
"lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan tuan saya menunggu hari itu tiba" jawab bima
pak Wijaya tak lagi meladeni bima dan segera naik keatas mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadinya
"sabar ya sayang,kita akan segera kerumah sakit bertahan ya sayang demi anak-anak kita ucap pak Wijaya panik
sesampainya di Puskesmas yang ada di desa makmur siska langsung di bawa masuk keruang ICU
beruntungnya puskesmas disana peralatannya sudah mulai lengkap karena kegigihan Bu Ayudia mengembangkan puskesmas itu selama menjabat sebagai kepala puskesmas
pak Wijaya tidak tenang, mondar-mandir didepan ruang ICU seorang diri
setelah beberapa lama Siska ditangani dokter keluar dari ruangan itu dan mengatakan jika Siska harus segera di operasi agar bisa menyelamatkan anaknya karena siska mengalami pendarahan
"bagaimana keadaan istri saya dok !?" tanya pak Wijaya pada dokter Azizah
"istri bapak harus segera di operasi pak karena bu siska mengalami pendarahan dan banyak kehilangan darah beruntungnya persediaan darah kami masih ada
tapi demi menyelamatkan kedua putra bapak bu siska harus segera di operasi "jawab dokter Azizah
"lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku dok " ucap pak Wijaya
"baik pak kami akan melakukan yang terbaik untuk istri dan anak bapak, sekarang bapak sebaiknya menyelesaikan administrasinya agar kami bisa segera melakukan tindakan "ucap dokter Azizah
"baik dok" jawab pak Wijaya dan segera berlari ke resepsionis untuk menyelesaikan administrasi penanganan istrinya
setelah semua selesai kini siska dibawa kedalam ruang operasi
setelah tiga jam berlalu kini lampu yang berada diatas ruang operasi mati yang menandakan jika operasinya telah selesai
"bagaimana keadaan istri dan anak saya dok!? "tanya pak Wijaya
"Alhamdulillah anak bapak baik-baik saja tapi kami harus memberikannya perawatan intensif karena putra bapak terlahir prematur jadi kami harus memasukkannya inkubator
sedangkan istri bapak sempat kritis tapi Alhamdulillah dia bisa melewatinya
tapi jika dalam jangka waktu 24 jam ibu Siska tidak sadarkan diri maka kami nyatakan ibu Siska koma" penjelasan dokter Azizah mampu membuat lutut pak Wijaya terasa sangat lemas mendengar istrinya koma jika tidak segera sadar
"iya dok terima kasih banyak atas bantuannya " ucap pak Wijaya lemah
"iya pak sama-sama,bapak yang sabar ya saya doakan semoga ibu segera sadar"jawab dokter Azizah
"iya dok terima kasih atas doanya " ucap pak Wijaya menjabat tangan dokter Azizah
dokter Azizah membalas jabatan tangan pak Wijaya dan menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan pak Wijaya yang masih berdiri didepan ruang operasi
tak berselang lama seorang suster mendorong sebuah tabung kaca berisi bayi merah didalamnya
sebuah brangkar pun di dorong keluar dari ruang operasi dan pak Wijaya Segera mengikutinya
siska dimasukkan ke dalam ruangan ICU sedangkan bayinya dibawah keruangan bayi
pak Wijaya menatap istrinya dibalik kaca
"sayang kamu harus bertahanlah demi anak-anak kita mereka sangat membutuhkanmu "ucap paj Wijaya mengusap kaca yang ada didepannya seolah dia sedang mengusap wajah pucat istrinya itu
airmata pak Wijaya menetes membasahi pipinya
"sayang mas tidak akan sanggup merawat anak-anak kita tanpamu bertahanlah sayang jangan tinggalkan mas dan anak-anak kita sayang" ucap pak Wijaya lagi air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya yang sudah mulai keriput namun wajahnya masih terlihat tampan
"sayang mas lihat anak kita dulu ya, tidak apa-apa kan sayang mas tinggalkan kamu sebentar " ucap pak Wijaya berbicara sendiri seolah-olah Siska didalam sana dapat mendengarnya
pak Wijaya pun membalikkan badannya dan melangkah menuju ruangan dimana bayinya berada
"sus bisakah saya mengazani Putraku ??" tanya pak Wijaya pada perawat yang ada disana
"oh silahkan pak " ucap suster itu mempersilahkan pak Wijaya mendekati boks bayinya
setelah sampai disamping boks bayinya itu Suster membantu mengambil bayi mungil itu yang wajahnya sangat mirip dengan Bima sewaktu kecil
suster ada menyerahkannya pada pak Wijaya
dengan mata berkaca-kaca pak Wijaya menimang putra kecilnya
"sayang doakan mama ya agar bisa kembali sehat dan bersama kita lagi" ucap pak Wijaya pada putranya itu lalu pak Wijaya mengazani Putranya
setelah itu Pak Wijaya menyerahkan kembali Putranya pada Suster
! the
"iya pak sama-sama, ini sudah jadi tugas kami " ucap suster itu tersenyum pada pak Wijaya
"kalau begitu saya mau lihat istri daya dulu sus" ucap pak Wijaya
"iya pak silahkan,oh iya pak kami memberikan susu formula untuk bayi bapak" jawab suster itu lagi.
"iya sus tidak apa-apa, karena istri saya juga belum bisa memberikannya asi ekslusif nya " jawab pak Wijaya
baiklah pak kalau begitu " ucap suster itu menganggukkan kepalanya pada Pak Wijaya
"saya keluar dulu sus,jika ada kebutuhan yang diperlukan hubungi saya sus" ucap pak Wijaya lalu keluar dari ruangan itu dan Suster hanya mengangguk dan tersenyum pada pak Wijaya
kini Pak Wijaya kembali berdiri didepan ruangan ICU melihat istrinya dari luar
"sayang kenapa kamu belum bangun,apa kamu tidak ingin melihat putra kita !? wajahnya sangat tampan sayang dia sangat mirip dengan kakaknya Bima semoga dengan kehadirannya hati bima bisa Luluh
Alesya juga rindu padamu Sayang, putri kita itu tak pernah bisa jauh darimu sayang,mas harap kamu bertahan demi kedua buah cinta kita sayang
jadi sekarang bukalah matamu sayang,ayo bukalah " ucap pak Wijaya kini sudah terisak karena tidak menyangka jika istrinya akan mengalami ini semua
"pak Wijaya !?" panggil Fatiyah yang memang baru datang karena mendapatkan sift malam dan Fatiyah datang lebih awal karena ada yang harus dikerjakannya terlebih dahulu dipuskesmas tempatnya bekerja sedangkan Aurel izun tidak datang karena harus menemani Bu Ayudia yang sedang demam
karena kehamilannya yang sedang lemah sehingga bu Ayudia harus bedres dirumahnya sehingga mereka selalu bergantian menjaga bu ayudia namun hari ini bu Ayudia demam sehingga Aurel tidak bisa meninggalkannya
Ayumi juga sedang banyak pesanan dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya
Arumi merawat mertuanya dan juga menjaga anak-anaknya
Nana juga ada dirumah bu Ayudia membantu Aurel menjaga Bu Ayudia
"eh Fatiyah " jawab pak Wijaya saat menyadari kehadiran kakak ipar anaknya
"bapak sedang apa disini !?" tanya Fatiyah melihat kedalam ruangan ICU
"itu siapa pak, keluarga bapak!?" tanya Fatiyah yang memang belum tau tentang pernikahan kedua pak Wijaya
"itu emmm itu istri keduaku Fatiyah " jawab pak Wijaya gugup dan menundukkan kepalanya
"istri kedua pak, maksudnya bapak menikah lagi" tanya Fatiyah dan diangguki oleh pak Wijaya
"trus kenapa sekarang dia ada disini !?" tanya Fatiyah
pak Wijaya pun menceritakan apa yang terjadi pada siska
"bapak sabar ya,mungkin ini suatu teguran untuk bapak karena sudah membohongi keluarga bapak selama dua tahun ini" ucap Fatiyah menepuk pelan pundak ayah mertua adik iparnya itu
"iya Fatiyah,tapi apakah bapak bisa minta tolong !?" tanya pak Wijaya
"tolong apa pak !?" jawab Fatiyah
"apakah bapak bisa menitipkan putri bapak padamu karena bapak tidak mau menitipkannya pada Arumi karena dia sudah sangat repot mengurus ibu dan kedua anaknya " ucap pak Wijaya
"kenapa bapak tidak menitipkan pada baby sitter pak!?" tanya Fatiyah
"bapak takut mereka melakukan yang menyakiti putriku Fatiyah " jawab pak Wijaya
"baiklah pak kalau begitu,nanti saya bicarakan ini dulu pada mas Azlan ya" ucap Fatiyah
"makasih banyak ya Fatiyah kalian memang sangat baik pada keluarga kami" jawab pak Wijaya
"iya pak sama-sama,kalau begitu saya bertugas dulu ya pak
bapak yang sabar ya, semoga bu siska segera sadar dan pulih kembali " ucap Fatiyah
"iya Fatiyah terima kasih banyak atas doanya " jawab Pak Wijaya dan Fatiyah pun meninggalkan pak Wijaya
kini pagi menjelang namun Siska masih betah menutup matanya sehingga dokter menyatakan bahwa siska dalam keadaan koma dan menyarankannya dibawah kerumah sakit kota yang peralatannya lebih lengkap
pak Wijaya pun menyetujuinya,pak Wijaya sudah menandatangani surat pernyataan persetujuannya atas rujukan siska kerumah sakit yang ada dikota dengan bantuan Fatiyah semua berjalan dengan lancar dan putra kecil mereka kembali dititipkan pada Fatiyah
Fatiyah sudah menelpon suaminya dan juga semua saudaranya termasuk bayu dan Arumi mereka setuju untuk merawat anak-anak malang itu selama pak Wijaya menemani siska dirumah sakit dikota
Bayu tidak merasa keberatan sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya itu karena mereka juga akan segera kembali kekota karena Bu Raidah juga harus mendapatkan perawatan intensif dirumah sakit besar karena luka di punggungnya semakin parah
bima sengaja tidak diberi tahu tentang itu semua karena mereka tidak ingin bima melakukan hal diluar dugaan mereka