu Yuena mati dan hancur, 'kan? Ia mulai curiga, mengingat betapa licik Gu Yuena selama ini.


Tapi kecurigaannya terlambat. Sebuah benda dingin dan runcing menempel tepat di lehernya oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang. Ye Suanwu melihat tangan halus di depan lehernya, kemudian sedikit menoleh ke belakang.


"Asal kau tahu, menurunkan waspada sebelum melihat jasad musuh adalah kesalahan. Ye Suanwu, kau kalah karena kecerobohanmu sendiri." Gu Yuena tersenyum miring tanpa melepaskan jeratannya.


Wajah Ye Suanwu menggelap. "Aku belum mengerahkan seluruh kekuatanku."


Ia mengeluarkan bilah petir di tangannya untuk menikam Gu Yuena, namun benda dingin itu semakin menempel di lehernya sampai mengeluarkan cairan hangat.


Gu Yuena mendengus. "Itu karena kau meremehkanku. Jika ini adalah medan perang, kau sudah mati. Menyerahlah."


"Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Li'er benar, kau berbahaya. Pantas saja ibuku lebih menyukaimu." Ye Suanwu menyimpan kembali petirnya.


"Terima kasih pujiannya." Gu Yuena tersenyum penuh.


"Tapi bukan berarti aku akan menyerah." Ye Suanwu mencengkeam lengan Gu Yuena, kemudian memutar tubuhnya dan hendak membuat pisau itu menusuk Gu Yuena.


Tapi tiba-tiba sebuah kilatan cahaya menyambar, membuat Ye Suanwu melepaskan cengkraman sedangkan Gu Yuena melepas pisaunya. Mereka berdua dipaksa menjauh satu sama lain sebelum akhirnya seseorang muncul menengahi.


"Apa yang kalian lakukan!" Gu Shan muncul di antara mereka dengan raut marah. Ia melihat lingkungan sekitar yang telah hancur lebur, kemudian melihat putri dan calon menantunya dengan tajam.


Gu Yuan berlari ke arah Gu Yuena dengan khawatir. Ia memutar tubuh adiknya itu memastikan dia baik-baik saja. Tapi ketika melihat telapak tangan adiknya yang penuh dengan darah dan luka dalam, wajahnya menjadi dingin.


"Kak, aku baik-baik saja. Hanya luka kecil." Gu Yuena telah merasakan aura dingin yang membuatnya takut. Gu Yuan tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, baik di kehidupannya dulu maupun sekarang.


Pandangan Gu Yuan terarah pada Ye Suanwu dengan amarah yang membara. Ia melesat begitu saja dan menghantam Ye Suanwu dengan cekikan yang kuat. Aliran guntur mulai aktif di berbagai sisi menyerang Gu Yuan, namun semua petir itu hancur seketika oleh perisai qi yang terbentuk.


"Gu Yuan! Hentikan!" Gu Shan meninggikan nadanya. Ia menarik bahu Gu Yuan dengan kuat sehingga Gu Yuan mau melepaskan Ye Suanwu.


Ye Suanwu terbatuk karena cekikan. Kekuatan Gu Yuan memang lebih tinggi darinya. Ini kali pertamanya melihat Gu Yuan begitu marah.


"Ye Suanwu, akan lebih baik jika kau kembali ke Klan segera. Aku akan mengirimkan surat pada Klan Ye atas segala yang terjadi." Gu Shan berkata dengan tegas. Kekacauan ini begitu membuatnya marah. Bisa-bisanya Ye Suanwu membuat keributan dengan menyerang Gu Yuena seperti itu.


"Adipati Gu, seharusnya kau dapat melihat siapa yang salah di sini. Gu Yuena menyembunyikan kekuatannya dalam waktu lama dan menipu semua orang dengan topeng lemahnya. Dia bahkan berani menjebakku dan Li'er. Pikirannya lebih jahat dari yang kau kira!"


"Ye Suanwu, aku telah memberimu banyak toleransi selama ini. Apa begitu caramu menilainya? Jika bukan karena Gu Yuena, kau mungkin sudah mati." Gu Yuan membela Gu Yuena terlepas dari semua kesalahan yang dilakukan adiknya. Ia hanya merasa marah bahwa pria itu berkali-kali menyakiti adiknya.


"Apa yang kau ketahui?" Ye Suanwu mendengus. "Nyonya Ting diasingkan adalah triknya untuk menyingkirkan Nyonya Ting. Dia juga yang menjebakku dan Gu Yueli agar dapat mengusir Gu Yueli lebih cepat dan mempermalukanku. Apa aku tidak pantas membalas?"


"Lalu ketika aku memergokimu berselingkuh bersama Gu Yueli ketika status kita masih bertunangan, lalu kau dan Nyonya Ting bekerja sama mengirim orang untuk membunuh dan melecehkanku, apa aku tidak pantas membalas dengan caraku?" Gu Yuena tiba-tiba membeberkan segalanya dengan nada dingin.


Semuanya terdiam. Gu Yuan dan Gu Shan melihat Gu Yuena dengan penuh kejutan. Hal ini, tidak pernah diberitahu Gu Yuena sebelumnya.


Ketika Ye Suanwu akan menyangkal, Gu Yuena berkata, "Syukurlah seseorang menyelamatkanku dan membunuh orang-orang itu, atau aku tidak akan pernah ada di tempat ini sejak hari itu. Ye Suanwu, aku membantumu menyembunyikannya dengan mengarang cerita lain, apa kau melupakannya? Nyonya Ting membunuh ibuku. Ketika dia mengakuinya, dia juga ingin membunuhku."


Pandangan Gu Yuan dan Gu Shan terarah pada Ye Suanwu. Gu Yuan sangat marah. Ia nyaris saja kembali membunuh Ye Suanwu jika Gu Yuena tidak menahan lengannya.


"Tidak peduli bagaimana perlakuanmu, kau akan menikah dengan Gu Yueli. Aku tidak akan mengungkitnya lagi demi kehormatan dua keluarga." Gu Yuena tersenyum tipis. Namun tatapannya yang ditujukan pada Ye Suanwu penuh dengan ejekan.


Gu Shan nyaris muntah darah karena marah. Ia tidak bisa menghadapi kemarahan Gu Yuan, hanya bisa memaksakan diri memarahi Ye Suanwu. "Ye Suanwu, semua ini akan aku catat dan kirimkan pada Klan Ye hari ini juga. Kau juga harus cepat berkemas untuk mengakui kesalahanmu."


Ye Suanwu mendengus kesal. Ia menghentakkan lengannya dan pergi dengan langkah lebar, merasa telah dipermalukan. Ketika melintasi Gu Yuena, ia menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jangan berpuas diri, karena kau akan jatuh dengan mengerikan." Ye Suanwu pun pergi setelah membisikkan kalimat tersebut pada Gu Yuena.


Gu Yuena hanya diam, sebelum akhirnya menghela napas. Di saat seperti ini, ia baru merasakan tangan dan kakinya begitu sakit karena mengalami luka luar.


Tapi seolah belum selesai dengan permasalahan, kini Gu Shan menatap Gu Yuena dengan tegas bersiap menginterogasinya.


"Sejak kapan kau bisa berkultivasi? Apa kau benar menipu kami?" Gu Shan bertanya dengan tajam. Tidak disangka Gu Yuena yang ia anggap pengertian akan memiliki pemikiran jahat seperti itu.


"Ayah, apa kau lebih mempercayai Ye Suanwu dibanding aku?" Gu Yuena bersikap seperti anak kecil yang bersedih.


"Katakan dengan jelas!"


"Ayah, Gu Yuena sedang terluka. Bisakah membicarakannya nanti?" Gu Yuan tetap membela adiknya. Bagaimanapun Gu Yuena telah mengalami masa-masa sulit. Ia menyesal tidak mengetahuinya.


"Kakak, tak apa." Gu Yuena melihat kakaknya, kemudian menunduk. "Aku salah tidak memberitahu lebih awal. Ketika Nyonya Ting mendatangiku, dia mengatakan kebenaran mengenai 10 tahun yang lalu. Nyonya Ting melepaskan beberapa monster untuk membunuhku dan ibu. Saat itu kultivasiku telah mencapai tingkat 3. Nyonya Ting tidak ingin aku berkembang, mengirim Jiang Weiwei untuk meracuniku selama bertahun-tahun sehingga kultivasiku terhambat. Kalian juga beranggapan bahwa aku tidak bisa berkultivasi lagi melalui obatnya. Itu sebabnya, aku marah dan membuat Nyonya Ting terprovokasi membuatnya membunuhku lebih cepat, tapi siapa sangka aku naik tingkat di saat kekuatan Nyonya Ting menekanku. Aku benar-benar tidak tahu." Ia menjelaskannya sambil menunduk, tampak merasa bersalah.


Gu Yuena tidak sepenuhnya berbohong. Ia memodifikasikan fakta agar tidak terlalu mencurigakan. Akan aneh bila ia berkata bahwa ia telah berlatih sejak pertunangan Gu Yueli dilakukan. Ia tidak akan sanggup menjelaskannya dengan detail, karena masih ada banyak misteri dalam tubuh Gu Yuena yang belum terpecahkan.


Di samping itu, Gu Shan tampak sangat marah. Ialah yang paling tidak tahu apa pun mengenai masalah ini. Wanita itu berani-beraninya melakukan percobaan pembunuhan terhadap Li Hua dan putrinya! Bahkan membuat putrinya dianggap sebagai sampah dan diasingkan. Benar-benar ular berbisa!


"Aku tidak akan mengampuninya!" Gu Shan terlalu marah. Ia melihat Gu Yuena, kemudian berkata, "Kamu istirahatlah, aku akan memberi pelajaran pada wanita busuk itu!"


Gu Shan pun pergi dengan amarah bergebu-gebu. Gu Yuan tetap di sisi Gu Yuena. Masih ada banyak pertanyaan di benaknya, tapi kondisi Gu Yuena lebih penting.


"Kamu istirahatlah, aku akan panggilkan petugas medis." Gu Yuan mengantar Gu Yuena ke kamarnya yang masih utuh. Selama pertempuran itu, segalanya hancur kecuali bangunan kamar dan ruang belajarnya.


Jelas Gu Yuena sudah mempertimbangkannya terlebih dahulu sebelum bermain.


Tapi baru saja menaiki anak tangga, seorang pelayan tiba-tiba datang terburu-buru untuk menyampaikan pesan. Sepertinya pesan mendadak.


"Tuan Muda Yuan, Nona Keempat!" Pelayan itu membungkuk di depan mereka.


"Ada apa? Katakan dengan jelas!" Gu Yuan tidak ingin membuang waktu hanya untuk seorang pelayan.


"Di danau rumah belakang ... kami menemukan mayat ...."


Gu Yuan dan Gu Yuena saling bertukar pandang. Mayat? Apa hubungannya dengan mereka?


Karena pelayan itu memberitahu mereka, itu haruslah hal penting. Mereka berdua pun pergi mengikuti si pelayan untuk melihat mayat siapa yang dimaksud.


Dan benar saja, ketika mereka sampai ke danau dan membuka kain yang menutupi mayat, Gu Yuena langsung mengenali wajah yang telah membiru itu. Keningnya berkerut dalam-dalam.


"Jiang Weiwei?"