
Karena waktu pertemuan masih beberapa hari lagi, Gu Yuena berencana untuk berkultivasi sendirian di kamar penginapan.
Tapi sepertinya itu tidak berjalan dengan lancar.
"Kakak Seperguruan, tolong aku~" Ru Meng masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu sambil mengeluh.
Gu Yuena menghela napas, lalu melihat pemuda itu dengan senyuman. Senyuman yang membuat Ru Meng merasakan dingin di punggungnya.
Sepertinya ia salah waktu.
"Lain kali, aku akan meminta Tetua Min untuk mengajarimu tatakrama."
Ru Meng memucat seketika. "Kakak seperguruan, Anda senang sekali bercanda."
"Haha, sepertinya aku selalu bercanda di matamu. Ketuk pintu sebelum masuk, dan tunggu apa aku mengizinkan atau tidak. Sepertinya, kau terlalu senang di Kota Yin sampai melupakan semua itu."
Untung Gu Yuena dalam posisi akan kultivasi, bagaimana jika dalam posisi sedang berganti pakaian? Ini aturan memasuki kamar lawan jenis, lho!
"Kakak Seperguruan, ini salahku. Kamu ... tidak perlu begitu sensitif." Ru Meng jadi merasa tidak enak.
Gu Yuena memutar bola mata. "Ada apa datang tergesa-gesa?"
"Itu ... Jin Xiao dari Istana Luye datang." Ru Meng tampak emosional tiba-tiba. "Dia datang dan bertanya tentangmu. Dia mengatakan hal buruk tentangmu karena rumor 6 tahun yang lalu."
Gu Yuena memijit keningnya yang berdenyut. "Orang gila mana lagi ini." Kapan ia memiliki waktu yang tenang!
"Aku rasa ... ini disebabkan oleh Lin Xi. Aku dengar Jin Xiao itu teman baik Lin Xi ketika pertemuan antar-klan diadakan."
"Pantas saja, orang gila berteman dengan orang gila," cibir Gu Yuena.
"Lalu bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"
Gu Yuena menghela napas panjang. "Apa boleh buat? Yang Mulia dan Guru berkata bahwa aku tidak boleh menunjukkan permusuhan."
Ru Meng agak tidak setuju. "Tapi—"
"Bukan berarti kita akan kalah, 'kan? Antar aku." Sepertinya Gu Yuena memiliki ide. Ini tergantung bagaimana Jin Xiao bersikap di depannya.
Ru Meng langsung cerah melihat Gu Yuena akan turun tangan sendiri. Haha, lihat saja si marga Jin itu. Kakak Seperguruannya adalah orang yang ditakuti di Istana Yuansu. Bahkan Lin Xi harus berpikir ulang jika ingin menjatuhkannya.
Ingin berhadapan dengan Nona Gu ini? Ru Meng yakin akan ada tontonan eksklusif secara langsung yang kejadiannya akan memenuhi media.
Pemuda itu membawa idolanya ke lantai dasar penginapan untuk bertemu dengan perempuan bermarga Jin itu. Ia sangat bersemangat!
Sedangkan di sisi lain, sosok gadis cantik yang tampak sangat halus dan anggun duduk di kursi yang disediakan penginapan secara sopan. Ia menyesap secangkir teh, membuatnya terlihat memancarkan aura bangsawan yang elegan.
"Benar-benar tidak menghormati tamu, membiarkan Nona Jin kita menunggu selama ini." Salah satu pengikut yang berdiri di belakang kursi Jin Xiao bicara dengan nada menyindir.
Yun Qiao di sisi lain menatap mereka dengan tidak bersahabat. Biasanya ia terlihat sangat lembut, tapi kali tatapannya menjadi dingin.
Ia mengenali Jin Xiao. Latar belakanganya sangat kuat sebagai putri Raja Istana Luye sekaligus kandidat penerus tahta terkuat. Ia tidak mudah disinggung, dan memiliki hubungan baik dengan Klan Lin atas pendekatan Lin Xi saat pertemuan antar-klan.
Meskipun Jin Xiao memiliki reputasi luar biasa dan dikenal sebagai pribadi yang baik, nyatanya dia sangat licik. Ada banyak orang kuat di belakangnya yang mendukung karena kebanyakan perempuan licik seperti Jin Xiao memegang kelemahan orang-orang itu.
Dia adalah wanita yang mengerikan.
Terlihat seperti malaikat, tapi sebenarnya adalah iblis.
Bahkan tanpa orang-orang sadari, ucapan 'ramah' wanita itu telah membuat orang-orang mengetahui aksi kejam Gu Yuena di masa lalu. Sudah seperti itu, Jin Xiao masih saja memasang wajah tebal.
Yun Qiao pikir orang dengan kemampuan yang sama untuk mengalahkan Jin Xiao tak lain adalah Gu Yuena sendiri. Jadi ia dengan sabar menunggu.
Di tengah ketenangan fana ini, Ru Meng tiba-tiba muncul dengan semangat membara bersama sosok wanita cantik di sisinya. Mereka berdua menuruni tangga, menjadi pusat perhatian terutama akan paras Gu Yuena yang melebihi ekspektasi.
Pasalnya, Gu Yuena tidak mengenakan cadar saat ini.
Jin Xiao yang melihat Gu Yuena tidak bisa tidak merasa iri. Di Istana Luye, ia membunuh atau merusak wajah para wanita yang kecantikannya melebihi dirinya sendiri, sehingga ia disebut wanita tercantik di Istana Luye. Kehadiran Gu Yuena saat ini adalah noda.
Dalam sekejap, ia merasa harus menyingkirkan Gu Yuena agar tetap menyandang gelar wanita tercantik.
Untuk saat ini, ia harus menampilkan kelebihan dirinya sendiri dengan lebih menonjol. Baik temperamen maupun bakat, ia tidak lebih baik dari wanita itu.
Nyatanya, Jin Xiao tidak bisa merasakan adanya aura spiritual dari Gu Yuena. Di matanya, Gu Yuena tidak beda dari rakyat biasa yang bermodalkan wajah.
Namun faktanya, kehadiran Gu Yuena benar-benar merebut semua perhatian yang sebelumnya diarahkan pada Jin Xiao. Terutama senyumnya yang begitu mempesona bagai bunga indah dan manis.
Mereka tidak tahu, Ru Meng dan Yun Qiao sedang sangat berhati-hati ketika melihat senyuman satu itu. Senyuman yang tidak sampai ke mata.
(bagi yang belum tahu, senyuman tulus biasanya sampai mata menyipit. Namun, jika senyuman tidak membuat mata menyipit atau bahkan tidak mengerutkan ujung mata, biasanya disebut sebagai senyuman tidak tulus. Bisa senyum paksa atau senyum dingin.)
"Aku telah mendengar dari adik seperguruanku tentangmu, jadi memutuskan untuk meninggalkan kultivasi karena tidak ingin membuat Nona Jin menunggu terlalu lama. Aku harap Nona memakluminya." Gu Yuena berkata dengan perlahan dan jelas, sambil menatap sepasang iris hitam Jin Xiao.
Jin Xiao melihat Gu Yuena dengan teliti sekali lagi. Rambut dan iris mata yang senada dan unik. Ia menginginkannya.
Namun, ada satu hal yang membuatnya tertarik.
"Apa sebelumnya Nona Gu memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan Wyvernia?" Jin Xiao sedang mencoba memastikan.
"Entahlah. Anggap saja seperti itu. Wawasan Nona Jin sangat luas, sudah pasti dapat menebak beberapa kemungkinan."
Kemungkinan bahwa Gu Yuena adalah anak haram dari keluarga kerajaan? Jin Xiao sangat ingin tertawa memikirkan hal tersebut. Hanya seorang anak haram yang tidak diakui dan dilempar ke Istana Yuansu sebagai sampah rupanya. Bisa-bisanya memiliki hak menjadi perwakilan istana.
"Tapi tidak mungkin Nona Jin berpikir bahwa aku adalah anak haram dari keluarga kerajaan, 'kan? Itu melukai harga diriku. Bagaimanapun, aku masih memiliki darah bangsawan dari margaku." Ucapan Gu Yuena yang tepat sasaran membuat Jin Xiao agak kesal.
"Aku dengar bangsawan Gu telah jatuh beberapa tahun yang lalu, turut berduka cita untukmu." Jin Xiao menegaskan bahwa Gu Yuena hanyalah bangsawan buangan, sama sekali tidak sepadan dengannya.
"Nona Jin sangat rendah hati, aku cukup tersanjung. Omong-omong, kedatangan Nona Jin kali ini pasti bukan karena ingin mengucapkan belasungkawa, bukan? Aku dengar dari adik seperguruanku, Nona Jin juga menuturkan belasungkawa atas kematian anak-anak nakal beberapa tahun yang lalu. Itu memang sebuah kejutan, tapi aku yakin di tiap istana pasti memiliki banyak anak nakal yang mati tiap tahunnya. Apa Nona Jin akan mengucapkan belasungkawa pada seluruh istana? Sepertinya Nona Jin tahu banyak apa yang terjadi di dalam istana."
Jin Xiao terdiam mendengar kata-kata Gu Yuena. Wanita ini akan sulit dihadapi. Untungnya Jin Xiao sudah terbiasa akan situasi ini.
Jin Xiao terkekeh geli sebagai tanggapan atas ucapan Gu Yuena. "Nona Gu ... tidak, apa aku boleh memanggilmu dengan nama? Gu Yuena?"
"Tentu saja, itu akan membuat kita terlihat akrab."
"Kamu memang sangat pandai bercanda. Tiap istana memiliki jaringan tersendiri untuk mengetahui seluk-beluk keadaan. Apalagi, kasus saat tu sangat terbuka dan telah tersebar di mana-mana. Gu Yuena, popularitasmu bahkan sudah sampai di Istana Luye. Itu sebabnya aku menemuimu."
"Oh? Aku tidak tahu aku begitu terkenal. Sepertinya, sibuk berkultivasi membuatku tidak memperhatikan hal ini."
Yun Qiao dan Ru Meng di belakang sana nyaris tidak bisa menahan tawa. Tidak tahu popularitas sendiri? Nyatanya, hampir setiap hari Gu Yuena menjadi narsis dan mengatakan seberapa populer ia.
"Ada sangat banyak orang yang mengagumimu. Aku harap, kamu bersedia berkunjung untuk menyenangkan mereka," ujar Jin Xiao.
"Jin Xiao, di saat ada kamu, mereka justu lebih menyukaiku. Apa kamu tidak keberatan?" Gu Yuena pura-pura sungkan. Ah, ia sedang memprovokasi wanita itu melalui popularitas.
"Melihat kemampuanmu, aku justru tidak keberatan. Kudengar kamu juga berbakat di bidang seni. Kalau bisa, aku ingin melihat bagaimana kamu mengekspresikan seni di pertunjukan bakat nanti." Jin Xiao mengalihkan topik dengan lancar.
"Apa Jin Xiao juga suka seni? Kalau begitu kebetulan sekali, aku pernah sekali menari di pernikahan adikku dengan klan besar."
"Sekali?" Jin Xiao nyaris tertawa. Bisa-bisanya memamerkan pengalaman menari yang bahkan tidak sampai hitungan jari. Gu Yuena ini terlalu percaya diri.
"Sebenarnya tidak benar-benar sekali. Hanya saja, itu kali pertama aku berada di atas panggung. Aku masih amatir, mungkin Jin Xiao bisa lebih baik dariku." Gu Yuena menunjukkan kerendahan hatinya.
"Tidak tahu jika tidak dicoba. Aku bisa bermain musik, dan pertama kali menjadi pengiring tarian. Bagaimana jika kita bekerja sama?" Jin Xiao mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Gu Yuena tersenyum sampai matanya menyipit, lalu menyambut tangannya, "Baik, mohon kerja samanya."
Ru Meng nyaris menjatuhkan rahang ketika melihat dua perempuan itu saling berjabat tangan dengan akrab.
Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya terjadi keributan?
Kapan mereka jadi akrab?
Melihat ekspresi Ru Meng yang tidak beres, Yun Qiao segera membisiki, "Ini hanya awalan untuk sebuah persaingan. Kita tidak bisa melawan mereka terang-terangan untuk menghindari konflik langsung, hanya bisa melawan saat pertunjukan diadakan. Ingatlah, Yang Mulia melarang kita menunjukkan permusuhan secara terbuka sebelum segalanya tercapai."
Ru Meng mengangguk-anggukkan kepala tanda paham. Ia melihat kedua perempuan yang saling berjabat tangan dengan senyum sumringah.
Semakin lama diperhatikan, mendadak tubuhnya merinding.
Entah karena apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gu Yuena kehilangan suasana hati berkultivasi karena tingkat saudara seperguruannya yang heboh akan rencana Gu Yuena yang akan menari diiringi dengan musik Jin Xiao.
"Pokoknya, Kakak Seperguruan harus tampil berbeda minggu depan. Kami berdua akan menemanimu berbelanja pakaian dan aksesoris, kami Istana Yuansu akan mendukungmu dari penindasan Istana Luye!" Ru Meng bertingkah paling heboh sejak tadi.
"Apa yang dikatakan Ru Meng benar. Xiao Yuena, kamu tidak boleh malas. Ini adalah penampilan perdanamu mewakili Istana Yuansu. Kamu juga harus berlatih dengan baik." Yun Qiao berkata secara perlahan namun jelas. Ucapannya membuat Gu Yuena melirik sinis.
"Aku bukannya tidak bisa menari, lho. Pengalamanku lebih dari apa yang kalian kira." Gu Yuena agak kesal ketika Yun Qiao masih menyuruhnya belajar menari. Pria itu tidak lihat tariannya di Klan Ye.
"Baiklah, kalau begitu, apa kamu akan tampil dengan pakaian yang biasa kamu gunakan di Istana?"
"Itu sudah bagus. Hanya perlu sedikit aksesoris agar lebih terkihat seperti idola." Gu Yuena mengatakan kebenaran. Masih ada banyak pakaian yang belum ia kenakan sejak dibeli.
"Tidak bisa. Sebagai murid Istana Yuansu, kamu tidak boleh pakai pakaian yang sudah pernah dipakai. Kamu tenang saja, aku yang akan bayarkan."
"Aku tidak suka desain pakaian di sini." Gu Yuena mencari cara untuk menolak.
"Kalau begitu, kita cari desainer terkemuka. Aku akan meminta bantuan walikota mencarikannya." Yun Qiao terlihat sangat antusias.
"Sebenarnya yang akan menari aku atau kalian?" Gu Yuena menatap mereka dengan datar.
Ru Meng terkekeh. "Kakak seperguruan, tidak ada salahnya mempercantik diri. Meski kamu sudah sangat cantik meski tanpa hiasan, di penampilan perdanamu ini harus lebih istimewa lagi."
"Percuma saja jika nantinya akan hancur karena pertarungan." Gu Yuena masih menolak.
"Oleh karena itu kita cari desainer terkenal. Ayo, kita pergi ke kediaman walikota." Yun Qiao langsung berdiri, sedangkan Ru Meng menggandeng tangan Gu Yuena yang masih menegang ayam.
Gu Yuena mengeluh habis-habisan karena ayamnya belum habis. Karena itu, ia terpaksa mengambil seluruh ayam di meja dan membawanya keluar.
Di kediaman walikota, atas permintaan Yun Qiao, walikota langsung bersemangat mengundang desainer ternama langganannya. Gu Yuena diarahkan untuk berdiri sambil merentangkan tangan selama pengukuran dilakukan.
Gu Yuena sampai jengah.
Biasanya ia membeli pakaian yang langsung jadi.
"Nona, ada kriteria khusus untuk gaun yang diinginkan?" tanya desainer yang berupa pria berkacamata dan tampak sangat teliti.
"Yaa, harus gaun yang mudah dibuat gerak, karena kegiatanku tidak hanya kegiatan halus. Buat saja pakaian yang nyaman digunakan saat bertarung."
"Nona Gu sepertinya sangat aktif." Desainer itu terkekeh, lalu mencari desain pakaian yang kemungkinan besar akan cocok sesuai kriteria Gu Yuena.
Setelah seleai mengukur, Gu Yuena duduk di atas bangku. Ia melihat Yun Qiao dan Ru Meng dengan perasaan kesal, sedangkan dua orang itu hanya menyengir tidak bersalah.
Di saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka, menampakkan tiga orang laki-laki dan satu perempuan yang memasuki ruangan. Salah satu laki-laki yang tampak berusia 40an adalah walikota, mengantar tiga tamunya dengan hormat ke dalam.
"Ini adalah sebuah kebetulan yang langka. Tuan dan nona sekalian, mereka adalah perwakilan dari Istana Yuansu yang datang dengan tujuan sama seperti kalian." Pria paruh baya itu berkata pada tiga anak muda itu, lalu menoleh ke arah Gu Yuena dan yang lain. "Maaf jika saya mengganggu, mereka adalah perwakilan Istana Tianshuang yang juga akan memesan pakaian untuk acara pertemuan minggu depan. Apakah Tuan dan Nona berkenan? Saya tidak akan mengganggu."
Yun Qiao mengangguk dengan senang hati begitu pula Ru Meng. Mereka berdua menampilkan sisi terbaik untuk orang-orang Istana Tianshuang.
Lagi pula, itulah tujuan mereka.
"Baiklah, terima kasih atas kerja samanya." Walikota membungkuk, lalu mempersilahkan ketiga anak muda itu untuk berjalan ke arah yang ditentukan.
Setelahnya, Walikota pun pergi tanpa bisa mengganggu.
Enam perwakilan dari dua istana yang berbeda, berada di satu ruangan.
Bukannya suasana mendingin seperti yang terjadi ketika berhadapan dengan Istana Luye, pihak Istana Tianshuang malah berkebalikan dari sikap Istana Luye.
Seperti biasa, dua bocah lugu yang baru keluar dari gua melihat Gu Yuena dengan mata bersinar cerah seperti melihat harta.
Ru Meng sampai merinding.
"Ternyata Anda adalah perwakilan Istana Yuansu. Pantas saja, aku merasa Anda tidak biasa." Perempuan di antara mereka ingin menghampiri Gu Yuena, namun kakak seperguruannya malah meliriknya hingga ia terdiam.
Gu Yuena menanggapinya dengan senyuman, "Terima kasih."
Itu membuat mereka berdua semakin terpesona!
"Nona, silahkan ke sini." Wanita yang dipekerjakan khusus mengukur badan meminta perempuan itu untuk ke sisi lain.
Perempuan itu langsung pergi dengan canggung. Ini kali pertamanya diukur. Andai saja tetua mereka tidak memaksa.
Dua lelaki sisanya duduk di tempat yang disediakan—di hadapan tiga manusia Istana Yuansu.
Suasana menjadi canggung.
Ru Meng berbisik pada Gu Yuena, "Penggemarmu sudah sampai di Istana Tianshuang. Benar-benar luar biasa."
Gu Yuena menoleh ke arahnya dengan senyuman, lalu mengedipkan sebelah mata sebagai tanda bahwa suasana hatinya membaik melihat keimutan perempuan itu. Ru Meng tertegun, wajahnya memerah seketika melihat betapa manis Gu Yuena saat mengedipkan mata.
Yun Qiao ikut berbisik, "Ini belum termasuk saat Xiao Yuena menampilkan tariannya mengalahkan Jin Xiao.
"Benar sekali!" Ru Meng ingin memekik, tapi ia sadar di depannya ada pria kaku dan dingin yang membuatnya menahan diri.
Apakah semua anggota Istana Tianshuang aneh? Dua lainnya menunjukka kekaguman seperti anak-anak, sedangkan yang satunya sudah seperti patung hidup.
Gu Yuena melihat pria yang tampak membosankan itu. Ia tidak mengenalinya, atau merasa kenal. Tapi entah kenapa, ia merasakan aura yang aneh dan tidak asing.
Sadar diperhatikan oleh perempuan cantik tertentu, pria poker itu tanpa sengaja meliriknya hingga pandangan mereka bertubrukan. Mendadak, wajah pria itu memerah. Ia langsung menghindari pandangan Gu Yuena, pura-pura tidak melihatnya.
Gu Yuena sadar dan sangat ingin tertawa.
Lucu sekali!
"Belakangan ini banyak hal yang terjadi. Aku harap Istana Tianshuang dan Istana Yuansu bisa memiliki hubungan yang baik di masa depan." Yun Qiao mencoba memulai percakapan.
Tapi dua lelaki itu hanya menatapnya dengan datar. Benar-benar datar. Berbeda ketika melihat Gu Yuena.
Yun Qiao terdiam, merasa dimusuhi.
Gu Yuena sadar akan situasi yang tidak baik, ia pun berdeham dan meletakkan buku katalog desain di tangannya. "Jadi, Istana Tianshuang benar-benar bergabung dengan acara ini. Aku sempat tidak percaya dan sangat menantikannya. Namaku Gu Yuena, perwakilan dari Istana Yuansu." Gu Yuena melirik Yun Qiao dan Ru Meng bergantian, "Dia adalah kakak seperguruanku, Yun Qiao, murid langsung Raja Istana Yuansu, dan adik seperguruanku, Ru Meng. Kuharap kita bisa memiliki hubungan yang baik kedepannya."
Pria yang tampak riang itu melihat Gu Yuena dengan terpana untuk beberapa saat. Ia buru-buru memperkenalkan diri. "Na-namaku Zhou Wei." Dia melirik pria kaku di sebelahnya, "Dia adalah kakak seperguruanku, sekaligus sepupuku, Zhou Tao. Sedangkan perempuan itu adalah adikku, Zhou Ying."
"Ah, Zhou bersaudara. Aku juga memiliki seorang kakak yang sangat baik. Kau pasti sangat menyayangi adikmu seperti kakakku yang menyayangiku." Gu Yuena menanggapi dengan bersahabat.
Hal tersebut membuat Zhou Wei memerah seketika. Apa baru saja perempuan cantik itu sedang bicara dengannya? Memujinya?
Zhou Ying yang baru selesai melakukan pengukuran langsung duduk dan mencuri pandang malu-malu ke arah Gu Yuena. Ia terlihat sangat imut dengan pipi dan mata bulatnya seperti bayi.
Gu Yuena jelas tidak bisa mengabaikan keimutan seperti ini.
"Kamu pasti Zhou Ying. Melihatmu, aku jadi mengingat masa lalu. Dulu aku sangat pemalu, dan tidak bisa menolak yang namanya makan ayam. Apa kamu ingin mencoba ayam goreng?" Gu Yuena mendekati Zhou Ying dengan cara bujukan efektif. Ia menyodorkan kotak makan bersisikan ayam yang ia bawa tadi.
Zhou Ying tampak berbinar. Ayam goreng ... ia suka ayam goreng, ternyata Nona Gu juga sangat suka ayam goreng. Karena tidak bisa menolak, ia pun malu-malu mengambilnya.
"Terima kasih." Pas sekali, tetua melarangnya makan ayam goreng karena terlalu berminyak. Ia sangat merindukan makanan ini sejak lama. Nona Gu memang yang terbaik.
Mamang, tidak ada yang bisa menyangkal kenikmatan ayam goreng.
Yun Qiao dan Ru Meng tidak habis pikir. Bisa-bisanya Gu Yuena menarik perhatian orang-orang itu begitu cepat, sedangkan mereka diberi tatapan tak bersahabat. Benar-benar bermuka dua!
Lalu apa kata Gu Yuena barusan? Pemalu? Apa melakukan merlawanan dengan begitu mendominasi dan mempermalukan Klan Lin adalah rasa malu? Tebal sekali wajahnya.
Mendadak, mereka melihat Gu Yuena seperti melihat orang yang berbeda.
"Xiao Yuena, kuserahkan semua padamu." Yun Qiao rela menyerahkan semuanya pada Gu Yuena. Hanya gadis itu yang dapat mengambil alih.
"Ini namanya keajaiban ayam goreng." Gu Yuena menyahut dengan kekehan ringan.
Sebenarnya ayam goreng yang ajaib atau orangnya?
Jelas-jelas perwakilan Istana Tianshuang terpikat padanya, bukan ayam goreng. Yah, meski perempuan tertentu sangat menikmati ayamnya.
Sebelum pertemuan diadakan, Gu Yuena berhasil menarik perhatian mereka. Kedepannya akan menjadi lebih mudah.
Hanya saja, Gu Yuena masih penasaran dengan pria kaku yang tampak hanya diam sejak tadi. Selain merenung dan tidak melakukan apa pun, Gu Yuena tidak dapat melihat hal lain.
Apa sebenarnya dia patung hidup yang menyamar?
Omong-omong, ia jadi penasaran dengan kehadiran Bai Youzhe waktu itu. Apa ia tanya saja?