Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
123. Iblis Hati



Sepasang iris merah darah terbuka. Tatapan yang dingin dan tajam itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Salah satu matanya berubah warna menjadi hitam pekat selagi salah satu sudut bibirnya ditarik ke atas membentuk senyuman jahat.


Sihir merah di sekitarnya bertahap bercampur dengan warna hitam pekat. Seolah warna merah itu telah terkontaminasi, mengelilinginya di udara dan membentuk empat sayap merah yang berkilauan.


Tatapannya terlihat puas. Melihat kedua tangannya yang dialiri sihir yang sangat kuat, ia tertawa puas akan keberhasilan penyerapan menimbulkan perasaan luar biasa yang tidak pernah terjadi.


Perasaan dipenuhi kekuatan dan kemampuan. Ia jauh lebih senang dan ingin terus mendapatkan perasaan yang sama setiap saat.


Di sisi lain, Bai Youzhe sadar akan perubahan Gu Yuena di dalam perisai yang ia buat. Perubahan yang begitu drastis, bahkan auranya yang kuat sangat terasa sampai membuat serangan para iblis berhenti sejenak.


Guncangan gunung menjadi-jadi dan mengakibatkan banyak ledakan yang mematikan para iblis. Jiwa iblis yang mati melayang di udara, seperti terserap sesuatu. Selain itu, ada sangat banyak jiwa lain dari luar sana yang tertarik ke satu tempat di mana Gu Yuena berada.


Firasat buruk menghantui Bai Youzhe.


Ia membiarkan para iblis kerepotan karena ledakan gunung yang terjadi secara beruntun. Pergi menemui Gu Yuena dan lihat apa yang terjadi. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu.


Sampai di tempat ia meninggalkan Gu Yuena dalam perlindungan perisai, ia terkejut ketika melihat perisai telah menghilang. Ia tidak merasakan bahwa perisai itu hancur sebelumnya.


Namun, ia menjadi lega ketika melihat Gu Yuena berdiri di tengah-tengah perisai yang menghilang sambil melihat ke arah di mana roh phoenix sebelumnya berada.


Bai Youzhe menghampiri. Beberapa kabut hitam tiba-tiba melesat dari berbagai arah membuat Bai Youzhe waspada. Itu adalah jiwa orang mati. Selain itu, jiwa-jiwa itu juga membawa sinar merah misterius yang mengalir ke arah Gu Yuena.


Jiwa-jiwa itu tidak menyerang Gu Yuena, melainkan terhisap ke suatu tempat.


"Kau sudah datang."


Suara itu berasal dari Gu Yuena. Bai Youzhe merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat kabut hitam itu begitu tenang di dekat Gu Yuena dan menghilang begitu saja.


Wanita itu berbalik arah dengan tampilan yang terlihat dingin. Perbedaan salah satu iris mata Gu Yuena mengejutkan Bai Youzhe. Kenapa salah satu mata Gu Yuena menjadi hitam?


Di tangan Gu Yuena, terdapat sebuah benda berwarna merah seperti bongkahan kristal. Itu adalah tulang iblis yang digunakan untuk mengumpulkan jiwa dan darah sebelum dilakukan pengorbanan 1000 darah. Tulang iblis bercahaya selagi kabut hitam yang membawa siluet merah darah ke dalam, sebelum akhirnya menghilang begitu saja.


Bai Youzhe segera menghampiri Gu Yuena. "Nana, kau baik-baik saja?"


Perbedaan kedua mata Gu Yuena sangat abnormal. Apa telah terjadi sesuatu selama penyerapan? Namun, ia tidak melihat iblis yang mengganggu di sekitar sini, atau bahkan bekas pertumpahan darah.


Penyerapan berlangsung dengan lancar, Gu Yuena baik-baik saja. Namun, ini semua terasa aneh.


Ia tidak terkejut melihat Gu Yuena menggunakan tulang iblis untuk menyerap jiwa dan darah iblis yang mati. Hanya saja, aura Gu Yuena terasa seperti tidak seharusnya.


Seperti bukan Gu Yuena yang ia kenal.


Bai Youzhe segera mendekat. Tatapan Gu Yuena sangat dingin saat ini, pasti ada sesuatu yang salah. Sepertinya kekuatan jiwa mulai mempengaruhinya. Mereka harus segera keluar dari sini dan menekan kekuatan jiwa yang sepertinya tak terkendali lagi.


Ia meraih lengan Gu Yuena. "Nana, kita pergi dari sini."


Gu Yuena tiba-tiba tersenyum dingin. "Bai Youzhe, padahal kau memiliki kesempatan membunuhku dan mendapatkan roh phoenix untuk menutup kutukan di tubuhmu."


Bai Youzhe menatapnya heran. "Apa maksudmu?"


"Maksudku, jika kau tidak membunuhku, maka aku akan membunuhmu." Gu Yuena mengeluarkan sebilah pedang yang terbentuk dari api phoenix dan menghunuskannya ke arah Bai Youzhe.


Bai Youzhe cepat menghindari pedang yang nyaris saja menyayat lehernya. Tanpa melepaskan genggaman, ia berpindah posisi dan menarik Gu Yuena untuk merebut pedang di tangan wanita itu.


Namun, gerakan Gu Yuena tak kalah cepat. Ia mengubah pedang di tangannya menjadi cambuk yang panjang dan dihentakkan dengan keras sampai mengeluarkan cahaya merah pekat.


Menghindari cambuk lebih sulit daripada menghindari pedang. Bai Youzhe terpaksa melepas genggamannya, dan menjaga jarak aman agar tidak terkena serangan kuat yang tidak boleh ia terima secara sembarangan.


Kekuatan Gu Yuena meningkat sangat pesat. Bahkan Bai Youzhe harus berhati-hati terhadapnya agar tidak mengalami salah langkah dan masuk ke dalam jebakan. Satu serangan dari Gu Yuena dapat menyebabkan cedera serius, berbeda dari yang dulu.


Cambuk itu menyusut kembali menjadi sebilah pedang. Wajahnya tetap terlihat dingin. Iris merahnya terlihat kosong, namun iris hitam itu dipenuhi niat membunuh.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Bai Youzhe terkejut karena Gu Yuena menyerangnya begitu saja. Apalagi mendengar ucapan sebelumnya, Bai Youzhe tidak habis pikir.


Gu Yuena tidak memberinya jawaban apa pun. Wanita itu mengeluarkan dua pasang sayapnya dan terbang ke udara. Setelah menjadi phoenix, sayapnya telah berevolusi menjadi lebih besar dan nyata. Dengan bulu merah serta jejak hitam di ujungnya membuat tampilannya semakin mengagumkan.


Gu Yuena mengeluarkan bilah cambuk di tangan lainnya. Cambuk panjang yang terulur ke bawah serta pedang ramping yang sangat tipis dan runcing, membuat tampilannya begitu berbeda dari sebelumnya.


"Jika tidak membunuh, maka bersiaplah untuk dibunuh." Gu Yuena tersenyum dingin, lalu melesat ke arah Bai Youzhe dan menghentakkan cambuknya.


Bai Youzhe menghasil menghindar dalam jarak yang cukup jauh. Ia menghilang dari tempatnya, lalu muncul di dekat Gu Yuena. Ia harus membuat Gu Yuena pingsan agar tidak terlarut dalam pertempuran terlalu jauh.


Namun, sebelum Bai Youzhe sempat meraih Gu Yuena, Gu Yuena langsung sadar dan menebaskan pedangnya. Ia sudah menduga itu akan terjadi dan telah mempersiapkan pedang. Beberapa pisau terbang muncul di sekitarnya dalam barisan lingkaran, lalu meluncur ke arah Bai Youzhe.


Sayap Gu Yuena dikepakkan, bersama kedua senjatanya yang ditebaskan ke arah lawan. Bai Youzhe merasa tidak bisa terus menghindar dan mencari kesempatan, ia pun memulai menerima serangan Gu Yuena dengan pertahanan tinggi lalu menyerangnya dengan dua pedang sekaligus.


Meski teknik pedang Gu Yuena tidak begitu bagus, ia tetap bisa menggunakannya secara profesional. Ditambah dengan kekuatannya saat ini, ia tidak ada bedanya dengan master pedang. Sedangkan di sisi lain, ia sangat ahli mengendalikan cambuk. Untuk melawan Bai Youzhe, ia harus mengeluarkan semua kemampuannya.


Bai Youzhe juga tidak bisa meremehkan Gu Yuena. Jika dulu, Gu Yuena masih mudah ditangani. Namun sekarang, ia harus menggunakan senjata utamanya untuk menangkis banyak serangan yang muncul secara beruntun. Dengan Gu Yuena yang mengganas, akan sulit baginya membuat Gu Yuena pingsan tanpa melukai.


Di dalam perut gunung penuh akan ledakan, baik dari dalam lahar maupun reaksi api di udara. Gu Yuena memanfaatkan gunung yang aktif untuk mengendalikan semua api dan menyerang Bai Youzhe dari berbagai sisi. Lahar di bawah mencuat ke atas dari berbagai sisi, sedangkan bola api terus-menerus berjatuhan.


Bai Youzhe hanya fokus pada Gu Yuena dan mematahkan serangannya. Pisau terbang mengejar di belakang, membuat Bai Youzhe tidak bisa berhenti melesat di udara sambil menekan Gu Yuena di depannya.


Ketika lahar di bawah menyerangnya seperti ombak yang menerjang, Bai Youzhe langsung menebaskan pedang dengan kuat hingga mengeluarkan aura dingin yang ekstrim. Lahar itu mendadak diam dan dipenuhi lapisan es hingga membuatnya terlihat seperti es berwarna merah.


Bai Youzhe menerobosnya sampai hancur. Ia meraih kedua bahu Gu Yuena yang entah kenapa tiba-tiba berhenti. Ia harus mengambil kesempatan ini untuk menyadarkan Gu Yuena.


"Nana, sadarlah!" Bai Youzhe menatap kedua matanya lekat-lekat. Namun, tatapan yang mulanya kosong kini menjadi dingin kembali dan mengangkat pedang bersamaan.


Bai Youzhe menyingkir, sayangnya pedang itu berhasil menyayat pinggangnya sampai mengeluarkan darah.


Gu Yuena melepaskan diri dari pria itu dan mengayunkan pedangnya. Pedang miliknya dan Bai Youzhe bertemu, sedangkan cambuknya melilit pedang kedua Bai Youzhe.


Bai Youzhe sadar wanita itu muncul di belakangnya dan langsung menghentakkan pedang yang menyerang. Kabut hitam muncul, menuju Gu Yuena dan akan melilit tubuhnya seperti jaring.


Secara spontan, Gu Yuena menggunakan sihir untuk menahan kabut hitam tersebut. Kekuatan Bai Youzhe pada umumnya masih lebih unggul. Karena Bai Youzhe tidak ingin menyakiti Gu Yuena, ia tidak menggunakan serangan mematikan yang akan sulit ditarik kembali. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Gu Yuena.


Namun, Gu Yuena sepertinya tidak akan segan-segan membunuh siapa pun di depannya, termasuk Bai Youzhe sendiri. Karena sihirnya tidak dapat menahan kekuatan Bai Youzhe, ia melepas sihir dan memanggil phoenix sebagai pertahanan utamanya.


Phoenix muncul menggantikan posisi Gu Yuena ketika sihir hilang. Kabut hitam itu lepas dari pertahanan sihir, lalu melilit phoenix tersebut. Sayap phoenix direntangkan lebar-lebar disertai kekuatan luar biasa yang menyebar, menyebabkan kabut hitam hancur saat itu juga. Gu Yuena melihatnya dengan puas di sudut lain.


Tapi sepertinya Bai Youzhe memiliki banyak akal di kepalanya. Ia tidak ingin repot menangani seekor phoenix. Jadi membiarkan kesadaran naganya menyerang dan melumpuhkan phoenix itu agar tidak bisa membantu. Sedangkan ia pergi mengejar Gu Yuena.


Seekor naga dan phoenix bertarung di antara kobaran api dan lahar di dalam perut gunung. Jika orang melihatnya, mereka pasti akan terpukau heboh.


Gu Yuena menggunakan kekuatan jiwa dan lingkaran sihir bersamaan untuk melakukan serangan. Kabut hitam di mana-mana, sihir merah di mana-mana, menyerang Bai Youzhe bersamaan. Sedangkan Gu Yuena berteleportasi melakukan serangan langsung ke arah pria itu untuk mendorongnya ke dalam serangan sihir yang ditanam di sekitar perut gunung.


Cambuk di tangannya berhadapan dengan kedua pedang Bai Youzhe. Cahaya merah muncul dari pedang Gu Yuena, berbenturan dengan cahaya hitam dari pedang Bai Youzhe. Gerakan Bai Youzhe lebih cepat dari Gu Yuena hingga selalu berhasil menghindari serangan sihir yang datang entah dari mana bersamaan dengan cambuk yang terus diulurkan.


Pria itu sulit ditangani, Gu Yuena akui itu. Namun, bukan berarti otak liciknya tidak berjalan.


Huh, bukankah pria itu sangat mementingkan nyawanya? Ia akan membuat hal tersebut menjadi bencana bagi Bai Youzhe.


Ia menutup mata. Iris hitam itu menghilang seketika membuat gerakannya berhenti, sedangkan Bai Youzhe meluncur ke arahnya dengan pedang yang dihunuskan.


Bai Youzhe terkejut ketika aura Gu Yuena meredup. Ia segera menghentikan langkah tepat di depan wanita itu. Sayangnya, insting Gu Yuena lebih cepat bereaksi akan bahaya dan langsung menggunakan pedangnya untuk menebas apa pun di sekitar.


Namun, ketika pedang itu nyaris saja menebas leher Bai Youzhe, tangannya mengambang di udara dalam keadaan kaku. Pupilnya mengecil, terlihat terkejut.


"Bai Youzhe?" Ia bingung sesaat, lalu melepas pedang di tangannya begitu saja—termasuk cambuk. Pedang itu menghilang di udara bersamaan dengan semua serangan yang ditujukan pada Bai Youzhe.


Gu Yuena bingung mengapa ia tiba-tiba terbangun. Detik berikutnya, dadanya merasakan rasa sakit luar biasa yang membuatnya memuntahkan darah. Itu adalah reaksi kekuatan jiwa yang baru saja digunakan.


Bai Youzhe khawatir. Ia langsung meraih Gu Yuena, tapi Gu Yuena justru mundur dalam keadaan kacau.


"Apa yang terjadi?" Gu Yuena tidak ingat apa pun. Ia memegang kepalanya yang sakit.


Bai Youzhe di sisi lain semakin yakin bahwa Gu Yuena telah dikendalikan hal lain.


"Aku ingin membunuhmu." Gu Yuena bergumam, lalu tertawa miris. Kepalanya yang sakit memberi gambaran mengenai apa yang baru saja terjadi. Itu mengejutkannya. Kenyataan bahwa ia nyaris saja membunuh Bai Youzhe.


Bai Youzhe ingin menenangkan Gu Yuena, tapi wanita itu terus menjauh darinya dengan perasaan takut. Itu membuat Bai Youzhe gelisah.


"Nana—"


"Bagaimana jika aku membunuhmu?" Gu Yuena khawatir.


"Itu tidak akan terjadi." Bai Youzhe mencoba meyakinkan Gu Yuena. "Itu bukan kamu."


Gu Yuena merasa furstrasi. "Kau tidak tahu ...." Itu adalah dia. Wanita itu adalah dia! Mengetahui bahwa ia ingin membunuh Bai Youzhe, ia dibuat takut oleh dirinya sendiri.


Yang lebih ia takutkan, Bai Youzhe tidak melawan ketika ia akan membunuhnya. Gu Yuena takut, ketika ia sadar, tangannya sudah dipenuhi darah.


Wanita sialan itu ....


Gu Yuena membenci dirinya sendiri. Ia harus bisa mengendalikan kesadarannya sendiri agar tidak lepas kendali lagi.


Kenapa ia ingin membunuh Bai Youzhe?


Apa karena Bai Youzhe ada di sisi yang berlawanan darinya? Atau karena ia membenci rasa ketergantungan terhadap darah naga? Atau karena ingin menguasai Dunia Bawah? Atau karena ia benci kehidupannya sendiri?


"Kau tahu jawabanmu."


Gu Yuena menutup telinganya. Wanita itu lagi-lagi mendatanginya. Ia tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Ada rasa ingin membunuh segalanya di dalam hatinya. Ia membenci dunia ini. Ia ingin membunuh mereka semua!


Bai Youzhe memeluk Gu Yuena yang tampak frustrasi sambil menutup telinga itu. Ia memeluk dengan erat, tidak membiarkan Gu Yuena lepas dan menjauhinya karena sebuah rasa takut.


"Tidak akan terjadi sesuatu, kamu hanya perlu yakin akan hal itu. Kamu adalah Gu Yuena, bukan orang lain dan tidak akan menjadi orang lain."


"Bagaimana jika aku benar-benar ingin membunuhmu?" Gu Yuena berkata tanpa fluktuasi emosi.


"Kenapa kamu ingin membunuhku? Jika ada yang membuatmu kesal, aku akan menggantikanmu membunuhnya—termasuk diriku sendiri."


Gu Yuena terdiam. Bai Youzhe terlalu enteng mengatakannya. "Bodoh."


Bai Youzhe sedikit tersenyum. Namun, belum ada setengah menit, sebuah bilah muncul tepat akan menusuk perutnya. Bai Youzhe spontan menangkap bilah pedang yang muncul tersebut dengan tangan kosong.


Ia melihat Gu Yuena yang lagi-lagi memiliki warna mata hitam di salah satu matanya. Ia tidak melepaskan pelukan, sedangkan tangan satunya menarik pedang yang dipegang Gu Yuena. Ia mengabaikan tangannya yang tersayat begitu dalam sampai mengalirkan darah agar Gu Yuena dapat melepaskan pedangnya.


Ada rasa terkejut di mata wanita itu, tapi juga rasa dingin. Sepertinya tekanan yang dialami Gu Yuena begitu mengguncangnya.


Gu Yuena melepas pelukan dengan paksa. Antara sadar atau tidak sadar, ia terus berusaha lepas. Namun, Bai Youzhe tidak membiarkannya pergi.


"Lepaskan aku!" teriak Gu Yuena sambil berusaha mendorong Bai Youzhe. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan spiritualnya tanpa sebab.


Bai Youzhe baru saja akan menutup titik kesadaran Gu Yuena, tapi Gu Yuena tiba-tiba menggunakan hipnotis dari tatapannya sehingga membuat Bai Youzhe berhenti.


Sadar sesuatu mengacaukan pikirannya, Bai Youzhe menutup mata menghindari pandangan Gu Yuena. Gu Yuena mengambil kesempatan itu untuk meloloskan diri.


Pedang yang direbut Bai Youzhe sebelumnya kembali. Gu Yuena mengacungkan pedang itu di depannya. Namun, ketika ia mundur beberapa langkah, ia menyadari kehadiran seseorang.


Gu Yuena menebaskan pedangnya begitu saja ke belakang. Orang itu langsung mundur, menangani tekanan dari pedang sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.


Itu adalah Yang Xinyuan.