
Ada apa mas!?"tanya Arumi
"tidak tau Rum,papa ngomongnya tidak jelas,papa berbicara sambil menangis "jawab bayu
"ya sudah ayo kita kembali keatas " ucap Arumi dan mulai berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh Bayu
Mereka keluar dari dalam kamtin dan berjalan cepat ketempat dimana Bu Raidah dirawat
sesampainya disana bayu melihat papanya duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan pundaknya bergetar tanda pria paruh baya itu sedang menangis
"Pa ada apa!? bagaimana keadaan mama pa!?" tanya bayu
"mamamu sudah tidak ada lagi bay, mamamu sudah pergi Hiks hiks hiks maafkan papa bay maafkan papa karena sudah mengkhianati mamamu hiks hiks hiks "pak Wijaya menangis sesenggukan
degg
kaki bayu terasa lemas mendengar ucapan papanya yang mengatakan jika wanita yang telah melahirkannya kini telah tiada
"hiks hiks hiks mama Semoga sakitmu ini adalah pelebur semua dosa-dosamu
bayu sangat menyayangimu ma Hiks hiks hiks
Rum mama telah pergi rum,mama sudah menyerah dengan sakitnya
bima kamu pasti akan menyesal karena tidak tidak pernah mau menemui mama hiks hiks hiks tega kamu Bim" ucap Bayu menangis mengingat betapa keras kepalanya sang adik yang tidak ingin datang menjenguk ibunya sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya entah apa sebabnya Bima seperti itu
"sudahlah pa ikhlaskan mama,mas kita tidak bisa seperti ini kasihan mama jika melihat kita seperti ini
jangan beratkan kepergian mama dengan meratapinya " ucap Arumi mencoba menasehati suami dan Ayah mertuanya
Arumi pun tak henti-hentinya meneteskan air matanya karena beberapa bulan terakhir ini Arumilah yang selalu menemani dan merawat ibu mertuanya itu
"selamat jalan ma, sekarang kamu tidak lagi merasakan sakit
Arumi ikhlas ma,maafin arumi ya ma jika Rumi belum bisa jadi menantu yang baik Hiks hiks hiks
ma Arumi tidak punya teman ngobrol lagi,mama bilang mau cepat sembuh mau bermain dengan cucu-cucu Mama
tapi Allah lebih sayang pada mama, sekarang Rasa sakitnya sudah hilang kan ma hiks hiks hiks " arumi memeluk tubuh ibu mertuanya yang kini terbujur kaku dan dingin
Bayu dan pak Wijaya melihat itu juga mendengar ucapan Arumi juga semakin menangis
"sudah Sayang mama pasti sudah bahagia, sekarang mama tidak merasa sakit lagi diseluruh tubuhnya "ucap Bayu memeluk tubuh istrinya yang terus menangis
"iya mas mama tidak lagi kesakitan, jika Arumi bersihkan lukanya mama menjerit-jerit karena kesakitan "
"iya sayang semoga sakitnya ini menjadi pelebur dosa-dosanya mama pada semua orang yang pernah disakitinya " ucap Bayu dan diangguki oleh Arumi
kini mereka sibuk mengurus jenazah Bu Raidah,bayu dan Arumi sudah mengirimkan pesan kepada semua orang
azlan,azka dan satria sudah menyuruh orang untuk menyiapkan rumah bu Raidah karena bayu ingin ibunya berada dirumahnya itu untuk terakhir kalinya
bayu juga meminta kepada tim dirumah sakit untuk memandikan sang ibu karena bayu tidak ingin orang-orang dikampung membuat cerita yang menyakitkan hati karena bayu melihat kondisi ibunya sekarang ini
arumi dan pak Wijaya menerima usulan bayu itu karena mereka tau bagaimana mulut para tetangga jik tau seberapa parah luka yang ibunya derita
"mas bagaimana dengan bima!?" tanya Arumi pada suaminya itu
"entahlah Sayang,mas sudah beberapa kali mengirimkan pesan namun tidak dibaca dan saya pun sudah beberapa kali menelpon tapi tak diangkatnya entah apa maunya dan apa kesalahan kita hingga dia tidak mau menemui mama"ucap nayu tertunduk sedih mengingat sikap adiknya itu
"mungkin karena kita menerima anak-anak papa untuk tinggal bersama keluarga kita mas, sehingga dia merasa kesal karena kamu kan tau dia yang paling menentang pernikahan kedua papa" jawab Arumi dan diangguki oleh Bayu
"bay,rum apakah papa bisa ikut mengantarkan mama kalian keperistirahatan terakhirnya !?" tanya pak Wijaya ragu-ragu
"tentu saja pa" jawab Arumi dan Bayu bersamaan
"terimakasih,biar papa yang menemani mamamu di atas mobil ambulance kalian naik mobil kalian saja" ucap Pak Wijaya dan di angguki oleh keduanya
"tapi bagaimana dengan Bu Siska pa!?"tanya Arumi
"papa sudah menyewa perawat untuk menjaganya selama papa pergi mengatarkan mamamu"jawab pak Wijaya
"oh baiklah kalau begitu,ayo kita berangkat sekarang agar sampai di kampung tepat pagi hari"ucap Bayu
"mas apa kamu tidak apa-apa menyetir mobilnya tengah malam begini!? kamu kan belum tidur sama sekali mas" ucap Arumi khawatir
"saya sudah meminta dery dan Andi untuk mengantarkan kita sayang jadi kamu tidak usah khawatir ya,anak buah mas azlan yang lainnya juga akan mengawal kita selama perjalanan" jawab Bayu
Arumi merasa lega mendengar ucapan suaminya itu, karena Arumi tau kakaknya pasti akan mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk mengawalnya
kini jenazah Bu Raidah sudah dimasukkan kedalam ambulance bersama dengan pentingnya karena bayu tidak ingin jenazah mamanya yang sudah dibersihkan kenapa-napa dijalan
pak Wijaya kini menemani jasad istrinya diatas mobil ambulance
setelah menempuh perjalanan jauh kini mereka telah sampai di kediaman Bu Raidah yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak ditempatinya namun sang Art nya masih setia berada dirumah itu sehingga rumah mereka tidak menyeramkan
semua sudah menunggu kedatangan mereka disana kecuali Bu Ayudia dan Nana serta bu Ijah karena harus menemani Bu Ayudia dan juga kedua anak pak Wijaya yang masih balita dan bayi
warga sekitar dan juga keluarga arumi serta keluarga bu Raidah sudah hadir dari semalam setelah mendapatkan kabar duka itu mereka segera mendatangi rumah duka
"baiklah bapak ibu sekalian mungkin kini waktunya almarhumah ibu Raidah kita segera bawa ke pemakaman karena hari semakin siang
ibu Raidah juga sudah bersih dari rumah sakit kita tinggal menyolatinya saja"ucap ustad Jefri
dan beberapa orang pelayat laki-laki segera mempersiapkan diri untuk ikut menyolatkan jenazah Bu Raidah termasuk bayu, pak Wijaya azlan,azka,Riki, satria dan pak marvel di imami oleh ustadz Jefri
tak berselang beberapa menit mereka telah selesai menyolati jenazah Bu Raidah kini mereka hendak membawa jenazah Bu Raidah kepemakaman namun ada hal Aneh yang terjadi
jenazah ibu Raidah tidak bisa dipindahkan kayaknya dilem dan sangat berat
beberapa kali mereka mencobanya namu tetap tidak bisa seakan-akan Bu Raidah tidak ingin pergi meninggalkan rumahnya
para tetangga sudah mulai berbisik-bisik
ada yang mencibir mengingat sikap dan sifat Bu Raidah yang begitu sombong semasa hidupnya dulu dan ada juga yang merasa kasian padanya
"eh jangan-jangan Bu Raidah ingin dilihat oleh anaknya yang ada di kota kan hanya dia saja yang tidak datang untuk mengantarkan almarhumah ibu Raidah keperistirahatan terakhirnya "ucap salah satu pelayat yang ada disana
"iya juga sih, mungkin saja seperti itu" jawab beberapa ibu yang lainnya
"ah mungkin ini karena begitu banyak dosa,suka menyakiti hati orang lain,suka menghina orang "sahut salah satu pelayat
"iya benar apa lagi kalau kita sedang belanja sayur pada mang Darmo pasti deh ada saja yang dihinanya " begitulah suara-suara sumbang dari beberapa orang pelayat
"Astaghfirullah ya Allah ampunilah dosa-dosa mama " ucap Bayu mengusap dadanya dan juga pipinya yang sudah basah oleh air mata
"ibu-ibu dan bapak-bapak serta saudara-saudara yang seiman saya mewakili keluarga almarhumah untuk mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika semasa hidup Almarhumah pernah berbuat salah baik disengaja nya ataupun tidak "ucap ustadz Jefri pada semua orang
Azlan segera menelpon anak buahnya yang ada di kota yang sama dengan Bima dan menyuruhnya untuk segera membawa bima datang
"ya Allah ada Apa dengan Mama hamba ya Allah " ucap bayu prustasi menghadapi semuanya