
Pov Author
setelah pulang dari rumah kontrakan maya Raidah dan Wijaya dilanda kebingungan karena kepergian maya dan keluarganya tidak ada satu orang pun yang tau kemana mereka pergi
"mas kira-kira maya pergi kemana ya!?"tanya Raidah pada suaminya
"mas juga tidak tau dah, kemana mereka pergi, tidak seperti biasanya mereka pergi tanpa datang berpamitan walaupun sebenarnya datang hanya untuk minta ongkos "jawab Wijaya memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit
"iya juga sih mas"sahut Raidah
"apa mungkin mereka pulang kekampung mu mas!?"ucap Raidah menebak-nebak
"nggak mungkin lah da, warisan dari eyang untuk maya kan sudah habis mereka jual dan itu yang membuat keluarga marah pada mereka sehingga mereka pergi dari kampung
jadi tidak mungkin mereka akan kekampung "jawab Raidah
"atau mereka kekampung firman mas!"tanya Raidah lagi
"itu lebih tidak mungkin karena mereka itu masih jadi musuh masyarakat disana setelah kasus pemerkos**n yang dilakukan Fikri anak mereka
apa kamu lupa itu semua !?"jawab Wijaya yang membuat kepalanya semakin pusing
"dasar mereka memang biang onar"umpat Raidah kesal
"kalau sudah begini kita juga yang pusing memikirkan mereka, apakah mereka bisa tidak buat onar!?"ucap Raidah tak berhenti mengoceh
"sudahlah dah,biar bagaimanapun maya itu adikku dan anak-anaknya adalah ponakanku jadi kita cari cari cara saja bagaimana kita bisa tau dimana mereka sekarang
apakah mereka baik-baik saja saat ini!?"ucap Wijaya dengan mata berkaca-kaca
maya adalah adik semata wayangnya dan dia adalah pengganti mamanya yang sudah meninggal dunia saat melahirkan Maya
"iya mas saya tau,tapi ini akibat dia itu terlalu dimanjakan jadi dia berbuat sesuka hatinya "sahut Raidah
"ya ini memang kesalahan kami yang terlalu memanjakannya sejak kecil manuruti semua keinginannya karena kami tidak ingin dia sedih dan kesusahan "jawab Wijaya prustasi
karena adiknya selalu saja membuat masalah ditambah lagi punya suami yang sama perangainya
sehingga anak-anak mereka mengikuti orang tuanya kecuali anak sulungnya Furqan yang sejak kecil dirawat oleh saudara perempuan suami pertama maya Rahmat yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat maya hamilkan Furqan
"trus kita harus bagaimana mas"ucap Raidah
"kita nanti bicarakan ini dengan Bayu dab Bima semoga saja mereka bisa membantu kita"jawab Wijaya
"ya sudahlah, pusing juga selalu ngurusin mereka "ucap Raidah ketus
mereka telah sampai di rumah mereka Raidah langsung turun dari mobil tanpa menunggu sang suami
Raidah langsung masuk kekamarnya dia tidak ingin lagi pusing dengan masalah keluarga adik iparnya yang kini mereka pergi entah kemana
Wijaya segera menelpon kedua putranya dan menceritakan tentang kepergian maya dan keluarganya
"kenapa Papa harus bingung dan pusing,kan bagus keluarga benalu biang onar itu pergi !!
bisa saja kan salah satu diantara mereka ada yang membuat onar lagi dan mereka pergi untuk bersembunyi
untung saja mas Furqan tidak besar dengan mereka bisa-bisa dia juga ketularan bar-bar dan tukang onar"jawab Bima saat papanya menelpon
"jaga ucapanmu Bima,biar bagaimanapun mereka itu masih keluarga kita "ucap Wijaya pada putra bungsunya itu
"sudahlah pa jangan buang-buang waktumu untuk mencari mereka jika mereka kehabisan uang mereka akan datang dengan sendirinya menemui papa, atau mungkin mereka sudah bosan meminta bantuan pada papa Sehingga mereka pergi tanpa berpamitan "jawab Bima lagi
Wijaya tau Putranya itu dendam pada maya karena sewaktu kecil dulu saat Bima dan fikri bersekolah disekolah yang sama bahkan mereka satu kelas
flashback
mereka waktu itu masih duduk dikelas 3 SD
Bima yang sedang kebelet pipis keluar dari dalam kelasnya menuju toilet yang kebetulan lewat depan ruangan kepala sekolah dan ruang guru
Bima yang melihat ruang kepala sekolah pintunya terbuka segera meraih gagang pintu itu dan menutupnya namun karena rasa ingin buang airnya sudah tidak tertahankan lagi setelah menutup pintu kantor kepala sekolah Bima langsung berlari ketoilet karena takut pipis dicelana
ternyata saat itu ada beberapa siswa yang baru datang dari arah toilet melihat Bima menutup pintu kantor kepala sekolah dan berlari cepat ketoilet
security pun sempat melihatnya namun saat hendak menghampirinya Bima sudah berlari ketoilet
sebenarnya saat Bima menutup pintu kantor kepala sekolah fikri masih ada didalam yang sedang bersembunyi dibelakang sofa,dan saat semua kembali sepi Fikri buru-buru kembali kekelasnya dan duduk ditempat duduknya yang berdekatan dengan bangku bima
disaat itulah fikri Diam-diam mengambil uang di dompet ibu Marliana dan menyimpan di bawah kakinya didalam sepatunya
fikri menyimpan dompet ibu Marliana ditas sekolah Bima setelah mengambil uang dalam dompet itu
Fikri juga menyimpan uang di sela buku bima entah apa yang ada didalam kepala kecil fikri hingga melakukan hal seperti itu kepada saudara sepupunya sendiri
setelah pertemuan selesai kepala sekolah dan semua guru kembali ketempat mereka masing-masing
ibu Marliana dan dua orang tamunya kembali keruang kepala sekolah
dan guru-guru ada yang langsung kekelas mereka masing-masing ada juga yang langsung keruang guru karena tidak memiliki jam pelajaran
dan pada saat ibu Marliana ingin mengambil amplop untuk diberikan kepada kedua tamunya betapa terkejutnya karena dompetnya tidak ada didalam tasnya
namun ibu Marliana diam saja karena malu pada kedua tamunya
setelah kedua tamunya pergi Bu Marliana memanggil security dan menanyakan perihal siapa yang masuk kedalam ruangannya selama dia berada di Aula
pak Badrun sang security langsung menunjuk Bima karena hanya bima yang dilihatnya berada di sekitar kantor dan memegang gagang pintu kantor kepala sekolah
pak Badrun pun mengatakan jika ada beberapa siswa yang melihat Bima keluar dari dalam kantor kepala sekolah
akhirnya ibu Marliana meminta pak Badrun untuk memanggil Bima dan juga Tiga orang siswa yang melihat Bima
Bima yang sedang memperhatikan gurunya menjelaskan pelajaran terkejut karena tiba-tiba dipanggil keruang kepala sekolah dan paling mengherankan bagi Bima karena pak Badrun meminta Bima membawa tasnya serta
Bima pun mengikuti langkah pak Badrun setelah mendapatkan izin dari gurunya
setelah sampai di kantor kepala sekolah bima di interogasi selayaknya penjahat kepala sekolah pun sempat melayang kan tangannya menampar Bima tanpa memperdulikan pembelaan yang bima berikan karena kepala sekolah sudah menemukan dompet dan beberapa lembar uangnya didalam tas sekolah Bima
Orang tua bima sudah dihadirkan disekolah bukannya mereka membela bima bahkan bu Raidah memukul dan memarahi Bima hanya Bayu yang selalu melindungi tubuh adiknya dari pukulan sang ibu
bayu juga terus-terusan membela adiknya yang di tuduh sebagai pencuri namun Bayu kecil tidak punya daya dan upaya membela sang adik
sedangkan Fikri sang pelaku hanya diam memperhatikan dengan keringat dingin membasahi keningnya juga tangan kecilnya yang sangat lihai mencuri
Bima hanya bisa menangis karena pembelaannya tidak ada yang mendengarkan,Bayu ikut menangis melihat adiknya seperti itu
"suatu hari nanti kalian akan menyesal karena menuduh adikku dan jika hari itu tiba saya tidak akan pernah memaafkan kalian semua"ucap Bayu menghapus air mata Adiknya
Bayu yang saat itu sudah duduk di kelas 6 Sd sudah Sangat paham dengan situasinya
Radiah dan Wijaya membawa kedua putranya untuk pulang dan mulai hari itu Bima diberhentikan sekolah
Bayu menelpon eyangnya untuk datang menjemput adiknya
Bayu pun menceritakan semua yang terjadi pada eyang Kusuma dan dihari itu pun eyang Kusuma datang menjemput Bima untuk tinggal bersama mereka
sedangkan Bayu tidak ingin pindah sekolah karena sebentar lagi akan mengikuti ujian akhirnya
...****************...
maaf jika saya sering Upnya malam dan sedikit-sedikit karena jika siang nggak sempat nulis karena mengantar jemput anak-anak sekolah dan juga jualan jajanan 🥰🥰
jangan lupa Like nya ya 😍😘😘