
Jauh di pangkalan militer Istana Linghun yang telah menduduki Kota Ming, suasana pangkalan sangat sepi setelah Ratu Istana Linghun meminta beberapa penyihir tingkat tinggi untuk kembali ke istana. Hanya ada makhluk kematian yang berjaga seperti patung di tiap wilayah serta beberapa penyihir yang ditugaskan menjaga pangkalan dan memantau musuh.
Meskipun yakin pihak Kekaisaran Yi tidak akan menyerang untuk saat ini, Li Hua tetap meninggalkan beberapa penyihir tingkat tinggi di pangkalan untuk mencegah situsi tak terduga terjadi. Salah satunya adalah pria ramping di dalam tenda yang baru saja menerima kabar dari pihak Istana Linghun melalui surat sihir.
Begitu pesan tersampaikan, dia menunjukkan senyum mencibir ketika melihat rekan-rekannya yang sedang bermain catur dengannya. Yang satu adalah wanita dengan tampilan menggoda dan sepasang mata rubah yang cantik, lainnya adalah pria pendek dengan wajah malas. Keduanya juga menerima pesan yang sama.
"Kali ini, Raja Neraka telah membuat kesalahan besar. Apa menurutmu Yang Mulia Ratu akan menghukumnya?" tanya pria ramping itu.
Sang wanita tertawa kecil, "Mana ada? Raja Neraka sangat penting. Meskipun dia melakukan kesalahan sebesar itu, setidaknya dia memiliki kesetiaan, tidak seperti putri kami yang memutuskan hubungan. Hanya saja, kali ini Ratu benar-benar marah. Aku takut, dia benar-benar akan menghabisi semuanya sendiri nanti untuk melampiaskan amarah."
"Huh, seharusnya kita masih bisa menyerang pertahanan akhir Kekaisaean Yi." Pria pendek itu mendengus. Melihat tampilan menyedihkan orang-orang Kekaisaran Yi di bawahnya, dia benar-benar mencibir betapa lemah mereka.
Dulu semua orang menimpuk penyihir dengan batu dan mengucilkan mereka, memperlakukan mereka lebih rendah dari binatang. Sekarang, merekalah yang lebih rendah dari binatang yang akan disembelih.
"Ratu memiliki alasannya sendiri menarik pasukan. Situasi Dunia Bawah juga tidak bagus." Pria ramping itu berpikir sejenak, lalu tersenyum jahat. "Jadi ... siapa yang akan mengambil tugas menantang kali ini? Meski Kekaisaran Yi dalam kondisi terpuruk dan Kaisar terluka parah, para penguasa istana telah berkumpul di Kota Shui. Mereka akan sulit ditangani."
"Kurasa hanya kamu yang beranggapan seperti itu. Selain Istana Tianshuang, yang lainnya hanya semut. Bukankah kita hanya perlu menunggu orang-orang Istana Tianshuang pergi?" kata pria pendek.
Wanita itu mendesis, "Oleh karena itu, kita harus bergerak diam-diam. Selama mereka menurunkan kewaspadaan dan memberi jalan bagi kita, kita bisa melangkah lebih maju dari mereka. Penguasan lima istana memang penuh kewaspadaan, tapi apa kau masih harus memperhatikan Putra Mahkota yang bahkan tidak bisa bertahan lama di medan perang? Meski dia cukup merepotkan pasukan makhluk kematian kita, dia bukan apa-apa di mata kita."
"Kalau begitu, apa ada yang punya rencana?" tanya pria pendek.
Pria ramping menatap wanita cantik di depannya, lalu berkata, "Mungkin, aku masih akan membutuhkan bantuanmu di masa depan. Putra Mahkota Kekaisaran Yi sangat mementingkan rakyat jelata. Memanfaatkan kasih sayangnya untuk membunuh Kaisar, itu adalah pukulan yang mengerikan."
Wanita itu langsung mengerti apa yang dikatakan rekannya. Senyumnya merekah sangat cantik dan berbahaya, sebelum akhirnya tertawa memikirkan bagaimana reaksi semua orang ketika terpengaruh di bawah sihirnya.
Mereka tidak tahu, seekor phoenix kecil melintas di tenda mereka dan pergi ke langit.
***
Selama di Kota Shui, Gu Yuena tidak memiliki banyak kerjaan. Dia hanya melihat situasi, mendengarkan analisis dan pendapat semua orang mengenai masalah militer. Dia tidak pandai militer, hanya tahu cara membunuh. Jadi dia tidak memiliki pendapat apa pun mengenai hal ini.
Bai Youzhe baru saja pergi ke Dunia Bawah setelah menceramahinya agar tidak melakukan hal gila seperti di masa lalu dan tidak gegabah di medan perang. Entah sudah berapa kali Bai Youzhe mengingatkannya agar memanggilnya bila situasi medan perang menjadi tidak bagus. Pria itu benar-benar khawatir dan tidak melepaskan Gu Yuena setiap saat sampai akhirnya pergi ke Dunia Bawah.
Gu Yuena baru bebas sekarang. Dia berkeliling bersama Chu Xin di sisinya, mengamati situasi kota yang dipenuhi pengungsi. Huang Jingtian sebenarnya membuka pintu kecil di gerbang kota untuk menerima pengungsi dan membawa mereka ke ibu kota untuk mendapat perlindungan. Pengungsi ini adalah orang-orang yang berhasil melarikan diri dari kota-kota yang dikuasai Istana Linghun.
Gu Yuena mengerutkan kening, merasa keputusan ini terlalu tergesa-gesa. Ia pun pergi menemui Huang Jingtian yang tengah memantau jalannya pengungsian dan orang-orang mengantre.
"Apa kau yakin ini akan membantu?" tanya Gu Yuena.
Huang Jingtian meliriknya, lalu berkata, "Kamp pengungsian utama sudah penuh. Aku hanya bisa menampung mereka di ibu kota sebagai langkah akhir. Para pejabat sudah mengatur tempat pengungsian untuk mereka tinggal. Jumlahnya sangat banyak. Jika ingin membangun kamp pengungsian di tempat lain, membutuhkan sangat banyak waktu."
Huang Jingtian tidak salah. Hanya saja ... Gu Yuena merasa tidak nyaman. Orang-orang ini melepaskan diri dari Istana Linghun dan membutuhkan perlindungan, tapi di sisi lain juga memiliki resiko penyusup atau mata-mata pihak musuh.
"Istana Linghun tiba-tiba menarik pasukannya. Ini memang mencurigakan sehingga kita harus waspada setiap saat. Kamu tenang saja. Aku sudah meminta penjaga untuk memeriksa tiap orang dan memastikan bahwa mereka adalah manusia biasa dan rakyat Kekaisaran Yi."
Gu Yuena mengangguk paham. "Ya, aku tidak akan mengganggumu lagi." Ia pikir kalau ia hanya merasa gelisah karena dekat dengan musuh dan akan maju ke medan perang. Ia tidak berpikir lebih banyak dan pergi.
Di kerumunan rakyat pengungsi, sosok wanita tua dengan tongkat di tangannya melihat ke arah Gu Yuena yang meninggalkan area. Ia menyipitkan matanya, sebelum akhirnya masuk ke dalam kota dan lolos pemeriksaan.
Gu Yuena menghentikan langkah sejenak, lalu berbalik untuk melihat ke arah para pengungsi. Dia merasakan adanya fluktuasi sihir aneh dari sana. Namun, tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak akibat tertutupi aura manusia biasa.
Untuk kesekian kalinya, Gu Yuena mengutuk diri sendiri karena tidak bisa melihat. Ia pun pergi dengan perasaan tercampur aduk.
"Yang Mulia." Vale muncul secara tiba-tiba dengan senyuman yang terpatri. Dia menjadi lebih hidup setelah berlama-lama di istana bersama Su Churan dan yang lain.
Gu Yuena berkata, "Kenapa kamu di sini?"
"Aku di sini untuk menemani Yang Mulia. Raja Bai berkata bahwa Yang Mulia kesepian dan harus ada seseorang yang menjaga. Chu Xin dan Tetua Su saja tidak cukup."
Jadi dia diperintahkan oleh Bai Youzhe. Sejak kapan bocah ini menuruti perkataan pria itu? Biasanya, tiap kali melihat Bai Youzhe, dia akan bersembunyi seperti tikus.
"Yang Mulia, aku juga akan menemanimu!" Zhou Ying tiba-tiba muncul dari belakang.
Gu Yuena merasa bahwa Bai Youzhe lebih menjadikannya penampungan anak-anak nakal dibandingkan mengirimkan mata-mata. Chu Xin di sisi lain hanya menahan tawa.
"Bagus kalian di sini. Lalu, aku akan merepotkan kalian untuk membantuku. Vale, buatlan surat pada Childe secepatnya bahwa dia harus menyiapkan pasukan dalam waktu dekat. Sedangkan kamu, Zhou Ying, tetap di sini dan pantau situasi gerbang kota, kirimkan laporan padaku tiap dua jam."
Keduanya membeku saat itu juga. Mereka berdua saling pandang, lalu mengangguk cepat. Meski tidak ingin, mereka tetap harus mematuhi perintah dan segera pergi melakukan tugas masing-masing.
Chu Xin sangat senang karena hanya perlu melayani di sisi Gu Yuena. Namun, sebelum dia benar-benar lega dan menertawakan dua bocah itu, Gu Yuena memberinya tugas lain.
"Kamu siapkan pasokan untuk pasukan aliansi. Dalam waktu dekat, mereka harus sudah tiba di bawah kepemimpinan Childe. Jangan sampai ada yang terlewat."
"...."
Tugas yang dibebani pada Chu Xin justru lebih berat!
Chu Xin ingin menangis tanpa air mata.
Setelah membebani mereka dengan tugas-tugas, Gu Yuena dengan senang hati kembali ke tenda yang disiapkan Huang Jingtian khusus untuk penguasa 5 istana.
Namun, sebelum Gu Yuena tiba di tenda, seekor phoenix kecil berteriak di langit dan mendarat di bahu Gu Yuena. Phoenix itu membisikkan sesuatu ketika duduk di bahu Gu Yuena.
Merasakan perubahan emosi Gu Yuena, phoenix itu langsung terbang ke langit disertai teriakan khas. Sosok merah itu menghilang di antara awan.
Sedangkan Gu Yuena bergegas memutar badannya dan menghilang dalam cahaya merah. Ia terburu-buru dan menggunakan cara paling cepat untuk pergi.
Kembali ke gerbang istana, Gu Yuena yang tiba di sisi Huang Jingtian segera berseru, "Tutup gerbang kota!"
Huang Jingtian terkejut, semua orang juga. Dia melihat Gu Yuena yang panik itu dengan penuh tanda tanya.
Sadar terhadap tatapan Huang Jingtian, Gu Yuena langsung berkata, "Ratu Istana Linghun berniat membunuh Kaisar. Seseorang telah menyudup ke dalam kota dan akan menarget Kaisar. Huang Jingtian, perintahkan semua orang untuk menutup semua jalur keluar-masuk kekaisaran."
"Apa?" Huang Jingtian sangat terkejut. Tanpa mengatakan apa pun, dia buru-buru pergi dan mengerahkan semua orang untuk memeriksa berbagai tempat dan menutup jalur keluar-masuk kekaisaran.
Dia tidak mempertanyakan pengamatan Gu Yuena, karena sebelumnya dia dan 5 penguasa istana telah sepakat bahwa Gu Yuena akan melakukan pengawasan ke markas musuh melalui phoenix. Jika katanya ada masalah, maka benar-benar ada masalah. Apalagi ini menyangkut keselamatan Kaisar.
Dalam sekejap, berita tersebut sampai di ibu kota di mana Kaisar berada. Semua jalur ditutup. Penjagaan Kaisar yang sakit semakin diperketat. Prajurit tersebar ke seluruh wilayah menemukan sosok yang mencurigakan.
Namun, itu saja tidak cukup untuk menghentikan seorang penyihir tingkat 9. Setelah menyamar sebagai wanita tua untuk memasuki Kota Shui, dia segera pergi ke Ibu Kota dan melewati penjagaan sebelum kabar phoenix disampaikan.
Wanita tua berubah menjadi wanita cantik yang menggoda dengan mata rubah yang mempesona. Dia tidak mengenakan pakaian mencolok, berjalan di ibu kota melewati kerumunan dengan tenang dan pergi ke arah istana. Wajahnya dipenuhi senyuman.
"Huang Jingtian, kaulah yang membiarkanku masuk." Dia bergumam dengan nada mengejek setelah mendengar bahwa penyusup telah masuk.
Menjadi wanita tua tidak pernah menghilangkan keberuntungannya. Dengan harta pemberian Li Hua, dia bisa menyamarkan aura dan keberadaannya sebaik mungkin agar tidak diketahui.
Bahkan Gu Yuena tidak bisa melacaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jin Xiao menguap lelah dengan semua kekacauan tak terduga ini. Seseorang ingin membunuh tua bangka itu? Siapa yang peduli? Dia sama sekali tidak peduli.
"Kalaupun dia mati, bukankah masih ada Huang Jingtian?" Jin Xiao mendengus di dalam tenda. Dia menolak memberi bantuan.
"Kematian Kaisar pasti akan menyebabkan banyak masalah. Meski lima istana tidak terkena dampak secara langsung, kita masih mengalami kerugian. Ditambah, jika Kekaisraan Yi benar-benar jatuh ke tangan Istana Linghun, kita tidak memiliki kesempatan membalikkan keadaan," kata Yun Qiao.
"Kali ini, sepertinya kita harus mengerahkan kekuatan kita untuk melindungi Kaisar. Bagaimanapun, kunci utamanya adalah Kekaisaran Yi. Jika terjadi pergolakan tahta di kekaisaran, segalanya akan menjadi lebih rumit seperti yang terjadi pada Wyvernia," kata Geng Ji.
Jin Xiao mendengus, "Kalian semua tidak sependapat denganku, jadi untuk apa meminta pendapatku? Bergabunglah dengan Gu Yuena dalam perang. Istana Luye tidak memiliki seseorang dengan kekuatan bertarung yang kuat dan hanya bisa menyumbang pil."
"Apa kau harus bersikap seperti ini?" Yun Qiao menghela napas.
"Nyatanya, meskipun kalian bergerak sekalipun, tetap tidak bisa menghentikan penyusup itu. Ratu Istana Linghun tidak mungkin membiarkan orang biasa masuk ke kandang musuh untuk misi sebesar itu. Dia pasti mengirim penyihir tingkat tinggi dan telah berhasil menerobos ibu kota. Salahkan Huang Jingtian yang terlalu baik menerima pengungsi dari luar dan memberi kesempatan bagi musuh untuk masuk dan merusak bagian internal."
Yun Qiao mengerutkan kening. "Ini bukan masalah menerima pengungsi atau tidak."
Ia hampir lupa bahwa Jin Xiao adalah wanita berhati dingin yang telah menyingkirkan saudara-saudaranya untuk mendapatkan tahta. Wanita itu mewajarkan korban perang terlantar di luar tanpa perlindungan. Huang Jingtian sebagai calon kaisar juga pasti bingung saat ini.
"Intinya, aku tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Aku telah memberi bantuan sesuai keinginan kalian dan tidak memiliki waktu untuk melindungi Kaisar. Kaisar sudah lama sakit dan tidak bisa memimpin dengan baik, kenapa tidak sejak awal memindahkan posisi itu pada Putra Mahkota?"
"Kamu ...."
"Jin Xiao, Yun Qiao, jangan berdebat lagi. Gu Yuena telah berada di luar mencari penyusup itu, apa kalian akan terus berdebat sampai perang berakhir?" Geng Ji segera menengahi. Ia pikir Jin Xiao memang kelewatan, tapi semua kata-kata bukannya tidak berdasar dan sangat masuk akal. Jadi tidak tidak bisa menyalahkan keduanya.
Sebagai penguasa istana, mereka tidak memiliki kewajiban untuk membantu kekaisaran, apalagi melindungi kaisar. Tapi demi perang ini, mereka telah mengerahkan banyak kekuatan dan mengesampingkan semua perselisihan untuk bersatu dalam perang.
Berdasarkan sudut pandang penguasa istana, tindakan Jin Xiao adalah hal normal.
"Aku akan meminta murid istana untuk mencari penyusup." Geng Ji telah membuat keputusan. Jin Xiao memutar bola mata.
Menurutnya, itu adalah hal sia-sia. Bahkan Gu Yuena dengan persepsi tajam masih belum menemukan penyusup, apalagi mereka?
Yun Qiao secara otomatis akan pergi menemui Gu Yuena dan mencari bersama-sama. Dia akan mengerahkan murid istana untuk melindungi kaisar.
Sedangkan Tai Han, pria tua itu memutuskan untuk berada di istana kekaisaran dan berjaga di sana sambil memantau kondisi kaisar. Tai Han tidak ingin terlalu banyak terlibat dalam perselisihan antara istana dan memilih berjalan sendiri dan mengambil keputusan sendiri.
Jin Xiao sama sekali tidak didukung di sini, jadi dia hanya bisa duduk diam sambil menggerutu sepanjang hari.
Gu Yuena dan Yun Qiao masih mencari di tiap sisi. Sampai akhirnya keduanya tiba di ibu kota, mereka menghentikan pencarian ketika Gu Yuena menyadari sesuatu.
"Istana Kaisar, cepat!" Gu Yuena langsung pergi ke istana. Yun Qiao mengikuti, tapi penerbangannya terhenti begitu merasakan sesuatu tak terlihat membenturnya dari bawah dan membuatnya jatuh ke tanah.
Gu Yuena terkejut dan akan membantu Yun Qiao. Tapi sosok hitam tiba-tiba muncul entah dari mana membawa mimpi buruk bagi Gu Yuena.
"Sial!"
"Xiao Yuena, aku akan menahan mereka!" Yun Qiao baru-baru ini menerobos tingkat 9 setelah cukup lama berlatih di Dunia Bawah mengikuti Su Churan. Dia bisa menangani sosok aneh berkabut ini sendirian.
Namun, Gu Yuena jelas merasa gelisah. Sosok itu ... adalah sosok yang merenggut segalanya darinya. Itu juga adalah sosok yang ia lihat di Kediaman Adipati Gu dan mengejarnya. Jika tidak ada Bai Youzhe saat itu, dia mungkin tertangkap.
"Hati-hati." Gu Yuena tidak memiliki waktu untuk menangani kabut hitam itu dan pergi ke istana.
Ia merasa, lawannya kali ini tidak akan mudah.