
Tangan kecil Alesya terus menggenggam tangan mamanya sesekali di ciumnya
"mama dengalkan echa dan ituti echa ya ma LAI LAHA ILLA LAH" ucap Alesya berkali walaupun berusaha keras untuk menyebutkan dengan sempurna suaranya terbata-bata karena tangisnya tak bisa ditahannya
Aisy tidak ingin turun dari tubuh ibunya aisy terus memeluk tubuh riska dan terus memanggil-manggil nya
bayi 6 bulan itu seakan tidak ingin berpisah dengan ibunya
seorang suster yang juga ada disana merekam itu semua hanya ingin menyimpannya saja karena merasa bangga dan terharu melihat betapa tegarnya seorang anak menuntut ibunya disaat sakratul mautnya air matanya pun tak berhenti menetes membasahi pipinya
begitupun dengan dokter dan rekannya sedari tadi mereka hanya diam dengan air mata tak bisa mereka bendung
pak Wijaya sedari tadi sudah sesegukan karena tidak tega melihat anak-anaknya yang masih sangat kecil dan harus ditinggalkan oleh ibunya
apalagi Aisy yang sama sekali tidak merasakan bagaimana rasanya pelukan seorang ibu, bagaimana rasanya di asi oleh seorang ibu, bagaimana rasanya digendong dan timang- timang oleh wanita hebat yang telah melahirkannya
wanita yang sudah menghadirkannya kedunia ini
"mamamamama"rancau Aisy masih memeluk tubuh ibunya dengan tangan mungilnya
tak berapa lama setelah Alesya membacakan surat Alfatihah didekat ibunya disela-sela tangisnya tiba tiba a saja mesin yang menghubungkan dengan denyut jantung siska berbunyi
tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit
dokter terkejut dan segera menghapus air matanya begitu pun dengan kedua perawat itu
dokter memeriksa denyut jantung siska yang ada di pergelangan tangan siska namun sudah tidak berdenyut lagi
"innalilahi wa innailaihilojiun , pemamat dalan mama tantikan tami disuldana Allah"ucap Alesya begitu tegarnya anak itu melepaskan kepergian ibunya
innalilahi wa innailaihirojiun "ucap dokter dan perawatnya bersamaan
wajah Riska begitu bercahaya dan terlihat sangat cantik senyuman dibibir nya tersungging begitu manis
"pihatlah det mama beditu bahadiah,pita lalus itlas ya janan nanisin tepeldian mama adal mama masut sulga
pita doaantan mama ya det" ucap Alesya
"mama tantip setali " gumam Alesya tersenyum menatap ke atas kepala mamanya
"babababa mamamamama" ucap Aisy melambaikan tangan mungilnya lalu tersenyum begitu pun dengan Alesya ikut tersenyum
dokter dan perawatnya melihat tingkah kedua anak kecil itu mereka bertiga saling tatap dan melemparkan senyum seolah mereka saling berbicara lewat tatapan mata mereka
bahwa kedua anak itu melihat arwah ibunya berdiri di dekat ranjang tempat ibunya berbaring
"innalilahi wa innailaihirojiun , selamat Jalan sayang semoga kamu bahagia disana"ucap pak Wijaya masih sesegukan
pak Wijaya mengangkat tubuh kedua anaknya untuk menjauh dari tubuh sang ibu agar dokter dapat bekerja melepaskan semua alat penunjang kehidupan siska selam beberapa Bulan terakhir ini
"papa nanan nanyis telus banti papa satit,talau papa satit piapa yang atan mendaga tami" ucap Alesya mengusap air mata diwajah ayahnya yang sudah mulai keriput karena sudah beberapa bulan tidak dapat beristirahat dengan baik
"iya sayang maafkan papa" jawab Pak Wijaya berusaha tersenyum pada kedua anaknya
"lihatlah sayang betapa perhatiannya putri kita"batin pak Wijaya menahan air matanya agar keluar lagi dan dilihat oleh kedua anaknya
pak Wijaya keluar dari ruangan perawatan siska dan menelpon bayu memberi tahukan bahwa siska telah meninggal dunia
semua orang terkejut mendengar berita duka yang disampaikan oleh pak Wijaya
kini bayu,azlan dan Fatiyah berangkat kekota untuk menemani pak Wijaya menyiapkan pemulangan jenazah siska
Fatiyah ikut untuk menenangkan ke-dua anak pak Wijaya dan almarhumah siska karena memang selama ini Fatiyah lah yang merawat mereka
saat mereka sampai dirumah sakit Alesya langsung berlari menyongsong Fatiyah
Fatiyah berjongkok dan merentangkan tangannya menunggu Alesya masuk kedalam pelukannya
"bibu mama cuda pelgi keculgana Allah Hiks hiks hiks " tangis Alesya pecah dalam pelukan hangat Fatiyah wanita cantik yang beberapa bulan ini merawat menggantikan siska memberikan kasih sayang
"iya sayang, kakak harus ikhlas ya sayang biar mama tenang di surganya Allah "jawab Fatiyah ikut meneteskan air matanya
Alesya hanya mengangguk mendengar ucapan Fatiyah
"itu karena kalian ikhlas melepaskan kepergian mama jadi mama tidak merasakan sakit saat nyawanya dicabut oleh malaikat "jawab Fatiyah mencoba menenangkan adik dari adik iparnya itu
"biya Bibu echa itlas" ucap Alesya
"kalau begitu echa jangan menangis lagi ya sayang,kasihan mama nanti ikut sedih juga " jawab Fatiyah dan Alesya mengangguk-anggukkan kepalanya
"kasihan sekali kalian nak masih sekecil ini sudah merasakan cobaan hidup ditinggalkan oleh orang yang paling kita sayangi, semoga kelak kalian bahagia kami akan selalu bersamamu nak kami akan membimbingmu dan selalu ada untuk kalian melewati ini semua
INSYA ALLAH " ucap Fatiyah dalam hati sambil mengelus punggung Alesya sekali menyeka air matanya dia tidak ingin Alesya melihatnya menangis
setelah selesai semua diurus kini jenazah Fatiyah dibawa pulang kerumah mereka, satria dan azka sudah menyiapkan segalanya
mereka juga sudah berada disana untuk menyambut kedatangan jenazah siska
baberapa jam kemudian sebuah mobil ambulance yang membawa jenazah siska kini telah tiba di depan rumah pak Wijaya dan siska
mobil azlan juga sudah ada di belakangnya
Fatiyah turun dari mobil sambil menggendong Alesya karena anak itu tak mau lepas dari Fatiyah
azlan menggendong Arsy karena satria yang mengemudikan mobilnya
sedangkan pak Wijaya ikut di mobil ambulance menemani jenazah sang istri
sesampainya disana mereka tidak menunggu waktu untuk memakamkan jenazah Riska
kini mereka berada di pemakaman umum yang ada didaerah tempat tinggal mereka
mereka semua bersyukur karena Alesya tidak lagi menangis dan rewel begitu juga dengan Aisy
tapi mereka tidak mau lepas dari Fatiyah dan Azlan, mereka tidak ingin keorang lain bahkan sama pak Wijaya pun mereka tidak mau
pak Wijaya tidak marah karena dia tau saat ini anak-anaknya butuh pelukan dan selama beberapa bulan terakhir mereka sangat dekat dengan keduanya dan mungkin mereka sudah merasa nyaman
setelah pemakaman selesai semua menaburkan bunga di makam siska
"mama bobo sini ya,mama bait-bait pisini ya ma bial echa yang daga adet
mama pidat pusah tawatil ya, Echa zhayan mama"ucap Alesya
"dadadada mamamama" ucap Aisy melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum
semua orang terdiam melihat tingkah Aisy, Alesya juga ikut tersenyum
"ayo pulang sayang" ucap Fatiyah mengajak Alesya dan Aisy
"tami puyang ya mama,echa dandi piat hali echa tilimtan poa puat mama" ucap Alesya lalu mencium batu nisan mamanya
mereka pun pulang kerumah pak Wijaya untuk mempersiapkan acara doa bersama untuk almarhumah
"dengar-dengar almarhumah seorang pelakor ya tapi kok wajahnya bercahaya sekali dia pun seperti sedang tersenyum "ucap salah seorang pelayat tetangga dekat rumah pak Wijaya
"husss, tidak baik menceritakan keburukan orang sudah meninggal "sahut bu Rt yang kebetulan juga berada disana
"iya wajahnya itu seperti orang yang sedang tidur saja,dan tadi kedua anaknya juga saat di pemakaman dada apalagi anaknya yang kecil seperti melihat mamanya " jawab ibu yang satunya lagi
"kan kata orang itu jika arwah orang meninggal itu akan pergi setelah 40 hari kematiannya mungkin saja mereka melihat arwah mamanya ,kan mereka itu masih suci jadi mungkin saja bisa melihat mamanya " ucap yang disebelah ibu pertama
"kasihan ya mereka masih kecil sudah jadi piatu tapi mereka juga beruntung punya keluarga yang sangat peduli dengan mereka berdua mau merawat mereka seperti anak sendiri" Sahut ibu kedua
"lebih baik kita bantu-bantu untuk persiapan malam Takziah Almarhumah"ucap Bu Rt
"iya bu ayo" jawab mereka dan akhirnya mereka ikut bergabung untuk membantu ibu-ibu yang lain
pak Wijaya kini sedang berada didalam kamar yang sering ditempatinya bersama sang istri sedangkan Alesya dan Aisy kini sudah tertidur dikamar mereka ditemani oleh Fatiyah
"mas bahagia pernah memilikimu,mas akan selalu menjaga cinta kita dan mas juga akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kedua anak kita Hiks hiks hiks " ucap pak Wijaya mengusap wajah siska yang ada di dalam foto pernikahan mereka
tak lama pak Wijaya terlelap mungkin karena Kelelahan