
begitu hebatkah sentuhan tangan dokter cantik ini sampai jantungku juga ikut bergetar hebat entah mengapa
"Raf, kakak tidur duluan ya soalnya Ngantuk banget ini tidak seperti biasanya,kenapa ya tiba-tiba ngantuk kayak gini "ujar Riki dan berdiri dari duduknya lalu berjalan kedalam kamar dan naik keatas ranjang tak membutuhkan waktu lama Riki pun terlelap
saya terbangun dari tidurku yang terasa sangat nyenyak saat suara Azan Subuh berkumandang,saya merasa pagi hari ini sangat segar,saya tidak pernah merasakan segar seperti ini ditambah Aroma nasi goreng yang lezat menguar memenuhi penciuman membuat cacing dalam perut meronta-ronta
"emmm,baunya wangi sekali, membuat perut keroncongan " ujar Rafa
"iya benar baunya sedap sekali, ini pasti enak deh
makasih ya mbak Nana sudah buatkan kami Nasi goreng " ujar Rana
"ini Nasi goreng buatan mbak Ayumi mbak Rana " jawab Nana tersenyum
"wow, benarkah ?" ucap Rana lagi
"iya Mbak, silahkan mbak mas dicoba nasi gorengnya mumpung masih hangat" ujar Nana
"iya mbak Nana, makasih banyak ya trus mbak Ayumi nya mana mbak?" tanya Rana
"tuh lagi bawa bubur buat Icha" ujar Nana menunjuk Ayumi yang sedang berjalan masuk kedalam klinik dengan membawa nampan ditangannya
kami semua menoleh kearah Ayumi, Ayumi yang diperhatikan pun tersenyum kearah kami
"astaghfirullah kenapa dengan jantungku kenapa berdetak kencang seperti ini"gumamku dalam hati pura-pura menggaruk dadaku takut Rafa dan Rana memperhatikan dan itu bisa mereka berdua jadikan bahan olok-olok padaku
"silahkan di cicipi sarapannya mbak mas mumpung masih hangat,saya kedalam dulu mau suapin icha bubur dulu biar bisa makan obat "ujar Ayumi lalu masuk kedalam kamar dimana icha berada
"Assalamualaikum anak cantik wah udah bangun rupanya " ujar Ayumi saat sudah berada didekat tempat tidur Arisha
"waatitumcayam dunda" jawab Arisha dan saya,Rafa serta Rana bisa mendengar itu dari luar kami hanya saling tatap tanpa ada yang bersuara
kami kembali menikmati sarapan yang bukan hanya aromanya saja yang sedap namun rasanya memang sangat lezat dan cocok dilidahku
didalam kamar Ayumi menyuapi Arisha dengan sangat telaten,
Arisha memakan sarapannya dengan sangat lahap, setelah selesai menyuapi Arisha Ayumi meminta Rana untuk memberikan obat dan membersihkan tubuh Arisha
setelah cairan infus Arisha telah habis Ayumi mencabut jarum infus dari tangan Arisha, Arisha merasa senang karena tangannya sudah terbebas
"mamacih dunda"ujar Arisha tersenyum manis pada Ayumi
"sama-sama anak cantik, jangan sakit lagi ya sayang " ujar Ayumi lalu mencium kening Arisha
Arisha merasa sangat senang mendapat perlakuan seperti itu dari Ayumi
"wah ponakan cantik aunty sudah sembuh" ujar Rana merasa sangat senang melihat wajah ceria ponakannya itu lagi
"iya onty,icha tan diwawat Pama dunda dadi Icha tepat pembuh
Icha tat bau takit ladi latana atit bituntit pama dunda" ucap Arisha dengan mimik wajahnya ketakutan namun terlihat sangat menggemaskan
"iya sayang jangan sakit lagi ya nanti bunda Ayumi suntik tangan icha lagi" ujar Rana, Ayumi hamya tersenyum memperhatikan mereka berdua
Ayumi keluar dari kamar tempat Arisha menuju ruang tamu dalam klinik itu, Ayumi duduk dikursi tunggal yang ada didekat pintu kamar yang ditempati oleh Rafa semalam untuk tidur
"iya mbak,trus biaya perawatannya berapa mbak?"ujar Rafa sedangkan saya hanya diam memperhatikan Ayumi dan Rafa membahas tentang biaya perawatan Putriku Arisha
"oh tunggu ya, saya cek dulu"ujar Ayumi lalu berjalan kemeja kerjanya dan mengecek sesuatu di ponselnya
setelah selesai menuliskan rincian biaya pengobatan Ayumi menyerahkannya pada Rafa beserta obat yang harus diminum Arisha selama beberapa hari kedepannya
"Mbak Ayumi makasih banyak ya sarapannya nasi gorengnya rasanya top deh dan juga makasih mau merawat icha sampai rela tidur sempit-semnpitan dengan icha"ujar Rana dia merasa bersyukur ponakannya dirawat oleh dokter yang baik hati seperti Ayumi
"sama-sama Ran,cuma nasi goreng telor ceplok aja dibilang top bisa aja kamu" ujar Ayumi tersenyum, entah mengapa senyumannya itu mampu membuat jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya
"iya mbak nasi goreng mbak tadi tampilannya memang sederhana tapi rasanya luar biasa "ujar Rafa mengangkat kedua jempol nya
"jangan terlalu melebih-lebihkan" ujarku dengan nada dingin untuk menutupi rasa gugup ku,saya juga sangat ingin mengakui pada dokter cantik ini bahwa nasi goreng buatannya memanglah sangat enak rasanya dan sebenarnya saya masih pengen nambah namun gengsi untuk mengakuinya
"melebih-lebihkan gimana kak !
kakak saja tadi makannya lahap" ujar Rafa
" ya harus dihabiskan kalau tidak ya mubakzir namanya, lagian juga saya sedang lapar dari semalam belum makan "ujarku beralasan
Ayumi hanya tersenyum melihatku berdebat dengan Rafa
tepat jam sepuluh pagi kami berpamitan untuk pulang, awalnya Arisha tidak ingin pulang dan ingin bersama Ayumi namun berbagai alasan diberikan hingga dia menurut dan ingin pulang walaupun dengan tangisannya, Ayumi terlihat ikut sedih dan kasian kepada Arisha melihatnya menangis seperti itu
"Icha kan bisa datang ke sini kalau rindu" ujar Ayumi
Arisha mengangguk anggukkan kepalanya namun masih saja menangis
"kenapa dunda pidat itut Icha caja?" tanya Arisha
"tidak bisa sayang,bunda Ayumi kan harus kerja merawat orang sakit, Icha kan sudah janji tidak mau sakit lagi,kalau Icha sakit kakak abi dan bunda akan ikut sedih dan bunda Ayumi tidak ingin bertemu dengan icha bila icha sakit dan icha itu tidak bisa juga tinggal disini karena disini tempatnya orang-orang yang sedang sakit yang bunda harus rawat kalau icha disini icha bisa ketularan penyakit lalu icha sakit lagi deh" ujar Ayumi memberi alasan dan ternyata itu mampu membuat Arisha menurut dan ingin pulang
"iya dunda icha atan itut Yayah puyan,icha ndat bau telular penakit
icha ndat bau takit ladi " ujar arisha disela isak tangisnya dan mengusap air mata di pipinya
Ayumi memeluk tubuh kecil putriku dan dia menciumi seluruh wajah putriku hingga tergelak karena merasa geli
kami lega karena Arisha akhirnya luluh dan ingin pulang bersama kami
"sekali lagi terimakasih banyak ya mbak Ayumi,kami merasa bersyukur dipertemukan dengan dokter sebaik dan secantik mbak Ayumi "ujar Rafa memulai aksinya menggoda Ayumi
saya hanya mengepalkan tangan, entah mengapa saya sangat tidak suka bila Rafa mencoba mendekati Dokter muda ini
"mas Rafa bisa aja,jangan terlalu menyanjung tinggi mas takutnya nanti jatuh hadeh bisa patah tulang dong ha-ha-ha "ujar Ayumi menanggapi ucapan Rafa dengan candaannya
...plash back end...
mohon maaf kalau terdapat banyak kesalahan dalam tulisan karyaku ini
semoga karya-karyaku bisa menghibur
terimakasih banyak atas perhatiannya dengan memberikan kritikan , saran dan like nya 😘😘😍😍😍