Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
199 Berduka (pemamat dalan mama ,Echa cayang mama )



Tangan kecil Alesya terus menggenggam tangan mamanya sesekali di ciumnya


"mama dengalkan echa dan ituti echa ya ma LAI LAHA ILLA LAH" ucap Alesya berkali walaupun berusaha keras untuk menyebutkan dengan sempurna suaranya terbata-bata karena tangisnya tak bisa ditahannya


Aisy tidak ingin turun dari tubuh ibunya aisy terus memeluk tubuh riska dan terus memanggil-manggil nya


bayi 6 bulan itu seakan tidak ingin berpisah dengan ibunya


seorang suster yang juga ada disana merekam itu semua hanya ingin menyimpannya saja karena merasa bangga dan terharu melihat betapa tegarnya seorang anak menuntut ibunya disaat sakratul mautnya air matanya pun tak berhenti menetes membasahi pipinya


begitupun dengan dokter dan rekannya sedari tadi mereka hanya diam dengan air mata tak bisa mereka bendung


pak Wijaya sedari tadi sudah sesegukan karena tidak tega melihat anak-anaknya yang masih sangat kecil dan harus ditinggalkan oleh ibunya


apalagi Aisy yang sama sekali tidak merasakan bagaimana rasanya pelukan seorang ibu, bagaimana rasanya di asi oleh seorang ibu, bagaimana rasanya digendong dan timang- timang oleh wanita hebat yang telah melahirkannya


wanita yang sudah menghadirkannya kedunia ini


"mamamamama"rancau Aisy masih memeluk tubuh ibunya dengan tangan mungilnya


tak berapa lama setelah Alesya membacakan surat Alfatihah didekat ibunya disela-sela tangisnya tiba tiba a saja mesin yang menghubungkan dengan denyut jantung siska berbunyi


tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit


dokter terkejut dan segera menghapus air matanya begitu pun dengan kedua perawat itu


dokter memeriksa denyut jantung siska yang ada di pergelangan tangan siska namun sudah tidak berdenyut lagi


"innalilahi wa innailaihilojiun , pemamat dalan mama tantikan tami disuldana Allah"ucap Alesya begitu tegarnya anak itu melepaskan kepergian ibunya


innalilahi wa innailaihirojiun "ucap dokter dan perawatnya bersamaan


wajah Riska begitu bercahaya dan terlihat sangat cantik senyuman dibibir nya tersungging begitu manis


"pihatlah det mama beditu bahadiah,pita lalus itlas ya janan nanisin tepeldian mama adal mama masut sulga


pita doaantan mama ya det" ucap Alesya


"mama tantip setali " gumam Alesya tersenyum menatap ke atas kepala mamanya


"babababa mamamamama" ucap Aisy melambaikan tangan mungilnya lalu tersenyum begitu pun dengan Alesya ikut tersenyum


dokter dan perawatnya melihat tingkah kedua anak kecil itu mereka bertiga saling tatap dan melemparkan senyum seolah mereka saling berbicara lewat tatapan mata mereka


bahwa kedua anak itu melihat arwah ibunya berdiri di dekat ranjang tempat ibunya berbaring


"innalilahi wa innailaihirojiun , selamat Jalan sayang semoga kamu bahagia disana"ucap pak Wijaya masih sesegukan


pak Wijaya mengangkat tubuh kedua anaknya untuk menjauh dari tubuh sang ibu agar dokter dapat bekerja melepaskan semua alat penunjang kehidupan siska selam beberapa Bulan terakhir ini


"papa nanan nanyis telus banti papa satit,talau papa satit piapa yang atan mendaga tami" ucap Alesya mengusap air mata diwajah ayahnya yang sudah mulai keriput karena sudah beberapa bulan tidak dapat beristirahat dengan baik


"iya sayang maafkan papa" jawab Pak Wijaya berusaha tersenyum pada kedua anaknya


"lihatlah sayang betapa perhatiannya putri kita"batin pak Wijaya menahan air matanya agar keluar lagi dan dilihat oleh kedua anaknya


pak Wijaya keluar dari ruangan perawatan siska dan menelpon bayu memberi tahukan bahwa siska telah meninggal dunia


semua orang terkejut mendengar berita duka yang disampaikan oleh pak Wijaya


kini bayu,azlan dan Fatiyah berangkat kekota untuk menemani pak Wijaya menyiapkan pemulangan jenazah siska


Fatiyah ikut untuk menenangkan ke-dua anak pak Wijaya dan almarhumah siska karena memang selama ini Fatiyah lah yang merawat mereka


saat mereka sampai dirumah sakit Alesya langsung berlari menyongsong Fatiyah


Fatiyah berjongkok dan merentangkan tangannya menunggu Alesya masuk kedalam pelukannya


"bibu mama cuda pelgi keculgana Allah Hiks hiks hiks " tangis Alesya pecah dalam pelukan hangat Fatiyah wanita cantik yang beberapa bulan ini merawat menggantikan siska memberikan kasih sayang


"iya sayang, kakak harus ikhlas ya sayang biar mama tenang di surganya Allah "jawab Fatiyah ikut meneteskan air matanya


Alesya hanya mengangguk mendengar ucapan Fatiyah


"itu karena kalian ikhlas melepaskan kepergian mama jadi mama tidak merasakan sakit saat nyawanya dicabut oleh malaikat "jawab Fatiyah mencoba menenangkan adik dari adik iparnya itu


"biya Bibu echa itlas" ucap Alesya


"kalau begitu echa jangan menangis lagi ya sayang,kasihan mama nanti ikut sedih juga " jawab Fatiyah dan Alesya mengangguk-anggukkan kepalanya


"kasihan sekali kalian nak masih sekecil ini sudah merasakan cobaan hidup ditinggalkan oleh orang yang paling kita sayangi, semoga kelak kalian bahagia kami akan selalu bersamamu nak kami akan membimbingmu dan selalu ada untuk kalian melewati ini semua


 INSYA ALLAH " ucap Fatiyah dalam hati sambil mengelus punggung Alesya sekali menyeka air matanya dia tidak ingin Alesya melihatnya menangis


setelah selesai semua diurus kini jenazah Fatiyah dibawa pulang kerumah mereka, satria dan azka sudah menyiapkan segalanya


mereka juga sudah berada disana untuk menyambut kedatangan jenazah siska


baberapa jam kemudian sebuah mobil ambulance yang membawa jenazah siska kini telah tiba di depan rumah pak Wijaya dan siska


mobil azlan juga sudah ada di belakangnya


Fatiyah turun dari mobil sambil menggendong Alesya karena anak itu tak mau lepas dari Fatiyah


 azlan menggendong Arsy karena satria yang mengemudikan mobilnya


sedangkan pak Wijaya ikut di mobil ambulance menemani jenazah sang istri


sesampainya disana mereka tidak menunggu waktu untuk memakamkan jenazah Riska


kini mereka berada di pemakaman umum yang ada didaerah tempat tinggal mereka


mereka semua bersyukur karena Alesya tidak lagi menangis dan rewel begitu juga dengan Aisy


tapi mereka tidak mau lepas dari Fatiyah dan Azlan, mereka tidak ingin keorang lain bahkan sama pak Wijaya pun mereka tidak mau


pak Wijaya tidak marah karena dia tau saat ini anak-anaknya butuh pelukan dan selama beberapa bulan terakhir mereka sangat dekat dengan keduanya dan mungkin mereka sudah merasa nyaman


setelah pemakaman selesai semua menaburkan bunga di makam siska


"mama bobo sini ya,mama bait-bait pisini ya ma bial echa yang daga adet


mama pidat pusah tawatil ya, Echa zhayan mama"ucap Alesya


"dadadada mamamama" ucap Aisy melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum


semua orang terdiam melihat tingkah Aisy, Alesya juga ikut tersenyum


"ayo pulang sayang" ucap Fatiyah mengajak Alesya dan Aisy


"tami puyang ya mama,echa dandi piat hali echa tilimtan poa puat mama" ucap Alesya lalu mencium batu nisan mamanya


mereka pun pulang kerumah pak Wijaya untuk mempersiapkan acara doa bersama untuk almarhumah


"dengar-dengar almarhumah seorang pelakor ya tapi kok wajahnya bercahaya sekali dia pun seperti sedang tersenyum "ucap salah seorang pelayat tetangga dekat rumah pak Wijaya


"husss, tidak baik menceritakan keburukan orang sudah meninggal "sahut bu Rt yang kebetulan juga berada disana


"iya wajahnya itu seperti orang yang sedang tidur saja,dan tadi kedua anaknya juga saat di pemakaman dada apalagi anaknya yang kecil seperti melihat mamanya " jawab ibu yang satunya lagi


"kan kata orang itu jika arwah orang meninggal itu akan pergi setelah 40 hari kematiannya mungkin saja mereka melihat arwah mamanya ,kan mereka itu masih suci jadi mungkin saja bisa melihat mamanya " ucap yang disebelah ibu pertama


"kasihan ya mereka masih kecil sudah jadi piatu tapi mereka juga beruntung punya keluarga yang sangat peduli dengan mereka berdua mau merawat mereka seperti anak sendiri" Sahut ibu kedua


"lebih baik kita bantu-bantu untuk persiapan malam Takziah Almarhumah"ucap Bu Rt


"iya bu ayo" jawab mereka dan akhirnya mereka ikut bergabung untuk membantu ibu-ibu yang lain


pak Wijaya kini sedang berada didalam kamar yang sering ditempatinya bersama sang istri sedangkan Alesya dan Aisy kini sudah tertidur dikamar mereka ditemani oleh Fatiyah


"mas bahagia pernah memilikimu,mas akan selalu menjaga cinta kita dan mas juga akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kedua anak kita Hiks hiks hiks " ucap pak Wijaya mengusap wajah siska yang ada di dalam foto pernikahan mereka


tak lama pak Wijaya terlelap mungkin karena Kelelahan