Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
Bab 101



"iya "jawab satria dingin karena satria menangkap gelagat aneh dari Arjuna


Arjuna pun meninggalkan Arumi dan Satria yang menikmati baksonya


Arumi sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk melihat Arjuna yang sedang berpamitan dia sibuk dengan baksonya


sebenarnya Arjuna merasa kecewa dan sakit hati karena Arumi begitu cuek padanya


Namun Arjuna mencoba menepis pikiran buruknya pada gadis pujaannya itu


"mungkin dia takut pada kakaknya sehingga dia terlihat Cuek padaku"ucap Arjuna dalam hati


Arjuna kembali duduk di mejanya yang tadi disana ada tiga orang temannya yang menunggunya


"bagaimana Jun sukses nggak "tanya teman-temannya


"iya dong,siapa dulu dong Arjuna"ujar Arjuna berbohong karena dia tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapan teman-temannya


"tapi Jun,cowok dengan bidadarimu itu siapa?"tanya Deri teman Arjuna


"oh itu kak satria kakaknya Arumi "jawab Arjuna cepat


"oh pantesan aja adiknya cakep kakaknya saja begitu tanpam melihat wajahnya saja saya sudah basah"ucap sisil teman cewek Arjuna satu-satunya yang ikut mereka berempat


"kamu ini di otakmu hanya ada si jony,tuh jonynya Arjuna pengen dibelai"ucap ridho asal karena mendengar ucapan Sisil


"benar Jun jony kamu pengen diangetin?"ucap sisil Dengan mengedip-ngedipkan matanya genit


"bosan diangetin kamu terus, seandainya bisa saya akan menyeret arumi keranjang dan membuat nya menjerit-jerit kenikmatan "ucap Arjuna pandangannya menerawang membayangkan bersama dengan Arumi


"Hus seharusnya buang otak kotor mu Jun dan lihat bidadarimu sudah pergi"ujar Deri


Arjuna melihat kemana arah dagu Deri menunjuk,ingin rasanya arjuna berlari dan meminta pada Arumi nomor ponselnya namun nyali Arjuna Ciut melihat Sorot mata tajam Satria


"sil mau nggak kamu minta nomor teleponnya Arumi "ujar Arjuna


"kenapa nggak kamu aja Jun?!" jawab sisil


"cih seandainya saya bisa nggak mungkin saya nyuruh kamu"ucap Arjuna kesal


"ya sudah saya coba dulu ya" jawab sisil dan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari warung bakso mengikuti Arumi yang berjalan ke parkiran


Arjuna,Deri dan ridho mengikuti sisil karena mereka memang sudah sedari tadi selesai makan


Mereka ingin melihat apakah sisil berhasil mendapatkan nomor kontak Arumi atau tidak


sisil sengaja berjalan didekat arumi dan pura-pura memainkan ponselnya dan menabrak Arumi


"aduh"ucap Arumi menabrak mobil satria karena sisil mendorongnya


"eh maaf maaf saya tidak sengaja,saya serius membalas pesan mama jadi saya tidak melihat kamu"ucap sisil Dengan wajah bersalahnya


" makanya kalau lagi jalan itu jangan main hp untung kamu tidak celaka"ucap Satria ketus


"maaf mas saya benar-benar tidak sengaja "ucap sisil yang pura-pura ingin menangis


"sudah mbak tidak apa-apa,maafkan ucapan kakak Saya "ucap Arumi


"eh tapi tinggu dulu kamu Arumi kan anak kedokteran, wah apa kabar kamu Rum lama banget nggak pernah ketemu "ucap sisil SKSD (sok kenal sok dekat)


Arumi mengerutkan keningnya karena ini kedua kalinya ada yang mengenalinya namun Arumi sama sekali tidak mengenal mereka


"maaf ya mbak, bukannya sombong atau apa saya benar-benar tidak ingat mbak"ucap Arumi lembut takut menyinggung orang yang ada didepannya


"oh tidak apa-apa Rum, mungkin kamu lupa sama saya tapi kita sering sama-sama di penggalangan dana dikampus untuk bantuan bencana alam atau semacamnya "ucap sisil masih sok akrab


"oh begitu ya, sekali lagi maaf ya mbak saya benar-benar nggak ingat"ucap Arumi


"oh iya Rum, saya dengar-dengar bulan depan akan diadakan donor darah massal "ucap sisil lagi


"oh benarkah,saya baru dengar atau mungkin karena akhir-akhir ini saya jarang datang kekampus jadi saya nggak dapat info "ucap Arumi lagi yang sebenarnya sidah jenuh dengan orang didepannya ini namun karena takut lawan bicaranya tersinggung jadi Arumi terus meladeninya


Satria juga menangkap gelagat mencurigakan dari perempuan yang berbicara dengan adiknya itu


"Rum ayo pulang,ini sudah mulai larut pasti Umah sudah khawatir "ucap Satria dari dalam mobilnya


"iya kak"jawab Arumi


"maaf ya mbak saya harus segera pulang "ucap Arumi pada sisil


"iya Rum silahkan,tapi bisa kah saya meminta nomor ponselmu?"ujar Sisil


"ah ?! "ucap Ayumi


"oh begitu ya "jawab Arumi


lama berfikir Arumi akhirnya memberikan sebuah nomor telepon dan itu membuat sisil merasa senang karena misinya berhasil


Arjuna juga yang bersembunyi tidak jauh dari mereka bersorak kegirangan karena sisil berhasil mendapatkan nomor handphone gadis pujaannya


"makasih banyak ya Rumi"ucap sisil Dengan senyuman manisnya


"iya Mbak sama-sama,kalau begitu saya pamit dulu ya "jawab Arumi dan naik keatas mobilnya


Sisil Hanya mengangguk dan melambaikan tangannya saat mobil Arumi dan Satria berjalan meninggalkan parkiran warung bakso cing Rukaya


Setelah mobil Arumi tidak terlihat Arjuna dan yang lainnya mendekati sisil


"hebat kamu sil"ucap Arjuna


"trus apa hadiahku karena sudah berhasil mendapatkan nomor teleponnya "ucap sisil


"malam ini saya akan memuaskanmu"ucap Arjuna


"itu saja? Apakah tidak ada yang lain ?"tanya sisil


"trus kamu mau apa?"jawab Arjuna yang balik bertanya pada sisil


"saya ingin belanja lah jun!"ucap sisil manja


"Oke, karena hatiku lagi senang saya menuruti kemauanmu"ujar Arjuna


Arjuna anak seorang pejabat yang sedari kecil selalu dimanjakan dan dipenuhi semua keinginannya dengan kemewahan namun Arjuna tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing membuat Arjuna memilih pergaulan bebas untuk mencari kesenangan


"makasih ya Arjuna ku sayang "ucap sisil mencium pipi Arjuna


Hal itu sudah biasa untuk mereka berempat bahkan sisil adalah partner ranjang mereka bertiga


Arjuna dan teman-temannya pergi ke mall yang ada dikota itu untuk merayakan keberhasilan sisil


Arumi dan Satria kini sudah berada di mansion oma Shintya mereka disambut oleh umah yang juga baru sampai dari pertemuannya dirumah sakit besar dikota ini


Sedangkan Azlan memilih pulang ke desa makmur jaya


"kenapa kalian baru sampai ?" tanya Bu Ayudia karena siang tadi Ayumi menelponnya dan mengatakan bahwa Arumi kekota bersama Satria


"maaf umah tadi Rumi lama dikampus soalnya mencari dosen mata kuliah yang ngasih tugas tapi mereka nggak ketemu jadi besok pagi Rumi harus kekampus lagi"jawab Arumi dan Bu Ayudia mengangguk-angguk


satria hanya diam saja mendengar ibu dan adiknya itu


"mah satria istirahat dulu ya, soalnya capek seharian nyetir "ucap satria


"iya nak kamu istirahat aja tapi kamu tidak makan dulu ?"ujar Bu Ayudia


"kami sudah makan umah, tadi sempat singgah diwarung bakso cing Rukaya "jawab satria


"oh ya sudah kamu istirahat gih"ucap Bu Ayudia


Satria masuk kedalam rumah dan masuk kekamar yang berada dilantai satu


Sebenarnya kamar satria,azka dan Azlan ada di favilium yang ada dibelakang rumah dekat kolam renang mereka bertiga memilih tinggal disana karena disana tempatnya luas dan mereka bertiga membuat ruangan gym juga tempat latihan lainnya


Disana juga mereka membuat ruang kerja mereka dilantai dua Favilium


satria sudah malas kekamarnya yang ada di favilium kerena tubuhnya sudah sangat lelah seharian berkendara


"Kamu juga nak istirahat ya,jangan sampai kamu sakit hari bahagiamu sebentar lagi"ucap Bu Ayudia mengusap kepala putri bungsunya yang tertutup hijab itu


"iya umah, kalau begitu Rumi istirahat dulu ya "jawab Arumi mencium pipi ibunya


"oh iya umah besok umah masih harus kerumah sakit ?"tanya Arumi pada ibunya itu


"tidak sayang besok umah berencana ingin berziarah kemakam oma dan opa mumpung kita ada disini"jawab Bu Ayudia


"Rumi ikut ya Umah tapi Rumi harus kekampus dulu takutnya kalau rumi kekampusnya siang malah nggak ketemu dosen "ucap Arumi


"iya sayang kita ziarah nya sepulangnya kamu dari kampus setelah itu kita langsung pulang ke rumah "Jawab bu Ayudia


Arumi tersenyum dan memeluk ibunya lalu kembali mencium pipi ibunya


Lalu berjalan masuk kedalam rumah dan langsung naik kelantai dua dimana kamarnya dan Ayumi berada


Sedangkan Bu Ayudia menempati kamar utama , kamar yang ditempati oleh kedua orang tuanya semasa hidupnya