
"ayo tua bangka ikut saya menemui mamaku dan ceraikan dia" ucap Bima sambil menarik lengan ayahnya dengan sangat keras
"Bim, ingat bim jangan seperti ini
jangan perlakukan papa seperti ini bim" ucap bayu namun bima tidak perduli dan terus menarik pak Wijaya
beruntungnya rumah makan mereka sedang sepi karena memang sudah sangat sore
dan pengunjung akan kembali ramai saat jam makan malam
jadi hanya karyawan yang melihat pak Wijaya diperlukan tidak sopan oleh putra keduanya dan beberapa pengunjung namun mereka hanya diam saja karena menurut mereka itu bukan urusan mereka
karyawan dirumah makan itu pun hanya diam melongo karena terkejut melihat orang yang mereka hormati diperlakukan seperti itu
Bayu mengikuti langkah adiknya yang sedikit menyeret ayahnya
Bayu tidak tau harus bagaimana jika bima sudah marah seperti itu tak bisa di nasehati lagi,bima sangat tempramen apalagi jika menyangkut orang-orang Yang disayanginya
semua orang menatap mereka heran dan mulai saling berbisik-bisik tentang apa yang telah terjadi
kini mereka sudah berada di atas
mobil dan bayu yang mengemudikannya
bima tidak lagi mengeluarkan suaranya begitu pun dengan pak Wijaya dan bayu
pak Wijaya merasa sangat bersalah kepada kedua putranya namun pak Wijaya juga tidak ingin mengorbankan hubungannya dengan Siska wanita yang sangat dicintainya dan juga memberikannya seorang putri dan saat ini juga menanti kehadiran buah hatinya yang kedua dari siska
kini mereka telah sampai didepan rumah yang selama ini ditempati oleh Bayu dan keluarga kecilnya
setelah mobil berhenti bima segera turun
"ayo cepat kita harus menemui mama, kamu ingin turun sendiri atau menunggu saya menyeretmu" ucap bima dengan emosi yang meluap-luap
"Bima ****** dirimu,dia adalah papa kita kita bicarakan semua ini dengan kepala yang dingin jangan seperti ini" ucap Bayu mencoba menasihati adiknya dengan perlahan karena tidak ingin menambah kemarahan adiknya itu
Bima mengusap wajahnya dengan kasar
pak Wijaya segera turun dari dalam mobil dan mengikuti langkah lebar bima masuk kedalam rumah
Bayu yang memang kakinya tidak sempurna sesekali berlari kecil mengimbangi langkah keduanya
sesampainya di dalam rumah Arumi menyambut mereka
"loh papa baru nyampe !?" tanya Arumi pura-pura tidak tau apa-apa
"iya rum maaf sudah merepotkan kamu mengurus mamamu" jawab Pak Wijaya
"tidak apa-apa pa" jawab Arumi
"sayang,mama sedang apa?!" tanya Bayu saat sudah berada disamping istrinya itu
"baru tidur mas, mungkin pengaruh obat yang di minumnya " jawab Arumi
"oh" ucap bayu menganggukkan kepalanya
"kebetulan kalian semua ada disini,ada sesuatu yang ingin saya sampaikan
ayo kita duduk dulu" ucap Arumi dan berjalan menuju sofa ruang tamu
Arumi Duduk di sofa sambil memangku putra kecilnya
"ada apa rum!? apa ada yang serius pada mamamu??"tanya pak Wijaya
"tidak usah sok khawatir pada mama,kalau terjadi sesuatu pada mama kamu pasti akan senang karena tidak ada lagi penghalang untuk bersama jalangmu" ucap Bima
pak Wijaya tidak mengucapkan sepatah kata pun mendengar ucapan Putranya karena pak Wijaya tau apa yang dilakukannya itu salah
"ada apa sayang !?" tanya Bayu pada istrinya karena merasa ada sesuatu yang terjadi kepada ibunya
"emmm begini mas mama harus kita rawat lagi di rumah sakit karena punggung mama terluka entah apa penyebabnya karena sudah beberapa hari ini luka mama itu semakin melebar dan seperti membusuk jadi saya kira lebih baik jika mama dirawat atau kita sewa perawat untuk membantu saya merawat mama" ucap arumi sedikit ragu karena takut mereka tersinggung dengan apa yang di ucapkannya
"astaghfirullah,apakah separah itu sayang !? tapi kenapa kamu baru bicara sekarang !?" tanya bayu pada istrinya sedangkan pak Wijaya dan Bima hanya diam tertegun mendengar ucapan Arumi
" saya fikir bisa menangani mama sendiri mas dan saya juga tidak ingin menambah beban fikiran mas ". jawab Arumi
"terimakasih sayang kamu sudah mau merawat mama walaupun dulu mama sering menyakiti hatimu " ucap bayu
"iya mas biar bagaimanapun mama tetap ibu mu mas jadi dia juga adalah ibuku " jawab Arumi
"maafkan istriku kak karena tidak bisa membantu kakak untuk merawat mama, seandainya istri dan mertuaku bisa selegowo kak Arumi dan keluarga pasti kita semua damai dan juga ada seorang panutan yang bertanggung jawab dan tidak menyalahgunakan kepercayaan keluarga pasti hidup ini semakin damai " ucap bima dan sempat menyindir pak Wijaya secara halus
oak Wijaya tau jika putra keduanya itu sedang menyindirnya tapi dia tidak ingin membantah dan membuat masalah samakin runyam
pak Wijaya mengusap wajahnya kasar karena tidak tau harus bagaimana
"biasakah saya bertemu dengan mamamu !?" tanya pak Wijaya
"ck" decak bima kesal
"bisa pa silahkan tapi tunggu mama bangun dulu karena biasanya mama akan tertidur lama jika sudah minum obat seperti itu" jawab Arumi
"oh baiklah papa akan menunggu " ucap pak Wijaya
Arumi mengambil putranya yang berada dalam gendongan suaminya, Putranya itu sudah terlelap
"sini mas,biar saya letakkan Aarav keboksnya mas" ucap Arumi
" biar saya saja sayang, pasti kamu Lelah seharian merawat mereka " jawab Bayu
"tidak apa-apa mas" ucap Arumi
"mas besok Rumi sudah kembali bekerja karena sudah banyak pasien yang mencari jika mas dan yang lainnya setuju saya akan meminta salah satu perawat yang akan merawat mama disini " ucap Arumi lagi
"iya sayang kamu sewa dua perawat saja jadi mereka bisa bergantian ada yang datang pagi untuk menjaga mama saat kamu sibuk bekerja dan ada juga yang datang siang atau sore untuk membantumu dimalam hari" jawab Bayu karena dia juga merasa kasihan pada istrinya yang jam istirahatnya pasti berkurang karena harus menjaga ibu dan anaknya seorang diri
"iya mas, makasih ya " ucap Arumi karena suaminya menyatujui keinginannya
"lihat pa , menantumu saja Sangat tidak tega pada mama dengan keadaan seperti ini sedangkan papa Begitu teganya menghianati mama" ucap bima dengan mata berkaca-kaca karena membayangkan bagaimana keadaan ibunya saat ini
walaupun ibunya sering menyakiti hatinya dengan perkataan pedasnya namun bima sangat menyayangi ibunya itu dan tidak rela jika ada yang menyakiti hatinya
"maafkan papa" hanya itu yang pak Wijaya ucapkan
"maaf,apakah dengan kata maaf papa bisa mengembalikan semua seperti semula !? tidak pa
dengar pa seandainya mama tidak sakit seperti ini saya akan menyuruh papa untuk menceraikan mama, saya tidak akan pernah rela papa jika masih bersama mama dan wanita penggoda itu"ucap Bima
"dia bukan wanita penggoda bima dia wanita baik-baik "jawab pak Wijaya yang tidak rela jika wanita yang sangat dicintainya di hina seperti itu
"hahahaha,maaf maaf saya salahdia bulan wanita penggoda tapi wanita murahan " ucap bima dengan tawa mengejeknya
"cukup bima jangan hina istri papa biar bagaimanapun dia itu juga ibu sambungmu" jawab pak Wijaya dengan wajah sudah memerah
"cuih...saya tidak sudi punya ibu tiri lebih baik papa menceraikan mama agar papa bisa bebas bersama keluarga bahagia papa" ucap bima lagi dan pak Wijaya langsung pergi dari sana tanpa menyahuti perkataan bima
"pergi saja sana, dasar tua bangka tak tau diri" ucap bima penuh emosi
"sudah bima cukup "ucap Bayu dan bima beranjak dari duduknya dan menuju kamar dimana ibunya berada