
"Xiao Yuena, muridku yang menyedihkan, akhirnya kamu ingat arah untuk kembali~" Yan Shuiyin dengan aksen mabuknya menyambut kedatangan Gu Yuena di depan pintu. Penampilan pria wanita itu sangat jorok.
"Ya, aku kembali." Gu Yuena yang awalnya bersikap seolah tidak terjadi apa pun, kini tersenyum tipis.
Yan Shuiyin melihat ke segala arah seolah mencari sesuatu. "Di mana bocah itu?"
Gu Yuena paham siapa bocah yang dimaksud Yan Shuiyin. Ia hanya menjawab dengan santai sambil memasuki paviliun. "Entahlah, aku tidak bertemu dengannya ketika dalam perjalanan ke sini. Ah, sebelumnya kami memang bertemu. Tapi aku memutuskan untuk mengambil arah yang berbeda."
Yan Shuiyin mendengus, "Belakangan ini bocah itu sering menghilang. Aku harap dia tidak kembali untuk merepotkanku. Dia bahkan belum membayar biaya sewa."
Gu Yuena terkekeh, lalu mengambil anggur yang masih utuh di atas meja. "Bagaimana jika merayakan kepulanganku? Kali ini, aku akan menemanimu minum."
Yan Shuiyin menyambar botol anggur di tangan Gu Yuena dengan serakah dan pelit. Ia melihat gadis itu waspada. "Jangan sentuh barangku!"
"Biasanya kau menawarkanku untuk menemanimu minum."
"Itu hanya basa-basi. Anak-anak sepertimu tidak boleh minum, tidak baik untuk kesehatan." Yan Shuiyin kini meninggikan nada suaranya seperti mamarahi anaknya sendiri.
Gu Yuena cemberut. "Guru, aku ingin mabuk sebentar." Ia menyentuh dadanya dengan dramatis. "Aku baru saja ... merasakan sakit hati ... mungkin?"
"Heh, memangnya ada pria yang berani menyakitimu? Jangan mengada-ada!" Ia bahkan ragu ada pria waras yang berani mendekati muridnya yang aneh ini. Kalaupun ada, apa Gu Yuena akan selembek ini?
"Apa kau sedang meragukan pesona muridmu ini? Ada banyak sekali pria mengerikan di luar saja, dan aku meninggalkan mereka. Tapi aku merasa tidak nyaman."
Yan Shuiyin tertawa terbahak-bahak. "Kalau itu aku baru percaya." Mana mungkin muridnya yang galak ini yang ditinggalkan, pasti perempuan itulah pelaku yang meninggalkan pria. Memang sangat cocok menjadi muridnya.
"Guru, aku merasa tidak nyaman." Gu Yuena memperjelas situasinya.
"Tidak nyaman? Apa kau menyesal?" Yan Shuiyin melihat perempuan itu dengan cengiran mengejek.
"Entahlah. Aku hanya merasa ... kasihan? Aku kasihan pada diriku sendiri." Gu Yuena duduk sambil menopang dahunya dengan kedua tangan. Ia galau sepanjang waktu.
Yan Shuiyin mengerti maksud Gu Yuena. Darah phoenix menghentikannya menyukai seseorang, meski ingin.
"Aku jadi penasaran siapa pria yang kau maksud." Yan Shuiyin menatapnya penuh pertimbangan. Tapi yang ditatap hanya melihat dengan waspada. Ia pun terkekeh, "Baiklah, jika kau beritahu, aku akan memberimu sebotol anggur."
Gu Yuena mendekati gurunya itu, berniat menanyakan sesuatu. "Guru, apa mungkin seseorang bisa menyukai dua orang bersamaan?"
Yan Shuiyin melihat muridnya dengan aneh. Menyukai dua orang? Apa muridnya ini mengalami cinta segitiga yang memuakkan? Pantas saja dia menjadi galau.
"Mungkin itu bisa terjadi. Tapi tetap saja, kau hanya bisa memilih salah satunya. Pikirkan siapa yang lebih kau percayai. Karena kepercayaan adalah satu-satunya senjata untuk keberhasilan sebuah hubungan. Ambillah contoh dari ayahmu di Kekaisaran Yi. Apa dia mempercayai istrinya? Tentu saja tidak, itu sebabnya dia memiliki istri lain melalui ketertarikan sesaat. Kau harus bisa membedakan yang mana cinta dan ketertarikan sesaat."
"Cinta?" Gu Yuena bertanya-tanya. "Aku tidak berpikir aku mencintai seseorang, apalagi menikah sembarangan seperti Gu Shan." Dipikir-pikir, kenapa ibunya bisa menikah dengan orang seperti itu?
"Kalau begitu sendiri saja seumur hidup." Yan Shuiyin berdecak sebal. Muridnya ini terlalu kaku untuk masalah percintaan.
"Jadi, apa sebaiknya aku membuang semua itu? Lagi pula aku akan mati, tidak akan ada yang mengingatnya." Gu Yuena menghela napas. Ia mengambil botol anggur diam-diam, tapi Yan Shuiyin menahan botol anggur yang akan dicuri muridnya.
"Kata siapa tidak akan ada yang mengingatnya? Meski kau akan mati, kau tidak boleh mati sia-sia dan menghilang begitu saja. Setidaknya, aku menerima murid bukan untuk disia-siakan." Yan Shuiyin, mendengus kesal, lalu merebut anggur kedua yang ingin dicuri Gu Yuena.
"Apa kau tidak bisa meringankan sedikit?" Gu Yuena tersenyum kecut.
"Jujur saja padaku, kau bimbang antara memilih orang itu dan bocah yang tidak bayar sewa, 'kan?"
"Siapa orang itu?" Sebenarnya Gu Yuena memiliki dugaan, tapi ia tidak ingin membuat kesalahpahaman.
"Bagaimana aku bisa tahu namanya jika kau tidak memberitahu? Orang yang pernah membuat banyak murid tidak lulus dan menakuti dekan halaman luar."
"Oh, itu." Dugaannya benar.
"Benar, 'kan?" Yan Shuiyin mendengus ketika melihat Gu Yuena yang hanya diam sambil menunduk. Dugaannya tidak salah lagi. "Sudah kukatakan, jangan mudah percaya pada pria. Sudah cukup aku yang menjadi bodoh, jangan tertular ke dirimu."
"Aku tidak tergila-gila sampai jadi bodoh." Tanpa sadar Gu Yuena menyindir gurunya sendiri sampai Yan Shuiyin terdiam. Padahal ia tidak berniat seperti itu. Gu Yuena melanjutkan, "Aku merasa bingung dan tidak nyaman. Tapi aku sudah memutuskan meninggalkan segalanya."
"Itu bagus."
"Aku tidak akan memikirkan orang lain lagi," lanjut Gu Yuena.
"Fokuslah pada kultivasimu."
"Aku akan mencari Istana Linghun kalau perlu."
Yan Shuiyin langsung menjitak dahi Gu Yuena dengan geram. "Apa kau memang tidak pernah mendengarkan kata-kataku?"
"Tapi ... seseorang berkata ibuku masih hidup dan menjadi Ratu Istana Linghun." Gu Yuena bicara sambil mengusap dahinya yang dijitak. Lumayan sakit.
Setelah mendengar kata-kata Gu Yuena, Yan Shuiyin terdiam tanpa bisa mengatakan apa pun.
Itu memang benar.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali, apa itu salah?" Gu Yuena mengeluh lagi.
Yan Shuiyin melihat Gu Yuena dengan tatapan rumit. Setelah beberapa saat berpikir, ia menyodorkan sebotol anggur untuk Gu Yuena. Ia tidak bisa mengatakan apa pun sehingga harus mengalihkan topik ini.
"Masih terlalu muda bagimu untuk mengetahuinya." Yan Shuiyin meletakkan botol anggur itu ke tangan Gu Yuena. "Temani aku minum."
Gu Yuena mengerjap mata. "Kau bilang aku masih terlalu muda."
"Kau sudah 19 tahun, 'kan? Tidak masalah."
"Bagaimana kau tahu?" Gu Yuena penasaran. Hari ini memang seharusnya adalah hari ulang tahunnya. Itu sebabnya, ia sangat ingin minum untuk menyingkirkan semua beban pikiran dan kesedihannya.
"Anggap aku ini cenayang."
Gu Yuena tersenyum tipis. Apa pun alasannya, ia tidak akan bertanya lebih jauh. Toh, itu bukan rahasia meski tidak banyak yang tahu.
Yan Shuiyin tahu Gu Yuena tidak menyukai ulang tahun, jadi memberinya minum anggur untuk melupakan kesedihan—sekaligus mengalihkan topik.
Awalnya wanita itu tidak berencana begitu, melainkan membuat Gu Yuena sesibuk mungkin untuk melupakan kesedihan. Tapi, minum dengannya juga tidak buruk.
Mereka sudah lama tidak bertemu.
"Nanti, jangan lupa tentang tujuanmu pergi ke Istana Yuansu. Setelah tingkatan kekuatanmu mencapai tingkat 6, aku akan segera membawamu."
Gu Yuena diam untuk beberapa saat ketika hendak membuka botol anggur di tangannya. Ia melihat Yan Shuiyin, "Aku baru-baru ini menerobos tingkat 6."
Saat itu juga, Yan Shuiyin tersedak anggur yang diminumnya sampai batuk-batuk. Apa kata gadis itu barusan? Menerobos tingkat? Bagaimana bisa secepat itu!
"Kau serius?" Yan Shuiyin menatapnya tidak percaya. Mimpi apa ia semalam?
Gu Yuena hanya mengangguk diikuti dengan cengiran. Ia membuka tutup botol anggur, lalu melakukan cheers dengan gurunya yang sedang tertegun.
Setelah sadar dari kesurupan, Yan Shuiyin barulah melihat Gu Yuena yang asik meneguk anggur di botol dan menggebrak meja seperti orang marah.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi? Tahu begitu, aku langsung saja membawamu ke Istana Yuansu!"
Teriakan Yan Shuiyin membuat Gu Yuena nyaris tersedak. Gadis itu melihat gurunya dengan tatapan menuduh, tapi langsung menurunkan pandangan ketika melihat wanita yang penuh api itu.
"Kau tidak bertanya." Gu Yuena membalas acuh tak acuh. "Lagi pula, aku mengalami kecelakaan ketika menerobos dan tidak mendapatkan kekuatan secara sempurna. Masih ada beberapa latihan yang harus dilakukan."
Yan Shuiyin akhirnya mau tenang setelah Gu Yuena menjelaskan secara singkat. Wajar jika mengalami kecelakaan. Penerobosan secepat itu pasti ada konsekuensi tertentu. Entah apa saja yang dialami murid kecilnya yang berumur pendek ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perbatasan Wirefall yang merupakan perhutanan kini dipenuhi aura sesak. Beberapa kuda melaju ke arah kota, membawa aura buruk yang akan membuat siapa pun berpikir bahwa mereka bukanlah orang baik.
Ada sekitar 30 manusia melajukan kuda dengan seragam khas. Dua di antaranya—di barisan depan—memiliki penampilan mencolok dan tampak sudah berkepala 4. Ia memimpin kelompoknya dengan suara tegas mendekati kota.
Klan Lin, itulah mereka. Sebuah klan besar yang mengabdi pada Istana Yuansu. Namun belakangan ini, Istana Yuansu mengabaikan mereka karena fokus pada harta yang hilang.
Mereka telah diutus untuk mencari giok es yang dicuri, namun mereka justru melenceng mencari harta yang muncul selama ribuan tahun sekali di pegunungan utara karena tidak ingin melewatkan kesempatan berharga dan memanfaatkan akomodasi istana.
Air mata naga es.
Bahan utama pembuatan pil pereda racun api yang langka. Racun api tidak hanya menjangkiti pemilik darah phoenix, tapi juga beberapa pemilik elemen api dengan kekuatan tinggi. Selain sebagai bahan utama pil, air mata naga es juga dapat digunakan sebagai senjata berelemen es yang dibuat oleh seorang forge. Senjata itu akan lebih kuat dari senjata biasa.
Tapi ketika mereka akan mengambil harta berharga itu, seorang pria bertopeng entah dari mana muncul begitu saja mengambil air mata naga es dan membunuh banyak utusan klan.
Tidak hanya Klan Lin saja yang menginginkan harta tersebut. Ada beberapa klan lainnya yang mengutus kultivator terhebat mereka untuk berebut harta. Sayangnya dibunuh oleh seorang pria muda yang membangkitkan kemarahan semua orang, dipimpin oleh Klan Lin.
Mereka membentuk sebuah kerja sama untuk mencari pria tersebut. Sampai akhirnya, jejak pria misterius itu ditemukan secara tak terduga di Wyvernia, tepatnya di Wirefall. Mereka langsung bergegas pergi dari Klan Lin menuju Wyvernia.
"Apa menurutmu dia adalah orang Wyvernia? Kita tidak bisa masuk kota begitu saja tanpa bawaan dari pihak dalam." Salah satu dari dua pria paruh baya itu meliht gerbang kota dengan sekptis.
Meskipun mereka berasal dari klan besar, tetap dibutuhkan undangan khusus untuk memasuki wilayah Wyvernia. Ini pun mereka harus melalui hutan untuk memotong jalan utama.
"Tidak, dia bukan orang Wyvernia." Pria tua beriris hijau keruh dari Klan Lin ingat dengan jelas bahwa pria yang ia temui memiliki fitur wajah orang timur—walau ditutup topeng. Meski hanya bicara beberapa kata, bahasa yang digunakan juga bahasa Kekaisaran Yi.
"Hah, orang ini benar-benar licik!"
"Aku akan mencari seseorang untuk membantu kita memasuki Wirefall." Pria beriris hijau keruh memacu kudanya ke arah gerbang.
Di malam yang begitu sunyi ini, hanya ada beberapa penjaga yang berjaga di gerbang kota. Mereka memiliki pakaian khusus sebagai kesatria dari Marquess Gill sebagai penguasa Wirefall.
Kedatangan utusan beberapa klan kali ini akan menarik perhatian sang marquess.
Tapi belum sempat ia memanggil seorang kesatria, para kesatria di gerbang kota runtuh seketika seolah telah memakan banyak obat tidur.
Pria beriris hijau keruh terlihat begitu waspada. Ia buru-buru kembali ke kelompoknya, sebelum akhirnya menemukan sosok hitam berdiri di atas gerbang kota seorang diri bagai patung tunggal yang agung.
Jubah hitam sosok itu berkibar terbawa angin. Wajahnya yang tertutupi topeng, tidak menutupi ketampanannya yang membuat banyak orang terkejut.
Dia masih terlihat sangat muda. Kira-kira, usianya seharusnya masih awal 20. Tapi tekanan yang diberikan lebih besar dari seorang bocah awal 20.
Pria beriris hijau berteriak ke arahnya, "Jadi itu kamu. Aku sarankan padamu untuk menyerah dan menghadap masing-masing ketua klan karena telah menyinggung orang yang salah! Klan Lin juga tidak akan mengampuni siapa pun yang melakukan pembunuhan terhadap anggotanya!"
Pria bertopeng itu tersenyum dingin. Suasana hatinya sedang buruk, pas sekali mereka datang mendaftarkan diri di gerbang neraka.
Mereka tidak akan mengampuninya? Omong kosong, ia tidak butuh pengampunan.
Sosok itu menghilang tanpa mengatakan apa pun. Hal tersebut membuat kelompok persatuan klan waspada dan memulai membuat formasi pertahanan.
Jumlah mereka sangat banyak, sebagus apa pun kemampuan pria itu, tetap membutuhkan waktu untuk menghabisi mereka semua. Oleh karena itu, mereka bersiap membuat formasi terlebih dahulu untuk mencari keberadaan pria itu dan memblokir serangannya.
Sayangnya, kecepatan formasi beberapa klan tidak cukup cepat untuk menandingi kecepatan membunuh sosok bertopeng. Dalam satu kedipan mata, darah mengalir di atas tanah dan bercipratan akan satu serangan yang menyayat leher para pembuat formasi.
Sosok itu bagai bayangan yang melintas ketika menggunakan tangan kosong untuk membunuh mereka.
Hanya tingkat 5. Bahkan mereka masih bukan apa-apa di mata sang phoenix yang masih kecil.
Gabungan klan itu menjadi ketakutan ketika melihat sosok hitam yang berdiri beberapa meter dari mereka semua.
"Tunggu apa lagi? Kita memiliki keunggulan jumlah. Serang dia secepat mungkin dan jangan biarkan dia menyerang balik, maka kita akan menang!" Pria di samping pria beriris hijau berseru dengan marah.
Hal tersebut membuat darah semua orang berkobar, dan menghunuskan senjata ke arah pria itu. Pria itu telah membunuh beberapa dari mereka dengan kekuatan yang besar, kekuatannya pasti terkuras.
Sayangnya, mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.
Pria beriris hijau melihat sosok itu dengan seksama. Ia tidak menyerang, tapi justru merasa ragu. Ia tidak pernah melihat manusia sekuat itu. Apa orang itu bukan manusia?
Ketika gabunga klan menyerang, pria itu bahkan tidak bergerak dari tempatnya. Hal itu membuat pria beriris hijau semakin waspada. Pasti ada sesuatu.
"Tunggu!" Pria beriris hijau berteriak menghentikan mereka semua ketika sadar tidak ada siapa pun di sekitarnya. Semua tertuju pada pria itu.
Namun terlambat. Tepat ketika suaranya jatuh, bunga darah bertebaran dan mewarnai hijaunya dedaunan serta tanah yang kering. Hanya dalam waktu singkat, suara teriakan dan rasa takut menggema akan kabut hitam yang melesat meruntuhkan semua orang dalam sekejap.
Serangan yang begitu mematikan dan mengerikan. Pria beriris hijau itu mundur beberapa langkah, menghadapi pria yang sudah seperti iblis di matanya.
Ini jauh lebih mengerikan dibandingkan pertempuran di pegunungan utara.
Dia bukan manusia!
"Ingatlah, kalian sendiri yang mengantarkan nyawa." Pria itu melirik pria beriris hijau dengan dingin.
"Si ... siapa kau sebenarnya?" Pria beriris hijau dari Klan Lin melihat sosok itu dengan rasa takut.
Pria bertopeng itu tersenyum dingin. Tangannya meraih topeng yang ia kenakan, lalu melepasnya untuk menunjukkan wajah rupawan yang tanpa celah.
Noda merah di rahangnya membuat penampilannya semakin tidak manusiawi. Sepasang iris biru malam yang bersinar, seperti dalamnya langit gelap dan dingin.
"Bai Youzhe."
Setelah mengungkapkan identitasnya, ia pun berbalik dan menghilang dalam kabut gelap, membiarkan pria tua itu yang gelagapan setengah mati.
Bai Youzhe ... Bai ... Itu adalah keluarga Bai!
Pantas saja ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari setelah Yan Shuiyin memberi pelatihan ketat pada Gu Yuena agar dapat mengendalikan kekuatannya sendiri, Istana Yuansu yang mendengar kabar perihal Gu Yuena mengirim perwakilan mereka untuk mengundang gadis itu ke istana.
Sayangnya, Gu Yuena sedang tidak berada di Tanah Tersembunyi. Sosok yang mereka cari kini tengah duduk dengan wajah bosan di depan kedua temannya yang terus mengoceh panjang penuh semangat.
Ketika Gu Yuena masih berada di Wyvernia, ujian halaman luar kembali diadakan setelah 6 bulan berlalu. Mu Xinhuan dan Shen Jialin berhasil lulus di ujian kali ini dan mendapatkan wilayah pelatihan yang berbeda.
Mu Xinhuan ada di Lembah Berkabut, sedangkan Shen Jialin ada di Kolam Awan bersana Lin Susu sebagai seniornya. Shen Jialin terus-menerus mengeluh perihal Lin Susu yang bersikap manipulatif dan merasa bahwa dirinya adalah sang putri yang harus dilayani oleh dayang-dayangnya.
Gu Yuena sampai bosan mendengar aduan Shen Jialin mengenai Lin Susu.
"Kalian begitu semangat sampai tidak memberiku kesempatan bicara," sindir gadis beriris merah darah itu.
Shen Jialin langsung sadar sejak tadi terus bicara tanpa henti dan penuh emosi. "Maaf, aku terlalu bersemangat. Lalu, apa ada yang ingin kau katakan?"
Gu Yuena melihat mereka berdua dengan datar, lalu menghela napas. "Selamat atas kelulusan kalian. Aku baru tahu hari ini karena baru kembali ke akademi."
"Ah, terima kasih banyak. Jika bukan karenamu, sulit sekali rasanya memasuki halaman dalam." Mu Xinhuan terkekeh.
"Kamu sangat populer belakangan ini. Aku dengar kau akan pergi ke Istana Yuansu lebih cepat." Shen Jialin berkata dengan semangat.
Gu Yuena mengangguk pelan. "Ada beberapa hal yang harus kulakukan."
"Apa Lin Xi mengganggumu lagi?" Mu Xinhuan bertanya. Cerita pertengkaran mereka sudah tersebar di penjuru akademi.
"Aku bahkan tidak memiliki waktu bertemu dengannya."
"Aku dengar Lin Xi juga akan memasuki Istana Yuansu. Kekuatannya sudah mencapai tingkat 6 baru-baru ini setelah bertahun-tahun berlatih di halaman dalam. Dia akan menjadi kesatria di Istana Yuansu, mewakili Klan Lin dan akan menjadi ketua klan berikutnya."
"Aku sudah dengar." Gu Yuena menanggapi dengan enteng.
Pada dasarnya, kepopuleran mereka berdua sudah menyamakan kepopuleran Yun Qiao. Lin Xi sebagai calon ketua klan sehingga dianggap sebagai protagonis, Yun Qiao sudah seperti protagonis pria yang dipuja-puja dan disandingkan dengan Lin Xi, sedangkan Gu Yuena yang merupakan wanita jahat berperan sebagai antagonis yang dibenci di kisah mereka berdua.
Setidaknya, itulah rumor yang ia dengar.
"Xiao Yuena, bagaimana jika dia membuat masalah lagi kali ini?" Shen Jialin penasaran apa yang akan dilakukan Gu Yuena.
Gu Yuena melihat mereka berdua dengan tatapan misterius. Memang, sepertinya akan menarik jika seseorang membuat masalah. Tapi ia sudah malas menanggapi orang bodoh dan menambah kekayaannya.
Perjalanan di Wyvernia tidak cukup menguras banyak uangnya, apa lagi hartanya bertambah hasil curian dari Alfonso. Ia menumpang secara gratis di kediaman baron dan sisanya dibayarkan dua pria aneh itu, ia bahkan nyaris tidak pernah menyentuh dompetnya selain untuk mentraktir orang dan membeli pakaian ganti murah. Gaun yang ia waktu itu kenakan saja didapatkan secara gratis.
Jika ada orang membuat masalah, mau tidak mau ia harus memberinya pelajaran dengan melakukan pemerasan. Dengan begini, orang itu akan mendapatkan nasib sial setelah kehabisan harta.
"Tergantung suasana hati." Akhirnya Gu Yuena menjawab demikian.
Di tengah perbincangan tiga manusia itu, utusan Istana Yuansu datang memberi kabar bahwa sudah waktunya Gu Yuena untuk menghadap Raja Istana Yuansu.
Shen Jialin dan Mu Xinhuan jelas sangat terkejut. Begitu tiba-tiba.
Sedangkan Gu Yuena menerima perintah dengan senang hati. Berita ini pasti sudah terdengar oleh Lin Xi, dan mereka berdua akan berangkat bersama.
Ah, ia harap perempuan aneh itu membiarkannya tidur nyenyak sebelum bertemu Raja Istana Yuansu.
Ia hanya ingin rebahan setelah perjalanan panjang.