
"Bay papa mau langsung pulang kekota ya soalnya papa khawatir pada Keadaan Siska"ucap pak Wijaya pada Bayu
"jangan pergi dulu pa, ikutlah pengajian mama besok pagi saja baru papa pergi " jawab bayu
"iya pa, papa pergi besok pagi saja trus apa papa tidak kangen sama Alesya dan sikecil !? kalau bisa temui mereka dulu pa dan berikan si kecil nama" sahut Arumi
"baiklah saya akan menemui mereka dulu sebelum papa kembali kekota " jawab pak Wijaya dengan mata berkaca-kaca
malam hari pun tiba semua persiapan pengajian a sudah disiapkan beberapa warga sekitar sudah banyak yang berdatangan
Bayu juga mendatangkan seorang ustadz kondang untuk memberikan tausiyah
sang ustadz membawakan tauziah tentang kematian dan pentingnya meminta maaf kepada kedua orang tua agar seorang anak jangan sampai menjadi anak yang durhaka
melalui tauziah singkat pak sang ustadz mata hati Bima terbuka dan merasa bersalah kepada sang ayah apalagi kepada sang ibu yang kini telah pergi untuk selamanya sedangkan saat ini dia hanya memiliki kakak dan ayahnya
Bima mencari keberadaan pak Wijaya namun Bima tak menemukannya
karena pak Wijaya sengaja duduk diantara para tetangga yang datang
pak Wijaya memang akrab dengan tetangga-tetangganya karena pak Wijaya sekali seminggu ikut bergabung tetangga-tetangganya yang sedang mengadakan kerja bakti atau kegiatan lainnya jika Pak Wijaya sedang punya waktu luang
berbeda dengan Bu Raidah semasa hidupnya, Bu Raidah akan bergaul dengan ibu-ibu yang punya selera sepertinya memerkan kekayaan menggunjing tetangga-tetangganya yang tidak selevel dengan mereka
sehingga Bu Raidah hanya punya banyak musuh di lingkungan sekitarnya
Acara pengajian bersama untuk almarhumah ibu Raidah berjalan dengan lancar pihak keluarga Bayu membagikan nasi berkat untuk para tamu yang datang
pak Wijaya juga mengucapkan terima kasih kepada para tetangga-tetangganya untuk datang menghadiri acara pengajian almarhumah istrinya
setelah semua orang telah pulang pak Wijaya masuk kedalam rumah dan masuk kedalam kamarnya dimana dia dan Bu Raidah banyak menghabiskan waktu bersama
baik hanya untuk sekedar bercerita ataupun bertengkar namun itu menjadi kenangan tersendiri untuk Pak Wijaya
"ma biasanya kalau papa pulang kerja dan mama mau minta uang mama akan memijat papa walaupun ujung-ujungnya mama marah-marah tapi sekarang mama sudah pergi meninggalkan papa hiks hiks hiks " ucap pak Wijaya menangis sesenggukan
"ma maafkan papa ya karena belum bisa menjadi suami yang baik seperti suami impian mama "pak Wijaya masih sesegukan
pak Wijaya memilih membersihkan diri terlebih dahulu karena sudah menjadi kebiasaannya Bu Raidah akan ngomel-ngomel jika pak Wijaya tidak membersihkan diri dan langsung tidur
pak Wijaya Berdiri dari duduknya dan melangkah menuju lemari pakaian Bu Raidah
pak Wijaya mengambil salah satu baju kesayangan Bu Raidah
"ma ingat nggak waktu Kamu menginginkan baju ini dan waktu itu papa belum punya banyak uang sehingga Mama mogok bicara pada papa selama sebulan tapi setelah papa bawa pulang baju ini mama memeluk papa Begitu erat
wajahmu begitu bahagia karena baju yang kamu idam-idamkan telah Kamu miliki hehehe awaktu itu kamu terlihat lucu, kamu seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah dari papanya "ucap pak Wijaya lagi dengan kekehan kecilnya
pak Wijaya merebahkan tubuhnya yang Terasa sangat lelah karena seharian ini sama sekali belum beristirahat, pak Wijaya lalu memeluk baju kesayangan sang istri
karena Kelelahan tak membutuhkan waktu lama pak Wijaya tertidur dengan nyenyak nya
Bima yang sedari tadi mencari keberadaan sang ayah namun tidak ditemukannya Memilih masuk kedalam kamar kedua orang tuanya
Bima berharap sang ayah ada didalam kamarnya
bima membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak terkunci
Bima masuk kedalam kamar kedua orang tuanya, Bima mengedarkan pandangannya mencari pria tua yang selalu ada untuknya sedari kecil hingga dewasa namun saat dirinya sudah menikah Bima sudah tidak pernah lagi dekat dengan sang ayah
karena sang istri dan ibu mertuanya tidak suka jika Bima sering-sering mengunjungi kedua orang tuanya
Bima baru sadar sekarang jika istri dan keluarganya Selama tiga tahun ini telah menyesatkannya dan membuatnya menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya
Bima meneteskan air mata saat melihat sang ayah memeluk salah satu baju kesayangan sang ibu dan bima juga dapat melihat jejak air mata yang sudah mengering dipipi tirus sang ayah
Bima duduk ditepi ranjang didekat ayahnya itu dengan pelan karena tidak ingin ayahnya tidurnya terusik
saat Bima sudah duduk didekat pak Wijaya tiba-tiba saja pak Wijaya bergumam
dan membuat Bima semakin merasa bersalah
"ma maafkan papa ma,papa memang bukan suami yang baik
papa melakukan itu semua karena papa membuktikan perkataan mama yang mengatakan jika tidak akan ada lagi wanita yang mau pada papa dan jika papa beristri lagi papa tidak akan bahagia dan tidak akan memiliki keturunan tapi lihatlah ma papa sudah punya putri yang sangat mirip dengan bayu dan seorang putra yang mirip dengan Bima kecil "ucap pak Wijaya meneteskan air matanya
"pa papa,bangun pa" Bima menggoyangkan lengan ayahnya itu hingga pak Wijaya membuka matanya perlahan
bima dapat melihat lingkaran hitam dibawah mata sang ayah yang menandakan jika ayahnya itu selama ini kurang istirahat
"Bima !? kamu disini nak!? ada apa!?" tanya pak Wijaya saat melihat putra bungsunya duduk ditepi ranjangnya
pak Wijaya duduk dan bersandar dikepala ranjangnya menatap putranya penuh tanda tanya
tangannya masih memeluk baju milik Bu Raidah sang istri
"pa maafin Bima ya karena sudah kasar pada papa"ucap Bima menundukkan kepalanya
"iya nak tidak apa-apa, karena papa memang bersalah papa telah mengkhianati kalian " jawab pak Wijaya dengan mata berkaca-kaca
"papa kenapa memeluk baju ibu!?" tanya bima mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin ayahnya semakin merasa bersalah karena dia sangat tau bagaimana sikap mamanya selama ini pada papanya
dihina dan direndahkan tapi papanya tak pernah sekalipun melawan
"hehehe ini papa Ingat masa-masa dulu saat mama menginginkan baju ini dan papa belum punya uang untuk membelinya hingga mama nggak ngajak papa bicara dan melarang papa tidur diranjang selama sebulan penuh "jawab pak Wijaya tersenyum kecut
"oh jadi karena alasan itu papa meminjam kasur angin milik kak Bayu!?" tanya Bima dan pak Wijaya pun mengangguk dengan senyuman dibibir nya
"tapi papa bertahan hidup dengan mama selama puluhan tahun " ucap Bima
"karena ada kalian nak,papa tidak sanggup jauh dari kalian seandainya kata talak dari seorang perempuan itu sah Dimata agama mungkin papa sudah lama menduda mungkin sejak kalian kecil "ucap pak Wijaya airmata yang ditahannya sejak tadi kini luruh sudah membasahi pipinya
Bima semakin merasa bersalah karena telah berbuat kasar pada ayahnya itu
"pa maafkan Bima ya pa"ucap Bima memeluk tubuh ringkih papanya itu
"iya nak,papa juga banyak salah pada kalian papa sudah membohongi kalian dan papa berharap kamu bisa menerima kehadiran kedua adikmu
papa tidak akan marah ataupun menyalahkan kalian jika belum bisa menerima Siska sebagai ibu sambung kalian tapi yang harus kalian tau Siska tidak bersalah papa yang telah memaksanya menerima papa
awalnya papa berbohong pada siska jika papa sudah bercerai dengan istri pertama Papa sehingga siska mau menikah dengan papa papa juga memalsukan data-data diri papa,papa melakukan itu semua karena papa tidak ingin kehilangannya
papa mendapatkan semuanya dari Siska yang tidak pernah papa dapatkan dari mamamu "ucap Pak Wijaya berderai air mata
"Bima akan mencoba pa untuk bisa menerima kehadiran kedua adik bima" ucap bima dan pak Wijaya menatap wajah putranya itu
seakan tak percaya bima berbicara seperti itu
"makasih nak, makasih " jawab pak Wijaya
"saya akan menerima mereka berdua tapi tidak dengan siska sebagai ibuku, bagaimana mungkin orang yang kucintai selama ini menjadi ibu sambungku walaupun sekarang saya sudah memiliki Asdiah dan memberikanku keturunan tapi cinta untuk Siska masih ada"ucap Bima dalan hati
"huffftt "bima menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak didalam dadanya