
semenjak malam pertengkaran mereka pak Wijaya sudah seminggu tidak pulang kerumah Bu Raidah dan itu membuat Bu Raidah semakin kalang kabut Bayu pun ikutan khawatir dan bingung kemana ayahnya itu sebenarnya pergi
Bayu sudah mencari dan menanyakan keberadaan ayahnya pada karyawannya namun tidak ada yang tau kemana pak Wijaya karena selama seminggu pak Wijaya tidak pernah datang ke rumah makannya
itu membuat Bayu semakin bingung dan Bu Raidah semakin menyesali perbuatan dan ucapannya yang selalu saja tidak bisa mengontrol Ucapannya untuk tidak menghina siapa saja yang membuat hatinya kesal
Bu Raidah setiap hari hanya menangis karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya yang waktu itu pergi dalam keadaan marah
Bima dan anak istrinya datang untuk menemani Bu Raidah yang sedang sedih namun tetap saja mulutnya yang tajam berbicara seenaknya saja
menantunya malas tinggal lebih lama disana
setelah tiga hari nginap Bima mengantarkan istri dan anaknya pulang kekota dimana rumah mereka berada
sudah dua Minggu kepergian pak Wijaya dari rumahnya dan selama itu juga pak Wijaya tidak pulang kerumahnya
Bayu sudah meminta tolong kepada kakak-kakak iparnya juga mertuanya untuk mencari keberadaan ayahnya tapi mereka tidak menemukannya
Bu Raidah setiap hari menangis meratapi kebodohannya karena suka membuat hati suaminya sakit karena hinaan nya
"bagaimana bay,kamu belum ketemu papa kamu!?" tanya Bu Raidah kepada putra sulungnya
"nggak ketemu ma,saya juga sudah minta tolong pada kak azlan dan yang lainnya tapi papa belum ditemukan "jawab bayu menundukkan kepalanya
"hiks hiks hiks ini semua salah mama,bayu tolong cari papamu mama khawatir papa kenapa-napa"ucap Bu Raidah terisak-isak
"iya ma,bayu terus mencari papa"jawab Bayu prihatin melihat kondisi mamanya
"jadi sekarang kita harus apa bay!?"tanya Bu Raidah masih dengan isakan tangisnya
sedangkan ditempat lain pak Wijaya sedang duduk dengan seorang wanita yang sedang hamil besar dan dipangkuannya ada gadis kecil yang begitu menggemaskan
pak Wijaya menikmati secangkir kopi hangat dan kue brownies kukus kesukaannya
"mas kamu sudah dua Minggu loh tidak pulang kerumah istrimu"ucap wanita hamil itu
"biar saja sis,mas capek dihina terus sama Raidah,mas sedikit pun tidak dihargainya bertahun tahun mas selalu mengalah padanya tapi mas tetap saja dihina harga diri mas sebagai seorang suami seperti di injak-injak "jawab pak Wijaya pada istri keduanya itu yang bernama Siska
"tapi mas, setidaknya mas memberi tahukan keberadaan mas pada anak-anak mas
saya tidak mau saya akan disalahkan nantinya oleh mereka karena pasti mereka berfikir jika saya mempengaruhi mas untuk tidak pulang kerumah istri pertama mas
saya dan sasha hanya ingin hidup tenang,saya rela menajadi yang kedua tapi saya tidak ingin mereka menganggap menguasai mas" ucap siska memberikan pengertian kepada suaminya itu
"baiklah mas akan pulang tapi nanti setelah sakit hati saya hilang" jawab pak Wijaya
"terserah kamu aja mas saya juga tidak ingin memaksa kamu semua keputusan ada padamu "ucap siska mengelus Perut buncitnya
"iya mas pasti akan pulang dan akan mengatakan pada anak-anak tentang kalian karena saya ingin anak-anak kita nantinya punya status"ucap pak Wijaya
"iya mas,saya mengikuti saja apa keputusanmu" jawab siska
"makasih ya sis, kamu selalu mengerti mas"ucap pak Wijaya
"iya mas sama-sama "jawab Siska
"papa dede antut"ucap sasha pada pak Wijaya
lalu menggendong putrinya masuk kedalam kamar tidur Sasha
"sekarang dede bobo ya"ucap Pak Wijaya pada putrinya setelah menyelimutinya
"iya papa"jawab sasha dengan senyumannya,pak Wijaya mengecup kening putrinya yang mulai memejamkan matanya
pak Wijaya keluar dari dalam kamar putrinya setelah memastikan jika putrinya itu sudah tertidur pulas
"sasha sudah tidur mas!?" tanya Siska
"sudah Sayang Sekarang kanu juga istirahat ya "ucap pak Wijaya mencium pipi tembem istrinya itu
"iya mas, pinggangku pun sudah terasa ingin patah "jawab siska mengelus pelan punggungnya
pak Wijaya juga ikut mengelus punggung istrinya dengan sedikit memberikannya pijatan agar rasa pegal nya sedikit berkurang
setelah merasa sedikit baikan Siska masuk kedalam kamarnya ditemani pak Wijaya untuk beristirahat
"maaf ya mas saya selalu merepotkan kamu"ucap siska
"saya tidak repot kok,saya sangat senang bisa membantumu sayang,saya juga merasa sangat berharga karena kamu selalu menurut pada mas" jawab pak Wijaya
"iya mas sama-sama " jawab Siska merebahkan tubuhnya yang mulai membengkak karena kehamilannya
ya dua tahun yang lalu pak Wijaya memutuskan menikahi gadis yatim piatu yang pernah membantunya menemukan berkas penting perusahaannya yang tertinggal di hotel tempatnya menginap di luar kota
saat itu siska bekerja sebagai cleaning service di hotel tersebut
pak Wijaya sering nginap di hotel tersebut jika sedang memantau rumah makan miliknya yang ada dikota itu,dan mulai saat itu mereka sering bertemu dan menjadi akrab hingga mereka menjalin hubungan
siska merasa nyaman bersama Pak Wijaya dan akhirnya menerima lamaran pak Wijaya
mereka menikah sirih sudah setahun lebih dan mereka sudah dikaruniai seorang putri yang berusia setahun lebih dan kini siska sedang hamil anak kedua mereka
siska sangat tau resiko yang akan dihadapinya karena menikah dengan pria yang memiliki anak dan istri tapi cerita pak Wijaya yang membuat siska mereka iba
walaupun usia mereka jaraknya sangat jauh tapi itu tidak menjadi halangan untuk cinta mereka berdua karena merasa nyaman satu sama lain
Sore menjelang saat Bayu dan bima sedang berbincang-bincang membicarakan tentang keberadaan ayah mereka Yang sampai dua Minggu belum pulang juga ponselnya pun tidak pernah aktif, Bu Raidah datang menghampiri mereka dengan sangat lesu namun saat akan duduk disamping Bima
tiba-tiba saja Bu Raidah pingsan dan itu membuat kedua putranya panik
"ma,mama kenapa!?" ucap Bima menepuk-nepuk pipi ibunya itu
wajah Bu Raidah sangat pucat dan lingkar matanya menghitam karena kurang tidur memikirkan suaminya yang pergi tanpa pesan
"kak mama kenapa kak!?" tanya Bima
"kakak juga tidak tau bim,lebih baik kita bawa mama kerumah sakit" ucap Bayu dan diangguki oleh Bima
Bima segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya agar dapat segera membawa ibunya kerumah sakit
Bayu mengangkat tubuh ibunya menuju mobil yang disiapkan oleh Bima,Bima membuka pintu mobil agar mempermudah bayu untuk memasukkan nya ke dalam mobilnya
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut jika terjajadi yang tidak tidak pada ibunya, walaupun ibunya cerewet dan bermulut pedas bahkan sering membuat mereka merasa sangat kesal tapi mereka sangat menyayangi ibunya itu