
tiga hari berlalu kini Bu Ayudia dan bayinya di izinkan untuk pulang semua menyambut mereka dengan suka cita apa lagi para bocil begitu senang saat mendengar jika paman kecil mereka akan pulang.
kini mereka berkumpul dirumah Bu Ayudia para ibu sudah sibuk membuat berbagai macam makanan
"bayo pemuana ciap ciap bental ladi antel tezil atan puyang"perintah Fauzi pada semua adiknya karena para bocil akan menuruti semua perintah Fauzi
"sabal sabal pulu saballah benundu jananlah emtau terbulu bulu" sahut Amura sambil bernyanyi
"tika inin beliat itan pilalam tolam penantan pulu ailna cenening taca" sambung zahira juga ikut bernyanyi
"tot talian belnani sih butanna melolong pita bial pemuana tepat lelesai" ucap Fauzi berkacak pinggang pada kedua adiknya itu
keduanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan cekikikan melihat kakaknya marah-marah
"bayo tepatan"ucap Fauzi
Amira dan Zahira dengan cepat berlari menjauhi kakaknya itu sebelum kakaknya mengamuk
setelah semua yang dipersiapkan oleh para bayi selesai mereka merasa puas dengan hasil kerja mereka
tak berapa lama terdengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah semuanya bergegas keluar untuk menyambut mereka
para bayi kini bersiap-siap untuk memberikan sambutan untuk nenek dan paman kecil mereka
"belkom to hom antel tezil " sambut mereka saat Bu Ayudia akan memasuki rumah
"beltom de bobil leden" teriak Aarav tiba-tiba
"tok bobil leden sih det!? setalang pita pidat bain dem" protes Arrayan mendengar ucapan adik sepupunya itu
"atu zala ya ata' " ucap Aarav menatap wajah tampan kakak sepupunya itu
"zudalah,bayo tita pambut antel tezil "jawab Fauzi akhirnya
para bocil mempersembahkan sebuah tarian hula-hula untuk mereka
mereka semua menutup mulut mereka dengan tangan agar suara tawa mereka lepas
"terimakasih sayang karena sudah menyambut kami" ucap Bu Ayudia
"zama-cama netnet"jawab mereka
para bocil kini berlari untuk bermain bersama mereka tidak lagi peduli pada pembicaraan orang dewasa mereka sibuk dengan mainan mereka
"ayo makan siang" panggil ayumi dan para bocillah yang terlebih dahulu yang berlari menghampiri Ayumi
para orang dewasa juga menyusul mereka
"ayo sayang makan " ucap Ayumi pada anak-anaknya lalu mengambilkan makanan kesukaan anak-anaknya itu
"dunda tot tinti echa pama antel Aisy lelum puyang sih" Arshila tanya pada Ayumi
"kenapa Sayang kalian sudah kangen sama tinti dan uncle kecil !?" tanya Ayumi
dan mereka semua mengangguk,bayu merasa bersyukur dan terharu semua anak-anaknya menerima dengan baik kedua adiknya itu
"uncle dan tinti kecil lagi jenguk nenek siska sayang,kerena nenek siska rindu pada mereka " jawab Ayumi
"pati meleta zuda pua lali pisana dunda" jawab Amira
Fatiyah juga merasa rindu pada kedua anak asuhnya itu karena pak Wijaya meminta izin untuk membawa mereka untuk menemui sang ibu yang belum juga sadar dari komanya
pak Wijaya berharap dengan adanya kedua buah cinta mereka Siska akan segera membuka matanya
tapi sampai saat ini Siska belum juga menunjukkan perkembangan
"sudahlah sayang ayo makan tidak baik bersedih dihadapan makanan " ucap Fatiyah
"biya bibu"jawab semuanya dan mereka makan dengan tenang
"dunda talau tinti echa puyang,banti basatin ayan doleng sesap ya, coalna tinti sanat suta" ucap Amira saat selesai makan
"iya sayang nanti bunda akan masak ayam goreng kecap kesukaan tinti kecil"jawab Ayumi
"matasih dunda" ucap Amira tersenyum bahagia
"sama-sama Sayang " jawab Ayumi membalas senyuman ponakanya itu
"terimakasih ya kak karena kalian sudah mau menyayangi kedua adikku " ucap Bayu dengan mata berkaca-kaca
"iya bay sama-sama,kedua adikmu itu adik kami juga" jawab Ayumi
Bayu tersenyum dan menganggukkan kepalanya,Bayu meninggalkan meja makan dan ikut bergabung dengan yang lainnya
dirumah sakit pak Wijaya kini duduk disamping istrinya sedangkan kedua anaknya berada dirumah kontrakan pak Wijaya bersama baby sitter yang disewa oleh azlan untuk menjaga mereka
"sayang,kenapa kamu masih betah menutup mata "ucap pak Wijaya mengusap sudut matanya yang berair
"mereka sudah besar sayang, apalagi kakak tiap hari rajin sholat dan mengaji mendoakanmu,kamu tau sayang dia mengaji tapi caranya mengucapkannya sangat lucu hiks hiks hiks
sayang apa kamu tidak ingin melihatnya mengaji anak kita itu juga sangat pintar mengurus adiknya ,dia seperti kamu sayang selalu cekatan
sayang mas sangat rindu ingin melihat senyumanmu,mas rindu hangatnya pelukanmu,Apa kamu tidak rindu pada mas!? Hiks hiks hiks " pak Wijaya semakin sesegukan
pak Wijaya terus mengajak istrinya itu berbicara berharap sang istri memberikan respon namun tak ada respon sama sekali darinya
"sayang mas besok bawa kakak kesini ya,mas pulang dulu. mas mau melihat mereka karena ini sudah hampir sore tapi mas belum pulang untuk melihat anak-anak kita "ucap Pak Wijaya berpamitan
pak Wijaya menemui perawat yang di sewanya untuk menjaga istrinya disaat dia pulang untuk melihat kedua anaknya
malam hari pak Wijaya akan kembali datang kerumah sakit untuk menjaga sang istri
ke esokan harinya seperti yang dijanjikan oleh pak Wijaya dia membawa putri dan Putranya untuk menemui istrinya
"assamamuataitum mama,ini echa ma pama dedet Aisy
apatah mama malah pada echa sedingga mama pidat mau melilat echa
setiap Echa tatang mememui mama padti mama teltidul
mama, echa sanat tanen pama mama echa inin pi pelut-pelut pama mama,echa inin pi dendong pama mama
mama juda pelum liat tan wajana dedet Aisy,wajana pampan setali sepelti papa
mama pahu pidat, Bibu tiyah peslalu menajaltan echa beldoa juda menaji
apatah mama bau mendengalkan echa menaji?!"ucap Alesya pada sang mama sesekali Alesya mencium punggung tangan mamanya dengan sayang
pak Wijaya sudah sesegukan di belakang putrinya itu
Aisy juga memainkan jari kaki mamanya,pak Wijaya sengaja mendudukkan putranya itu di dekat kaki sang istri
Aisy sesekali mencium kaki mamanya lalu kembali menggoyang-goyangkannya
"mamamama"ucap Aisy menggoyahkan kaki ibunya itu entah apa yang ada dalam fikiran bayi 6 bulan itu
pak Wijaya semakin sesegukan mendengar suara putra bungsunyasaat melihat memanggil ibunya
tit tit tit tit
tiba-tiba suara mesin yang ada disana berbunyi pak Wijaya terkejut
pak Wijaya segera membawa kedua anaknya untuk keluar dari ruangan itu dan segera memanggil dokter
tak lama dikenal datang dengan dua orang perawat mereka datang dengan terburu-buru
sesampainya didalam kamar dimana Riska berada
dokter segera melakukan tindakan, beberapa kali dokter melakukan kejut jantung karena jantung siska sempat terhenti hingga dengan usaha dokter akhirnya jantung siska berdetak kembali walaupun sangat lemah
dokter segera memanggil pak Wijaya dan meminta pak Wijaya dan anak-anaknya untuk menuntun Siska agar tidak begitu tersiksa lagi
"ma Jika mama ingin pergi meninggalkan kami pergilah papa ikhlas,mama tidak usah khawatir papa akan membesarkan kedua anak kita dengan baik
yang harus mama tau papa sangat mencintai mama dan tidak akan lagi wanita selain mama dihati papa
papa akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anak kita, papa lebih tidak ikhlas jika mama terus menderita seperti ini
mama tunggu papa di surganya Allah ya ma,I love you sayangku,kau wanita hebat terimakasih telah berjuang untuk kami kami mencintai mama selamanya "ucap pak Wijaya sesegukan berkali-kali mencium kening istrinya itu
"mamamamamaaaaa" panggil Aisy lalu merangkak ke atas tubuh mamanya setelah sampai diwajah mamanya Aisy mencium wajah pucat itu
Tanpa pak Wijaya sadari ada tetesan bening mengalir disudut mata siska
"mama yayayayan"ucap Aisy lagi dokter dan perawat yang ada disana juga matanya ikut berkaca-kaca
"ma,jita mama inin peldi peldilah echa itlas ma
Echa atan telalu medodakan mama,mamafin echa ya ma pemama nini celalu memepotkan mama ,celalu dandel pati Echa danji tidak atan beditu ladi echa pidat atan memepotkan papa
echa danji atan dadi nanat yang paik,atan pantu papa mewawat dedet hiks hiks hiks hiks
Echa banda puna mama cepelti mama,mama olang paik,mama olang bebat ,echa banda dilahiltan oleh mama telimatasih mama cudah lahiltan echa pama dedet aisy, telimatasih telama nini mama cayang tami
Echa itlas ma,jita mama atan peldi talena echa pau Allah bebih cayang mama matana Allah inin mama tembali padana adal mama pidat melazatan zatit ladi tata Bibu tiyah pita halus peslalu itlas apapun yang teldadi pada tita talna ipu yang telbaik hiks hiks hiks "ucap Alesya sesegukan tubuh montoknya bergetar karena tangisnya
tetesan bening disudut mata riska makin melangalir
dokter dan perawat juga ikut menangis mendengar ucapan Alesya
seorang anak kecil yang berusia hampir tiga tahun begitu bijak dan dewasa