
"Ibu, aku mendapat ini dari Bibi!"
Ye Mi berlari ke arah Gu Yueli yang sedang bersantai di teras menemani bayinya yang tertidur. Ia telah mendengar kedatangan Jin Xiao dari pelayan, tapi tidak bisa pergi menyambut karena beberapa alasan. Ia akan mendatangi Jin Xiao secara langsung besok.
Melihat putri kecilnya datang membawa sebuah kotak kayu kecil berisikan jepit rambut giok, ia sempat bingung. Siapa orang yang ingin menipu putrinya menggunakan jepit rambut malam-malam?
"Bibi yang mana yang memberimu ini?" Gu Yueli penuh kecurigaan, sehingga harus mengamankan tiap barang yang diterima, terutama dari 'bibi-bibi' itu.
"Bibi Yuena," jawab Ye Mi. Ia berbalik dan menunjuk ke arah pintu, di mana sosok wanita berjubah hitam berdiri seraya bersandar pada pintu.
Gu Yueli terkejut. Ia segera beranjak dan melihat dengan jelas siapa yang datang malam-malam. Wajah cantik seputih salju disertai warna merah pada mata dan rambut. Itu saja sudah cukup membuat Gu Yueli tersentak kaget.
"Gu Yuena? Mengapa kamu di sini?" Ia langsung menghampiri wanita itu dengan penuh tanda tanya.
Gu Yuena memiringkan kepalanya, "Jika aku berkata ingin membalas dendam, apa kamu akan percaya?"
Gu Yueli menatapnya waspada. Ia membawa Ye Mi ke belakangnya dan menjauh dari Gu Yuena, seolah Gu Yuena adalah monster yang harus dihindari. "Kamu jangan macam-macam."
Gu Yuena menggedikkan bahu acuh tak acuh. "Berlama-lama di tempat ini, kamu semakin pintar. Padahal dulu kau sangat bodoh sampai bisa menerima sesuatu yang kubuang."
Gu Yueli membisikkan sesuatu pada Ye Mi. Ye Mi mengangguk, lalu pergi ke dalam dengan patuh. Gu Yueli tidak ingin percakapan mereka mempengaruhi Ye Mi.
Gu Yueli memperhatikan Gu Yuena dengan saksama. Ada ingatan yang sebelumnya hilang, kini kembali setelah ia berusaha mengingat-ingat sesuatu yang hilang. Kenyataan bahwa Gu Yuena adalah Putri Istana Linghun, serta fakta bahwa wanita itu pernah berada di Istana Tianshuang.
Sebelumnya ada beberapa orang menyerang saat ia dalam perjalanan pulang. Setelah serangan itu, ia terbangun dalam keadaan melupakan beberapa hal penting. Sekarang, sepertinya pengaruh itu hilang berkat Gu Yuena sendiri.
"Kamu berada di sini sendirian?"
Gu Yuena terkekeh. "Ikut dengan Jin Xiao. Kami lumayan dekat setelah masalah di pertemuan antar-istana beberapa waktu lalu."
"Bagaimana dengan anakmu?"
Senyum Gu Yuena memudar perlahan. Tatapannya tampak bingung sejenak, sebelum akhirnya kembali normal. "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau sengaja membuatku melupakannya, lalu mengingatnya setelah satu tahun berlalu."
"Apa pedulimu?"
"Karena Klan Ye tidak akan membiarkannya hidup jika tahu kebenarannya. Kau tahu, Klan Ye bekerja untuk siapa." Gu Yueli memberi peringatan.
"Kau sedang memberiku peringatan?" Gu Yuena tertawa hampa. "Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri."
"Gu Yuena, tidak seharusnya kau membuat masalah di sini. Apa kau tidak memikirkan bahaya apa saja yang akan datang saat kau—"
"Kenapa aku harus memikirkannya? Gu Yueli, selamat, kekhawatiranmu sia-sia." Gu Yuena melirik ke arah bayi yang sedang tertidur pulas, lalu tersenyum kecut. "Mungkin, dia akan sebesar itu jika masih hidup."
Gu Yueli terkejut. Jadi ternyata Gu Yuena kehilangan anaknya. Tidak seharusnya ia mengungkit hal itu. "Maaf."
"Kau ingin menggunakan hal itu sebagai tameng untuk memperingati, tapi sayangkan kau gagal. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menjadi kelemahanku."
Gu Yueli menatap Gu Yuena curiga. Berdasarkan kata-katanya, ia mencurigai beberapa hal. "Kau tidak mungkin sengaja menyingkirkannya agar tidak menjadi kelemahanmu, 'kan? Kau tidak akan sekejam itu."
"Aku sangat kejam." Gu Yuena mendekati wanita itu. "Anggap saja aku adalah wanita kejam yang membunuh anaknya sendiri."
Gu Yueli nyaris tidak bisa menenangkan detak jantungnya. Ia melihat Gu Yuena seperti melihat iblis, dipenuhi rasa takut. Di matanya, Gu Yuena benar-benar gila.
"Kau ...."
Gu Yuena terkekeh melihat betapa takut Gu Yueli. "Terserah bagaimana kau menilaiku, semakin buruk semakin bagus, agar aku tidak akan segan untuk membunuhmu."
"Kenapa kau datang? Tidak mungkin kau datang untuk balas dendam atas apa yang terjadi pada Kediaman Adipati. Mereka memperlakukanmu dengan buruk." Gu Yueli mulai berpikir cepat agar bisa terhindar dari malapetaka. Ia harus melindungi anak-anaknya.
Gu Yuena tersenyum miring. "Sejak orang itu berupaya membunuhku, aku sudah berpikir untuk menyeretnya ke dalam neraka bersama seluruh keluarganya. Tenang saja. Selama Ye Suanwu tidak memberiku alasan untuk membunuhnya, aku tidak akan menyeret kalian ke dalam kematian. Kau bisa mempersiapkan diri, Adik Kelima."
"Gu Yuena ... seharusnya kau tidak seperti itu." Gu Yueli sangat takut. Ia pernah memperlakukan Gu Yuena dengan buruk, begitu pula ibunya. Ia tidak akan terbebas dari malapetaka ini.
"Aku memang seperti ini."
"Setidaknya kau bisa melepaskan anak-anakku."
"Beri aku alasan."
Gu Yueli diam untuk beberapa saat, lalu menekankan kata-katanya, "Kau juga pernah akan menjadi seorang ibu—"
"Aku hanya pernah membunuh. Aku sangat tidak pandang bulu." Gu Yuena merasa sensitif. Kenapa Gu Yueli selalu mengungkit hal itu? Apa dia sudah bosan hidup?
Gu Yueli tidak percaya Gu Yuena membunuh anaknya sendiri. Bahkan seekor singa tidak akan membunuh darah dagingnya. Seburuk-buruknya Gu Yuena, ia tidak pernah berpikir wanita itu bisa berbuat jahat pada sesuatu yang lemah.
Kecuali jika itu bukanlah Gu Yuena yang asli.
"Lupakan, aku juga tidak akan membuat masalah sekarang." Gu Yuena menjauhkan diri dari Gu Yueli, melepas tekanan yang diberikannya.
Tapi Gu Yueli masih tidak bisa bernapas lega. "Kenapa kau memberitahuku? Kau tidak takut aku membocorkannya?"
Gu Yuena tersenyum miring. "Ketika kau membocorkannya pada Ye Suanwu, itulah saat yang tepat untuk mengganti nama Klan Ye. Ye Suanwu pasti tidak akan diam saja. Kau hanya bisa menyalahkan diri sendiri atas kematian semua orang."
Gu Yuena pergi dari halaman di mana Gu Yueli berada. Gu Yueli masih sulit bernapas, terlalu terkejut dan tidak bisa menerimanya. Gu Yuena yang ini lebih brutal dari Gu Yuena yang biasanya.
"Tidak bisa. Aku harus memperingati Ye Suanwu." Gu Yueli buru-buru membawa masuk putranya ke dalam, lalu pergi mencari Ye Suanwu.
Namun, belum sampai ia melihat suaminya itu, lagi-lagi hal yang sama terulang. Suara-suara penuh gairah dari dalam kamar menghentikannya membuka pintu. Tangan Gu Yueli terkepal erat.
Percuma saja. Siapa pula yang akan mempercayainya? Jika ia menerobos masuk sekarang, juga hanya akan membuat Ye Suanwu marah dan mengabaikannya. Ye Suanwu juga tidak akan mempercayainya, menganggapnya sedang cemburu.
Ia hanya bisa memastikan pria itu tidak membuat masalah pada Gu Yuena. Yah, hanya itu yang harus dilakukannya. Demi anak-anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku merasa sedang berada di rumah bordil." Gu Yuena menghela napas sambil duduk di atas pohon dengan bosan. Pemandangan di depannya bukanlah pemandangan pria tampan atau alam yang bagus, melainkan drama para selir nyentrik dan aneh dengan pakaian terbuka.
Jika ini di dunia modern, ia tidak akan heran. Tapi ini di tempat di mana orang-orang memiliki cara berpikir kuno. Pakaian terbuka seperti itu hanya akan dipakai wanita rumah bordil untuk menggoda pria hidung belang.
Gu Yuena telah menghadapi banyak pria hidung belang semasa hidupnya, dan mengakhiri mereka dengan darah. Bahkan selama di rumah bordil, ia membunuh semua pria yang 'memesannya'—kecuali raja tertentu.
Jin Xiao dari kejauhan melihat Gu Yuena yang duduk bosan di dahan pohon tertinggi. Keningnya berkerut, sebelum akhirnya menghampiri. Tubuhnya seperti layang-layang terbang ketika tiba di dekat Gu Yuena.
"Sepertinya Nona Gu sangat menikmati pemandangan di sini?" Jin Xiao berkata dengan sinis.
Gu Yuena terkekeh, tanpa mengalihkan perhatian. "Pemandangannya cukup bagus, cukup untuk mmencari inspirasi."
"Begitu kurang kerjaan."
"Kau lebih kurang kerjaan dengan menegurku di sini. Ingin ikut nongkrong?"
Jin Xiao mendengus. "Maaf, gaunku terlalu berharga untuk dikotori dahan pohon yang penuh serangga dan debu."
"Oh." Gu Yuena bersikao cuek, sama sekali tidak menyambut kedatangan Jin Xiao. Toh, rencananya sudah berhasil untuk datang ke sini. Ia memang ingin ke Ibu Kota, tapi setelah urusannya dengan Klan Ye selesai.
"Aku akan pergi nanti sore setelah pembicaraanku dengan Ketua Klan selesai."
"Pulang saja sekarang, jangan membuat transaksi merugikan. Sampai jumpa di Ibu Kota." Gu Yuena bersandar di pohon dengan malas.
"Aku justru mengalami banyak kerugian hanya untuk melayanimu yang banyak maunya," cibir Jin Xiao.
"Aku hanya memberi saran. Jangan menyesal stelahnya. Ye Suanwu jelas bukan orang baik."
"Raja Istana Tianshuang juga bukan orang baik."
"Setidaknya dapat diandalkan."
"Aku beritahu, dia hanya orang licik, serigala bertopeng. Ketika aku di Istana Tianshuang, dia tidak hanya mengabaikanku, tapi juga memanfaatkan situasi Istana Luye untuk terhubung dengan balai pengobatan Istana Tianshuang. Kontraknya bahkan bermasalah, hanya menguntungkan pihak Istana Tianshuang dari segala aspek."
"Itu menunjukkan bahwa kau kurang licik. Untung menangani Bai Youzhe, kau harus lebih licik." Gu Yuena menatapnya penuh pertimbangan. "Lupakan saja, kau hanya akan jatuh lebih buruk."
Wajah Jin Xiao menggelap. Yah, perempuan yang baik pasti akan mendukung tunangannya. Tidak heran jika Gu Yuena memihak Bai Youzhe dan menyalahkannya karena kurang licik.
"Kau ada rencana lain di sini?" tanya Jin Xiao.
Gu Yuena malah bertanya balik, "Kenapa aku harus memberitahu?"
"Aku setuju kau ikut denganku untuk melindungi anggota istana sebagai imbalan tumpangan. Tujuanmu sebelumnya adalah Ibu Kota, malah berhenti di Klan Ye. Itu melanggar kontrak."
"Berapa kompensasi yang harus kubayar?"
"Kalian juga tidak selemah itu sampai harus bergantung padaku, 'kan?" Gu Yuena menolak memberitahu. Kemudian ia memiliki ide. "Kau tahu aku adalah Putri Istana Linghun. Berada di Klan Ye, menurutmu apa yang ingin kulakukan dengan identitas itu?"
Jin Xiao berpikir sejenak. Jika ia menjadi Gu Yuena, selain untuk masalah kerja sama atau mengunjungi bawahan, maka untuk menyelesaikan tugas dari Ratu. Gu Yuena termasuk yang mana?
Jika memang untuk menemui bawahan, apa Klan Ye ada hubungannya dengan Istana Linghun? Alasan Gu Yuena memberitahunya, tidak lain adalah peringatan.
"Tahu banyak tidak selalu bagus." Gu Yuena terkekeh, lalu turun ke bawah pohon sambil menggigit apel yang ia petik.
"Kau benar tidak akan ikut?" Jin Xiao memastikannya sekali lagi.
Gu Yuena hanya melambaikan tangan sambil pergi menjauh. Ia benar-benar tidak akan ikut. Jin Xiao yang melihat punggungnya tidak bisa melakukan apa pun. Perjalanan ini memang tidak berbahaya seperti sebelumnya, tapi ia masih ingin mendekati Gu Yuena agar hubungannya dengan Istana Tianshuang tidak canggung. Rasanya sulit sekali, ditambah mereka berdua sangat tidak cocok menjadi teman.
Saat matahari berada di ufuk barat, Jin Xiao dan kelompoknya benar-benar pergi untuk melanjutkan perjalanan ke Ibu Kota. Gu Yuena hanya memperhatikan dari jauh, lalu pergi entah ke mana..
Di sisi lain, Gu Yueli yang telah mengucapkan selamat tinggal pada Jin Xiao kembali ke halaman. Ia melihat Ye Suanwu, dan ingin mengatakan sesuatu. Namun, pria itu terlihat sangat sibuk.
Urusan klan tidak terlalu berat, apalagi bagian dalam klan telah diurus sepenuhnya oleh Gu Yueli. Yang menjadi masalah adalah tugas dari Aula Linghun.
Pemimpin Aula Linghun selalu merepotkan Ye Suanwu secara langsung seolah memiliki dendam kesumat. Gu Yueli tidak tahu apa penyebabnya.
Sampai di paviliun untuk mengurus bayinya, ia melihat seorang wanita yang tak lagi muda tengah menggendong cucu lelakinya. Gu Yueli sedikit tersenyum, lalu menghampiri.
"Ibu," panggilnya.
Wanita itu menoleh. Wajah cantiknya tidak berubah dari tahun ke tahun, hanya memiliki sedikit kerutan di wajah. Sekiranya, ia berada di usia awal 40an.
Ting Le yang selama hampir setahun terkurung di tempat dingin di Kediaman Adipati telah menjalani kehidupan nyaman di Klan Ye. Sebagai ibu dari nyonya rumah ini, ia jelas dihormati dan masih suka menjilat nyonya besar—ibu Ye Suanwu. Itu dilakukan agar ia memiliki kehidupan nyaman sebagai orang yang menumpang.
"Li'er." Ting Le menghampiri putrinya dengan perasaan jengkel. "Li'er, aku dengar Gu Yuena ada di sini, datang bersama Istana Luye. Apa dia menindasmu lagi?"
Gu Yueli menggeleng. "Apa Kakak sudah pulang?"
"Istana Yinyang sedang dalam masalah. Tidak ada yang bisa pulang saat ini."
Gu Yueli menghela napas. Akan lebih baik jika kakaknya tidak pulang sekarang. Ia menatap ibunya, lalu berkata, "Ibu, apa kita harus pergi dari sini?"
"Apa?" Ting Le terkejut.
"Itu ... Li'er merasa tidak nyaman belakangan ini." Gu Yueli berkata ragu-ragu.
Ting Le menghela napas. "Li'er, ada apa denganmu? Kita sudah mendapatkan yang kita inginkan selama bertahun-tahun, apa harus dilepas begitu saja? Jangan terlalu memikirkan selir-selir itu. Kamu hanya perlu tampil cantik dan menggoda Ye Suanwu untuk mendapatkan lebih banyak daripada ini. Aku lihat ******-****** itu sangat pandai cari perhatian. Kenapa kamu malah menjadi pasif seperti ini?"
Gu Yueli tersenyum kecut. "Apa itu akan berhasil? Ibu, sudahlah, aku sudah lelah."
"Gu Yueli, apa aku mengajarkanmu untuk menyerah?"
"Bukan begitu ...." Gu Yueli bingung harus menjelaskannya bagaimana. Ia takut pada Gu Yuena dan ingin melindungi keluarganya. Apa yang bisa ia lakukan?
"Apa karena Gu Yuena? Aku dengar Ye Suanwu sedang berusaha mendekatinya lagi. Gu Yuena ini sangat pandai menggoda orang, kamu harus berhati-hati."
"Ibu—"
"Jangan bersikap lemah seperti itu. Gu Yueli, kamu itu putriku satu-satunya yang paling aku andalkan. Jika Gu Yuena menindasmu, katakan padaku. Aku akan membuatnya terlihat lebih buruk dari saat di Kediaman Adipati!"
Gu Yueli tertekan. Ia mengambil putra kecilnya dari tangan ibunya, lalu pergi begitu saja. Sudahlah, tidak ada yang bisa diajak bicara. Ibunya sendiri saja tidak mau mendengarkannya.
Ia hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
Hal yang terjadi pada Gu Yueli dan Ting Le terlihat oleh Gu Yuena yang menonton di atas pohon. Senyumnya sama sekali tidak luntur dari awal.
Gu Yueli yang malang. Bahkan sulit sekali untuk bicara pada ibunya sendiri yang lebih mementingkan kekuasaan dan harta dibandingkan nyawa.
Justru, mangsa seperti ini yang mudah ditangkap.
Sayangnya Gu Yuena tidak hanya menginginkan nyawa Ting Le. Melainkan nyawa seluruh kediaman.
Gu Yuena kembali ke kamarnya untuk menunggu momen yang tepat melakukan pembalasan. Jadi, dia tidak akan membunuh tanpa alasan.
Pelayan pribadi yang disiapkan Ye Suanwu melayaninya dengan baik. Membuatkan teh dan camilan, lalu memberi pijatan di bahunya dengan nyaman.
Di tengah kenyamanan tersebut, Ye Suanwu tiba-tiba datang berkunjung untuk melihatnya. Pria itu terlihat sangat segar dan memiliki suasana hati baik. Dapat dilihat dari senyumnya yang merekah seolah sedang melihat tumpukan harta.
Gu Yuena memutar matanya dalam hati.
Tanpa menunjukkan ketidaksopanan, Gu Yuena menyambutnya dan membawanya untuk minum teh bersama. Yah, meski pada awalnya Gu Yuena menawarkan hal itu hanya untuk basa-basi, tapi pria itu langsung setuju saat itu juga.
Mungkin ia bisa mencari momen yang tepat pada kesempatan ini untuk memprovokasi Ye Suanwu secara tidak langsung.
"Sudah lama kita tidak berbincang seperti ini. Terakhir ketika di Wyvernia, terjadi masalah serius yang membuat klan harus mengalami banyak kesibukan." Ye Suanwu terkekeh ketika mengatakannya.
Gu Yuena membalas, "Aku juga sibuk saat itu, tidak bisa menemani Adik Ipar berbincang. Sekarang kesibukan itu telah teratasi, ada banyak waktu untuk minum teh dan menikmati udara segar."
"Cara bicaramu masih sama. Lembut dan sopan, benar-benar bangsawan sejati."
"Kediaman Adipati sudah tidak ada, aku tidak lagi termasuk bangsawan."
"Bukankah kau Putri Wyvernia?"
Gu Yuena diam menatapnya, terlihat tidak nyaman membicarakannya. Hal itu membuat Ye Suanwu merasa salah bicara.
"Ketika di Wyvernia, banyak yang mengatakan tentang ciri khas anggota keluarga kerajaan. Meski bukan seorang putri, bagiku kamu adalah seorang putri."
Gu Yuena menarik sudut bibirnya. Pandai sekali pria hidung belang ini memuji wanita. "Benarkah?"
"Tentu saja."
"Apa kamu juga mengatakan hal yang sama pada Yueli?" tanya Gu Yuena.
Ye Suanwu tertawa mendengar ucapan itu terlontar. "Yueli? Gu Yuena, kamu jangan salah paham. Meski kami adalah suami-istri, sebenarnya tidak lebih dari pasangan politik. Belakangan ini hubungan kami jadi lebih dingin dan formal."
Gu Yuena menganguk mengerti. "Kalian memiliki kesibukan masing-masing."
"Yah, aku membutuhkan seseorang yang pengertian sepertimu. Sangat sulit menemukannya." Tatapan Ye Suanwu terhadap Gu Yuena sangat intens dan penuh keinginan. Sangat terlihat bahwa ia menginginkan Gu Yuena.
Gu Yuena tampak diam sejenak. Wajahnya menunjukkan perasaan keberatan, lalu melihat Ye Suanwu dengan enggan. "Adik Ipar, aku mengerti niatmu, itu semua sudah menjadi masa lalu."
Ye Suanwu menghela napas. "Apa tidak bisa memulainya dari awal? Gu Yuena, aku tahu di hatimu masih ada aku."
Gu Yuena menatapnya dengan senyum kecut. "Sejak kau menikah dengan Yueli, aku sudah merelakannya. Kalian berbahagialah, aku tidak akan mengganggu."
"Yuena ...." Ye Suanwu ingin membujuk dan segera duduk di sebelah Gu Yuena. "Apa kau masih marah padaku?"
Senyum Gu Yuena menjadi sangat pahit. Ya, dia masih tidak bisa memaafkan penghinaan dan percobaan pembunuhan yang dilakukan Ye Suanwu. Ia merasa ingin tertawa melihat perlakuan konyol pria itu.
"Ye Suanwu, kau sudah memiliki istri dan anak. Apa yang bisa aku harapkan? Kamu tahu identitasku tidak biasa, kamu tahu pengaruhku di Istana Luye dan Istana Yuansu. Kita tidak mungkin."
Ye Suanwu terlihat sangat kecewa. Gu Yuena masih belum puas melihat kekecewaan itu dan ingin menyakiti lebih dalam. Kebenciannya telah mendarah daging.
"Selain itu, aku sudah memiliki janji nikah dengan Raja Istana Tianshuang," lanjutnya.
Ye Suanwu menatap Gu Yuena dengan penuh kejutan. "Raja Istana Tianshuang?"
Ia dengar Raja Istana Tianshuang adalah keturunan keluarga Bai terakhir, musuh mereka—Istana Linghun. Bagaimana Gu Yuena bisa bersama cecunguk sialan itu?
"Yuena, apa kau dipaksa?" Ye Suanwu masih tidak percaya.
Wajah Gu Yuena menjadi datar. Ada apa dengan semua orang di dunia ini? Tidak pelayannya sendiri, tidak Ye Suanwu, semua menganggap kalau ia dipaksa nikah. Apa ia dianggap sangat lemah?
"Kalau saja aku memiliki pilihan—antara Klan Ye dan Istana Tianshuang—aku tetap akan memilih Istana Tianshuang. Ye Suanwu, jangan salah paham terhadapku." Gu Yuena meluruskan kesalahpahaman ini agar Ye Suanwu dapat berkaca dengan jelas. Kalau perlu ia bawakan kaca dari dalam kamar.
Ye Suanwu mengepalkan tinjunya. "Jadi begitu." Ia ditolak begitu saja dan telah kehilangan harga dirinya. Ia memang bukan tandingan Raja Istana Tianshuang, tapi Gu Yuena adalah miliknya!
Pria itu pun pergi setelah berpamitan dengan wajah kecewa yang sangat jelas terpatri. Hatinya berambisi untuk mendapatkan Gu Yuena seutuhnya dengan cara apa pun.
Gu Yuena, cantik dan cerdas, bahkan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki banyak wanita. Siapa yang tidak mengidamkannya?
Ye Suanwu memiliki ide di kepalanya. Senyum jahat merekah. Bukankah Gu Yuena memiliki janji nikah dengan Raja Istana Tianshuang? Bagaimana jika ia membuat Gu Yuena dicampakkan? Itu adalah hal mudah dan menyenangkan. Ia bisa mendapatkan Gu Yuena dan mencari kelemahan Raja Istana Tianshuang sekaligus.
Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Ia akan mendapat panen besar akan usahanya kali ini.