
Pria tua berambut putih di atas 'kursi besi' itu adalah kakeknya. Satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki, sekaligus gurunya yang selama ini memberinya banyak hal agar dapat berdiri di posisi saat ini. Kakeknya adalah satu-satunya orang yang paling ia kagumi dan ia pedulikan.
(Kursi besi merupakan idiom dari kursi tahta. Dapat ditemukan di novel atau series bertema kerajaan barat.)
Bai Tianzhi, Raja Istana Tianshuang yang telah menjabat selama lebih dari 100 tahun. Ia memiliki seorang putri bernama Bai Ying, yang menikah dengan laki-laki yang tidak diketahui identitasnya dan memiliki Bai Youzhe sebagai satu-satunya putra mereka.
Karena keduanya meninggal dalam mempertahankan Istana Tianshuang beberapa tahun lalu, Bai Youzhe kecil dititipkan ke Klan Luo oleh Bai Tianzhi dalam keadaan terluka untuk dilindungi sampai waktunya tiba.
Hilangnya Bai Youzhe saat remaja adalah saat-saat ia bertemu dengan Bai Tianzhi dan memahami segala situasi yang terjadi. Ia ingat masa lalu. Masa di mana orang-orang itu membunuh ayah dan ibunya tepat di depan kedua iris biru malam itu. Butuh waktu lama bagi Bai Youzhe untuk keluar dari traumanya.
Kali ini adalah waktunya untuk mengambil apa yang seharusnya dia dapatkan.
Istana Linghun harus membayar semuanya.
"Aku sudah menunggu kedatanganmu sejak lama." Bai Tianzhi bangkit dari kursinya. Ia menuruni anak tangga, mendekati cucu satu-satunya yang hadir setelah sekian lama.
Bai Youzhe dengan tampilan dingin yang tidak berubah, berkata dengan nada datar, "Pasukan kematian Aula Linghun telah menghancurkan beberapa kota dan menggantinya sebagai markas baru mereka. Tak lama ini aku bertemu dengan pemimpin mereka."
"Aku mengerti." Bai Tianzhi menghela napas. Ia melihat Bai Youzhe sebagai kakek, bukan penguasa. "Apa kau baik-baik saja selama ini?"
"Aku selalu baik-baik saja."
"Sangat terlihat. Kau terlihat jauh lebih baik dari tahun sebelumnya." Bai Tianzhi tersenyum penuh rasa syukur. Ia selalu khawatir pada Bai Youzhe, takut cucu kesayangannya yang kaku seperti kayu ini kesulitan menangani kekuatannya sendiri.
"Aku menemukan darah phoenix." Bai Youzhe berkata dengan nada datar. Ada perasaan aneh ketika ia mengatakannya.
"Itu adalah hal bagus." Bai Tianzhi tidak terlihat terkejut. "Awalnya aku berniat memberitahumu ketika pulang, tapi ternyata kau sudah mengetahuinya. Apa kau mengenalnya?"
"Ya."
"Aku pikir kau tidak cukup mengenalnya." Bai Tianzhi tersenyum kecut. Hal tersebut membuat Bai Youzhe bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan Bai Tianzhi.
Bai Tianzhi berjalan ke arah jendela yang terbuka lebar, menampilkan pemandangan hutan yang begitu indah. Ia melihat ke arah bulan yang bersinar terang.
"Bulan malam ini sangat bagus," gumamnya, lalu menghela napas. "Ada beberapa rahasia di dunia ini yang tidak bisa diungkapkan secara langsung. Gadis yang kau temui, adalah salah satunya. Aku pikir ini akan sulit untukmu."
"Kenyataan ternyata dia berasal dari keluarga kerajaan?" Bai Youzhe menebak.
"Keberadaannya cukup rumit." Bai Tianzhi sepertinya tahu banyak hal yang tidak diketahui orang banyak. Ia berkata dengan nada perlahan. "Ketika Putri Vanya menikahi Raja Istana Linghun, mereka dikaruniai dua anak. Gadis itu adalah salah satunya."
Telapak tangannya terkepal erat. Bai Youzhe sudah tahu hal ini, tapi ia masih belum bisa menerimanya. Kenyataan bahwa orang yang ia sukai ternyata adalah putri orang yang membunuh keluarganya adalah hal berat yang tidak bisa ia terima.
Bai Youzhe sudah menebak sejak awal, tapi ia meyakinkan diri untuk menyangkalnya bahwa bisa saja ada kesalahan. Tapi jika kakeknya sendiri yang mengatakannya, ia mau tidak mau harus menerima kenyataan.
Seperti yang dikatakan seseorang. Pada akhirnya, mereka tetap akan sulit bersama, 'kan?
Andai saja Bai Tianzhi tidak tahu, ia bisa mengubur semua fakta ini hanya untuk dirinya sendiri dan menutupi identitas gadis itu.
Bai Tianzhi berkata, "Tidak ada gunanya membohongi diri sendiri."
Dia berbalik melihat Bai Youzhe yang terlihat kacau. Meski wajahnya masih tampak dingin, pikirannya benar-benar seperti benang kusut.
"Apa yang dikatakan hati dan pikiranmu?" tanya Bai Tianzhi.
"Itu semua tidak penting." Bai Youzhe menutupi perasaan kacaunya.
"Aku mengerti keterikatan antara darah phoenix dan darah naga. Kau ingin membencinya, tapi tidak bisa melakukannya sehingga memilih pilihan tersulit."
Bai Youzhe tidak mengatakan apa pun lagi. Ia benar-benar diam tanpa bisa mengatakan sepatah kata.
Kakeknya benar. Ia bisa membenci orang lain dengan mudah, tapi hanya satu orang yang sulit untuk dibenci meski ingin.
Ah, ia bisa gila jika terus seperti ini.
"Apa yang akan kau lakukan untuk menangani ini?" Bai Tianzhi bertanya. Ini adalah ujian.
Bai Youzhe melihat kakeknya dengan serius. "Untuk masalah ini, aku akan mencari Gu Yuan untuk mendapat pernyataan darinya. Siapa yang dia pilih, menentukan apa yang harus kulakukan."
Gadis tertentu sangat menyayangi kakaknya sehingga sudah pasti akan mengikuti apa pun yang dilakukan kakaknya. Jika ingin persaingan ini berhasil, ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Kau tahu ini akan menimbulkan kesalahpahaman." Bai Tianzhi mengingatkan.
"Aku tahu konsekuensinya." Iris birunya melihat gelapnya langit yang dipenuhi bintang. "Aku akan membawanya ke pihakku."
Bisakah ia sedikit egois untuk dirinya sendiri? Atau justru akan mengalah?
Apa pun hasilnya, harus ada keberhasilan.
Jika tidak, hanya akan ada kematian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selama lebih dari 6 bulan aku melayani Nona Gu, sebenarnya dia tidak seperti yang kalian lihat di akademi. Aku bisa menjamin dia tidak seperti orang-orang Istana Linghun kebanyakan." Chu Xin berkata dengan yakin pada dua pria di sisinya. Ia memang sempat terkejut akan kenyataan ini, tapi ia tidak akan melepas keyakinannya begitu saja hanya karena sebuah identitas.
"Semua orang bisa berubah, seperti yang terjadi pada tuan kita." Hei Changge, pria yang paling tinggi di antara mereka berkata dengan cuek.
"Dia sih memang aneh. Kadang terlihat senang, kadang terlihat suram, lalu berubah lagi setiap harinya." Bao Jun bergumam demikian, tapi terdengar oleh Chu Xin sampai terkena pukulan darinya.
"Kau ingin kehilangan lehermu?" Chu Xin mendengus. Pada saat itu juga Bao Jun memegangi lehernya sendiri dengan ngeri.
"Apa pun kenyataannya, tidak akan memiliki banyak perubahan. Tuan Muda tidak mungkin membunuh perempuan itu."
"Apa perasaan antara darah naga dan phoenix sangat kuat?" Chu Xin berpikir keras. Agak aneh melihat tuannya yang selalu tidak berperasaan mendekati seorang perempuan.
"Entahlah. Menurutmu, apa itu benar hanya perasaan antara darah naga dan phoenix?" Hei Changge justru bertanya balik.
"Sayangnya, itu hanya bisa dijawab oleh Tuan Muda langsung." Bao Jun melihat ke arah pintu, mengetahui seseorang akan masuk ke dalam ruangan.
Benar saja, pintu terbuka menampakkan Bai Youzhe yang masuk ke dalam ruangan dengan perasaan dingin yang dibawanya. Ketiga manusia itu langsung berdiri tegak setelah lama berleha-leha sambil bergosip.
"Tuan Muda."
Mereka membungkuk untuk memberi penghormatan, sedangkan pria itu hanya berjalan tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya berhenti di tengah ruangan, lalu melirik ketiga bawahannya yang masih menunduk.
"Kembalilah."
"Temui Su Churan dan beritahu apa yang harus dilakukan," lanjut Bai Youzhe.
Ah, ternyata begitu. Meski mereka tidak begitu mengerti mengenai rencana Bai Youzhe, setidaknya mereka tahu langkah apa yang harus diambil.
Su Churan adalah teman Gu Yuena. Bai Youzhe ingin Su Churan memastikan kondisi Gu Yuena di akademi. Jika dia mengirim Chu Xin, gadis itu akan curiga.
Tapi, bukankah satu orang sudah cukup?
"Sisanya kembali ke posisi masing-masing." Bai Youzhe benar-benar mengusir mereka, mengembalikan mereka ke pekerjaan dalam guild.
Padahal mereka sudah sangat senang dapat pergi ke Istana Tianshuang dengan alasan mengawal Bai Youzhe atas perintah Bai Tianzhi. Tapi mereka sudah dipinta pulang begitu saja.
Sepertinya ini adalah karma seorang bawahan yang menggosipkan atasan.
"Baik, Tuan Muda."
Mereka tidak bisa menolak atau protes. Mau tidak mau, ketiganya berbalik dan melangkah pergi hari itu juga.
Tak apa, dengan kecepatan mereka, bukankah hanya butuh beberapa hari untuk sampai?
Orang biasa mungkin dapat melakukan perjalanan selama berbulan-bulan, tapi mereka berbeda.
Setelah ketiga manusia itu pergi dalam keadaan lesu, ruangan menjadi lebih sunyi dari seharusnya. Bai Youzhe hanya diam di tempatnya, dengan pikiran kacau dan kusut seperti benang.
Ada banyak keraguan dalam hatinya.
"Gu Yuena."
Nama itu terlintas begitu saja ketika matanya tertutup. Wajah yang sama terus terngiang sejak setahun yang lalu di mana pertemuan pertama mereka terjadi.
Setahun yang lalu, ia datang ke Ibu kota Kekaisaran Yi untuk mengikuti jejak Klan Ye. Klan Ye adalah bagian dari Istana Linghun. Koneksi mereka terhadap Istana Linghun cukup kuat dan memiliki batu jiwa yang tersimpan di kediaman mereka.
Sayangnya, ketika Bai Youzhe menyusup ke Klan Ye, ia tidak menemukan batu jiwa. Ia harus mengumpulkan 3 batu jiwa Istana Linghun untuk menyempurnakan rencananya.
Ia pikir Kediaman Adipati yang melakukan aliansi pernikahan dengan Klan Ye mengetahui beberapa hal menyangkut batu jiwa. Tapi rupanya mereka hanyalah batu loncatan Istana Linghun yang tidak penting di matanya. Mereka tidak tahu apa pun mengenai batu jiwa.
Justru karena ia tidak menemukan apa pun di ibu kota, ia malah dipertemukan dengan seorang gadis yang berniat kabur setelah membunuh orang-orang Klan Ye. Ia pikir mungkin saja gadis itu tahu sesuatu setelah membunuh mereka, dan mulai menginterogasinya.
Memang sempat terjadi hal terduga karena sedikit kecerobohannya, tapi itu semua berhasil diatasi. Ia mengetahui gadis itu adalah anggota keluarga Gu yang sedang ia incar. Kebetulan ia mengenal Tuan Muda Pertama mereka di Akademi Yinyang.
Akhirnya, untuk menyelidiki lebih dalam, ia memutuskan untuk ikut Klan Luo sebagai Tuan Muda Luo yang terkenal akan reputasi buruknya. Ia sudah tahu bahwa Ketua Klan akan menikahkan Luo Yi dengan Gu Yuan, dan Kepala Keluarga Gu yang haus akan kehormatan itu mempermudah jalan penyelidikannya.
Sedangkan konfliknya dengan Gu Yuena bermula dari rencananya agar bisa lebih lama di Kediaman Adipati. Ia tidak tertarik pada kucing liar itu, tapi ada beberapa hal yang membuatnya penasaran.
Mata merah itu.
Selain mata merah yang unik, ada perasaan khusus yang sulit dijelaskan ketika berdekatan dengan gadis itu. Itu sebabnya, ia mencoba dekat lebih lama untuk mengetahuinya di Pasar Gelap. Tapi ternyata ia terjebak dalam rencananya sendiri dan mulai memperhatikan Gu Yuena lebih dekat.
Ia mulai menyelidiki identitas Gu Yuena dan mengapa Adipati Gu membuangnya seperti sampah. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Istana Linghun di kediaman adipati.
Penyelidikannya memang tidak sia-sia. Adipati Gu pasti memiliki hubungan tertentu dengan Istana Linghun. Oleh karena itu, ia mengirim Chu Xin sebagai mata-mata. Selain untuk melindungi Gu Yuena, juga untuk mematai seluruh kediaman.
Tunggu dulu. Melindungi Gu Yuena?
Mengingat kabut hitam yang menyerang Gu Yuena saat itu, entah kenapa ia merasakan perasaan takut yang asing. Apa itu disebabkan oleh trauma masa kecilnya ketika melihat kabut tersebut?
Tiap kali ia dekat dengan Gu Yuena, ia selalu merasakan ketertarikan aneh yang membuatnya gelisah. Ia masih tidak tahu artinya.
Bagaimana ia bisa begitu memperhatikan kucing liar yang sama sekali tidak memperlakukannya dengan baik? Kucing liar yang kerap kali menggigit dengan taringnya dan memberinya rasa permusuhan. Anehnya ia tidak masalah akan sikap itu.
Jika di keadaan normal, ia sudah membunuh orang yang menyatakan perang padanya sejak awal.
Sampai akhirnya Bai Youzhe pergi dari Kediaman Adipati, barulah dia merasakan yang namanya kekosongan.
Ketika pergi, ia bersikap biasa saja meski ada perasaan berat dalam hatinya. Tapi ketika beberapa hari dilalui, ia menjadi semakin gelisah. Bayangan wajah dan nama itu terus terngiang-ngiang menghantuinya. Ia tidak terbiasa dengan perasaan ini.
Sampai ketika ia pergi ke Akademi Yuansu untuk mengambil giok es, ia terkejut bahwa gadis itu ada di akademi dan asrama yang sama dengannya. Ada perasaan senang, dan aneh bersamaan. Bagaimana ada kebetulan seperti ini?
Lama-lama ia bisa jadi gila.
Bai Youzhe saat itu tidak memahami perasaannya sendiri dan bersikap sebagai Luo Youzhe yang menyebalkan. Lama-kelamaan ia merasa sikap menyebalkan yang ditunjukkan keluar secara alami tanpa paksaan, seolah sudah menjadi hiburan baginya.
Ada saat ketika ia penasaran dengan perasaan ketertarikan yang sulit dijelaskan tersebut. Perasaan itu pertama kali muncul saat mereka berciuman di penginapan, yang membuat kewarasannya sulit dijaga. Ia ingin memastikannya sekali lagi ketertarikan macam apa yang dia rasakan dengan cara yang sama.
Dan benar saja, ia menjadi tidak waras.
Perasaan jantung yang berdegup sangat keras membuatnya tidak nyaman, tapi tidak ingin menghentikannya. Ketika ciuman mereka terlepas lebih cepat, ada rasa kecewa di hatinya dan ingin melakukannya lagi. Tapi ia tahu, itu tidak sopan dan akan membuat gadis itu takut padanya.
Bai Youzhe yang tidak berperasaan dan memandang semua orang dengan pandangan sama, kini memperhatikan berbagai hal kecil untuk perempuan yang memusuhinya sepanjang hari.
Ada perasaan keinginan untuk melindungi yang kuat, disertai keinginan memiliki yang hanya dirinya seoranglah yang boleh memilikinya. Sampai tiap kali ia akan membuat rencana, ia akan mempertimbangkan keselamatan gadis itu tanpa memikirkan resiko lain.
Seperti ketika ia mengundur rencananya karena kedatangan darah naga lain yang membawa batu jiwa. Dialah yang membuat Bai Youzhe yakin bahwa Gu Yuena memiliki darah phoenix. Hal tersebut membuat Bai Youzhe waspada. Jika orang itu menemui Gu Yuena, segalanya akan menjadi rumit.
Jika ada dua darah naga yang dianggap mustahil itu, Gu Yuena sebagai pemilik darah phoenix harus memilih salah satunya.
Tapi selama Gu Yuena belum memilih, ia masih memiliki banyak kesempatan.
Meski Gu Yuena sudah mengetahui mengenai sikapnya, dan sepertinya menyadari niatnya namun memberi reaksi dingin serta penolakan yang tegas, Bai Youzhe sama sekali tidak peduli. Yah, ia memang agak keterlaluan. Dia akan mengubah caranya.
Ia tahu alasan Gu Yuena menolaknya hari itu. Itu bukanlah masalah besar, karena dia adalah pemilik darah naga.
Tidak peduli apa Gu Yuena juga memiliki perasaan yang sama dengannya, Bai Youzhe tidak akan menyerah begitu saja. Ia tidak akan melepaskan siapa pun yang telah masuk ke dalam radarnya.
Bahkan jika gadis itu ternyata adalah putri dari musuh, dan berpotensi besar menjadi ancaman untuknya, dia sama sekali tidak peduli.
Baik karena ikatan darah naga dan phoenix atau bukan, ia tidak akan memiliki niat menyakiti apalagi membunuh gadis itu.
Meski harus membunuh keluarganya.
"Kau mungkin akan sangat membenciku," gumam Bai Youzhe di tengah ruangan sunyi ini. Ia melihat ke arah secarik kertas yang rupanya sejak tadi ia genggam. "Namun, aku akan melindungimu." Untuk itu, ia harus pergi ke suatu tempat.