Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
Bab 162 Buat geleng-geleng kepala



Aurel dan Fatiyah pun segera turun karena takut suaminya mengamuk,Riki hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya karena selalu saja seperti itu jika kedua kakak iparnya memanjat maka istrinya yang akan mengumpulkan buah yang dipetik


sedangkan anak-anak mereka hanya bertepuk tangan kegirangan, mereka turun dari atas pohon dengan cara salto saat sudah dekat dengan tanah dan itu berhasil membuat pak Arman dan Bu Rahma semakin melongo


"benar-benar ajaib " ucap pak Arman dan Bu Rahma bersamaan sambil geleng-geleng kepala dan membuat yang lain semakin terbahak-bahak mendengar ucapan kedua pasutri itu


"sayang kenapa kamu tidak ikutan manjat?!" tanya Riki pada istrinya karena setiap mereka melakukan aksi manjat-memanjat pasti Ayumi hanya duduk santai dibawah menunggu ke-dua sahabatnya melemparkan buah yang dipetiknya


"kenapa harus repot-repot manjat-manjat sedangkan dibawah lebih seru tinggal mungut dan makan"jawab Ayumi santai dan mereka geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ayumi


"jangan heran kak Riki itukan sudah bagian dan tugas kak Ayumi bagian makan dan mengumpulkan hasil panen dadakan"jawab Nana


"mereka memang saling melengkapi "sahut Bayu


"ayah ibu jangan heran ya melihat mereka seperti itu karena mereka bertiga memang ajaib dan lihatlah ke enam anak mereka "ucap Arumi cekikikan dan menunjuk ke enam ponakanya yang berusaha untuk naik keatas pohon rambutan sambil salto- salto tapi selalu gagal mereka semakin cekikikan karena tubuh gemuk ke enam anak kecil itu berguling-guling seperti bayi panda


"mami kenapa kami tidak bisa naik kepohon itu seperti mami dan Bibu !?" tanya Fauzi yang sejak tadi berusaha untuk memanjat pohon dan berakhir terguling kebelakang


mereka bukannya menangis malah tertawa kesenangan


"itu karena tangan kalian masih sangat kecil sayang, jadi kalian belum boleh manjat-manjat pohon dulu ya takut nanti kalian jatuh


nanti setelah tangan kalian besar dan kuat seperti tangan mami dan Bibu baru deh kalian bisa manjat-manjat pohon buah kakek


mengerti sayang!?" tanya Fatiyah pada anak-anaknya


"tapi kenapa bibu??!" tanya Raiyyan penasaran


"karena kalian bisa terluka,jika tidak punya persiapan fisik yang kuat jadi kalian harus rajin olahraga raga seperti papi,Babah, yayah ,abi dan juga papa" Aurel yang kini menjawab pertanyaan putra ayumi


"oh begitu ya mami!? kalau begitu kami juga akan selalu ikut olah laga belsama yayah,papi, Babah,papa juga Abi" ucap Raiyyan lagi


"emmhh.benal kita halus lajin-lajin latihan bial kita kuat" Zahran ikut menimpali ucapan saudaranya dan diangguki oleh yang lainnya


"ayo kita makan Rambutan, kasihan sudah dipetik tapi nggak dimakan"Ucap Bu Rahma


"Bu kayaknya enaka deh kalau dibuat manisan buah rambutan "sahut Nana


"ya sudah sebagian kita buat manisan "jawab Bu Rahma dan Nana terlihat sangat senang


"kamu mau kemana sayang bawa-bawa kantong plastik itu, trus itu isinya apa nak!?" tanya Ayumi pada putrinya yang terlihat kesulitan membawa kantong plastik berwarna hitam


"isinya lambutan bunda!"Jawab Raina


"mau dibawa kemana sayang!?" tanya Fatiyah


"mau bawa ketokonya nenek Bibu !" jawab Raina lagi


"untuk apa sayang dibawa kedepan!?" tanya Fatiyah lagi


"ini untuk om dewo sama om palto kan kasian kita makan sedangkan meleka hanya bekelja" jawab Raina santai dan melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah melewati dapur lalu berbelok kepintu penghubung antara dapur dan toko


abian membantu adiknya membawa kantong plastik itu karena adiknya itu terlihat kesulitan


"makasih abang"ucap Raina pada Abian


"sama-sama dek"jawab Abian


sesampainya di toko Raina menyodorkan kantong plastik yang dibawanya pada kang Dewo


"om Dewo ini ada sedikit lambutan bagi sama om palto ya " ucap Raina


"sama-sama om tadi itu kita lagi panen lambutan di kebun kakek jadi Laina pisahkan sedikit untuk om Dewo dan om palto "jawab Raina tersenyum memperlihatkan lesung pipinya


"neng cantik baik sekali, sekali lagi terimakasih banyak ya neng abang sudah ingat om "jawab kang Parto


"sama-sama om kalau begitu kami pamit ya"ucap abian dan diangguki oleh merka berdua


kini mereka kembali masuk kedalam rumah tepatnya didapur dan disana terlihat Bu Rahma sedang sibuk


"nenek buat apa!?!" tanya Raina penasaran


"ini nenek lagi buat bumbu untuk buat asinan "jawab Bu Rahma menoleh sejenak melihat cucunya itu


"oh"jawab abian dan Raina bersamaan


"memangnya kalian itu dari mana nak!?"tanya Bu Rahma dengan suaranya yang lembut


"dari depan nek,tadi dek raina bawakan om Dewo dan om palto eh parto maksudnya buah rambutan,jadi abang bantu karena dedek Rain kesulitan untuk membawanya karena berat" jawab abian


"oh begitu ya kalian pintar sekali,ayo kita kebelakang bumbunya sudah jadi "ucap Bu Rahma dan mereka berjalan bersama ke kebun belakang dimana semuanya berkumpul


kulit rambutan sudah berserakan karena ulah para bocil yang sedang berperang kulii rambutan mereka saling lempar dan tertawa cekikikan


"sudah sayang, ayo sini makan rambutan lagi"panggil Arumi pada anak-anaknya


"tidak mau Umi,kakak sudah kenyang "sahut Fauzi dan Amira


"iya umi kami juga sudah kenyang "sahut Zahira, Zahran, Raiyyan, Algazali dan Arshila


sedangkan Raina kini sudah duduk dipangkuan ayahnya dan meminta ayahnya untuk mengupaskan kulit rambutan dan juga memisahkan bijinya


"emmm manis-manis kecut "ucap Raina mengerjap-ngerjapkan matanya


"yayah, rambutannya nanti bawa pulang ya" ucap Raina dengan mulut tak berhenti makan rambutan


"buat apa sayang!?"tanya Riki pada putri kembarnya itu


"buat oma dan nenek"jawab Raina


"masya Allah nak,kamu memang anak yang sangat perhatian dan peduli" ucap Azlan yang lain pun merasa takjub dengan sikap dan sifat Raina putri Ayumi dan Riki


"benar-benar keturunan kak Ayumi, yang selalu memikirkan dan peduli pada orang lain " sahut Satria


"iya Benar rasa pedulinya benar-benar dari dalam hati " azka ikut bersuara sedangkan ayumi hanya diam saja menatap putrinya karena putrinya itu memang sangat peduli pada siapapun


walaupun badannya sangat imut dibandingkan dengan badan saudaranya yang lain namun rasa pedulinya sangatlah besar


"semoga kita semua selalu diberikan kesehatan serta selalu dalam lindungannya dan diberikan kebahagiaan "ucap pak Arman yang merasa beruntung bisa berada ditengah-tengah orang yang sangat sayang padanya dan juga Istrinya


pak Arman yakin hari tuanya akan terlewati dengan penuh kebahagiaan


saat mereka sedang asyik bercengkerama tiba-tiba saja suara tepu tangan yang riuh mengalihkan perhatian mereka semua


mereka menoleh kearah kumpulan bocah-bocah yang sedang bermain dimana Al-Ghazali putra Nana dan Azka berjalan dengan tangannya yang dialasnya dengan sepatu miliknya sendiri sedangkan kakinya sedang dipegang oleh Fauzi putra azlan sedangkan yang lainnya bertepuk tangan meriah melihat tingkah kedua saudaranya


Raina tertarik dan memilih turun dari panggukuan ayahnya dan ikut bergabung dengan saudara-saudaranya


para orang tua hanya geleng-geleng kepala dan ikut tertawa melihat tingkah mereka


mereka tidak habis fikir dimana mereka mendapatkan ide seperti itu