
Kekuatan Jin Xiao tidak sebanding dengan Gu Yuena, itu sebabnya Jin Xiao menggunakan dalih persaingan ini untuk menjatuhkan Gu Yuena. Ia tahu, Gu Yuena tidak bisa membalas terang-terangan karena Istana Luye berada di pihak Jin Xiao.
Tapi ketika dihadapkan dengan tekanan mengerikan serta bilah pisau yang kapan saja akan memotong lehernya, Jin Xiao belajar siapa yang paling unggul di antaranya dan Gu Yuena.
Bahkan Istana Luye tidak dapat membantu. Karena di mata semua orang, Gu Yuena tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Jin Xiao.
Meski Gu Yuena tidak bisa membunuh Jin Xiao terang-terangan apalagi di tempat ini, Jin Xiao sadar akan ancaman di depannya. Maka sebagai seseorang yang memiliki pandangan lurus, ia tidak akan mencari masalah untuk saat ini.
Sepanjang perjamuan, Jin Xiao sudah muak akan pujian-pujian yang dilontarkan untuk Gu Yuena. Meski Istana Tao tetap netral, istana lainnya justru terlihat mendukung Gu Yuena.
Ia tidak mungkin hanya mengandalkan biksu-biksu itu.
Karena kesal, Jin Xiao memutuskan untuk undur diri dari perjamuan. Tidak ada gunanya ia tetap di tempat yang tidak menerimanya.
Gu Yuena melihat kepergian Jin Xiao acuh tak acuh. Tepat di arah Jin Xiao pergi, pria tua pengurus istana ini muncul memperhatikan suasana. Pandangan mereka bertabrakan.
Entah kenapa, Gu Yuena selalu merasa ada sesuatu yang dilewatkan.
Merasa tidak bisa menunggu lagi, Gu Yuena bangkit dari tempatnya dan pamit pergi dengan alasan mulas. Awalnya Ru Meng dan Yun Qiao bergantian menawarkan diri untuk mengantar Gu Yuena kembali ke kamar, tapi Gu Yuena menolak dengan alasan harus ada perwakilan Istana Yuansu yang tetap tinggal untuk menghormati perwakilan lain.
Pada akhirnya, dua pria itu menyerah meski tidak setuju.
Gu Yuena pun pergi dari aula perjamuan.
Ia berjalan di sekitar istana sambil melihat-lihat beberapa hal yang sempat ia lewatkan karena sibuk. Salah satunya adalah ruangan di mana merupakan tempat khusus perwakilan Istana Linghun tinggal.
Sangat gelap sampai Gu Yuena tidak dapat melihat apa pun ketika mengintipnya.
"Apa kamu adalah putri Li Hua?"
Gu Yuena menoleh ke belakang. Suara serak dan samar itu berasal dari pria tua pengurus istana ini. Pria itu mengenakan jubah abu-abu yang sangat polos dan terlihat sangat rapuh layaknya orang tua.
Gu Yuena menanggapi pertanyaan pria tua itu menggunakan pertanyaan, "Aku tidak yakin kita pernah bertemu. Tapi, apa kau begitu mengenalku?"
"Tidak mengenal, bukan berarti tidak tahu." Pria tua itu melihat ke arah pintu ruangan gelap yang tertutup. "Hanya anggota resmi atau seseorang yang memiliki hubungan darah dapat mendekati ruangan istana lain tanpa gangguan. Karena kamu adalah murid Istana Yuansu, maka aku hanya bisa menyimpulkan demikian."
"Sepertinya rupa ibuku sangat membekas. Aku rasa jika aku bertemu raja istana lain, aku akan langsung dikenali." Karena pada dasarnya, Raja Istana Yuansu sudah tahu identitasnya dan membantu menyembunyikan demi Yan Shuiyin.
"Kenapa kamu memilih Istana Yuansu?" tanya pria tua itu.
"Karena Istana Yuansu adalah rumahku."
"Setahuku, Istana Linghun akan datang dalam pertemuan ini. Apa kamu tidak takut ditemukan?"
Gu Yuena diam untuk beberapa saat. "Mereka akan datang?"
"Aku mendapatkan kabar, beberapa dari mereka akan datang ke Kota Yin untuk menghadiri pertemuan setelah sekian lama. Kabar yang kuterima tidak pernah salah."
"Di mana mereka saat ini?"
"Mungkin dalam perjalanan."
Jika mereka datang, maka itu bukanlah hal baik. Apa yang harus Gu Yuena lakukan?
"Sebagai putri dari Ratu Istana Linghun, apa kamu tidak penasaran apa saja yang terdapat di dalam sana?"
"Kau memintaku untuk masuk?"
"Jika itu dapat memberi jawaban dari semua pertanyaanmu. Aku tidak memiliki hak melarang, tapi segala resiko ditanggung individu."
Sudah jelas jawaban apa yang diberikan Gu Yuena. Gadis itu melihat ke arah ruangan gelap, tampak penasaran akan berbagai hal yang menjumpainya.
Apalagi, selama ini ia selalu bermimpi hal serupa. Yakni berada di ruangan aneh dan dikelilingi makhluk berkabut.
Gu Yuena pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia melihat pria tua itu dengan ragu, heran mengapa orang itu tidak menunjukkan permusuhan sedikitpun seperti orang lain terhadap Istana Linghun.
Apa itu disebabkan oleh identitasnya yang merupakan penjaga istana gabungan ini? Ia dipaksa untuk bersikap netral?
Gu Yuena tidak ingin berpikir terlalu jauh dan fokus pada apa di depannya. Kakinya melangkah ke dalam ruang gelap tanpa sumber cahaya.
Pintu pun ditutup.
Di dalam sana, Gu Yuena masih dapat melihat dalam kegelapan. Ia melihat berbagai patung dan rak buku yang dijadikan dinding. Terasa familiar.
Kakinya melangkah lebih jauh, melalui patung-patung di tiap sisi ruangan yang sudah seperti museum. Ia melihat ke arah salah satu patung, lalu melirik buku-buku di rak belakang patung.
Buku itu ....
Gu Yuena sadar akan sesuatu. Ruangan ini adalah ruangan misterius dalam mimpinya.
Ia mengambil salah satu buku berbahasa aneh, itu lalu mencoba menghubungi Xiao Hei dan Xiao Bai.
"Kalian tahu bahasa apa ini?" tany Gu Yuena.
"Entahlah." Xiao Hei menggeleng tidak tahu.
Tapi Xiao Bai tiba-tiba keluar dan menempel di bahu Gu Yuena sambil membaca dengan mata melebar.
"Ini adalah bahasa kuno yang pernah digunakan manusia ribuan tahun yang lalu, sudah dilupakan sepenuhnya sejak terbentuk Kekaisaran Yi dan Wyvernia."
Gu Yuena melihat seluruh buku yang memiliki bahasa sama. "Mereka mengoleksi buku kuno sebanyak ini."
"Konon, buku dengan bahasa kuno memiliki bobot sihir yang besar. Kebanyakan dari mereka seharusnya adalah buku terlarang yang digunakan para penyihir dalam berbagai aktivitas. Ada banyak mantra dan sihir, baik untuk eksperimen maupun pembuatan array dan formasi. Mereka sangat kuat, namun sangat sulit diimplementasikan karena dapat membuat jiwa seseorang hancur. Itu sebabnya Istana Linghun mencari seseorang dengan kekuatan jiwa penuh untuk melakukan eksperimen apa yang akan terjadi jika semua sihir itu ada dalam satu tubuh manusia hidip. Sayangnya, eksperimen itu menyebabkan banyak penyihir mati." Xiao Bai menjelaskan secara rinci.
"Apa ini yang menyebabkan Istana Linghun diasingkan?"
"Itu adalah salah satu alasan pengucilan Istana Linghun. Oleh sebab itu, semua buku ini tidak diperbaharui dan terus tersimpan selama ribuan tahun."
"Lalu mereka datang, apa ingin mengambil semua ini atau ada tujuan lain?"
"Menurutku, mereka seharusnya datang untuk mengambil semua ini. Alasan orang tua itu mengarahkanmu ke tempat ini adalah untuk mengetahui sisi gelap Istana Linghun yang sebenarnya."
"Dan memintaku mempertimbangkan mana yang benar dan salah." Gu Yuena paham. Orang tua itu pasti sadar, bahwa Gu Yuena di ambang keraguan pihak mana yang akan ia pilih.
Xiao Bai melihat Gu Yuena untuk beberapa saat. "Aku paham kamu ingin kembali ke kehidupan kecilmu. Tawaran Ratu Istana Linghun membuatmu goyah."
"Aku bukannya goyah."
"Kamu menjadi lebih kuat untuk pergi ke tempat itu dan meminta penjelasan. Kamu ingin semuanya dalam kendalimu, mengatakan pada semua orang bahwa mereka salah paham terhadap Istana Linghun sehingga kamu dapat kembali ke keluargamu tanpa meninggalkan yang lain." Xiao Bai sangat paham selama 6 tahun bersama Gu Yuena. Tiap ucapan dan tindakan yang Gu Yuena lakukan, selalu memiliki keyakinan tersendiri yang tidak semua orang tahu di dalam hatinya.
Gu Yuena menganggap Istana Yuansu sebuah rumah, tapi ia tetap memandang keluarganya dan berniat kembali ke rumah utamanya. Gu Yuena masih memiliki keinginan untuk kembali ke dunia kecilnya.
Ia tahu dari Xiao Hei bahwa Gu Yuena datang dari dunia lain. Tapi apa yang dikatakan Ratu Istana Linghun membuatnya ragu apa Gu Yuena benar-benar dari dunia lain atau bukan.
Melihat semua ini, meyakinkan Gu Yuena bahwa Istana Linghun dapat melakukan apa pun untuk mengendalikan kematian.
Mereka dapat melakukan hal mustahil seperti menghidupkan orang yang sudah mati.
***
Acara perjamuan semakin meriah ketika Istana Yinyang menampilkan kemampuan seni mereka yang sangat mengunggah suasana.
Yah, setelah penampilan Gu Yuena dan Jin Xiao barusan, mereka jadi sangat menikmati penampilan seni yang elegan dan luar biasa. Sayangnya, dua gadis itu tidak ada di sini untuk menikmati suasana damai.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Pintu aula dibuka lebar-lebar, memasukkan beberapa orang berpakaian hitam ke dalamnya. Salah satunya adalah seorang pria dengan jubah kebesaran yang penuh dengan aura gelap.
Kedatangan mereka menarik banyak perhatian. Mendadak, suasana menjadi sunyi. Menyisakan suara langkah kaki sekelompok pria dan wanita berjubah hitam yang masuk ke dalam membawa suasana gelap yang menyesakkan.
Ketika menyadari dari mana mereka berasal berdasarkan aura berbahaya yang dikeluarkan, mendadak semua orang berdiri dan memasang sikap waspada.
"Kalian orang Istana Linghun, masih berani menampakkan diri! Apa tidak takut istana kalian dimusnahkan seperti di masa lalu?" Salah seorang dari Istana Yinyang berkata dengan nada menggertak.
Pria itu tertawa dingin diikuti beberapa orang di belakangnya. Tatapan mereka seolah sedang melihat domba yang akan disembelih, namun masih bersikeras melarikan diri dari kandang tertutup.
Sangat lucu.
"Istana Linghun tidak akan pernah musnah." Pria itu melihat mereka satu per satu. "Sepertinya kami memang tidak disambut dengan baik, hanya bisa menyelesaikan tugas dengan cepat."
Kelima istana memasang sikap siaga dan bersatu untuk mengalahkan kelompok Istana Linghun. Para penyihir berjubah hitam itu mulai mengeluarkan aura kegelapan serta sihir dalam tubuh yang mengerikan.
Saat itu pula, ruangan berubah menjadi suram.
Tapi di tengah awal dari pertempuran akan terjadi, sebuah tongkat dihentakkan ke tanah, memberikan gema suara serta tekanan yang membuat semua orang di aula merasakannya dengan jelas.
Senjata yang mereka pegang jatuh begitu saja, sedangkan sihir para penyihir mulai menyaut akan tekanan dari suara tongkat yang menggema. Mereka semua terdiam seketika.
"Aturan istana sudah dengan jelas menyatakan agar tidak ada pertumpahan darah. Tanpa keberpihakan, istana akan menghukum pelaku pertumpahan darah dengan darah."
Ketika suara itu jatuh, mereka semua menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tampak sosok pria tua yang tampak rapuh, melihat mereka dengan tatapan tajam.
Anehnya, tatapan itu berhasil membuat mereka diam seketika.
Pasalnya kekuatan orang tua itu terlalu kuat!
Pria penyihir yang melihat pria tua itu hanya bisa mendengus kesal. Ia sadar akan kekuatan pria tua itu, dan sudah pernah diingatkan untuk tidak meremehkannya. Ternyata peringatan itu benar.
Sepertinya, ia hanya bisa membawa semua orang keluar dari sini.
Dengan sikap hormat, pria itu berkata, "Kalau begitu, yang muda ini hanya bisa meminta izin pada Tetua untuk menyelesaikan tugas dengan bersih. Di luar sana sudah ada banyak pasukan kematian menunggu, yang muda ini permisi."
Kelima istana terkejut akan ucapan penyihir itu. Pasukan kematian ... telah mengepung Kota Yin? Bagaimana itu bisa terjadi?
"Kamu tercela!"
"Istana Linghun kalian tidak pernah memiliki niat baik, selalu bersikap kejam dan tercela."
"Jika yang mulia raja mengetahui hal ini, Istana Linghun kalian akan menghilang dari peradaban!"
Ada banyak cacian yang dilontarkan untuk para perwakilan Istana Linghun. Namun, mereka hanya memberi pandangan mengejek seolah melihat sesuatu yang kotor.
Pada dasarnya, mereka semua adalah seorang yang munafik bagi para penyihir.
Kejam dan tercela?
Mereka akan menunjukkan apa itu kejam dan tercela yang sebenarnya.
Menggunakan teleportasi, pria penyihir itu membuat semua orang yang ada di dalam aula menghilang dari istana. Mereka sampai di pinggiran kota bersama ribuan pasukan kematian yang mengepung kota.
Ada banyak penjaga kota yang merupakan bawahan walikota berkumpul di gerbang dengan berbagai senjata dan meriam. Kedatangan pasukan kematian dan penyihir adalah mimpi buruk bagi semua orang, menyebabkan Walikota harus turun tangan mengerahkan pasukan militer dan meminta bantuan kekaisaran.
Tapi ini baru berlangsung beberapa menit sejak kedatangan pasukan kematian, pasukan kekaisaran tidak mungkin datang secepat itu. Mereka hanya bisa bertahan semampunya.
Perwakilan lima istana jelas sangat terkejut akan suasana sekitar yang lebih mirip peperangan. Ini tidak pernah terlintas di kepala mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?" Zhou Ying, perempuan naif itu tidak pernah menghadapi hal seperti ini. Kehidupannya selalu damai dan membosankan, ini terlalu tiba-tiba untuknya.
"Kita adalah murid Istana Tianshuang, tidak boleh menyerah begitu saja. Jangan mengecewakan Yang Mulia." Zhou Tao meyakinkan Zhou Ying yang bersembunyi di belakangnya.
"Apa kita bisa mengalahkan penyihir dan pasukan kematian sekaligus?" Ru Meng di sisi lain sangat khawatir. Kekuatannya tidak sebagus itu, tidak mungkin menang melawan mereka.
Yun Qiao melihat Ru Meng di sebelahnya, lalu teringat akan Gu Yuena. "Aku harap dia tetap di kamarnya."
Pria penyihir di depan pasukan kematian tersenyum penuh kemenangan. Ia telah mengirim beberapa orang untuk memasuki ruangan khusus Istana Linghun dan menyelesaikan tugas utama. Tugas sampingan menghancurkan anak-anak di depannya akan segera terselesaikan.
"Serang!"
***
Gu Yuena sadar sesuatu mendekat dari pintu ruangan khusus Istana Linghun. Ia ingat perkataan pria tua itu, bahwa Istana Linghun akan datang ke tempat ini.
Gadis itu bersembunyi di belakang rak buku yang penuh, memperhatikan gerak-gerik dua sosok berjubah hitam yang memasuki ruangan. Beruntung, ia memiliki kemampuan menyamarkan kehadiran dan napas serta auranya tidak terasa.
"Banyak sekali."
"Aula Linghun belakangan ini sangat sibuk sampai tidak sempat mengambil ini semua. Untung saja orang-orang bodoh itu tidak mencurinya."
"Memangnya siapa yang ingin mencuri buku berbahaya ini? Hanya penyihir yang dapat mempelajarinya, sedangkan mereka tidak mungkin memilih menjadi penyihir."
"Aku pikir penyihir tidak semenyeramkan itu. Orang-orang munafik dari lima istana selalu melebihkan kenyataan."
"Membantu Yang Mulia melaksanakan tugas dari Ratu merupakan kehormatan. Setelah membereskan mereka, kita tidak perlu lagi bersembunyi."
"Hah, akhirnya orang-orang bodoh itu akan segera berakhir."
Aula Linghun.
Mereka bukan dari Istana Linghun, tapi Aula Linghun. Pemimpin mereka adalah murid dari Ratu Istana Linghun.
Jika ada Aula Linghun, itu berarti ada pasukan kematian. Apa pasukan kematian sudah ada di luar?
Memikirkan hal tersebut membuat Gu Yuena gelisah. Ia harus segera keluar memberi bantuan sebelum segalanya berakhir.
Pasukan kematian jelas sangat mengerikan.
Tidak bisa berdiam lebih lama, Gu Yuena keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka tanpa disadari akan kehadirannya.
Ketika kedua orang itu sadar akan bahaya, kepala mereka berputar sebanyak 360 derajat secara paksa sampai suara patah tulang terdengar. Keduanya ambruk seketika.
Itu adalah ulah Gu Yuena yang menggunakan sihirnya untuk membunuh secara instan. Ia melirik kedua mayat itu.
Seperti yang ia duga, mayat itu berubah menjadi abu dan menguap.
Inilah yang akan terjadi pada para korban pertempuran di luar sana.
Ia harus bergegas keluar dari sini.
Gu Yuena berlari keluar dan mengeluarkan sayapnya. Ketika akan terbang, ia menemukan Jin Xiao yang tampak sangat cemas keluar dari ruang khusus Istana Luye.
Jin Xiao terlihat menghampiri Gu Yuena. "Istana Linghun menyerang, kita harus segera memberitahu istana utama untuk memberi bantuan. Mereka tidak akan bertahan lama."
"Aku ada cara." Gu Yuena menunjukkan senyum miring.
Jin Xiao menarik alisnya tidak percaya. "Jangan jadi bodoh. Mereka tidak selemah yang kamu kira."
"Aku tahu. Satu hal yang ingin kukoreksi, mereka berasal dari Aula Linghun, bukan Istana Linghun."
Jin Xiao memutar bola mata. "Sama saja."
"Kau carilah bantuan di luar sana, aku akan menangani ini."
"Kau serius? Aku sudah mengingatkan, lho."
"Aku memiliki rencana." Setelah mengatakannya, Gu Yuena melambung ke udara dengan kecepatan penuh meninggalkan Jin Xiao.
Gadis itu tidak memiliki pilihan lain selain meminta bala bantuan dari Istana Luye dan lainnya. Beruntung koneksinya sangat bagus.
Berbeda dari seseorang yang dengan gegabah meluncur ke medan perang, ia akan mencari jalan aman dan mengrimkan bala bantuan secepatnya.
Jin Xiao mendengus. "Kau akan berterimakasih untuk ini."