Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
78. Rahasia Diri Sendiri



Karena tidak bisa memasuki penginapan Istana Yinyang meski memiliki identitas sebagai perwakilan Istana Yuansu dan saudara Gu Yihan, reputasinya tidak sebagus Jin Xiao. Gu Yuena hanya bisa mengirim surat pada Gu Yihan untuk mencari clue mengenai keberadaan kakaknya. Ia bisa menunggu sambil makan malam dan membuat rumah untuk Xiao Lin.


Dibantu Xiao Bai dan Xiao Hei yang tampak 'bersemangat', Gu Yuena menyelesaikan rumah baru yang dibuat dengan tangannya sendiri.


Nantinya, rumah itu akan disimpan dalam ruang spiritual yang akan menjadi wilayah baru Xiao Lin untuk bermain dengan dua kucing imut dan 'bersahabat' miliknya.


"Selesai!" Gu Yuena meregangkan otot-ototnya yang kaku. Pandangannya terarah pada Xiao Lin yang sudah membuka mata.


Mata hitam ular kecil itu sangat bundar dan mengkilap. Ah, Gu Yuena sangat menyukainya. Ia sudah seperti melihat boneka yang sangat imut dan lucu!


Ingin sekali ia mencungkil mata itu untuk dijadikan koleksi. Matanya seperti mutiara hitam yang ia dapat dari Yang Xinyuan.


Belum sempat ia bicara pada ular mungil dan unyu tersebut, sebuah surat terbang masuk begitu saja dari jendela. Surat yang dilingkupi sihir dan hanya dapat diterima oleh penerima surat yang tertuliskan.


Gu Yuena mengambilnya, lalu membuka isi surat tersebut.


"Apa itu dari Gu Yihan?" Xiao Hei bertanya-tanya.


Gu Yuena mengangguk, tampak sangat serius. Meskipun Gu Yihan tidak memiliki kesan baik terhadapnya sejak kejadian Gu Yueli, pria itu tetap netral setiap saat.


Dalam surat, Gu Yihan menyatakan sudah tidak berkomunikasi dengan Gu Yuan sejak 6 tahun yang lalu. Terakhir ia melihatnya ketika Gu Yuan mengajukan cuti sebelum kehancuran kediaman adipati.


Untuk Luo Yi, Gu Yihan berkata bahwa terakhir dia melihat Luo Yi adalah ketika seorang perempuan kupu-kupu datang ke akademi, beberapa waktu setelah Gu Yuan pergi. Saat itulah Luo Yi tidak ada kabar lain.


Untuk masalah Gu Yuan, hanya Tetua Gao yang kemungkinan besar mengetahuinya. Gu Yuena yakin, cuti Gu Yuan saat itu diajukan untuk pergi ke kekaisaran Wyvernia.


Tapi bagaimana dengan Luo Yi? Perempuan kupu-kupu itu, apa adalah Su Churan? Su Churan sepertinya tahu banyak hal mengenai kepergian Gu Yuan dan Luo Yi.


Berdasarkan penilaiannya, seharusnya Luo Yi pergi mengikuti Gu Yuan. Gu Yuan tidak pernah memberitahu siapa pun masalahnya, itu sebabnya Luo Yi mencaritahu sendiri. Jika Gu Yuena menjadi Luo Yi, dia akan melakukan hal yang sama.


Pada akhirnya, ia harus menemukan Su Churan.


"Xiao Bai, bukankah kamu dapat memprediksi aura seseorang? Kakakku tidak bisa dilacak, karena memiliki kekuatan jiwa di tubuhnya. Tapi Su Churan dan Luo Yi tidak. Aku ingin kamu melacak mereka."


Xiao Bai mengangguk, lalu pergi melaksanakan perintah. Ia membutuhkan media untuk melakukan tugasnya, sedangkan media tersebut ada di ruang spiritual Gu Yuena.


Satu lagi surat dari Gu Yihan, pria itu berkata bahwa ia tidak ada hubungannya lagi dengan kediaman adipati, karena ia sepenuhnya menjadi anggota Klan Ye.


Baik ibu maupun adiknya, telah berada di Klan Ye.


Gu Yuena menutup surat tersebut. Tatapannya seolah sedang melihat lelucon. Ia terkekeh kecil akan apa yang ia ketahui sambil membakar surat tersebut menjadi abu.


"Klan Ye."


"Kapan Nona akan pergi ke Klan Ye?" tanya Xiao Hei.


Pergi ke Klan Ye, berarti menghancurkan mereka.


"Jika aku datang sekarang, maka sama saja menyatakan perang pada Istana Linghun. Bukankah belakangan ini ibuku sangat terburu-buru?"


Memikirkan tentang Istana Linghun, Gu Yuena jadi ingat sesuatu.


"Istana Linghun ... pasti kakak ada di sana. Orang itu mengatakan bahwa kami akan bersatu kembali. Apa dia mengambil kakakku?" Gu Yuena mengerutkan kening. Tinjunya terkepal erat.


Jika seperti itu, meski saat ini Gu Yuan aman, kapan saja dapat dijadikan senjata untuk melawannya. Ia harus lebih kuat untuk dapat menantang mereka.


Sudah jelas, ibunya yang itu bukan ibu yang ia kenal selama ini.


"Apa aku harus menggunakannya lagi?" gumam Gu Yuena, bertanya pada diri sendiri.


Xiao Hei yang mendengarnya terkejut. "Jangan! Jika menggunakannya, tubuhmu tidak akan mampu menahannya. Sudah cukup untuk menghadapi penghalang kutukan usia. Jika menggunakannya lagi, semua usahamu akan sia-sia."


Lebih tepatnya, ia tidak ingin Gu Yuena tersiksa lagi. Andai saja Gu Yuena tidak memaksakan dirinya sendiri dengan menggunakan sihir terlarang untuk menekan api racun yang melahapnya. Semakin lama Gu Yuena seperti ini, racun api semakin mengganas. Apalagi pil pereda racun api sudah habis.


Selama 6 tahun, Gu Yuena berkultivasi dengan menggunakan kekuatan jiwa dan kekuatan darah phoenix secara bersamaan. Bukan lagi menggunakan lingkaran sihir maupun qi, ia benar-benar menggunakan cara terekstrem untuk mendapatkan kekuatan.


Karena dua unsur berbahaya itu digunakan secara bersamaan, otomatis Gu Yuena akan merasakan rasa sakit selama proses kultivasi. Itu membuatnya mati rasa selama bertahun-tahun.


Tentu saja, Gu Yuena tidak mati karena ada sihir keabadian di tubunya. Jika itu Gu Yuena yang dulu, ia sudah mati sejak pertama kali mencobanya.


Gu Yuena yang sekarang bahkan tidak akan merasakan apa pun jika ada bilah pisau yang menyayat kulitnya.


"Hah, benar-benar gila." Gu Yuena memegang keningnya dengan frustrasi. Ia tidak tahu, kapan semua ini akan berhenti.


Bahkan sampai saat ini, apa phoenix masih tidak dapat bertahan tanpa naga? Benar-benar mengesalkan.


Gu Yuena sudah cukup kuat untuk menangani orang-orang yang lebih unggul darinya berdasarkan tingkatan. Tapi ia tidak akan bisa menangani seseorang dengan kemampuan istimewa seperti darah naga dan kekuatan jiwa yang lebih kuat darinya.


Meski bisa bertahan, tubuhnya tetap sangat rentan terhadap serangan dan tidak bisa bertahan lama. Sihir keabadian adalah pedang bermata dua. Salah langkah sedikit, maka ia akan mati.


"Sssss~"


Gu Yuena menoleh ke arah ular putih yang mendesis sambil mengusap jemarinya di atas meja menggunakan kepala. Ekspresinya yang mengeras berubah sektika menjadi lembut. Begitu drastis.


Entah kenapa, melihat ular kecil itu, auranya membuatnya tenang.


"Aku memiliki tempat untukmu. Sudah malam, kamu tidurlah di sana."


Ular kecil itu melihat 'rumah' yang baru saja dibuat.


Itu ... apa bisa disebut sebagai rumah?


Ranting dari pepohonan yang dibuat seperti sarang burung. Ada beberapa batang kayu untuk tempat ular-ular bersarang.


Ular kecil itu terlihat sangat terkejut.


Apa itu tempatnya?


"Memang agak jelek, tapi aku pikir itu akan nyaman untuk ular sepertimu. Aku mengetahuinya dari summoner di jalan." Gu Yuena berkata tanpa rasa bersalah.


Xiao Hei yang melihat ekspresi kacau ular kecil merasa ingin tertawa. Rasakan itu! Siapa suruh merebut nona darinya?


Gu Yuena menguap sambil bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ia masih tidak ingin menakut ular kecil berhati lemah itu, apalagi baru sembuh dari kecelakaan.


Ia membawa ular tersebut di tangannya, lalu meletakkannya di sarang kayu begitu saja.


"Kita akan mencari makan besok." Gu Yuena melambaikan tangan, lalu menaiki tempat tidur dan menyelimutkan diri.


Xiao Hei melihat ular itu penuh provokasi. Kucing hitam itu menaiki tempat tidur Gu Yuena, lalu bermanja-manja dengan nonanya layaknya kucing kecil yang membutuhkan kasih sayang.


Pada akhirnya, tetap Xiao Hei yang menang banyak.


Itu berhasil membuat mata ular kecil berkedut.


Tidak mau kalah, Xiao Lin terbang ke arah tempat tidur Gu Yuena dan menyelinap ke sela-sela jari Gu Yuena dengan nyaman.


Gu Yuena membuka mata, lalu melihat Xiao Lin yang mulai tertidur di tangannya. Ia jadi tidak tega membangunkan.


Sedangkan Xiao Hei merasa sangat kesal setengah mati sampai mengusal pada Gu Yuena ingin dipeluk.


Ini menjadi malam rebutan yang menyebalkan.


Tapi Gu Yuena sama sekali tidak bisa marah pada makhluk imut ini. Jika ada Xiao Bai, pasti kucing itu akan menjadi sangat galak memperebutkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam di Kota Yin sangat senyap. Di penginapan, Gu Yuena tidur dengan dua peliharaan kecilnya yang mungil dan manja.


Hanya saja, Gu Yuena mengalami mimpi buruk yang tidak ada habisnya. Xiao Hei tidak menyadarinya, tapi ular kecil yang tidur di lengan Gu Yuena sadar.


Sepasang mata ular kecil itu terbuka, menampilkan mata bundar dan hitam yang jernih. Tapi ketika melihat betapa gelisah Gu Yuena, tatapannya menajam.


Iris hitamnya berubah menjadi biru malam yang unik.


Ular kecil itu berpindah tempat ke tepi tempat tidur. Cahaya biru dari warna di kepalanya bersinar, mengubah wujudnya menjadi lebih besar dan menampakkan sosok pria tampan yang tiada tandingannya.


Iris biru malam pria itu melihat Gu Yuena yang gelisah. Wajah tampan pria itu terpantul sinar rembulan, dengan ekspresi lembut ketika memandangi wajah Gu Yuena. Tatapan yang sebelumnya tajam, kini memiliki jejak kehangatan.


"Sudah 6 tahun, Nana." Pria itu meraih pipi Gu Yuena, mengusapnya dengan hati-hati. Sudut bibir pria itu sedikit terangkat. "Kamu sudah bekerja terlalu keras."


Pria itu tak lain adalah Bai Youzhe.


Ia telah mendengar percakapan Gu Yuena dan Xiao Hei tadi. Sepertinya 6 tahun ini ada banyak hal menyakitkan yang telah dilalui Gu Yuena. Ia tidak tahu bagaimana racun api ditekan sampai sebegitunya, tapi itu pasti sangat menyakitkan.


Ia awalnya berpikir bahwa Gu Yuena pasti sudah memiliki naga lain untuk menyelamatkan hidupnya sampai saat ini. Itu sebabnya, ia tidak bisa muncul terang-terangan di depannya.


Sebenarnya Bai Youzhe senang, tapi juga sedih. Gu Yuena pasti sangat tersiksa. Itu sebabnya, ia mendekati Gu Yuena menggunakan cara ini untuk memastikan lebih lanjut dan melindunginya.


Hanya saja, ia tidak bisa berlama-lama. Karena ini bukan tubuh aslinya.


Ia bahkan bisa merasuki Zhou Tao seperti hantu. Lebih tepatnya, saat ini ia hanya sosok roh yang berpisah dari tubuh aslinya. Menjadi ular kecil saja sudah cukup memakan banyak tenaga.


Karena pihak lain masih sama seperti dulu, Bai Youzhe pikir tidak masalah jika ia mengejarnya sekali lagi. Apalagi Gu Yuena kali ini sudah mulai terbuka dan menanyakan tentang dirinya pada anak-anak itu.


Yah, meski menggunakan julukan aneh.


Tapi tak apa.


Bai Youzhe mengusir Xiao Hei yang menempel pada Gu Yuena begitu saja ke lantai. Bisa-bisanya kucing itu mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan Nana-nya.


Setelah membuang kucing yang membully-nya tadi sebagai bagian dari balas dendam, Bai Youzhe dalam bentuk roh pun berbaring di sebelah Gu Yuena sambil memandanginya tanpa bosan.


Ia juga memeluk tubuh ramping Gu Yuena yang gelisah dalam dunia mimpi. Mengusapnya dengan kasih sayang dan memberi kehangatan—meski rohnya agak dingin.


"Tenanglah, itu semua hanya mimpi," katanya dengan nada rendah.


Ajaibnya, itu berhasil membuat Gu Yuena tenang dan tidur begitu nyenyak. Bai Youzhe tersenyum kecil. Ia jadi ingin berlama-lama menjadi Xiao Lin yang dimanjakan Gu Yuena.


Baginya, Gu Yuena sangat hangat. Sesuatu yang sangat ia butuhkan selama bertahun-tahun merasakan siksaan kejam.


Andai saja saat itu ia tahu bahwa Gu Yuena memilih jalan lain dibandingkan pilihan yang Bai Youzhe lontarkan. Apa Gu Yuena dan ia tetap merasakan rasa sakit akan 'bakat' sendiri?


Tapi sabarlah, semua itu akan berubah.


Bai Youzhe tidak sabar menyelesaikan kultivasi dan pergi menemui Gu Yuena dengan tubuh aslinya.


"Aku sangat merindukanmu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari menyingsing, mengganggu tidur nyenyak gadis bersurai hitam kemerahan. Entah kapan terakhir kali ia merasakan tidur nyenyak dan damai tanpa bayang-bayang mimpi buruk.


Yah, meski awalnya ia sempat bermimpi buruk. Tapi tiba-tiba saja ia tidak ingat apa pun dan beristirahat penuh tanpa gangguan.


Sepasang matanya terbuka perlahan. Hal yang pertama kali iris merah itu lihat adalah seekor ular kecil bermata hitam bundar yang menyambut paginya.


Gu Yuena baru ingat, bahwa Xiao Lin tidur bersamanya dan Xiao Hei. Dua 'monster' beda jenis itu sempat rebutan tempat.


"Nona, huaaa~"


Suara Xiao Hei melengking penuh tangisan yang memggema di ruangan. Pandangan Gu Yuena teralih ke arah kucing hitam yang duduk di lantai sambil menangis.


Gu Yuena bangun dari posisinya, melihat Xiao Hei dengan heran. "Ada apa denganmu?"


"Nona ... seseorang mengusirku begitu kejam. Aku jadi harus tidur di atas lantai yang dingin semalaman ...."


Gu Yuena termenung untuk beberapa saat. Sedangkan pelaku sebenarnya berlagak polos dengan memiringkan kepala. Sepasang iris hitam itu tampak bingung.


"Aku tidak merasakan jejak orang lain yang masuk." Gu Yuena bergumam sendiri sambil memperhatikan sekitar. Ia pun berkata pada Xiao Hei, "Apa kau ingat siapa itu? Kau tidak sedang mengigau, 'kan?"


"Itu ...." Xiao Hei tidak tahu pasti karena saat itu ia sama sekali tidak bisa bangun seolah dibius. Ia hanya merasa tubuh mungilnya terlempar begitu saja ke lantai keras dan dingin. Ia ingin berteriak, tapi tidak bisa.


Gu Yuena yang melihat terdiamnya Xiao Hei pun menghela napas. Ia beranjak dari tempat tidur sambil berkata, "Sepertinya kebiasaan tidur berjalanmu kambuh lagi."


Xiao Hei yakin ia tidak tidur berjalan kali ini. Tapi bagaimana ia bisa memiliki perasaan dilempar seperti itu? Terlebih, ia tidak merasakan kehadiran orang lain.


Kecuali ular putih yang merebut tempatnya.


Hanya itu satu-satunya yang dicurigai.


"Hah, Xiao Hei yang malang." Xiao Bai tiba-tiba muncul sambil mencibir kucing malang itu. Ia telah menyelesaikan tugas dari Gu Yuena dan akan melaporkannya.


Setelah memeleti Xiao Hei yang murung, Xiao Bai segera pergi ke Gu Yuena yang sedang berganti pakaian di balik tirai.


"Nona, aku tidak bisa menemukan keberadaan Luo Yi. Kemungkinan besar ini semua karena penghalang dari Kakak besar Gu Yuan." Xiao Bai langsung melaporkannya begitu saja ketika Gu Yuena melepas pakaiannya.


Ular kecil yang masih di atas tempat tidur terdiam. Untung saja Gu Yuena melepas pakaian di balik tirai. Gadis itu masih saja suka sembarangan.


Gu Yuena melirik Xiao Bai dengan sepasang matanya yang serius. "Kakakku tidak bisa melakukannya. Itu pasti karena mereka berada di wilayah yang tidak seharusnya."


"Seperti Istana Linghun?" Xiao Hei menebak.


"Itu mungkin saja." Xiao Bai melihat nonanya, memastikan gadis itu baik-baik saja. "Tapi untungnya, aku berhasil menemukan jejak Su Churan. Dia ada di tempat yang sangat jauh di utara. Lebih jauh dari pegunungan utara."


Gu Yuena sepertinya mengetahui sesuatu. "Apa lagi kalau bukan mengikuti orang itu?"


"Orang itu?"


"Bai Youzhe."


Ular kecil yang duduk anteng di sana merasa terpanggil. Ia hadir seolah mengatakan "aku di sini" pada mereka.


Gu Yuena menghela napas, lalu keluar dari balik tirai dengan jubah mandi untuk mencari pakaiannya di lemari. Pakaiannya disediakan oleh pelayan setiap harinya.


Gadis itu berkata, "Su Churan di Istana Tianshuang, menemuinya akan sangat rumit. Sepertinya aku hanya bisa pergi ke Klan Luo sebagai langkah pertama untuk memancing kedatangannya."


"Kamu akan membuat masalah di Klan Luo?" tanya Xiao Bai.


Xiao Hei buru-buru bicara, "Tidak bisa. Kamu mungkin bisa mengalahkan mereka semua, tapi bagaimana jika iblis itu yang datang, bukan Su Churan?"


"Iblis?" Gu Yuena menatapnya bertanya-tanya.


"Bai Youzhe." Xiao Hei menekankan nada suaranya, membuat ular di pojokan sana terus merasa disindir setiap saat.


Citranya buruk sekali di mata mereka.


Gu Yuena memutar bola mata. "Kenapa jika dia datang? Sudah 6 tahun kami tidak bertemu, dia yang sok itu paling tidak hanya numpang lewat. Kau takut aku ditangkap dan dibunuh? Tenang saja, dia tidak bisa melakukannya seumur hidup."


Orang yang dibicarakan hanya duduk anteng sambil mendengarkan dalam wujud mungil dan imut. Sebenarnya ucapan Gu Yuena tidak salah. Namun poin 'hanya numpang lewat' tidak dibenarkan.


"Tapi aku tidak akan membuat masalah pada Klan Luo, aku masih sayang nyawa." Gu Yuena mengambil pakaiannya dan menggantinya saat itu juga.


Ular kecil di pojokan terbelalak ketika.


Benar-benar sembarangan.


Masalahnya, kucing hitam sialan itu masih di sini!


Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Gu Yuena membuka pintu kamarnya setelah selesai mengenakan pakaian lengkap. Ia melihat sosok laki-laki muda bersama Ru Meng yang tampak memandangnya dengan wajah memerah.


Pasalnya, Gu Yuena terlihat sangat menggoda dengan rambut tergerai bebas.


"Kamu ...." Gu Yuena akan menyebut nama pria yang dibawa Ru Meng, tapi pria itu sudah membungkuk terlebih dahulu.


"Saya adalah Zhou Tao. Kita pernah bertemu di kediaman Walikota saat memesan set pakaian."


"Ya, aku ingat. Ada apa?" Gu Yuena langsung pada poinnya. Aneh, Zhou Tao terlihat sangat berbeda dari saat di kediaman Walikota.


"Saat saya dan Zhou Wei serta Zhou Ying sedang berunding, kami berniat mengundang Nona Gu ke Istana Tianshuang jika ada waktu. Mungkin ... Nona bisa bertemu dengan orang yang Nona cari."


Apa begitu kebetulan?


Baru saja ia memikirkan cara bagaimana caranya agar dapat bertemu Su Churan, orang yang ingin ia manfaatkan sudah mengajukan diri terlebih dahulu. Lupakan bagaimana sikap aneh Zhou Tao, yang terpenting adalah langkah yang akan ia capai.


"Kalau begitu, terima kasih sudah mengundang. Aku Gu Yuena, pasti akan berkunjung dan menerima niat baik kalian."


Zhou Tao sedikit tersenyum, merasa lega. Ia pikir ini akan menjadi hal yang sulit. "Aku dengar Nona akan menampilkan pertunjukan bersama Nona dari Istana Luye."


"Ya, aku harap kalian melihatnya." Gu Yuena tersenyum, lalu teringat akan sesuatu. "Ru Meng, kamu antarlah tamu. Aku akan bersiap sebentar lagi."


Ru Meng mengangguk lemah. Ia diabaikan sejak tadi sampai tidak sempat menyapa dermawannya. Wajahnya benar-benar ditekuk.


Gu Yuena terkekeh kecil dan menutup pintu. Ah, adik seperguruannya itu pecemburu sekali. Ia jadi ingin mencubit pipi tembamnya itu.


Tapi ketika Gu Yuena berbalik untuk menyelesaikan riasannya, ia dihadapkan dengan Xiao Hei dan Xiao Lin yang saling pandang dengan penuh ancaman. Sepertinya kedua 'monster' itu sudah bertengkar sejak tadi.


Biarkan saja.