Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
Bab 186 kemarahan Bima



setelah makan siang kini mereka duduk diruang keluarga


Arumi menyuguhkan puding coklat yang baru semalam dibuatnya


"kamu baik-baik saja kan bim!?" tanya Bayu


"kakak,dari rumah perempuan itu kan!?" tanya Bima


degg


"dari mana kamu tau!?" Bayu bukannya menjawab tapi Malah balik bertanya pada adiknya itu


"tadi kebetulan saya video call sama mas azlan pada saat kalian ada dirumah perempuan itu" jawab Bima


"ahkhh "Bayu menghembuskan nafasnya lalu menatap adiknya itu Bayu dapat melihat kekecewaan Dimata adiknya itu pada ayah mereka


"iya kakak dari rumah istri muda papa tapi saya mohon kita jangan bahas masalah ini disini karena saya tidak ingin mama mendengarnya dan kesehatan mama kembali drop " ucap Bayu


Bima mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan kakaknya,tapi yang dikatakan oleh kakaknya itu benar jika ibu mereka tau tentang perselingkuhan ayahnya pasti kesehatannya akan kembali drop


yang belum sepenuhnya pulih


"tapi Saya ingin bertemu dengan papa kak" jawab Bima


"kita telpon papa saja dan Kita suruh pulang kamari karena mama juga sudah sering menanyakannya " ucap Bayu


"kenapa papa begitu terga pada mama," Bima menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"kamu pasti sudah dengar kan alasan papa tadi tapi kita harus berpikir jernih agar kita tidak membuat kesehatan mama terganggu " jawab Bayu mengusap punggung Adiknya yang bergetar, Bayu dan Arumi tau jika saat ini Bima sedang menangis


"kak bisakah saya bicara sama papa tapi tidak dirumah ini " ucap bima manyeka air matanya


"tapi bim.."


"saya mohon kak" ucapan bayu langsung dipotong oleh bima


"baiklah, lebih baik kalian bertemu di rumah makan " ucap Bayu mengusap wajahnya kasar


"iya kak" jawab bima


Bayu segera mengambil ponselnya dan menelpon ayahnya dan mengatakan jika bima ingin bertemu dengannya di rumah makan milik Bayu yang selama ini pak Wijaya kelola


saat mereka berbincang Ayumi dan yang lainnya datang a untuk menjenguk Bu Raidah karena mereka tidak sempat menyusul mereka kekota


"assalamualaikum "ucap Ayumi dan yang lainnya


"waalaikumsalam "jawab mereka bertiga


"kak yumi!" ucap Arumi menyambut kakaknya


"maaf ya rum bayu kakak baru bisa datang liat kalian" ucap ayumi pada adiknya


"iya kak nggak apa-apa, bagaimana keadaan umah maaf saya tidak pernah menghubungi Kalian soalnya lagi sibuk ngurusin ibu dan anak-anak " jawab arumi merasa tidak enak hati karena jarang berkomunikasi bersama keluarganya


"Alhamdulillah umah sehat, nggak apa-apa rum kami ngerti kok" jawab Ayumi dan diangguki oleh yang lainnya


"ayo-ayo sayangnya Mimah,mimah lagi buat puding kesukaan kalian " ucap Arumi apada semua ponakannya


"holeee pita batan duding zoklak" sahut semuanya kesenangan


Arumi Meresa sangat senang karena saudara-saudaranya datang mengunjunginya


"eh bima,kapan datang bim!?" tanya Fatiyah saat sudah berada diruang keluarga dan melihat Bima


"iya kak tiyah,saya baru juga sampai " jawab Bima


"oh... trus anak dan istri kamu datang juga!?" tanya Fatiyah lagi


"nggak kak, soalnya si kecil baru sembuh jadi diah nggak mau bawa jauh-jauh dulu" jawab Bima


"oh... semoga sikecil sehat selalu "ucap Fatiyah


"aamiin " jawab bima


semuanya kini bercengkrama bersama dan mereka bergantian masuk untuk melihat keadaan bu Bu Raidah namun trio kwek-kwek merasa heran karena saat mereka masuk kedalam kamar Bu Raidah mereka mencium bau tidak sedap seperti bau luka yang sudah mulai membusuk


tapi mereka mengira hanya Bu Raidah yang sedang buang angin


setelah dari dalam kamar Bu Raidah kini mereka ikut bergabung bersama yang lainnya dan mulai melupakan apa yang mereka ingin tanyakan pada Arumi


setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam kini bima dan bayu sudah sampai di rumah makan milik Bayu


pak Wijaya juga sudah ada di sana, pak Wijaya terkejut saat melihat putra keduanya juga ada disana


"bi Bima!?" suara Pak Wijaya terdengar gugup


pak Wijaya memang sangat takut pada putra keduanya yang sangat keras berbeda dengan Bayu yang bisa berfikir jernih


"ya Allah apakah Bima sudah tau tentang Siska ?!" ucap Pak Wijaya dalam hatinya


"bagaimana kabarmu nak!?" ucap Pak Wijaya basa-basi pada putranya itu


"kabarku buruk pa" jawab bima ketus dan pak Wijaya semakin yakin jika bima sudah tau semuanya


"ayo kita ke atas biar bisa bicara dengan tenang" ucap bayu mengusap bahu adiknya yang sudah mulai tersulut emosi


bima melirik kakaknya itu dan bayu hanya menggelengkan kepalanya pelan agar adiknya itu mau mengerti


bima dan bayu berjalan terlebih dahulu untuk naik kelantai dua dan di ikuti oleh pak Wijaya


pak Wijaya merasa takut akan kemarahan Bima putra keduanya itu


walaupun pak Wijaya ayah mereka namun pak Wijaya mengaku jika itu sudah salah telah mengkhianati istri dan kepercayaan anak-anaknya


"adakah yang papa ingin jelaskan padaku! tanya Bima boada pak Wijaya saat ayahnya itu sudah duduk bersama mereka


"maaf kan papa bim,papa tau papa salah tapi papa tidak bisa meninggalkan mereka jika kamu ingin papa meninggalkan mereka " jawab pak Wijaya


"baiklah jika papa tidak ingin meninggalkan mereka tapi papa harus segera melepaskan mama biar kami yang menjaga mama


lagian untuk apa lagi papa masih mempertahankan mama jika perhatian papa sudah tidak sama mama lagi dan lihat sekarang semenjak mama pulang dan berada dirumah kak bayu papa belum juga datang melihat mama kan!?


papa masih sibuk dengan gundik papaitu" ucap bayu menahan luapan emosinya matanya sudah terlihat sangat merah


"saya tidak bisa meninggalkan siska karena siska sedang hamil tua dan putri kami juga sedang sakit " jawab pak Wijaya menundukkan wajahnya


dan jawaban pak Wijaya itu membuat emosi bima memuncak dan tanpa dapat di hindari lagi bima melayangkan tamparannya pada pria paruh baya yang ada di hadapannya itu,pria yang selama ini di panggilnya papa


"bima...." teriak Bayu terkejut


pak Wijaya terpelanting bersama kursi yang didudukinya saking kerasnya bima menampar pak Wijaya


sudut bibir pak Wijaya mengeluarkan darah akibat tamparan itu


"sekarang juga ikut saya menemui mama dan talak dia sekarang juga bajingan


dasar tua bangka, sudah berbau tanah masih saja memikirkan selangkangannya " ucapan bima sangat kasar pada ayah itu


"sudah Bima, sudah tidak ada gunanya kamu seperti ini papa sudah menikah dan memiliki anak dengan perempuan itu" ucap bayu pada Adiknya itu


"kakak membela papa,dan kakak juga punya niat untuk mengkhianati kak Arumi!?" tanya Bima dengan pandangan tajam pada kakaknya itu


"astaghfirullah bim,kamu jangan sembarangan kalau berbicara " jawab Bayu


"lalu apa kalau begini kakak begitu membela penghianat ini" ucap bima lagi sambil menunjuk pak Wijaya


"astaghfirullah, saya bukan membelanya bim


perbuatannya juga salah tapi kita mau bagaimana lagi mereka sudah memiliki anak dan tidak mungkin kita memisahkan papa dan anaknya yang masih sangat kecil ditambah lagi wanita itu sedang hamil besar " jawab Bayu


Namun bima sudah tidak mau peduli lagi hatinya sangat sakit dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya itu


"ayo tua bangka ikut saya menemui mamaku dan ceraikan dia" ucap Bima sambil menarik lengan ayahnya dengan sangat keras


"Bim, ingat bim jangan seperti ini


jangan perlakukan papa seperti ini bim" ucap bayu namun bima tidak perduli dan terus menarik pak Wijaya


beruntungnya rumah makan mereka sedang sepi karena memang sudah sangat sore


dan pengunjung akan kembali ramai saat jam makan malam


jadi hanya karyawan yang melihat pak Wijaya diperlukan tidak sopan oleh putra keduanya dan beberapa pengunjung namun mereka hanya diam saja karena menurut mereka itu bukan urusan mereka


karyawan dirumah makan itu pun hanya diam melongo karena terkejut melihat orang yang mereka hormati diperlakukan seperti itu